4. Across The Heart
.
Day 4 - Prompt : Sentimental love hearts
AU
.
.
Masa-masa indah itu tertinggal dalam rupa piano, kelas musik, panggung duet, lalu trofi penghargaan yang terlupakan. Eliza kembali mengingat seluruh kenangan musim semi itu di sini. Lebih dari enam tahun lalu, hari kelulusannya sebelum memijak perguruan tinggi, saat ia menolak rekomendasi sekolah musik yang diajukan oleh gurunya. Merasa bertanggung jawab atas kekecewaan pahit yang dirasakan oleh sang guru, setelah ia membual dengan alasan menyedihkan bahwa bakatnya tak direstui orang tua, Eliza memilih berlari, dan menjauh pergi, sehingga tak dapat ditemukan oleh gurunya lagi.
Barangkali takdir adalah suatu keajaiban, ketika sore ini, Eliza kembali dibawa ke hadapan pria berhati emas itu, dengan tekad dan keinginan yang masih sama.
"Anda tidak banyak berubah, Mr. Roderich."
Eliza mengamati lelaki itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Berbalut kemeja putih dilapisi vest biru. Mata violetnya masih memancarkan keteduhan di balik kacamata bulat yang berkilau. Bahkan, bertambahnya usia semakin menguatkan kharisma dan ketampanannya.
"Anak-anak muda selalu berubah dan berkembang lebih cepat." Roderich menjawab dengan senyuman yang tak pudar dimakan usia.
Eliza menelisik dirinya sendiri dalam balutan blazer dan kemeja kerja seperti ini. Ia yakin, tatapan Guru Roderich terhadapnya itu sarat akan rasa kecewa yang terpendam.
"Maafkan saya, Mister. Saya dulu sangat plin-plan dan naif. Membuang impian saya begitu saja, padahal beruntung saya punya pembimbing seperti Anda."
Eliza mengaku. Ia memutuskan untuk berani jujur.
Roderich terdiam dan sengaja mengambil jeda untuk menuang teh ke cangkir Eliza.
"Melihatmu di sini, itu berarti kau sudah memaafkan diri sendiri. Yang lebih penting adalah, bagaimana kesungguhanmu setelah ini? Saya yakin, setiap musisi pasti akan pulang menuju jalan musiknya kembali."
Eliza tertegun. Mr. Roderich tidak marah, bahkan setelah semua kesalahannya, padahal ia belum pernah membalas jasa-jasa gurunya dengan yang lebih baik.
"Sekarang, ijinkan saya memulai dari nol," Eliza berujar mantap. "Saya ingin bermain piano lagi, tampil di panggung kompetisi bersama Anda, Mr. Roderich."
Roderich tak butuh pikir panjang untuk menerima (mantan) muridnya itu dengan tangan terbuka. Selalu ada kesempatan kedua. Ia menukas, "Kalau begitu, tunjukkan kesungguhanmu, Eliza. Terus terang, sudah sejak lama saya menunggu kesempatan ini datang."
Roderich tersenyum lembut. Mengetahui dirinya begitu diharapkan, rasanya seperti dipeluk kembali.
"Terima kasih, Mister. Saya berjanji akan lakukan yang terbaik. Senang sekali rasanya diterima kembali."
Sekian lama pergantian musim yang mereka lewati secara terpisah, namun bukan berarti perasaan mereka juga berubah. Ini adalah kesempatan kedua, untuk kembali mendekap kekasih sejatinya, yaitu musik dan guru musiknya.
