TEACHER AND ME

MAIN CAST: NAMJOON, SEOKJIN, YOONGI, JIMIN

PAIRING: NAMJIN/slight YOONMIN

RATE: T++

WARNINGS: TYPO, CERITA ABSURD.

.

.

.

Chapter 4

"Kenapa kau bisa ada disini?!" Sembur Seokjin pada pria yang tengah berdiri di depannya. Dekat sekali.

"Aku menunggumu." Namjoon menjawab santai sambil melipat tangannya. Setelah mendapat izin dari Chanyeol untuk menetap di mansion sampai malam dan menunggu Soekjin di kamar, Namjoon segera pergi ke lantai atas dan menunggu Seokjin disana. Menyiapkan kejutan yang membuat Seokjin benar benar terkejut.

"Tapi ini sudah malam. Bukan kah seharusnya kau pulang?" Seokjin bertanya lagi. Memastikan bahwa pria yang berdiri didepannya ini benar benar Namjoon. Bukan hantu.

"Tidak. Jadwalku hanya mengajarmu hari ini. Tugas tugas kuliahku juga sudah aku selesaikan."

Seokjin mengerucutkan bibirnya. "Tapi aku mengantuk." Dia tidak bohong. Dia hanya ingin mandi dan tidur secepat mungkin.

Namjoon menarik sudut bibirnya keatas, membentuk senyum menantang paling meneybalkan yang pernah Seokjin lihat. "Kau mau tidur? Aku rasa tidak ada masalah jika kita belajar diatas ranjang"

"TIDAK!" Seokjin menyanggah cepat cepat. Mengikuti kata otaknya. Ah.. sebenarnya dia ingin menjawab iya.

"Ki-kita ke perpustakaan sekarang saja." kata pria itu lalu keluar dari kamar dan berjalan ke perpustakaan dengan langkah cepat cepat.

.

.

.

Hanya suara kertas dibalik yang terdengar di keheningan malam itu. Belajar di perpustakaan malam hari tentu hal paling membosankan untuk Soekjin. Dia sama sekali tidak menginginkan ini. Terlihat jelas dari wajahnya yang membalik halaman buku tidak minat. Namjoon, yang duduk dihadapannya, masih melipat tangannya dengan tubuh tersender di sandaran kursi. Matanya menatap Seokjin lekat lekat.

"kudengar dari adikmu, kau menjauhiku?" Tanya Namjoon. Hal itu sempat membuat Seokjin menghentikan tangannya. Tapi kemudian ia kembali lagi ke kegiatan membalik-balikkan kertas buku nya.

"apa urusannya denganmu?" Sahut Seokjin tanpa melihat Namjoon.

"tentu saja itu urusanku. Nilai nilaimu itu tanggung jawabku!"

"kau terlalu ikut campur!"

"aku?" Namjoon bertanya memastikan sambil menunjuk hidungnya sendiri. Seokjin masih terdiam. Ada helaan nafas penuh emosi yang terdengar dari Namjoon. Anak ini! sungguh menguji kesabaran!

"aku itu-"

"guru privatku. Iya aku tau." Tandas Seokjin cepat cepat dengan nada tak kalah emosi. Dia mendongkan kepalanya dan menatap Namjoon lurus lruus "tapi itu sepenuhnya hak ku, bukan? untuk belajar atau tidak."

Namjoon mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menjawab. Pria itu kemudian termenung seolah apa yang Seokjin katakan telah adalah kenyataan telak. Namjoon berdehem. Terlihat sekali dia seolah menahan sesuatu yang akan meledak keluar.

"dengar ya Seokjin." Namjoon mengawali ucapannya dengan nada tenang yang terdengar janggal.

"ya, kau benar. Itu hak mu seratus persen untuk belajar atau tidak. Toh yang membayar semua biaya privatmu adalah ayahmu sendiri. Bukan aku atau orang lain. Tapi setidaknya, dengan umurmu yang sudah dewasa kau bisa berfikir lebih matang. Kau beruntung terlahir di keluarga kaya tanpa kekurangan apapun, meskipun kau tidak bekerja, warisan keluargamu pasti masih cukup sampai anak cucumu nanti."

Seokjin masih diam disini. Bertahan pada ego dan gengsi yang memenuhi otaknya. Entah kenapa, Namjoon yang berbicara seperti ini terdengar sangat tidak enak di telinga Seokjin.

"tapi apakah kau hanya akan terus bergantung dengan uang keluargamu? Apa kau bisa menjamin kau akan selamanya kaya? Sifat pemalas dan acuhmu itu tidak akan menuntunmu kemanapun. Apalagi dengan otak seminim itu." Nada Namjoon semakin meninggi, membuat Seokjin sempat tersentak. Dia bahkan melempar tatapan tidak suka saat namjoon mengatakan 'otak minim'. Tapi Namjoon tidak perduli.

"bersyukurlah ayahmu melakukan semua ini untukmu. Semua hal sudah dipersiapkan dengan baik dan praktis hanya untuk seorang anak sulung pembangkang sepertimu! Lihat orang lain, masih banyak yang kurang beruntung! Masih banyak orang yang harus membanting tulang hanya untuk bisa sekolah! Ataupun melepas impian nya hanya karna harus dibebankan tanggung jawab keluarga." Namjoon sudah emosi sekarang. Seokjin pun bahkan mengernyitkan dahinya dan membulatkan mata begitu ada beberapa kata yang menusuk hatinya. Dia ingin merespon tapi otaknya serasa macet tiba tiba.

Namjoon menghela nafas panjang. "kau tidak berada di kedua posisi itu. Kau tidak perlu repot repot. Bekerja untuk makan, panas panasan ke sekolah. Kau bahkan pergi ke sekolah termahal di Seoul. Bisakah kau hargai sedikit ayahmu dengan menjadi anak penurut sekali saja?" katanya dengan suara merendah, namun terdengar dingin. Dingin sekali.

Seokjin baru membuka mulutnya sampai tiba tiba Namjoon bersuara. "aku pulang dulu." Kata pria itu sambil memebereskan bukunya dengan terburu. Seokjin yang melihat tingkah Namjoon jadi kelabakan sendiri.

"ta- tapi belajar-"

"kau butuh istirahat. Maaf menganggu malam malam." Ada nada ketus yang terdengar disana. Dan akhirnya, guru itu pamit lalu pergi meninggalkan Seokjin sendirian di perpustakaan.

~ooo~

Insiden di perpustakaan kemarin, entah kenapa membuat Seokjin terganggu. Hal itu terus terngiang di benaknya. Dia bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak kemarin malam. Wajah Namjoon seolah muncul dimanapun dan mengganggu kegiatan sehari harinya dengan perasaan bersalah.

"Jin Hyung… kau tidak apa apa?" Jimin bertanya pelan saat ketiganya sedang duduk duduk santai di halaman belakang. Menikmati cemilan dan jus buah yang tersedia. Sabtu pagi kali ini, Yoongi dan Jimin memutuskan untuk berkunjung-ah ralat, lebih cocok dikatakan menyatroni karena kedatangan mereka yang tiba tiba-ke rumah Seokjin. Sudah hal biasa bagi Yoongi yang tiba tiba muncul dirumah Seokjin. Keluarga Kim dan keluarga Min sangat dekat. Rumah mereka sudah seperti rumah sendiri bagi satu sama lain. Namun, hal aneh menjadi pemandangan Jimin dan Yoongi saat Seokjn terlihat lebih pendiam dari biasanya.

"ya.. aku baik baik saja." sahut pria itu lesu.

Untuk menguji, Jimin mencoba mengambil roti diatas piring Seokjin –terang terangan-tanpa permisi. Dia mengawasi respon Seokjin dengan seksama. Jika saja Seokjin dalam kondisi normal, pria itu akan mengamuk. Tapi jika tidak-

"ambil saja." kata Seokjin singkat begitu menangkap basah Jimin yang sedang mengambil makanannya. Whoa. Seokjin sedang tidak normal. Tidak mungkin dia sesantai itu jika dia baik baik saja.

"kau tidak nafsu makan?" sekarang Yoongi yang bertanya. Seokjin hanya menggeleng. Yoongi kemudian menyentuh dahi Seokjn dengan punggung tangannya, lalu menyentuh dahinya sendiri. Suhu mereka sama.

"kau tidak sakit tapi bertingkah aneh. Ada apa dengan dirimu?"

Seokjin menghembuskan nafas kasar dengan tatapan sendu. Pria itu tertunduk seolah sedang mengalami beban hidup teramat berat.

"sepertinya aku telah bersikap kelewatan."

.

.

.

"IYA KAU KELEWATAN!" Jackson menyembur penuh nafsu pada Namjoon yang duduk didepannya. Pagi itu, disaat mereka sedang menikmati sarapan bersama, Namjoon memutuskan untuk bercerita soal kejadian malam itu pada Jackson. Karena jujur saja, ia merasa tidak enak setelah berbicara hal tersebut pada Seokjin. Awalnya, dia berfikir akan mendapatkan sedikit ketenangan dari sahabatnya jika dia bercerita. Tapi kenyatannya malah sebuah semburan amarah dengan ekspresi buas yang dia terima.

"astaga Namjoon! Tak sepatutnya kau berkata begitu padanya!"

"tapi dia memang anak sulung pembangkang. Anak kaya yang manja. Aku pulang larut malam dan kurang istirahat hanya karena dia. Tau begitu, aku langsung pulang saja!" Namjoon menyahut tdak terima. Terakhir kali dia cek, Jackson itu sahabat nya kan?

"ya kenapa kau tidak langsung pulang saja?!"

"ah.. itu karena.." Namjoon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mencari alasan paling logis yang bisa diterima oleh Jackson. Jackson yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepala.

"aishhh. Kau sudah terlalu menyukainya ya? Secantik itukah dia sampai kau seperti ini? come on, kalian bahkan baru beberapa kali bertemu!" Jackson berkata dengan tatapn heran. Melihat Namjoon yang seperti ini sungguh pemandangan yang langka.

"lalu aku harus bagaimana?" Namjoon mengerang, yang ia minta adalah solusi sekarang.

"temui dia dan minta maaf!"

"ah, shiroooo!"

"waeee?"

"kalau aku lemah dia akan semakin menginjak injak harga diriku!"

.

.

.

"kau memang tidak punya harga diri kok!" Yoongi mendamprat Seokjin tepat sasaran. Setelah menceritakan alasan kenapa Seokjin menjadi sendu. Menceritakan soal kejadian di perpustakan kemarin malam, Yoongi malah emosi. Seokjin berdalih bahwa dia melakukan hal itu karena Namjoon telah meremehkan harga dirinya dengan tiba tiba muncul di kamar dan memaksa nya untuk belajar. Tapi yang Yoongi lihat, Namjoon tidak salah. Seokjin tidak sepatutnya berkata seperti itu. Membicarakan tentang 'uang' adalah hal sensitif. Apalagi jika dibicarakan pada orang yang tidak seberuntung dirinya. Tidak berasal dari keluarga yang sama berada. Pasti akan menimbulkan kesalah pahaman.

"pernyataan macam apa itu." Seokjin mendelik tidak suka.

"kau bersikap salah sudah kekanak-kanakan seperti ini Seokjin. Minta maaf lah. Ia pasti mengorbankan banyak waktunya hanya untuk menunggumu." Kata Yoongi. Lebih terdengar mnyuruh daripada menasehati.

"tidak mau! dia yang salah! Salah sendiri harus menungguku sampai larut malam! Aku kan tidak meminta!"

.

.

.

.

.

Dan disinilah Seokjin.

Di dalam mobilnya yang terparkir di garasi rumah. Hebat sekali, setelah perdebatan alot dengan Yoongi dan Jimin, kedua sahabat pendeknya itu memutuskan untuk pulang setelah berhasil mendesak Seokjin untuk menemui Namjoon dan meminta maaf. Seokjin sempat curiga, jangan jangan ini hanya akal akalan mereka untuk bisa cepat pergi dan mojok disebuah café romantis.

Sudah terhitung tiga puluh menit Seokjin duduk dibalik kemudi dengan mesin menyala tapi pria itu belum juga menginjak pedal gas. Seat belt sudah tersemat sempurna di tubuhnya, tapi pria itu tetap saja gelisah.

Alih alih kemudi, Seokjin malah menaruh kedua tangannya memegangi ponsel yang sedari tadi ia pandang. Beberapa kali layar itu meredup saat tak kunjung menerima respon sentuhan jari. Dan berkali kali itu pula Seokjin mengetuk touch screen nya agar layar ponsel kembali menyala. Menampilkan chat LINE dari sebuah account bernama 'si menyebalkan' alias Namjoon.

Dia berencana untuk meminta maaf lebih dulu lewat chat, kemudian mengajak bertemu Namjoon-jika respon pria itu cukup baik. Lagipula, jika dia menemui Namjoon dirumahnya pun, dia tidak tau alamatnya dimana.

Kedua ibu jari Seokjin bergerak gerak diudra, bersiap untuk mengetik sesuatu tapi jari jari itu tak kunjung menyentuh layar ponsel.

Seokjin mendesah frustasi. Gengsi dan rasa bersalahnya sedang bertarung sengit dihatinya dan kedua sahabat Seokjin tampaknya tak membantu sama sekali.

"aku harus mengetik apa?"

Ssaem. Aku minta maaf atas ucapanku kemarin. Jangan marah, arra?

Ah. Terdengar tidak tulus. Seokjin berdecak lalu menghapus pesan itu dan mengetik ulang.

Namjoon-ssaem, selamat siang. Sedang apa? Kau pasti sedang sangat sibuk. Maaf mengganggumu di hari weekend seperti ini. Ssaem, aku minta maaf atas ucapanku kemarin jika telah menyinggungmu. Aku tidak bermaksud. Kata kata itu terlontar begitu saja karena aku sedang lelah. Sekali lagi, aku minta maaf. Bisakah aku meminta alamat rumahmu? Aku ingin bertemu.

Apa ini, terlalu bertele tele.

Hey dude. Im sorry.

What the….

Aku tdak akan kabur lagi. Maaf kemarin mengucapkan hal buruk. Maafkan aku, jebal T^T

Seokjin kembali menghapus ketikan itu dengan gusar. Dia tidak menemukan kalimat atau ucapan yang cocok dan terdengar tulus. Lama lama dia jadi kesal sendiri. Dia kembali mengetikkan pesan dengan emosi.

"SIAL! KENAPA MINTA MAAF PADA DIRIMU SAJA SUSAH! Iya aku akui akusalah! Jadi maafkan aku dan cepat pergi dari pikiranku! Kau membuatku memikirkanmu terus! Kau membuatku tidak bisa tidur! Terbayang bayang wajahmu! Dimanapun! Astaga! Maafkan aku sekarang dasar Guru menyebalkan!"

Send

Tunggu dulu.

Seokjin menatap layar ponselnya yang menampilkan pesan yang baru saja ia ketik terkirim pada Namjoon.

Pria itu tidak berkedip.

ASTAGA!

"ottokhae ottokhae" Seokjin berujar panik, pria itu bergerak gerak gelisah sambil memegangi ponselnya seolah benda itu akan meledak. Pesan itu bukanlah hal yang ingin ia kirim ke Namjoon. demi tuhan, apa yang barusan ia ketik?

Membuatku memikirkanmu terus .

Astaga

Membuatku tidak bisa tidur.

Terbayang bayang wajahmu

A-S-T-A-G-A. Kata kata menggelikan apa itu? Seokjin merasakan wajahnya memanas. Entah karena malu atau panik. Mungkin kedua duanya.

Ia mengumpat pada dirinya sendiri mengaapa bisa secereboh itu sampai membuat pesan paling menggelikan itu terkirim. Ini adalah sejarang terburuk dari pesan salah kirim yang pernah ada.

Awalnya dia hanya ingin mengetik pesan itu tanpa berniat mengirim. Tapi sial, ibu jari Seokjin menghianati dirinya. Alih laih menyentuh tombol delete, dia malah menyentuh tombol send yang tepat berada disebelah tombol itu.

Bagaimana jika Namjoon membacanya? Sepintas Seokjin terbersit senyuman penuh kemenangan guru menyebalkannya itu jika membaca chat nya yang terdengar gombal.

Seokjin membuka matanya lebar lebar dan memastikan chat itu belum terbaca sama sekali. Dan seolah Tuhan membencinya, tepat saat itu tulisan 'read' terpampang jelas pada pesan yang barusan ia kirim.

"OTTOKHAEEEEEE!" Seokjin berteriak sambil menghambur keluar dari mobil dan masuk ekdalam rumah. Pria itu berlari terbirit birit seolah sedang dikejar sesuatu. Seokjin membuka pintu kamarnya dan menutupnya keras keras sampai membuat Taehyung dikamar sebelah terlonjak kaget.

Ia menjatuhkan dirinya di atas ranjang lalu menarik selimut tinggi tinggi sampai menutupi seluruh tubuhnya. Bersembunyi dari rasa malu yang amat sangat.

Seokjin kemudian mematikan ponsel nya dan melemparnya asal. Dalam hati, Seokjin berencana untuk menyatroni kantor LINE lalu menyuap agar pesan itu terhapus sekarang juga.

Oh bumi, telanlah aku sedalam dalamnya.

.

.

.

.

Disisi lain, namjoon yang baru saja menyelesaikan obrolannya bersama Jackson memutuskan untuk mengisi baterai ponselnya yang sudah sekarat. Jackson tengah bersiap untuk bekerja lagi. Iya, ia mengambil tambahan shift agar pemasukannya bertambah. Maklum, Malam minggu seperti ini sebaiknya dimanfaatkan jomblo seperti Jackson untuk mencari uang.

Namjoon baru saja akan membuka notif chat LINE yang masuk. Pria itu sempat mengernyit heran saat notifikasi itu berasal dari Seokjin. Tapi tepat saat ia baru saja membuka chat tersebut, ponsel Namjoon mati.

Ia ingin men-charge ponselnya, tapi ia urungkan begitu melihat langit sudah cukup mendung.

"pergilah minta maaf. Sudah ingin turun hujan. Aku pergi dulu. Bye." Sahut Jackson sambil buru bruu memakai jacketnya dan segera menghilang dibalik pintu. Namjoon menghela nafasnya. Ia sebaiknya buru buru, daripada kehujanan. Dia bukan Seokjin yang memiliki sederet mobil sport mahal, ingat.

Seokjin menjulurkan kepalanya keluar dari selimut. Berlama lama di dalam selimut nyatanya membuat dadanya sesak kekurangan oksigen. Ia menoleh dan melihat ponsel yang tergeletak lekat lekat.

"Apa… aku harus mengatakan sesuatu?" Seokjin bergumam pelan. Mungkin sebaiknya ia akui saja kalau pesan itu salah kirim. Tapi.. terdengar sangat konyol dan kekanak-kanakkan. Seokjin mengerang frustasi, ia menggulingkan badannya kesana kemari, sekedar mencoba menghilangkan rasa tak nyaman yang bersarang didadanya. Seokjin kembali bergelung dalam selimut

Tak berapa lama, suara pintu terbuka dengan bunyi langkah kaki yang semakin mendekat. "hyung?" panggil Taehyung sambil naik keatas ranjang Soekjin.

"ada apa Tae?" Sahut Seokjin masih dalam selimut. Membuat suaranya sedikit teredam.

"hyung, hyung belum mati kan?" Taehyung menusuk nusuk badan Seokjin dengan telunjuk nya yang kurus, memastikan hyung nya masih bergerak. Jangan salahkan Taehyung, pemandangan Seokjin yang tertutup selimut sepenuhnya membuat ia tampak seperti mayat sekarang

Seokjin membuka selimutnya sampai dada. Ia menatap wajah polos adiknya yang tengah duduk di dekatnya. "iya aku masih hidup. Kenapa? Kau lapar ya?" Seokjin bertanya penuh perhatian. Dia baru ingat hari ini belum melihat Taehyung makan siang.

Tapi adiknya menggeleng.

"ani, aku sudah makan biscuit coklat yang banyak."

"aku hanya ingin memberi tahu kalau ada tamu yang mencarimu."

Alis Seokjin bertautan. "tamu? siapa?" ia jarang sekali kedatangan tamu. Paling paling hanya Jimin dan Yoongi. Itupun mereka pasti langsung menyerbu masuk tanpa permisi dulu. Saking seringnya dan sudah sangat dekat dengan keluarag Seokjin, Yoongi bahkan sering kedapatan tidur disofa Ruang keluarga Kim selama menunggu Seokjin pulang jika pria itu kebetulan tidak ada dirumah.

Dan lagipula, Yoongi dan Jimin baru saja berkunjung tadi pagi. Masa iya mereka kembali lagi?

Jadi, siapa yang datang?

Ah tidak!

Apa jangan jangan….

"Guru privatmu." Taehyung berujar santai tapi malah berakibat fatal pada jantung Seokjin. Dada pria itu berdetak cepat. Astaga, ia belum-atau tak akan pernah-siap bertemu dengan Namjoon dalam kondisi seperti ini.

"ma-ma ksudmu Kim Namjoon?"

"iya."

"astaga!"

"aku sudah menyuruhnya menunggu mu di ruang tamu" kata Taehyung mantap dengan percaya diri. Seolah kalimat itulah yang diharapkan Seokjin.

"kau-kau apa?" Seokjin bertanya tidak percaya.

"menyuruhnya menunggu diruang tamu."

"aiishhh"

Seokjin mendesah frustasi saat keberuntungan tak berpihak padanya. Ditambah, kabar buruk itu dibawa oleh adiknya sendiri. Apa Taehyung sudah menjadi penghianat sekarang? ck, apasih yang Seokjin harapkan dari adik terlalu polosnya itu.

Seokjin turun dari kasur dengan langkah malas. Ia menyusuri anak tangga dan sempat berhenti di anak tangga terakhir. Badan besarnya ia sembunyikan dibalik dinding sementara kepalanya ia longok sedikit untuk mengintip si obyek yang daritadi jadi permasalahan.

Namjoon sedang terduduk di ruang tamu.

Rasanya Seokjin betah sekali bersembunyi, ia tidak ada niatan untu keluar dan menyapa Namjoon. Tapi lagi lagi Taehyung menghancurkan semuanya.

"hyung, Seokjin Hyung sudah turun." Lelaki mungil itu muncul entah darimana sambil berjalan riang ke arah Namjoon. ah ralat, ke arah piring kue kering yang tersaji untuk sang tamu. Namjoon menoleh lalu melihat Taehyung yang sedang berjalan riang menghampirinya. Senyum Namjoon terbentuk saat melihat sepucuk rambut mencuat dari balik dinding.

"kau mau main petak umpet denganku Seokjin-ah?" Namjoon berujar sambil menahan tawa gelinya. Seokjin mendengus keras sebelum akhirnya keluar dan menghampiri Namjoon. Jangan ditanya wajahnya sekarang. Sudah merah seperti tuan krab di film spongebob yang suka Taehyung tonton.

"sedang apa kau disini?" Seokjin berkata ketus. Efek dari rasa malu dan gengsi yang bercampur jadi satu. Anehnya, Namjoon tak membalas kata kata Seokjin dengan kalimat atau nada yang menyudutkan. Pria itu bangun dengan kikuk lalu tertunduk tidak enak.

"ehm.. maaf menganggumu dihari Sabtu." Kata Namjoon sopan. Seokjin masih menunggu kata kata Namjoon yang kemungkinan besar akan membahas pesan sialannya tadi. "apa.. apa kau sibuk hari ini?"

"huh?"

Hening, hanya terdengar kunyahan biscuit dari mulut Taehyung.

"aku ingin mengajakmu pergi." Namjoon berkata pelan, Seokjin tak percaya ia melihat semburat merah di pipi guru privatnya. "jika kau tidak bisa, tidak apa apa" kata Namjoon cepat cepat saat Seokjin masih membisu.

"ah tidak!" tandas Seokjin antusias. Namjoon memberanikan menatap mata Seokjin, apa ia tidak salah dengar? "aku akan bersiap sebentar. Tunggu lah."

.

.

.

.

Sebut saja harga diri Seokjin sangat murah. Satu jam sebelum nya ia bahkan bergelung dikasur untuk menghindari Namjoon tapi ia malah mengiyaakn ajakan namjoon untuk keluar. Rasa suka pada guru itu tampaknya belum luntur. Wajah Namjoon yang tampan seolah merubuhkan rasa egois Seokjin.

Bertahun tahun berstatus single (Seokjin anti menggunakan kata Jomblo), menjadi nyamuk ditengah Yoongi dan Jimin, tampaknya membuat Seokjin merasa kesempatan ini kesempatan emas. Aduh, berjalan jalan dengan pria tampan pasti sangat menyenangkan.

Pesan salah kirim? Apa itu tadi? Rasanya Seokjin sudah lupa.

.

.

Ia masuk kedalam mobil sementara Namjoon duduk disampingnya. Langit yang tadinya mendung sudah meneteskan hujan rintik rintik. "kita akan kemana?"

"Silver Spoon Cafe. Kau tau?" tentu saja, café itu hits sekali akhir akhir ini. Seokjin mengangguk lalu menginjak pedal gas. Keduanya menuju pusat kota berdua. Meskipun baik Namjoon dan Seokjin tak berbicara apa apa. Sibuk dengan degub jantung masing masing yang menggila.

.

.

.

.

"aku minta maaf."

"apa?"

"aku minta maaf sudah mengatakan hal tidak tidak padamu semalam. Aku tahu kau lelah. Seharusnya aku membiarkanmu beristirahat." Kata Namjoon bersungguh sungguh. Astaga, lihat wajah Namjoon yang bersalah itu. Ditambah alunan music Cafe yang sangat mendukung.

"kau memang seharusnya minta maaf!" rasa gengsi Seokjin kembali lagi. Ia menatap Namjoon dengan lagak soknya seperti biasa. Namjoon terkekeh melihat tingkah Seokjin yang fail dimatanya. Menurut Namjoon, Seokjin tidak mengintimidasi. Tidak sama sekali.

"iya aku tau aku salah. Makanya aku membawamu kesini. Mentraktirmu makan siang. Hitung hitung permohonan maaf."

Seokjin melirik menu dibawahnya. Ia sedikit tertegun saat melihat harga yang tertera cukup pricey. Mungkin untuknya, harga itu tidak seberapa. Tapi mengingat Namjoon bukan orang kaya, rasanya keterlaluan jika menolak permintaan maaf nya apalagi dia sudah rela merogoh kocek cukup dalam untuk ini.

"baiklah kalau begitu. Aku mau Milkshake Strawberry saja!"

Sebenarnya Seokjin ingin makan banyak. Tapi dia tidak sampai hati.

Namjoon memanggil pelayan dan memesan pesanan Seokjin dan segelas kopi hangat untuk dirinya. Mereka berdua masih diam. Seokjin yang mencoba mengalihkan pandangan ke berbagai hal. Seperti pemandangan diluar jendela yang sudah turun hujan, mungkin.

BRUG.

Perhatian Seokjin teralih keatas meja. Sebuah buku tebal berisi rumus kalkulus dengan kurang ajarnya tergeletak diatas meja café.

"a-apa ini?" Seokjin bertanya heran. "buku kalkulus." Namjoon menyahut tanpa dosa. Menjawab secara harfiah. Demi Tuhan, Seokjin juga tahu apa itu!

"lalu kenapa itu ada disini?"

"belajar."

Hah? Apa katanya tadi? Belajar? Di hari Sabtu dan dicafe sekeren ini? Seokjin pikir mereka sedang berkencan.

Tunggu dulu. Kencan?

Semburat merah muncul di pipi Seokjin. Dan sialnya tertangkap oleh mata Namjoon. "kenapa kau memerah?"

"ti-tidak."

"aaaahhhh" Namjoon mengangguk angguk mengerti dengan senyum paling lebar yang pernah ada. "kau mengira aku mengajakmu berkencan ya?"

Sial. Dia ini terlalu pintar atau cenayang!-Seokjin mengumpat dalam hati. "tidak! bukankah kau ingin meminta maaf. Aku belum memaafkanmu, loh! Lalu sekarang kau ingin mencari perkara dengan menjejalkan kalkulus padaku. Begitu? Ck!" Seokjin melipat tangannya, membuang pandangan dari buku kalkulus ke luar jendela. Anti sekali menatap buku itu meski hanya sampulnya.

Atau hanya ingin menyembunyikan wajahnya yang malu.

Namjoon tertawa pelan. Ia bangkit lalu duduk disamping Seokjin. Membuat yang sedang ngambek itu mau tak mau menoleh keheranan.

"aku akan mengajarkanmu. Hitung hitung sebagai ganti karena kemarin kau bolos. Aku tidak mau ayahmu memabayarku mahal untuk gaji buta." Namjoon berkata bijak dengan ketenangan yang menular. Seokjin, yang tadinya kesal, entah kenapa mencair juga. Emosinya seolah kabur jauh. Diusir senyum Namjoon yang hangat.

"baiklah."

.

.

.

Pesanan mereka datang, tapi diacuhkan oleh Seokjin. Pria itu sukses fokus dengan soal kalkulus yang berada di depan mata. Namjoon yang dari tadi memperhatikan, tersenyum puas. Sebenarnya, ada alasan kenapa Namjoon ingin mengajak Seokjin kemari. Dia sedang mencari metode baru agar Seokjin mau belajar.

Susah mengajarkan seseorang jika orang itu menolak. Ditambah, alasan Seokjin menolak Namjoon sebenarnya maish misterius. Bukankah, mereka berdua pada intinya saling suka?

Sayangnya, Tuhan menciptakan Seokjin dengan rasa gengsi tinggi, setinggi gunung Everest yang ebrada di Himalaya. Dan Tuhan menciptakan Namjoon dengan rasa rendah diri, serendah dasar laut terendah di bumi.

Mereka menolak kenyataan bahwa perasaan itu nyata. Eksistensi nya bisa dirasakan dengan jelas meskipun abstrak. Seokjin tidak pernah menyukai seseorang-apalagi pria-dia menikmati saat orang orang mengaguminya. Lalu Namjoon, dia pria yang tenang meskipun dirundung banyak masalah. Melihat Seokjin yang menggemaskan, membuat pria itu terus menggoda, menjahili Seokjin dalam cara apapun. Dia sedikit merasa, Soekjin menyukainya. Heol, semua orang juga tahu itu. Lihat saja bagaimana tatapan Seokjin saat kedua mata mereka bertemu. Belum lagi sikap salah tingkahnya.

Tapi Namjoon cukup waras untuk menyadari fakta mereka berbeda bagaikan langit dan bumi. Seokjin hidup enak di mansion bak istana. Memiliki banyak fasilitas hanya dengan menujuk jari. Segala keinginan akan dipenuhi begitu saja. Perusahaan mereka ada dimana mana.

Sementara Namjoon? sejak remaja-tepatnya saat ayah dan ibunya meninggal-dia sudah terbiasa hidup mandiri. Mencari uang untuk makan dan sekolah. Tuhan masih sayang dengan membekalinya IQ jenius. Sudah bertahun tahun Namjoon hidup seperti ini. Mengejar pendidikannya agar bisa merubah nasib.

Dia tidak percaya dongeng seperti Cinderella. Dia tidak akan menjadi Cinderella dalma hubungan ini.

Tidak ada harapan baginya dengan Seokjin. Itu fakta yang tidak terbantahkan. Maka dari itu, menjaga agar dirinya tdiak melewati batas adalah keputusan tepat.

Tapi jika boleh, biarkanlah ia menikmati waktu untuk dekat bersama Seokjin. Meskipun hanya sebentar.

.

.

"sudah." Seokjin menyahut gembitra setelah berhasil menjawab soal kalkulus terakhir. Ia meminum strawberry milkshakenya yang dari tadi menganggur. Namjoon mengoreksi jawaban Seokjin, memberikan tanda centang selagi menyeuruput kopinya.

"hebat. Jawabannya hampir benar semua. Kecuali yang nomor 3. Kau salah menggunakan rumus." Jelas Namjoon, yang kemduian menutup buku kalkulus nya lalu memasukannya kembali ke dalam tas. Seokjin menatap penuh binar bahagia saat melihat buku itu masuk kembali ke tempatnya.

"sudah selesai?" ia bertanya riang. Namjoon mengangguk.

"yeay. sekarang kita bisa berkencan!"

Blush

Oh tuhan, ia ingiiin sekali masuk ke panci rebus saking malunya. Besok besok, ia harus melatih mulut dan otaknya agar lebh sinkron. Sementara Namjoon, terkekeh penuh kemenangan begitu mendengar penuturan Seokjin.

Ah.. ingin sekali dia benar benar mengajak Seokjin kencan dalam ikatan yang lebih official.

.

.

.

"terima kasih untuk milkshakenya." Kata Seokjin tulus begitu Namjoon baru memasukan kembali dompet hitam miliknya ke saku. Setelah selesai membayar tagihan.

Namjoon sempat mengerjap beberapa kali karena dia tidak mengharapkan ucapan itu akan terdengar dari mulut Seokjin. Dan saat dia mendengar Seokjin mengucapkan kata terima kasih-dengan senyum yang sangat manis pula. Namjoon jadi salah tingkah sendiri.

"a.. ah. Ini bukan apa apa." Kata Namjoon kikuk. Di atidak bisa menahan seudut bibirnya yang tertarik keatas membuat senyuman.

Hujan sudah berhenti. Meninggalkan aroma khas pada Sabtu malam saat itu. Mereka berjalan keluar dari Silver Spoon menuju mobil Seokjin yang terparkir cukup jauh. Sekitar dua menit dilalui dalam keheningan yang rasanya seperti dua jam.

"omong omong. Kau tidak makan tadi? Apa kau tidak suka makanannya? Kita bisa pergi ke tempat lain kalau kau mau." Namjoon berkata sambil melihat jam tangan kuno yang melingkar di pergelangan tangannya. Rasanya hari belum terlalu larut untuk mengajak Soekjin pergi ketempat lain.

"AH! TENTU SAJA AKU MAU! KEMANAPUN AKU MAU!" itu jeritan hati Seokjin. Penuh harap. Memohon dengan harga dirinya yang murah. Ayolah, dia berduaan dengan pria tampan di malam minggu. Rasanya Seokjin tidak ingin melewatkan kesempatan itu.

"jangan! Kemana harga dirimu!" Otak Seokjin menyahut. Menyanggah permintaan hati Seokjin yang terlalu gampangan. Langkah Seokjin memelan saat dia berpikir harus merespon apa. Namjoon yang sudah beberapa langkah di depan, memutar tubuhnya dan menemukan Seokjin yang tengah mengigit bibir bawahnya-sedang berfikir-terlihat lucu sekali.

"aku tidak begitu lapar." Seokjin berbohong. Tepat setelah ia menyelesaikan kalimatnya itu, suara keroncongan terdengar keras dari perutnya. Namjoon tertawa. Menampilkan lesung pipit yang membuat dada Seokjin berdesir. Astaga, tampan sekali.

.

.

.

Namjoon nyaris menggedong Seokjin paksa untuk masuk kedalam Silver Spoon lagi saat Seokjin menolak ditraktir makan. Mereka malah sibuk berdebat soal "kau harus makan-aku tidak mau-tapi kau harus makan". Para pejalan kaki sempat menoleh kearah mereka. Namjoon dan Seokjin tampak seperti sepasang kekasih yang lucu. Yang satu gengsi luar biasa sementara yang satu memiliki kadar perhatian yang berlebihan. Hello, apalagi namanya kalau bukan berlebihan jika memaksa pacar untuk makan sampai ingin menggendong?

Tapi akhirnya acara gendong menggendong itu tidak jadi karena Seokjin memberi usul untuk makan di kedai kaki lima pinggir jalan. Namjoon sempat mengernyit heran tapi akhirnya dia setuju juga.

Mata Seokjin berbinar lucu saat menemukan stand lamb skewer di sudut gang. "ayo kita makan itu saja!" Seokjin berseru sambil menarik ujung bajun Namjoon. Oh tuhan. Anak ini menggemaskan sekali.

.

.

.

Carilah seorang kekasih yang akan menatapmu seperti Namjoon. Kenapa? Lihatlah dia sekarang. disaat Seokjin mwlahap lamb skewer dengan penuh nafsu, Namjoon, duduk dihadapannya dengan sekaleng soft drink, menyangga dagunya dengan telapak tangan diatas meja. Tersenyum penuh kekaguman. Terlihat jelas sekali dari matanya yang tidak berkedip dan senyum tipis yang tergambar.

Mungkin orang akan heran, kenapa Namjoon bisa sebegitunya pada pria yang sedang makan bahkan belepotan bumbu di sudut bibirnya.

Entahlah, Namjoon juga tidak mengerti. Mungkin dia sudah gila.

"kenapa kau melihatku seperti itu?" Seokjin bertanya takut takut saat melihat Namjoon yang tidak merubah ekspersi wajahnya. "ja-jangan jangan kau berpikir yang macam macam ya!" niat hati, Seokjin ingin berujar dengan nada marah. Tapi yang keluar malah nada sarat akan malu malu bagaikan perawan yang ingin di tiduri di malam pertama.

"kotor." Kata Namjoon singkat. Seokjin semakin membulatkan matanya. Astaga, pria ini ternyata berotak mesum juga.

"HAH! KAU GILA! APA YANG SEDANG KA-"

Amukan Seokjin terpotong saat Namjoon-masih dengan ekspresinya dan senyum kecilnya-mengambil selembar tissue dan membersihkan ujung bibir Seokjin yang kotor. Di bayangan Seokjin, gerakan ini seperti slow motion. Dengan sound track romantis. Dan suara hati sang tokoh yag terdengar. Persis seperti di film film. Tapi kenyataannya, ini hanyalah seorang Namjoon yang sedang membersihkan noda di sudut bibir seorang pria dengan santai. Pria bernama Seokjin yang tengah membulatkan matanya. Membatu. Membisu. Dengan mulut sedikit terbuka. Tidak ada nilai keindahan sama sekali.

"nah. Sudah selesai." Namjoon menarik tangannya. Dalam satuan waktu di dunia nyata, kegiatan itu hanya menghabiskan waktu sepuluh detik. Tapi di khayalan Seokjin, rasanya itu seperti sepuluh jam dengan gerakan lambat yang menyilaukan.

Biarkan saja. Dia memang berlebihan saat sedang kasmaran.

.

.

Seokjin merasa perutnya sudah penuh. Yang dia inginkan sekarang hanya kembali pulang, berbaring diatas ranjang, menyelimuti dirinya sendiri sambil mengulang ngulang kejadian ini dan menambahkan adegan khayalan disana sini. Kalau bisa, tidurnya juga dengan Namjoon.

Astaga, kendalikan otak mu itu Seokjin!

.

.

.

Ada alasan kenapa Seokjin lebih memilih lamb skewer ketimbang di Silver Spoon. Setidaknya saat Namjoon membayar banyak makanan yang sudah Seokjin makan, Seokjin tidak akan merasa terlalu bersalah atas tagihannya. Sebenarnya, Seokjin bukanlah anak konglomerat manja yang hanya ingin makan steak daging sapi terbaik. Dia masih suka jajanan pasar atau pinggir jalan. Keluarganya memang mendidiknya untuk bersikap sederhana. Makan semangkuk Ramyeon berdua saja dia mau kok-asal dengan Namjoon.

.

.

.

.

"ah… aku benar benar kekenyangan." Seokjin mengerang saat ia merasa kesulitan berjalan karena terlalu banyak makan. Jarak mobil mereka dengan kedai makanan yang tadi tidak begitu jauh, tapi Seokjin selalu mengaduh di setiap langkah.

Namjoon bersumpah, jika anak itu mengeluh sekali lagi saja, dia akan menggendong Seokjin ke mobil. Tapi keluhan yang ditunggu tunggu Namjoon itu tidak keluar juga, mereka akhirnya sampai di mobil Seokjin. "kemarikan kunci mobilmu. Biar aku yang menyetir." Kata Namjoon saat Seokjin baru saja ingin mendudukan bokongnya keatas bangku kemudi.

"huh?"

"kau terlihat kesulitan."

"memangnya kau bisa menyetir.?" Namjoon tertawa renyah saat Seokjin bertanya polos dengan kerutan didahinya. "ada banyak hal yang kau tak tau tentang ku, Seokjin." Namjoon menjawab dengan suara berat yang menghipnotis. Duh, belum lagi senyum nya itu.

"sekarang, bergeser lah. Biarkan aku yang menyetir." Seokjin bergerak tanpa sepatah kata apapun. Seolah tersihir oleh pesona Namjoon. Semoga mereka tersasar dalam perjalanan pulang. Seokjin tidak mengapa jika ia pulang larut-atau pagi sekalian-jika bisa berdua dengan Namjoon.

Dan Namjoon pun berharap hal yang sama-bahkan lebih.

.

.

.

"kenapa kita kerumahku?" Seokjin bertanya keheranan saat melihat mobil mereka masuk ke komplek perumahan mewah tempat mansion keluarga Kim berdiri megah.

"loh, memangnya kau ingin kemana?" pertanyaan itu sebenarnya pertanyaan sederhana. Tapi raut wajah Namjoon, nada bicaranya serta smirk yang dia tunjukan seolah sedang bertanya "memangnya kau ingin kita check in hotel saja?" pada Seokjin.

"aku kira kita akan kerumahmu. Mengantarmu pulang lebih dulu." Seokjin menjawab saat bayangan hotel itu sudah dia singkirkan. Namjoon tersenyum tampan.

"tidak perlu. Ini sudah larut. Berbahaya jika kau menyetir sendirian saat pulang nanti."

Namjoon lalu menolehkan pandangannya pada Seokjin. "aku bisa naik bus terakhir nanti."

Namjoon sudah kembali memalingkan pandangannya pada pemandangan di depan. Tapi Seokjin malah masih betah memandangai sisi wajah Namjoon.

.

.

.

"terima kasih untuk hari ini. Kau beristirahat lah Seokjin. Sudah larut malam." Namjoon berkata saat mereka sudah turun dari mobil. Seokjin sedang berdiri memunggungi pintu utama, sementara Namjoon berdiri di depannya. Agak tidak rela untuk pulang, dan Seokjin pun masih betah. Belum ingin masuk ke rumah.

"baiklah." Kata Soekjin setengah hati. Namjoon tersenyum singkat sebelum akhirnya berbalik dan pergi. Seokjin masih berdiri di depan pintu sampai sosok Namjoon menghilang di kegelapan malam.

Tadi, dia sudah mengusulkan Namjoon untuk pulang diantar oleh supir keluarga Kim. Tapi Namjoon menolak. Seokjin membujuk lagi dan lagi. Lalu Namjoon akan terus menolak lagi dan lagi. Luar biasa betapa keras kepalanya pria itu. Tapi Seokjin malah merasa semakin menyukai Namjoon, pria itu sangat gentle dan beribawa. Bahkan untuk diusianya yang masih muda, Namjoon terlihat seperti orang yang selalu berfikir kedepan.

Seokjin masuk kedalam kamar dan segera mandi. Pria itu sudah memakai piyama dan berbaring diatas kasurnya sekarang, dia yakin sekali malam ini dia akan mimpi indah.

Namun pria itu belum mengantuk. Sesekali dia akan melihat kearah ponselnya. Berharap ada kabar dari Namjoon. Dia hanya ingin mengetahui guru privatnya itu tiba di rumahnya dengan selamat.

.

.

.

Seokjin sedang sibuk berfikir hal hal menyenangkan dengan Namjoon-yang kebanyakan adalah khayalan menjijikan jika dijabarkan-sampai pria itu tersenyum senyum sendiri diatas kasur. Dia bahkan berguling guling sambil menahan teriakannya dengan bantal. Persis seperti wanita. Nyatanya, membayangkan Namjoon saja bisa membuatnya seperti ini. Meluap luap dengan rasa gembira. Seokjin memilih untuk mengikuti hatinya sekarang. Mengabaikan otaknya yang dari tadi meminta agar Seokjin kembali menajaga sikap. Memakai gengsi nya lagi.

Ting!

Sebuah suara notifikasi pesan membuat Seokjin menghentikan khayalannya. Pria itu mendudukan diri diatas kasur lalu meraih ponsel yang dia taruh diatas meja.,

LINE

1 message from Si menyebalkan.

Dada Seokjin berdegub kencang begitu ia membaca notifikasi dari Namjoon. Senyum tercipta di wajahnya. Lebar sekali. Dengan jantung yang masih bedetak gila gilaan, Seokjin mengetuk layar ponselnya dan membuka pesan itu. Excited dan juga gugup. Astaga, seperti kau akan membuka sura pernyataan Lulus Sekolah atau Tidak saja!

Hi. Ponselku mati tadi. Maaf mengabarimu semalam ini. Omong omong, aku usdah sampai rumah, jika kau mau tau. Apa kah kau sudah tidur? Aku memaafkanmu kok. Tenang saja. Jadi, semoga aku tidak muncul di benakmu lagi. Tidak membayangi pikiranmu lagi. Tidurlah. Jangan memikirkanku terus. Arra?

Ada sebuah emoticon senyum yang membuat Seokjin mau tidak mau terbayang senyum Namjoon yang menyebalkan.

"jangan memikirkan ku terus"

Astaga. Seokjin baru ingat soal pesan salah kirim tadi yang membuatnya sangat malu! Namjoon membacanya!

Seokjin merasa kepanikan mulai kembali menerpa dirinya. Dia menghabiskan waktu selama tiga menit hanya untuk bergerak gerak gelisah diatas ranjang.

"ottokhaeee"

Ting!

Si menyebalkan:

Ah, kau membaca pesanku. Apa kau belum tidur? Kau tidak sedang memikirkan diriku kan? Apa aku kembali masuk dalam benakmu? Hentikan Seokjin ah. Kau butuh tidur. Akan aku kriimkan fotoku jika kau memang sangat merindukanku sampai seperti itu ;) . hahaha

"KYAAAA! PRIA SIALAAAAAN!"

Berbeda dengan Seokjin yang berteriak teriak tidak karuan. Diseberang sana, Namjoon sedang tertawa penuh kebahagiaan.

Seokjin memanglah sebuah oasis di dalam hidup Namjoon yang gersang.

.

.

.

.

TBC


Hello, its kimmy here.

Maaf ya updatenya lama. Pasti udah lupa ya jalan ceritanya? Hahaha.

Aku juga akan update Cerita ini langsung sekaligus beberapa Chap.

terima kasih sudah baca, review jusseyo.

-with love, K