Uncontrolled Love
(Meanie Version)
Cast:
Jeon Wonwoo as Shu Nian
Kim Mingyu as Xie Yan
Genre: Romance, Boys Love
Rate: T-M
Disclaime:
Wonwoo dan Mingyu milik keluarga mereka dan milik Pledis Ent. Shu Nian milik Xie Yan, dan Wang Bowen milik Meng Rui. Dan aku hanyalah seseorang yang sangat mencintai mereka semua.
Author Note's:
Uncontrolled Love adalah sebuah Boys Love Movie Series dari China yang merupakan adaptasi dari Novel berjudul Force Majeure karya Lan Lin. Karena aku sangat menyukai kisah dan cast-nya, jadi aku tertarik membuatnya ke dalam Meanie Version dengan beberapa penyesuaian. Hope you like it.
Summary:
Jeon Wonwoo menyimpan cinta untuk Masternya, Kim Mingyu, selama lebih 20 tahun. Saat Mingyu mengetahuinya, ia malah menjauhkan Wonwoo dan mengirimnya ke luar negeri. Hidup keduanya berubah mulai saat itu.
- Uncontrolled Love –
Q & A
Di Chapter 2 Wonwoo senyum-senyum dapat sms dari siapa? Itu Mingyu
Apakah ayah Mingyu tidak menyukai Wonwoo? Mereka suka Wonwoo
Nanti Tzuyu balas dendam ga ke Wonwoo? Tunggu aja kejutannya ^^
Apakah Wonwoo tertekan di bawah kuasa Mingyu? Ga kok
Mingyu ada rasa ga sih ke Wonwoo? Wonwoo kesayangannya Mingyu
Status mereka apa? Master and his 'pet'
Mingyu maunya apa sih? Wonwoo
Tzuyu beneran pacarnya Mingyu? Iya (di fanfic aja tapi ya #aku baper)
Perlakuan Mingyu ke Wonwoo kayak orang pacaran, apa karena kebiasaan? Kebiasaan dan sayang
Mingyu suka Wonwoo tapi terhalang cinta terlarang? Mungkin
Apakah Mingyu homophobic? Mingyu straight atau masih straight hehe
Chapter 4
Pagi itu matahari bersinar sangat cerah. Angin berhembus sepoi-sepoi menghantarkan rasa sejuk pada tubuh-tubuh yang penat, perlahan membuatnya menjadi lebih hangat.
Wonwoo sudah selesai berkemas dengan barang-barangnya. Permintaan Mingyu adalah mutlak dan tidak ada yang bisa membantahnya. Wonwoo tidak membawa banyak barang, hanya beberapa potong pakaian yang ia masukkan ke dalam koper kecilnya. Lagi pula, jarak antara rumahnya –rumah Mingyu- dengan mansion utama keluarga Kim tidaklah jauh.
Penampilan Wonwoo seperti biasa, santai dan bersahaja. Kaos putih selalu menjadi pilihan untuk atasan dalamnya, sementara outer-nya ia memakai sweater ungu tua yang sedikit kebesaran di badannya. Wonwoo juga hanya memakai jeans hitam dan sepatu kets putih. Jika tidak sedang dalam mode karyawan kantor, beginilah gaya berpakaian Wonwoo. Terlihat membosankan bagi beberapa orang, namun Wonwoo merasa sangat nyaman dengan pakaian yang dikenakannya ini.
Wonwoo menggeret koper putihnya melewati jalan setapak di taman halaman depan mansion Kim, bunga-bunga berwarna ungu menjajar di sepanjang jalan. Belum lagi naungan dahan-dahan pohon yang membuat sinar matahari sedikit terhalangi untuk langsung menjilati kulitnya yang putih cemerlang. Wonwoo menghirup udara yang selalu segar di taman ini, sedari kecil ia memang mnyukai pemandangan taman depan ini, rindang, asri, indah dan sejuk.
Paman Kang berlari sedikit tergopoh-gopoh melihat kedatangan Wonwoo. Dengan penuh hormat lelaki 60an itu segera mengambil koper yang berada di tangan Wonwoo. Sebenarnya Wonwoo tidak ingin paman Kang memperlakukannya seperti seorang tuan muda juga, ia sudah berulang kali mengatakan kepada lelaki tua itu untuk memperlakukannya biasa saja. Akan tetapi paman Kang yang sudah 40 tahun mengabdi pada keluarga Kim tentu saja tidak mengubris permintaan Wonwoo. Lelaki tua itu menyayangi Wonwoo sama seperti tuan mudanya.
"Selamat datang Tuan Wonwoo." Paman Kang menyapa Wonwoo dengan senyuman hangatnya. "Saya sudah menunggumu sedari pagi," tambahnya.
"Paman, maafkan aku telah membuatmu menunggu." Wonwoo berujar seraya menunjukkan wajah permintaan maafnya. "Dan tolong jangan memanggilku dengan sebutan seperti itu, paman membuatku tidak nyaman." Wonwoo mengerucutkan sedikit bibirnya.
Paman Kang tersenyum lembut, "Tidak apa-apa Wonwoo-ya." Wonwoo mendesah, selalu seperti ini.
"Tuan muda benar-benar berpikir untuk menyuruhmu tinggal di sini. Ia sudah mengabariku semenjak pagi tadi." Wonwoo mendengarkan ucapan paman Kang sambil terus berjalan.
"Ia menyuruhmu untuk beristirahat hari ini dan kembali ke kantor besok." Lanjut sang paman. Wonwoo berhenti sejenak dan mendesah, Mingyu memang seperti itu, selalu memutuskan semuanya sesukanya. "Kamarmu ada di lantai dua, bersebelahan dengan kamar tuan muda."
"Baiklah paman, terima kasih banyak. Aku pasti sangat merepotkanmu." Ujar Wonwoo tidak enak.
"Tidak perlu sungkan Wonwoo-ya. Lagipula siapa yang bisa mengatakan 'tidak' pada tuan muda?" Paman kang terkekeh, Wonwoo pun.
"Tidak ada, paman." Mereka berdua tertawa kecil sebelum Wonwoo pamitan untuk menuju ke kamarnya.
Wonwoo menaiki tangga mansion mewah itu dengan perlahan. Sudah berapa lama ia tidak ke rumah ini? Desain dan perabotan di dalamnya selalu indah dan mewah. Mata Wonwoo menelusuri lampu gantung kristal yang bergantungan pada besi berlapis emas. Kaki jenjangnya menapaki anak tangga satu persatu, merasakan pegangan tangga yang licin bebas debu.
Wonwoo melangkah dengan perlahan, seolah pijakan kakinya bisa merusak karpet indah di lantai jika ia berjalan tergesa. Ia terus melihat ke sekitarnya, berdecak kagum pada semua hal di sana. Wonwoo melihat sebuah pintu putih, tangannya membuka pintu tersebut dengan hati-hati. Aroma lavender menguar dari dalam kamar begitu daun pintu putih ia dorong. Wonwoo terdiam mengamati ruangan yang akan menjadi kamarnya itu.
Sebuah ranjang besar dengan seprai berwarna biru tua dan bantal-bantal bersarung putih. Meja nakas berbahan kayu coklat tua yang bagian atasnya diletakkan lampu tidur bertudung putih dan sebuah pigura kecil berisi fotonya dengan Mingyu. Lalu gorden besar berwarna putih menjuntai menutupi jendela yang dibuat sebesar dinding kamar yang juga berfungsi sebagai pintu untuk ke balkon. Semilir angin menerbangkan tirai putih berbahan halus tersebut. Kamar itu sangat sesuai dengan selera Wonwoo yang begitu mencintai warna putih.
Sebuah notifikasi pesan terdengar dari ponsel Wonwoo. Ia mengeceknya lalu tersenyum simpul. Mingyu menanyakan apakah ia sudah di rumah dan menyuruhnya istirahat. Wonwoo mengabaikan pesan itu lalu berjalan mendekati tirai putih. Tangannya terulur ke depan. Dengan gerakan cepat ia menghentakkan kain putih itu, menariknya ke kedua sisi. Wonwoo menggeser pintu jendela yang dipenuhi kaca itu. Ia menarik nafas dalam-dalam, mengisi seluruh bagian paru-parunya dengan oksigen yang terasa lebih segar dari biasanya.
Wonwoo menikmati waktunya. Seulas senyum yang sangat manis menghiasi bibir tipisnya, ia sangat bersyukur bisa ada di sini. Ia lebih bersyukur lagi karena tahu Mingyu yang menyiapkan semua ini. Mingyu terlalu paham dengan selera dan kesenangan Wonwoo. Perlakuan Mingyu yang seperti inilah yang membuat Wonwoo rela menjadi 'peliharaan' Mingyu sampai kapanpun.
- Uncontrolled Love –
Hari sudah sore. Langit sudah berubah menjadi kemerahan danremang-remang. Kesibukan di kota besar itupun mulai berganti. Nuansa malam yang penuh gairah terlihat dimana-mana.
Mingyu berjalan berdua dengan Tzuyu. Setelah kejadian kemarin Tzuyu berusaha keras untuk mengajak Mingyu keluar, beruntungnya Mingyu sedang dalam kondisi yang baik dan akhirnya menerima ajakan kencan pacarnya itu.
"Mingyu-ya, aku minta maaf tentang kemarin. Seharusnya aku tidak bercanda seperti itu di depan pelayan mu itu." Tzuyu menggandeng lengan Mingyu semakin erat, menempatkan tubuhnya semakin dekat dengan Mingyu.
"Namanya Jeon Wonwoo, bukan pelayan." Aura kelam tiba-tiba menguar dari nada suara Mingyu.
"Iya iya, aku tahu." Tzuyu mengerang.
"Kau sudah mendengar permintaan maafku, jadi lupakan mengenai kemarin, eumm?" Mingyu tidak menjawab dan terus melangkah.
"Kamu bahkan tidak mau menjawab telpon ataupun membalas pesanku. Aku ini pacarmu Kim Mingyu, bukan pegawaimu." Tzuyu benar-benar mengungkapkan unek-unek di hatinya. Mingyu mengabaikannya setelah kejadian itu dan wanita ini terlalu takut jika Mingyu benar-benar marah dan meninggalkannya. "Atau kau benar-benar ingin memecatku sebagai kekasihmu?" Lanjutnya lagi dengan sedikit menunjukkan wajah memelasnya.
Mingyu berhenti melangkah dan berhadapan dengan wanita cantik itu. "Aku tidak berpikir sesempit itu. Aku hanya terlalu penat dengan pekerjaanku yang sangat menumpuk dari awal aku masuk ke perusahaan." Mingyu memberikan penjelasan terbaiknya.
"Jangan jadikan perkerjaan sebagai alasanmu." Tzuyu tersenyum, ia merasa Mingyu sudah memaafkannya. Dengan berani juga ia mengalungkan sebelah tangannya pada leher Mingyu.
Mingyu terkekeh dengan penuturan Tzuyu. Menurutnya Tzuyu menjadi sangat manis saat sedikit merajuk seperti ini.
"Kau tahu, aku tidak pernah menemukan sesuatu yang indah seperti dirimu." Mingyu menyentuh ujung dagu lancip Tzuyu. Wanita itu sumringah sekali.
"Kalau begitu kau harus lebih memerhatikanku." Mingyu tersenyum. Tzuyu menberikan sebuah kecupan di bibir Mingyu. Lalu mereka tersenyum bersama.
"Ayo masuk." Keduanya tertawa kecil, Tzuyu tidak melepaskan rangkulannya, mereka memasuki bar dengan keadaan yang terlihat bahagia.
Suasana hiruk pikuk terdengar di mana-mana, dentingan gelas, tawa wanita-wanita penghibur, gelak dan perintah lelaki-lelaki berdasi yang kesenangan dengan layanan yang mereka dapatkan, benar-benar berisik. Gelas-gelas berisi minuman beralkohol tergeletak di atas meja, beberapa piring buah-buahan juga ada di sana. Di dalam ruangan itu mereka tertawa dengan penuh kenikmatan, pelarian sesaat dari semua kepenatan jiwa, melupakan dunia nyata yang menanti di belakang pintu.
Di salah satu meja bagian ujung, Mingyu duduk dengan di apit oleh dua perempuan berpakaian minim. Wanita-wanita centil itu terus memaksanya untuk meminum alkoholnya. Bergantian mereka menyodorkan gelas memabukkan itu ke mulut Mingyu. Namun dengan senang hati Mingyu menerima pemberian mereka. Kehidupan malam seperti itu bukanlah hal baru bagi Mingyu.
Deringan ponsel membuat Mingyu membuka matanya lebar-lebar, berusaha fokus pada nama yang menelponnya. Mingyu berjalan keluar setelah mengenali ID yang tertera di layar ponsel pintarnya. Sementara itu Tzuyu yang sedang bercengkrama dengan teman-temannya memerhatikan gerakan Mingyu yang keluar dari rauangan.
"Wonwoo-ya." Panggil Mingyu dengan suaranya yang serau.
"Ada sedikit masalah dengan sebuah kontrak, Manajer Lee baru saja memberikannya kepadaku." Jawab Wonwoo to do point.
"Wonwoo-ya." Mingyu mendesahkan nama Wonwoo lagi.
"Aku akan menelponmu lagi nanti jika kau sedang tidak bisa berbicara sekarang." Ujar Wonwoo dari seberang line.
"Bisakah kau menjemputku? Aku ada di Paradise Bar." Mingyu bersandar di dinding ruangan, ia merasa sangat pusing, ia terlalu banyak minum sampai menjadi sangat mabuk.
"Baiklah."
Wonwoo berlari keluar rumah dengan tergesa-gesa. Menyetop taksi yang lewat sembarangan. Ia melupakan semuanya, bahkan lupa jika ada banyak mobil di garasi yang bisa dipakainya untuk menjemput Mingyu. Pikirannya benar-benar kosong. Saat Mingyu memanggil namanya, Wonwoo merasa jika ada yang tidak benar dengan Mingyu. Dan benar saja, Mingyu dalam keadaan mabuk sekarang. Wonwoo sangat jarang melihat Mingyu mabuk, sehingga ia merasa panik sendiri.
"Tolong lebih cepat, kumohon." Pinta Wonwoo pada supir taksi yang ditumpanginya. Raut kecemasan benar-benar tergambar dari wajah dan suaranya.
Wonwoo baru akan masuk ke dalam bar saat ia melihat Mingyu dipapah oleh Tzuyu keluar.
"Aku minum terlalu banyak. Hehe." Mingyu bergumam tidak jelas.
"Hati-hati." Tzuyu menahan tubuh Mingyu yang sempoyongan.
"Tuan Muda!" Wonwoo berseru menyapa keduanya.
"Wonwoo..." Refleks Mingyu melepaskan rangkulan Tzuyu dan mendekati Wonwoo.
"Jeon Wonwoo, kenapa kau ada di sini?" Tanya Tzuyu sarkatis.
"Tuan Muda, anda baik-baik saja?" Wonwoo menangkap tubuh Mingyu yang hampir terjatuh saat akan meraihnya.
"Wonwoo, Jeon Wonwoo ku. Gadisku." Tzuyu terperanjat mendengar ucapan Mingyu. Apa maksudnya? Batinnya tidak terima dengan panggilan Mingyu ke Wonwoo.
Mingyu menangkup leher Wonwoo dengan kedua tangannya, jemarinya bahkan mengelus pipi merona Wonwoo dengan lembut.
"Kenapa kulitmu sangat dingin eum?" Mingyu masih mengelus-elus Wonwoo.
"Mingyu-ya, apa yang kau lakukan?" Bentak Tzuyu. "Kau minum terlalu banyak." Teriaknya lagi. Gadis itu benar-benar tidak senang dengan apa yang dilihatnya tadi. Mingyu tidak pernah selembut itu ketika menyentuhnya. Ada perasaan cemburu yang membara di hati wanita tersebut.
Bagaikan angin lalu, Mingyu sama sekali tidak merespon ucapan Tzuyu. Bahkan sepertinya ia tidak mendengarnya sama sekali. Ia masih asik dengan Wonwoo-nya. Meletakkan tangannya melingkar di pundak Wonwoo, berusaha mengecup pipi ataupun terlinga Wonwoo. Sementara itu Wonwoo yang sadar dengan situasi berusaha keras untuk menahan sikap Mingyu.
"Nona Chou, Tuan Muda sepertinya minum terlalu banyak. Saya akan menanganinya, silahkan anda pulang dengan hati-hati. Selamat malam."
Tanpa menunggu jawaban Tzuyu, Wonwoo menarik Mingyu dan merangkulnya berjalan menuju mobil Mingyu.
"Tuan Muda, apakah anda merasa lebih baik?"
Bukannya menjawab Mingyu malah bergumam dan terkekeh. Mingyu masih bermain-main dengan Wonwoo dan mengucapkan panggilan-panggilan dan hal-hal yang terdengar menjijikkan bagi Tzuyu yang melihat mereka dengan tatapan tajamnya. Ia benar-benar marah dan cemburu melihat Mingyu dengan Wonwoo.
Mingyu bmeringkuk di bangku penumpang. Saat Wonwoo akan menjalankan mobilnya, tiba-tiba Tzuyu masuk ke dalam dan duduk di samping Mingyu. Wonwoo menoleh ke belakang. Tzuyu dengan santainya bersikap seperti nyonya besar yang siap memberikan perintah kepada Wonwoo.
"Kekasihku minum terlalu banyak, jadi sebagai wanitanya tidak seharusnya aku pulang sendirian kan?" Sebelah alisnya terangkat, jelas-jelas ia ingin menantang Wonwoo.
Wonwoo menghela nafasnya, sangat paham dengan maksud wanita tersebut.
"Kalau begitu ijinkan saya mengantar anda terlebih dahulu." Tukas Wonwoo.
"Tidak perlu. Aku tidak minum terlalu banyak, jadi tidak perlu merepotkanmu." Wonwoo memutar matanya, ia tahu ini hanya taktik Tzuyu.
"Tapi ini sudah terlalu malam." Tepat saat Wonwoo melihat ke arahnya dari kaca spion depan, Tzuyu segera memalingkan wajahnya ke arah Mingyu.
"Sayang, masih sakitkah?" Tzuyu benar-benar pintar, ia mendekati wajah Mingyu dan mengecupnya beberapa kali. Mingyu terkekeh geli. Wonwoo melihat semuanya, ia tidak mengalihkan pandangannya sama sekali.
"Apa yang kau lihat? Jalankan mobilnya!" Perintah Tzuyu.
Wonwoo mencoba menstabilkan deru nafasnya. Lalu ia mulai menjalankan mobilnya menuju kediaman Kim. Tanpa ia ketahui Tzuyu tersenyum licik di belakangnya.
- Uncontrolled Love –
Dengan langkah terseok-seok Wonwoo menahan berat tubuh Mingyu. Tubuh Mingyu lebih tinggi dan berat dari tubuhnya. Ditambah dalam keadaan mabuk seperti ini, Mingyu bertambah berat untuk di kontrol.
"Wonwoo-ya, aku ingin tidur denganmu. Hehe." Mingyu meracau, bahkan ia berkali-kali ingin mencium pipi Wonwoo. Wonwoo terengah-engah menahan tubuh Mingyu.
"Memeluk Wonwooku adalah yang terbaik. Hmmm." Mingyu mengelus pipi Wonwoo, sesekali ia hampir terjerembab ke depan.
"Master."
"Wonwooku hehe."
Tzuyu mengikut di belakang mereka. Ia memerhatikan bagaimana perlakuan tidak sadar Mingyu pada Wonwoo. Bahkan di bawah sadarnya, Wonwoo tetaplah yang diinginkan Mingyu. Dengan penuh rasa kesal, Tzuyu melihat kedekatan keduanya. Saat Wonwoo sedang sibuk mengurus Mingyu di dalam kamarnya, Tzuyu dengan tanpa peduli mencari kamar Wonwoo. Ketika melihat pintu putih persis bersebelahan dengan kamar Mingyu, ia merasa yakin jika itu kamar Wonwoo.
Tanpa segan Tzuyu masuk ke dalam kamar putih itu, menyalakan lampunya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kamar. Ia memerhatikan semuanya. Matanya melihat koper yang terbuka. Perlahan ia mendekati koper tersebut.
Tzuyu terperanjat saat melihat isi koper itu. Ada sebuah kotak kecil berwarna merah di atas tumpukan baju-baju. Ia jadi sangat yakin itu milik Wonwoo. Tzuyu menyentuh amplop coklat yang berada di antara tumpukan-tumpukan kertas dan foto di dalam kotak. Lalu ia mengambil tumpukan foto, ia melihatnya satu persatu. Mulai dari foto seorang anak kecil, pelajar sekolah, remaja sampai akhirnya ia terdiam melihat salah satu foto di tangannya. Itu foto Mingyu.
Tzuyu menutup kotak dengan tergesa saat mendengar suara. Ia berdiri dan berbalik dan sangat terkejut menemukan Wonwoo berdiri di depannya.
"Apakah semuanya sudah beres?" Tanyanya seraya menenangkan diri. Wonwoo mengangguk.
"Ini sudah sangat malam, saya akan mengantar anda pulang." Tawar Wonwoo yang langsung dibantah oleh Tzuyu.
"Kenapa aku harus pulang? Kekasihku sedang dalam keadaan mabuk, aku harus berada di sini untuk menjaganya." Tzuyu memberikan senyum cantik yang penuh ejekan kepada Wonwoo.
"Ia sudah ada di tempat tidurnya jadi anda bisa tenang sekarang." Jawab Wonwo masih mempertahankan kesopanannya kepada pacar tuan mudanya itu.
"Justru karena ia sudah tidur dan berada dalam keadaan tidak sadar makanya aku tidak bisa tenang." Gadis itu menatap Wonwoo dengan tajam. Wonwoo menghela nafasnya lalu sedikit memejamkan matanya. Ia berusaha sangat sabar menghadapi Tzuyu.
"Nona Chou, Tuan dan Nyonya besar sedang berada di rumah." Tzuyu kaget mendengarnya. "Mereka akan curiga jika tahu tuan muda mabuk dan membawa seorang wanita ke rumah sampai larut malam seperti ini. Bukankah itu akan meningalkan kesan buruk mereka terhadapmu?" Tzuyu mencerna ucapan Wonwoo. Ia mempertimbangkanya. Ucapan Wonwoo ada benarnya, ia harus meninggalkan kesan bagus untuk kedua orang tua Mingyu.
"Ok, aku akan pergi." Wonwoo merasa sangat lega.
"Suatu hari aku juga akan tinggal di sini dengan nyaman." Wonwoo terdiam mendengar ucapan penuh keyakinan Tzuyu. "Tolong jaga dia." Titahnya lagi.
"Ah, satu lagi. Berhati-hatilah dengan barangmu." Wanita itu meninggalkan kamar Wonwoo sebelum menabrakkan bahu sempitnya pada pundak Wonwoo. Wonwoo memandang kotak merah miliknya dengan sayu. Dalam hatinya Wonwoo bertanya, apakah semuanya akan segera berakhir?
- TBC –
Uncontrolled Love Season 2 Rilis 20 agustus. Demi apa aku senang sekali. Langsung semangat, jejeritan. Mana kemarin di Fansmeet Rui dan Bowen nya manis banget dan romantis sekali, daku lemah huhuhu... Di tambah lagi Meanie yang semakin mesra, saat konser di Tokyo yang Mingyu rangkul pundak Wonwoo terus Wonwoo sanderin kepalanya ke Mngyu terus mereka yang dekat-dekatan, lirik-lirikan, tatap-tatapan,,, aaaaaa manis sekali,,, huhuhu... Jepang emang surganya para shipper...
Maafkan aku menghilang sedikit lama. Semoga Chapter ini cukup sebagai pembukaan konflik pertama di Chapter depan.
Thanks buar feedback-nya ^^
