UPDATE! UPDATE! UPDATE!

MIND TO REVIEW?

BLEACH: TITE KUBO

GoodBye Days: Toushiro Hitsugaya-kun

Prolog:

Dunia begitu sempit

Itu yang pertama kupikirkan

Kau datang

Dunia mulai melebar

Kau hilang

Dunia mulai merapat

Membuatku sesak tak bisa bernapas

Hatiku sakit dengan kenyataan

Air mata kembali jatuh

Aku tak suka ini

Lagi-lagi langit mendung

Hujan turun

Kesal

Kau janganlah menangis

Jika kau menangis

Badai akan datang

Aku semakin butuh bantuanmu

Mempertahankan aku dari terjangan

Badai kemarahan dan kesepian

Yang akan membuatku terseret kegelapan lagi

Karena aku

Adalah lelaki ditinggal cinta

Cinta yang telah mati

-prolog end-

Chapter 4

He Keep His Secret

"Uukh… Terang… Silau…" Hitsugaya mencoba membuka matanya yang telah menutup 2 hari. Sedikit demi sedikit, Hitsugaya melihat tempat ia tertidur, kamar tidurnya. "Oh…. Ternyata sudah pagi, toh…" ia lihat kalender pada HP-nya, ternyata sudah 2 hari ia tak masuk sekolah.

Ckiiit!

Kepalanya sakit lagi. Ia celingak-celinguk ke berbagai arah mencari obatnya. Matanya menangkap sesuatu. Disamping tempat tidurnya, Rukia tengah tertidur, duduk di kursi. Terdapat lingkaram hitam tipis dibawah mata Rukia juga bibir yang sedikit pucat.

"…! Rukia..!" kata itu praktis membuat Rukia terbangun dan kaget melihat Hitsugaya sudah sadar.

"Toushiro! Kamu sudah sembuh?" tanyanya sambil memegang dahi Hitsugaya, "Ah… panas. Jangan sekolah dulu ya?"

Laki-laki itu mengangguk pelan dengan wajah tanpa ekspresi. Rukia kemudian mengambil air minum untuk Hitsugaya agar tenggorokan Hitsugaya tidak kering karena 2 hari tak diberi air. "Lho? Bukankah air minumnya sudah habis?"

"Hinamori yang beliin untuk kamu," jawab Rukia.

Hitsugaya kaget, "Ha? Kok dia bisa tahu aku disini?"

Yang ditanya malah mengangkat bahu. Melihat Hitsugaya siuman barusan, Rukia lega sekali. Tegangnya hilang.

"Kenapa kamu, Rukia?"

"Nggak…" ucap Rukia. Tapi lama-lama tak bisa dibendung lagi rasa bersalahnya, Rukia nangis.

Tes!

Tes!

Hitsugaya kaget melihat reaksi Rukia yang tiba-tiba menangis. Walau sudah coba menenangkan, tetap saja Rukia tak berhenti nangis.

"Kau…. Bikin aku repot… Dibopong kesini, kirain apaa…. Tau-taunya pingsan gak bangun sampai hari ini… Maaf banget, gara-gara kesel, aku ninggalin kamu di sekolah… Aku minta maaf…" Rukia nangis pelan, "Aku gak nyangka kamu bakal pingsan…. Aku bersalah banget sama kamu…. Hiks… Aku… Aku…"

Rukia berhenti bicara setelah bibirnya ditempeli jari telunjuk Hitsugaya yang lembut. Mata laki-laki itu memandang Rukia lembut. "Aku gak nyalahin kamu, tolol! Ngapain minta maaf! Jangan nagis dong! Aku paling gak bisa lihat orang yang kukenal nangis!"

"Tapi…"

"Gini ya. Aku yang salah. Justru aku yang mau minta maaf sama kamu! Bikin kamu marah, bikin kamu nangis."

Rukia terdiam. Mukanya habis nangis agak memerah. Hitsugaya jadi agak salting. Situasi kayak gini gak mereka banget!

"…Aku ada 2 permintaan deh, kalau kamu mau aku maafin," tawar Hitsugaya. Rukia mengernyitkan dahi.

"Pertama kamu harus siap bila aku kena yang kayak gini lagi. Kedua…." Kini Hitsugaya menggaruk kepalanya, "Aku pingin kamu maafin aku secara tulus."

Rukia agak kaget, "Cuma itu…?"

Hitsugaya mengangguk. Rukia terdiam sebentar, lalu tersenyum tulus seperti senyum yang ia lemparkan ke Hitsugaya saat pertama bertemu. Ia pikir, Hitsugaya yang selama ini selalu pasang wajah datar dan marah didepannya akan mengernyitkan dahi. Ternyata… laki-laki itu tersenyum tulus dengan arti " I'm sorry make you mad and cry".

Rukia paham. Ia mengangguk pelan, ah… rasa bersalahnya muncul lagi. Air matanya menetes. Kenapa? Padahal Rukia gak suka sifat Hitsugaya. Bikin orang pusing dan jengkel. Tapi setelah mengetahui kenyataan Hitsugaya mempunyai kedua penyakit Hitsugaya, sudah cukup membuatnya shock dan memilih menohon diri bila laki-laki itu membuatnya kesal. Curang. Lagi-lahi Hitsugaya yang membuat Rukia menyerah. Apa bisa ya, Rukia bersikap natural seolah gak ada apa-apa sama Hitsugaya setelah ini dan di sekolah? Kayaknya sulit.

"Lho? Kok nangis lagi? Aku salah apa lagi?" Hitsugaya panic. Rukia menggeleng. "Aku paling gak bisa mengetahui kenyataan orang yang kukenal ternyata penyakitan…"

Hitsugaya menganga (hati-hati laler masuk!), "Sekalipun itu penyakit kutilan gitu?"

Buuuggghhh!

Rukia melempar bantal ke muka Hitsugaya dengan cepat, "Sialan kamu! Aku serius malah digituin!"

"Eh, bego. Kamu punya teori sendiri gak sih? Kamu bilang gak bisa tau kenyataan orang penyakitan. Jelas aku tanya juga yang begitu! Kamu tuh, oon atau lagi gak konek, sih!" Rukia terdiam. Iya ya? Maksudku kan penyakit yang susah sembuhnya? Ya tuhan… Kenapa hamba-Mu ini dodol banget sih! Batin Rukia tersadar. Ia tepuk dahinya lalu nyengir.

"He he…. Sori… Aku gak konek…" Hitsugaya langsung mencibir. Terdiam, Hitsugaya mencoba memastikan. "Rukia?"

"Hn?"

"Lo nerima tawaran gue tadi gak?"

"…Ya."

"Bener?"

"IyaaaWAAAA?"

Tiba-tiba Hitsugaya memeluk Rukia, "Thanks, ya! Aku bener-bener butuh teman semacam Hinamori…. Akhirnya aku temuin, yaitu kamu!"

Rukia memerah. 'Waaaaaaaaaa! Toushiro ngapain!'

"Toushiro…! Lepasiiin!" ucapan Rukia membuat Hitsugaya tersadar lalu segera melepaskan Rukia. Wajahnya tak kalah merah!

"…. Sorry…"

"Gak apa… Take it easy…."

Suasana menegang. Rukia dan Hitsugaya terdiam, masih memerah. Itu pelukan pertama Rukia buat laki-laki seumur atau sepantaran. Aaaah! Suasana tegang romantis gini memang gak mereka banget!

.

"Gimana? Badanmu sudah enakan?" tanya Rukia gugup.

"Gak.. Makin panas…" jawab Hitsugaya agak gugup.

'GARA-GARA PELUKAN GAK SENGAJA TADI!' pekik mereka berdua dalam hati, kembali memerah. Panas… romantis hot nih…. Hehehe (Author digebukin rame-rame).

Rukai mengambil lalu mengetik di fitur message pada HP Nokia N90-nya. Mukanya terlihat serius lalu tersenyum. Hitsugaya tidak mengerti dengan ekpresi yang dikeluarkan Rukia.

"Kenapa kamu?" Rukia menoleh pada Hitsugaya lalu tersenyum tipis. "Nge-sms tanteku. Minta dibawain obat demam buat kamu."

"Ha? Kenapa gak minta orang tuamu aja?"

"Ah… Udah meninggal kok, mereka…" ucap Rukia enteng seolah itu hal biasa. Jelas-jelas Hitsugaya sampai melongo lebar kayak nungguin lalat masuk ke mulutnya yang isinya menyaingi goa stalakmit.

"Gila…. Santai banget kamu! Harusnya kamu ngomong dulu, baru aku gak bakal nanya gitu!" seru Hitsugaya heran dengan reaksi Rukia.

"Gak masalah, kok. Soalnya ada yang senasib sama aku disini."

Hitsugaya terdiam bingung, "Maksudmu…?"

"Hisana iu almarhumah pacarmu, 'kan? Koid gara-gara Adam Air?" Hitsugaya mengangguk pelan. Kenangan bersama Hisana sedikit keluar dari kegelapan. "Orang tuaku meninggal karena kena Tsunami saat liburan di Indonesia juga. Parahnya, aku hampir gak bisa kenal orang tuaku karena muka mereka udah rusak. Mereka juga gak utuh…"

Kini Hitsugaya yang membelalakan matanya pada Rukia. Gadis itu menahan air mata di kelopak matanya yang lentik. Ya,,,, kini pastinya paham kenapa sepertinya Rukia tinggal sendiri di apartemen mewah. Ia berusaha mandiri. Biaya hidup dan apartemen ditanggung semua sanak saudaranya.

Rukia tersenyum memakasa, "Ibuku tangannya bunting… Ayahku lehernya ada kaca nancep, betisnya yang kanan kepotong. Sejak saat itu aku jadi gak bisa liat orang yang kukenal terluka atau punya penyakit…" airmatanya menetes. Hitsugaya kasihan. "Sudah ngerti kan?" senyum Rukia pada Hitsugaya. Hitsugaya mengangguk.

Tes…

Kini celana jeans pendek Rukia telah tertetesi air mata sedihnya. Gadis itu gemetaran. Hitsugaya mengusap air mata Rukia, membuat gadis itu salting lagi. Tiba-tiba….

"PERMISIIIII! Shiro-chaaan! Ini Hinamoriiiii! Bareng Momooo! We're comiiing! Uhuuuyy! Buka pintunya dooong!" Hinamori berteriak dengan suaranya yang amit-amit dibilang merdu. Listrik satu provinsi bisa mati mendadak kalau Hinamori teriak sekali aja! (Author ditabok)

Hitsugaya dan Rukia langsung berjauhan. Hitsugaya kembali tiduran dan Rukia yang membuka pintu. Melihat Rukia di kamar Hitsugaya, Hinamori dan Momo senyum-senyum menggoda.

"Oooh… Hot information, nih… Duo berantem di satu kamar…. Ngapain, tuh?" Momo langsung diam karena menerima DeathGlare Rukia.

"Gak penting. Ngobrol-ngobrol aja," ucap Rukia kesal. 'Minus pelukan sama acara air mata diusap Toushiro!' batinnya. Hinamori cuma hisa cengar-cengir melihat reaksi rukia, tapi ia yakin kalau Rukia gak berbuat yang aneh-aneh sama Hitsugaya. Kalu PD ketiga sih… boleh lah…

"Gimana Didit? Dia udah baikan?" Tanya Hinamori. Rukia menggeleng.

"Boro-boro. Yang ada demamnya malah naik. Gara-gara tadi…." Rukia segera menutup mulutnya. Ups! Hampir aja bongkar rahasia yang asli malu-maluin!

"Apaan?" tanay Momo. Rukia menggeleng cepat, "Gak jadi. Yah… pokoknya! Panasnya makin naik! Gimana nih!"

"Hinamori dan Momo berpikir sejenak. "Ng… Kamu gak lupa kasih obat rendah darahnya kan?"

Rukia langsung menganga. 'Wah… negatif nih, perasaanku!' batin keduanya.

"AAAAAAAAAAAKKKHH! LUPAAAAAAAAA!"

Rukai segera masuk ke kamar tidur lalu member Hitsugaya obat. Tapi begitu Hinamori dan Momo lihat keduanya yang berubah, mereka ngerti kalau 'ada sesuatu' yang mereka sembunyikan. Hehe, tapi kok Rukia dan Hitsugaya kayak istri merawat suami ya?

"Wahhh….. Suami istri nih…?" sahut Hinamori, "Kok jadi pada kalem begitu?"

Mendadak Hinamori dan Momo kaget luar biasa. Tangan Hitsugaya menggenggam…. Tangan Rukia! Rukia apa gak sadar atau sengaja? "Hitsu…. Tangan kananmu, kok…?

"Eh?" Hitsugaya melihat tangan kanannya. GREAT! Ia langsung melepaskan tangannya dengan wajah merah luar biasa sama seperti Rukia. Semerah tomat rebus!

"Sori.. Aku gak sadar…." gugup Hitsugaya, deg-degan.

"…. Gak apa… No problem…" jawab Rukia masih malu berat. Hinamori memperhatikan keduanya kemudian berbisik pada Momo.

"Kayaknya mereka belum sadar ya?"

"Yap!"

Kemudian Hitsugaya menoleh kearah Hinamori dengan wajah serius. "Aku mau ngomong panting ke kamu, Hinamori! Tau kana pa yang bakal aku tanyain?"

Hinamori mulai bergidik, lalu mengangguk ragu. Kini Hitsugaya menoleh pada Rukia. "Rukia, thanks udah mau care sama aku yang udah bikin kamu jengkel. Tapi pembicaraan ini antara aku dan Hinamori aja. Kamu pulang aja kerumahmu ditemenin Momo. Kalau Momo pulang nanti repot gak ada yang nganter Hinamori kemana-mana. "

Rukia dan Momo mengangguk paham, "Permisi."

Blam!

Pintu tertutup. Pembiacaraan serius kedua sahabat lama itu pun dimulai.

TO BE CONTINUED

Hitsugaya: senyum berapa kali sih gue? OOC banget!

Erika: Sewot dah….. biarin aja napa.

Rukia: Idiiihh! Aku nangis! OOC!

Ichigo: Giliran gue kapaaan?

Erika: chapter berikutnya! I swear!

Semuanya: REVIEW PLEASEEE!