Maaf update super telat. Gara-gara try out n persiapan ujian praktek yang gila-gilaan. Tapi akhirnya sukses bikin fic ini.
Maaf kalau ada kesalahan pengejaan dan kata-kata Indo nya,
lol Enjoy! :D
.
"Kak, hari ini aku ada tugas kelompok. Aku akan pulang telat"
"Biaklah" jawabku sembari menaikki tangga lalu berjalan menuju kelas pertamaku.
.
Hari Jumat, hari terakhir sekolah dalam seminggu ini. Berkat kerja kerasku, sekali lagi aku berhasil membangunkan adikku itu jam 5 pagi sehingga kami tidak terlambat lagi ke sekolah. Aku hanya berharap hari ini ada sesuatu yang berbeda. Berbeda bukan berarti aku akan terjebak bersama makhluk pirang itu seperti kemarin. Demi apapun semoga kejadian seperti itu tidak terulang lagi dalam hidupku yang singkat ini.
Terlepas dari lamunan, langkahku terhenti tepat di depan kelas pertamaku yaitu matematika. Ramai dan padat sekali seperti ada pembagian uang gratis, jika seandainya itu benar-benar terjadi aku tidak akan tidur pada hari sebelumnya.
.
"Ada apa ini?" tanyaku pada salah seorang murid yang berdiri tepat di depan pintu masuk kelas
"Mana ku tahu? Aku baru datang" katanya dengan nada kesal. Sepertinya aku salah tanya,
Dengan rasa penasaran akhirnya aku memasukki kelas dan sepertinya kerumunan ini hanya disebabkan oleh satu orang tapi aku belum bisa melihat siapa dia.
.
"Aku tidak akan duduk dengan siapa-siapa!"
Suara itu, sepertinya aku mengenalnya. Aku menyelip diantara orang-orang itu dan ternyata-
"Bel?"
"Shishishi, Mammon" sapanya sambil tersenyum lebar
"Apa-apaan ini?" tanyaku dengan nada sedikit kesal
"Minggir!" senggol seorang perempuan yang sedari tadi mengepung Bel,
Diikuti oleh perempuan-perempuan lain, mereka menarikku keluar dari kerumunan itu
"Baiklah," kataku lalu aku pergi meninggalkan kelas.
"Mammon!" tanpa menoleh aku sudah dapat mengenal suara itu. Siapa lagi kalau bukan si rambut pirang itu? Dengan tetap berjalan aku berpura-pura tak mendengarnya hingga akhirnya aku sampai juga ditempat yang kutuju.
.
Sebuah balkoni sekolah yang hampir seluruhnya dipenuhi oleh fasilitas sekolah yang sudah tidak terpakai. Ada sebagian yang masih baru tetapi mereka mencampurnya menjadi satu dengan yang sudah tidak terpakai lagi, walau begitu, aku tidak terlalu peduli .
Angin sepoi-sepoi dan udara pagi yang segar menemaniku di pagi hari yang cerah ini, seolah mengangkat semua beban pikiranku. Seketika aku dapat melupakan masalah-masalahku di masa lalu. Termasuk masalah si rambut pirang itu.
.
"Mammon!"
.
Barusaja aku dapat melupakannya.
Aku menoleh ke arah sumber suara itu seiring ia berjalan mendekat ke arahku
"Apa maumu?" tanyaku
"Ngapain di sini?" tanyanya sambil berdiri disebelahku dan menatap langit
"Bukan urusanmu," kata ku dengan dingin. Aku hanya ingin waktu sendirian, kenapa ia tak bisa mengerti itu?
"Shishishi.." ia hanya tertawa dan menatapku, dan dengan perasaan tidak enak pula aku menatapnya balik.
.
"Apa lihat-lihat?"
"Sebenarnya kau pernah senyum gak sih?"
"Tentu saja pernah"
"Kapan?"
"Saat kau gak melihat aku senyum"
"Tch" spontan bibirnya menekuk kebawah membentuk raut wajah cemberut. Lagipula senyumku itu tidak gratis.
"Hei, kau sudah dengar tentang fieldtrip yang akan diadakan sekolah?"
"Tentu saja sudah, aku 'kan anggota OSIS" jawabku. Sebagai OSIS yang baik, sudah selayaknya kami menyelenggarakan sesuatu yang dapat menyegarkan pikiran murid seperti fieldtrip ke kebun teh. Pada awalnya Colonello mengusulkan agar pergi ke rumah robot, tetapi karena biayanya mahal, maka ku usulkan agar pergi ke kebun teh. Sekaligus mereka dapat belajar memetik daun teh dengan baik, walau menurutku sebenarnya itu kurang penting.
.
"Kau pasti ikut 'kan?"
"Tidak tentu," kataku sembari mengambil salah satu kursi yang sudah tidak terpakai untuk duduk
"Kenapa?"
"Tergantung. Kalau nanti aku harus mengeluarkan uang lebih, aku tidak akan ikut"
"Shishishi..jadi masalah uang" ia tersenyum kembali
"Tidak usah khawatir tentang uang, pokoknya kau harus ikut hari Sabtu nanti dan kau harus duduk disebelahku" lanjutnya
"Enak saja. Aku lebih baik istirahat di rumah"
"Shishishi, lihat saja nanti" katanya dengan tawa yang mencurigakan.
Sudah dapat ditebak, ia akan melakukan sesuatu yang menyebalkan besok. Hari ini aku hanya bisa mengunci pintu gerbang dan pintu masukku, mencabut kabel bel rumah dan kabel telepon, mematikkan handphone serta mengunci pintu kamarku.
.
KRIIIIIIIIIIIIINNNNGGGGGGG!
.
"Ayo masuk" ajaknya
.
.
Sudah pelajaran keenam dan hampir seluruh guru mata pelajaran hari ini tidak masuk, entah ada rapat ataupun sakit, jadi suasana kelas sangat ramai tak karuan. Ada yang melempar-lempar kertas, ada yang mencoret-coret papan tulis, ada pula yang karaoke. Bahkan ketua kelasnya saja malah bermain kejar-kejaran.
"Besok aku duduk sebelahmu ya!" aku menoleh ke sebelah kananku yang merupakan tempat duduk Bel
"Gak bisa, aku sudah duduk sama Mammon" lalu ia melihatku dan tersenyum
"Aku gak ikut, kok" kataku
"Pokoknya aku duduk sebelah Mammon besok. Shishishi," perempuan itu menatapku dengan sinis dan pergi meninggalkan si narsis di sebelah kananku yang masih tertawa layaknya orang gila.
.
"Apa kau pernah berhenti tertawa?"
"Tentu saja pernah, shishishi"
"Coba berhenti" saat itu juga ia berhenti tertawa tetapi masih tetap tersenyum,
"Itu lebih baik. Tetap seperti itu sampai pulang nanti. Jangan bergerak." perintahku
"Shishishishi gak mau" bantahnya sambil menaikkan kedua kakinya ke atas meja,
.
"Bagaimana kalau begini saja,"
"Hm?" aku menoleh ke arahnya,
"Kalau Fran ikut, kau juga ikut"
Fran? Hah, dia paling anti yang namanya bangun pagi hanya untuk fieldtrip.
.
"Oke, aku setuju"
Kita lihat saja nanti.
.
.
"Aku ikut, kak"
"Apa!"
"Shishishishi, jadi kau juga ikut, Mammon!"
Kini kami semua berada di depan gerbang sekolah, yang dimaksud dengan 'kami' yaitu aku, adikku, Bel, dan saudara kembarnya itu. Aku masih terkejut mendengar itu, baru sekali ini adikku ikut fieldtrip yang tidak wajib. Dan dia 'ingin ikut'?
.
"Kau bercanda, 'kan?"
"Bagaimana aku bisa bercanda. Aku memang ditakdirkan untuk ikut." aku hanya sweatdrop mendengar kata-katanya,
"Pertama. Kakak selalu memarahi aku karena aku gak bisa membuat teh. Kata kakak anak perempuan itu harus bisa membuat teh. Jadi kalau aku ikut fieldtrip ini aku gak akan mendengar ocehan kakak lagi." jelasnya.
Memang aku dulu menyuruhnya membuat teh karena waktu itu pencernaanku tidak beres sehingga aku merasa mual seharian. Sebagai orang yang sakit, mood-nya juga pasti tidak baik, jadi aku menyuruhnya membuatkanku teh manis dan setelah 15 menit aku menunggu, ternyata teh yang kutunggu-tunggu itu tidak terasa manis sama sekali karena ia LUPA menambahkan gula.
.
"Kalau begitu nanti kakak ajarkan di rumah,"
"Gak bisa begitu," tolaknya
"Kenapa lagi?"
"Kedua. Sedari tadi pagi, kakaknya pacarmu itu mengajakku pergi terus-menerus. Kalau aku besok sampai gak ikut, dia akan menginap di rumah, katanya." jelas adikku sambil menunjuk-nunjuk orang yang bersangkutan. Benar-benar menyebalkan.
.
"Ada yang kurang," kata lelaki berambut lurus itu,
"Apa?"
"Fran harus duduk sebelahku, shesheshe"
"Oh iya. Begitulah," kata adikku pasrah
Kondisinya semakin sulit. Kalau aku dan Fran ikut, pastinya mereka akan mengganggu kami selama perjalanan. Tetapi kalau kami tidak ikut..Mana mungkin aku membiarkan mereka menginap di rumah? Apalagi kalau paman nanti tahu tentang ini, pasti aku yang akan dihukum habis-habisan.
.
"Jadi?" tanya ketiga orang itu serempak
"Yasudah, kita ikut" kataku. Yah, mau bagaimana lagi? Aku pun tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Kedua lelaki berambut pirang itu hanya tersenyum mendengar keputusanku, sedangkan adikku biasa saja.
.
Tiba-tiba sebuah mobil mewah berwarna hitam datang menjemput mereka,
"Kalau begitu, sampai ketemu besok di sekolah, Mammon! Shishishi" pamit Bel dengan senyum liciknya
"Bye, Fran" senyum kakaknya itu pada adikku, dan mereka pun memasuki mobil dan akhirnya pergi.
.
"Padahal aku besok ingin tidur" kata adikku memulai perbincangan
"Aku juga. Tapi ini semua salahmu,"
"Kok aku?"
"Ya iyalah, kau juga mau ikut 'kan?"
"Terpaksa"
"Aku juga"
"Habisnya tadi Siel-senpai mentraktir aku spaghetti. Tadi aku lapar sekali, jadi aku langsung makan, setiap kali dia ngomong, aku jawab 'iya iya' saja. Ternyata dia nanya tentang besok. Aku mana tahu."
"Cih. Jadi memang ini semua salahmu"
"Kakak juga salah" aku menatapnya,
"Kakak kan sebenarnya suka sama Bel-senpai, tapi kakak gak mau mengakui itu"
"Sembarangan"
"Terus kakak pakai alasan kalau kakak 'gak bisa nolak' padahal kakak 'gak mau nolak'"
"Enak saja! Aku lebih baik tidur daripada harus pergi-"
"Bohoooong" selanya sebelum aku dapat menyelesaikkan kata-kataku,
Akhirnya kami tiba juga di rumah. Dengan cepat adikku membuka pintu gerbangnya
.
"Fran" panggilku,
"Apa?"
"Kau menyebalkan, kau tahu itu?"
"Iya." ia menundukkan kepalanya sedikit,
.
"Tapi mau bagaimanapun juga, aku tetap akan menjadi adikmu yang menyebalkan."
"Kecuali kau kujual di pasar"
"Memangnya kau tega?" sekilas ia menatapku lalu memasuki rumah.
.
.
"Tentu saja tidak, Fran" dilanjutkanku memasuki rumah
Saya..telah..berusaha..keras...membuat...Bel..dan...Siel...supaya..jutek...
maafkan saya Dx
R&R ?
