"Orang itu-"

.

.

.

.

.

.

.

.

"-kau."

You or Him

Chapter 4

.

.

"Maaf...?"

Chanyeol terkekeh pelan,"Heh, benarkan?"

Junmyeon mendongak, menatap Chanyeol penasaran.

"Kau memang lebih menyukai Yifan dari pada aku. Tidak apa."

Chanyeol tersenyum kecil lalu mengusak surai Junmyeon.

Junmyeon tahu, dibalik senyum itu ada kepedihan, ada kekecewaan. Semua terlihat jelas dari pancaran mata bulat Chanyeol.

Chanyeol mendekatkan wajahnya ke wajah Junmyeon.

Cup!

Ia mengecup kening Junmyeon cukup lama. Junmyeon meremas celananya, gugup tengah melandanya.

Cklek

Mendengar suara pintu dibuka, Junmyeon langsung mendorong Chanyeol pelan. Disana, berdiri sosok tinggi dengan wajah datar andalannya.

"Ah, maaf. Aku mengganggu kalian. Lanjutkan saja."

Yifan berlalu menuju dapur. Junmyeon menatap punggung Yifan yang menghilang di balik tembok pembatas antara dapur dan ruang lainnya. Tanpa pikir panjang, Junmyeon langsung pergi ke dapur.

"Asalkan kau bahagia. Haha..tak apalah."

Tawa kepedihan mengalun dari bibir Chanyeol. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lalu menghempaskan dirinya ke atas karpet beludru lembut yang di tempatinya.

"Saranghae, Junmyeon-ah"

.

.

Junmyeon mengaduk - aduk mie buatannya tanpa selera. Sementara Yifan yang duduk di seberangnya sedang memakan mie buatan Junmyeon.

"Cepat dimakan. Untuk apa kau membuatnya kalau tidak dimakan."

"Aku tidak mau."

Yifan berdiri dan menarik kursinya kesamping Junmyeon. Lalu menarik mangkuk mie Junmyeon. Menyumpit mie itu ke arah mulut Junmyeon.

"Hng?"

"Cepat buka mulutmu!"

Junmyeon tersentak dan membuka mulutnya.

"Jelaskan, kenapa kau tidak mau makan?"

Junmyeon diam untuk beberapa saat. Setelah menelan mienya, ia membuka suara.

"Tidak apa."

Yifan menghela nafas. Ia meletakkan mangkuknya dimeja.

"Tidak usah kau pikirkan yang tadi, oke? Aku tidak menuntut jawabanmu." Ujar Yifan sambil mengusap surai milik Junmyeon lembut.

"Hm." Junmyeon hanya bergumam lirih.

"Kalau begitu, cepat habiskan makananmu. Aku mau ke kamar mandi."

Junmyeon diam, tak berniat merespon ucapan Yifan. Ia menelungkupkan kepalanya di atas meja. Pikirannya melayang ke kejadian yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu.

Flashback

"Kalau aku boleh tahu, apa yang kau lakukan dengan Chanyeol tadi?"

Junmyeon yang tadinya hendak menyuapkan ramyunnya, langsung menjauhkan sumpit dari mulutnya.

"Hng, tidak apa - apa."

Junmyeon meletakkan sumpitnya. Selera makannya menguap begitu saja.

"Hm, begitukah?" Tanya Yifan.

Tanpa menanggapi ucapan Yifan, Junmyeon mengambil gelas berisi susu dihadapannya.

Sret

Yifan menahan tangan Junmyeon. Kemudian mendekatkan wajahnya dengan Junmyeon.

"Tidakkah selama ini kau sadari? Aku, akulah orang yang paling mencintaimu!"

Tangan Yifan yang lainnya mengusap pipi Junmyeon yang memerah. Namun, Junmyeon menampik tangan Yifan dari pipinya.

Junmyeon berusaha mendorong Yifan, namun entah kenapa, tenaganya seakan menghilang begitu saja.

"Tolong...jauhkan wajahmu.."

Yifan pun melepaskan genggamannya pada tangan Junmyeon dan menjauhkan wajahnya. Lalu kembali duduk ditempatnya, melanjutkan kegiatan memakan ramyunnya yang sempat tertunda.

.

.

"Junmyeon, apa kau sudah menyelesaikan makan-"

Ucapan Yifan terhenti, ketika melihat Junmyeon terlelap di meja makan. Dan mangkuk ramyun-nya masih penuh.

Yifan menghela nafas. Ia mendekat ke arah Junmyeon. Ia membersihkan gelas dan mangkuk Junmyeon dari atas meja. Kemudian menggendong Junmyeon dari situ, memindahkannya ke kamar.

Dilihatnya, Chanyeol sudah tidur dikasurnya. Setelah memposisikan Junmyeon di atas kasur, ia menutupi tubuhnya -Junmyeon-dengan selimut.

Tangannya bergerak mengusap rambut cokelat Junmyeon.

"Selamat tidur, Myun."

.

.

Esok paginya...

"Hey, kalian berdua cepat bangun!"

Jam baru menunjukkan pukul 06.00 pagi. Dan Junmyeon sudah berpakaian seragam rapi.

Yang pertama kali bangun karena teriakan Junmyeon adalah Yifan. Tumben yah.

"Loh? Kok udah rapi?" Tanya Yifan dengan suara parau dan mata yang masih menyipit.

"Tidak apa - apa kok. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kalian berdua. Aku mau pergi duluan!"

Yifan melirik kearah jam,"Demi Tuhan, ini baru pukul 6! Kau mau jadi penjaga kelas hah?"

Junmyeon mengerucutkan bibirnya, "Bukan begitu! Eng, hanya saja.."

"Hanya saja apa?"

"Emh..hanya saja..."

Ia urung melanjutkan kata - katanya. Ia hanya diam dan menundukkan kepalanya, menghindari tatapan mengintimidasi dari Yifan.

"Apa kau, mau menghindariku? Karena perkataanku tadi malam?"

Junmyeon tersentak pelan.

"Jawab, Kim Junmyeon."

Junmyeon menghirup udara disekitarnya dengan kasar,"Sudahlah. Cepat bangun."

Junmyeon kemudian berlalu pergi dari situ. Dan Junmyeon benar - benar serius untuk pergi di pagi buta ini.

.

.

"Harusnya aku menyeret Baekhyun kemari tadi."

Ucapan penuh penyesalan itu mengalun bebas dari mulut Junmyeon. Sekarang sudah jam 06.15 a.m. Dan Junmyeon sendirian didalam kelas. Kalau boleh jujur, ia merasa takut sendirian disini.

"Ah, jinjja.."

Junmyeon menggerutu kesal. Ia menelungkupkan kepalanya ke atas meja.

.

Beberapa menit kemudian...

.

15 menit berlalu. Namun, Baekhyun belum juga menampakkan dirinya. Kelas sudah cukup ramai.

Dan Junmyeon masih menelungkupkan kepalanya. Mungkin ia tertidur-_-

Brak!

"Heey!"

Junmyeon tersentak dan lantas bangun setelah gebrakan itu terdengar. Didepannya, berdirilah seorang Byun Baekhyun dengan senyum innocent.

"Ish, kau!" Seru Junmyeon sambil menunjuk kearah Baekhyun.

"Santai saja, kawanku."

"Santai, santai kepalamu.."gerutu Junmyeon pelan. Baekhyun terkikik geli.

"Kenapa kau datang pagi sekali? Tidak biasanya."

"Bukan urusanmu."

Baekhyun mengerutkan dahinya,"Kau kenapa sih? Hari ini kok jutek sekali? Ah, aku tahu. Kau lagi PMS ya?"

"Aku namja tulen. Namja. Tulen!"

"Iya deh. Terserah."

Baekhyun kemudian duduk disamping Junmyeon.

"Kau ada masalah?"

Junmyeon menggeleng pelan.

Baekhyun terkekeh pelan,"Liar."

Junmyeon memandang Baekhyun, memberikannya tatapan bahwa ia tidak mengerti.

"Aku yakin kau sedang dalam suatu masalah. Atau apalah itu. Sesuatu hal, yang mengganggu pikiranmu."

Junmyeon hanya menunduk.

"Am I right?"

"Yes, you're right."

Baekhyun tersenyum simpul,"Jadi, apa yang terjadi?"

"Huwaah..aku tidak bisa menjelaskannya Baek..ini rumit bagiku..." rengek Junmyeon.

"Memangnya apa sih? Aku jadi penasaran,"

"Ung..ano..kau ingat pembicaraan kita kemarin?" Tanya Junmyeon, mencoba memberi clue

"Yang mana?" Tanya Baekhyun sambil memiringkan kepalanya. Lucu memang. Tapi sukses membuat Junmyeon mendesis kesal.

"Sudahlah. Lupakan saja."

.

'Aku takut kau marah padaku bila aku mengatakan hal ini. Aku tak mau pertemanan kita hancur hanya karena ini. Maaf, aku tak bisa mengatakannya'

.

Seharian ini, Junmyeon terlihat uring - uringan. Baekhyun khawatir kalau-kalau Junmyeon sakit.

"Ayolah Junmyeon. Temani aku ke kantin! Nanti kutraktir deh.." Rengek Baekhyun sambil menarik-narik tangan Junmyeon.

"Shireo."

"Yasudah. Aku pergi sendiri. Mau nitip?"

Junmyeon menggeleng.

"Ppai~"

Baekhyun pun melenggang dari hadapan Junmyeon. Ketika itu pula Ia menghela nafas.

"Beri tau...atau tidak?" Lirihnya sambil memainkan pena ditangannya.

'Tapi aku tidak enak hati untuk bercerita pada Baekhyun soal ini, aku tahu dia menyukai Chanyeol.'

Lagi dan lagi, helaan nafas terdengar dari Junmyeon.

"Junmyeon, ada yang mencarimu!"

Ia menegakkan badannya dan meletakkan penanya.

"Nuga?"

"Lihat sendiri sana."

Junmyeon mendengus sebal. Ia sedang malas untuk keluar kelas, bahkan untuk berjalan kepintunya saja. Dengan langkah yang diseret, ia berjalan kedepan pintu kelas.

Matanya langsung membola saat sosok yang paling tidak ingin dilihatnya hari ini berdiri dengan tangan bersedekap dan menatapnya tajam.

.

.

Dia Yifan. Wu. Yi. Fan.

"Kau mencariku? M-mungkin kau salah orang."

Sebelum Junmyeon sempat kembali ke dalam kelasnya, Yifan meraih pergelangan tangan Junmyeon.

"Ikuti aku."

Tanpa peduli protesan dari Junmyeon, Yifan menarik Junmyeon pergi dari situ.

"Y-ya! Kau mau membawaku kemana?"

Ia malu diperlakukan seperti ini. Bukan apa - apa, ini di koridor, dan ini adalah waktu istirahat. Otomatis koridor ini ramai. Dan beberapa pasang mata tengah mengamati mereka.

"Yifan lepas! Ini memalukan!"

Junmyeon mencoba melepas tautan tangan Yifan di pergelangan tangannya.

"Aduh, sakit.."lirihnya pelan.

"Sakit ya?"

"Hm."

Keheningan datang diantara mereka. Tak ada satupun dari mereka yang berniat membuka pembicaraan.

"Ehm.."

Yifan berdehem pelan,"Kalau kau keberatan dengan pernyataan tadi malam, lebih baik lupakan saja. Anggaplah aku tak pernah mengatakan itu."

"A-apa? Kenapa?"

"Aku tak mau memaksamu untuk memikirkan jawabannya. Daripada membuatmu merasa - yeah - mungkin terbebani, lebih baik aku cabut kata - kataku kemarin."

Melihat Junmyeon yang diam saja, Yifan pun menghela nafasnya pelan.

"Aku hanya ingin mengatakan itu. Ja, aku pergi."

Grep

Junmyeon meraih pergelangan tangan Yifan.

"Gajima."

Junmyeon mengeratkan pegangannya pada pergelangan tangan Yifan.

"Biarkan aku, memikirkan jawaban untukmu." Sambungnya kemudian.

"Baiklah. Aku, akan menunggumu."

"Gomawo. Mian."

"Hm."

Yifan bergumam lirih. Lalu pergi dari situ.

"Aku..harus apa?"

.

.

Junmyeon memikirkan sesuatu. Ia tak mau memusingkan yang tadi, dan kemarin malam. Jadi, ia mengesampingkan itu. Dan memilih mengerjakan tugasnya yang mulai menumpuk.

"Kau menghindariku?"

Ia menepis jauh - jauh kala bayangan kejadian itu menghampiri pemikirannya.

"Aaargh!"

Ia berteriak frustasi lalu meremas rambutnya kesal. Beruntung ia sedang sendiri.

"Huft.. ini percuma."

"Mau curhat. Tapi sama siapa coba?"gumamnya lagi sambil mencoret-coret lembar kerjanya yang tak terpakai.

Ia berjalan keluar kamar asrama. Berjalan - jalan mungkin bukan ide buruk.

.

.

Dan disinilah dia sekarang. Di atap sekolah bersama Yixing. Setelah keluar, tak beberapa lama kemudian ia bertemu dengan Yixing, roommate Baekhyun.

"Em, tidak apa - apa kan aku bercerita padamu?" Tanya Junmyeon.

"Cerita saja. Aku tidak akan menyeritakannya dengan siapapun. Dan mungkin saja, aku akan lupa dengan ceritamu dalam sekejap."

"Itu lebih baik." Gumamnya.

"Ayo ceritaa~"

Rupanya Yixing sudah tak sabar. Junmyeon memandangnya datar.

"Jadi begini. Ada dua orang yang mengatakan perasaannya padaku. Dan mereka berdua adalah teman dekatku. Tapi, aku tidak tahu, hendak memilih siapa. Jadi, bagaimana menurutmu?"

"Kalau aku boleh tahu, siapa mereka?"

Air wajah Junmyeon menjadi gelisah. Yixing yang melihatnya tersenyum geli.

"Tenang saja. Aku akan tutup mulut."

"Benarkah? Apa aku bisa percaya padamu?"

Yixing mengangguk sambil tersenyum, memperlihatkan lubang kecil nan dalam di pipi kanannya.

"Baiklah. Mereka, Yifan dan Chanyeol."

Yixing mengerutkan dahi,"Yifan dan Chanyeol?"

Junmyeon mengangguk ragu, "Ya, kenapa memangnya?"

"Yifan itu yang mana sih?"

Gubrak

Pertanyaan polos yang mungkin lebih menjurus ke ehm maaf - bodoh- itu, sukses membuat Junmyeon menghempaskan badannya kebelakang.

Ia tahu kalau Yixing itu pelupa. Tapi ia baru tahu kalau penyakit pelupanya separah ini.

Hell to the lo! Yifan itu terkenal. Dan dia tidak tahu?

"Ehehe, maaf. Aku benar - benar tidak tahu." Jawabnya sambil nyengir.

"Kau tidak tahu atau lupa?"

"Kedua - duanya."

"Lupakan. Kau tidak perlu tahu siapa itu Yifan."

"Tapi kalau Chanyeol aku tahu."

"Yang mana?"

"Roommate-mu kan? Yang tinggi dan dingin itu?"

"Ya Tuhaaan! Itulah yang namanya Yifaan!"

.

.

Curhat dengan Yixing hanya membuatnya makan hati dan menguji kesabarannya. Maka dari itu, ia mengajak Yixing pergi dari atap sekolah dan pulang ke kamar masing - masing.

Ingin rasanya ia menghempaskan kepalanya ke dinding. Dan menikam jantungnya sendiri dengan pisau. Atau pun lompat dari atap sekolah. Tapi ia masih sayang nyawanya. Ia masih ingin menjalani hidup yang masih panjang ini.

"Kalau aku tidak memikirkannya sekarang, aku terkesan memberinya harapan palsu."

.

'Ikuti kata hatimu. Itu yang pasti sesuai dengan apa yang kau mau.'

.

Bisikan hatinya membuatnya semakin pusing. Ia mencoba memikirkan dengan matang. Ia tak mau menyesal, dan menyakiti siapapun nantinya.

Tapi, ia sudah menyakiti Chanyeol. Ugh, ia merasa bersalah sekali.

Ia mengarahkan pandangannya ke kasur mereka berdua. Biasanya, saat tak ada kegiatan apa - apa, salah satu dari mereka akan tidur. Atau melakukan apapun. Tapi sekarang Junmyeon sendirian. Suasana ini terasa hampa.

"Bosan."

Junmyeon bosan dengan keheningan ini.

"Oi."

Junmyeon terhenyak. Itu pasti suara milik Chanyeol.

"Sejak kapan kau ada disini?"

Chanyeol tersenyum, "Baru saja."

"Kau sendirian?" Sambung Chanyeol kemudian.

"Hm." Junmyeon hanya menjawab dengan gumaman lirih.

Hening yang terasa canggung dan berbeda bagi mereka berdua melanda.

Junmyeon pun berdehem,"Ehm, Chanyeol-ah."

"Ya?"

"A-aku, aku minta maaf."

Junmyeon menundukkan kepalanya. Ia merasakan Chanyeol beringsut mendekat kearahnya.

"Maaf? Kenapa?" Tanya Chanyeol, seolah - olah tak terjadi apapun.

"Yang tadi malam-"

Chanyeol tersenyum lagi,"Lupakan. Jangan dipikirkan lagi, oke? Aku memaafkanmu kok."

"Kau bohong! Aku tau kau mengatakan hal yang sebaliknya dari apa yang kau katakan tadi."

Chanyeol menghela nafasnya, "Yah~ mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa memaksa perasaan seseorang. Tidak apalah. Untukmu, apa sih yang tidak." Disaat seperti ini Chanyeol malah sempat berkata seperti itu.

"Chanyeol..aku merasa bersalah..m-maafkan akuu.."ujarnya dengan suara bergetar.

Entah kenapa, Junmyeon hanya ingin menangis. Melepaskan beban hatinya yang sedari tadi menggelayut manja.

Chanyeol melihat bahwa mata Junmyeon berkaca - kaca.

"Hey, kau menangis?"

"T-tidak. Tak seharusnya aku menangis. Karena, disini kau yang jadi korban."

"Sudahlah. Menangis saja. Tak apa."

Junmyeon menggeleng. Lalu menutupi wajahnya. Chanyeol menahan tawanya. Karena sungguh, wajah Junmyeon yang menahan tangisnya sangatlah lucu.

"Uhuhu..."

Junmyeon terisak lirih. Ia tidak mengerti kenapa ia menangis. Sementara itu, Chanyeol mengusap punggung sempit Junmyeon yang bergetar.

"Sudahlah. Kau jelek kalau menangis."

Junmyeon mengusap air matanya dengan wajah cemberut.

Gyuuut

"Kyaah!"

Chanyeol menarik kedua pipi Junmyeon. Dan Junmyeon pun berteriak kesakitan.

"Yak! Kau apa - apaan sih?"

Junmyeon mengusap pipinya yang memerah. Dan Chanyeol pun tertawa.

"Supaya kau tersenyum."

Junmyeon masih mengusap pipinya dengan cemberut.

"Sakitt..."

"Maaf ya."

Chanyeol mengusap pipi Junmyeon. Lalu ia berdiri.

"Aku mau mandi dulu ya."

Junmyeon mengangguk.

Ia merasa lebih lega sekarang. Dan sekarang, ia cukup mengklarifikasi pertanyaan Yifan.

"Aku lapar.." keluh Junmyeon.

Ia pun berdiri, berjalan menuju dapur.

Ternyata disitu sudah ada Yifan tengah memasak sesuatu. Mungkin dia hanya memasak air. Kkkk~

"Yifan."

"Ada apa?"

"Apa yang kau lakukan?"

"Memasak mie."

Junmyeon mendekat kearahnya.

"Bolehkah aku minta buatkan satu?"

Junmyeon memberinya tatapan memelas.

"Iya. Duduk sana."

"Yeyy.."

Junmyeon bersorak riang. Lalu duduk di kursi meja makan.

Beberapa menit kemudian, Yifan menghampirinya dengan duan mangkuk dikedua tangannya.

"Ja."

"Gomawo. Selamat makan!"

Junmyeon pun meniupi mienya dan menyuapkan kedalam mulutnya.

Yifan terkekeh, "Kau lapar ya?"

Junmyeon mengangguk dengan mulut penuh.

"Pelan-pelan saja makannya."

Setelah menghabiskan makanan mereka masing - masing, Junmyeon mencuci kedua mangkuk tersebut.

Junmyeon tersentak saat dua lengan kokoh itu memeluk perutnya dari belakang.

"Aku mendengar pembicaraan kalian berdua tadi."

Pergerakan Junmyeon pada mangkuknya terhenti.

"Ah, benarkah? Lalu, kenapa?"

"Kau menangis hm?"

Pipi Junmyeon bersemu,"Ah, i-itu..ehm,"

"Kenapa kau menangis?"

"Ng, aku hanya merasa bersalah."

Junmyeon yakin, kalau Yifan bisa mendengar debaran jantungnya sekarang.

"Kenapa?"

"K-karena..ugh..bisakah kau lepaskan tanganmu?"

Bukannya melepaskan, Yifan malah mengeratkan pelukannya. Membuat Junmyeon gugup setengah mati.

"Jadi, secara tidak langsung, kau menerimaku? Dengan kau menolak dia?"

"Ih, kau pede sekali."

Yifan mematikan kran air yang masih menyala. Lalu membalik tubuh Junmyeon.

"Wajahmu merah."

"Tidak kok!" Elak Junmyeon.

Wajah Yifan mendekat ke arah Junmyeon. Junmyeon pun refleks memejamkan matanya.

Cup

Ia merasakan bibir Yifan menempel di dahinya. Junmyeon membuka matanya. Ia menatap Yifan dengan dahi mengerut.

Yifan menyeringai pelan,"Kenapa? Kau mau dicium disini?" Tanya Yifan sambil mengusap bibir tipisnya.

Junmyeon gelagapan, "B-bukan begitu! Aish, menjauh dariku!"

Namun Yifan menahannya.

"Junmyeon-ah,"

Junmyeon tetap menunduk.

"Junmyeon-ah, lihat aku."

Dengan ragu, Junmyeon pun mengangkat kepalanya.

Deg!

Entah kenapa, Yifan terlihat dua kali lebih menawan daripada yang biasanya. Dan itu membuat jantungnya bekerja di ambang batas kewajaran.

"Aku ingin kau menjadi milikku. Bolehkah?" Tanya Yifan sambil mengangkat kedua tangan Junmyeon kedepan dada.

"A-aku..ehm..ya."

"Apa? Coba katakan dengan jelas." Yifan pura - pura tidak mendengar.

"Aku mau jadi milikmu!" Seru Junmyeon tegas dan cepat.

Yifan tersenyum dengan gantengnya. Membuat Junmyeon ingin mati saja.

'Ya Tuhan..jantungku benar-benar berdegup kencang. Terasa sangat asing bagiku.' Ucap Junmyeon dalam hati

Yifan menatapnya intens,"Junmyeon-ah"

"Ya?"

"Kau tahu, wajahmu sangat merah."

Wajahnya bertambah merah, bahkan sampai ke telinga. Junmyeon seperti akan meledak saja.

"Ish, berhenti menatapku seperti itu!"

.

.

.

.

The End

.

.

Author's Note:

Hai semua. Aku tahu ini update yang sangat lama, seperti chapter sebelumnya. Dan yang terpenting, ini fanfic udah kelar!*tebar confetti*

Dan Krisho bersatu! *tebarduitsuho*/?

Hehe. Maaf ini udah main ending aja. Tapi aku berencana bikin sequelnya. Sequelnya itu soal Chanbaek. Gimana? Setuju gak? Tulis pendapat kalian di kolom komentar.

Anggap lah, ini bentuk kerinduan ku terhadap krisho moment T^T

Sumpah, Yifan tambah ganteng sekarang. Dan punya anak/? Bukan anak dia sih. Kan main film. Pada tahu kan kalo dia main film Someone only who knows? Dan aku ngeyel, kalo mommynya adalah Suho :v

Wkwkwkw XD

Yaudin/? Lah. Maaf kalau chapter penutup ini tidak sesuai dengan keinginan kalian. Dan maaf juga aku gak bisa ngebalesin review kalian atu-atu. Tapi aku berterima kasih banyak pada kalian semua. Tanpa kalian, aku mah apa atuh/? -..-

Thanks to:

doubleAA10 | | HamsterXiumin | nonagrice(panjangin reviewmu bebz :3 aku suka) | jimae407203 | krisholala | JunmaWu | Xing1002 | assyifa | Guest | honeykkamjong | peblish | BabyWolf Jonginnie'Kim | wumy | Kin Ocean | whirlwind27

Maaf kalau ada kesalahan dalam penulisan user name kalian. Dan terima kasih jugakepada para siders*kalo ada*, yg mem-favoritkan dan mem-follow fic ini. Thank you so much*flying kiss*

Last Word

.

.

Gimme ur review?^^