-Chapter I-3 : Illusions-
The Last Chance
Saat mereka tersadar, mereka berada di ruang yang gelap gulita. Mereka tidak dapat merasakan maupun mengatakan apapun, kecuali perasaan takut dan was-was yang berlebihan.
Kemudian mereka melihat makhluk itu. Tubuhnya tidak terlihat, namun mereka dapat mengetahui makhluk itu sangat besar. Mata ungunya menatap mereka dengan lapar.
Di depat makhluk itu, mereka melihat seorang laki-laki. Mereka mengetahui siapa laki-laki itu. Mereka ingin mencerca orang itu, namun perasaan takut membuat mereka menahan caci maki mereka.
Mereka tahu orang itu dapat membunuh mereka kapan saja.
Dengan sebuah jentikan jari dari laki-laki itu, makhluk raksasa itu menerjang ke arah mereka—
Tatapan Aichi tidak terfokus pada pelajaran, melainkan kepada langit biru yang cerah di luar jendela.
Ada sesuatu yang mengganggunya, namun dia sendiri tidak dapat mengerti apa yang terasa mengganjal. Dia merasakan perasaan aneh ini sejak kemarin, setelah berbincang dengan Toshiki Kai. Setiap kali wajah tulus orang itu muncul di benaknya, hatinya seolah tergores oleh silet yang tajam...
Sekali lagi, desahan keluar dari mulutnya. Sudah berapa kali dia mendesah sejak pagi? Dia juga tidak tahu. Dia tidak menghitung lagi.
Laki-laki itu—Toshiki Kai, telah membuat hidupnya kacau balau. Sejak dia bertemu dengan orang itu, perasaannya makin tidak menentu, bahkan membuat dia terlupa akan kedua sahabatnya—
"Morikawa-kun dan Izaki-kun..." Aichi menggumam kemudian melirik kursi kedua temannya dibelakang dan mendesah bahagia. Mereka berdua ada di kursi masing-masing. Izaki masih berusaha untuk menahan kantuknya sementara Morikawa sudah tertidur pulas.
Sejak pagi, Aichi sudah khawatir karena mereka berdua belum datang. Namun perasaan paniknya menguap begitu saja saat mereka berdua datang di saat bel selesai istirahat berbunyi. Dan saat dia hendak menyapa dua orang itu, guru yang mengajar langsung memasuki kelas.
Aichi melirik jam dinding yang berada di dekat papan tulis. Waktu pelajaran akan berakhir sebentar lagi. Sambil menggaruk kepalanya yang dihiasi rambut biru pendek, Aichi berusaha keras untuk tetap bangun supaya bisa langsung bicara dengan mereka saat pulang sekolah.
Ketika bel berbunyi, Aichi buru-buru membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tasnya. Dia melirik ke belakang, tentu saja mereka meninggalkan dia dan tengah berjalan ke pintu keluar. Mereka memang enggan menunggu Aichi walaupun mereka teman dekat, jadi seperti ini normal bagi Aichi.
"Morikawa-kun! Izaki-kun!"
Kedua laki-laki itu menengok, memandang Aichi yang tengah berlari pelan ke arah mereka dengan tatapan bingung.
"Apa kalian akan pergi ke Card Capital hari ini?"
"Ya..." Izaki mengiyakan, masih menatap Aichi dengan tatapan aneh. "Ada perlu apa?"
"Bolehkah aku ikut? Aku ingin melihat dan belajar cara bermain Vanguard dengan kalian!" Aichi tahu kalau dia mengabaikan kata-kata Toshiki Kai, namun sekarang orang itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah, dia ingin bersama dengan kedua sahabatnya. Dia ingin menceritakan kejadian aneh kemarin, dan mungkin bisa melupakan tentang Toshiki Kai maupun perasaan anehnya—
Namun semua berubah saat Aichi mendengar bisikan Morikawa kepada Izaki,
"Siapa anak ini?"
"Entahlah. Kalau tidak salah, dia Sendou yang pendiam itu kan?"
"Tidak tahu. Ada urusan apa orang ini dengan kita?"
Aichi tidak mendengar percakapan mereka lebih jauh. Dan saat dia tersadar, dia tengah berlari. Laki-laki berambut biru pendek itu menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan air mata yang sudah menggantung di mata birunya.
Aichi tidak berlari menuju Card Capital. Bukan karena Toshiki Kai memperingatkannya maupun manajer yang aneh itu. Dia tidak ingin bertemu dengan kedua sahabat—bukan, mereka bukan sahabatnya lagi sekarang, bukan? Sekarang mereka hanya orang asing bagi Aichi Sendou.
Dia berlari ke taman itu dan duduk di pinggir danau, memandangi pantulan wajah sedihnya di permukaan air yang tenang.
Bagaimana dengan dia sekarang? Kehilangan orang yang dia sebut sahabat, dia merasa seolah kembali ke saat itu, dimana dia tidak memiliki apapun...
'Aichi! Kau terluka lagi! apa kau tidak apa-apa?'
Sayup-sayup Aichi mendengar suara yang tidak asing. Saat dia mendongak, dia melihat seorang wanita berambut biru yang diikat rapi. Mata biru wanita itu menyambutnya dengan tatapan hangat, kehangatan yang telah lama ia lupakan...
"Ibu...?"
Otomatis tangan Aichi berusaha menggapai wanita itu, namun seolah wanita itu menolaknya dan terus menjauh...
Aichi terus berteriak, memanggil, dan menggapai. Namun wanita itu tidak berhenti dan terus menjauh—
"AWAS!"
Saat Aichi tersadar, seseorang telah menahan tangannya. Pemandangan hijau dari taman disekitarnya kembali ke pandangan Aichi. Dia merasakan tangan menggenggam erat bahunya dari belakang. Aichi menengok ke belakang, kemudian mata birunya bertemu dengan mata hijau tajam yang tidak asing lagi.
"...Kai-kun?" Aichi menggumam pelan, kemudian tersenyum kecil. "Apa yang sedang kau lakukan disini?"
"Harusnya aku yang bertanya begitu!" Kai menggeram, membuat Aichi mendelik ketakutan. Seolah dapat merasakan ketakutan Aichi, Kai berdeham pelan dan melepas genggaman di bahu laki-laki kecil itu. "...Apa yang kau lakukan?"
Aichi membuka mulutnya untuk bicara, namun tiba-tiba Kai menggenggam tangannya dan menariknya.
Kebingungan, Aichi menatap Kai yang kini membelakanginya dengan tatapan panik. "K-Kita mau kemana?"
Kai tidak menjawab. Dia hanya terus menarik Aichi ke suatu tempat. Seperti biasa, Aichi tidak menarik diri dari Kai. Mungkin, dia menerima kehangatan dari genggaman tangan Kai...
Laki-laki berambut cokelat itu membawa Aichi ke sebuah restoran keluarga kecil di tengah pertokoan. Aichi tidak begitu mengenal tempat itu, namun dilihat dari sang pelayan yang langsung mengenal Kai ketika mereka masuk, sepertinya Kai sering makan di tempat ini.
Kai menariknya dengan lembut ke kursi di paling pojok yang kosong. Mereka langsung duduk dan Kai memerintahkan Aichi untuk memesan sesuatu. Awalnya Aichi menolak, namun karena paksaan Kai, akhirnya dia memesan sebuah jus. Pelayan yang menyambut mereka di pintu depan, yang sepertinya sudah kenal dengan Kai, langsung mencatat pesanan mereka dan pergi.
"...Baiklah." Kai mendesah pelan, membuat Aichi mendongak agak kaget. Tidak biasanya Kai memulai pembicaraan seperti ini. "Katakan padaku apa yang membuatmu kesulitan."
"A-Aku tidak ingin menyusahkan Kai-kun lebih dari ini." Laki-laki berambut biru itu langsung menggoyangkan tangannya.
"Aku tidak keberatan." Mata hijau Kai menatap langsung ke mata biru Aichi. Aichi merasa dirinya seolah tertarik oleh warna hijau itu...
Aichi baru sadar kalau dia sedang menatapi Kai ketika seorang pelayan meletakkan pesanan mereka berdua di meja mereka. Aichi buru-buru menengok ke arah lain dengan wajah merah.
Dia mendengar desahan Kai di hadapannya, namun dia tidak mengatakan apapun.
Aichi mulai merasa tidak enak dengan keheningan di antara mereka. Aichi mengerti kalau Kai... berusaha menolongnya, mungkin? Tapi Aichi tidak mengenal baik orang ini. Walaupun begitu...
"...Bisakah kau... menjaga rahasia, Kai-kun?"
"Tentu."
Jawaban singkat Kai membuat Aichi merasa lebih tenang. Aichi langsung menatap lurus wajah Kai. Dia dapat melihat wajah sedihnya dari mata Kai, namun ketika bercerita, dia dapat menjaga ketenangan suaranya.
Sejak kecil, aku selalu menjadi sasaran para bully. Aku tidak berpikir mereka jahat, mereka hanya... tidak tahu, mungkin bingung? Saat itu aku masih kecil, aku tidak mengerti mengapa mereka melakukan hal itu padaku. Walaupun begitu, aku... tetap berusaha bertahan. Aku, yang tidak mempunyai tujuan hidup, bertahan demi ibuku.
Ibuku, walaupun tidak begitu terlihat, selalu merasa sedih ketika aku pulang dengan luka baru setiap hari. Aku selalu berbohong padanya kalau aku hanya terjatuh saat bermain, dan ibuku selalu berkata dia percaya. Namun aku tahu, ibuku tahu kalau aku berbohong, walaupun dia tidak pernah menanyakannya.
Aku terus bertahan. Bertahan demi ibuku yang lebih menderita daripada aku.
Namun hari-hari itu pun tidak bertahan lama.
Sejak adikku, Emi, lahir, kondisi tubuh ibuku berubah menjadi buruk. Walaupun begitu, dia tetap memaksakan diri untuk mengurus kami yang masih kecil. Kemudian hari itu datang. Saat itu, aku masih kelas 6 SD, dan Emi baru memasuki TK... Ibuku meninggal.
Aku tidak ingat apa yang terjadi, namun ayahku, yang pulang dari pekerjaannya di luar kota ketika mendengar ibuku meninggal, mengatakan kalau aku tidak sadarkan diri selama seminggu. Saat itu aku sadar, aku telah kehilangan tujuan hidupku.
Aku terus menahan semua perlakuan buruk teman-temanku seorang diri. Aku tidak bisa menumpahkannya pada Emi yang masih kecil. Aku juga tidak bisa bercerita pada ayahku karena dia tidak pernah di rumah. Seorang diri, aku terus menghadapi dunia ini.
Saat aku memasuki SMP... Aku... tidak bisa menahannya lagi.
Yang terdengar di telingaku hanya ejekan teman-temanku. Sambil aku menaiki tangga menuju ke atap, suara mereka terus terngiang di kepalaku.
Bahkan hingga angin sejuk di atap menerpa wajahku, suara mereka terus terdengar.
Aku terus berjalan. Kemana? Ke tempat ibuku menungguku. Ke tempat suara mereka tidak sampai ke telingaku.
Saat itulah, aku bertemu mereka.
Mereka tengah tertidur di atap. Awalnya aku tidak ingin bicara dengan mereka dan hanya ingin mengakhiri hidupku. Namun... siratan kesepian di wajah mereka, membuatku teringat dengan diriku sendiri. Akhirnya aku... memberanikan diri untuk bicara dengan mereka. Sejak saat itu, aku terus bersama mereka, yang terkenal dengan sebutan 'Preman SMA Hitsue'. Walaupun mereka memiliki julukan seperti itu... mereka adalah orang yang baik. Mereka; Izaki-kun dan Morikawa-kun, telah menolongku. Mereka menghentikanku sebelum aku melompat dari atap sekolah.
"...Lucu sekali, bukan...?" Aichi mengakhiri ceritanya dengan senyum lebar, walaupun air matanya mengalir deras di pipinya. "...Mungkin selama ini mereka tidak menganggapku teman mereka. Ini hanya mimpi."
Aku tidak pernah mempunyai teman kan, Kai-kun...? Kata-kata itu tidak sanggup keluar dari bibir Aichi.
Kai... hanya diam. Dia memperhatikan Aichi menangis, kemudian meletakkan sebuah tangan di rambut biru Aichi dan mengelusnya perlahan.
"Semua akan baik-baik saja." Suara Kai terdengar berat, namun ketika dia mengucapkan itu, seolah... Aichi merasa semua akan baik-baik saja, seperti kata-kata Kai.
Aichi hanya mengangguk pelan, membiarkan Kai mengelus rambutnya dengan lembut.
Osu! Nanashimai is back! #ditendang
gomen, saya makin sibuk gara-gara rl makin sibuk ;; #sepikmainelswordmulunih
sebenarnya chapter ini udah setengah jadi setelah saya nge-publish chapter sebelumnya, cuma baru diselesain sekarang. Gomen kalau cara nulis saya agak beda, mungkin karena saya kebanyakan baca HS DxD #plak
Endingnya nge-gantung kah? Saya lagi gak ada ide buat ending, jadi di bikin begini dulu orz chapter berikutnya... akan diusahakan di update uwu
btw, Chapter I bentar lagi selesai loh~ mungkin sampai I-5? rencananya sih mau bikin V Chapter, mungkin bakal disingkat sebisa mungkin ;;
I don't own Cardfight! Vanguard! saran dan perbaikan di butuhkan uwu
