A/N : Deng deng deng...

Inilah Wedding Night yg telah lama dinantikan... *kepedean*.

Gomen, Kura baru bisa update. Kura lagi kena 'sindrom males nulis' akut. Baru sembuh sabtu kemarin. Hehehe...

Oh, yach di chap ini Kura mau coba nulis pake POV.

Warning : Ratenya mungkin jadi semi-M. Sebenarnya sih Kura g tahu batasan yang dipakai buat setiap rate, tapi karena chap ini sedikit 'menjurus' dan ada umpatannya, jadi Kura naikin jadi rate semi-M dech. Menurut kalian gimana? Apa ini masih bisa dimasukkan rate T?

Thank you for all reviewer : Naughty As Me, lonelyclover, DraMione4ever, Diggory Malfoy, Succubus, wineyWeenDyne, saya, yowkid, Cilla CL 'Dramione', JustDracoHermione, yanchan, atacchan, Ritsu ayumu, degrangefoy, nnrst, Khaylila Prayoga. Dan juga para silent reader...

Yang punya account di FFn, Kura bales review lewat PM. Yg anymous, buat account, dong! *maksa- ditendang ma DraMione4ever, Succubus, wineyWeenDyne, saya, yowkid, JustDracoHermione, yanchan, nnrst*

Chapter 4

Disclaimer : Harry Potter punyanya JK Rowling.

oOOo oOOo oOOo

Malam telah larut ketika Hermione terbangun dari tidur sesaatnya. Kamarnya masih dalam keadaan yang sama seperti sebelum Hermione tertidur. Sisi kanan tempat tidurnya -sisi yang akan ditiduri Draco- masih belum terjamah sama sekali. Itu berarti Draco belum masuk ke kamar itu.

Hermione menghela nafas panjang. Seharusnya ini adalah malam pengantinnya, tapi sepertinya Sang Pengantin Pria tak punya keinginan untuk berdekatan dengannya.

Hermione bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendela yang ada di dekat ranjangnya. Hermione berdiri di depan jendela, memandangi kamar tempatnya berada sekarang. Tadi sore ia tak sempat memperhatikannya karena terlalu gugup. Narcissa tadi mengatakan kalau kamar ini adalah kamar milik Draco. Ukuran kamar ini cukup besar untuk dihuni oleh satu orang. Ranjangnya berukuran besar dan berkanopi. Ranjangnya besar,kira-kira dapat ditiduri oleh 4 orang dewasa. Letak ranjang itu berada di tengah-tengah kamar.

Pintu masuk kamar ini ada di bagian kanan kamar. Lemari dan pintu kamar mandi terletak juga di bagian kanan kamar. Sedangkan di bagian kiri terdapat sebuah meja kerja kecil, kursi pasangannya, meja rias dan sebuah lemari lagi. Lemari dan meja rias itu adalah tambahan untuk kehadiran Hermione. Sedangkan jendela terletak di dekat meja yang ada di sisi-sisi ranjang.

Hermione menyikap tirai yang menutupi jendela kamarnya. Langit malam yang yang dihiasi bulan dan bintang terlihat lebih jelas dari jendela kamar yang terletak di lantai tiga ini. Bulan yang telah tinggi menandakan malam telah berjalan separuh.

Ketika upacara pernikahan itu berlaangsung tadi, Hermione berusaha bersikap tenang. Senyuman kecil yang terukir di bibirnya selama upacara berlangsung adalah kedok untuk menutupi hatinya yang kacau. Padahal hatinya seperti diporak-porandakan badai tornado. Dan sepertinya kedok kecilnya itu berhasil. Tak ada satu orang pun yang curiga, kecuali Narcissa.

Saat masih kecil, layaknya seorang anak perempuan yang lain, Hermione pernah bermimpi menjadi seorang pengantin. Di mimpinya, dia yang memakai gaun pengantin putih bersih menjuntai indah ke lantai menyusuri jalan menuju altar diantar oleh ayahnya. Di kanan-kirinya berjajar keluarga dan sahabat-sahabat dekatnya. Dan di altar, berdiri pendeta yang tersenyum berwibawa ke arahnya. Pria yang sangat dicintainya itu berdiri dengan bangga di antaranya dan pendeta. Pria itu memamerkan senyum paling bahagia yang pernah di lihat Hermione.

Namun tak satupun dari mimpi itu yang menjadi kenyataan. Ayahnya tak bisa mengiringi jalannya menuju altar karena ayahnya telah melupakan dirinya. Bahkan ayahnya bahkan tak ingat ia mempunyai seorang anak perempuan. Meskipun Hermione sendirilah yang membuat orangtuanya tak mempunyai ingatan akan dirinya, mau tak mau Hermione merasa sedih.

Hermione merapatkan jubah tidurnya, tiba-tiba ia merasa dingin. Entah karena ia sangat merindukan orangtuanya atau karena angin malam yang masuk melalui celah-celah kecil jendela yang tak tertutup sempurna. Jubah tidurnya yang tipis tak bisa mengurangi rasa dingin yang mulai menusuk kulitnya.

Cukup lama Hermione berdiri di dekat jendela sambil memeluk tubuhnya yang kedinginan dan tak ada tanda-tanda kedatangan Draco. Kalau saja tongkat sihirnya tidak 'disimpan sementara' oleh Lucius, ia bisa mengeluarkan mantra yang dapat menghangatkan suhu kamar. Sambil menghela nafas yang panjang, Hermione berjalan melintasi ruangan menuju kamar mandi. Ia ingin berendam air hangat untuk sedikit mengurangi rasa dingin yang menusuk kulit ini.

oOOo oOOo oOOo

Sementara itu Draco tengah berada di perpustakaan membaca sebuah buku tebal dengan segelas vodka di tangannya. Setelah upacara pernikahannya yang aneh itu berakhir, Draco mengurung diri di perpustakaan sendiri. Tanpa melepas jas putih pengantinnya. Sekarang jas itu tergeletak di salah satu kursi yang ada di sana. Dua kancing teratas kemejanya terbuka dan lengan kemeja itu tergulung separuh.

Draco duduk di kursi bersandaran tinggi yang ada di dekat jendela dengan buku di pangkuannya, tangan kiri menopang dagu, sementara tangan kanan memegang gelas berisikan vodka yang tinggal separuh. Sesekali Draco membalik halaman buku tebalnya itu sambil menyesap vodka hangatnya.

Draco sadar betul saat ini Hermione pasti menunggu di kamarnya dengan cemas. Draco mendecih ketika pikiran itu sekali lagi melintas di kepalanya. Padahal tadi pikiran itu sempat hilang dari otaknya. Draco masih tak memahami tujuan Hermione menikah dengan dirinya. Ia akan mencari tahu nanti.

Draco melirik langit yang terlihat dari jendela yang tirainya belum tertutup di dekatnya. Langit menunjukkan waktu telah melewati tengah menutup bukunya yang tinggal sedikit lagi mencapai akhir itu dan menegak habis sisa vodka di dalam gelasnya.

"Waktunya kembali ke kamar. Semoga dia masih menungguku." Gumam Draco seraya berdiri dari kursinya."Atau dia sudah ke alam mimpi lebih dulu." Draco tertawa sinis.

Setelah menutup semua jendela dan mengembalikan bukunya kembali ke rak, Draco keluar dari perpustakaan menuju ke tidurnya terletak di bagian barat Malfoy Manor. Sisi barat adalah bagian dari Malfoy Manor yang merupakan tempat pribadi Draco. Selain kamar tidur, di sisi barat juga terdapat ruang belajar dan perpustakaan pribadi milik Draco, serta ruang tamu mini dan beberapa kamar tamu untuk teman-teman Draco yang berkunjung.

Draco berjalan dengan santai menuju ruang pribadinya. Tidak ada keinginan untuk mempercepat langkahnya atau ber-apparate ke kamarnya. Sebenarnya ia bisa ber-apparate ke ruang pribadinya itu, tapi ia tak melakukannya. Seperti rumah keluarga penyihir yang lain, seorang penyihir bisa ber-apparate di dalam rumahnya, dari satu ruang ke ruang yang lain. Hanya saja ruangang yang di maksud adalah ruang pribadi penyihir tersebut. Mereka tak bisa ber-apparate di ruangan-ruangan yang digunakan bersama, seperti ruang tamu dan ruang makan.

Draco membuka pintu kamarnya, dan masuk. Udara dingin menyapanya begitu ia masuk. Sepertinya mantra penghangat ruangannya sudah memudar dan ia segera memperbaikinya. Udara yang menusuk kulit perlahan-lahan mulai menghangat. Sekilas ia melirik ranjangnya yang seharusnya ada Hermione kini kosong. Namun ia tak panik karena bed cover sisi kiri ranjang itu kusut, menandakan seseorang pernah tidur di sana. Dan ia juga mendengar suara gemercik air dari kamar mandi.

Draco mulai melucuti setelan jas pengantinnya dan menggantinya dengan piyama yang biasa ia pakai. Sebenarnya ia hanya memakai bagian bawah dari piyama hijau silvernya. Draco sudah terbiasa tidur bertelanjang dada dan tak berniat merubah kebiasaannya hanya karena kehadiran Hermione. *Kura tepar bayangin Draco telanjang dada*

Draco duduk di ranjangnya sejenak sebelum ia merebahkan diri dan memejamkan mata. Dan tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka...

oOOo oOOo oOOo

Di paviliun terpisah Malfoy Manor, Voldemort beserta pelayan setianya bertemu dengan Lucius dan Narcissa.

"Wormtail, ambilkan ramuan yang ada di mejaku!"Perintah Voldemort pada pelayannya.

"Baik, Tuanku."Jawab Wormtail seraya mengundurkan diri dari hadapan mereka.

"Lucius, bagaimana menurutmu? Apa Hermione pantas jadi menantumu?"Tanya Voldemort pada Lucius.

"Tentu, Tuanku."Jawab Lucius dengan hormat. "Pilihan Tuanku pasti tak salah."

"Hmm..."Respon Voldemort. " Bagaimana denganmu Cissa?"

"Tuanku, menurut hamba, Hermione merupakan penyihir keturunan Muggle yang terbaik. Jadi hamba yakin Hermione mempunyai gen yang baik."Jawab Narcissa.

"Apa kau yakin akan kesetiaannya?"

"Hamba yakin Hermione tidak akan berani berkhianat. Cincin pernikahan yang dipakainya akan mengikat dia selamanya dengan Draco dan keluarga Malfoy. Dan keluarga Malfoy akan setia pada Tuanku."

"Bagus."Jawab Voldemort.

Tak lama kemudian, Wormtail muncul dengan sebotol kecil ramuan berwarna biru torquise dan meletakkannya di meja di depan mereka.

"Berikan ramuan ini pada menantu kalian, dan pastikan dia meminumnya setiap pagi."Ucap Voldemort.

"Ramuan apa ini, Tuanku?"Tanya Lucius ingin tahu.

"Ramuan untuk meningkatkan kekuatan sihir janin yang akan dikandungnya nanti."Jawab Voldemort. "Pastikan kalian memberikannya setiap pagi, tiga tetes saja cukup."

"Baik, Tuanku."Jawab Lucius dan Narcissa bersamaan.

"Berikan ramuan ini besok padanya, dan ingatkan dia untuk setiap hari meminumnya. Tapi jangan katakan ini adalah kegunaan ramuan ini sebenarnya. Katakan saja ini ramuan untuk menguatkan janin. Dan efek dari ramuan ini adalah dapat membuat emosi Hermione menjadi labil."Ucap Voldemort panjang lebar.

"Baik, Tuanku."

"Kalian boleh pergi!"

Lucius dan Narcissa keluar dari paviliun itu. Setelah memastikan mereka telah menjauh, Voldemort menyeringai kejam. Wormtail yang melihat hal itu merinding tak karuan. Tuannya telah merencanakan sesuatu yang kejam.

oOOo oOOo oOOo

Hermione's POV

Hawa dingin yang menusuk kulitku langsung hilang sesaat aku mulai berendam. Andai saja tongkat sihirku tidak disita oleh Lucius, aku tak akan perlu repot-repot berendam. Aku hanya perlu mengeluarkan mantra untuk menghangatkan ruangan. Yah, memang tongkat sihirku disitanya agar aku tak kabur.

"Memangnya aku bisa kabur? Sekali aku memutuskan sesuatu, aku akan melakukannya sampai akhir..."Keluhku.

Setelah merasa cukup hangat, aku keluar dari bak mandi yang berisi air hangat. Betapa kagetnya aku, ketika udara hangat menyapa kulitku yang tak tertutup apa-apa. Pasti ada sesorang yang membuat udara di ruangan ini menghangat.

"Pasti Draco." Gumamku.

Rasanya aneh sekali memanggil Draco Malfoy dengan nama kecilnya. Tapi akan lebih aneh lagi kalau aku tetap memanggilnya Malfoy. Karena namaku sekarang juga Malfoy. Hermione Jane Malfoy.

Aku mengenakan kembali baju tidur yang diserahkan padaku tadi sore oleh Narcissa. Lingerie sewarna daun yang bersemi di musim semi yang tipis dan berenda. Lingerie itu tak mampu menutupi bagian tubuhku yang seharusnya tertutup. Aku terlalu malu untuk melihatnya sehingga aku melapisinya dengan jubah tidur sewarna.

Kubuka pintu kamar mandi, dan dugaanku benar. Draco sudah kembali. Ia sudah merebahkan diri di ranjang dengan bertelanjang dada menatap ke arahku.

End POV

oOOo oOOo oOOo

Draco melihat Hermione masuk ke dalam kamar dengan memakai jubah tidur berwarna hijau muda dengan rambut digelung tinggi. Hermione berjalan dengan tenang ke arah meja rias. Hermione membuka gelungan rambutnya dan mulai menyisirinya dengan perlahan. Sementara mata Draco melekat padanya.

"Hei, Darah Lumpur."Panggil Draco.

Hermione tak menjawab apapun, bahkan juga tak menoleh.

Merasa tak dihiraukan, Draco sekali lagi memanggilnya. Tapi panggilannya berubah.

"Granger..."

Hermione menoleh namun tetap tak menjawab. Ia menatap Draco dengan tatapan 'ada apa'

"Kenapa kau setuju menikah denganku?"Tanya Draco yang kini tidur miring menghadap ke arah Hermione.

"Aku tak punya pilihan lain."Jawab Hermione, kembali meneruskan pekerjaannya menyisiri rambut.

"Hn, begitukah?"

Hermione meletakkan sisirnya dan berjalan menuju ke arah ranjang. Ia duduk di tepi ranjang sejenak sebelum menaikkan kakinya ke atas ranjang.

"Kalau kau, Draco?"Tanya Hermione mengembalikan pertanyaan Draco.

"Aku ingin sedikit terbebas dari belenggu Pangeran Kegelapan."Jawab Draco seraya menatap kanopi ranjang."kata Ibu, caranya adalah dengan menikah denganmu."

Hermione menatap Draco tak percaya. Sebelumnya Hermione ragu Draco akan menjawab pertanyaannya. Ia sangat yakin Draco akan berkata 'bukan urusanmu, Darah Lumpur'.

"Kenapa kau bisa kemari, Granger? Bukankah kau seharusnya berada bersama Potter dan Weasley?"Draco kembali menatap Hermione.

"Kau belum dengar beritanya?"Tanggap Hermione tak percaya Draco belum mendengar apapun tentang alasannya masuk ke Malfoy Manor.

"Cih, Kau kira aku orang bodoh yang percaya begitu saja pada bualanmu yang kau ceritakan pada mereka."Draco menjawab dengan sinis."kau kira aku percaya akan pengkhianatanmu pada Potter?"

Draco menatap Hermione dengan tajam. Di bibirnya tersungging senyuman sinis. Hermione menatap balik tatapan tajam Draco.

"Kau berkata seolah kau tahu segalanya tentang diriku."Balas Hermione tidak kalah sinis.

"Demi Merlin, Granger!"Seru Draco tak percaya. "Kau itu tipe orang yang akan setia pada sahabatmu sampai mati. Enam tahun bermusuhan denganmu di Hogwarts cukup untuk mengetahui karaktermu itu."

Hermione menghela nafas panjang.

"Aku ingin melakukan sesuatu yang berguna untuk mereka."Jawab Hermione menyerah. Lagipula tak ada gunanya menyembunyikan niatnya pada Draco. Karena mereka sama-sama tak punya pilihan. "Dan kumohon, jangan tanya lebih lanjut lagi!"

"Bodoh sekali dia, percaya padamu begitu saja."Cemooh Draco pada Voldemort tidak langsung.

"Dia membutuhkanku..."Jawab Hermione sambil mengangkat bahu.

"Untuk menghasilkan penyihir-penyihir berdarah campuran."Lanjut Draco.

"Penyihir-penyihir?" Ucap Hermione bingung. "Hei,,, berarti kita harus punya anak lebih dari satu?"

"Ya, begitulah yang kudengar."

"Damn it!"Umpat Hermione. "Dia kira punya anak gampang."Gumamnya pelan.

"Melahirkannya memang susah, tapi membuatnya sangat mudah."Ucap Draco dengan nada bicara menggoda."Kau akan sangat menyukainya, Hermione"

"Sialan kau, Draco! Aku sedang berbicara serius."Sergah Hermione dengan semburat merah di pipinya.

"Hei, aku juga serius. Kau pikir bagaimana wanita bisa hamil? Minum obat?"Seru Draco.

Hermione mengalihkan wajahnya, malu karena ucapan Draco sebelumnya.

"Hermione."Panggil Draco. Untuk pertama kalinya Draco memanggil nama kecilnya."ini adalah keinginan Pangeran Kegelapan dan kita terikat padanya." Ucap Draco sambil menyapukan jemarinya ke lengan kiri Hermione yang tergambar Tanda Kegelapan.

Sekali lagi Hermione menghela nafas. Dan Hermione menatap Draco dengan tatapan 'kau benar'.

"Aku tahu, Draco."Jawab Hermione singkat.

Hermione merebahkan diri di samping Draco. Ia berbaring miring dan tidur berhadap-hadapan dengan Draco. Mereka saling menatap tajam, namun perlahan tatapan itu melembut. Tangan Draco menyentuh pipi Hermione yang mulai memerah. Jari-jemari Draco membelai pipinya perlahan. Baru kali ini pipi Hermione disentuh oleh orang lain selembut ini.

Jemari Draco merambat ke bibir Hermione. Draco membelai lembut bibir bawah Hermione dengan ibu jarinya. Kemudian Draco perlahan mengurangi jarak mereka dan menyatukan bibirnya dengan bibir merah Hermione. Ciuman pembuka yang lembut. Sekali lagi, Draco menyatukan bibir mereka. Ciuman kedua yang lebih lama dari yang pertama.

Draco meraih bagian belakang leher Hermione dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya meraih pinggang Hermione, menghilangkan jarak yang masih tersisa. Sekali lagi Draco mencium Hermione. Kali ini bukan lagi ciuman lembut seperti sebelumnya. Ciuman ini adalah ciuman dalam. Ciuman yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih.

Saat ciuman-ciuman Draco diberikan padanya, Hermione hanya bisa memejamkan mata. Berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak tak karuan. Ciuman-ciuman Draco sangat berbeda dengan ciuman-ciuman Ron atau bahkan ciuman dari Viktor. Setelah ciuman kedua, ciuman Draco menjadi semakin dalam. Dan tangannya juga tidak diam.

Terasa sentuhan lembut di pipi kiri Hermione membuat Hermione membuka mata. Draco menatap lurus ke matanya dengan tatapan yang lembut.

"Kalau ini bisa membuat hidupku sedikit lebih bebas aku akan melakukannya."Ucap Draco.

"Kalau ini bisa membuatku berguna untuk mereka, aku akan melakukannya. "Balas Hermione.

Dan mereka kembali berciuman. Berciuman dengan sangat dalam.

oOOo oOOo oOOo

Di suatu tempat di tengah Hutan Terlarang, Harry dan Ron tengah mendiskusikan berita yang ada di Prophet.

"Hermione tidak akan sudi menikah dengan Si Ferret itu! Dia pasti terkena mantra Confundus!" Seru Ron tak percaya.

"Diamlah, Ron!"Seru Harry.

"Demi Merlin, Harry!"Seru Ron pada Harry. "Apa kau percaya begitu saja dengan berita itu? Itu berita bohong yang disebar untuk memancingmu keluar!"

"Kalau mereka ingin memancingku keluar, mereka bisa menyandera Hermione, menyiksanya sampai babak belur atau perbuatan kejam lain. Bukan dengan hal semacam ini. Bukan dengan berita pernikahan. Pernikahan penyihir berdarah murni dengan penyihir Muggleborn. Dan ini bukan sembarang penyihir berdarah murni. Ini adalah keluarga Malfoy. Keluarga Malfoy, Ron. Draco Malfoy!" Jawab Harry panjang lebar.

"Tapi, Harry. Hermione pasti akan menolaknya! Ia sangat benci pada Si Ferret itu!"Ucap Ron bersikukuh.

"Kalau berita ini benar, berarti Hermione selamat. Ia masih hidup."

"Cih, hidup dalam penjara."

"Ron, sudahlah!"Sergah Harry pada Ron yang dari tadi terus mengoceh. "Hermione selamat. Itu yang terpenting."

"Yah yah yah. Kau bos-nya."Ucap Ron menyerah.

Seekor burung hantu masuk melewati jendela tempat tinggal sementara mereka. Burung hantu itu adalah salah satu burung hantu milik keluarga Weasley, tepatnya milik Bill. Burung hantu itu membawa sebuah surat yang dilipat sedemikian rupa sehingga menyerupai seekor tikus -tikusnya bisa bergerak-. Ini dilakukan untuk mengelabui penglihatan Pelahap Maut.

Surat itu ditulis oleh Mr. Weasley.

Dear Harry,

Dear Ron,

Dear Hermione (kami harap kau ada bersama Harry dan Ron),

Kami yakin kalian pasti sudah membaca berita yang ada di Daily Prophet. Kami belum tahu apa berita itu benar. Yang kami tahu Hermione bersama kalian. Dan kami harap Hermione masih bersama kalian.

Kami ingin bertemu kalian secepat mungkin. Datanglah ke tempat biasa setelah matahari terbit pada hari ketiga belas di bulan Oktober

Hancurkan pesan ini setelah kalian membacanya.

Arthur

"Hari ke-tigabelas adalah besok. Berarti kita harus berangkat malam ini ke The Burrow."Ucap Harry."Ayo, kita berkemas, Ron!"

"Yah, ayo."Jawab Ron malas.

Mereka pun berangkat menuju ke The Burrow, tempat tinggal lama keluarga Weasley yang sekarang tinggal puing-puing.

oOOo oOOo oOOo

TBC

End Note : Fuuhhh, chap ini selesai juga.

Chap depan, Kura mau nampilin 'the morning after' dan kehidupan Hermione sebagai Mrs. Malfoy. Dan juga diskusi antara keluarga Weasley dan Harry.

So, Let me know what you think!

Kurarin