Halo, lagi.
Akhirnya chapter 4 update.
Bagaimana menurut kalian? Baca aja, ya.
Warning : gaje
Pairing : UlquiRuki (maybe, this is not the main pairing. pairing dapat berubah di chapter ke depan.)
"Mencintai tidak berarti memiliki, kan?"
Itulah kata-kata yang biasa Rukia gunakan untuk menghibur dirinya. Tetapi, kali ini kata-kata itu sama sekali tidak mempan. Ia merasa sangat sedih dan sakit hati. Ternyata, harapan yang selama ini ia miliki, hanyalah harapan kosong belaka.
" Jangan berharap terlalu banyak atau kau akan terluka ketika tidak mendapatkan apa yang kau harapkan."
Ia sudah tahu benar kalimat itu. Bahkan, ia sendiri yang membuat kalimat itu dan mengucapkannya berkali-kali di saat ia sedang sendiri. Tetapi, tetap saja ia tidak dapat menyembunyikan perasaannya untuk berharap. Tetapi, sesuai dengan kalimat itu, itu hanya membuat ia makin terluka.
"Kau bisa menghindari kenyataan tentang masa lalumu. Tapi, akan datang saat kau harus menghadapi kenyataan itu."
Kali ini Rukia mengerti makna dari kata-kata itu. Karena, saat inilah ia harus menghadapi masa lalunya yang akan terulang kembali. Dimana saat dia akan merasa sangat kesepian, dan sendiri lagi.
.
Untitled
"When the rain started to falling down, the memories of my past started to opening back again... those painful, and also sweet memories.."
.
Disclaimer
.
BLEACH ©Kubo Tite
This Story © Me
.
CHAPTER 4
"Hope"
.
"Kau juga sedang melayat Toushiro, ya?" tanya Ulquiorra.
"Ulquiorra? Kenapa kau bisa ada disini?" tanya Rukia.
"Kau tak tahu? Aku sahabat jauh Toushiro saat SMP." Kata Ulquiorra. "Dia sahabat dekatku saat SD."
"Ooh.. Toushiro tak pernah menceritakannya padaku.." kata Rukia.
"Tapi Toushiro sering menceritakan soal dirimu padaku." Jawab Ulquiorra sambil memayungi Rukia dengan payungnya. "Awalnya, aku ragu bahwa itu adalah kau. Ternyata, memang kau."
Rukia hanya tesenyum tipis mendengar hal itu. Ternyata, banyak yang ia tidak ketahui tentang Toushiro. "Kau sendiri?" tanya Rukia.
"Tidak. Tadi aku bersama Ichigo. Tetapi ia pulang duluan." Jawab Ulquiorra. "Kau basah kuyup, sebaiknya segera pulang saja."
"Tidak apa-apa, aku masih ingin berada di sini." Jawab Rukia sambil tersenyum.
"Bagaimana jika nanti kau pingsan lagi?" cegah Ulquiorra. Sesaat Ulquiorra melihat raut wajah Rukia berubah, tetapi Rukia segera memalingkan mukanya.
"Tidak apa.. aku.. tidak peduli." Jawab Rukia dan berjalan mundur beberapa langkah.
"Kenapa?" tanya Ulquiorra sambil menarik Rukia kembali ke dalam payungnya. Perlakuan Ulquiorra tersebut sempat membuat Rukia agak blushing dan tersentak.
"Sejak kapan kau peduli padaku?" tanya Rukia dengan agak kasar. Ulquiorra pun kaget melihat kelakuan Rukia yang tiba-tiba berubah itu. "Oh.. maaf.." kata Rukia menyadari perkataannya tadi.
"Tidak maau." Jawab Ulquiorra. "Bagaimana jika kau mengantarku ke sebuah cafe? Baru aku mau memaafkanmu."
Mata violet Rukia membulat seketika ketika mendengar tawaran Ulquiorra tadi. 'Kenapa... kenapa tiba-tiba? Padahal rasanya sebelumnya ia tidak pernah peduli padaku...' batin Rukia. Setelah berpikir sebentar, akhirnya Rukia mengangguk sebagai pertanda setuju.
Setelah dibelikan baju oleh Ulquiorra di toko terdekat, Rukia dan Ulquiorra memasuki sebuah cafe. Cafe itu cukup bagus. Dindingnya tidak dilapisi cat dan memperlihatkan susunan bata merah yang rapih. Dan lantainya terbuat dari kayu dan meja dan kursinya pun terbuat dari kayu. Membuat cafe ini memiliki bau kayu yang khas. Terdapat beberapa tanaman gantung dan figura-figura berisi lukisan di dindingnya. Dan, cafe ini cukup ramai.
Setelah berganti baju di toilet cafe, Rukia pun duduk di depan Ulquiorra yang sedang menyeruput coklat hangat di samping jendela.
"Umm..." gumam Rukia tidak tahu harus mengatakan apa. "Terima kasih.. baju.."
"Tidak apa-apa, kebetulan saja aku ada uang lebih." Jawab Ulquiorra. "Buatmu saja."
"Terima kasih." Jawab Rukia sambil tertunduk malu. 'Baju ini kan mahal.. apa tidak apa-apa?' batin Rukia.
Ya, memang. Baju yang kali ini Rukia pakai adalah sebuah sweater berwarna coklat muda dengan kemeja putih dan rok selutut berwarna putih bersih. Dan itu baru saja dibelikan Ulquiorra tadi di toko baju yang ada di dekat sana.
"Silahkan tuan, ini coklat-nya." Tiba-tiba seorang pelayan datang mendekati meja mereka dan meletakkan segelas penuh coklat hangat yang agak mengepul.
Rukia hanya memandangi coklat hangat itu. Ya, coklat hangat di hari yang dingin adalah favoritnya. Kakaknya, Hisana Kuchiki, selalu membuatkannya segelas disaat hari sedang hujan.
"Minum saja, untukmu." Kata Ulquiorra.
"Eeh? Tapi.." Rukia ragu.
"Serius." Jawab Ulquiorra.
"Umm.. baiklah, terima kasih." Rukia pun mengambil mug yang berisi coklat hangat itu dan menyeruputnya pelan-pelan. "Enak.." gumam Rukia dengan wajah yang agak memerah.
"Enak, kan? Ini cafe favorit Toushiro waktu dia masih SD." Kata Ulquiorra.
Rukia memandang Ulquiorra lama. Sepertinya Ulquiorra benar-benar mengetahui orang seperti apakah Toushiro. Rukia sangat menyesal, kenapa Toushiro harus meninggalkannya sebelum Rukia sempat mengenal dirinya lebih jauh?
"Tapi ia sudah tidak pernah kesini lagi sejak SMP, karena sejak SMP keuangannya semakin sulit." Kata Ulquiorra.
'Aah.. memang. Dia hanya terlihat seperti orang biasa saat SMP.' Batin Rukia sambil menyeruput lagi coklat hangatnya.
"Jadi...kenapa kau terkesan ingin bunuh diri, Ruk?" tanya Ulquiorra.
Rukia hampir saja tersedak disaat Ulquiorra menanyakan hal tersebut. Ia pun berpikir sejenak dan menaruh mug coklatnya itu di meja. "Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Yah, sepertinya, aku agak mengetahui penyakitmu itu. Tuberculosis, kan?" tebak Ulquiorra.
Rukia tidak tahu harus menjawab apa. 'Apakah tidak apa-apa? Kalau aku memberi tahu dia.. berarti aku telah menaruh harapan padanya. Bagaimana jika kutukan itu terulang lagi?' batin Rukia. Ia pun hanya menundukan kepalanya untuk menyembunyikan raut wajahnya yang sedang berpikir keras. Sementara Ulquiorra hanya memandang Rukia dengan tatapan bingung.
"Kenapa harus berpikir segala? Kau bisa menceritakan semuanya padaku." Kata Ulquiorra. "Oh, dan tanpa kau jawab. Aku yakin sekali kau sakit TBC, dilihat dari gejala-gejala yang kau alami. Kau sepertinya kurang nafsu makan, dan kau demam sebentar waktu itu. Oh, dan yang tidak kumengerti adalah kau sering mimisan. Seharusnya, penderita TBC mengalami batuk berdarah, bukan mimisan." Jelas Ulquiorra panjang lebar.
"Ya, aku memang mempunyai TBC, tetapi itu hanya salah satu penyakitku saja." Jawab Rukia akhirnya. 'Berharap sedikit, tidak apa-apa, kan?'
"Lalu? Kenapa, kau malah memperparah penyakit itu?" tanya Ulquiorra semakin tidak mengerti Rukia.
"Aku...aku memiliki sebuah kutukan." Jawab Rukia. Kali ini dengan tampang yang sangat serius. "Setiap orang yang mendekat denganku, maka dalam waktu yang tak lama ia akan menghilang. Dalam kata lain, mati, atau pergi. Apa kau tidak takut? Jika kau takut, kau bisa pergi meninggalkanku sekarang."
Ulquiorra terdiam. Ia berpikir sejenak. Sebenarnya, ia adalah seseorang yang tidak mempercayai yang namanya kutukan atau hal sejenisnya. Tetapi, kenapa Rukia tampak serius?
"Benarkah? Kau tahu, aku tidak percaya kutukan." Jawab Ulquiorra.
"Ini memang benar. Aku juga awalnya tidak terlalu memperdulikannya. Tetapi, sudah sekitar 3 tahun lamanya aku hidup bersama kutukan ini." Jelas Rukia.
"3 tahun?" Ulquiorra sedikit kaget. Jika kutukannya memang benar, berarti... selama tiga tahun Rukia kesepian dan sendiri?
"Yap. Dan, selama waktu tiga tahun itu, aku telah kehilangan sahabatku, teman baruku, bahkan keluargaku satu-satunya." Jelas Rukia. Kali ini ia terlihat lebih santai dan mulai menyeruput coklat hangatnya lagi.
"Lalu... kau ingin kabur dari kutukan ini dengan cara bunuh diri?" tanya Ulquiorra.
Rukia terdiam sejenak. Benarkah ia ingin melakukan hal itu? Tapi, rasanya itu terdengar seperti pengecut. "Tidak."
"Lalu kena—"
"Aku ingin bertemu dengan orang yang mengutukku itu." Jawab Rukia. "Ia sudah meninggal, 3 tahun lalu. Sebelum meninggal, ia mengatakan 'Suatu saat, kau juga akan kehilangan semuanya seperti aku.' Begitu..."
"Dan kau percaya?" tanya Ulquiorra.
"Aku sudah mengalaminya! Mana mungkin aku tidak percaya!" seru Rukia kesal.
"Bagaimana jika kau coba lagi sekarang? Kau bisa dekat denganku sekarang. Dan mari kita lihat apakah aku akan menghilang." Tawar Ulquiorra.
Rukia berpikir sejenak. Apakah tidak apa-apa mengorbankan orang lain untuk percobaan seperti ini?
"Biar kuyakinkan sesuatu. Biasanya, jika orang tersebut tidak percaya pada kutukan, maka ia tidak akan mengalami kutukan tersebut." Yakin Ulquiorra.
Kali ini, Rukia berpikir cukup lama. Rasanya aneh. Tiba-tiba saja, orang yang disukainya, ternyata mengenal mantan pacarnya yang sudah meninggal. Dan, kali ini mereka duduk di sebuah cafe mahal, dan mengobrolkan tentang hal yang sangat ingin dihindari oleh Rukia. Apakah ini kebetulan? Apakah ini jalan bagiku untuk keluar dari penderitaanku ini?
Setelah mempertimbangkan beberapa hal, Rukia pun menyetujuinya. Ia pun tersenyum mantap dan berkata, "Baiklah. Terima kasih. Ulquiorra Schiffer."
Pagi hari yang cerah, secerah harapan yang muncul di hati Rukia. Jika kali ini Ulquiorra tidak menghilang, sepertinya ia bisa tenang lagi.
"Pagi, Rukia." Sapa Ulquiorra pada Rukia yang baru datang. Rukia hanya membalasnya dengan seulas senyum dan segera pergi ke bangkunya.
"Ul, kau jadi dekat dengan Rukia? Sejak kapan?" tanya Ichigo heran. Tidak biasanya Ulquiorra dekat dengan seorang cewek. Apalagi cewek misterius seperti Rukia.
"Tidak apa-apa, kok. Kebetulan saja." Jawab Ulquiorra asal. Ia berpikir lebih baik tidak menceritakan tentang 'percobaan kutukan' yang Rukia dan ia lakukan.
"Ah, kok jawabanmu tidak nyambung seperti itu sih." Keluh Ichigo kesal. Ia paling tidak suka jika sahabatnya sendiri merahasiakan suatu hal yang menarik dari dirinya.
"Nanti kau juga tahu, kok. Oh ya, apakah kau percaya pada kutukan?" tanya Ulquiorra tiba-tiba.
"Hah? Apa maksud pertanyaan itu?"
"Tidak apa-apa. Hanya sekedar random question kok."
"Mau tidak mau, lebih baik aku tidak percaya."
Ulquiorra pun terdiam. Ya, lebih baik kau tidak percaya kutukan, kan? Daripada kau menderita akan kutukan tersebut. Tapi, kenapa ia merasa ragu?
To Be Continued
Di luar perkiraan, ternyata update-nya cepet juga^^
Tapi, maaf pendek ya, ceritanya .
Ini juga biasanya aku ketik di sela-sela jam pelajaran sekolah atau malem-malem^^'
Dan! masalah genre. Ada yang kasih kritik, tapi, kayaknya emang bener^^' jadi, saya pindahin ke romance/suspense aja gimana?
Kesimpulannya : Penyakit Rukia udah jelas, kan? Kutukannya juga udah jelas ga? Dan, dewa penolong belom tentu Ulquiorra, loh!
Reply for your reviews : (maaf, author males jawab di PM^^')
Rio-Lucario : Ahaha, tunggu aja deh, main pairingnya. Mungkin UlquiRuki? Mungkin HitsuRuki? Mungkin RenjiRuki? IchiRuki juga boleh, kok. Tapi, di chapter ini main pair nya UlquiRuki, sih.^^
mio 'ichirugiran' kyo : wah? makasih^^ anda membuat saya bersemangat~XD yosh, ternyata tidak terlalu lama. buktinya, sekarang juga udah apdet, kan?
Jee-ya Zettyra : Yap, anda benar! Rukia jadi minder emang gara-gara kutukan^^ Kutukannya dari Momo? wah, ketauan deh. XD uh-huh. emang dari Momo. Nah, sudah dijelaskan kan bahwa Ulquiorra itu siapa? :) Dewa penolong Rukia Ichigo? wah, tunggu aja sampe cerita ini berakhir. Jika anda tidak setuju dengan pairing UlquiRuki maupun HitsuRuki atau RenjiRuki, pairing dapat berubah seiring berjalannya cerita, kok!
Zheone Quin : Jah. Tak apa. Mungkin mereka males review^^' ah, tapi yang penting masih ada yang baca fic ini meskipun dikit :D Hmm.. saya juga ga tau. Maklum, masi author baru, jadi bingung milih genre... ah, apa saya masukin ke genre Romance/Suspense aja ya? ckckck. cinta segitiga dong? tapi, tenang. ini bakalan jadi cinta segilima kayakny?
.
Yosh! Thanks for all of your reviews!
Please review again!
#digampar
-Ariadne Lacie Mikaerisu-
XD
