Baekhyun menghela nafasnya dan dengan memegang belakang pinggangnya, dia perlahan menurunkan tubuhnya untuk duduk di kursi bangku taman kota dimana ia berada sekarang.

Langit sudah gelap dan hanya beberapa orang saja yang ada di taman itu. Dia menyukai suasana yang seperti ini - tidak ramai, dan tidak terlalu gelap karena lampu taman yang ada disekitarnya. Angin malam yang bertiup-pun perlahan mulai terasa hangat dan dia menyukainya.

"Ja! Apa yang harus kita makan dulu ya?" Gumamnya pada diri sendiri sambil mengambil kantong plastik disamping tubuhnya yang dia simpan terlebih dahulu sebelum duduk.

Dia membuka kantong itu dan menemukan beberapa makanan yang dia beli dari minimarket dan beberapa jajanan jalanan. Senyumnya mengembang melihat banyaknya makanan yang telah dia beli kemudian mengambil sebungkus roti melon, "Roti melon!"

Dengan perlahan dia membuka bungkus plastik rotinya dan bersiap untuk menggigitnya namun berhenti ketika dia melihat sepasang sepatu berdiri dihadapannya.

Dia mengerjapkan matanya beberapa kali dan mengangkat kepalanya. Matanya menyipit sedikit ketika dia tak dapat melihat dengan jelas wajah orang itu, kemudian matanya melebar dan rotinya jatuh kepangkuannya.


Kamu pikir, dengan segala hal yang telah kamu lakukan dulu, semuanya akan baik-baik saja?

Chanyeol mengeratkan genggamannya pada bolpointnya dan mengerutkan dahinya dalam, tanda bahwa dirinya kini sedang berpikir keras.

Semuanya memang baik-baik saja saat itu.

Ya - apa yang dilihatnya memang baik-baik saja.

Kalau kamu bepikir seperti itu, teruslah bepikir seperti itu.

"Sial!"


Park Hyun Jin berdiri dari duduknya ketika melihat perempuan yang telah menghancurkan keluarganya datang kembali ke rumahnya. Amarahnya mulai melambung ditambah dengan melihat sang suami yang mengajak perempuan itu untuk masuk.

"Apa yang sedang kamu lakukan disini!?"

Baekhyun terkejut, dia memundurkan langkahnya sedikit kebelakang dan mengeratkan mantelnya. Apa yang dilakukannya itu mendapatkan perhatian dari Hyung Seung yang berdiri tak jauh dihadapannya dan Baekhyun menjadikannya tameng untuk menyembunyikan tubuhnya walahpun hanya sedikit.

"Apa-apaan ini!? Apa maksudnya, sayang!?" Tanya Hyun Jin.

Hyung Seung tak menjawab pertanyaan istrinya terlebih dahulu, dia menatap Baekhyun dan menyentuh pundak mantan menantunya itu. "Masuklah."

Baekhyun menatap mantan mertuanya itu kemudian mengangguk kecil. Dia mengerti apa yang dikatakan Hyung Seung.

"Sayang!"

Hyung Seung menatap Hyun Jin kemudian tersenyum, "tenanglah." Katanya, "aku akan menjelaskannya."


Chanyeol membuka pintu apartemennya dengan Hana dan dia mengerutkan dahinya ketika mendapatkan rumah yang dalam keadaan gelap.

"Hana-ya!" Panggilnya.

Dia menutup pintunya dan membuka sepatunya sambil meraba tembok yang disampingnya untuk menemukan saklar.

Lampu bagian depan langsung menyala ketika dia telah menekan saklarnya kemudian dia mengambil sandal rumahnya dan memakainya.

"Hana-ya!" Panggilnya sekali lagi.

Dia berjalan masuk lebih dalam dan kegelapan langsung menyambutnya. Sekali lagi dia melakukan hal yang seperti sebelumnya dan tak menemukan siapapun disana.

"Hana-ya!" Dia meninggikan suaranya kemudian berjalan dengan cepat menuju kamar mereka dan dia menemukan hal yang sama.

Dengan tak mempedulikan keadaan kamar yang gelap dia berjalan menuju pintu kamar mandi dan hal yang sama kembali yang dia dapatkan.

Dahinya mengerut dalam kemudian dia pergi keluar kamar.

Dia menutup pintu dan berdiri di depannya sambil berfikir dengan keras, kemana kemungkinan Hana pergi? Karena ini tidak biasanya, jika ingin pergi, Hana selalu memberitahunya, namun sekarang tidak.

"Hana."


Hyun Jin mengerutkan dahinya dalam setelah mendengar semua yang diceritakan oleh Hyung Seung. "Ta-tapi kenapa? Kenapa dia tidak memberitahu kita? Atau setidaknya Chanyeol?" Dia tidak bisa mengerti dengan apa yang Baekhyun lakukan selama ini. Kenapa sangat bodoh dan menyedihkan?

"Karena dia tidak ingin siapapun mengetahuinya." Hyung Seung menjawab dengan pelan.

Hyun Jin menatap suaminya dengan penasaran, "Kenapa kamu bisa mengetahui ini? Bagaimana bisa?"

Hyung Seung tak menjawab untuk beberapa saat, kemudian berkata, "Aku mendengar sesuatu tentang Baekhyun."

Hyun Jin diam tak membalas perkataan suaminya, membiarkan pria itu untuk melanjutkan perkataannya.

"Dia yang membantu kita untuk menjadi seperti sekarang."

"Memangnya harus seperti itu-kan? Itulah kenapa Chanyeol dan dia menikah."

Hyung Seung mengalihkan pandangannya yang sejak tadi lurus ke depan jadi menatap Hyun Jin.

"Bukan seperti itu."

"Lalu apa?"

"Memang betul, bahwa perusahaan keluarga Byun yang membantu kita, namun hanya sebatas membantu untuk kembali seperti semula, tidak seperti sekarang, apakah kamu tahu kenapa perusahaan kita berkembang menjadi besar seperti sekarang?" Hyun Jin menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan itu, yang dia tahu selama ini hanyalah perusahaan suaminya itu telah membaik dan kini sedang berkembang dengan cepat. "Perusahaan kita, sekarang mendapatkan banyak investor dan selalu mendapatkan tender pada setiap pelelangan, tidak seperti dulu, semuanya karena Baekhyun."

"Apa?" Hyun Jin terkejut mendengarnya, setahunya Baekhyun bahkan tak tahu bagaimana menjalankan perusahaannya sendiri karena itulah dia menikahi Chanyeol, "bu-bukannya dia tidak mengerti apapun tentang dunia bisnis?"

Hyung Seung menggelengkan kepalanya, "Aku juga tidak tahu." Jawabnya, "Hanya ada satu yang pasti setelah aku mengetahui hal itu." Hyun Jin mengerjapkan matanya, "dia bukanlah orang yang biasa."


Chanyeol terus mencoba menghubungi Hana, namun semuanya tak aada tanda-tanda dari perempuan itu. bahkan dia telah menghubungi seluruh teman-temannya perempuan itu dan tetap saja tak ada yang mengetahuinya.

"Hana-ya." Dia mencoba menghubungi ponsel perempuan itu kembali kemudian mengacak rambutnya ketika yang menjawab hanyalah operator.

Takkan ada hasil jika dia hanya diam seperti ini.

Chanyeol langsung berdiri dan meraih kunci mobil serta dompetnya kemudian pergi meninggalkan rumah mereka.


Baekhyun menutup album foto yang dibacanya ketika pintu ruangan itu dibuka dan Hyun Jin berdiri disana.

"Ibu.' Panggilnya.

Baekhyun meletakkan bukunya di atas meja di hadapannya dan berdiri dri duduknya sambil memegang mantelnya.

Hyun Jin yang melihat apa yang dilakukan Baekhyun hanya dapat tersenyum tipis, kemudian dia berkata, "Ayo kita makan malam."

Baekhyun terkejut mendengar ajakan mantan ibu mertuanya itu. Ini tidak seperti biasanya, namun begitu dia cukup senang ketika Hyun Jin sedikit memerhatikannya sekarang meskipun dia telah bercerai dengan Chanyeol.

"Baik ibu."

Hyung Seung tersenyum ketika melihat istrinya berjalan berdampingan dengan Baekhyun dari kursinya di meja makan. "Ayo kita makan malam dulu." Katanya.

Baekhyun mengangguk, dia membungkukkan badannya sedikit, "Terimakasih Papa."

"Jagan terlalu kaku seperti itu pada kami Baekhyun-ah, bukankah kita keluarga?"

Hyun Jin menarik kursi untuk Baekhyun, "Duduklah." Katanya, kemudian dia menarik kursi disamping Baekhyun dekat dengan sang suami. "Ayo Baekhyun."

Baekhyun dengan ragu melakukan hal yang diminta oleh para mantan mertuanya, "Terimakasih." Ucapnya dengan pelan.

Hyung Seung tersenyum tipis ketika mendengar itu, dia menatap Hyun Jin yang kini menatap Baekhyun yang menundukkan kepalanya.

Hyun Jin dengan ragu menyenteuh tangan Baekhyun dan menggenggamnya erat, membuat perempuan itu tersentak ketika dia melakukannya dan menatapnya dengan mata yang membulat.

"Seharusnya, kami yang mengucapkan itu, Baekhyun."

Hyung Seung mengangguk, menyetujui perkataan istrinya itu.

"Terimakasih."

Baekhyun terkejut mendengar Hyun Jin mengatakan itu, dia menggelengkan kepalanya dengan ragu kemudian menundukkan kepalanya semakin dalam.

"Ma-maaf."


Setelah selama 3 hari Chanyeol tidak masuk kerja, pagi itu Sehun mendapatkan lelaki itu dalam keadaan kacau.

"Terimakasih Sehun, maaf selama 3 hari ini aku mengandalkanmu." Kata Chanyeol dengan senyuman tipis.

Sehun menutup buku catatannya kemudian berkata, "Apakah terjadi sesuatu?"

Chanyeol mengangkat kepalanya dari berkas yang sedang dibacanya, dia membuat nafasnya lalu berkata, "4 hari ini Hana menghilang."

"Apa? Apakah anda sudah menghubungi kantor polisi?"

Chanyeol menggeleng, "Aku sudah berhasil menghubunginya dan menanyakan keberadaannya dimana, namun dia hanya bilang untuk tidak khawatir padanya dan dia akan segera kembali."

Sehun menghela nafasnya lega, "Setidaknya anda sudah tau bahwa dia baik-baik saja direktur."

Chanyeol mengangguk dan menyetujui perkataan Sehun, "Namun aku tetap saja khawatir, apalagi dia sedang hamil 7 bulan."

Sehun mengerti apa yang dirakan atasannya itu, namun dia tidak bisa melkukan apapun, "Kalau begitu, kenapa anda tidak mengunjungi rumah orang tuanya saja? Luhan pernah melakukan ini juga waktu dia hamil dan dia tinggal dengan orang tuanya tanpa memberi tahu saya terlebih dahulu."

"Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini."

Sehun langsung terdiam mendengar perkataan itu, "Maaf." Katanya.

Chanyeol menggelengkan kepalanya, "Tidak apa, terimakasih atas bantuannya Sehun." Katanya, "Silahkan kembali bekerja."

"Baik." Sehun membungkkukkan badannya, "Jika begitu saya permisi untuk kembali bekerja."


Baekhyun menganggukkan kepalanya mendengar semua perkataan Kyungsoo dari sambungan ponselnya. Dia membalikkan buku yang sedang dibacanya dengan perlahan kemudian menyela perkataan Kyungsoo, "Jadi intinya?"

"10 persen dari yang sebelumnya." jawab Kyungsoo dengan tegas.

Baekhyun mengangguk. "Katakan pada mereka, 30 persen atau tidak sama sekali."

Kyungsoo mengerutkan dahinya, "Anda yakin nona Byun?"

"Kamu ragu Kyungsoo?" Baekhyun mengangkat kepalanya dari buku yang dibacanya, menatap taman belakang keluarga Park dari balkon ruang baca. "Perusahaan sekelas internasional itu tidak akan masalah jika mereka menaikannya hanya 30 persen Kyungsoo-ya."

"Tapi nona, ini bukanlah masalah yang mudah, bahkan para profesional-pun tidak sanggup."

"Aku akan melakukkannya."

Kyungsoo menahan nafasnya ketika mendengar suara Baekhyun yang sudah menegas.

"Anda sedang hamil nona, jangan terlalu memaksakan diri."

Baekhyun mengerjapkan matanya dan tak membalas perkataan Kyungsoo.

"Anda masih ingat dengan yang dikatakan oleh dokter anda? Kandungan anda tidak seperti pada umumnya, ukurannya leb-"

"Aku mengerti Kyung." Potong Baekhyun. "Aku mengerti, tolong jangan katakan itu lagi."

"Nona, ayo ki-"

"Tolong hargai keputusanku Kyungsoo."

Kyungsoo menghela nafasnya mendengar perkataan Baekhyun.

"Saya benar-benar tidak setuju dengan pilihan anda nona."


Chanyeol menengkurapkan tubuhnya langsung ke atas tempat tidur.

Dia sudah sangat lelah karena langsung mengerjakan seluruh pekerjaannya yang menumpuk selama 3 hari. Dengan malas dia melirik pada jam alarm di atas nakas samping tempat tidur.

Sudah jam 2 pagi, sebaiknya dia harus tidur saja langsung.

Chanyeol menggulingkan tubuhnya kesamping sehingga dia menelentang kemudian menutup kedua matanya setelah menjadikan kedua tangannya sebagai bantal.

Kalau kamu bepikir seperti itu, teruslah bepikir seperti itu.

Chanyeol langsung membuka matanya kembali ketika dia mengingat perkataan mantan ibu mertuanya itu. Selama 4 hari ini dia tidak ingat dengan perataan itu, namun sekarang dia mengingatnya kembali.

"Apa maksudnya?"