Chapter 3
DISCLAIMER: Yunjae milik diri mereka sendiri. Author tidak punya kuasa apapun atas semua tokoh dalam ff ini. Tapi, line story PURE MINE.. murni milik imajinasi liar author seorang. Hahaha.. Terima Kasih ^^)v
TITLE: DEAR BEAR
Author: ReDeviL9095
Main Cast: Jung Yunho, Kim Jaejoong
Other Cast: Bae Seulgi, Shim Changmin, Choi Siwon
Genre: Romance
WARN: Rated M! BOYS LOVE, BL, YAOI, AU, OOC, Typo(S), Dont like dont read... Thank you
.
.
.
.
.
.
Sejak Yunho tahu jika Hana menyukai Jaejoong, dia jadi sering mengajak putrinya jika hendak bertemu dengan Kim cantiknya itu.
Seulgi curiga... Dia pernah bertanya pada Yunho kenapa sekarang suaminya senang sekali mengajak anaknya keluar setiap hari minggu. Mungkin jika alasan Yunho adalah karena dia ingin membawa anaknya jalan-jalan seharusnya dia juga mengajak serta istrinya bukan?
Tapi tidak... Sayangnya Yunho selalu membawa putrinya saja tanpa berniat memahami bahwa sang istripun ingin pergi bersama anak dan suaminya.
Ada yang mulai berubah pada Yunho... Seulgi paham itu.
.
.
.
"Hari ini kalian akan pergi jalan-jalan kemana?" Wanita cantik itu menghampiri Yunho yang sedang memakaikan dress baby blue pada tubuh mungil sang buah hati.
"Aku ingin mengajak Hana kencan di bioskop," jawab Yunho asal-asalan. Dia sebenarnya tidak tega membohongi istrinya terus-terusan seperti ini. Bagaimanapun Seulgi punya hati, dia bisa merasakan sakit dan terluka jika Yunho bersikap seolah tidak mengharapkan kehadirannya.
Padahal beberapa waktu lalu mereka masih baik-baik saja... Masih berbagi canda dan tawa bersama, serta berbagi... ranjang.
Namun suatu hari Yunho seolah terasa dingin... Seulgi yakin ada yang salah dengan suaminya.
Dan sebenarnya alasan dibalik sikap Yunho hari itu adalah karena dia memikirkan ucapan Jaejoong. Ucapan lelaki cantiknya.
Meski kalimat itu sangat pendek, tidak sepanjang seperti kalimat saat Jaejoong menyuruh dia untuk memilih antara si cantik Kim atau si manis Bae Seulgi. Namun perkataan itu sungguh dahsyat efeknya untuk Yunho.
Karena entah memiliki kebenranian darimana, Jaejoong dengan tegas meminta Yunho bercerai dengan Seulgi.
"Bolehkah aku ikut Yun?" tanya Seulgi memelas.
Yunho menoleh ke arah istrinya, membuang sekelebat bayang-bayang percakapan dirinya dengan Jaejoong beberapa waktu lalu.
"Kau mau ikut?"
"Tentu, kita ini keluarga kan?! Jadi tidak salah kalau akhir pekan ini kita menghabiskan waktu bersama," tutur Seulgi. "Rasanya sudah lama sekali kita tidak jalan-jalan bertiga seperti dulu lagi," Lanjutnya.
Melihat air muka istrinya yang penuh harap, Yunho jadi tidak kuasa untuk mengecewakannya. Tapi bagaimana dengan Jaejoong? Dia sudah terlanjur memiliki janji dengan lelaki cantiknya terlebih dahulu.
"Bolehkan Oppa?"
Dada Yunho berdesir... Seulgi selalu punya kebiasaan akan memanggilnya Oppa jika dia sudah merajuk.
"Baiklah, kkajja... Kau ganti bajulah terlebih dahulu, aku akan menunggumu."
.
.
.
.
.
Jaejoong mematut dirinya di depan cermin besar yang tergantung di sudut kamar miliknya. Bibir berwarna pink itu tersenyum lebar membayangkan bagaimana hari yang akan dilaluinya di minggu pagi ini.
Siulan kecil bernada riang melantun dari bibir menggoda itu. Jaejoong sudah tidak sabar untuk bertemu Hana dan Yunho. Hari ini mereka sengaja janjian untuk menonton film di bioskop.
Kencan eoh?
Bisa dibilang seperti itu. Tapi daripada kencan Jaejoong lebih senang menyebutnya dengan kebersamaan keluarga.
Bolehkah Jaejoong beranggapan seperti itu?
Jaejoong sungguh tulus menyayangi anak Yunho. Dia bahkan sudah beranggapan jika Hana juga tak ada ubahnya seperti anak dirinya sendiri.
Mungkin terkesan kejam dan tidak berperasaan kalau saja Seulgi tahu apa yang sudah mereka lakukan selama ini. Jaejoong sudah merebut hati Yunho dari istrinya, dan sekarang Jaejooong juga sudah mencuri perhatian Hana yang selalu manja jika bayi kecil itu berada dalam rengkuhannya.
Bila mana apa yang sedang dilakukannya dengan Yunho adalah segunung dosa, lalu kenapa Tuhan membiarkan hatinya jatuh cinta pada seorang yang sudah beristri?
Jaejoong kadang sering berpikir, jika kehidupannya adalah sebuah lakon drama maka disini dia berperan sebagai siapa? Apakah dirinya hanyalah sebagai kerikil yang secara tidak sengaja hadir di atas jalanan beraspal sebuah rumah tangga sepasang suami istri? Ataukah dia disini justru sebagai tokoh utama yang kebetulan mendapat peran pahit dalam paragraf awalnya saja?
Entahlah... Jaejoong tidak tahu...
.
.
.
.
.
Bimbang, Yunho merasa seperti lelaki brengsek yang kemarin bilang ya pada Jaejoong sementara hari ini dia bilang ya pada Seulgi.
Tanpa persiapan, tanpa pemikiran matang, Yunho seperti sudah gila dengan mempertemukan dua orang cinta dan sayangnya disaat bersamaan. Ini mungkin lucu, karena sudah terlanjur janji serta tidak ingin mengecewakan keduanya Yunho berniat mengenalkan Jaejoong pada Seulgi begitupun sebaliknya.
"Seulgi yah... Dia Jaejoongie, teman akrabku."
Seulgi tersenyum manis dengan membungkuk sekilas ke arah Jaejoong. Keduanya berkenalan, keduanya saling memperkenalkan diri.
Sementara dalam otak Jaejoong dia sedang mencerna ucapan Yunho. Teman akrab? Cih, akrab yang seperti apa maksudnya? Akrab di atas ranjang?!
"Istrimu cantik sekali Yunho yah... Sayang sekali, tahu begini kenapa tidak aku duluan saja yang bertemu dengannya." Jaejoong merasa seperti tercekik candaannya sendiri. Dia sebenarnya berusaha melucu, tapi justru kelucuannya itu yang terasa manis di wajah namun pahit di lidah.
"Ah Jaejoong sshi bisa saja..." respon Seulgi tanpa bisa menyembunyikan rona merah muda pada kedua pipinya.
"Jangan seperti itu Mrs. Jung.. Panggil saja aku Jaejoong. Tetapi aku akan lebih senang jika kau mau menanggilku Oppa."
DAMN!
Terus saja Jaejoong. Mahir sekali aktingmu ini? Aktor saja butuh skrip tapi kau dengan lancarnya langsung mempraktekan apa yang menyangkut di dalam isi kelapa dengan spontan. Ckckckck benar-benar jenius!
"Hahahah... " Seulgi tertawa. "Kau lucu sekali Oppa, tapi ngomong-ngomong jika kau adalah teman dekat Yunho kenapa selama ini aku tidak tahu?"
"Oh, tentu saja karena Yunho takut aku terpesona oleh dirimu dan berubah menjadi teman yang berani merebut istrinya.."
Jaejoong dan Seulgi larut dalam candaan mereka. Sementara itu sang biang kerok tak berani mengeluarkan suara. Yunho seolah di lem di atas kursi yang dudukinya. Diam, kaku, tak berniat bergerak barang seinchi pun.
"Ppa!" Jaejoong melirik Hana yang menggerak-gerakan tangan ke arahnya. Bocah itu seolah minta digengong dirinya.
"Dia bilang apa barusan? Pa? Jangan-jangan anakmu juga berharap aku yang menjadi Appanya." Jaejoong semakin melantur.
Cemburu, kecewa, sakit hati, dan sebungkus bahan baku yang terasa nyeri di hati, serasa dipaksa diaduk menjadi satu di dalam perut Jaejoong.
Mual.
Tentu! Dia merasa mual melihat bagaimana lembeknya Yunho sekarang.
Lihat! Si gagah perkasa yang selalu mendominasi dirinya di atas ranjang ini tak ubahnya seperti ubur-ubur tak bertulang. Bagaimana bisa ada manusia seperti Jung Yunho? Yang membiarkan dirinya dipecundangi sedemikian rupa?
FUCK!
.
.
.
.
.
Yunho pamit pada Seulgi saat Jaejoong hendak ke kamar mandi. Ada banyak hal yang ingin dia jelaskan pada lelaki cantiknya itu.
"Kau sengaja melakukan ini semua eum?" Jaejoong berkata sedikit ketus saat keduanya sudah berada dalam kamar mandi yang kebetulan sepi tak ada orang selain mereka berdua.
"Aku benar-benar merasa seperti orang bodoh karena sudah menunggu kehadiranmu di depan pintu bioskop tapi kau malah tidak kunjung datang melainkan menyuruhku untuk menjadi obat nyamuk keluargamu."
Yunho mencoba meraih salah satu lengan Jaejoong. Berusaha membalikkan posisi lelakinya yang sejak tadi memunggungi Yunho seolah tidak ada minat untuk menatap muka si lawan bicara.
"Mianhae... "
"Kau terlalu banyak bilang kata maaf. Aku sudah bosan mendengarnya berulang-ulang kali Jung Yunho!"
Senyatanya Jaejoong juga manusia biasa, dia pasti akan terluka jika dilukai terus menerus dengan cara yang sama.
"Mian..."
"..."
.
.
.
.
.
Cinta saja bukan modal yang cukup untuk menjamin kelangsungan sebuah hubungan. Masih banyak komposisi lain yang perlu kau tambahkan untuk menambal setiap kebocoran dalam hubungan yang dijalani.
.
.
.
.
.
Sama halnya seperti Changmin, Siwon sudah tahu tentang Yunho yang sudah memiliki anak dan istri. Itu lah kenapa sejak dulu Siwon tidak pernah gencar untuk merebut hati Jaejoong. Selain karena dia tidak ingin Jaejoong terluka dengan status Yunho, Siwon juga ingin menjaga keutuhan rumah tangga sepupunya.
Ah ya, Seulgi dan Siwon adalah sepupu jauh. Mereka memang tidak terlalu dekat, namun keduanya cukup saling mengenal dan tahu satu sama lain.
Marah, berang, serta kecewa saat awal-awal Siwon tahu jika Yunho dan Jaejoong menjalin hubungan di belakang Seulgi. Marah dan berang karena Yunho sudah menyakiti sepupunya... Dan kecewa karena akhirnya Siwon mendapatkan jawabannya sendiri kenapa Jaejoong selalu menutup hati untuknya. Ternyata semuanya hanya gara-gara seorang lelaki bernama Jung Yunho ini.
"Aigo... keponakanku yang cantik.."
Hana tertawa gembira dalam gendongan paman tampannya. Sudah hampir dua puluh menit berlalu sejak Yunho dan Jaejoong pergi ke toilet tapi keduanya belum ada yang kembali. Hal itu membuat Seulgi berniat menyusul mereka... Menengok barang kali terjadi sesuatu dengan suami dan sahabat suaminya tersebut.
Namun saat hendak beranjak dari duduknya, panggilan dari suara familiar menghentikan gerakan Seulgi saat itu juga. Sosok tampan Siwon berdiri dengan senyum manis yang ditujukan untuk dirinya.
"Kau bersama siapa Seulgi yah?"
"Kami pergi dengan Yunho, Oppa~" jawab Seulgi saat Siwon menolehkan kepalanya kesana kemari mencari keberadaan orang yang menemani dia dan Hana.
"Ah... Lalu dimana Yunho?"
"Dia sedang pergi ke toilet.. Tadinya aku berniat menyusul mereka jika saja kau tidak datang menyapaku, Oppa.."
Siwon menekuk kedua alis tebalnya. "Mereka?"
"Ya, Yunho dan Jaejoong sshi..."
"M-Mwo? Nuguya?"
"Hari ini aku, suamiku serta anakku sedang berkencan, hehehe... Dan kurang lebih satu jam yang lalu kami bertemu dengan teman dekat Yunho.. Namanya Kim Jaejoong."
.
.
.
Adu lidah itu entah siapa yang mendominasi karena baik Yunho dan Jaejoong keduanya seolah tidak ada yang mau kalah. Saling menaut... saling memagut... saling menggigit... dan saling menjilat...
Emosi yang sempat timbul tenggelam membuat kepala Jaejoong merasa pusing dan pening. Namun si cantik jelita dalam balutan raga laki-laki itu seperti tidak ambil peduli. Rasa bibir Yunho yang tidak pernah gagal melumpuhan otaknya, membuat kekesalan Jaejoong menguap begitu saja.
Yunho seperti sudah pakar dalam memberikan penawar dari racun yang selalu dia jejalkan ke dalam hati Jaejoong.
"Syukurlah aku masih waras untuk menyadari jika kita berdua berada di toilet umum. Jika tidak, aku bisa saja melucuti pakaianmu sekarang juga."
Jaejooong tertawa sumbang. Wajah erotis Yunho yang sedang menahan nafsu terlihat begitu menggiurkan di matanya. Andai bisa, rasanya Jaejoong ingin sekali menelan bulat-bulat sosok tampan yang sedang merengkuh pinggangnya ini.
"Aku jusrtu berharap kau menelanjangiku disini... Lalu istrimu datang dan memergoki apa yang sedang kita lakukan." Ia tidak main-main. Mungkin terkesan gila, tapi Jaejoong sungguh ingin Seulgi tahu bahwa lelaki kebangaan milik wanita itu adalah miliknya juga.
"Istriku tidak punya riwayat penyakit jantung. Kau tidak akan bisa membunuhnya dengan kejutan seperti itu Jaejoongie.." Yunho menyentil dahi Jaejoong dengan gemas.
"Siapa bilang aku berniat membunuhnya, kau salah Yunhoney... Aku justru berniat menyakitinya."
"Aigo... Kau jahat sekali kalau begitu baby.."
"Aniyo... Impas bukan?! Aku sering disakiti oleh suaminya. Jadi wajar saja jika sekali-kali aku membalas dendam dengan menyakiti istrinya." Jaejoong menyeringai.
Yunho berdecak pelan melihat sisi liar dari pujaan hatinya itu. Dia paling suka jika Jaejoong bersikap seolah dirinya hendak berperang di garis depan. Kalian Jangan tertipu, meski Jaejoong terlihat lemah lembut dari luar, namun sosok itu memiliki sisi keras dari dalam yang bisa muncul tanpa bisa diprediksi.
"KIM JAEJOONG!"
Dua pasang mata bulat dan sipit itu sempat terkejut saat melihat tubuh tegap laki-laki yang berdiri dengan aura bak predator yang siap menerkam dua buruan di hadapannya.
"Siwon.."
.
.
.
.
T B C
