Chapter 4
Matchmaking
Jaejoong merasa bosan. Seharian ia hanya berbaring di tempat tidur. Tidak banyak yang bisa ia lakukan ketika kakinya mengalami cedera. Ia bahkan tidak bisa pergi ke kamar mandi sendirian.
"Apakah kakimu sudah terasa lebih baik?" Junsu berkunjung ke rumah Jaejoong sepulang kuliah. Kuliah semakin terasa menyiksa tanpa kehadiran Jaejoong. Biasanya ia akan memfotokopi catatan Jaejoong dan meminta Jaejoong mengajarinya. Sekarang ia harus mencatat sendiri. Ia bahkan tidak mengerti apa yang ia catat.
Jaejoong menggeleng. "Kakiku terasa semakin sakit jika aku hanya berdiam diri."
"Mau bagaimana lagi? Kau tidak mungkin pergi ke kampus dalam keadaan seperti ini." Junsu hanya bisa menghela nafas.
"Aku bisa menggunakan kruk ke kampus," balas Jaejoong. Ia sangat keras kepala. "Akan tetapi, ayah dan ibu tidak mengizinkanku pergi."
Junsu berkacak pinggang. "Kau harus menurut kepada orang tuamu. Mereka sangat memedulikan keadaanmu. Bagaimana jika kau terjatuh di kampus? Masih banyak lagi hal buruk yang bisa saja menimpamu."
"Aku merasa bosan," keluh Jaejoong. Kuliah di kampus bisa membuatnya lupa akan Yunho untuk sejenak. Pada saat-saat seperti ini ia sangat memerlukan pelarian. Jika ia terus berdiam diri di rumah, ia akan terus memikirkan Yunho dan rasa sakit hatinya.
"Untuk itulah aku datang kemari." Junsu mencoba menghibur Jaejoong. "Aku akan menemanimu agar kau tidak merasa bosan."
"Jun-chan, maafkan aku!" Jaejoong merasa bahwa ia banyak bersalah kepada Junsu. Selain karena ia sudah merepotkan Junsu, ia juga merasa bersalah karena telah mencintai ayah Junsu dan menyembunyikan hal tersebut dari sahabatnya itu.
"Untuk apa?" Junsu mengerutkan keningnya.
"Untuk segalanya." Jaejoong tidak bisa berterus terang kepada Junsu.
"Kita adalah sahabat. Tidak ada yang perlu dimaafkan." Junsu tersenyum. Ia memang menyesalkan sikap Jaejoong yang merahasiakan hal sepenting itu darinya, tetapi ia memahami alasan Jaejoong menyembunyikan hal itu darinya.
Jaejoong merasa sedikit terhibur oleh kehadiran Junsu. Setidaknya pikirannya tidak terpaku kepada Yunho. Ia memang masih belum bisa menghilangkan rasa sakit di hatinya. Ia pun belum bisa tersenyum dengan tulus.
Junsu berusaha menghibur Jaejoong. Ia menceritakan kejadian-kejadian yang terjadi di kampus. Ia bisa melihat Jaejoong tersenyum, tetapi ia tahu bahwa Jaejoong tidak benar-benar tersenyum. Sahabatnya itu sangat memaksakan senyumannya. Melihat Jaejoong seperti itu membuat hatinya ikut sedih.
.
.
.
"Bagaimana keadaan Jaejoong?" Yunho merasa penasaran dengan keadaan Jaejoong.
"Bengkak di pergelangan kakinya parah sekali." Sejak pulang dari planetarium Junsu merasa malas berbicara dengan ayahnya. Ayah dan kekasihnya itu telah membuat sahabatnya bersedih dan menangis.
"Kau terlihat lesu sekali, ada apa?" Yunho menunjukkan perhatiannya kepada sang putri.
"Tentu saja aku lesu dan tidak bersemangat. Tidak ada Jaejoong yang menemaniku di kampus. Sahabatku itu terbaring tanpa daya di rumahnya." Junsu menggerutu.
"Masih ada teman-temanmu yang lain, bukan?" balas Yunho.
Junsu menatap ayahnya yang tidak memahami rasa kesal di hatinya. "Mereka berbeda dengan Jaejoong. Ia adalah sahabatku sejak SMA."
"Seharusnya kau tidak hanya terpaku berteman dengan satu orang. Seharusnya kau juga mengakrabkan diri dengan yang lain." Yunho menasihati Junsu.
Ucapan Yunho justru membuat Junsu semakin kesal. "Mengapa ayah malah menyuruhku untuk berteman dengan yang lain? Apakah itu artinya ayah menyuruhku untuk meninggalkan Jaejoong sendirian? Ayah, ia sedang terpuruk. Bukannya menaruh simpati kepadanya, ayah malah menyuruhku untuk meninggalkannya."
"Bukan begitu, Jun-chan." Yunho berusaha untuk menenangkan putrinya. "Ayah sama sekali tidak menyuruhmu untuk meninggalkannya. Sebaliknya ayah merasa sangat bangga kepadamu karena kau sangat memedulikan sahabatmu. Akan tetapi, bukan berarti kau tidak harus berteman dengan yang lainnya juga."
"Apakah ayah sama sekali tidak peduli akan keadaan Jaejoong sekarang? Seharusnya ayah merasa bersalah kepadanya." Yang Junsu maksud adalah perasaan Jaejoong yang sedang terpuruk.
"Jujur saja ayah merasa bersalah kepadanya. Ayah tidak bisa menjaga keselamatannya dengan baik, sehingga ia terjatuh dan mendapatkan cedera pada kakinya." Tentu saja Yunho tidak bisa menangkap maksud Junsu yang sesungguhnya.
"Ayah sama sekali tidak peduli kepadanya. Ayah bahkan tidak pergi untuk menjenguknya," tambah Junsu.
"Ayah belum sempat untuk pergi menjenguknya. Jika ayah ada waktu, ayah pasti akan menjenguknya." Yunho masih berbicara dengan tenang.
"Ayah tidak akan pernah mempunyai waktu. Saat ayah mempunyai waktu luang, ayah pasti akan menghabiskannya dengan menelepon wanita itu. Ayah bahkan sama sekali tidak mempunyai waktu untukku. Yang ayah pikirkan hanyalah wanita itu." Junsu marah kepada ayahnya.
Yunho merasa terkejut karena putrinya tiba-tiba marah. Mengapa Junsu sangat berlebihan? Pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiran putrinya itu.
"Ayah benar-benar sibuk dengan pekerjaan ayah. Hari ini ayah sama sekali tidak sempat menelepon Jihyun. Tuduhanmu itu sama sekali tidak beralasan." Yunho membela dirinya. "Apakah kau merasa khawatir bahwa ayah akan lebih memerhatikan Jihyun daripada dirimu?"
Junsu sedang tidak ingin berdebat dengan ayahnya, tetapi mau tak mau ia harus meladeni ayahnya itu. "Kita tidak sedang membicarakan diriku, tetapi Jaejoong."
"Kau hanya menjadikan Jaejoong sebagai alasan. Sesungguhnya yang kau khawatirkan adalah Jihyun." Yunho menarik kesimpulan. "Kau tidak perlu khawatir karena kau akan selalu menjadi prioritas ayah."
"Saat ini ayah bisa berbicara demikian. Bagaimana dengan nanti? Jika nanti ayah menikah dengannya, pasti perhatian ayah akan terpusat kepadanya, apalagi jika nanti kalian punya anak. Ayah pasti tidak akan memerhatikan aku lagi. Ayah pasti akan lebih menyayangi adik tiriku itu dan ibunya." Junsu mengungkapkan isi hatinya yang selama ini ia pendam.
"Jun-chan, mengapa kau berpikir seperti itu? Kasih sayang ayah kepadamu tidak akan berkurang, walaupun nanti ayah akan mendapatkan anak-anak yang lain." Yunho memberikan penjelasan.
"Aku tidak ingin ayah memilih wanita itu." Junsu menegaskan. "Mengapa ayah tidak memilih seseorang yang sudah kenal dekat dengan keluarga kita, yang sangat mengerti dengan keadaan keluarga kita?"
"Memangnya siapa yang kau maksud?" tanya Yunho.
"Hmm…" Junsu tampak berpikir. "Mungkin Jaejoong?"
Yunho terkekeh. "Ya, ia memang sudah seperti bagian dari keluarga kita. Akan tetapi, yang sedang kita bicarakan adalah seseorang yang bisa ayah pilih untuk dijadikan istri, bukan sebagai anak angkat."
Junsu merasa bahwa ia telah salah bicara. Tidak seharusnya ia mengatakan hal itu kepada ayahnya. Selama ini Jaejoong menyembunyikan perasaan itu dari dirinya. Itu artinya Jaejoong tidak ingin perasaan tersebut diketahui oleh siapa pun, terutama Yunho. "Itu hanya perumpamaan."
Yunho membelai kepala Junsu. "Berilah Jihyun kesempatan, sekali saja! Kau bahkan belum bertemu dengannya. Kau tidak bisa menghakiminya begitu saja."
.
.
.
Junsu merasa kesepian di kampus. Sudah tiga hari Jaejoong tidak masuk kuliah. Hari-harinya terasa berat dan membosankan. Ia sangat kesulitan untuk mengikuti perkuliahan di kelas. Energinya sudah terkuras habis. Ia bahkan tidak mempunyai energi untuk mengikuti dan memerhatikan senior pujaan hatinya.
"Mengapa kau duduk sendirian?" Tiba-tiba Yoochun duduk di sebelah Junsu.
"Eh, Sunbae." Junsu langsung menegakkan tubuhnya. Ia tidak boleh terlihat lesu dan tidak bersemangat di hadapan Yoochun.
"Tumben kau sendirian. Biasanya kau selalu berdua dengan Jaejoong." Yoochun merasa kesulitan untuk melakukan pendekatan kepada Jaejoong karena adanya Junsu yang selalu menempel kepada Jaejoong.
"Sudah tiga hari ia tidak masuk kuliah. Kakinya bengkak karena terkilir." Junsu merasa kecewa karena Yoochun selalu saja membicarakan Jaejoong.
"Benarkah?" Yoochun tampak terkejut. "Pantas saja aku tidak melihatnya selama tiga hari terakhir."
Junsu menatap Yoochun yang sama sekali tidak memerhatikan dirinya. Hatinya terasa panas. Jadi, selama ini Yoochun selalu mengamati Jaejoong di kampus?
"Bisakah kau mengantarku ke rumahnya? Aku ingin menjenguknya," pinta Yoochun.
.
.
.
Junsu tidak bisa menolak permintaan Yoochun. Ia bahkan menemani Yoochun pergi membeli bunga dan buah-buahan untuk Jaejoong. Ia merasa sangat cemburu.
"Apakah Jaejoong suka buah jeruk?" Yoochun bertanya kepada Junsu.
Junsu mengangguk lemas. "Ya, ia menyukainya." Ia pun memaksakan senyumannya.
"Kalau begitu, aku akan membeli jeruk saja." Yoochun mulai memilih-milih buah jeruk.
"Aku suka buah apel," lirih Junsu. Namun, sepertinya Yoochun tidak mendengar kata-katanya. Ia merasa sangat cemburu kepada Jaejoong. Andaikan saja Yoochun membelikan juga apel untuknya, ia pasti akan merasa senang sekali, walaupun hanya satu buah.
"Ini untukmu." Ternyata Changmin juga membeli buah-buahan di toko yang sama. Ia juga bermaksud untuk menjenguk Jaejoong.
Junsu terkejut atas kemunculan Changmin yang secara tiba-tiba di hadapannya. Ia hanya memandangi apel yang disodorkan oleh Changmin.
"Mengapa kau hanya memandangi dan tidak mengambilnya?" ujar Changmin. "Bukankah beberapa saat yang lalu kau ingin makan apel?"
Junsu segera menarik Changmin menjauh dari Yoochun yang masih memilih-milih buah jeruk. "Aku hanya mengatakan bahwa aku menyukai buah apel, bukan sedang ingin memakannya." Ia tidak menyangka bahwa Changmin bisa mendengar perkataannya, padahal Yoochun saja yang berada di sebelahnya tidak mendengar.
"Kau tidak akan tiba-tiba mengatakan bahwa kau menyukai buah apel jika kau tidak sedang ingin memakannya." Changmin melirik ke arah Yoochun. "Apakah pria itu kekasihmu? Ia tampan juga, walaupun tentu saja tidak setampan diriku."
"Ia bukanlah kekasihku." Junsu menyayangkan hal tersebut. "Aku hanya mengantarnya untuk menjenguk Jaejoong."
Changmin masih saja memerhatikan Yoochun. "Ia terlihat seperti senior kita di SMA."
"Ia memang senior kita di SMA. Selain itu, ia juga merupakan senior kita di kampus." Junsu memberikan penjelasan kepada Changmin. Ia melihat keranjang buah yang dibawa oleh Changmin. Keranjang buah tersebut hanya dipenuhi oleh buah apel. "Jaejoong menyukai jeruk, bukan apel."
"Kekasihmu itu sudah membeli jeruk untuk Jaejoong. Jadi, aku membeli apel saja. Jaejoong pasti akan merasa bosan jika semua orang membawakan jeruk untuknya," jawab Changmin.
Junsu menjaga suaranya agar tidak terdengar oleh Yoochun. "Sudah kukatakan kepadamu bahwa ia bukanlah kekasihku. Berhentilah mengatakan hal itu!" Ia tidak ingin Changmin sampai menyebutkan hal itu di depan Yoochun. Itu akan membuatnya malu.
.
.
.
Junsu, Changmin, dan Yoochun pergi bersama-sama ke rumah Jaejoong. Junsu merasa bahwa Changmin menjadi pengganggu di antara dirinya dan Yoochun. Di dalam bis saja Changmin duduk di tengah-tengah, di antara dirinya dengan Yoochun. Changmin juga mendominasi pembicaraan dengan Yoochun. Kedua laki-laki tersebut terlihat asyik membicarakan mata kuliah di kampus, pembicaraan yang sangat ingin ia hindari.
"Maaf, aku baru bisa menjengukmu sekarang. Aku baru mengetahui bahwa kakimu cedera hari ini dari Junsu." Yoochun meminta maaf kepada Jaejoong.
"Tidak apa-apa, Sunbae." Jaejoong merasa tidak enak kepada Yoochun. "Justru aku yang harus meminta maaf karena telah merepotkan sunbae. Bengkak di kakiku sudah membaik. Besok lusa mungkin aku sudah bisa kembali ke kampus."
"Syukurlah kalau begitu," ujar Yoochun. "Kampus terasa berbeda tanpa kehadiranmu."
"Eh?" Jaejoong tidak mengerti maksud perkataan Yoochun. Ia tidak mengetahui bahwa Yoochun memerhatikan dirinya di kampus.
Junsu hanya bisa menyaksikan keakraban Yoochun dan sahabatnya dengan hati yang terluka. Ia berusaha untuk menguatkan hatinya.
"Aku membawakan jeruk untukmu." Yoochun menunjukkan keranjang buah yang dibawanya.
"Aku semakin merasa tidak enak karena aku sudah menyusahkan sunbae. Seharusnya sunbae tidak perlu repot-repot membawakan buah untukku segala." Jaejoong semakin merasa tidak enak kepada Yoochun.
"Apakah kau tidak mau menerima pemberianku?" Yoochun berpura-pura sedih.
"Eh, bukan begitu." Jaejoong tidak ingin Yoochun salah paham.
"Aku akan marah jika kau tidak mau menerimanya," tambah Yoochun. "Aku akan mengupaskannya untukmu."
Junsu semakin merasa sakit hati oleh perhatian Yoochun kepada Jaejoong. Tidakkah Yoochun mengetahui bahwa ialah yang mencintai pria itu, bukan Jaejoong? Jaejoong sudah mencintai pria lain.
Changmin tiba-tiba menarik tangan Junsu. Ia membawa Junsu meninggalkan kamar Jaejoong.
"Hey, mengapa kau tiba-tiba menarik tanganku? Ke mana kau akan membawaku?" Junsu protes.
Changmin tidak menjawab. Ia membawa Junsu menuruni tangga menuju lantai bawah. Sejenak ia menengok ke kiri dan kanan, seperti sedang mencari sesuatu. "Dapur ada di sebelah mana?"
Junsu menunjuk ke arah dapur. "Dasar tukang makan! Jika kau ingin makan, kau tidak perlu sampai menarik tanganku."
Tidak ada siapa pun di dapur. Changmin membawa Junsu ke dapur. Ia mendudukkan Junsu di atas kursi. Ia kemudian mencari-cari sesuatu lagi.
"Sekarang apa yang kau cari? Lemari es ada di sebelah kananmu." Junsu mengira Changmin sedang mencari makanan.
"Nah, ketemu!" Changmin menemukan benda yang ia cari, yaitu pisau.
Junsu mengerutkan keningnya. "Untuk apa kau mencari pisau?"
Changmin tidak menjawab. Ia duduk di hadapan Junsu dan mengupas apel yang dibawanya. "Kau merasa iri kepada Jaejoong karena Yoochun Sunbae mengupaskan jeruk untuknya."
Junsu menatap Changmin. Ia merebut apel dari tangan Changmin. "Aku bisa mengupasnya sendiri."
Changmin hanya tersenyum. "Kau cemburu, bukan? Akui saja!"
Junsu merasa bahwa Changmin adalah orang yang sangat berbahaya. Sepertinya Changmin bisa membaca pikirannya.
"Kau menyukainya Yoochun Sunbae, bukan? Kau pasti bertanya-tanya bagaimana aku bisa tahu." Changmin terus berbicara. "Hal itu terlihat dari tatapanmu kepadanya. Kau terlihat sangat terluka saat melihatnya dengan Jaejoong."
"Apa maumu? Apakah kau bermaksud untuk mengancamku?" Junsu menatap Changmin dengan tajam.
Changmin tidak merasa takut oleh tatapan Junsu. "Mengapa kau selalu berprasangka buruk kepadaku? Aku merasa kasihan kepadamu. Lelaki yang kaucintai justru menyukai sahabatmu sendiri. Sungguh menyedihkan, bukan?"
Junsu marah kepada Changmin. "Apakah kau sudah merasa puas karena bisa menertawakanku?"
Raut wajah Changmin terlihat serius sekarang. "Apakah kau akan membiarkan saja Jaejoong memilikinya? Aku tahu bahwa kalian berdua bersahabat. Kau pasti akan melakukan segalanya untuk sahabatmu. Akan tetapi, apakah kau rela untuk menyerahkan pria yang kau cintai kepada sahabatmu itu?"
Junsu memang sangat menyayangi Jaejoong. Jaejoong sudah seperti saudaranya sendiri. Ia akan melakukan apa pun untuk Jaejoong, tetapi untuk merelakan Yoochun, ia merasa tidak rela. Ia merasa bahwa ia tidak akan sanggup untuk menyaksikan mereka berdua lebih jauh lagi. "Tidak, aku tidak rela." Ia menggeleng. "Mungkin saja aku bisa melakukannya, tetapi hatiku pasti akan sangat hancur dan mungkin aku tidak akan sanggup untuk melanjutkan hidupku."
Changmin menyilangkan lengannya di dada. Ia bersandar pada kursi. "Jadi, apa yang akan kau lakukan?"
Junsu menatap Changmin dengan mata berkaca-kaca. "Aku tidak tahu. Tidak mungkin aku memaksa Yoochun Sunbae untuk menjauhi Jaejoong."
"Sebenarnya kau tidak perlu terlalu khawatir karena Jaejoong mencintai pria lain," ujar Changmin dengan santainya.
Junsu terlihat kebingungan. "Apa maksudmu?"
"Bukankah Jaejoong menyukai ayahmu?" lanjut Changmin.
"Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu. Walaupun Jaejoong menyukai ayahku, bisa saja ia menerima cinta Yoochun Sunbae sebagai pelarian karena cintanya kepada ayahku tidak terbalas." Junsu merasa bahwa tidak ada gunanya ia menyembunyikan hal itu dari Changmin. Ia bahkan tidak bisa menduga-duga sejauh apa Changmin mengetahui hal itu. Pemuda tersebut tidak bisa diduga.
Changmin tersenyum lebar. "Kalau begitu, mengapa kau tidak menjodohkan Jaejoong dengan ayahmu saja? Dengan begitu, Jaejoong tidak akan menjadi penghalang lagi di antara kau dan Yoochun Sunbae."
Junsu mencoba memikirkan gagasan Changmin. Dengan menjodohkan Jaejoong dan ayahnya, ia bisa menyelesaikan beberapa masalah sekaligus. "Ayahku sudah memiliki seorang kekasih. Jika kekasihnya itu sudah pulang dari luar negeri, ia akan mengenalkannya kepadaku."
"Sebelum kekasih ayahmu itu pulang, kau harus membuat ayahmu jatuh cinta kepada Jaejoong," ujar Changmin.
"Bagaimana caranya? Ayahku hanya memandang Jaejoong sebagai anak, bukan seorang wanita dewasa yang bisa ia jadikan kekasih," balas Junsu.
"Kau adalah anak semata wayangnya. Ia pasti akan mengabulkan semua permintaanmu." Tampaknya Changmin cukup mengenal Junsu dan keluarganya, padahal ia tidak berteman terlalu dekat dengan Junsu. "Kau paksa saja. Kau menangis sambil meraung-raung dihadapannya. Jika ia masih saja bergeming, kau katakan saja kepadanya bahwa kau akan bunuh diri jika ayahmu itu tidak mau menerima cinta Jaejoong."
Junsu memukul kepala Changmin. "Berbuat seperti itu tidak akan mempan. Ia pasti langsung tahu bahwa aku hanya menggertaknya."
"Coba saja dahulu, siapa tahu berhasil," lanjut Changmin.
.
.
.
Jaejoong tidak menemukan Junsu dan Changmin di kamarnya. Ia tidak menyadari kepergian mereka berdua karena sejak tadi Yoochun terus mengajaknya untuk berbincang-bincang. "Ke mana Junsu dan Changmin?"
Yoochun melihat ke sekelilingnya. "Aku tidak tahu. Mungkin mereka ingin berdua saja. Mereka terlihat sangat serasi. Apakah mereka berpacaran?"
"Eh?" Jaejoong merasa heran mengapa Yoochun berpikir demikian. "Sepertinya tidak mungkin. Setahuku mereka berdua tidak pernah akur. Jika bertemu, mereka pasti akan bertengkar."
"Membuat satu sama lain kesal adalah cara mereka untuk mencari perhatian," ujar Yoochun. "Mereka akan menyadari bahwa mereka saling mencintai saat mereka berjauhan. Rasanya sepi dan hampa jika tidak bertengkar satu sama lain."
Jaejoong terkesima oleh penilaian Yoochun. Setelah ia pikir-pikir lagi, sepertinya Junsu dan Changmin memang sangat serasi. Changmin selalu berusaha menarik perhatian Junsu, sedangkan Junsu selalu merasa kesal karena hal tersebut.
Jaejoong berpikir bahwa kisah asmara Junsu dan Changmin sangatlah manis. Andaikan saja kisah cintanya dengan Yunho bisa semanis itu. Seketika raut wajahnya kembali muram karena mengingat Yunho.
"Mengapa kau terlihat sedih? Ada apa?" Yoochun menyadari perubahan raut wajah Jaejoong.
"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedih karena tidak bisa pergi kemana-mana dengan kakiku yang bengkak seperti ini." Jaejoong berbohong.
.
.
.
Yunho memikirkan kata-kata Junsu kemarin malam. Mungkin memang seharusnya ia menyempatkan diri untuk menjenguk Jaejoong. Bagaimana pun Jaejoong bisa mengalami cedera seperti itu juga karena dirinya. Ia tidak becus menjaga Jaejoong. Ia telah membahayakan Jaejoong dengan membawa gadis itu untuk mencari Junsu ke tengah-tengah pepohonan. Seharusnya ia menyuruh Jaejoong untuk menunggu saja di dalam mobil.
Yunho baru meninggalkan kantornya pada pukul delapan malam. Ia sangat sibuk akhir-akhir ini. Sebelum menuju rumah Jaejoong, ia mampir ke toko bunga. Ia ingat bahwa bunga kesukaan Jaejoong adalah bunga lili putih. Ia membeli seikat bunga lili putih untuk Jaejoong.
.
.
.
Jalanan kota Seoul cukup padat pada malam hari. Yunho membutuhkan waktu lebih dari setengah jam untuk tiba di rumah Jaejoong.
Tn. Kim membuka pintu rumahnya. Ia menemukan Yunho berdiri di depan pintu. "Tn. Jung, ada apa datang malam-malam begini? Ayo silakan masuk!"
Yunho masuk ke dalam rumah Keluarga Kim. "Mohon maaf aku mengganggu kali kalian malam-malam begini. Aku datang kemari untuk menjenguk Jaejoongie. Apakah kakinya sudah baikan?"
Ny. Kim membawa teh dan kue kering untuk tamu mereka. "Ia belum bisa berjalan. Mungkin masih perlu beberapa hari lagi sampai ia bisa berjalan. Tidak kusangka bahwa bengkak di kakinya akan lama sembuhnya."
Yunho merasa semakin bersalah kepada Jaejoong. "Mohon maaf, gara-gara diriku, Jaejoong tidak bisa mengikuti perkuliahan di kampus selama beberapa hari. Akulah yang mengajaknya pergi ke planetarium. Akulah yang bertanggung jawab atas keselamatannya selama kami pergi ke sana."
Tn. Kim menepuk bahu Yunho. Ia tidak ingin Yunho terus menyalahkan diri sendiri. "Kau tidak perlu merasa bersalah. Itu adalah kecelakaan. Kau pun pasti sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan terjatuh."
"Terima kasih, Tn. Kim." Yunho sedikit merasa lega. "Bisakah aku menemui Jaejoong? Aku ingin melihat kondisi kakinya."
"Tadi ia sudah tidur. Aku akan membangunkannya," ujar Ny. Kim.
"Ah, tidak perlu, Ny. Kim," cegah Yunho. "Aku tidak ingin mengganggunya. Biarkan saja ia beristirahat. Aku membawa bunga untuk Jaejoong." Ia menyerahkan bunga yang dibawanya kepada Ny. Kim. "Sekarang sudah malam, sebaiknya aku tidak mengganggu waktu istirahat kalian lebih lama lagi."
.
.
.
Jaejoong merasa bahwa ia mendengar suara mesin mobil Yunho. Ia terbangun dari tidurnya. Ia sangat hapal dengan suara mesin mobil Yunho. "Bahkan suara mobilnya pun muncul dalam mimpiku."
Jaejoong sudah tidak mengantuk lagi. Ia kembali memikirkan Yunho. "Sekarang kau sedang apa? Pasti kau sedang menelepon kekasihmu itu. Apakah kau mengkhawatirkan keadaanku? Ah, tidak, tidak mungkin. Untuk apa kau mengkhawatirkanku? Aku mempunyai orang tua yang merawatku. Kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku. Kau sama sekali tidak memiliki urusan denganku. Aku hanyalah teman dari anakmu, tidak lebih."
.
.
.
Junsu mendengar suara mobil ayahnya. Jantungnya berdetak dengan kencang. Ia merasa sangat gugup. Ia sudah menyusun kata-kata untuk ia sampaikan kepada ayahnya. Sebenarnya ia merasa pesimis bahwa ia akan berhasil untuk memaksa ayahnya untuk menerima cinta Jaejoong.
"Jun-chan, mengapa kau belum tidur?" Yunho terkejut menemukan Junsu berada di ruang tamu. "Apakah kau menunggu ayah?"
Junsu mengangguk. "Ada yang ingin kusampaikan kepada ayah."
Yunho merasa penasaran. Ia duduk di sebelah putrinya. Dari raut wajah putrinya ia merasakan bahwa pasti ada yang tidak beres. "Ada apa? Katakanlah!"
"Uhm, sebaiknya ayah berganti pakaian dahulu. Ayah baru pulang dari kantor. Ayah pasti merasa sangat lelah." Junsu merasa belum siap untuk berbicara dengan ayahnya.
"Tidak perlu, nanti saja." Yunho sudah merasa sangat penasaran. "Katakan saja kepada ayah sekarang! Ayah akan mendengarkanmu."
Junsu menggigit bibir bawahnya. Ia merasa ketakutan. Bagaimana jika ayahnya murka? Orang yang sangat jarang marah biasanya sangat menyeramkan jika marah.
"Jung Junsu?" Yunho tidak sabar menunggu Junsu untuk berbicara.
"Ayah, kumohon jangan nikahi wanita itu!" ujar Junsu dengan lantang.
Yunho mengerutkan keningnya. "Mengapa? Kau bahkan belum bertemu dengannya."
"Kumohon, Ayah!" Junsu berlutut di hadapan ayahnya. Ia mulai mengeluarkan air matanya. "Seseorang akan tersakiti jika ayah menikahi wanita itu."
Yunho mencoba untuk membantu Junsu berdiri, tetapi putrinya itu bergeming. "Apa yang kau bicarakan? Siapa yang akan tersakiti?"
Junsu terisak. "Jaejoong, ia akan sangat tersakiti jika ayah menikahi wanita lain."
"Jaejoong?" Yunho tidak mengerti maksud Junsu. "Mengapa Jaejoong akan tersakiti? Apa hubungannya pernikahan ayah dengan Jaejoong?"
Junsu menatap ayahnya dengan matanya yang berair. Ia masih berlutut. "Tidak tahukah ayah bahwa Jaejoong sangat mencintai ayah?"
Yunho membalas tatapan anaknya. Ia menatap Junsu dengan penuh tanda tanya. "Apa maksudmu?"
Junsu mengepalkan kedua tangannya. Ia mengeluarkan suaranya dengan lebih lantang. "Jaejoong sangat mencintaimu, Ayah! Ia menangis saat ayah berbicara dengan kekasih ayah di telepon."
Yunho tertegun. Malam itu ia melihat Jaejoong menangis di pelukan Junsu. Gadis itu terlihat sangat terluka. Ia sempat berpikir bahwa ada hal lain yang membuat gadis itu menangis selain luka di kakinya, tetapi ia langsung menepis pikiran tersebut. Jadi, ternyata memang benar bahwa Jaejoong menangis bukan karena luka pada kakinya, melainkan karena hal lain, yaitu luka di hatinya.
Yunho tidak ingin begitu saja memercayai perkataan Junsu. Ini pasti akal-akalan Junsu saja agar ia tidak menikahi Jihyun. "Hentikan, Jun-chan! Berhentilah mengkambinghitamkan sahabatmu! Selama ini kau selalu menjadikan Jaejoong sebagai tameng. Kau selalu bersembunyi di belakangnya."
Junsu sudah menduga bahwa ayahnya tidak akan percaya begitu saja kepadanya. "Aku tidak berbohong, Ayah." Ia terus berusaha untuk meyakinkan ayahnya. "Apakah ayah tidak merasa kasihan kepadanya? Selama ini ia memendam perasaannya kepada ayah. Akan tetapi, siapa yang bisa menghendalikan hati? Cintanya kepada ayah menjadi semakin dalam. Namun, di saat cintanya sudah sangat dalam, ayah justru berhubungan dengan wanita lain. Bisakah ayah membayangkan betapa sakit yang ia rasakan?"
Yunho memejamkan matanya. Ia mencoba untuk berpikir jernih. Ia masih mengingat reaksi Jaejoong saat mereka bertemu di dapur pada dini hari. Dari raut wajah Jaejoong, ia merasa yakin bahwa gadis itu mendengar percakapannya dengan Jihyun di telepon. Gadis itu juga terlalu sering memandangi wajahnya dan menyadari perubahan kecil yang terjadi pada dirinya, seperti rambutnya yang ia potong sedikit. Kedua anggota keluarganya, yang paling dekat dengannya saja, tidak menyadari perubahan pada rambutnya itu. Tidak mustahil bahwa Jaejoong menaruh hati kepadanya.
"Jaejoong hanyalah gadis remaja biasa sepertiku. Aku tahu bagaimana rasanya patah hati. Seseorang yang kucintai ternyata mencintai wanita lain." Junsu menaruh kepalan tangannya di dada kirinya. "Sakit, rasanya sakit sekali. Melihat pria yang kucintai tersenyum untuk wanita lain, rasanya aku ingin menangis. Mungkin aku tidak ingin hidup lagi jika pria yang kucintai itu menjadi milik wanita lain. Sakit, Ayah! Rasanya dada ini terasa sesak."
Yunho merasa sangat bersalah jika hal itu memang benar. "Lalu apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa berpisah dengan Jihyun. Kami berdua saling mencintai. Jihyun juga hanya seorang wanita biasa. Jika ayah memutuskan hubungan ayah dengannya, ia pun akan merasakan patah hati. Apakah hanya demi menjaga perasaan seorang wanita, lantas kita harus mengorbankan perasaan wanita lainnya? Pikirkan juga bagaimana perasaan Jihyun! Pikirkan juga perasaan ayah!"
Junsu berdiri. "Jadi, apakah ayah lebih memilih untuk mengorbankan dan menyakiti Jaejoong? Ayah kejam! Kalian berdua kejam!" Kali ini Junsu sedang tidak berusaha membujuk ayahnya. Sekarang ia serius. Kata-kata tersebut keluar dari dalam lubuk hatinya. "Kalian berdua adalah orang dewasa, bukan gadis remaja seperti kami yang masih rapuh jika merasakan putus cinta. Apakah ayah ingin Jaejoong mengakhiri hidupnya?"
"Tidak mungkin. Jaejoong adalah anak yang bisa berpikir rasional. Ia tidak mungkin melakukan tindakan sebodoh itu," ujar Yunho dengan yakin.
Junsu mengatur nafasnya. Ia merasa lelah setelah berteriak kepada ayahnya. Yang dikatakan oleh ayahnya memang benar. Ia sangat mengenal Jaejoong. Sahabatnya itu tidak mungkin bunuh diri hanya karena putus cinta. Jaejoong adalah gadis yang sangat tangguh, lebih tanggung daripada gadis remaja seusia mereka pada umumnya. Ia sudah kehabisan akal untuk membujuk dan meyakinkan ayahnya. "Ayah kejam! Aku membenci ayah!" Ia pun berlari meninggalkan ayahnya.
Yunho membiarkan Junsu berlalu begitu saja. Ia sangat mengenal tabiat Junsu. Putrinya itu pasti tidak benar-benar membencinya. Junsu hanya perlu waktu untuk menenangkan diri. Ia tidak ambil pusing dengan sikap Junsu.
.
.
.
Yunho mencoba untuk tidak menghiraukan percakapannya dengan Junsu. Namun, hatinya tetap tidak merasa tenang. Bagaimana jika Jaejoong tidaklah setangguh yang ia pikirkan? Jaejoong adalah gadis remaja seperti putrinya. Pada usia mereka yang masih belia saat ini emosi mereka masih belum stabil. Remaja seusia mereka sedang masa-masanya jatuh cinta. "Mengapa harus aku? Tidak adakah pemuda yang bisa ia cintai? Mengapa ia justru menyukai pria yang sebaya dengan ayahnya?"
Yunho memejamkan matanya. Ia mencoba untuk tidur, tetapi ia terus saja mengkhawatirkan Jaejoong. "Orang tuanya tidak mengatakan hal yang aneh tadi. Itu artinya Jaejoong baik-baik saja. Hanya kakinya yang cedera." Ia berusaha untuk berpikiran positif.
.
.
.
"Paman, aku sangat mencintai paman. Aku tidak bisa menahan perasaanku ini." Jaejoong berdiri di atap sebuah gedung. Air mata berlinang membasahi kedua pipinya yang terlihat pucat. Ia terlihat sangat rapuh.
Yunho hanya bisa berdiri mematung sambil memandang ke arah gadis itu. Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
"Paman, aku tidak bisa menahan rasa sakit ini lebih lama lagi." Jaejoong memegangi dadanya. "Aku sudah tidak tahan. Aku tidak sanggup untuk menanggungnya lagi. Aku tidak sanggup untuk melihatmu bahagia bersama wanita lain. Rasanya sangat sakit, Paman. Rasanya sangat sakit, seakan-akan ada ribuan pisau menghujam jantungku."
Yunho ingin menggapai gadis itu dengan kedua tangannya. Namun, ia tidak bisa menggerakkan tangannya.
Jaejoong tiba-tiba tertawa. "Apakah paman tidak ingin menghiburku sedikit saja? Paman bahkan hanya berdiri saja di sana dan tidak mau mendekatiku. Apakah paman begitu membenciku?" Ia kembali menangis. "Apakah aku begitu menjijikkan di mata paman?"
Yunho ingin mengatakan bahwa ia sama sekali tidak membenci gadis itu. Ia menyayangi Jaejoong seperti putrinya. Namun, mulutnya pun tidak bisa berbicara.
Jaejoong mendongakkan wajahnya ke langit. "Aku tidak ingin hidup lagi. Aku hanya bisa berharap bahwa paman tidak akan melupakanku. Saat paman memandang bintang di langit, ingatlah bahwa salah satu bintang tersebut adalah diriku! Selamat tinggal, Paman!" Ia pun melompat dari atap gedung.
"Tidak!" Yunho terbangun dari tidurnya. Ia bermimpi buruk sekali. Keringat membasahi tubuhnya. "Untung saja ini hanya mimpi." Ia mengambil segelas air dari atas meja di samping tempat tidurnya. Ia meneguk air itu. Ia merasa sangat kehausan.
Yunho bersandar pada kepala tempat tidur. Ia merasakan seluruh tubuhnya bergetar. "Jangan sampai hal itu menjadi kenyataan." Yunho kembali berbaring. "Sepertinya aku terlalu menganggap serius ucapan Jun-chan."
Betapa pun kerasnya upaya Yunho untuk kembali tidur, ia tetap tidak berhasil. Ia terus terjaga sampai pagi.
.
.
.
Jaejoong terbangun pada pagi hari. Ia tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam. Tadi malam ia memimpikan Yunho lagi. Hampir setiap malam pria itu menemuinya di alam mimpi.
Jaejoong mulai menggerakkan kakinya. Rasanya sudah tidak selinu sebelumnya. "Sepertinya besok aku sudah bisa beraktivitas lagi."
Jaejoong menoleh ke sampingnya. Ia melihat seikat bunga lili putih di dalam vas bunga. Seingatnya bunga yang diberikan oleh Yoochun bukanlah bunga lili. Siapa yang menaruh bunga lili itu di sini?
Ny. Kim masuk ke kamar Jaejoong. Ia membawakan sarapan untuk anaknya. Ia juga harus membantu Jaejoong berjalan ke kamar mandi. "Ternyata kau sudah bangun." Ia meletakkan semangkuk bubur di samping vas bunga.
"Bu, apakah ibu yang menaruh bunga ini di sini?" tanya Jaejoong penasaran.
"Oh, semalam Tn. Jung datang untuk menjengukmu, tetapi kau sudah tidur. Jadi, ia hanya menitipkan bunga ini untukmu," jawab Ny. Kim.
"Benarkah?" Timbul perasaan senang di hati Jaejoong. Ternyata Yunho tidak sepenuhnya mengabaikan dirinya. Pria itu masih memiliki rasa khawatir kepada dirinya. "Mengapa ibu tidak membangunkanku?" rengeknya.
"Ia tidak ingin ibu membangunkanmu. Ia takut kau akan merasa terganggu," balas Ny. Kim.
Jaejoong memang merasa kecewa karena tidak bisa bertemu dengan pria pujaan hatinya semalam, tetapi ia juga senang karena Yunho cukup perhatian kepadanya. Pria itu bahkan tidak ingin mengganggu istirahatnya.
Jaejoong merasa lebih bersemangat hari ini. Ia mengambil bunga pemberian Yunho dan menciumnya.
.
.
.
"Bagaimana? Berhasil tidak?" Changmin mengikuti Junsu setelah kuliah pertama berakhir.
Junsu tampak cemberut. "Gara-gara idemu itu aku bertengkar dengan ayahku."
Changmin mendecak. "Apakah kau rela Yoochun Sunbae-mu itu menjalin hubungan dengan Jaejoong?" Ia memanas-manasi Junsu. "Kau tidak akan menyerah begitu saja, bukan?"
"Jadi, apa lagi yang bisa kulakukan? Ayahku bersikeras untuk tidak akan meninggalkan kekasihnya itu." Junsu benar-benar kehabisan akal.
"Apakah kau sudah berusaha dengan keras kemarin? Apakah kau sudah menangis sambil berguling-guling di lantai?" Changmin meragukan usaha Junsu.
Junsu mulai merasa kesal kepada Changmin. Bisa-bisanya Changmin meragukan kemampuan aktingnya. Pemuda itu hanya bisa mengkritik, padahal sama sekali tidak membantu pada pelaksanaannya. "Aku sampai berlutut di hadapan ayahku. Namun, ia tetap bergeming."
Changmin terlihat sedang berpikir. "Jika tidak bisa dibujuk, terpaksa kita harus menggunakan cara kotor."
Junsu menatap Changmin penuh curiga. "Apa maksudmu dengan cara kotor? Kita tidak akan melakukan tindak kriminal, bukan? Kau tidak berpikir untuk merencanakan pembunuhan terhadap wanita itu, bukan?"
Changmin tertawa. Lagi-lagi Junsu berprasangka buruk kepadanya. "Tenang saja, kita tidak akan melakukan tindak kriminal. Kita hanya akan sedikit melakukan manipulasi."
Junsu tampak berpikir. Sepertinya rencana Changmin cukup menggiurkan.
TBC
Komentar dari akun resmi akan dibalas melalui PM, nanti. Mohon maaf jika ada yang terlewat.
Sweettaeminee: masa iya Yunho sembarangan mencium.
Aaa: Jihyun tidak membahayakan. Yang menjadi masalah adalah Yunho.
Kinchan: saya tidak bisa menjamin kapan saya bisa update. Sepertinya kamu memang berhalusinasi.
Nani mo: sulit untuk menembus hati Yunho.
Guest: sepanjang cerita, nasib Jaejoong akan menyedihkan, tetapi bukan hanya Jaejoong, Yunho juga.
Guest: ups, menyebut merk. Lain kali jangan disebut selengkap itu ya.
Guest: persahabatan Junsu dan Jaejoong sudah sangat dekat. Junsu tidak akan begitu saja marah kepada Jaejoong.
Guest: ya setuju lah.
Kaihun70: Jae tipe gadis ceria. Walaupun sedih, ia akan baik-baik saja.
Dell: saya tidak bisa menjamin kapan bisa update. Kamu suka ayah teman kamu?
Babiesyunjae: Junsu sangat mendukung.
Chaa: suka belum. Biasa lah laki-laki, duda pula, mudah tergoda.
Guest: ok.
Max choikang: jangan semabarangan peluk-peluk ya. Nanti Yunho marah. Hahaha!
cassie: ya, sangat setuju.
Guest: terima kasih. Semangat!
Rsza: sepertinya kamu salah tangkap. Bukannya Yunho nanti cemburu, tetapi patah hati. Terima kasih. Semangat!
Cassieswift: ya, Junsu setuju. Itu karena minggu lalu libur panjang.
: ya, betul sekali.
Min: Yunho patah hatinya nanti.
Kmg6384: tujuan cerita ini memang untuk membuat pembaca bersedih.
Guest: ok.
Kimjaejoong309: terima kasih atas dukungannya.
Endah Rizkiani: sebenarnya saya ingin temponya lebih cepat, tetapi ternyata tidak bisa.
Hana: semangat!
Chaerashin: Junsu sangat mendukung Jae.
Anggra: saya beri Minsu pada chapter ini.
Mimi love minwoo: sekarang Yunho sudah tahu.
Guestyuyu'kei: sama, saya juga belum tahu pasti bagaimana akhirnya. Yang pasti ini akan berakhir bahagia.
Guest: lanjut!
Guest: saya merasa tidak membuat prolog untuk cerita ini. Terima kasih.
Key'va: masih panjang, tetapi tidak terlalu panjang juga.
Taopanda: tentu saja akhirnya Yunjae karena ini FF Yunjae dengan pair utama Yunjae. Sampai sekarang mungkin belum banyak interaksi Yunjaenya. Mungkin mulai chapter 5 akan lebih banyak.
