Enemy

Cast : Do Kyungsoo (Kim Kyungsoo)

Park Chanyeol

Kim Jongin

Byun Baekhyun

Oh Sehun

Han Jiyeon (OC)

EXO Mamber

Genre : Romance, Drama, Hurt&Comfort

Life School,Incest (?)

Warning : Rated T-M

The Uke actually GS. EXO milik Tuhan Yang Maha Esa, saya hanya seorang fans yang mencoba menuangkan imajinasi saya kedalam sebuah Fanfiction. Cerita ini berasal dari beberapa sumber yang merupakan inspirasi saya. Jika menemukan kesamaan dengan cerita lain. Harap maklum ^^.

Buat Reviewers sama Kyle. Saya memang terinspirasi dari Novel Mbak Shanty Agatha yang Sweet Enemy sama Pembunuh Cahaya . Tapi tenang~ alurnya dibikin sedikit berbeda. Ini bukan Remake... kalau ada yang keberatan mungkin lebih baik saya hentikan saja.

Pairing : (...)

Enemy~

Copyright EXO 2014

Kirefa Present

Chapter 4~

Kyungsoo melangkahkan kaki mungilnya ringan, sesuai dengan janjinya tadi pagi. Sore itu Kyungsoo pergi kesalah satu panti asuhan di kota Seoul ini, kedua genggaman tangan mungilnya penuh dengan paper bag yang berisi beberapa kotak makanan milik Nyonya Park. Aah~ Kyungsoo tersenyum saat beberapa anak kecil berlarian kearahnya, raut wajah mereka terlihat bahagia. Mereka mengelilingi Kyungsoo, seakan bertanya – tanya apa gerangan isi dari paper bag gadis itu

"Ajjuummhaa eonni datang~" teriak salah satu dari mereka. Walaupun ini pertama kalinya Kyungsoo datang kepanti asuhan ini, hati Kyungsoo terenyuh, mereka sangat ramah. Disudut pintu sana berdiri seorang wanita paruh baya yang berjalan sedikit terpogoh-pogoh kearahnya, wanita paruh baya itu tersenyum.

"Anak muda, biarkan saja ajjumha yang membawanya." Ucapnya pada Kyungsoo, dengan halus Kyungsoo menolak,

"Anniyo ajjumha, biarkan saya saja yang membawanya." Kyungsoo tersenyum kearah ajjumha itu, ajumha itu mengangguk mengerti dan berjalan berdampingan dengan Kyungsoo. Sedangkan beberapa anak kecil yang rata-rata lelaki itu menatap takjub Kyungsoo.

"Nonaaa yeppudaaa~.." ucap salah satu anak kecil yang berkaca mata bulat itu, kedua tangan mungilnya ditaruh didepan dadanya dan menatap Kyungsoo berkaca-kaca. Kyungsoo hanya menanggapinya dengan senyuman. Mereka berjajar rapi dibelakang Kyungsoo, mengikuti gadis bersurai coklat sepunggung itu saat masuk diruang tamu panti asuhan itu.

Kyungsoo meletakkan paper bag diatas meja, dan mengeluarkan seluruh isinya. Anak-anak kecil itu tampak senang dengan apa yang dibawa oleh Kyungsoo. Ada beberapa dari mereka sedikit berani membuka kotak bekal yang sudah Kyungsoo keluarkan, namun niat mereka urung saat melihat tatapan tajam dari ajjumha.

"Ja, annyeong ajjuma Kim Kyungsoo imnida." Kyungsoo memperkenalkan namanya lembut mata bulatnya mengarah pada anak-anak yang memandangnya "Kalian boleh memanggil Noona atau eonni. Arrachi?" ucapnya. Dan serempak mereka mengangguk dan menjawab.

Ibu panti itu tersenyum melihat Kyungsoo "Annyeong Kyungsoo-ya~ Lee Minseok imnida. Aku adalah ibu panti disini." Ajjumha itu memperkenalkan namanya, Kyungsoo mengangguk tanda hormat.

"Ini sedikit yang bisa saya berikan ajjumha, sayang sekali jika makanan ini tidak dihabiskan. Maaf jika saya baru bisa memberi ini Ajjumha."

"Gwenchana Kyungsoo-ya~. Kami bersyukur masih ada yang memperhatikan kami. Dan semua ini tampak lezat, betulkan anak-anak?" tanyanya, dan tentu saja mereka mengangguk. Karena memang dari luarpun aromanya nampak menggoda. Oh~ perut salah satu dari merekapun berbunyi.

"Kalian lapar? Makanlah~" Kyungsoo mempersilahkan, "Lain kali jika noona ada makanan lebih dan uang lebih, noona akan memberikan pada kalian. Otthe?" tanyanya.

Dengan cepat mereka mengangguk. Minseok ajjumha sedang menyalin makanan Kyungsoo, tidak mungkin Kyungsoo tidak membawa pulang kotak makanan itu bisa-bisa dirinya tidak bisa hidup dengan selamat kemudian hari.

"Tapi~ harus ada perjanjiannya nde?" mereka menatap Kyungsoo bingung. "Kalian tidak boleh nakal dan juga menyusahkan Minseok ajjumha. Arrachi?" ucapnya, mereka saling berpandangan satu sama lain. "Jika kalian bisa melakukannya, noona janji akan membawa kalian nanti ke Lotte Word? Otthe?" Kyungsoo tersenyum. Mereka saling bertatapan dan kemudian.

"ARRACHI NOONNNAA" Ucap mereka serempak. Kyungsoo tersenyum memandang kumpulan bocah-bocah itu, ada sedikit perasaan iba dihatinya. Diusia mereka yang baru menginjak elementary school mereka harus berpisah dari orang tuanya. Setidaknya Kyungsoo tidak bisa lebih bersyukur dari ini, kehidupannya lebih indah dari bocah-bocah ini.

"Chaaaaa~ makanan sudah siaapp.." dengan cepat mereka mnyerbu Minseok ajjumha yang berjalan kearah Kyungsoo. "Ayoo makan bersama kami Kyungsoo-ya~" ajaknya.

Bocah-bocah itu nampak saling berebut satu sama lain. "Hey! Katakan sesuatu untuk Nona Kyungsoo," ucap Minseok ajjumha.

"Kyungsoo Noona gamsahamnida!" ucap mereka serempak sambil membungkuk, Kyungsoo tersenyum.

"Terima kasih Kyungsoo-ya~. Aku akan dengan senang hati menerima apapun darimu nantinya," ucap Minseok Ajjumha tulus.

Kyungsoo menggenggam telapak tangan Minseok ajjumha. "Ajjumha tenang saja, saya akan sering mengunjungi kalian."

"Baiklah ajjumha, saya pamit dulu." Ucapnya, mata bulatnya melirik kearah kumpulan bocah-bocah itu. mereka nampak lahap menikmati makanan yang Kyungsoo bawa. "Jaa.. Noonna harus pulang, kalian baik-baik ya~?"

Mereka tampak acuh, masih lahap menikmati makanan dari Kyungsoo. "YAK! Dengarkan apa kata Kyungsoo Noona. Dia sedang berpamitan..." Itu Suara Minseok ajjumha. Kyungsoo terkikik pelan, sedangkan bocah-bocah itu tampak bingung.

"Baik Noona. Noona sampai jumpaaa~" balas mereka serempak. Kyungsoo berjalan menjauh sambil sesekali menghadap kebelakang sambil melambaikan tangannya.

000

Chanyeol menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu massionnya ini, sedangkan dibelakangnya ada Jongin dengan raut wajah lelahnya. Entah dari mana pemuda itu, yang pasti pakaian seragamnya sudah berganti dengan pakaian cassual yang biasa dipakainya berpergian dengan Chanyeol.

"Apa Kyungsoo dirumah?" Tanyanya pada Chanyeol, Chanyeol hanya diam. Kedua lengan nya tampak menutupi wajah Chanyeol. "Yak Park! Aku bertanya apa Kyungsoo dirumah?"Tanya Jongin lagi, pemuda itu nampak jengah dengan Chanyeol.

"Hmm~.. Molla menurut Im ajjumha dia tadi pergi keluar. Entah apa yang dia lakukan." Jawab Chanyeol acuh.

"Berarti benar gadis itu Kyungsoo."Lirih Jongin pelan, Chanyeol mendengarnya meski hanya lirihan kecil dari Jongin.

"Maksudmu? Kau bertemu Kyungsoo?" Tanya Chanyeol penuh selidik, Jongin menatap Chanyeol tidak suka. "Kenapa memangnya?" balasnya sengit. Chanyeol diam, Jongin sama dengan dirinya. Sama-sama menjaga gengsi, yaa~ tidak mungkin kan dirinya mengatakan kalau penasaran dengan apa yang dilakukan Kyungsoo.

Melihat Chanyeol yang terdiam, Jongin terkikik kecil. Walaupun dirinya dan Chanyeol sama Jongin memiliki selera humor dan jahil sedikit lebih tinggi dari Chanyeol. Jika Chanyeol akan diam saja jika ada sesuatu yang menarik hatinya, Jongin sedikit berbeda. Dia akan memutar sebuah kunci hingga dirinya mendapatkan informasi itu. Yah... sedikit berbeda memang.

"Aku tadi melihatnya keluar dari salah satu panti asuhan." Jawab Jongin.

Chanyeol terdiam, Kyungsoo keluar dari sebuah panti asuhan? Apa yang dilakukan gadis itu dipanti asuhan? Apa selama ini Kyungsoo tinggal dipanti asuhan? Tapi, menurut keterangan Shin ajjushi yang menjemput Kyungsoo semalam, Kyungsoo tinggal disalah satu flat kecil yang terletak sedikit menjorok dari Kota. Lalu kenapa Kyungsoo pergi kepanti asuhan?

"Apa dia berangkat sendirian?" tanya Jongin. Chanyeol mengangkat bahunya.

"Sepertinya, karena Shin ajjushi ada dirumah hari ini."

"Apa kau tidak takut sesuatu terjadi dengan Kyungsoo? Kau tau banyak yang mengincarnya sekarang." Ucapan Jongin membuat Chanyeol sedikit termenung, benar juga apalagi sekarang Kyungsoo menjadi keluarga besar Park, bisa saja musuh – musuh ayah Chanyeol menjadikan Kyungsoo bahan tawanannya, atau malah musuh dirinya sendiri. Chanyeol hampir tertawa mengingat taruhannya dengan Sehun. Aah Sehun, Chanyeol baru ingat, pemuda itu tampak familiar, wajahnya mengingatkan Chanyeol dengan seseorang, yah seseorang yang sudah pergi jauh dari kehidupan Chanyeol. Seseorang yang membuat Chanyeol seperti ini, dan juga~ seseorang yang membuat Chanyeol tidak percaya dengan 'cinta'.

000

Pemuda itu menatap yeoja yang duduk dikursi roda itu dengan pandangan penuh nanar. Sedetik kemudian dirinya berjongkok dihadapan sang yeoja. Tatapan yeoja itu kosong... pemuda itu meletakkan kepalanya dipangkuan sang yeoja, tes.. air mata pemuda itu jatuh dipangkuan sang yeoja. Mereka berdua saudara kandung, yeoja itu hanya berbeda 2 tahun darinya. Rasa sayangnya pada sang yeoja mengalahi apapun yang ada, hingga menyalahi sebuah keputusan yang buruk dalam hidupnya. Dirinya jatuh cinta pada sang kakak, pada yeoja yang merupakan kakak kandungnya. Dulu. Dulu sekali dirinya akan dengan senang hati melakukan apapun demi membuat sang kakak bahagia, bahkan saat kakaknya memiliki seseorang yang dijadikannya sandaran, pemuda itu menerimanya dengan senang hati. Pemuda itu masih ingat bagaimana sang kakak akan tertawa riang saat menceritakan kekasihnya, pemuda yang telah berhasil mencuri hatinya, pemuda itu akan medengarkan cerita sang kakak dengan senang hati. Dirinya juga masih ingat bagaimana sang kakak akan sedih jika sesuatu terjadi dengan sang kekasih, mengingat sang kekasih merupakan seorang 'penguasa' disekolahnya jadi apapun bisa terjadi bukan? Pemuda itu masih mengingat senyuman tulus dari sang kakak untuknya pada hari itu. Hari tepat 1 tahun yang lalu saat kejadian itu terjadi, semuanya musnah. Hilang bagai ditelan bumi, tidak ada lagi kebahagian dari sang yeoja hanya ada tatapan kosong darinya. Membuat hati pemuda itu sedikit teriris, pemuda itu mengepalkan tangannya. Seseorang yang telah membuat kakaknya seperti ini harus merasakan bagaimana kehidupan sebenarnya. Pemuda itu mengelus paha sang kakak dengan sayang sedangkan yeoja itu seolah mengerti dengan apa yang sedang terjadi dan mengelus rambut pirang kecoklatan milik pemuda itu dengan lembut. Pemuda itu memejamkan matanya, menikmati sentuhan sang kakak.

"Hun-ah.. ada apa?" tanya sang kakak. Sehun – pemuda itu hanya diam, membiarkan tetesan air matanya mengalir dipangkuan sang kakak. "Apa kau sedang bersedih? Kenapa kau seperti menangis?" tanyanya lagi.

Sehun mengangkat kepalanya, menatap sang kakak, sedangkan yeoja itu hanya diam kepalanya menunduk seakan menatap Sehun, tapi siapa yang tahu bahwa dirinya tidak bisa melihat wajah tampan sang adik yang kini beranjak dewasa. Sehun yang dulu patuh akan ucapannya kini sedikit memberontak. Sehun telah berbeda. Dalam bayangan sang yeoja hanya ada satu warna yang dilihatnya, warna 'hitam'. Warna itu sudah mengisi kehidupannya selama 1 tahun ini, dirinya sudah mengerti jika yang datang itu Sehun, karena hanya Sehun yang menemaninya.

Sehun tidak menjawab pertanyaan yeoja itu, telapak tangannya menyentuh pipi yeoja itu dengan sayang, diusapnya perlahan hingga sampai disudut bibir sang kakak. Sehun beranjak untuk berdiri, mengecup pelan kening sang kakak, dan juga bibir mungilnya. Ini memang sudah diluar batas, tapi rasa sayangnya mengalahi segala yang ada. Sehun sungguh mencintai yeoja ini tidak perduli mereka saudara kandung bahkan banyak yang menganggap mereka kembar. Sehun acuh, dirinya sudah terlalu jauh mencintai yeoja ini. Sangat mencintainya...

000

Pintu berdaun dua itu terbuka, menampakkan sosok mungil yang muncul setelahnya. Dimasion semegah ini hanya ada dirinya sendiri, kehidupan bak putri kerajaan tampak tak ada artinya, kedua orang tua yang bercerai meninggalkan dirinya sendiri disini, dimasion semegah ini seperti masion kerjaan eropa. Yeoja itu melangkahkan kakinya kearah tangga, seperti biasa akan ada maid yang menyambutnya nanti.

"Noona dari mana saja anda?" tepat bukan? Yeoja itu menatap sinis sang maid.

"Jangan mengangguku!" Balasnya sengit, sang maid langsung tertunduk tidak berani menjawab. Hingga dentuman pintu yang keras menyadarkannya. Perilaku sang noona muda sungguh berbeda. Jika saja kedua orang tuanya tidak berpisah dan juga mengirimnya keluar negeri dulu mungkin noona mudanya tidak akan seperti ini, apalagi dengan penyakit yang dideritanya. Sungguh sang maid tidak tega dengan kehidupan sang noona muda. Masa remaja yang diidamkan oleh kebanyakan para gadis diluar sana sungguh berbeda dengan apa yang dialami oleh sang noona muda.

Dulu... sang noona adalah anak yang aktif, kehidupannya penuh dengan kasih sayang dari kedua orang tuanya, hingga suatu hari noona muda itu mengalami kejadian diluar dugaan kedua orang tuanya. Sang noona muda menderita penyakit yang sedikit berbeda dari kebanyakan remaja diusianya. Kedua orang tuanya saling menyalahkan, hingga akhirnya bercerai dan memutuskan noona mudanya untuk tinggal bersama neneknya diluar negeri.

Tapi itu dulu, 3 tahun yang lalu, kini semuanya berbeda. Dokter mevonis noona mudanya sudah sembuh dan dapat beraktifitas layaknya remaja kebanyakan, tapi sayangnya sikap noona mudanya berubah. Tidak ada lagi noona muda yang ceria dan juga ramah serta rentetan cerita yang selalu keluar dari bibirnya, kini hanya ada tatapan sinis dan ucapan kasar yang diucapkan noona muda itu.

Sang maid terdiam, kedua tangannya mengepal didepan dada seolah berdoa kepada Tuhan. "Tuhan~ jika boleh kembalikan kehidupan noona mudaku seperti dulu." Pintanya dalam diam, sungguh permintaan yang mulia bukan? Dia bukan orang tua sang noona tapi kasih sayang dan perjuangannya selama 4 tahun mendampingi sang noona muda lebih dari kasih sayang yang diberikan kedua orang tua noona mudanya. 20 tahun bekerja dimasion keluarga ini seolah membuatnya untuk selalu tegar dalam menjalani hidup, dan setiap doa yang dilanturkannya isinya selalu sama. Yaitu membuat sang noona muda kembali seperti dulu...

999

Kyungsoo memasuki massion mewah itu dengan perlahan, diwajahnya terukir senyuman. Yah.. mampir sebentar di panti asuhan itu membuat moodnya sedikit senang hari ini, dan tentunya sedikit melupakan persoalan yang terjadi disekolah tadi. Kaki mungilnya lebih dahulu memilih untuk pergi kedapur karena memang perlengkapan kotak makanan itu masih ada dipaper bag yang Kyungsoo bawa, jadi Kyungsoo harus membersihkannya dulu. Meskipun dirinya kini menjadi 'Noona Muda Park' tapi Kyungsoo tidak tega bila harus memerintah maid untuk membersihkannya.

Kyungsoo meletakkan paper bagnya diatas meja dapur, dari kejauhan dapat dilihatnya siluet punggung seseorang dari ruang tamu. Apa mungkin ada orang? Ahh~ tentu saja mungkin saja itu tuan muda 'mesum' Park itu, pikirnya dalam hati. Kyungsoo mengeluarkan secara perlahan kotak-kotak makanan itu dan menaruhnya diatas cucian piring lainnya, tubuhnya membelakangi pintu masuk dapur. Hingga tak sadar jika seseorang telah masuk kedalam dapur itu,

"Apa yang sedang kau lakukan?" suara itu begitu dingin, tapi entah kenapa Kyungsoo yakin ini bukan suara tuan Muda mesum itu. Dengan perlahan Kyungsoo menatap kesamping kearah suara itu, mata bulatnya nampak terkejut. Ingin rasanya gadis itu berteriak, siapa pemuda ini? Apa yang dilakukannya didapur massion park ini? Datang dari mana pemuda ini? Hey.. dia bukan pencuri bukan? Pikir Kyungsoo dalam hati.

Pemuda itu nampak terkikik pelan menyadari raut panik dari wajah Kyungsoo, dipikiran gadis itu mungkin dipenuhi hal-hal negatif tentangnya. "Aku Kim Jongin, sahabat Chanyeol. Kau Kyungsoo bukan? " Pemuda itu – Jongin menjulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Kyungsoo. Kyungsoo nampak ragu, tapi tetap membalas uluran tangan pemuda itu.

"Ya. Aku Kyungsoo." Balasnya sambil menjabat tangan Jongin, perasaan Jongin terasa menghangat saat Kyungsoo menjabat tangannya, perasaan ini sama. Perasaan saat beberapa tahun silam. Jongin yakin kalau Kyungsoo memang familiar dimatanya, gadis itu terasa dekat.

"Apa yang sedang kau lakukan Kyung?" tanyanya halus, Kyungsoo tergagap. Entah mengapa Kyungsoo merasa nyaman saat bersama Jongin, sosok Jongin nampak lebih dewasa dibanding tuan Muda mesum itu, eh ngomong-ngomong dimana tuan muda mesum itu? Pikirnya, tapi sedetik kemudian Kyungsoo meruntuki dirinya yang seperti sedang memikirkan tuan Muda mesum itu. Ayoolah Kyungsoo akui saja kalau kau memang memikirkannya bukan? Hihihi.

"A—aku sedang membersihkan ini -.." Mulut Kyungsoo ternganga, bingung harus memanggil pemuda dihadapannya ini dengan apa.

"Panggil saja Jongin-oppa." Jongin menjawab seperti mengetahui apa yang dipikirkan gadis itu. "Aku tidak keberatan jika kau memanggilku dengan 'Oppa' Kyung." Lanjutnya. Kyungsoo mengangguk,

"Baiklah op—ppa. Aku sedang membersihkan ini" Kyungsoo menunjuk tumpukan kotak makanan bekas yang dibawanya dari panti tadi. Dahi Jongin membentuk perempatan.

"Kenapa kau membersihkannya sendirian? Kau bisa memanggil maid." Badan Jongin berbalik seperti ingin meninggalkan dapur, dengan cepat Kyungsoo mencegat lengan kanan kiri Jongin.

Kyungsoo sadar dengan perbuatannya saat Jongin melirik kearah lengannya yang dicegat Kyungsoo. Dengan cepat Kyungsoo melepaskan tangan mungilnya "Maafkan aku oppa. Tapi.. oppa tidak perlu memanggil mereka, ini keinginanku untuk membersihkan ini semua."

Jongin tersenyum "Baiklah, lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku akan menunggumu disini sambil menikmati minuman."

Kyungsoo mengangguk lalu kembali melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Jongin berjalan kearah kulkas yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat pencucian piring itu. Jongin tersenyum menatap punggung Kyungsoo, gadis ini memang sederhana. Amat sangat sederhana, pemikiran Chanyeol tentang Kyungsoo yang menggilai harta eommanya mungkin salah, atau benar-benar salah mengingat betapa sederhananya Kyungsoo. Saat ini Kyungsoo hanya menggunakan rok denim selutut dengan kemeja cream yang sederhana, surai coklat sepunggungnya diikat kesamping. Aah~ Jongin memang merasa Kyungsoo amat cantik. Tapi dengan cepat pemikirannya berubah saat mengingat taruhan Chanyeol dengan Sehun. Sehun? Pemuda itu nampak familiar, keluarga Byun dan Oh? Kenapa Jongin seperti mengenal mereka? Byun Baekhyun? Kenapa dengan gadis itu? apa yang dirinya mau? Kenapa gadis Byun itu harus melaporkan ke Sehun jika Kyungsoo menjadi 'adik' Chanyeol? Kenapa?

Pertanyaan demi pertanyaan seolah terus mengelilingi kepala Jongin, ada perasaan tidak rela jika Chanyeol mempertaruhkan Kyungsoo dengan Sehun nantinya. Bagaimana perasaan gadis itu?

Tap.. Jongin menoleh melihat kearah pintu masuk dapur dan mendapati Chanyeol berdiri disana dengan tampang dinginnya. Tanpa berbicara sedikit pun, Chanyeol melangkah maju mendekati Kyungsoo yang sedang membelakangi mereka.

"Sedang apa kau Park?" Suara Jongin terdengar ditelinga Chanyeol, membuatnya harus menghentikan langkahnya untuk mendekati Kyungsoo. Kyungsoo yang sadar dengan kehadiran tuan Muda mesumnya itu berbalik dan menatap kedua pemuda itu.

"Seharusnya aku yang bertanya Kim. Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya pada Jongin. "Didapur rumahku? Bersama dengan 'adikku' pula?" lanjutnya, sebenarnya Chanyeol tidak rela menyebut Kyungsoo sebagai adiknya, karena memang mereka berbeda. Dilihat dari raut wajahpun mereka jelas berbeda.

Jongin menarik sudut bibirnya pelan, tampaknya pemuda itu tahu jika Chanyeol marah padanya karena menganggu kegiatannya untuk mengerjai Kyungsoo. "Apa kau tidak melihatnya? Aku sedang minum." Jongin mengangkat tinggi kaleng jus yang ada digenggaman tangannya, dan hal itu membuat Chanyeol lebih merasa kesal.

Melihat dirinya sudah kalah, Chanyeol mengalihkan padangannya dan menatap Kyungsoo yang nampak seperti ketakutan, dan Kyungsoo memang merasa tuan muda mesum ini sedikit berbeda. Jika tadi pagi nampak jinak dengan balutan seragam sekolah mereka, kini aura angkuh pemuda itu muncul lagi. Hal ini membuat Kyungsoo nampak seperti anak tikus yang siap dimangsa oleh siapapun.

"Apa yang kau lakukan didapur?" Tanpa ada sebutan nama, Kyungsoo tau itu pertanyaan untuk dirinya.

"A—aku sedang membersihkan ini." Balasnya sedikit menatap kearah belakang Kyungsoo dan memang tampak Kyungsoo telah selesai membersihkan perlengkapan makan. Chanyeol tampak acuh, tapi kemudian sadar. Jika Jongin dan Kyungsoo berada dalam satu ruangan, besar kemungkinan mereka sudah berkenalan satu sama lain bukan? Muncul rasa penasaran dan protectiv Chanyeol, Kyungsoo tidak boleh dekat dengan Jongin. Tidak boleh!

Dengan perlahan Chanyeol kembali menatap keduanya secara bergantian. "Apa kalian sudah berkenalan?" tanyanya.

Jongin mengangguk dengan tegas. "Ya, kami sudah berkenalan. Iyakan Kyung?" Suara Jongin terdengar lembut saat memanggil nama Kyungsoo dengan sebutan 'Kyung'. Eh Chanyeol baru sadar jika Jongin memanggil Kyungsoo dengan nama Kyung, sedangkan dirinya yang menjadi 'oppa'nya tidak pernah memanggil Kyungsoo dengan sebutan nama.

"Nde~ oppa." Balas Kyungsoo.

Mwoo? Pekik Chanyeol dalam hati. Kyungsoo memanggil Jongin dengan sebutan oppa? Ini gila, bahkan Kyungsoo tidak pernah memanggilnya dengan 'oppa'. Hey~.. ingatlah Park! Kau sendiri bukan yang membuat Kyungsoo untuk tidak memanggilmu dengan 'oppa'? Apa kau sedang cemburu Park?

"Dia Jongin, Soo-ya~.." ucap Chanyeol, Kyungsoo terjengit. Apa? Dirinya tidak salah dengar bukan? Chanyeol memanggilnya dengan nama? Ini bukan mimpi bukan? "Dia sahabatku, mungkin kau akan lebih sering bertemu dengannya." Ucap Chanyeol. Kyungsoo mengangguk, dirinya memang sudah berkenalan dengan Jongin, jadi untuk apa dirinya mendengar 'ceramah' dari tuan Muda mesum itu?

"Aku dengar kau keluar hari ini tanpa didampingin Shin Ajjushi. Apa itu benar?" tanya Chanyeol, Kyungsoo terdiam. Bagaimana ini, dirinya memang menolak tawaran Shin ajjushi saat mengantarnya kepanti tadi. "Kenapa kau tidak menjawabnya?"

"Nde..." lirih Kyungsoo pelan, Chanyeol berjalan maju. Mendekat kearah Kyungsoo, dan saat tepat berdiri dihadapan gadis itu. Chanyeol manarik tengkuk Kyungsoo untuk menatapnya, keduanya saling menatap, melupakan kehadiran Jongin yang nampak sedikit 'cemburu' saat melihat Chanyeol menatap Kyungsoo.

"Ehmm..." suara Jongin membuyarkan lamunan keduanya, Kyungsoo tersadar dan sedikit menjauh dari Chanyeol.

Chanyeol salah tingkah, dan jujur ini adalah pertama kalinya Jongin melihat Chanyeol seperti ini. "Aku harap jika kau berpergian nantinya, kau harus bersama dengan Shin Ajjushi," perintah Chanyeol, dan tepat saat Kyungsoo ingin mengutarakan protesnya Chanyeol dengan cepat mencegahnya "Tidak ada penolakan. Kau sekarang anggota keluarga Park, bisa saja orang-orang yang tidak menyukai appa memperdayamu." Lanjutnya. Kyungsoo hanya dapat mengangguk, degupan didadanya semakin menjadi saat berhadapan dengan tuan muda mesum ini.

Melihat suasana yang semakin canggung, Kyungsoo memilih pergi secara perlahan, apalagi saat melihat Chanyeol dan Jongin yang nampak sedang asik bercanda. Lagipula pekerjaannya untuk membersihkan kotak makanan sudah selesai.

Satu langkah tepat sebelum keluar, suara tuan muda mesum itu menyapa pendengaran Kyungsoo "Aku harap kau ingat apa yang aku katakan tadi." Ucapnya dinglin, kadang Kyungsoo meruntuki sikap tuan mudanya itu, entah apakah tuan muda park itu mengidap mood maker. Kyungsoo memajukan bibirnya sambil mengangguk, dalam hatinya mungkin gadis itu sedang menyumpahi tuan muda Park itu, sikapnya yang terkadang sesuka hatinya, memangnya dia siapa? Runtuk Kyungsoo.

Tanpa menjawab pertanyaan Chanyeol Kyungsoo bergegas pergi meninggalkan dapur, pandangan Jongin dan Chanyeol mengarah tepat pada punggung Kyungsoo yang pergi menjauh.

"Aku rasa aku tertarik dengannya Park" Jongin berkata jujur pada Chanyeol, dan dapat dipastikan pandangan Chanyeol berubah tidak suka saat Jongin berkata seperti itu padanya. Jongin hanya terkikik menyadari perubahan raut wajah Chanyeol.

"Bukan perasaan suka seperti apa yang kau rasakan." Dan tepat saat Jongin berkata seperti itu Chanyeol memberikan deathglare mematikannya. "Mungkin kau belum menyukainya, suatu saat nanti aku yakin kau akan menyukainya tuan Muda. Sikapmu menunjukkan jika kau menyukainya." Lanjut Jongin.

Chanyeol termenung, benarkah dirinya menyukai Kyungsoo?

Jongin yang melihat Chanyeol termenung hanya dapat menarik sudut bibirnya, biasanya Chanyeol tidak seperti ini. Jika memang Chanyeol tidak menyukai dengan keras tuan muda itu akan menolak apa yang Jongin katakan, tapi ini Chanyeol hanya dapat terdiam dan termenung. Apa memang benar Chanyeol menyukai Kyungsoo? Tapi kenapa kembali lagi, hati Jongin tidak suka? Kyungsoo berbeda, gadis itu memang menarik. Ada apa sebenarnya dengan dirinya?

000

"Kau sudah mendapatkannya?" suara itu terdengar dingin, matanya menatap tajam dua orang pemuda berbadan besar dihadapannya.

"Sudah Nyonya, kami lihat tadi gadis itu keluar dari salah satu panti asuhan." Jawab salah satu dari mereka.

"Apa dia sendirian?"

"Ya, kami melihat gadis itu hanya menggunakan kendaraan umum saat pulang tadi."

Sosok itu menyeringai dalam gelap, tentu ini kesempatan yang bagus bukan? Jika yeoja itu sering berpergian sedirian maka ini akan mempermudah rencananya untuk mendapatkannya, dan membuat cerita ini lebih cepat berakhir.

Kim Kyungsoo memang bukan nama yang asing dipendengarannya, anak tunggal dari Tuan Kim dan Nyonya Do. Kehidupan keluarga kecil Tuan Kim memang sederhana, mereka tinggal jauh dari bangunan besar perkotaan. Tuan Kim hanya berkerja sebagai buruh lepas disalah satu perusahaan, pendapatan yang tidak tentu membuat Kyungsoo tumbuh menjadi gadis yang kuat. Perjuangan Kyungsoo memperoleh beasiswa tidaklah mudah, ayahnya merupakan sosok yang amat Kyungsoo sayangi, hingga saat itu tiba. Kecelakaan menimpa keluarga Kim, dan membuat tuan Kim kehilangan salah satu fungsi saraf ditangannya dan membuat ibunya meninggalkan Kyungsoo dan ayahnya. Kyungsoo mengalami amnesia kecil saat itu, otaknya tidak dapat mengingat kejadian-kejadian beberapa tahun yang lalu, Kyungsoo hampir mengambil jalan pintas, tapi diumurnya yang masih 11 tahun Kyungsoo tetap kuat. Dirinya berjuang sendirian mencukupi kehidupan sekolahnya, hingga tawaran beasiswa dari Yayasan SM Junior,Senior High School didapatkanya, kehidupan keluarga Kim sedikit demi sedikit berubah. Ayahnya kembali dapat bekerja, dan Kyungsoo dapat sedikit demi sedikit mengingat semuanya. Tapi ada satu hal yang Kyungsoo lupakan. Hal penting dalam hidupnya...

"Kau memang tidak mengenalku Kim Kyungsoo, tapi aku mengenalmu lebih dulu daripada siapapun didunia ini. Akan ku buat kehidupanmu lebih sakit dari sebelumnya." Lirihnya pada angin, sosok itu kemudian tertawa kecil, membayangkan Kyungsoo'nya' yang selama ini hidup tenang akan menangis, kembali pada saat itu. saat semuanya merubah keadaan menjadi seperti ini. Mungkin Kyungsoo tidak pernah tau jika dulu, dirinya bukanlah anak tunggal tuan Kim.. ada satu lagi saudaranya yang mungkin sekarang telah bertemu dengannya. Dan sosok itu yakin jika Kyungsoo sudah bertemu dengan 'saudara'nya itu.

000

Jiyeon memadang Tuan Han dengan tatapan tajam. "Ayah tidak bisa melakukannya? Itu mustahil!" Ucapnya, dari tadi Noona muda Han itu mencoba membujuk ayahnya untuk melakukan kerjasama bisnis dengan keluarga Park. Dan sejak itu pula ayahnya menolak keinginan putrinya itu. ayahnya berpendapat mereka berbeda bidang jadi tidak mungkin menjalin kerjasama dengan bisnis keluarga Park.

"Jiyeon, bisnis itu berbeda dari yang kau bayangkan." Balas ayahnya, Jiyeon menampakkan wajah kesalnya.

"Ayah payah! Tidak mungkin, bukankah ayah bilang jika ayah dan Tuan Park saling mengenal?" tanya Jiyeon. Ayahnya terdiam, ya memang Tuan Han dan Tuan Park sempat menjalin hubungan bisnis beberapa tahun yang lalu, tapi itu melalui perantara kontraktor asing. Ah.. Tuan Han baru ingat, mereka memiliki beberapa sektor bisnis yang sama dibidang estafet. Dengan lembut dipandangnya putri tunggalnya itu.

"Baiklah Noona Muda Han, ayah akan melakukannya." Jawab ayanya, dan tentu saja Jiyeon senang mendengarnya. Tapi kemudian ayahnya menyerit bingung melihat perubahan raut putrinya itu. "Ada yang menganggu pemikiran ayah." Ucapnya, Jiyeon menatap ayahnya dengan pandangan bingung. "Ada apa gerangan kau ingin ayah berkerjasama dengan Park Corp.?" Tanya ayahnya.

Jiyeon hanya menampilkan smirk andalannnya. "Aku ingin ayah membuatku dekat dengan Tuan Muda Park. Aku menyukainya Ayah, dan juga aku menginginkannya." Jawab Jiyeon santai. Jangan bertanya bagaimana reaksi ayahnya. Tuan Han sudah memaklumi sikap putriya itu, karena sebelumnya putrinya ini juga pernah meminta permintaan yang sama. Dengan pemuda bermarga 'Oh'.. tapi itu dulu!

Semua orang pasti memiliki masa lalu..

Masa lalu yang indah atau bahkan buruk..

Jika kita bersikeras melupakan masa lalu itu, maka suatu saat kita akan 'menemui'nya lagi. Dengan tokoh yang sama tetapi cerita yang berbeda.

Jangan pernah mengingatnya, lupakanlah. Maju! Dan kau tidak akan pernah menemuinya lagi...

TBC~

Makin bingung yah sama ceritanya? Saya maklum kok.. hehehe^^.

Pairing sudah saya tentukan, dan saya akan tetap dengan pairing itu. saya konsisten jika menentukan sesuatu. Maaf jika chapter ini sangat buruk. Saya memang bukan seperti Author yang lain yangt tata bahasanya bagus, saya masih belajar^^. Disini memang masih ditutupi beberapa rahasia tokoh-tokoh didalamnya.

Oh iya lupa, ada yang tanya ini bakal naik rating atau tidak? Jawabannya 'Iya' karena memang disini nanti akan ada kegiatan kekerasan lainnya.. entah itu kegiatan NC (ketawa mesum) atau perkelahian.#nah sudah saya bocorin loh. Cuma kalau munculnya mungkin masih 2-3 chap lagi. Hehehe xD.

Big Thanks buat kalian yang sempat memberikan review, apalagi ada yang kritik, terima kasih yaa #peluk. Insya Allah saya usahakan lebih baik lagi deh. Hehehe.

Terimakasih untuk kalian yang telah sempat membaca atau bahkan memberikan review~ terima kasih ^^. Saya mencintai kalian

Maaf jika chapter ini mengecewakan...

Big Hug for you all~~~. Saranghaeee 3

Sekali lagi kalau kalian keberatan dengan fanfic ini saya akan berhenti sampai disini. Saya tidak mau sampai ada fanwar atau bahkan flame. Itu menyakitkan! Terima kasih buat Reviewers dan Kyle^^.

Oh iya saya ada upload FF One Shoot 'Memories'. RnR yya xD

Kim Refa, 23 Januari 2015