Hai, minna-san!
Chapter 4 ini adalah chapter yang paling aku suka karena full NaruSaku, mwahaha…! Dan…Alhamdulillah aku seneng karena kompinya udah sehat kembali, ehehe… Thanks to my Nee-chan ^_^
Reply for reviewers
chikara kyoshiro (Aojiru Rin) : Masih tetep jadi reviewer pertamaku! (kembangnya udah abis, nih buat disawerin), ahaha. Arigatou^^
Masahiro 'Night' Seiran : Ya, bener! NS di episode itu mantap abiz, hehehe… Arigatou^^
Qwli : Bukan dikatain 'baka', tapi 'aneh', haha… Tenang, ceritanya masih lanjut, kok! Arigatou^^
May' GummY-chan : Iya, biasa Naru 'kan kayak toa, sukanya tereak-tereak gaje, haha… Arigatou^^
Wi3nter : Gyahaha…Authornya juga makin cinta sama reader setia kayak kamu, huhuy *nari-nari gaje*. Syukurlah kalo puas, aku jadi tambah semangat, nih! Arigatou^^
Hikari Hime & Amaira Sora Miaw-Miaw : Yosh! Arigatou^^
Fidy Discrimination Miaw-Miaw : Hehe, kalo penasaran coba nonton lagi animenya. Arigatou^^
Kanazawa Ryuki : Aduh, bentar, ya aku pegang hidungku dulu takutnya terbang saking senengnya, huahaha… Hmm, setau aku, sih (?) dobe itu semacam looser, kalo teme itu sejenis (?) brengs*k (bener apa bener, ya? *ditimpuk sendal butut*). Ok, Doomo Arigatou^^
Oline takarai : OMG! Bener! Drumernya ketinggalan, kok aku bisa lupa, ya? Huaaaa… baka! *plak!* padahal itu bagian yang paling penting (readers : dasar author pikun!). Hmm… Sasorinya aku ganti posisi jadi drumer, deh (Sasori : Apwaa? Dasar author gendheng! Maen ganti-ganti aja seenak dengkul!). Ahaha…gomen. Arigatou^^
Thia2rh : Geregetan jadinya geregetan (eh, kok jadi nyanyi?). Iya, kasian kalo Sakura sedih terus, ntar dia kelihatan lemah. Arigatou^^
Temari Fanz : Hoho, welcome to my fic! Yupz, sebenarnya aku juga gak suka peran Hinata, tapi biar jadi konflik di ceritanya aku terpaksa melakukan hal ini (huhu…). Tenang aja, Tema-chan PASTI Narusaku, kok! Authornya kan Narusaku Holic, mwahaha… Di fave? Oh, senangnya hatiku! Arigatou^^
Ridho Uciha : Yupz, mereka so pasti bersatu, hehehe… Arigatou^^
Uchiha Sakura97 : Hmm… Saku sembuh nggak, ya? Kita lihat aja nanti, ya! Hehe… Arigatou^^
Misyel : Welcome to my fic! Kalo penasaran ikutin terus ceritanya, ya! (Maunya author, tuh) Mwahaha…Arigatou^^
elven lady18 : Ehehe... Arigatou elven-chan^^
Ren Shiekaru : Welcome to my fic! Arigatou, aku seneng banget, ahaha^^
.
Warning : maybe OOC, Typo, aneh, gaje. Don't like don't read!
Disclaimer :
All Characters from Naruto belong to Masashi Kishimoto © 1999
Story by Rinzu15 © 2010
Insert song : Sayonara Daisuki na Hito Performed by. KIRORO
.
~Ok, minna-san happy reading chapter 4! Enjoy! ~
.
Kokoro no Melody
Chapter 4 : Beautiful Night
.
"SAKURA-CHAAANNN!"
Sasame dan Sakura yang mendengar suara panggilan itu langsung berbalik dan menoleh. Mata Sakura terbelalak melihat siapa yang telah memanggilnya. Begitu juga dengan Sasame. Sakura menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya tak percaya dengan apa yang tengah ada di hadapannya kini.
"Na-Naruto?"
.
~R.I.N.Z.U.1.5~
.
Naruto pun tersenyum dan segera berlari menghampiri Sakura. Seketika itu juga Naruto memeluk Sakura dengan erat, menumpahkan segala rasa rindunya. Sakura benar-benar terkejut.
"Sakura-chan, ini benar-benar kau? Aku tidak percaya kau telah kembali!" seru Naruto setelah melepaskan pelukannya.
"Naruto? Naruto Uzumaki?" tanya Sakura masih tidak percaya.
" Iya, ini aku Naruto Uzumaki!" jawabnya sambil nyengir.
Sakura kemudian menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Terdengar isak tangis darinya. Naruto dan Sasame terlihat cemas.
"Sa-Sakura-chan, kenapa menangis?"
Sakura menggeleng pelan dan kemudian menghapus airmatanya. "Baka! Aku senang sekali bisa melihatmu lagi."
"Ah? Hahaha… Sakura-chan, aku juga senang sekali akhirnya kau kembali juga. Tapi… apa yang terjadi padamu, Sakura-chan? Kenapa kau…"
"Oh, maksudmu kenapa aku memakai kursi roda?"
Naruto terlihat sedih melihat hal itu. Sakura hanya tersenyum.
"Aku mengalami kecelakaan setahun yang lalu, Naruto. Sekarang aku tidak bisa berjalan lagi."
"Apa… katamu?"
"Baka! Jangan pasang tampang culun begitu! Kau jadi tambah jelek tahu, haha…"
"Ah? Ahaha…kau bilang aku jelek? Kau tega, Sakura-chan. Masa keren begini kau bilang jelek, sih?"
"Dasar, baka!" ucap Sakura sambil tersenyum kemudian diikuti pula oleh Naruto.
"Hei, kau ini kan…Sasame, ya? Kau kenapa bisa bersama Sakura? Kalian saling kenal?" tanya Naruto ketika menyadari Sasame berada bersama Sakura.
"He?" Sakura terlihat keheranan.
"Ah, haha…iya, Naruto-senpai. Aku bekerja di keluarga Haruno untuk merawat Sakura-san. Aku kaget ternyata kalian ini berteman." Jawab Sasame dengan sedikit berpura-pura terkejut.
"Oh, begitu? Ya, Sakura-chan inilah sahabat masa kecilku yang dulu pernah aku bilang."
"Hei, kalian sudah saling kenal, ya?" tanya Sakura yang masih kebingungan.
"Sakura-chan, dia ini juniorku di klub basket. Aku benar-benar tidak menyangka kalau hubungan kalian dekat!"
"Naruto-kun!" panggil seseorang dari arah pintu masuk restoran. Sakura, Sasame dan Naruto segera menoleh ke arah sumber suara.
"Hinata?"
Hinata pun segera berlari ke arah Naruto dan melingkarkan tangannya di lengan kiri Naruto, menggelayut manja. Sakura terkejut melihat hal itu. Sementara Naruto merasa tidak enak pada Sakura. Naruto ingin sekali melepaskan tangan Hinata dari lengannya, tapi cengkeraman Hinata begitu kuat.
"Naruto-kun, a-aku mencari-carimu. Kau ke-kemana saja? Eh, ka-kamu kan yang tadi main gitar be-bersama Akatsuki?" tanya Hinata pada Sakura.
"Iya, dia ini teman baikku, Sakura. Sakura ini Hinata." Jawab Naruto.
"Ah, Sa-Sakura-san? A-aku sering mendengarmu dari Naruto-kun. Salam kenal a-aku Hyuuga Hinata, tunangannya Naruto-kun." Ucap Hinata dengan wajah yang memerah.
Sakura terkejut mendengarnya. 'Tu-tunangan?' batinnya.
Naruto terlihat kesal karena Hinata seenaknya saja menyebutkan status mereka di hadapan Sakura. Tapi Naruto berusaha menahan diri.
"Halo, Hinata. Senang bertemu denganmu. Kalian sudah bertunangan, ya? Aku tidak menyangka Naruto yang baka ini sudah mendapatkan gadis yang dicintai. Aku turut senang, Naruto. Selamat, ya!" ucap Sakura sambil tersenyum pedih.
Hinata tersenyum senang, sementara Naruto menunduk sedih.
'Dicintai? Aku sama sekali tidak mencintainya, Sakura-chan! Ini semua terpaksa! Kenapa kau memberiku selamat? Aku benar-benar tidak suka!' batin Naruto.
"Terima kasih, Sakura-san. Oh, iya la-lagumu bagus sekali! Ti-tidak heran kalau Akatsuki memilihnya untuk jadi single album terbarunya. A-aku sendiri juga suka sekali dengan lagumu."
"Terima kasih, Hinata."
"Eng…ka-kalau begitu kami duluan, ya,Sakura-san dan err…"
"Aku Sasame. Fuuma Sasame."
"Ya, Sa-Sasame-san… Ka-kapan-kapan mainlah ke rumahku, a-aku senang ka-kalau ada teman Naruto-kun yang berkunjung ke rumahku."
"Baiklah, terima kasih atas undangannya, Hinata."
"Ayo, Na-Naruto-kun, ayah sudah menunggu kita."
"Eh? Tu-tunggu dulu! Aku belum selesai bicara!" teriak Naruto.
Tanpa menghiraukan penolakan Naruto, Hinata menarik tangan Naruto menuju mobil mercynya. Sakura yang melihat hal itu hanya bisa terdiam.
"Mereka pasangan yang serasi. Bukan begitu Sasame-chan?" ujar Sakura dengan nada sedih.
"Eh?"
"Aku harap mereka berdua bahagia."
"Sa-Sakura-san, kau tidak apa-apa, kan?"
"Jangan khawatir, Sasame-chan. Aku baik-baik saja." Jawab Sakura pelan.
"Sa-Sakura-san, maafkan aku karena tidak segera memberitahu hal ini padamu. Sebenarnya aku mau menceritakan padamu kalau Naruto-senpai itu sekolah di Konoha High School juga. Tapi saat itu aku terlalu senang mendengar kabar bahwa Akatsuki mengundangmu, akhirnya aku jadi lupa. Padahal aku tahu hal ini begitu penting untukmu. Sekali lagi maafkan aku, Sakura-san!" ucap Sasame sambil menunduk.
"Sudahlah, Sasame-chan, tidak apa-apa. Yang penting sekarang aku sudah bertemu dengan Naruto. Aku senang dia baik-baik saja. Kita pulang, Sasame-chan!"
"Ah, i-iya, Sakura-san!"
Sasame pun mendorong kursi roda Sakura menuju mobil. Di perjalanan menuju rumah, Sakura hanya terdiam sambil menatap jalanan. Sasame yang menyadari kesedihan Sakura yang mendengar kalau Naruto sudah bertunangan hanya bisa ikut terdiam. Sesekali Sasame mencuri pandang pada Sakura. Dia sangat khawatir melihat Sakura jadi pendiam seperti itu.
Mengingat kejadian barusan, tanpa sadar airmata Sakura menitik perlahan. Hatinya begitu sedih mengetahui kalau sahabat baiknya yang selama ini Sakura harapkan untuk selalu ada di sampingnya mungkin akan pergi jauh dari hidupnya.
'Naruto, kau memang pantas mendapatkan gadis yang cantik seperti Hinata. Aku senang kau telah menemukan kebahagiaanmu. Tapi kenapa hatiku rasanya sakit melihat kau bersama gadis lain?'
Airmata Sakura semakin deras mengalir. Sakura yang kini wajahnya menghadap ke jendela mobil berusaha menahan agar suara tangisnya tidak terdengar oleh Sasame maupun Yamato. Sakura tidak ingin mereka tahu kalau saat ini dia tengah menangis.
'Ku dapatkan satu kebahagiaan tapi kehilangan kebahagiaan yang lainnya.'
.
Sayonara daisuki na hito
Sayonara daisuki na hito
Mada daisuki na hito
Kuyashii yo totemo kanashii yo totemo
Mou kaette konai sore demo watashi mo daisuki na hito
Nani mo kamo wasurerarenai
Nani mo kamo sutekirenai
Konna jibun na mijime de
Yowakute kawaisou de daikirai
(Goodbye my love
Goodbye my love
I still love you
I'm so vexed I'm so sad
You won't come back anymore, but I still love you
I can't forget everything
I can't throw everything away
I'm miserable and weak and pitiful I hate myself)
.
~R.I.N.Z.U.1.5~
.
"Ayo, mampir dulu ke dalam, Na-Naruto-kun." Tawar Hinata.
Tanpa menunggu jawaban Naruto, Hinata segera menarik Naruto masuk ke dalam rumahnya yang besar dan mewah seperti istana itu menuju ruangan pribadi Hinata yang tak kalah besarnya.
"Oh, iya, Na-Naruto-kun, se-sebenarnya aku sedang membuatkan sebuah sweater untukmu. A-aku pilih warna biru langit supaya senada dengan warna matamu. A-aku tahu ini masih musim semi, tapi saat musim dingin nanti a-aku yakin kau akan membutuhkannya." Ucap Hinata sambil menunjukkan sebuah rajutan sweater yang baru setengah jadi pada Naruto.
Naruto sama sekali tidak merasa senang ataupun kagum, ekspresinya saat ini begitu datar.
"Hinata, kenapa kau mengatakan tentang hubungan kita di depan Sakura-chan?" tanya Naruto kesal.
"Me-memangnya a-ada yang salah dengan hal itu, Na-Naruto-kun? I-itu kan kenyataan."
"Tapi hal itu tidak perlu kau lakukan. Kau mengatakannya disaat yang tidak tepat!"
"Ti-tidak tepat?"
"Tadinya aku ingin aku sendiri yang mengatakan hal ini pada Sakura-chan, dia sahabat baikku!"
"A-apa kau malu kalau aku yang mengatakannya?"
"…"
"Sakura-chan, Sakura-chan, dan Sakura-chan. A-aku sudah bosan mendengar nama itu dari mu-mulutmu, Naruto-kun. Selalu saja dia yang ada di pikiranmu. Pa-padahal yang tunanganmu itu kan aku. Ke-kenapa kau tidak pernah memandangku, Naruto-kun? A-aku mencintaimu."
Naruto menatap tajam Hinata, membuat Hinata merasa ketakutan. Hinata sama sekali tidak pernah melihat Naruto yang menakutkan seperti ini.
"Sudahlah, lebih baik kau istirahat saja, Hinata. Sudah malam, aku mau pulang. Terima kasih atas jamuan makan malamnya. Selamat malam!"
"Na-Naruto-kun…!"
Tanpa menghiraukan panggilan Hinata, Naruto segera meninggalkan kediaman Hyuuga dengan perasaan kesal. Hinata hanya terisak di depan pintu kamarnya.
.
~R.I.N.Z.U.1.5~
.
Naruto berjalan dengan lesu menyusuri jalanan Konoha yang kini telah gelap dan sepi. Waktu hampir menunjukkan tengah malam. Naruto tidak peduli dengan udara dingin yang menerpa tubuhnya. Perasaan Naruto saat ini begitu sedih. Ia ingin sekali melepaskan beban yang kini ditanggungnya. Kenapa semua ini harus menimpanya? Keinginannya hanya ingin hidup bahagia bersama gadis yang dicintainya. Kenapa takdirnya harus seperti ini?
Naruto teringat Sakura. Dia masih merindukan gadis itu. Bukan, setiap hari pun Naruto selalu merindukan Sakura. Naruto segera mempercepat langkah kakinya. Dia ingin menemui gadis itu sekarang juga.
Selama Sakura pergi, Naruto selalu mengunjungi rumah Sakura walaupun hanya melintasinya saja, berharap gadis berambut merah muda itu telah kembali. Walaupun hanya memandangi rumahnya saja, Naruto cukup senang karena selalu terbayang wajah tersenyum Sakura kecil ketika Naruto berkunjung ke rumahnya untuk bermain.
Naruto berlari cepat menuju rumah Sakura. Dan beberapa menit kemudian, dia sampai di depan rumah Sakura yang kini terlihat sepi. Penghuninya sudah terlelap dibuai mimpi, kecuali Sakura yang saat ini masih terjaga. Dia sedang berkutat dengan buku diarinya. Entah kenapa malam ini dia sulit untuk tidur.
Naruto memanjat tembok rumah Sakura yang tidak terlalu tinggi itu. Dia berusaha untuk tidak membuat suara yang bisa membangunkan penghuni rumah. Setelah berhasil memanjatnya, Naruto menuju kamar Sakura yang berada di sebelah kanan rumah dan mengetuk jendela kamarnya yang besar itu. Sakura yang saat itu sedang asyik menulis terkejut mendengar suara dari arah jendela kamarnya. Sakura merasa sedikit takut untuk melihat siapa yang mengetuk-ngetuk jendela kamarnya malam-malam begini. Jangan-jangan hantu lagi, pikir Sakura. Sakura segera meraih sapu yang ada di pojok kamarnya, bersiap-siap untuk menghajar siapa yang berada di balik jendelanya. Dengan perlahan, Sakura membuka gorden jendelanya. Matanya terbelalak ketika mendapati Naruto sudah berdiri di sana. Sakura pun segera membuka jendelanya.
"Naruto! Apa yang kau lakukan malam-malam begini di rumahku? Kau membuatku takut!"
"Sst! Jangan keras-keras, Sakura-chan! Nanti aku bisa dikira maling. Hei, kenapa kau bawa-bawa sapu begitu? Kau sedang menyapu di malam hari?"
"Bego! Aku membawa sapu ini untuk memukulmu! Nih, nih terima ini!" Sakura memukul-mukulkan sapu yang dipegangnya pada Naruto. Naruto menunduk-nunduk kesakitan sekaligus kegelian karena rambut sapu itu mengenai tengkuknya.
"Aduh, aduh, ahaha…hentikan, Sakura-chan!"
"Dasar! Kenapa kau bisa ada di sini? Kau memanjat tembok rumahku?"
"Ehehe…"
"Baka! Itu kan bahaya! Bagaimana kalau kau jatuh lalu kakimu patah dan lumpuh sepertiku?"
"Tenang saja, Sakura-chan! Aku pandai dalam hal panjat-memanjat, kau sendiri sudah tahu hal itu. Aku kan sedikit mewarisi bakat simpanse, ahaha…"
"Ya, kau memang simpanse jadi-jadian, haha…" canda Sakura, Naruto hanya manyun mendengarnya. "Lalu, ada apa malam-malam begini kau ke rumahku?"
"Um…aku ingin bicara denganmu, Sakura-chan. Tadi kita belum sempat ngobrol banyak karena ada Hinata."
"Ya ampun, Naruto tapi ini kan sudah malam, memangnya besok tidak bisa apa?"
"Ta-tapi, Sakura-chan aku rindu sekali padamu!"
Mendengar hal itu, wajah Sakura menjadi merah karena malu. "Ba-baka!"
"Mau, ya?" bujuk Naruto dengan jurus binaran matanya.
"Berhenti menatapku dengan wajah jelekmu itu, Naruto! Kau membuatku mual, tahu!"
"Sakura-chan, kau jahat sekali." Ucap Naruto manyun.
"Hh~ , ya sudah. Tapi jangan lama-lama, ya!"
"Terima kasih, Sakura-chan."
Sakura pun segera menutup jendelanya dan menuju pintu depan dengan pelan-pelan karena khawatir akan membangunkan yang lainnya.
Naruto yang kini sudah ada di depan pintu berjongkok memunggungi Sakura. "Ayo naik, Sakura-chan!"
Dengan perlahan tangan Sakura memegang kedua bahu Naruto dan naik ke punggungnya.
"Pegangan yang kuat, ya, Sakura-chan!"
"Iya, aku tahu! Awas, kalau sampai jatuh, ku cekik lehermu sampai putus, Naruto!"
"Aw, aku takut…hahaha!"
Setelah mendorong kursi roda Sakura ke dalam rumah dan menutup pintunya, Naruto segera beranjak sambil menggendong Sakura di punggungnya menuju Taman Konoha.
Sesampainya di Taman Konoha, Naruto kemudian mendudukkan Sakura di bangku taman. Naruto duduk di sampingnya.
"Kenapa kau membawaku ke taman, Naruto?"
"Tidak apa-apa, Sakura-chan. Aku hanya ingin ke sini saja. Rasanya jadi ingat waktu itu, hehe…"
Sakura memandang Naruto sejenak kemudian menatap pepohonan yang ada di seberang bangku. "Hm. Apa kabarmu, Naruto?"
"Aku baik-baik saja, Sakura-chan." Dusta Naruto. "Kau sendiri, Sakura-chan? Kapan kau tiba di Konoha?"
"Beberapa hari yang lalu. Aku tidak sempat memberitahumu karena aku tidak tahu kau sekarang tinggal di mana, Naruto."
"Ya, memang semenjak pembangunan gedung-gedung untuk kantor, semua penduduk di lingkunganku pindah. Aku sendiri sekarang tinggal di apartemen kecil di perfektur D."
"Aku juga kaget dengan perubahan drastis Kota Konoha. Aku hampir tidak mengenali tempat kelahiranku sendiri, hanya taman ini saja yang tidak berubah sejak enam tahun yang lalu. Oh, iya kau masih tinggal bersama Kakek Jiraiya dan Nenek Tsunade?"
"Masih. Tapi, setelah lulus sekolah nanti aku ingin tinggal sendiri. Pusing sekali tinggal bersama orang renta seperti mereka, kerjanya ribut melulu setiap hari membuat kupingku sakit mendengar ocehan mereka. Apalagi Nenek Tsunade galaknya minta ampun!"
"Ahaha…aku jadi kangen sama mereka berdua. Walaupun begitu, mereka itu kan sudah berjasa merawatmu semenjak orangtuamu tidak ada, Naruto. Kau harus menghormatinya."
"Hm. Oh, ya, bagaimana dengan kabar orangtuamu, Sakura-chan? Mereka sehat-sehat saja, kan?"
Sakura sedikit terhenyak mendengar pertanyaan Naruto. Perlahan, kepalanya menunduk dan berusaha untuk tetap tersenyum. "Ayah sehat, kok. Ibu…beliau sudah pergi dua tahun yang lalu karena penyakit kanker."
"A-apa? Ma-maafkan aku, Sakura-chan. Aku turut bersedih."
"Tidak apa-apa, Naruto. Aku sudah menerima kepergian ibu, kok. Tapi…memang tidak bisa ku pungkiri kadang aku sangat merindukannya, Naruto. Sekarang aku mengerti bagaimana perasaanmu yang ditinggal ibumu, bahkan ayahmu juga. Rasanya sakit sekali. Beruntung aku masih ada ayah, kalau tidak, aku tidak yakin bisa setegar dirimu, Naruto. Entah bagaimana aku melanjutkan hidupku." Ucap Sakura dengan raut wajah yang sedih.
"Hei, kau ini gadis yang kuat, Sakura-chan. Kau pasti bisa melaluinya, aku yakin itu!" ujar Naruto sambil mengangkat jempolnya dan nyengir seperti biasa. Sakura tersenyum melihatnya.
"Terima kasih, Naruto."
"Um…ngomong-ngomong Sakura-chan, ke-kenapa kau sampai jadi seperti ini? Apa yang terjadi padamu?"
" Oh, ini maksudmu? Kakiku tertimpa reruntuhan bangunan tua Perpustakaan Suna. Saat itu aku sedang mencari buku tentang medis dan tanpa kusadari tiba-tiba bangunannya roboh begitu saja dan menimpa kakiku, hehe…jadilah aku begini. Tapi aku juga rutin menjalani terapi. Aku belum menyerah, Naruto. Aku selalu berharap keajaiban datang dan Kami-sama bersedia mengembalikan kakiku seperti dulu lagi."
Naruto memandang Sakura dengan tatapan iba. Hatinya merasa sedih melihat Sakura jadi seperti ini. Tapi, Naruto bersyukur Sakura baik-baik saja. Dia masih tersenyum padanya seperti dulu. Naruto benar-benar kagum pada ketegaran Sakura.
"Hei, Naruto aku bersyukur kau masih mau menganggapku sebagai sahabatmu. Aku sempat khawatir akan membenciku karena malu punya teman yang cacat sepertiku." Ucap Sakura getir.
"Hah? Apa maksudmu, Sakura-chan? Kau jangan bicara hal yang bodoh seperti itu. Apa kau lupa dulu aku pernah mengatakan bahwa kau akan selalu menjadi sahabat terbaikku apapun yang terjadi. Aku tidak peduli kau menjadi cacat, bagiku kau tetap Sakura-chan yang aku kenal dulu."
"Kau memang sahabat terbaikku, Naruto. Terima kasih."
"Ahaha…sudahlah, Sakura-chan. Lalu, sejak kapan kau pandai membuat lagu seperti itu?"
"Hah? Oh itu, semua itu berkat gitar tua yang dulu kau berikan padaku, Naruto. Kau masih ingat kan? Semenjak musibah yang menimpaku itu aku jadi sering menghabiskan waktu dengan bermain gitar, dan perasaan ingin membuat lagu muncul begitu saja. Rasanya menyenangkan saja melakukannya, perasaanku jadi nyaman."
"Hmm…jujur saja aku kaget kau bisa membuat lagu sebagus itu. Aku benar-benar tidak menyangka! Apalagi tiba-tiba kau muncul bersama Akatsuki. Syukurlah, ternyata gitar tua itu membawa keberuntungan padamu, Sakura-chan. Aku senang mendengarnya."
"Aku sendiri tidak pernah menduganya, Naruto."
Sejenak kemudian percakapan mereka terhenti. Suasana mendadak hening, seperti suasana malam ini. Hanya angin yang berhembus menggerak-gerakkan rambut mereka. Sakura merasa sedikit menggigil, maklum dia hanya memakai piyama. Sakura lupa tidak mengenakan jaketnya. Naruto yang menyadari hal itu segera melepas jaketnya kemudian memakaikannya pada Sakura. Sakura sedikit terkejut dan wajahnya blushing, tapi sesaat kemudian tersenyum.
"Terima kasih, Naruto."
"Dengan senang hati, Sakura-chan. Aku tidak mau kau sampai sakit."
"Hh~ lalu suruh siapa kau membawaku ke taman malam-malam begini, baka?"
"Hah? I-itu…ehehe…maaf, Sakura-chan."
"Dasar, sifat bakamu itu masih tidak berubah juga, Naruto. Tapi, hal itulah yang membuatmu lucu, haha…"
"Hahaha…menurutmu begitu, Sakura-chan?"
"Hei, kapan kau mau menikah dengan Hinata? Aku benar-benar tidak menyangka kau bisa mendapatkan gadis cantik seperti dia."
"Ah, itu…"
Dalam hatinya, Naruto tidak mau membicarakan tentang hal itu sama sekali. Naruto ingin sekali mengatakan pada Sakura kalau pertunangan itu dilakukan dengan terpaksa. Tapi entah kenapa lidah Naruto terasa kelu untuk menceritakannya pada Sakura. Dia tidak mau memperlihatkan kelemahannya di depan Sakura. Naruto bingung harus bagaimana.
"Entahlah, Sakura-chan…" jawab Naruto lesu.
"He? Kenapa begitu?"
"Aku…tidak mau membicarakan masalah itu, Sakura-chan. Maaf…"
"Apa maksudmu? Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kau baik-baik saja kan, Naruto?"
"Aku baik-baik saja, kok, Sakura-chan. Jangan khawatir. Aku hanya sedang malas membicarakannya saat ini."
"Oh, begitu? Ya, sudah kalau tidak mau cerita."
Sakura merasa aneh dengan sikap Naruto. Bukankah seharusnya seseorang yang sebentar lagi menikah akan merasa senang ketika membicarakannya? Tapi Naruto malah bersikap sebaliknya.
'Apa mereka berdua sedang bertengkar?' batin Sakura.
Walaupun begitu, Sakura tidak mau memaksa Naruto untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dia akan menunggu sampai Naruto sendiri yang menceritakannya.
Sakura menguap lebar. Tiba-tiba saja matanya terasa berat. Dia benar-benar merasakan kantuk yang luar biasa. Sakura berusaha untuk tetap membuka matanya, tapi rasanya sulit sekali. Rasa kantuk hebat menyerangnya. Sakura sampai tidak tahu Naruto sedang berbicara apa padanya. Dia sama sekali tidak memperhatikannya.
"…kau mengerti, kan, Sakura-chan?"
"…"
"Sakura-chan? Kau mendengarku, kan?"
"…"
Karena tidak ada jawaban sama sekali, Naruto jadi cemas. Tiba-tiba saja kepala Sakura sudah terjatuh ke bahu Naruto. Naruto terkejut dan langsung blushing.
"Eh, Sa-Sakura-chan?"
Naruto memegang lengan atas Sakura. Ketika melihat wajah Sakura, Naruto hanya tersenyum dan menghela napas. "Ya ampun, kau malah tidur, Sakura-chan!"
Naruto segera mendekat pada Sakura dan merangkul pundak mungil Sakura, menjaganya agar tidak jatuh. Kepala Sakura didekatkannya pada leher Naruto sehingga tercium bau harum rambut merah muda Sakura.
Naruto membelai rambut pink Sakura dengan lembut. "Kau pasti kelelahan, ya, Sakura-chan? Maafkan aku sudah memaksamu untuk menemaniku. Tapi aku benar-benar merindukanmu. Aku tidak tahu harus bilang apa padamu tentang pertunanganku. Aku sama sekali tidak punya perasaan apa-apa pada Hinata. Aku terpaksa melakukan hal ini. Maafkan aku, Sakura-chan."
Naruto kemudian menatap wajah Sakura yang sedang tertidur pulas di dalam pelukannya. Rasanya Naruto bahagia sekali. Andai bisa seperti ini terus. Bersama dengan pujaan hatinya, Naruto sungguh tidak menginginkan apa-apa lagi.
"Bahkan wajahmu saat sedang tidur pun masih terlihat cantik sekali, Sakura-chan." Naruto tersenyum kemudian mengelus pipi mulus Sakura. Jantungnya kini berdebar kencang. Sebelumnya Naruto tidak pernah sedekat ini dengan wajah Sakura.
Dengan wajah yang sudah semerah tomat, Naruto menyibakkan rambut Sakura yang menutupi sebagian wajahnya kemudian semakin mendekatkan wajahnya pada Sakura dan…
'CUUUUPPP…'
Naruto mencium pipi Sakura. Dia sama sekali tidak sadar dengan apa yang sudah dilakukannya. Entah kenapa tiba-tiba saja dia melakukan hal itu. Mungkin ini adalah tindakan paling nekat yang pernah dilakukannya. Kalau sampai Sakura tahu kalau dia menciumnya seperti ini, mungkin Naruto akan dihajar habis-habisan oleh Sakura dan berakhir di rumah sakit dengan gips dan perban yang membalut tubuhnya.
'Maaf, ya, Sakura-chan. Aku sama sekali tidak bermaksud, ha-hanya saja tiba-tiba tubuhku bergerak dengan sendirinya. Tapi…aku senang sekali, Sakura-chan, ehehe…' gumam Naruto sambil tersenyum senang.
Naruto segera menggendong Sakura dengan bridal style kembali menuju rumah Sakura. Sesampainya di rumah Sakura, Naruto membaringkan Sakura di kasurnya dan menyelimutinya. Sebelum pergi, Naruto menatap Sakura dan mengelus kembali rambut dan pipi Sakura.
"Goodnight, my beautiful angel. Terima kasih untuk waktu yang menyenangkan malam ini, semoga mimpi indah."
Naruto pun keluar dari kamar Sakura dan menutup pintunya perlahan, kemudian bergegas meninggalkan rumah Sakura menuju apartemennya.
Malam ini begitu menyenangkan bagi Naruto. Sepanjang jalan Naruto hanya senyum-senyum sendiri seperti orang hilang akal sambil sesekali bersiul. Untung saja jalanan sepi (ya iyalah tengah malam gitu!) sehingga dia tidak dianggap orang gila yang sedang berkeliaran tengah malam.
"YIIIHHHAAAAA!" teriaknya sambil berlari dan meloncat-loncat kegirangan.
.
~R.I.N.Z.U.1.5~
.
"Oi, Naruto mau kemana kau? Jam segini sudah pulang, tidak biasanya." Tanya Kiba saat sekolah berakhir.
"Ahaha…aku ada urusan. Mumpung hari ini tidak ada latihan basket. Duluan, ya!" jawab Naruto sambil ngacir meninggalkan Kiba yang terlihat melongo.
"Aneh sekali dia!"
"Kenapa?" tanya Sasuke tiba-tiba.
"Itu, si baka Naruto. Tingkahnya benar-benar aneh. Tadi pagi saat datang ke kelas dia senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Sekarang dia pulang secepat itu padahal biasanya nongkrong dulu. Dia juga bilang ada urusan. Memangnya sejak kapan dia jadi sok sibuk, heh?"
"Dia itu mau menemui cinta pertamanya di Sekolah Khusus Rikudou." Jawab Sasuke datar.
"APAA?"
"Tadi dia memintaku mengantarnya ke kelas X-2, kelasnya si anggota baru itu, hmm… Sasame. Dia bertanya dimana sekolah cewek pujaannya itu."
"Cewek pujaan? Ta-tapi bukannya dia sudah punya tunangan?"
"Entahlah. Aku sama sekali tidak punya urusan dengan hal itu. Sudah, ya aku mau ke ruang OSIS dulu." Ucap Sasuke sambil menepuk pundak Kiba.
"Apa-apaan si Naruto itu? Dasar baka!"
Kiba pun bergegas meninggalkan sekolah menuju pintu gerbang. Dia terkejut melihat sesosok gadis berambut indigo yang memakai seragam Hokage High School, sekolah elit Konoha. Gadis itu sedang berdiri menunggu seseorang.
'Heh, ada wanita cantik. Sedang apa dia di sini?' batin Kiba.
Ketika Kiba semakin mendekatinya, tiba-tiba gadis itu tersenyum ke arahnya membuat Kiba menjadi salah tingkah dan wajahnya memerah. Gadis itu menghampiri Kiba.
"Ano…ma-maaf, kau ini Ki-Kiba-kun, kan? Te-temannya Naruto-kun?"
"He? Iya, bagaimana kau bisa tahu?"
"A-aku tahu semua teman sekelas Naruto-kun."
"Kau ini siapanya Naruto?"
"A-aku Hyuuga Hinata, tu-tunangannya Naruto-kun."
"HAAH?" teriak Kiba tak percaya.
Sejenak dia hanya berdiri mematung mengumpulkan kesadarannya kembali. 'Apa-apaan ini? Tidak mungkin tunangan si baka itu secantik ini! Sial, aku kalah darinya!' gerutu Kiba dalam hatinya.
"Ki-Kiba-kun? Kenapa?"
Kiba yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri segera tersadar oleh pertanyaan Hinata.
"Oh? Eh? Ti-tidak apa-apa, kok! Haha… Lalu, ada apa seorang gadis cantik sepertimu datang kemari?" tanya Kiba yang langsung membuat Hinata blushing.
"Ah, i-itu… aku sedang menunggu Naruto-kun. A-apa dia masih di kelas?"
"Hah? Kau menunggu si Naruto? Sayang sekali dia sudah keluar tepat saat bel berbunyi. Dia terlihat buru-buru tadi. Kau kurang cepat, Hinata-chan."
"Su-sudah pulang?"
"Iya. Hmm… oh iya, katanya, sih kalau tidak salah dia pergi ke Sekolah Khusus Rikudou untuk menemui cewek pujaannya. Ups~ oow… "
"A-apa? Ce-cewek pujaan?"
"Ah, haha… bu-bukan, kok! Aku hanya asal bicara saja. Hanya bercanda, ahaha…"
"Te-terima kasih, sudah, ya a-aku permisi." Ucap Hinata sambil bergegas menuju mobilnya.
'Waduh, gawat, nih! Kenapa aku sampai kelepasan bicara, sih? Maaf, Naruto…" sesal Kiba sambil beranjak meninggalkan sekolah.
"Pak, ke Sekolah Khusus Rikudou, ya!" perintah Hinata pada sopir pribadinya, Izumo. Sang sopir mengangguk tanpa bertanya apa pun. Mobil pun melaju cepat menuju Sekolah Khusus Rikudou.
.
~R.I.N.Z.U.1.5~
.
"Sakura-chan!" teriak Naruto yang melihat Sakura baru keluar dari sekolahnya.
"Na-Naruto? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Ehehe… aku menjemputmu."
"Apa? Menjemput? Tapi aku sudah dijemput Pak Yamato."
"Ayolah, Sakura-chan! Kita makan siang sama-sama di Kedai Ramen Ichiraku. Sudah lama kita tidak makan di sana. Mau, ya? Ya?" mohon Naruto sambil merapatkan kedua telapak tangannya.
"Kau masih suka makan ramen, Naruto?"
"Tentu saja, Sakura-chan! Ramen adalah makanan favoritku!"
"Huh, padahal dulu aku pernah memperingatkanmu untuk tidak banyak makan ramen."
"Tapi walaupun begitu aku tidak cacingan dan busung lapar, kan, Sakura-chan?"
Sakura jadi tertawa mendengar kata-kata yang dulu pernah dikatakannya pada Naruto.
"Ternyata kau masih ingat kata-kataku dulu, Naruto?"
"Tentu saja aku ingat. Jadi, mau kan, Sakura-chan?"
Sakura terlihat berpikir sejenak dan akhirnya tak lama kemudian memutuskan.
"Baiklah kalau begitu kali ini saja. Tapi aku tidak bisa lama-lama, aku harus terapi hari ini."
"Beres! Nanti biar aku yang mengantarmu ke sana." Ucap Naruto gembira.
Sakura kemudian menghampiri Yamato. "Pak Yamato, pulanglah duluan. Aku makan siang dulu dengan Naruto. Setelah terapi saja Pak Yamato jemput aku di Rumah Sakit Konoha."
"Baiklah, kalau begitu. Hati-hati, ya, Sakura."
Sakura mengangguk dan tersenyum. Yamato pun menghampiri Naruto.
"Tolong jaga Sakura dengan baik. Jangan sampai sesuatu terjadi padanya. Jangan sampai ada luka lecet sedikit pun! Kalau sampai terjadi apa-apa pada Sakura, kau akan ku kuliti hidup-hidup!" bisik Yamato di telinga Naruto dengan ekspresi wajah dan nada horrornya, membuat Naruto sweatdropped dan menelan ludah karena ketakutan.
"Ba-baik, Pak! Jangan khawatir, Sakura-chan akan ku jaga dengan baik. Aku berani jamin, nyawaku ini taruhannya!"
"Hm, baguslah. Kau pegang kata-katamu itu!"
"Siap!"
Sakura hanya cekikikan melihat Yamato dan Naruto. Setelah berpamitan pada Sakura, Yamato pun akhirnya pulang.
'Ya ampun, ada apa ini? Tiba-tiba saja wajah sopir itu jadi menakutkan seperti hantu. Kenapa aku dikelilingi orang-orang menakutkan, sih?' batin Naruto sambil mengusap dada.
"Ayo, Sakura-chan!"
Naruto segera mendorong kursi roda Sakura menuju Kedai Ramen Ichiraku yang letaknya tidak begitu jauh dari Sekolah Khusus Rikudou. Naruto dan Sakura tidak menyadari sama sekali ada sepasang mata yang kini tengah mengamati mereka dari kejauhan, bahkan mengikuti kemana Naruto dan Sakura pergi.
"Ikuti mereka, Pak!"
"Baik, Nona."
.
To be continued…
.
Huaaa… gomen karena telat update! Penyakit malesku lagi kambuh, nih, ahaha… udah gitu mau ngetik banyak gangguan terus, jadi terhambat, deh!
Nggak bosen-bosennya aku ngucapin makasih buat readers yang masih setia baca lanjutan fic-ku dan udah mau review juga. Aku tunggu review-an kalian.^^
Yosh, sampai jumpa lagi di chapter 5... Ja ne~
