Tittle: My Black Coffee Sajangnim
Cast: Park Chanyeol
Other cast: Exo member
Rated: T
Cuap-cuap bentar yaa ...
Cerita ini hasil remake dari novel "Duet" bagian "Black Cafe karya Angela Marchelin".
Yang di rombak cuma judul dan pemainnya aja ... yaa sedikit improve sih dari sayanya ...
Yuuuppsss ... di lanjut ceritanya ...
.
.
.
.
.
.
.
"Good morning..." sapa Jongdae ceria saat melihat baekhyun dan chanyeol masuk ke kedai kopinya yang baru buka di pagi hari yang hangat. Namun senyum ceria Jongdae langsung memudar saat melihat wajah baekhyun yang terlihat sangat tidak bersemangat, tidak seperti biasanya.
Gadis itu berlalu melewati jongdae yang sibuk di balik mesin pembuat kopi otomatis tanpa sapaan sepatah kata apapun. Jongdae melirik chanyeol yang berjalan di belakang baekhyun dengan tatapan penuh tanya. Namun, sobatnya itu hanya terseny sekilas sebelum memesan segelas AlmondyMacchiato, menu coffee blend terpopuler di Black Cafe.
Chanyeol duduk di atas kursi rotan yang di lapisi dengan matras empuk putih. Tatapannya melewati kaca jendela besar yang membatasi area interior cafe dengan trotoar besar di depannya. Ia menyadari ucapannya tadi saat di pujasera bersama baekhyun. Bagaimana ia bisa begitu agresif? Padahal, awalnya ia hanya ingin iseng untuk menggoda gadis itu saja yang terlihat imut dimatannya. Tingkah baekhyun yang terkadang temperamental malah terlihat seperti aegyo di mata chanyeol.
"Pesanan datang..." kata jongdae dengan ceria sambil membawakan 2 gelas Almondhy MAcchiato dan 2 bungkus cookies dengan taburan chococip dam kismis diatasnya.
Jongdae duduk di seberang chanyeol sambil memakan cookies miliknya dan mematahkannya menjadi 2 bagian.
"Sepertinya dia marah padaku," chanyeol mencoba membuka percakapan sambil menatap jongdae yang sibuk memakan cookies.
Jongdae mengangkat sebelah alisnya, heran. "Marah? Marah kenapa? Bukankah dia memang pemarah? Setiap hari juga marah-marah. Maklum gadis temperamental."
Chanyeol menggeleng. "Bukan, bukan itu yang kau maksud, jongdae."
"Jadi, marah yang seperti apa?" Tanya jongdae lagi.
"Tadi aku sempat menyinggung tentang pacarnya," jawab chanyeol sambil menatap kearah pintu ruangan baekhyun yang tertutup rapan.
"Ah, pacarnya," ringis jongdae. "Sebaiknya kau memang harus menghindari obrolan itu jika kau ingin berteman baik dengannya."
Chanyeol menyeruput minuman panasnya melalui sedotan khusus minuman panas berwarna hitam. "Memangnya, dia ada masalah dengan pacarnya? Oh, maksudku mantan pacarnya."
"Masalah itu..." ucapan jongdae terputus ketika pintu ruangan baekhyun terbuka dan penghuninya keluar dari kantor tanpa menyapa siapapun yang ada di dalam cafe itu. Gadis itu melenggang pergi keluar tanpa peduli apapun.
"Sepertinya, ia mendengar obrolan kita," sahut chanyeol sambil ikut memperhatikan pintu kaca yang tertutup perlahan setelah dibuka.
.
.
.
Apartemennya yang tidak terlalu besar, terlihat seperti kapal pecah. Sudah dua hari ia menghilangkan dirinya. Tenggelam dibalik selimut tebal dan enggan beranjak kemanapun, kecuali untuk mandi dan makan. Ponselnya juga ia matikan sehingga tak seorangpun yang bisa menghubunginya, termasuk jongdae yang mungkin berteriak karena baekhyun meliburkan diri tanpa izin. Sungguh tidak profesional. Tapi ini semua hanya karena ia ingienghindar dari seseorang yang tak ingin ditemuinya.
Sebagai seorang manajer, ia seharusnya tidak boleh lari dari perkejaannya. Apalagi hanya karena masalah hati dan cinta yang terkait dengan luka lama. Tapi entah mengapa, setiap kali ia bertatapan muka dengan chanyeol atau mendengar suara pria itu, hatinya merasa cemas. Mungkin karena dia adalah salah satu orang yang berhasil membuka luka lama itu. Oh, hatinya terkoyak lagi.
Suara bel apartemen baekhyun berbunyi dan itu terpaksa membuat ia harus beranjak dari kasurnya yang empuk. Memang ia tadi memanggil tukang service untuk membetulkan keran ledengnya yang rusak. Baekhyun melangkahkan kakinya menuju pintu masuk apartemennya kemudian membukakan pintu tanpa memastikan siapa dulu orang yang memencet bel.
"Byun Baekhyun?"
Suara ini! Sungguh tak asing ditelinga baekhyun. Suara bariton yang biasa dimiliki oleh orang-orang bertubuh atletis dan berwajah angkuh. Ia berdoa dalam hati, semoga pendengarannya salah. Semoga bukan orang itu.
Dengan menghirup nafas panjang, baekhyun membuka pintu.
"Byun Baekhyun," panggil orang itu lagi.
"Darimana kau tau alamat apartemenku?" Tanya baekhyun ketus.
"Byun, aku ingin minta maaf atas ucapan lancangku waktu itu. Aku sungguh menyesal, Byun Baekhyun-ssi," ucap chanyeol dengan bahasa formal. "Ini, aku bawakan sarapan untukmu," Chanyeol menyodorkan kotak berwarna hitam dengan corak ulir sebuah cangkir kopi dan bintang yang mengelilingi cangkir, juga tulisan 'Black Cafe', dicetak klasik dengan jenis tulisan yang biasa muncul di headline koran-koran Inggris.
Dengan segenap perasaan ragu, baekhyun menerima kotak itu. "Gomawo," ucapnya dengan suara pelan. Entah chanyeol bisa mendengarnya atau tidak, yang penting ia sudah mengucapkan terima kasih pada pria itu.
"Sore ini aku berangkat ke Amsterdam," ucap chanyeol sambil memasukkan tangannya ke saku celana.
"HAti-hati dijalan," sahuy baekhyun sekenanya. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada chanyeol. Rasanya setiap kali berhadapan dengan chanyeol, baekhyun kehilangan jutaan bahan pembicaraan yang biasanya dengan mudah dia bicarakan dengan orang lain.
"Tapi, sepuluh hari lagi aku akan kembali ke Seoul untuk mengurusi berkas-berkas penting di Black Cafe. Dan aku harap, kau mau menjemputku lagi di bandara."
"Akan ku pikirkan lagi," lagi-lagi baekhyun menyahut tak acuh.
"Jangan lupa makan sarapanmu. Aku membelikanmu roti kismis. Kata jongdae, kau sangat suka roti kismis. Di dalamnya juga ada segelas Almondhy Macchiato. Aku rasa kau juga suka dengan minuman itu karena aku juga suka dengan rasanya yang unik," ujar chanyeol dengan senyuman manis yang mengembang dibibirnya.
"Gomawo, seharusnya kau tidak perlu repot-repot," balas baekhyun.
Chanyeol menggelengkan kepalanya. "Minta maaf tidak boleh setengah-setengah, tapi harus dengan sepenuh hati. Makanya, aku bersedia repot hanya untuk meminta maaf padamu," kata chanyeol sambil menunjukkan senyuman manisnya. "Ehm... kau sudah memaafkanku, bukan?" Bola mata kelabu itu menatap baekhyun tanpa henti. Seakan-akan tatapannya bisa menggali pikiran baekhyun sedalam mungkin. Tatapan itu juga memiliki arti lain yang baekhyun tahu, itu adalah tatapan memaksa.
Mau tidak mau baekhyun mengalah. "Ya, aku sudah memaafkanmu."
Raut wajah cemas chanyeol langsung berubah cerah, secerah matahari di langit pagi ini. Senyumannya bukan lagi senyuman yang mengatupkan kedua bibirnya, melainka senyuma yang memamerkan deretan giginya yang putih.
Chanyeol menjulurkan tangannya ke arah baekhyun yang mematung di tempat. Gadis itu mengerti maksud chanyeol, sehingga ia juga membalas jabat tangan pria itu sambil tersenyum sekilas.
"Boleh aku memelukmu?" Tanya chanyeol ragu-ragu. "Maksudku, pelukkan sahabat."
Baekhyun mengernyitkan dahinya. "Untuk apa aku memelukmu dan untuk apa kau memelukku?"
"Karena kita sahabat," jawab chanyeol sambil menjentikkan jarinya.
"Sejak kapan kita bersahabat?" Sahut baekhyun bingung.
"Kapan itu tidak penting. Yang penting, sejak kau memaafkanku berarti kau adalah sahabtku," jawab chanyeol. Lagi-lagi rentean jawaban chanyeol mengandung unsur pemaksaan. Walaupun ia tidak mengutarakannya secara gamblang, tapi baekhyun tetap saja bisa merasakan unsur itu, apalagi saat chanyeol merentangkan kedua tangannya.
Baekhyun tetap saja mematung hingga chanyeol tiba-tiba mendekap erat tubuhnya. Gadis itu ingin sekali mendorong tubuh chanyeol. Tapi apa daya, chanyeol jauh lebih berat darinya. Dan mau tidak mau ia membiarkan dirinya dipeluk oleh pria yang bertubuh tinggi dengan poin wajah di atas rata-rata. Sialnya, baekhyun harus setuju pada pikirannya kalau dada bidang Chanyeol terasa sangat nyaman bagi kepalanya yang bersandar di sana. Ia pun bisa merasakan aliran hangat yang mengalir dari dekapan hangat tangan Chanyeol di punggungnya. Perlahan-lahan, rasa cemas dihatinya berganti dengan rasa aman….
Namun, tiba-tiba lonceng dalam otakny bergemerincing hebat seperti bunyi alarm di kotak merah saat terjadi kebakaran. Baekhyun membuka matanya yang sempat terpejam akibat terbuai olehh pelukkan Chanyeol. Ia tersadar dan lengsung mendorong dada Chanyeol agar menjauh darinya.
"aku rasa, kita sudah berlebihan," ucap baekhyun tanpa mentap wajah chanyeol yang berada di atasnya. Kalau bisa, Baekhyun ingin segera lenyap dari hadapan pria itu.
"Aku hanya ingin membuatmu merasa nyaman dan aman. Aku tidak ingin kau melihat wajahmu yang cemas lagi," kata Chanyeol sambil membetulkan jaket kulit hitam yang tempo lalu di kenakannya saat tiba di Seoul.
Bingo! Apa yang Chanyeol katakana barusan, seratus persen sama dengan apa yang dirsakan oleh Baekhyun. 'jangan-jangan pria didepannya saat ini memiliki indera keenam atau kemampuan membaca pikiran orang lain', pikir Baekhyun dalam hati.
Tiba-tiba Chanyeol terkekeh pelan. "Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku tidak memiliki sixth sense atau kemampuan membaca pikiran orang lain. Aku hanya menebak dari raut wajahmu, Byun," ucapnya kemudian.
Baekhyun merapatkan lagi giginya dan semakin tenggelam dalam pemikirannya. 'Apanya yang tidak punya? Bahkan tadi kau juga berhasil menebak apa yang kupikirkan,' batin Baekhyun lagi.
T B C
Yuuhhhhuuuu ,,,, chapter 4 akhirnya update juga … hehehehe ….
Tenang reader … pasti update cepat kok kalau nggak banyak halangan sih … tergantung sikon lah ..
Sedikit balas review yaa:
Girin92: makasih ,,, yups lanjut terus kok … yaahh , secra nda langsung sih si abang jongdae nyomblangin gtu… baca aja terus yaa … hehee
Byunkkaebb: siipp .. makasih yeee …
Yeollie: ookkeeee ..
Neli Amelia: nggak apa ,, yang penting dah mau baca n review.. makasih … oke di lanjut trus kok ..
Parkbyun: hahaha .. nda bisa janji yaa update tiap hari,, tapi diusahakan deh kalau nggak ada halangan ,,,
chanbaekShipper: diterima nggak yaa? Hehehe .. dibaca aaja terus yaa ,,,
makasih yaa yg dah mau review ff-nya saya ini … tetap stay yaa … di review juga ,,,
salam
Octrat, 3 Mei 2015
