Disclaimer : Om Kishikishi...

Anime : Naruto

Pairing : SasuxNaru

Warning : shonen-ai, don't like don't read this!! Bold and Underline is Flashback...


~MY NEW LIFE IS YOURS, DOBE!~

Chapter 4

By : Aoi no Tsuki

And

Mikazuki Chizuka


"Ada apa denganmu?" tanya Sasuke heran.

"Tidak bukan apa-apa kok. Naruto itu… manis ya?" ujar Sai dengan senyumannya.

"Dia memang manis," ucap Sasuke dingin.

"Ya, memang manis. Di sini juga manis, sangat manis," kata Sai sambil menyentuh bibirnya dengan telunjuk.

Sasuke tersontak kaget, otaknya mulai berfikir keras memproses informasi tersebut. Apa yang telah Sai lakukan pada Dobenya itu. Ketika selesai memproses, dugaan yang menurut Sasuke amat kuat pun menjadi jawabannya.

"SAI!! KAU… Beraninya…" seru Sasuke berdiri dari tempat ia duduk. Mata onyxnya memandang tajam ke arah Sai. Sai hanya memandang Sasuke dengan tatapan yang tenang.

"Jangan salah paham dulu, Sasuke!" Sai berjalan melewati Sasuke begitu saja. "kau pasti mengira yang tidak-tidak kan? Dasar pantat ayam!" kata Sai cuek.

"SAI!!" teriak Sasuke frustasi.

"Oh ya satu lagi!" Langkah Sai terhenti di belakang Sasuke. "Aku sudah memberitahukannya tentang kepulangan kita! Jadi... ungkapkan perasaanmu sebelum terlambat! Dan jangan pura-pura bodoh!" Sai pun melanjutkan langkahnya yang terhenti dan memasuki ruangan kamarnya.

Pemuda berpantat ayam itu masih terdiam di ruang tengah, entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang yang jelas perasaannya sekarang tidak pasti. Tetapi kalau begitu, Sai tidak melakukan 'ini dan itu' kepada Naruto 'kan? Setidaknya Sasuke bisa menghela nafas lega kali ini.

TOK! TOK! TOK!

Terdengar suara pintu yang di ketuk dari luar, dengan malasnya Sasuke berjalan mendekati pintu seraya membukanya setelah sampai tujuan.

KLEK...

"Teme!"

Mendengar suara amat familiar, Sasuke menatap heran ke arah Naruto yang sudah mematung di hadapannya, ditambah tadi saat memanggilnya dengan sebutan 'Teme'.

"Dobe, mau apa malam-malam begini ke sini?" kata Sasuke agak dingin.

Naruto terdiam sambil menundukkan kepala dalam diam, membuat Sasuke menaikkan satu alis tinggi.

"Masuklah!" ajak Sasuke menyilahkan Naruto masuk ke rumahnya, -ralat, rumah Naruto lebih tepatnya.

"Hm," Naruto pun melangkahkan kakinya ke dalam diikuti Sasuke di belakangnya. "Sudah lama aku tak ke sini," kata pemuda berambut pirang itu sendu. "Rasanya kangen!" serunya riang, mengharuskan Sasuke berpikir keras apakah makhluk pirang satu ini pintar merubah ekspresi wajah atau tidak.

Tetapi, entah mengapa saat Sasuke yang menyadari perkataan Dobenya itu hanya bisa terdiam melihatnya.

Naruto yang menyadari tatapan 'mengkuliti' Sasuke langsung meliriknya tajam. "Apa? Kenapa melihatku seperti itu, Teme?!" bentak Naruto sinis seraya menjatuhkan pantatnya ke kursi.

"Aku-"

"Oh, ya!" potong Naruto cepat sebelum Sasuke berbicara. "Besok aku ingin mengajak kau dan Sai untuk memancing di sungai, jadi bangun pagi-pagi ya, Teme!" ucap Naruto di akhiri dengan sebuah senyuman.

"Hn."

"Oke, aku mau pulang dulu ya, Teme. Aku hanya ingin memberitahu itu saja kok. Sampai jumpa besok!" kata Naruto berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati pintu tanpa melihat ke arah Sasuke yang sedari tadi sudah bimbang.

BLAM!!!

Naruto membanting pintu tersebut pelan, langkahnya terasa berat untuk digerakkan menjauhi rumah tersebut, bukan rumah, tetapi orang yang ada di dalamnya, bukan pula dengan Uchiha Sai, tetapi Uchiha Sasuke.

"Dia mau pergi ya?" gumam Naruto pelan. Berjalan diam, Naruto menendang batu kerikil kecil di setiap langkahnya. "Kenapa aku merasa sekehilangan seperti ini saat mendengar Teme akan pergi? Konyol, aku 'kan bukan siapa-siapanya," ujar Naruto bergumam lagi.

Lama berjalan, ia merenungi perasaannya sejenak. "Aku tak mau Sasuke pergi! Aku tidak mau!" seru Naruto langsung berlari membelah gelapnya malam.

***

Sasuke's POV

Aku membuka mataku pagi hari ini lebih awal dari biasanya, karena aku ingin bersama Dobe lebih lama lagi sebelum aku kembali lagi ke kota.

Aku berjalan dari ranjang tempat tidurku menuju jendela kecil di kamar ini, lalu membukanya perlahan-lahan, kubiarkan udara sejuk memasuki ruangan ini. Dan lagi-lagi pemandangan yang menyejukkan mataku itu terlihat lagi. Jika aku pergi dari sini pasti aku tak bisa melihat pemandangan yang indah ini lagi. Ada rasa penyelasan saat mengingat-ingat kembali kepulanganku tersebut.

Setelah aku puas melihatnya aku membuka pintu kamarku dan kulihat sekelilingku tak ada orang itu, dimana dia? Apakah dia belum bangun? Mungkin ya, karena ini baru jam empat pagi. Mungkin terlalu pagi untuk bangun.

Aku menghela nafasku perlahan dan menunggu Dobe datang kesini.

"Kau sudah bangun ya, Sasuke? Pagi sekali, aku baru saja ingin membangunkanmu," kata Sai tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarnya seperti hantu, sempat membuatku mendelik kesal.

"Cepat bergegas mandi, Sai! Aku tak mau menunggu lama-lama!" seruku dingin.

"Kau hari ini semangat sekali ya! Hahaha... Ya sudah aku mandi dulu! Ingat gunakan waktu sebaik mungkin," ujar Sai sialan itu mengingatkan sebelum sosoknya menghilang dari pandanganku.

"..." Aku hanya bisa terdiam tidak berniat membalas pekataan si Sai.

"TEME!! TEME!!"

Suara itu, suara yang kutunggu-tunggu dari tadi. Aku pun bergegas menuju pintu depan dan kulihat Dobe yang manis itu mengenakan sebuah topi untuk memancing. Aku menahan tawaku sebentar lalu tersenyum di hadapannya.

"Kenapa?" tanyanya bingung.

"Tidak, kau lucu memakai topi itu. Dapat dari mana, Dobe?"

"Ini milik pamanku. Jangan tertawa!" ucap Naruto mengerucutkan bibir.

"Tapi itu cocok untukmu kok," kataku merayu.

Dengan sekejap wajahnya berubah menjadi merah padam. Bagus, aku senang menggodanya seperti ini. Oh Kami-sama, aku sudah tidak tahan ingin memakannya. Apakah Engkau sedang mengujiku Tuhan?

Dobe-ku masih menyembunyikan wajahnya yang merona. "Ah! Mana Sai?" tanyanya sambil menengok ke dalam rumah.

Aku mendengus kesal, kenapa pula dia menanyakan orang yang suka merusak hubungan orang itu?!

"Dia sedang mandi. Kau tunggu saja, pasti sebentar lagi selesai," jawabku sebisa mungkin agar terdengar datar.

"Hm." Dobe mengangguk.

Dobe mendudukkan dirinya di kursi panjang yang berbahan dasar bambu di teras rumah ini, membuatku juga mendudukkan diri di sampingnya. Tiba-tiba suasana hening menyelimuti kami. Aku benci keheningan ini, lebih membencinya dari pada keramaian yang biasanya sangat kubenci. Tetapi sekarang aku sangat amat membenci keheningan di antara aku dan Dobe karena menimbulkan kesan tak enak di antara kami

"Teme..." panggilnya tiba-tiba.

Hah… Suara surga menyelamatkan kami.

"Apa?" responku singkat.

"A..." Dobe langsung terdiam.

"A kenapa, Dobe?" tanyaku tak mengerti.

"A-ayo kita mancing ikan yang banyak!" serunya sambil mengangkat tangannya ke atas.

"Dasar Dobe! Kukira apa? Hah..." ucapku menghela nafas lega.

"Memang kau kira aku mau mengatakan apa, hah?" Dobe melipat tangannya sambil melihat ke arahku dengan pandangan yang menurutku terlihat... bodoh.

Pintu depan terbuka, menampilkan sosok Sai yang baru saja selesai mandi. "Naruto maaf menunggu lama ya! Aku sudah siap, ayo kita berangkat!" sapanya pada Dobe. Cih! Bahkan dia tak memandangku ada!

"Sai!! Ayo! Jangan lupa kail, pancingan, dan umpannya?" ajak Dobe bersemangat langsung berdiri dari duduknya. Hah, satu lagi manusia yang tak menganggapku sesudah setan putih alias Sai itu hadir di antara kami.

"Ya, semua sudah siap!"

"Bagus, berangkat!!" komando Dobe berjalan mendahului aku dan Sai.

Aku menatap sinis pada Sai yang mulai mendekati Dobe dan mungkin membuatku cemburu nantinya. Mataku memanas melihat Dobe yang bermanja-manja dengan Sai. Sengaja ingin membuatku membunuh orang terdekat ya?!

"Cih!" geramku kesal.

Dobe menoleh ke belakang, tepatnya ke arahku. "Teme ayo! Dasar lambat!" Dobe memerintahku tanpa perasaan.

Aku hanya membuang muka seraya masih berjalan di belakang mereka berdua.

"Kali ini berapa lama lagi, Dobe?" tanyaku melangkah kaki cepat berusaha membaur bersama mereka.

"Tidak lama, dekat kok dari sini. Iya kan, Sai?" kata Dobe menatap Sai.

"Ya, dekat sekali kok tuan Sasuke," ucapnya dengan senyum mengejek.

'Sialan! Dasar sialan kau Sai!' pikirku menahan amarah.

Bagaimana caranya agar Dobe-ku bisa lepas dari perangkap setan putih sok murah senyum itu?! Melihat mereka berjalan berdampingan saja sudah membuatku mendidih, apalagi jika Sai sampai berani mencuri-curi kesempatan! Akan kupastikan hidupmu tidak akan lama lagi harus berakhir di tanganku! Sekarang aku langsung berpikir keras untuk mendapatkan simpati dari Dobe. Untung saja aku seorang Uchiha yang diberkahi wajah tampan dan jenius tingkat atas. Dengan begitu mudahnya ide mengalir di otakku. Memang sedikit gila dan terkesan merendahkan derajat Uchiha. Tetapi tak apalah! Demi Dobe!

"Dobe... Aku tak kuat..." lirih kubuat selemah mungkin.

Lucky! Dobe menghentikan langkahnya dan memandang ke arahku.

"Eh! Biar kutemani," ucapnya polos.

Bagus, dia sekarang berada di sampingku. Aku tertawa puas untuk usahaku ini. Tidak sia-sia juga aku merendahkan sedikit harga diri Uchiha.

"Jangan pura-pura pingsan lagi!" serunya dengan wajah yang innocent.

Aku senang melihat Dobe seperti ini.

"Usaha yang bagus tuan Uchiha," ujar Sai sangat mengganggu keadaan.

"Hentikan senyum bodohmu itu, Sai!" bentakku horror.

"Hahaha... Sebentar lagi kita sampai kok, tuan," katanya masih tersenyum, merusak etika Uchiha setiap saat.

"Teme, setelah pohon yang besar itu sungainya. Jadi jangan pingsan dulu ya."

"Hn,"

END Sasuke's POV

ZRRSH...ZRSSH...

Gemericik air sungai perlahan-lahan mulai terdengar di telinga Sasuke, Sai dan juga Naruto. Semakin dekat mereka melangkah semakin jelas pula suara air sungai itu. Setelah mereka melewati pohon besar itu terlihatlah sebuah sungai dengan air segar yang mengisinya. Batu bara putih mengalir indah bak lukisan yang hanya bisa diciptakan sekali, dengan harga jual tinggi tak terhingga tentunya.

"Indah ya, Naruto!" ucap Sai mendekatkan dirinya ke arah Naruto.

Sasuke mengambil tindakan. "Ayo Dobe, kita cari tempat yang tepat untuk memancing!" potong Sasuke sambil menggeret lengan Naruto dan menjauhi Sai.

"Teme!"

"Apa?" Sasuke memberhentikan langkahnya, dia melihat Naruto.

"Sai, bagaimana dengan Sai? Dia sendirian."

"Memangnya kenapa jika dia sendirian?" tanya Sasuke dingin.

"Tidak, ano..."

"Sudahlah, Dobe!"

Sasuke melanjutkan langkahnya yang terhenti dan masih menggenggam erat lengan Naruto. Di belakang Sasuke, Naruto tersenyum kecil melihat rambut berpantat ayam itu.

"Nah! Disini, Dobe! Sempurna!" ucap Sasuke menghentikan langkah.

Selera Uchiha memang tinggi, terbukti dengan ia yang memilih bebatuan untuk duduk dan pohon rindang yang melindungi mereka dari sinar matahari yang menusuk kulit, menimbulkan kesan kesejukkan tersendiri bagi siapa pun yang berada di bawah lindungannya.

"Terserah kau, Teme!"

"Lumayan bagus!" seru seseorang dari belakang.

"Sai?" seru Naruto riang.

"Dari tadi aku mengikuti kalian."

"Maaf ya, Sai!"

"Tak perlu minta maaf!" jawab Sai sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

"Kalau begitu aku dan Sai yang memancing ikan! Teme, kau yang buat api unggun untuk membakar ikannya ya!" perintah Naruto dengan tersenyum.

"..." Sasuke terdiam.

"Teme? Mau ya?"

"Hn," Sasuke pun mengalihkan pandangannya.

"Kami pergi dulu ya, Teme. Tak jauh kok, kau bisa melihat kami dari sini. Jaa, Teme! Ayo, Sai!"

"Ya,"

'Akh! Lagi-lagi dia, sialan! Apa si Dobe menyukainya? Jangan! Itu tak boleh terjadi!' nurani Sasuke memberontak.

***

"Sai, pasang umpannya!"

"Sudah!"

"Kita lempar!!"

"Hati-hati nanti kau tercebur ke sungai! Bagian sini lumayan dalam loh!"

"Tenang, aku akan hati-hati kok, hehe..."

PLUNG...

Dua buah umpan yang tersambung pada kail itu menunggu ikan yang menariknya. Sai dan Naruto menunggu saat umpan mereka termakan tapi beberapa lama kemudian tak ada umpan yang termakan sama sekali.

"Naruto..." panggil Sai menatap Naruto. Naruto pun balik memandang Sai.

"Apa?"

"Dua hari lagi aku dan Sasuke akan pulang, kau sudah tahu kan?"

"Ya, aku masih ingat perkataanmu waktu kita di kebun strawberry itu. Cepatnya! Dua hari lagi ya?"

"Hm,"

"Kenapa secepat itu sih?"

"..." Kini Sai terdiam.

CREK... CREKK...

Pancing milik Naruto hampir saja terjatuh andaikata refleks Naruto lamban, tetapi beruntung dalan hal gerak refleks, ia sudah terlihat melatih diri.

"Wah, umpanku, umpanku di makan, Sai!"

"Tarik pelan! Nanti senar pancingnya putus!"

"Ya, ya!"

Dengan hati-hati tapi pasti Naruto menarik kail pancingnya hingga terlihat seekor ikan yang menggeliat-geliat di permukaan air sungai itu.

"Besar, aku dapat ikan besar, Sai!"

"Bagus, kau hebat Naruto," ucap Sai sambil mengelus rambut pirang Naruto.

Dan dari kejauhan sepasang mata onyx sedang mengamati Sai dan Naruto, dialah Uchiha Sasuke. Dengan tatapan yang cemburu dan sinis Sasuke terus mengamati dua orang itu sambil berpangku dagu di depan kayu yang sedang di bakar.

"Sai tarik! Biar aku yang menangkap ikannya dengan jaring."

"Hati-hati!"

"Tarik sedikit lagi, Sai! Lagi, yak..."

Dengan langkah perlahan Naruto mendekat ke arah pinggir sungai dan berusaha menyaring ikan yang besar itu.

"Sai, jaringnya kurang panjang! Tarik sedikit lagi ke arahku!"

"Tidak bisa, di tarik lagi senarnya akan putus."

"Aku akan mendekat saja!"

"Jangan!!" cegah Sai.

Tapi Naruto terus berjalan mendekati ikan yang sudah melemah pergerakannya.

"GYAA! Arusnya kencang juga!" ucap Naruto berusaha menahan keseimbangan tubuhnya.

"Naru-"

BYURR!!

"NARUTO!!" teriak Sai panik.

"Dobe!!"

Dengan sangat cepat Sasuke yang melihat itu pun pergi ke tempat Naruto sedangkan Sai sudah menceburkan dirinya ke dalam sungai untuk menyelamatkan Naruto.

"Dobe! Dobe! Dobe!"

Kepanikan mulai terlukis dari wajah Sasuke, tak ada seorang pun yang muncul di permukaan air sungai.

"DOBE!! SAI!!"

Teriakan itu, teriakan kepanikan dari seorang Uchiha Sasuke.

"DOBE!!"

"Sasuke!!" Orang yang di panggil namanya langsung menoleh dan melihat orang yang sama dengannya sedang berenang menuju arah sungai dengan membawa tubuh yang terdiam.

"Dobe?"

SET!!

Sai menidurkan Naruto di pinggiran sungai.

"Berikan dia nafas buatan! Cepat!" seru Sai memeras pakaiannya yang basah.

Tanpa babibu lagi Uchiha itu langsung menempelkan bibirnya pada bibir Naruto dan memberikan nafas buatannya. Berulang-ulang kali Sasuke terus berusaha membuat Naruto tersadar.

"Dobe! Bangunlah, Dobe! Jangan tinggalkan aku!" Sasuke menepuk-nepuk pipi Naruto.

Sekali lagi dia menempelkan bibirnya pada bibir manis Naruto dan memberikan nafas buatan padanya.

"DOBEE!!"

"Uhuk... uhuk... Te-me?" Perlahan-lahan mata biru langit itu terbuka. Pandangannya masih terlihat kabur.

GREPP!!

"Dobe, syukurlah!" Sasuke memeluk erat tubuh mungil Naruto yang masih terlihat lemah.

"Te-me, aku tak apa-apa kok," ucap Naruto lemah.

"Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan tadi?!" bentak Sasuke khawatir.

"Ikannya lepas, maaf!" kata Naruto menundukkan kepala.

"Bodoh! Jangan pikirkan ikannya! Pikirkan dirimu dulu, Dobe! Aku tak ingin kehilangan dirimu, aku tak ingin!" Sasuke kembali memeluk tubuh Naruto yang basah dengan erat.

"Arigatou, Teme," lirih Naruto tersenyum.

SET!!!

"Biar kugendong kau!" kata Sasuke segera membopong Naruto.

"Eh? Turunkan aku, Teme! Aku bisa jalan sendiri kok!" Naruto meronta-ronta seperti anak kecil.

"Diam! Ikuti perintah atasanmu!"

"TEMEE!!"

"Jangan berteriak, Dobe!"

"Akh! Teme!" Naruto tetap memberontak.

"Jangan bergerak!"

"Selalu saja begini!"

"Hn."

"Syukurlah aku menemukanmu, Naruto!" Kali ini Sai berbicara. "Itu juga salahmu, Sasuke!"

"Kenapa menyalahkanku?" Amarah Sasuke membara.

"Kau menyukainya kan? Seharusnya kau menjaganya dengan baik."

"Diam kau, Sai!! Itu juga salahmu!" seru Sasuke dengan wajah yang merah padam, mendengar itu Naruto hanya bisa terdiam dalam gendongan Sasuke.

"Ayo pulang!" potong Sai sambil mendahului langkah di depan Naruto dan Sasuke.

Setelah beberapa lama mereka berjalan sampailah mereka di rumah para penduduk. Naruto hanya bisa menahan nafas melihat dirinya dan Sasuke ditambah Sai sebagai bonus menjadi pusat perhatian seluruh orang desa. Sempat ada kerumunan anak kecil yang bersiul-siul menggoda Sasuke yang menggendong Naruto, -ralat, kerumunan gadis kecil yang diduga kuat telah terserang virus para Fujoshi yang belakangan ini menyebar dengan begitu cepatnya. Abaikan sajalah! Memang itu sikap tetap Uchiha.

"Te-Teme, semua melihat ke arah kita."

"Biarkan saja, Dobe!"

"Tapi-"

"Diam!" Sasuke tetap berjalan tanpa melihat Naruto.

"Lho, rumah pamanku bukan ke arah sini, Teme!" seru Naruto panik.

"..."

"Teme?!" rengek Naruto.

"Apa?"

"Kenapa kita berjalan ke arah rumahmu? Aku ingin di rumah paman saja!"

"Di sini saja, aku yang bertanggung jawab atas kejadian ini."

CKLEKK!!!

Setelah sampai, Sai segera mengambil tindakan cepat dengan membukakan pintu yang terkunci.

"Ayo cepat masuk Sasuke!" seru Sai setelah membukakan pintu.

"Hn," tanggap Sasuke singkat.

Dengan pelan dan hati-hati Sasuke menurunkan Naruto dari gendongannya pada sebuah kursi yang lumayan panjang di ruang tamu, sedangkan Sai langsung cabut ke kamarnya.

"Berat! Kau berat, Dobe!"

"Kalau berat, kenapa kau mau menggendongku?"

"Itu alasan lain."

SET!

Wajah Sasuke mendekat ke wajah Naruto, Naruto mencoba untuk memundurkan wajahnya tapi Sasuke malah terus mendekatinya. Begitu sangat dekat dan dekat hingga Naruto memejamkan matanya. Tinggal sebentar lagi bibir mereka menjadi satu keutuhan yang utuh, hingga…

"Ganti bajumu, Dobe! Nanti kau masuk angin!"

Gubrak! Ingin rasanya Naruto menyeburkan diri ke sumur terdekat. "Akh!!!" seru Naruto membuka kedua matanya.

"Apa? Kau kira aku akan menciummu apa? Wajahmu langsung memerah, Dobe!" goda Sasuke.

"Teme, jangan mengerjai aku! Sialan, dasar Teme sialan!"

"Haha... Cepat ganti di kamarku saja!"

"Bukan kamarmu tapi kamarku!"

"Terserah kau, Dobe!"

Dengan kedua pipi yang di gembungkan Naruto pun memasuki kamar yang sudah menjadi milik Sasu Teme itu.

"Dasar Dobe! Bisa-bisa kucium benar dia! Sebaiknya aku juga ganti baju. Kena basah air gara-gara Dobe!"

***

"Akh, bajunya Teme kebesaran! Lucu sekali aku memakainya. Biarlah!"

Tak lama Naruto keluar dari kamar Sasuke dan menunggunya di ruang tengah. Pikirannya pun melayang pada suatu hal.

"Naruto, aku dan Sasuke akan pulang sebentar lagi." Aku langsung diam membatu di kebun strawberry itu. Teme akan pergi dari desa ini. "Kapan?" tanyaku menatap mata onyx itu.

"Aku belum tahu pasti. Yang jelas tak lama lagi."

"Kenapa Teme tak memberitahukanku?"

"Tanya saja pada dia langsung!"

Kenapa hatiku tak bisa menerimanya? Kenapa rasanya sangat sakit? Kenapa?

"Dobe?" Suara itu membuyarkan lamunan Naruto.

"Eh! Te-Teme?" ujar Naruto terpatah-patah.

"Kau kenapa?" Sasuke mendudukkan dirinya di samping Naruto. "Dobe?" Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Naruto, wajahnya tertunduk. Dia tak menatap Sasuke sama sekali.

"Lihat aku, Dobe!" perintah Sasuke mencengkram pundak Naruto.

"Aku tidak mau! Melihatmu membuatku ingin menangis saja!" balas Naruto membuang muka.

"..." Sasuke terdiam karena terlalu syok.

"Kenapa kau tak memberitahuku kalau kau mau pulang ke kota?! Kenapa?!" bentak Naruto.

"Aku tak memberitahukanmu karena aku tak mau melakukannya!" jawab Sasuke memejamkan mata erat-erat.

Naruto tersenyum miris. "Begitu ya! Terima kasih untuk semuanya, Teme. Aku senang mengenal orang yang sombong, keras kepala dan egois sepertimu. Aku sangat senang sampai-sampai..." potong Naruto langsung tersenyum lebar, walau jadi terkesan aneh.

"Sampai-sampai kenapa, Dobe?" tanya Sasuke sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Lupakan saja, Teme! Itu tak penting! Besok hari terakhir kau di sini kan, aku ingin kau menemaniku untuk melihat matahari terbenam di dekat bukit. Kau mau menemaniku kan, Teme?"

"Tentu, besok hari terakhir!"

"Aku pulang ya, Teme! Kupinjam dulu bajumu ini!"

"Hn,"

BLAMM!!!

Sosok Naruto menghilang di balik pintu.

"Sasuke... Sasuke... Lagi-lagi kau tak menghentikannya, dasar bodoh!"

"Sai?"

"Ya, kau pasti menyesal jika seperti ini terus. Hari terakhir besok, ingat besok, Sasuke!" seru Sai mendekati Sasuke.

Sasuke menunduk "Apa yang harus kulakukan agar perasaanku ini tersampaikan tepat waktu?" kata Sasuke mendudukkan diri di kursi.

Sai juga ikut mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan diri Sasuke.

"Kalau kau memang Uchiha bungsu, buktikanlah Sasuke…" ucap Sai.

Sasuke melirik sekilas ke arah Sai sebelum menaikkan sebelah alis. "Apa maksudmu dengan bungsu?" tanya Sasuke penasaran.

Sai menutup mata, jarang sekali ekspresinya yang murah senyum tergantikan dengan wajah serius. "Aku pernah menjadi bungsu Uchiha, Sas. Jangan sampai kau menyesal sepertiku," jelas Sai menepuk pundak Sasuke pelan, lalu ia pun pergi meninggalkan Sasuke menuju kamarnya sendiri.

Sedangkan yang ditinggal alias Sasuke memandang hampa ke arah lantai, telapak tangannya meremas-remas rambut pantat ayam miliknya. Hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk berjalan menuju kamarnya. Tak terasa, bahkan Sasuke tidak tahu secara terperinci bagaimana bisa sekarang ia tengah terduduk di ranjangnya, memandangi sebuah figura yang melukiskan sosok Naruto di dalamnya. Tersenyum kecil, ia mengambil figura itu, dipandangi foto Naruto dalam figura itu. Jari telunjuknya mengelus-elus dinding kaca yang membungkus foto Naruto, sampai saat jarinya berhenti di bibir Naruto, Sasuke kembali tersenyum.

Bibir itu, bibir itu pernah ia sentuh dengan bibirnya. Walaupun ciuman yang tidak disengaja dalam hal keadaan genting, tapi tak dapat dipungkiri oleh Sasuke bahwa ia menikmatinya, menikmati sentuhan lembut yang kini masih membekas di bibirnya.

Sasuke memutuskan untuk mengakhiri acara hari ini dengan tidur, diiringi dengan impian baru.

Impian bahwa besok, ia akan mendapatkan ciuman tulus dari orang yang dicintainya, dan sekilas makna perasaan yang terwakilkan dengan hati. Yah… Sasuke yakin kali ini pasti ia bisa!

BER-SAM-BUNG…


Wah! Setelah sekian lama akhirnya chapter selanjutnya selesai und bisa updet juga ya… Fiuh… Karena jadwal Tsuzuki yang padat –sok mode ON- jadi bisanya baru sekarang updetnya.

Balesan ripiew nich:

Uchiha Moritani : Arigatou,^^… si Sai ngapain Narunaru ya? –d'lempar- Tenang aja Naru nggak di apa-apain kok. Ini udah updet, arigatou ripiew-nya…^-^

Lime O'nade : Wah! Gpp kok, kangen ya! Hehe… Tsuki juga, arigatou buat Zuki kalo' ini…-nunjuk Zuki- Mori, arigatou ripiew-nya ya…^-^

Cute-Tamacchan : Iya, begitulah. Arigatou ripiew-nya…^-^

Chubby Chu : Arigatou benget, Bby…^-^

ME!! DOBE.! : Hohoho… Arigatou ripiew-nya…^-^

Lars Tenobor : Berani apa ya? Begitulah… Tsuki juga suka yang suap-suapan tuh, aduh~ Arigatou ripiew-nya…^-^

dArky SaKurai : Hahaha… gedubrak juga nich, Kiky. Arigatou ripiew-nya…^-^

Chiaki Megumi : Iya, ya mungkin gitu, senpaii. Arigatou ripiew-nya, Megumegu…^-^

Shirayuki Sakuya: Itu pasti pada bertekuk lutut tuh semuanya sama yang namanya Uzumaki Narunaru. Ya kan? Arigatou ripiew-nya, Yuuya…^-^

Light malay login : Wah! Gomen masih ada sedikit typo di chapt sebelumnya, aduh… Arigatou ripiew-nya, Light…

Uzumaki Mitsuki : Iya, Mitsu ini udah updet kok. Arigatou buat semangat und ripiew-nya ya…^-^

Terima kasih buat yang udah pada ngeripiew, baca, lirik-lirik, dll. Tsuzuki ngucapin banyak terima kasih buat semuanya. Jadi skaLi ripiew tetep ripiew ayo maju kasih ripiew…

~TsuZuki~