Disclaimer: None.
The Other Side
©Amu dröttningu
Salju putih melayang turun menutupi semua yang bisa diraihnya. Seluruh jalanan tertutup putihnya salju. Kemarin malam memang terjadi badai salju yang hebat, dan sampai sekarang pun salju masih terus turun dengan perlahan.
Naruto berjalan diatas hamparan putih salju itu dengan tenang ia tidak perlu takut ada orang yang mengenalinya, karena semua orang memakai jaket tebal bertudung. Apalagi Naruto juga memakai penutup telinga, sehingga ia tidak akan mudah dikenali.
Ia terus berjalan sampai kakinya berhenti di taman Konoha. Ia bisa melihat banyak anak-anak yang bermain salju. Saling tertawa dan bercanda sementara orang tua mereka mengawasi dari jauh. Ada sedikit rasa cemburu di hati Naruto. Terkadang, ia merasa takdir tak pernah adil padanya. Bukankah Tuhan menciptakan manusia di bumi ini dengan derajat yang sama? Tapi kenapa ia dianggap lebih rendah dari pada binatang? Tapi ia tak lagi memikirkan itu. Ia berhenti memikirkannya sejak ia mempunyai cara 'pelampiasan' akan hidupnya.
Naruto mendudukkan diri di salah satu bangku taman itu. Melihat dengan mata sendu kepada anak-anak kecil yang berlarian kesana-kemari tanpa ada perasaan yang membebani mereka. Terkadang ingin rasanya ia membalas perlakuan orang tua mereka padanmya ke anak-anak itu. Tapi ia kemudian sadar, membalas dendam bukanlah hal yanh tepat untuk membuat 'sakit'-nya berhenti. Ia terus tenggelam dalam pikirannya sampai ia merasa ada seseorang duduk di sampingnya. Ia menoleh, melihat Sasuke medudukkan dirinya dengan nyaman di sebelahnya. Naruto memalingakan wajahnya ke anak-anak itu lagi, mencoba menghiraukan kehadiran Sasuke. Merasa percuma menghiraukannya, ia membuka pembicaraan dengan Sasuke.
"Sedang apa kau disini?" ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya. Ia terus menunggu jawaban Sasuke, tapi yang ditanya hanya diam saja. Karena sebal, Naruto berbalik dan menatap tajam kepadanya.
"Kau itu tuli ya?!" ujarnya kesal.
Sasuke hanya menatapnya dengan wajah innocent. "Kau bicara padaku?" Ia bisa mendengar Naruto menggertakkan giginya karena amarah. "Mana kutahu kau bicara padaku, kau tidak menatapku…" ujarnya 'matter-of-factly'.
"Che. Terserah apa katamu" ujar Naruto sambil menggembungkan kedua pipinya. Lalu ia menoleh ke Sasuke lagi, "Jangan-jangan kau membuntutiku ya?" tanyanya dengan nada selidik.
"Dan untuk apa aku membuntimu?" tanya Sasuke balik. "Kurasa tak aka nada manfaatnya"
Naruto termenung sebentar, ia menundukkan kepalanya sehingga poninya menutupi kedua matanya. Sasuke sadar akan implikasi dari perkataannya langsung mencoba untuk menelaskan maksud perkataannya pada Naruto.
"Dengar, maksudku-"
"Tidak", potong Naruto. "Aku mengerti maksudmu" ujarnya sambil tersenyum pahit. "Yang benar saja kau membuntutiku, memangnya aku ini siapa? Aku hanya seorang 'setan kecil' Konoha. Tidak ada artinya buatmu. Seorang Uchiha yang terhormat sepertimu sudah mau memandangku saja, itu adalah hal yang patut disyukuri. Bukan begitu?" ujarnya sambil menatap Sasuke. Sasuke bisa melihat semua rasa sakitnya lewat mata safir itu, yang membuat semua pembelaannya terbang entah kemana. Meninggalkan dirinya terdiam, hilang dalam kehangatan dan pesan yang disampaikan sepasang mata itu.
"Kau tidak perlu pura-pura lagi Sasuke! Aku tahu siapa kau! Kau hanya ingin bermain denganku kan?! Kau akan mencari tahu apa yang ada di balik topeng 'sang setan' lalu menyebar luaskannya ke orang-orang! Manusia macam kalian itu sama sekali tidak berperasaan! Kau pikir bagaimana rasanya menjadi orang yang dikucilkan seperti ini?! Kau tidak tahu bagaimana rasanya kan?!" Naruto berteriak sekencang-kencangnya di hadapan Sasuke.
Ia terus berteriak tentang bagaimana ia diperlakukan selama ini sampai ia berlinang air mata. Semua orang yang ada di taman itu menghentikan segala aktifitasnya. Semua mata tertuju pada sosok Naruto yang kini menangis tersedu-sedu di hadapan Sasuke. Sasuke yang sadar mereka menjadi tontonan segera menarik tangan Naruto dengan lembut dan membawanya ke rumahnya yang tidak jauh dari situ.
Lagi-lagi, Naruto sama sekali tidak melawan ketika ia dibawa ke kediaman Uchiha. Ia baru setengah sadar ketika Sasuke membawakannya segelas air putih. Ia meminum air itu seteguk demi seteguk sampai hatinya merasa lebih tenang. Setelah ia benar-benar sadar akan apa yang telah ia lakukan, wajahnya bersemu merah. Sasuke sepertinya mengetahui hal ini, jadi ia sama sekali tidak marah ketika Naruto berusaha untuk tidak menatap wajahnya.
Naruto sendiri bingung, kenapa ia bisa lepas kendali seperti itu. Apa lagi di depan Sasuke yang baru saja ia kenal.
'Bebar-benar memalukan' pikirnya.
"Kau mau makan? Ini sudah melewati jam makan siang"
Suara Sasuke membuat Naruto mendongakkan wajahnya, yang segera ia sesali karena ia bisa merasakan rona merah di wajahnya kembali lagi. Jadi ia tetap menundukkan pandangannya dari Sasuke.
"U-umm… Aku tidak-"
GRUUUKKK
Suara perut Naruto membuat rona merah di wajah Naruto semakin memerah.
Sasuke tertawa kecil mendengarnya. "Tunggu disini, akan kumasakkan kau sesuatu" ujarnya pada Naruto.
Naruto mengerutkan dahinya. Ia kemudian menatap Sasuke dengan pandangan ingin tahu. "Kau bisa masak?"
Sasuke menaikkan sebelah alisnya. "Tentu saja" ujarnya sambil berdiri dari sofa yang ia duduki. "Ngomong-ngomong dobe, hapus ingusmu. Aku tidak mau makan dengan melihat ingusmu" lanjutnya.
Naruto secara spontan menutupi hidungnya dan meraba-raba apakah ada ingus disana. Ia mengerutkan alisnya ketika ia melihat wajah geli Sasuke.
"Brengsek!" teriaknya sambil melempar bantal dari sofanya ke Sasuke yang ditepis dengan mudah olehnya.
Karena penasaran, Naruto mengikuti Sasuke ke dapur. Ia melihat Sasuke tengah sibuk mempersiapkan bahan-bahannya.
"Kau mau buat apa?" tanya Naruto dari balik bahu Sasuke.
"Miso dan karaage" jawab Sasuke singkat tanpa menatap Naruto.
Mulut Naruto membentuk huruf 'o' tanpa suara. Ia melihat ke sekeliling ruangan. Dapur dan ruang makan di pisahkan oleh sebuah pintu geser yang terbuat dari kertas. Nampaknya dapur adalah tempat satu-satunya yang tidak bergaya barat, tidak seperti ruangan-ruangan lain. Matanya kemudian tertuju pada sebuah celemek yang digantung di samping rak-rak piring. Di otaknya telah munncul ide untuk mengganggu Sasuke. Ia mengambil celemek berwarna pink itu dan berjalan ke arah Sasuke sambil menyeringai.
"Oi Sasuke! Kau melupakan sesuatu" ujarnya saat ia berada dalam jarak satu meter dari Sasuke.
Ketika Sasuke membalikkan badannya, ia menggoyang-goyangkan celemek itu di depan Sasuke.
"Hell no" ujar Sasuke singkat tanpa ekspresi.
Naruto terdiam sebentar, terkejut dengan jawaban super singkat tanpa ekspresi Sasuke untuk kemudian berganti dengan seringai nakalnya.
"Oh ya?" Naruto mengangkat sebelah alisnya sambil terus menyeringai. "Baiklah kalau begitu, aku hanya akan membuat kau memakainya!"
Dan dengan itu, ia berlari ke arah Sasuke.
"Hentikan Naruto!" ujar Sasuke sambil terus berlari menghindari Naruto.
"Ayolah Sasuke, apa salahnya kalau kau memakai ini?" jawab Naruto masih terus menyeringai.
Mereka terus saling mengejar seperti anak kecil sampai Naruto tersandung kakinya sendiri. Saat ia akan jatuh, ia reflex memegang sesuatu yang bisa ia jadikan pegangan, dan tangannya tanpa sengaja menyenggol tepung yang akan digunakan untuk membuat karaage, membuat tubuhnya diselimuti bubuk putih.
Ia terduduk di tempatnya jatuh, melihat tangannya yang tertutup oleh tepung yang menempel.
"Humph…"
Naruto mendongak, melihat Sasuke berusaha mengontrol tawanya yang setiap saat bisa meledak. Ketika Sasuke melihat wajah Naruto yang memerah akibat amarah, tak ayal lagi tawanya langsung meledak membahana. Ia bahkan sampai berguling-guling di lantai.
"Jadi itu lucu ya?" ucap Naruto sambil menggertakkan gigi melihat Sasuke yang tertawa sampai berguling-guling. Ia menyeringai lagi. "Lihat yang ini!"
Dengan sigap ia mengambil tepung sisa yang masih berada di dapur dan mengguyurkannya pada Sasuke, membuat Sasuke terdiam shock.
"Ahahaha! Lihat dirimu!" ejek Naruto sambil menunjuk badan Sasuke yang penuh tepung.
Sasuke menunduk, menutupi wajahnya dengan rambut depannya. "Kau…"
Naruto menghentikan tawanya begitu mendengar suara dari mulut Sasuke. Terdengar serius dan menyeramkan, membuat bulu kuduknya berdiri.
"Jadi kau mau perang ya?" Sasuke mendongakkan wajahnya, sebuah cengiran menghiasi wajahnya. "Akan kulayani"
Kini mereka berganti posisi, Sasuke yang berlari mengejar Naruto dengan sekeranjang telur di tangannya.
"Tunggu! Kau curang!" ujar Naruto sambil mengindari serangan telur Sasuke.
"Lalu?" Sasuke berhenti untuk menarik napas. 'Sialan, dia ini larinya cepat sekali' pikir Sasuke. "Itu bukan urusanku"
Mereka kembali bermain kucing-kucingan di dapur dan beru berhenti setelah Naruto mengangkat kedua tangannya.
"-hosh- Aku –hosh- menyerah…" ujar Naruto disela-sela nafasnya.
Mereka berdua duduk bersebelahan dengan punggung bersandar pada counter. Sasuke melihat sekeliling dapur, tepung bertebaran dimana-mana. Belum lagi bau telur yang memenuhi ruangan itu, benar-benar membuatnya ingin muntah.
Setelah cukup beristirahat, ia beranjak dari tempat duduknya. Ia melihat Naruto telah terlelap di sana, melihat wajahnya yang kelelahan membuat Sasuke tidak tega untuk membangunkannya. Ia memutuskan untuk mandi dulu saja lalu membangunkan Naruto.
*****
"…to"
Naruto merasa seseorang meyentuh pundaknya, tapi ia terlalu malas untuk membuka matanya. Orang itu menyentuh pundaknya lagi, kali ini menggoyang-goyangkannya sedikit. Naruto tetap tidak mau membuka matanya. Ia sudah terlampau nyaman dengan posisinya.
"NARUTO!"
Sebuah teriakan tepat di telinga Naruto sukses membuat mata Naruto terbuka dan bangit dari posisi tidurnya di lantai dengan tiba-tiba, membuat dahinya menabrak sesuatu yang keras.
"Adududuhh" erang Naruto sambil memegangi dahinya yang bisa dipastikan terdapat benjolan sekarang. Ia membuka matanya, kemudian menatap tajam pada pemilik si mata onyx.
"Apa-apaan sih?! Kau mau kepalaku pecah?!" teriaknya pada Sasuke.
"Cih. Tenang saja, biasanya kepala orang bodoh itu keras" ejek Sasuke yang juga sedang memegangi dahinya.
"Apa kau bilang?!" Naruto bangkit dan mencengkeram kerah baju Sasuke.
"Tidak perlu berteriak!" balasnya, membuat Naruto terkejut. "Kepalaku sudah pusing akibat benturan dengan kepalamu itu, tidak usah menambah lagi dengan menyiksa telingaku dengan suara cemprengmu itu" ejeknya lagi.
"Kau…"
Sebelum Naruto sempat berteriak lagi, Sasuke memotong perkataannya, "Lebih baik kau mandi sana! Badanmu bau tahu"
Dan satu tonjokan ringan melayang ke wajah Sasuke.
"Kurang ajar!" ujar Naruto sambil beranjak meninggalkan Sasuke.
Naruto terus berjalan sampai ia berhenti di depan tangga. Ia lupa menanyakan Sasuke dimana letak kamar mandinya.
"Pergi ke atas, ruangan kedua dari kiri. Masuk, kamar mandi ada di sebelah kanan" ujar Sasuke yang bersandar pada pintu dapur, seolah bisa membaca pikirannya.
Dan tanpa ba-bi-bu lagi, Naruto beranjak menaiki tangga dan masuk ke ruangan yang di tunjukkan Sasuke. Ia segera berjalan ke kamar mandi dan membersihkan dirinya dari tepung dan telur yang menempel di tubuhnya. ia keluar setelah merasa segar kembali. Tapi kemudian ia berhenti saat ia melilitkan handuk di tubuhnya.
'Tunggu dulu, bajuku kan kotor. Mana mungkin aku memakainya lagi?' pikirnya.
Ia melihat sebuah bathrobe tergantung di dinding dan memakainya. Ia memutuskan untuk keluar dan bertanya Sasuke apa dia punya baju untuknya. Tepat saat ia membuka pintu, Sasuke menaruh baju ganti untuk Naruto di tempat tidur. Ia tampak sedikit terkejut dengan Naruto yang keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe miliknya.
"Itu baju gantiku?" tanya Naruto saat ia melihat Sasuke tidak juga mengalihkan perhatiannya pada dirinya, membuat pipinya terbakar kembali.
"Ya. Itu bajuku dulu, mungkin masih agak kebesaran untukmu" ujar Sasuke sambil mengangkat pundaknya. "Kecuali kalau kau memutuskan untuk pulang kerumahmu dengan keadaan seperti itu" lanjutnya dengan seringai nakalnya yang dibalas dengan tatapan tajam oleh Naruto.
"Tidak, terimakasih. Sekarang, kalau kau memperkenankan diriku untuk berganti baju, tuan Uchiha" balas Naruto dengan nada mengejek.
"Aku tidak masalah kok kalau kau berganti sekarang" ujar Sasuke.
"Pervert!" Naruto melempar bantal pada Sasuke yang membuat Sasuke berlari keluar kamar dan menutup pintunya. "Dasar Sasuke bodoh!" gerutu Naruto dengan pipinya memerah.
Ia melihat sekeliling ruangan itu ketika ia telah selesai berganti baju. Ia asumsikan bahwa itu adalah kamar Sasuke dilihat dari barang-barangnya. Matanya kemudian tertuju pada sebuah foto di meja nightstand di samping tempat tidur. Foto yang sama dengan yang dia lihat di ruang tamu.
"Kau sudah selesai?" tanya Sasuke dari luar.
"Ya" jawab Naruto.
Sasuke membuka pintu kamarnya dan mendapati Naruto sedang mengamati foto keluarganya. Ia melihat mata sendu Naruto ketika melihat foto itu.
"Itu buatan computer" ujar Sasuke tiba-tiba.
"Apa?" tanya Naruto bingung.
"Foto yang kau pegang itu" Sasuke beranjak dan mendudukkan dirinya ke tempat tidur, memunggungi Naruto. "Itu adalah buatan computer"
"Tapi, foto ini terasa…" Naruto membiarkan kalimatnya tergantung.
"Nyata? Ya. Keluargaku hampir tidak pernah berkumpul, untuk merencanakan makan malam bersama saja susah. Apalagi meluangkan waktu untuk sekedar berfoto bersama" ujar Sasuke datar.
Naruto meletakkan foto itu kembali ke tempatnya dan mendudukkan dirinya di samping Sasuke.
"Pasti berat untukmu" ujar Naruto. "Merasa sendirian itu, memang berat" lanjutnya.
Sasuke menoleh ke Naruto. "Karena itu, jangan mencoba menutupinya" ujar Sasuke.
Naruto menatap tangan Sasuke yang berada di atas tangannya, menggenggamnya dengan erat. Naruto mendongakkan wajahnya dan bertemu dengan sepasang mata serius milik Sasuke.
"Jangan bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Itu hanya akan membuat semuanya menjadi lebih buruk. Jadilah dirimu sendiri Naruto" ujar Sasuke, matanya melembut. "Aku pernah bilang kan, kau bisa datang padaku"
Dan saat itu adalah saat yang terindah dalam hidup Naruto. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa tenang. Ia menangis malam itu, dan Sasuke hanya mendekapnya. Tidak berbicara sepatah kata pun. Karena terkadang, kita tidak perlu melakukan sesuatu untuk menunjukkan rasa peduli kita. Mungkin cukup hanya dengan sebuah dekapan, membuat semuanya menjadi lebih baik. Karena suatu saat, salju yang turun dari langit malam itu, akan pudar seiring dengan datangnya musim semi.
*****
