AN: Aku tidak berniat menelantarkan fic iniiii! Huwaaa... maafkan aku kalau lama tidak meng-update fic ini. Sebenarnya fic lainnya juga belum aku update. Tugas-tugas yang ada menyita waktuku dan aku hampir saja lupa dengan jalan cerita yang sudah dibangun buat fic ini.

Untung saja aku selalu menulis ide cerita, jadi aku bisa masukan kedalam fic ini. Oke, daripada aku banyak nulis hal yang tidak terlalu penting, lebih baik kita langsung saja ke ficnya. Enjoy!

Disclaimer:Naruto (C) Masashi Kishimoto

Warn: AU, OOC, Sederhana

Chapter 4: Jujur part 2

Pagi menjelang. Matahari membiaskan cahayanya dari ufuk timur. Sudah cukup lama aku duduk di teras belakang rumah, menunggu terbitnya matahari. Aku sudah terbangun sejak matahari belum terbit.

Terdengar suara langkah kaki seseorang menuruni tangga. Meskipun begitu aku enggan menolehkan kepalaku untuk sekedar melihat siapa orang tersebut.

"Ah, Hinata, kau sudah bangun rupanya," suara seorang wanita menyapu indera pendengaranku.

"Ibu..." aku menolehkan kepala dan melihat ibuku sedang berjalan menuju tempatku. Wanita yang menurunkan warna rambutnya padaku itu tersenyum lembut. "Selamat pagi," sapaku sambil sedikit menundukkan kepala.

Dia mendudukan diri di sampingku sembari membenarkan piyamanya. "Kau bangun jam berapa?" tanyanya lembut sambil menyesap udara pagi yang segar.

"Tidak tahu, aku tidak melihat jam. Tapi aku sudah ada di sini sebelum matahari terbit," jawabku seadanya karena memang saat aku bangun aku tidak melirik jam sekalipun.

Hening di antara kami. Suara desau angin menyelimuti kesunyian yang ada. Semakin lama angin itu bertiup semakin kencang. Aku menyipitkan mataku dan menahan rambutku agar tidak kusut tertiup angin.

"Anginnya besar sekali," ucap ibuku saat angin sudah mulai tenang. Aku melirik ke arahnya dan hanya bergumam tanda setuju. "Kau tidak kedinginan hanya memakai baju tidurmu?"

Aku menggeleng. "Tidak, sebelumnya angin tidak sekencang ini," jawabku. Untung saja aku memakai piyama dengan lengan dan celana yang panjang.

"Sekarang sudah memasuki musim gugur ya..." ujarnya pelan sambil melihat ke arah pohon-pohon tinggi yang tumbuh di halaman belakang. Suara gemerisik yang ditimbulkan oleh daun-daun yang saling bergesekan membawa sebuah harmoni alam yang khas. Sebuah hal kecil yang sering orang-orang lupakan, padahal dengan mendengar suara itu membuat perasaanku sedikit lebih tenang.

Aku merasakan sebuah tangan mengelus rambutku. "Sebaiknya kau mandi dengan air hangat dan aku akan menyiapkan seragam musim gugurmu," ucap ibuku dengan penuh rasa sayang.

"Iya, terima kasih bu..." ucapku dengan tulus. Tak begitu lama aku beranjak dari teras belakang dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurku.

Sesampainya di kamar mandi, aku menyalakan keran dan membiarkan keran itu mengalirkan airnya agar memenuhi bathtub. Selagi menunggu, aku berjalan keluar kamar dan pergi ke dapur. Di sana aku melihat ibu dan adikku Hanabi sedang menyiapkan sarapan.

"Pagi Hinata-nee," sapa Hanabi yang menyadari kehadiranku. Ibu hanya menoleh sebentar dan melanjutkan kegiatannya lagi.

"Pagi Hanabi. Kau baru saja bangun?" tanyaku untuk memastikan, karena dilihat dari penampilan adikku itu dia benar-benar terlihat seperti seseorang yang baru bangun dari tidurnya.

"Hm... iya, aku terbangun karena kedinginan, aku lupa mengunci jendela kamarku," jawabnya sambil menggaruk belakang kepalnya.

Aku terkikik geli. Adikku ini memang sedikit ceroboh dan lebih bersemangat dari padaku. Hanabi berbeda 3 tahun denganku. "Hati-hati nanti kau kena flu," nasehatku.

"Iya... nanti aku akan mandi dengan air hangat," jawabnya kemudian dia berjalan menuju rak piring dan mengambil beberapa buah piring untuk menaruh sarapan kami.

Aku berjalan mendekati ibuku. "Aku bantu ya?" tawarku sambil memilih-milih daun selada yang sudah dicuci.

"Kenapa tidak mandi saja dulu?" tanya ibuku sambil mengocok telur.

"Sedang menunggu bathtub-nya penuh," jawabku sambil mulai menata selada itu di atas sebuah roti gandum.

"Kau mau ibu buatkan makan siang?" tawar ibu kali ini sambil mulai memanaskan penggorengan.

"Biar aku saja yang buat," pintaku ambil tersenyum. Aku berencana membuat bekal juga untuk Naruto-senpai semoga saja dia suka.

"Baiklah..." jawab ibuku tidak mau memaksa. "Oh iya, kapan festifal sekolahmu dilaksanakan? Persiapannya sudah dari bulan Agustus kan?"

"Iya nee-chan, kapan festifalnya? Aku ingin pergi ke sekolah nee-chan," kata Hanabi ikut masuk dalam percakapan kami.

"Minggu depan kalau tidak salah," jawabku. "Mulai dari hari ini semua kelas akan bersiap-siap. Baiklah, aku mandi dulu," ucapku sambil mencuci tangan dan pergi dari dapur.

Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama bagiku untuk mandi, karena aku tidak mau berlama-lama berendam dan lagipula aku harus membuat bekal makan siang untukku dan juga Naruto-senpai.

Saat keluar dari kamar mandi aku melihat seragam musim gugurku tergantung di dekat lemari pakaian. Tidak jauh berbeda dengan seragam musim panasku hanya saja seragam ini berlengan panjang. Tentu saja karena musim gugur itu udaranya sejuk bahkan bisa saja dingin dengan angin yang bertiup lumayan kencang.

Aku pakai seragamku dan aku pakai jaket berwarna kremku. Aku tidak tahan dingin, meskipun aku terlahir di musim dingin. Aku menaruh handuk di gantungan handuk yang ada di sebelah pintu kamar mandi. Lalu berjalan menuju meja rias dan duduk di kursi yang berhadapan dengan cermin. Aku memakai kaos kakiku yang berwarna hitam yang menutupi betis dan menyisir rambutku. Setelah itu aku memakai sedikit pelembab pada wajahku lalu aku turun dengan menenteng tas.

Di meja makan sudah tersedia sarapan untuk kami sekeluarga, tapi aku tidak melihat ibu maupun Hanabi. Sepertinya mereka sedang mandi. Aku putuskan untuk menunggu anggota keluargaku yang lain sementara aku menyiapkan makan siang.

Jam setengah delapan aku sudah selesai membuat makan siang untukku dan untuk Naruto-senpai. Hanya sandwich dan beberapa telur dadar dan onigiri tapi aku harap dia suka.

"Nee-chan, ayo kita sarapan," ajak Hanabi, aku tidak menyadari kehadirannya. Kapan dia datang, dia selalu muncul tanpa terduga.

"Ibu bagaimana?" tanyaku sambil duduk di hadapan Hanabi yang sudah duduk di kursi biasanya ia duduk.

"Nanti menyusul katanya," jawab Hanabi seadanya, kelihatannya ia sudah sangat lapar. Terlihat dari matanya yang sedari tadi melihat makanan yang tersedia di meja makan.

"Baiklah, ayo kita sarapan," aku mulai mengambil telur dadar dan menaruhnya dipiringku dan mengambil nasi goreng dan mulai memakannya. Sedangkan Hanabi mengambil selembar roti dan mengolesinya dengan selai coklat kesukaannya. Saat aku sudah menghabiskan sarapanku, ibu dan ayah baru turun.

"Selamat pagi," sapaku dan Hanabi bersamaan pada ayah dan ibu. Ibuku hanya tersenyum dan ayah membalas sapaanku. Mereka kemudian duduk dan mulai sarapan. Sementara aku sedikit demi sedikit meminum susu vanila milikku sambil mengobrol dengan Hanabi. Aku melirik jam yang ada di dapur, sudah jam delapan, saatnya aku berangkat.

"Ayah, Ibu, dan Hanabi, aku berangkat dulu ya," pamitku pada semuanya sambil mengambil tasku yang aku taruh di samping kursi.

"Tidak ingin pergi bersama dengan ayah dan Hanabi?" tanya ayahku sambil menyesap tehnya. "Lagipula masih ada empat puluh lima menit lagi sebelum bel."

"Tidak, terima kasih ayah, aku ingin berangkat sendiri saja. Lagipula jalan kaki lebih menyenangkan," jawabku.

"Baiklah, hati-hati," ujar ayahku.

"Iya. Aku berangkat dulu," pamitku sambil berjalan keluar dari dapur dan mengahampiri rak sepatu lalu memakai separu pentofel hitamku.

Setelah mendapat ijin dan berpamitan aku berangkat menuju sekolah dengan berjalan kaki. Tidak terlalu jauh jarak dari rumah dan sekolah. Dan aku ingin merasakan udara di pagi hari yang masih sejuk dan merasakan angin musim gugur menerpa wajahku.

Sampai di halaman sekolah. Aku seperti merasakan sesuatu yang berbeda. Aku tidak tahu apa tapi perasaanku sedikit tidak enak. Tapi, aku coba menepisnya, ini masih pagi tapi aku malah berpikir hal yang tidak mengenakan.

Aku berjalan menyusuri halaman sekolah dengan langkah yang santai. Aku berharap bisa bertemu dengan Naruto-senpai ataupun hanya mendengar suaranya. Tapi sepertinya keinginanku tidak terkabul karena tinggal beberapa langkah lagi aku sampai di pintu masuk gedung sekolahku.

"Pagi Hinataaa!" kudengar sebuah suara memanggil namaku, sebuah suara yang cempreng, seperti suara Naruto-senpai. Aku mengedarkan pandanganku mencari sumber suara itu. Aku berbalik tapi tidak melihatnya. Aku tengok ke kanan dan ke kiri dengan cepat, tapi aku tidak menemukannya juga.

"Hai, aku di atas sini," suara itu berseru lagi. Aku menengadah dan melihat Naruto-senpai melambaikan tangannya padaku dengan bersemangat. Entah mengapa tiba-tiba jantungku berdetak dengan cepat sehingga aku bisa merasakannya di sekujur tubuhku.

Aku sangat senang tapi juga bingung ditambah malu. Aku hanya tersenyum dan membalas lambaian tangannya dan dengan cepat aku masuk ke dalam gedung dengan wajah yang merona dan senyum yang entah mengapa tiba-tiba muncul di bibirku.

Rasanya aku ingin menjerit senang dan melompat-lompat saat ini juga. Tapi, aku menahan diri tentu saja. Bisa-bisa aku dianggap orang gila kalau bertingkah laku seperti itu. Setelah mengganti sepatu, aku berlajan menuju kelasku.

Sepanjang koridor, aku tersenyum, senyum tidak titunjukan pada siapapun. Hanya saja sekarang aku merasa sangat senang, senang sampai-samapai ingin aku mengumbarkannya pada semua orang. Aku menarik napas dan menghembuskannya saat tiba di depan pintu kelasku. Aku tidak mau ditanyai macam-macam hanya karena aku tersenyum-senyum sendirian.

Kugeser pintu kelasku dan mulai terlihat pemandangan pagi seperti biasanya, anak-anak yang berkeliaran ataupun yang mengobrol, menunggu bel berbunyi. Beberapa orang menyadari kehadiranku dan menyapaku, aku membalas sapaan mereka. Aku berjalan menuju kursi kosong yang ada di dekat jendela, tepat di belakang Sakura.

Aku berjalan menuju mejaku sambil memperhatikan Sakura yang tersenyum-senyum sendiri sambil memandang ponselnya. Aku merasa sedikit heran, tapi aku tahu dia sedang bergembira, sama seperti aku yang rasakan tadi.

"Pagi Sakura-chan," sapaku saat melewati mejanya, dia berbalik menghadapku yang sedang menggantungkan tas di sisi meja.

"Pagi juga Hinata," balasnya sumringah. Dia tersenyum memperlihatkan sedikit barisan giginya yang putih, dan mata virdiannya terlihat bersemangat.

Aku duduk di kursiku. "Ada hal apa yang membuatmu terlihat sangat senang seperti itu Sakura-chan?" tanyaku ingin tahu.

"Aku sedang melihat foto Sasuke-kun!" jawabnya riang sambil menunjukan ponselnya yang terdapat foto Sasuke-senpai. Dapat aku lihat Sasuke-senpai dengan wajah cemberutnya dan yang membuat keningku sedikit mengkerut ialah, sebuah noda berwarna coklat yang menembel di sektar bibirnya. Apa itu es krim?

"Sasuke-kun lucu ya?" tanya Sakura padaku dengan nada gemas, aku tidak menanggapinya hanya mendengarkan Sakura yang terus berbicara tentang Sasuke-senpai. "Aku dapat foto ini dari Naruto. Katanya kemarin mereka pergi ke kedai es krim bersama teman-teman sekelasnya dan Naruto memaksa Sasuke-kun untuk makan es krim, dan dengan sengaja Naruto memotret Sasuke-kun saat makan es krim itu. Uhh... aku gemas sekali melihatnya, aku jadi ingin sekali ada di sana waktu itu. Sayang itu acara kelas."

"Jadi itu yang membuatmu tersenyum-senyum sendiri?" tanyaku dengan sedikit nada jahil.

"Iyaaa..." jawabnya penuh sengat. "Tapi aku lihat kau juga sepertinya sedang senang, aku tahu kau menahan senyumanmu saat masuk ke dalam kelas," tuturnya dengan nada jahil berusaha menggodaku.

"Eh, memang kelihatan ya?" jawabku dengan cepat. Aduh! Kenapa aku tidak menyangkalnya sih? Aku merutuki diriku sendiri.

"Aku bisa melihatnya dari matamu," ucapnya sambil menunjukku atau tapatnya mataku. "Mata itu tidak bisa berbohong, Hinata. Jadi, ceritakan padaku apa yang membuatmu senang."

Aku terdiam sejenak, rasanya malu juga menceritakannya pada Sakura. Tapi Sakura tetap menungguku dengan pandangan yang menantiku untuk membuka suara. "Tadi, aku disapa oleh orang yang aku sukai," jawabku dengan suara yang sedikit dikecilkan. "Aku aneh ya, padahal hanya disapa tapi aku bisa sesenang ini."

"Kau tidak aneh, Hinata," ujar Sakura cepat menyangkal perkataanku tadi. "Tentu saja kau seharusnya senang, dan itu adalah hal yang wajar."

"Benarkah itu?" tanyaku ragu.

"Benar, jadi siapa orang yang kamu sukai?" lagi-lagi Sakura menggodaku dengan seringainya, aku rasa dia tertular oleh Sasuke-senpai.

"Itu... kau mengenal orangnya kok," jawabku dengan malu, aku bisa merakan panas yang menjalar di wajahku.

Dia memajukan bibirnya. "Aku punya banyak kenalan Hinataaa..."

Aku hanya terdiam dan berpikir. Apa aku harus mengatakannya pada Sakura? Tapi aku sungguh malu, Sakura kenal Naruto-senpai, aku takut dia bilang pada Naruto-senpai kalau aku menyukainya.

"Hei, hei, jadi siapa laki-laki yang beruntung disukai oleh kamu?" Sakura kembali bertanya. Baiklah aku akan katakan, katakan saja Hinata.

"Aku suka... Na-Naruto-senpai," jawabku lirih. Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik, aku menunggu reaksi Sakura. Tapi kelihatannya dia sedang berpikir dan bergumam. Dari gerak bibirnya dia seperti sedang mengucapkan kata 'Naruto' berulang-ulang. Semakin lama ucapannya semakin keras lalu dengan cepat ia berdiri dari kursinya dengan tampang terkejut.

"Jadi yang kau sukai itu Na-!" Tanpa diduga Sakura berteriak cukup keras, reflek aku membungkam mulutnya sebelum ia melontarkan nama itu. Bisa gawat jadinya.

Bisa aku lihat semua pandangan tertuju ke arah kami akibat keributan yang ditimbulkan oleh Sakura. Aku hanya tersenyum –yang sudah tentu dipaksakan pada mereka, dan mejelaskan apa yang sedang kami lakukan, sedikit berbohong tentu saja.

"Jadi kau suka Naruto?" tanya Sakura dengan suara berbisik padaku ada nada kaget dalam perkataannya. Aku hanya mengangguk malu.

"Sejak kapan?" tanyanya lagi. Sekarang aku seperti sedang diinterogasi oleh gadis berambut merah muda ini.

"Aku juga tidak tahu. Hanya saja semenjak aku bertemu dan berkenalan dengannya di perpustakaan aku merasa tertarik dengan dia," jelasku. "Aku suka saat melihat dia tersenyum dan aku merasa sedih saat dia terlihat terluka. Dan entah sejak kapan aku selalu memperhatikannya."

"Wah, anak itu harusnya merasa senang disukai gadis sepertimu Hinata, dan aku rasa dia harus membuka hatinya untukmu," celoteh Sakura.

"Eh, jangan katakan padanya!" cegahku dengan panik.

"Tenang saja, aku tidak akan mengatakannya. Kalau soal itu, kau sendiri yang harus mengatakannya," usul Sakura. Terdengar bukan usul yang terlalu baik, karena aku belum ingin mengutarakan perasaanku padanya, aku ingin membiarkan dulu apa yang kini sedang aku rasakan.

Waktu istirahat sudah tiba. Aku mengeluarkan kotak makan siangku dan juga bekal yang aku buat untuk Naruto-senpai. Tapi, aku baru menyadari sesuatu. Aku tidak tahu dimana Naruto-senpai berada, bodohnya aku.

Aku keluar kelas dan menyusuri lorong-lorong di lantai dua dan tiga, siapa tahu aku bisa bertemu dengan Naruto-senpai. Kalaupun tidak aku akan makan bekalku di atap saja. Saat hendak berbelok dan menaiki tangga, aku mendengar suara seseorang yang sangat aku kenal berasal dari lab kimia yang ada di dekat tangga. Itu suara Sakura kan?

"Jadi, aku mohon padamu. Bisakah kau berhenti... menyukaiku?" aku bisa mendengar suara Sakura yang terdengar bergetar saat mengucapkan kata-kata itu. Dia sedang menolak seseorang aku rasa, aku tidak bisa melihat siapa orang itu.

"Aku tidak mau kau tersiksa dengan perasaanmu padaku," Sakura melanjutkan kembali, suaranya berubah menjadi parau. "Kau juga sudah tahu kalau aku tidak bisa menyukaimu lebih dari seorang sahabat, aku sangat menyayangi Sasuke. Aku mohon padamu Naruto, jangan menyiksa dirimu sendiri. Kau pantas mendapatkan orang yang lebih baik dariku."

Deg

Na-Naruto? Apa Sakura sedang berbicara dengan Naruto-senpai? Jadi gadis yang disukai Naruto-senpai adalah Sakura. Perasaanku sangat kacau, jantungku berdebar sangat kencang dan aku merasa tubuhku menegang. Mengetahui kenyataan ini membuat hatiku sedikit, menyesakkan. Kenapa Sakura tidak bilang padaku kalau Naruto-senpai menyukainya? Kenapa dia menyembunyikannya dariku?

Berbagai pertanyaan berputar dalam pikiranku. Aku mengeratkan genggamanku pada kantong kertas yang aku pegang. Menahan rasa kecewa yang besar.

"Maafkan aku, Sakura," ujar Naruto-senpai, aku bisa merasakan nada kecewa saat dia mengucapkannya. "Maaf, kalau aku menyukaimu dan membuatmu tersiksa."

"Kau tidak perlu minta maaf Naruto," ujar Sakura, nadanya sedikit melembut. "Aku yang harusnya minta maaf."

"Tapi... untuk saat ini, aku belum bisa menghilangkan perasaanku padamu, Sakura."

Rasanya seperti dihantam oleh sesuatu yang berat saat mendengar Naruto-senpai berkata seperti itu. Aku merasa harapanku hancur sudah, aku tidak akan pernah ada dalam hati Naruto-senpai.

"Baiklah... tapi aku harap kau bisa membuka hatimu untuk orang

lain, aku tidak ingin kau terus seperti ini. Kau harus raih kebahagiaanmu sendiri."

Aku tidak sanggup mendengarnya lagi. Aku pergi meninggalkan tempat itu dan berlari menuju tangga. Berlari dan terus berlari aku ingin perasaan sakit ini pergi. Aku mendorong dengan kasar pintu yang menghalangi jalanku. Aku hempaskan tubuhku ini saat mencapai atap, tidak ada siapapun di sini. Aku berasa lega, karena aku tidak mau terlihat kacau di hadapan orang lain sekarang.

Aku berjalan menuju pagar pembatas dan duduk bersandar padanya. Aku mulai menata makan siangku, tapi aku tidak berselera. Aku biarkan kotak makan itu dan aku memejamkan mataku. Berusaha menenangkan diri dan merasakan hembusan angin yang menyapu permukaan kulitku. Berharap angin itu membawa pergi perasaan menyesakan ini.

Entah berapa lama aku seperti itu, aku tidak peduli. Aku ingin merasakan kedamaian, buka perasaan resah seperti ini. Kubuka kelopak mataku karena aku mendengar suara langkah kaki yang berjalan menuju tempatku berada.

Tanpa sadar aku menahan napasku saat melihat siapa yang datang. Naruto-senpai. Dia datang dengan wajah yang kusut dan matanya yang sayu, aku tahu apa yang ia rasakan sekarang.

"Kau sendirian saja?" tanyanya padaku. Aku hanya mengangguk, ada sedikit berasaan iba saat aku melihatnya yang kacau seperti itu. Bukan pertama kalinya aku melihat dia seperti itu, hanya saja kali ini aku benar-benar tahu apa yang membuatnya seperti itu. Meskipun aku merasa sakit hati, tapi aku tidak ingin melihatnya seperti itu.

"Boleh aku duduk di sampingmu?" tanyanya lagi sambil menunjuk tempat kosong di dekatku.

"Silahkan," jawabku dan berusaha tersenyum, tapi aku rasa sia-sia karena aku tidak bisa, aku ingin menangis saat ini juga. Melihatnya seperti itu membuat tersiksa, membuat dada ini sesak.

Aku benci diriku yang lemah, aku benci saat aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk orang yang aku sukai. Aku benci, dalam hati aku merutuki diriku sendiri. Dapat aku rasakan mataku memanas, airmataku memaksa keluar. Tapi, aku tidak mau membiarkannya. Kuusap mataku yang sudah basah, tapi aku tidak akan membiarkan airmataku jatuh. Aku harus kuat.

"A-anu, senpai, apa yang terjadi? Kau terlihat murung," aku memberanikan diri untuk bertanya, meskipun aku sendiri sudah tahu apa yang membuat Naruto-senpai seperti itu. Setidaknya aku ingin mendengarnya sendiri dari dia.

"Aku... harus menyerah," jawabnya ambigu. Meskipun begitu aku tahu apa yang ia maksud. Mataku kembali memanas, ya tuhan aku tidak tahan melihatnya seperti ini.

Naruto-senpai menengadahkan pandangannya. Matanya melihat ke arah langit yang berawan, tapi aku tahu dia tidak benar-benar fokus.

"Hinata, apa yang akan kau lakukan jika orang yang kau sukai ternyata tidak menyukaimu," dia bertanya. Sungguh pertanyaan yang sangat sulit, karena pertanyaan itu sangat tepat seperti apa yang aku rasakan sekarang. Aku juga bingung.

"Kau pasti sulit menjawabnya ya," dia kembali berujar, matanya masih tetap menerawang.

"Beri aku waktu," pintaku. Dia tidak berkata apa-apa. Sepertinya dia membiarkan aku untuk berpikir.

Apa yang akan aku lakukan jika orang yang aku sukai menyukai orang lain? Pikiranku kembali saat aku dan Naruto-senpai mengobrol di tangga dekat perpustakaan. Saat itu aku memberi dorongan pada Naruto-senpai. Memberinya semangat dan mendukungnya. Saat itu dia tersenyum dan aku sangat senang. Hanya melihatnya seperti itu, aku juga merasa semangat.

"Saat aku menyukai orang lain, harapanku adalah bisa selalu melihat orang yang aku sukai bahagia dengan begitu akupun turut berbahagia. Saat dia sedih, aku selalu ingin berada di sampingnya, menjadi kekuatan baginya. Kalaupun aku tidak bisa memilikinya, setidaknya aku bisa menjadi seseorang yang menopangnya dari belakang."

Tanpa sadar aku mengucapkan apa yang aku pikirkan. Dan aku sendiri tercengang dengan ucapanku sendiri. Benar, kenapa aku bisa lupa perasaan itu. Perasaan yang membahagiakan saat aku menyukai Naruto-senpai. Perasaan yang bagaikan anugrah terindah dalam hidupku. Menyukai dan menyayangi seseorang, sungguh sebuah perasaan yang sangat indah sekaligus menyakitkan. Bagaikan mawar dengan durinya. Kalau kau ingin bahagia, kau harus bisa menghadapi kesedihan, dengan begitu rasa bahagia yang dirasakan akan berkali-kali lipat.

Rasa sakit itu adalah resiko, resiko jika ingin bahagia. Aku belum terlalu mengerti, tapi arti dari menyukai seseorang adalah misteri yang hanya masing-masing individu mengetahui jawabannya. Karena setiap orang memiliki pandangannya tersendiri, karena tidak semua perasaan yang dimiliki sama.

"Perkataanmu benar. Aku sampai lupa. Tapi, hatiku kini sedang diselimuti kabut tebal, aku bagaikan orang yang buta," ujar Naruto-senpai lirih. Aku mengalihkan pandanganku pada Naruto-senpai tanpa disangka Naruto-senpai juga sedang melihat ke arahku. Matanya sewarna lautan, begitu cerah dan indah, sayang kini kehilangan cahayanya.

"Tapi bagaimana jika orang yang kau sukai menyuruhmu untuk tidak menyukainya, untuk membuang perasaan itu? Apa yang akan kau lakukan?" Naruto-senpai bertanya kembali, matanya masih tetap melihat padaku. Aku mengalihkan pandanganku, jujur saja aku sedikit malu bisa ditatap seperti itu.

"Aku akan tetap menyukainya. Tapi secara sembunyi-sembunyi. Aku tahu dia sudah menolakku, bahkan mengatakan padaku untuk membuang perasaanku terhadapnya. Tapi aku tidak akan membuangnya, akan kusimpan perasaan ini sebagai memori perjalan hidupku yang bisa aku kenang kembali. Aku akan mendoakan kebahagiaannya, menjadi sahabat yang bisa membantunya. Aku akan terus melakukan itu, sampai perasaanku padanya sedikit demi sedikit menghilang. Aku tentu saja tidak ingin dibenci olehnya, aku akan menjadi teman baiknya, yang mendengar keluh kesahnya. Mendengarkan ia bercerita tentang pengalamannya. Pasti menyenangkan."

Naruto-senpai terkekeh pelan. "Hah! Bagaimana aku bisa lupa," dengusnya pada dirinya sendiri.

"Hinata, mungkin kau sudah tahu karena kau termasuk teman dekatnya, aku sebenarnya menyukai Sakura," dia berkata jujur, dia mengatakannya padaku. Aku tidak begitu terkejut karena aku sudah tahu itu, beberapa waktu yang lalu.

"Dia... gadis pertama yang aku sukai. Mungkin karena sering menghabiskan waktu bersama aku mulai memperhatikannya, dan jatuh hati padanya." Naruto-senpai mulai bercerita bagaimana dia bisa menyukai Sakura. Aku tidak ingin dengar, ini sedikit menyakitkan, tapi.. aku ingin menjadi pendengar yang baik bagi Naruto-senpai. Jadi aku putuskan untuk mendengarkannya.

"Tapi... aku tidak punya harapan, Sakura menyukai Sasuke. Dia sangat gigih dalam menunjukan perasaannya pada Sasuke. Yang ada di dalam pikirannya hanya Sasuke. Aku sedikit kesal pada Sasuke, tapi aku tidak mau menyakitinya karena dia adalah orang yang Sakura sayangi sekaligus sahabatku. Lama-kelamaan, hati Sasuke luluh juga pada Sakura dan merekapun menjalin hubungan. Aku hanya bisa tersenyum getir saat mengetahuinya, tapi saat itu pula aku mendoakan kebahagiaan mereka. Tapi sepertinya aku lupa dan kehilangan kontrol, dan jadilah seperti ini sekarang."

Aku bergumam kecil. Aku bisa merasakan sakitnya Naruto-senpai saat itu. Aku mendesah pelan, dan tak sengaja ekor mataku melihat kotak bekal yang tergeletak begitu saja di hadapanku.

"Senpai bisa cerita apa saja padaku, aku akan jadi pendengar yang baik. Tapi sekarang, bagaimana kalau kita makan siang dulu," usulku sambil mengangkat kotak bento dan menunjukannya pada Naruto-senpai. Dia tersenyum, senyum yang benar-benar dari hatinya.

"Terima kasih, Hinata," ucapnya tulus, bisa kulihat dari matanya yang mulai bersemangat kembali.

"Tidak masalah," balasku sambil mulai menyiapkan makan siang kami. Aku menyerahkan salah satu kotak makan siang pada Naruto-senpai, dan kamipun makan dalam keadaan yang hening. Hanya deruan lembut angin yang menyapu indera pendengaran kami.

Pulang sekolah, aku berjalan kaki sendirian di trotoar. Rasanya hari ini sangat melelahkan, tapi setidaknya aku bisa membuat Naruto-senpai tersenyum. Aku tidak begitu sadar, sudah seberapa besar aku menyukainya. Hanya dengan menyebutkan namanya bisa membuatku memekik tertahan.

Suara deru motor yang halus menyapu telingaku. Kulirik ke samping kanan dan kulihat sebuah motor berwarna hitam dengan corak oranye. Aku tidak mengenali si pengendara sebelum dia membuka helmnya. Ternyata itu Naruto-senpai. Aku kaget dan tiba-tiba saja jantungku berpacu dengan sangat cepat.

"Yo! Hinata, aku antar kau pulang ya?" tawarnya. Sesaat aku terpana melihat penampilannya, dia terlihat sangat keren dengan jaket hitamnya itu.

"Em... tidak usah senpai, lagipula rumahku dekat," jawabku sejujurnya. Memang rumahku dekat.

"Kalau begitu... bisa tidak temani aku kesuatu tempat. Aku ingin mengajakmu ke sana sebagai rasa terima kasihku atas makanan yang kau buat untuk makan siang tadi. Mau kan?" Terdengar nada memohon dan sedikit memaksa darinya. Baik aku menyerah melihat tampangnya itu.

"Baik, aku akan menemanimu," jawabku sambil berjalan mendekati motornya.

"Baguslah, ayo naik!"

Aku naik ke atas motornya dan duduk menyamping. Setelah merasa siap, Naruto-senpai mulai menjalankan motornya.

Cukup lama kami berada di atas motor. Aku tidak tahu kemana Naruto-senpai membawaku, tapi sudah hampir satu jam aku duduk di atas motor ini.

"Sebenarnya kita mau kemana?" tanyaku dengan cukup keras, berusaha menyaingi suara angin.

"Lihat saja nanti, sebentar lagi kita sampai," jawabnya tak kalah keras dariku.

"Baiklah," ujarku pasrah.

Tak lama setelah aku bertanya, aku bisa merasakan bau air laut yang terbawa angin tercium olehku. Apa dia membawaku ke pantai? Tanyaku dalam hati.

"Nah kita sampai," ujarnya sambil menghentikan motor di dekat trotoar yang sebenarnya adalah sebuah jembatan.

"Wah, pantai," pekikku riang, sudah lama aku tidak pergi ke pantai. Saat liburan musim panas kemarin aku tidak sempat pergi ke pantai, yang aku lakukan adalah berlibur di kaki gunung dimana rumah nenek dan kakekku tinggal.

"Ayo turun," ajak Naruto-senpai sambil menarik lenganku dengan semangat. Aku hanya berjalan mengikutinya.

Tiba di pantai, aku tidak melihat ada seorangpun di sana. Lagian siapa juga yang ingin berenang di saat musim gugur seperti ini, lagipula ini sudah sore.

"Aaah... bau laut," kata Naruto-senpai sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya dan merentangkan tangannya.

"Aaaaaaaaahhhh!" tiba-tiba ia berteriak dan membuatku kaget. Setelah berteriak cukup lama dan pankjang dia tersenyum ke arahku.

"Cobalah kau berteriak, ini sangat menyenangkan," usulnya dengan girang. Aku tahu dengan berteriak bagai melepas beban yang ada meskipun hanya sedikit.

Naruto-senpai kembali berteriak, terus-menerus. Aku merasa tidak mau kalah. Aku berjalan dan berdiri di sampingnya lalu berteriak.

"Aaaahhh... Mengapa aku menyukaimuuu?" Teriakan yang aneh, tapi itu yang sedang mengganjal di hatiku. Setelah berteriak panjang, aku tertawa geli. Ternyata ini sangat menyenangkan.

"Wow, kau bertanya kenapa kau bisa menyukai seseorang, memang butuh alasan?" tanya Naruto-senpai sambil duduk di dekatku, aku masih berdiri.

"Aku hanya penasaran," jawabku dan mulai ikut duduk. Kami berdua memandang ke arah laut lepas. Matahari mulai terbenam. Warna oranye itu memantul dengan indah di atas permukaan air laut. Menjadikan air laut terlihat bercahaya.

"Cantik," ujarku takjub.

"Ya... melihat matahari terbenam seperti melepas lelah," tambah Naruto-senpai.

Dan kamipun duduk dalam diam di pantai itu menyaksikan matahari terbenam sampai digantikan oleh sang rembulan.

To Be Continue

Panjang juga jadinya. Anggap saja bonus karena lama tidak diupdate, hahaha... sorry karena lama sekali updatenya, hampir setengah tahun ya? Hahaha...

Kenapa fic ini nasibnya kayak BSL (ficku yg lain) yang aku tunda sampai setenga tahun. Well, saat menulis chapter ini, tidak terlalu banyak kendala. Entah mengapa aku lancar-lancar saja saat mengerjakan fic ini. Oh iya, kalau ada typo beritahu saja, soalnya nggak aku edit.

Oke, aku balas review dulu...

haru zhoumimi: Ini sudah diupdate, maaf lama. Terima kasih sudah baca dan review

NaruHinaLover: Maaf karena tidak bisa cepat malah terhitung snagat lama. Terima kasih sudah baca dan review.

Ardymmmm: Ini udah lanjut, sorry lama. Thank;s for your review.

Orang baru Bisa Nulis: nggak apa-apa, aju juga baru update, wahaha... thank's for read and review.

Natsu Hiru Chan: Slam kenal juga Natsu, panggil aku Amu saja, kalau putri nama tengahku sih hahaha, kalau Amu itu nick name. Makasih banyaak atas pujiannya, setelah aku baca ulang, ada typo di setiap chapter. Aku malas ngedit sih #kebiasaanburukjanganditiru. Ya... nggak apa-apa aku senang kok

Ceria Tikika: Makasih hehe... maaf ya update-annya lama. Aku senang kalau kamu menikmati fanfic ini

Hyuna toki: wah, makasih banyak udah mau review dari chapter 1-3. Tahu nggak yang buat aku ngebut bikin fic ini adalah kamu, haha... makasih udah ngasih semangat yaa...

Untuk semuanya pasti aku mengucapkan beribu-ribu terimakasih juga atas pujian, saran, dan kritik yang diberikan. Terima kasih sudah mau membaca fic-ku ini dan memberi feedback juga.

So, boleh aku minta pendapat kalian tentang chapter ini.

Review please.