Everything's Back to Normal
Chanbaek
Yaoi
Mpreg
M
4
.
.
.
"Anak-anak mau sarapan apa?" Tanya Baekhyun bertopang dagu diatas counter, bergantian menatap Sehun dan Kyungsoo yang masih terkantuk-kantuk.
"Sehunie mengantuk, pa."
"Mh-hm, Kyungsoo juga."
"Kalau begitu kita mandi dulu, ayo! Kalian harus ke Sekolah, sayang."
"Hoaaamm nyam-nyamh." Kyungsoo menguap lebar yang selanjutnya menular pada Sehun yang malah lebih lebar lagi menguap. Baekhyun menutup mulut anaknya itu.
"Saat menguap harus ditutup mulutnya, masuk lalat." Canda Baekhyun menoel hidung Sehun dan Kyungsoo yang menyengir saja.
"Kyungsoo bisa mandi sendiri, pa." Kata anak tertua saat dibantu turun dari kursi panjang oleh Baekhyun.
"Kalau begitu Kyungsoo harus memandikan Sehunie," Celetuk Sehun kemudian saat sudah berdiri disamping saudaranya. Kyungsoo melirik sinis,
"Mandi saja sendiri, sudah besar. Malu sama itu." Sehun merunduk pada arah telunjuk Kyungsoo yang menunjuk area bawahnya. Reflek kedua tangannya menutup bagian itu, padahal ia masih memakai piyama.
"Ish, tapi Sehunie tidak bisa memakai shampo, pedih tau masuk mata." Sehun cemberut.
"Yasudah tidak usah pakai shampo."
"Ish Kyungsoo jahat! Sehunie marah!" Sehun berlalu dengan kaki yang disentak-sentak. Baekhyun dan Kyungsoo menatapnya dengan kerjapan mata, lalu belum sempat Kyungsoo membuka suara Sehun kembali lagi dengan sedekapan tangan.
"Papa! Ayo mandikan Sehunie~" Sehun merengek menghampiri Baekhyun untuk memeluk kakinya.
Ding! dong!
"Daddy?!" Pekik Sehun semangat, melupakan bahwa dia baru saja merengek. Tanpa disuruh tubuhnya menghilang dihadapan papa dan saudaranya secepat kilat, berlari untuk membuka pintu.
Baekhyun mengernyit bingung. Jika itu Chanyeol, biasanya pria itu akan langsung masuk tanpa harus menekan bell.
"Uh? Uncle Changmiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnn!"
Kyungsoo ikut berlari saat mendengar teriakan Sehun dan berbinar gembira melihat pria tinggi yang sudah lama tak dilihatnya.
"Uncle!"
"Ya ampun, sikembarnya uncle sudah besar." Pria itu berjongkok didepan pintu menerima pelukan hangat kedua ponakannya.
"Uncle uncle uncle! Sehunie memiliki banyak sekali edisi Prime!"
"Uhm! Kyungsoo punya banyak sekali buku dongeng! Bacakan untuk Kyungsoo ya uncle?"
"Uncle akan bermain robot-robotan dengan Sehunie!"
"Dengan Kyungsoo!"
"Sehunie!"
"Kyungsoo!"
"Ah iya iya iya, uncle akan bermain bersama Sehunie dan membacakan dongeng untuk Kyungsoo, okay?" Changmin menggendong kedua ponakannya dimasing-masing tangan.
"Kak Changmin?"
"Oh hai, Baekhyun. Maaf mampir pagi-pagi, aku baru saja tiba di Seoul dan langsung merindukan kedua ponakan nakal ini."
Baekhyun mempersilahkan Changmin masuk dan duduk disofa, membuatkannya minum dan menyediakan beberapa toples kukis buatannya.
"Ya ampun, aku senang kakak mampir. Pasti sikembar juga merindukan unclenya, iya, 'kan?"
"Mh-hm!" Jawab mereka serentak dalam pangkuan Changmin.
"Ohiya, paman punya oleh-oleh."
"Ohya? Apa itu? Batman atau Superman?"
"Apa itu dongeng Disney?"
"Tapi oleh-olehnya tertinggal diapartemen uncle." Changmin melengkungkan bibirnya kebawah, menatap wajah kedua ponakannya yang langsung berubah sedih.
Baekhyun terkikik melihat interaksi menggemaskan itu, ia berjalan mendekat dan berkata bahwa mereka harus mandi dan segera berangkat ke Sekolah.
Changmin menawarkan diri untuk mengantarkan sikembar. Tapi ia tidak tahu Sekolah mereka dimana jadi ia meminta Baekhyun untuk ikut, dan si mungil mengiyakannya.
"Baek, aku dat_"
Ucapannya terhenti saat melihat seseorang tengah duduk disofa, memangku anak-anaknya dengan erat seolah mereka adalah milik pria itu. Chanyeol yang baru saja tiba dengan setelannya merasa tertegun dan marah sekaligus, ia menatap Baekhyun yang berdiri tak jauh dari pria itu.
"Well, kau pulang akhirnya, Shim."
"Tentu Park, aku merindukan keponakanku." Changmin menjawab dan berdiri, menyambut Chanyeol yang berjalan mendekat. Meletakkan satu paper bag berisikan dua buah puzzle untuk anak-anaknya.
"Itu mengapa kau tidak berkunjung kerumah dan malah mampir kesini?" Sindir Chanyeol.
Sang lawan terkekeh, "Santai bro, aku baru saja tiba. Aku akan datang besok."
"Sayang, ayo mandi." Si mungil mengambil kedua putranya untuk ia mandikan, membiarkan Chanyeol dan Changmin mengobrol. Ia pergi darisana dan disaat itulah Chanyeol melihat senyum miring pria yang lebih tinggi darinya.
"Kau sepertinya harus pulang dan beristirahat. Aku akan mengantar an_"
"Aku yang akan mengantarnya..
..bersama Baekhyun."
Pada sisian tubuhnya, Chanyeol mengepalkan tangan.
.
.
.
Sejak kepulangan sepupunya, Chanyeol merasa waktunya bersama sikembar mulai merenggang. Sudah ia tidak memiliki waktu banyak, dan disaat senggang malah diambil alih oleh Changmin. Ia cemburu melihat Sehun dan Kyungsoo yang tertawa dan meminta diajarkan bermain video game.
Saat ini ia sedang didapur, membantu Baekhyun membuat kudapan sedap yang disukai sikembar. Kukis jahe seperti yang ada di film Shrek.
"Aku membaca berita online." Celetuk Baekhyun tanpa menoleh, berpura-pura sibuk dengan cetakan kukis. "Pertunanganmu dipercepat."
Chanyeol berhenti memotong-motong buah untuk dijadikan salad. Ia melihat Baekhyun yang masih sibuk memberikan mata dan juga kancing pada kukis yang sudah terbentuk. Ia benar-benar tidak suka Baekhyun mengungkit masalah pertunangan bodohnya itu. Hatinya menciut sakit melihat Baekhyun yang tampak baik-baik saja akan itu, seolah Baekhyun benar-benar tak mengharapkan apapun darinya.
"Aku senang,"
Chanyeol melepas pisaunya dan mencengkeram pundak Baekhyun membuat simungil terpaksa menoleh dengan tatapan terkejut, dan lebih terkejut lagi melihat wajah mengerikan mantan suaminya.
"Kau tidak senang Baekhyun, jujurlah dengan perasaanmu." Tekan Chanyeol. Ia semakin kuat mencengkeram bahu Baekhyun sampai menimbulkan ringisan dari sipemilik,
"Aku berkata ju_sshh sakit, Yeol." Baekhyun melepas tangan besar Chanyeol tapi yang selanjutnya ia dapat adalah dorongan kuat dan punggungnya yang terbentur pintu kulkas.
Mata sipitnya dipaksa terbuka saat kedua tangan Chanyeol memegang pinggangnya dan mulai mengikis jarak, benar-benar kelakuan yang tak pantas dilakukan oleh pasangan yang sudah berpisah. Baekhyun menggeliat tak nyaman dan memukul dada Chanyeol beberapa kali untuk menyadarkannya.
"Bisakah aku berharap, Baekhyun? Berharap padamu, pada pernikahan kita, pada cinta kita? Aku mencintaimu, sayang. Aku tidak pernah merubah perasaanku, masih akan terus sama untukmu." Chanyeol menunduk menyatukan kening mereka, memejamkan mata dan dalam diam, perlahan-lahan mengalir satu bulir kesakitan yang selama ini ia pendam sendirian. Menampakkan sisi lemahnya didepan orang yang ia cintai, jika selama ini ia tidak pernah merasa baik sejak berpisah.
Tangan Baekhyun sudah terangkat untuk menyentuh pipi yang mulai menirus itu, ingin sekali mengusap air mata yang dengan kurang ajarnya mengaliri pipi Chanyeol. Tapi egonya mulai menguasai, ia tidak bisa melakukan hal itu. Ia dan Chanyeol tidak dalam hubungan khusus lagi. Ia sudah menjadi orang asing.
"Kau tahu itu sia-siakan?" Baekhyun berusaha menahan getar pada bibirnya, "Percuma. Perasaanku sudah berubah, aku tidak memiliki perasaan yang sama denganmu lagi, Yeol. Bukalah matamu, lihat dengan matamu, aku bukan orang yang pantas kau cintai. Buka matamu, Chanyeol!"
"Tidak." Katanya lirih dan menyedihkan, "Aku tidak sanggup melihat kau berbohong Baekhyun, aku tidak sanggup melihat kau merelakan perasaanmu." Chanyeol menyembunyikan wajahnya diceruk leher Baekhyun, kedua tangannya melilit pinggang ramping Baekhyun dan merapatkan tubuh mereka.
"Aku sakit, Baek. Setiap malam harus tersiksa karena rasa rinduku." Nafas hangatnya menerpa leher telanjang Baekhyun yang putih, "Percuma bertemu setiap hari, kalau kita hanya membicarakan sikembar, pekerjaanku, masalah pertunangan yang bahkan tidak pernah kuharapkan. Kita sangat datar seperti orang asing."
"Chanyeol, kau tidak boleh seperti ini. Lu_"
"BISAKAH KAU DIAM DAN BIARKAN AKU SEBENTAR SAJA?!"
Baekhyun tersentak mendengar teriakan Chanyeol yang begitu putus asa. Dadanya kembali sesak, nafasnya mulai tersendat mendengar isakan kecil dan bahu lebar itu bergetar. Ia tidak tahu kalau dirinya bisa begitu berharga bagi Chanyeol. Apa ia sudah berlaku jahat pada mantan suaminya? Tapi tidak hanya Chanyeol. Bahkan Baekhyun hampir tidak bisa tidur hanya karena memikirkan jika hari esok, ia akan bertemu dengan Chanyeol, bahkan hanya untuk membicarakan hal-hal kecil seperti sikembar yang sangat aktif, Baekhyun tidak sabar menanti itu sampai ia selalu tidak bisa tidur.
"Chanyeol.."
Tangan Baekhyun mulai merambat, memeluk tubuh besar Chanyeol dan mengelus punggungnya.
"Panggil aku lagi, Baek."
"Chanyeol.. Chanyeol.. Chanyeol-ah."
"Dan biarkan aku sebentar dalam pelukanmu."
Changmin mengabadikan momen pasangan itu dari matanya untuk ia simpan dalam memorinya. Ia akan bercerita suatu saat nanti pada sepupunya yang kembali berbahagia, bahwa mereka pernah mengalami masa sulit yang menyedihkan.
.
.
.
'Bisa kita bertemu? Omong-omong sudah empat tahun sejak kau bercerai.'
'Aku tidak tahu siapa kau, maaf aku sedang sibuk.' –bbh
Baekhyun kembali melihat ponselnya yang berkedip. Tadinya ia sedang membuat artikel tentang resep baru masakan untuk ia bagikan diblognya yang terbengkalai. Ia berharap pembaca setianya masih merespon kehadirannya.
'Kau tidak berubah. Terlalu sombong dan menjijikkan. Aku tidak peduli kau sibuk atau tidak, ku tunggu diruang kerjaku, Byun.'
Baekhyun berubah menjadi manekin ketika satu nama terlintas diotaknya, pemikiran-pemikiran tentang dahulu ia sering sekali mendapat hinaan, makian dan juga tatapan sinis. Bagaimana ia menanggung rasa sakit hatinya sendirian bahkan tak satupun orang mengetahuinya. Bagaimana ia bersabar dan mencoba membuang semua hinaan itu, bagaimana ia terlalu rendahan dimata sang mantan ayah mertua.
.
.
.
Baekhyun turun dari mobilnya. Ia sudah menitipkan sikembar pada Minseok. Perusahaan didepannya adalah perusahaan yang sama seperti tujuh tahun lalu, saat ia pertama kali menginjakkan kakinya pada inchi tiap inchi lantai perusahaan itu. Bagaimana Chanyeol mengenalkannya pada seluruh karyawannya. Teringat ia senang sekali membawakan bekal makan siang untuk Chanyeol dan hari ini, hari dimana sejak saat itu ia kembali menginjakkan kakinya diperusahaan terbesar milik keluarga Park.
"Permisi, aku ingin bertemu dengan Tuan Park Seunghyun." Kata Baekhyun pada resepsionis perempuan, tampak masih sangat baru.
"Maaf, apa sebelumnya anda sudah membuat janji?"
"Sudah."
"Baiklah, saya akan menghubungi sekretaris Tuan Park Seunghyun dulu."
Baekhyun menunggu sekitar satu menit didepan meja resepsionis. Ia sengaja menggunakan kaca mata bundar dan rambutnya yang ia tata agak berantakan, menghindari beberapa karyawan lama yang mungkin masih mengenalnya.
"Anda bisa menemui Tuan Seunghyun diruangannya, Tuan."
"Terima kasih." Baekhyun tersenyum singkat dan berlalu memasuki lift. Meskipun langkah kakinya terbilang cepat, tapi tubuhnya merasakan kegugupan.
"Tuan Baekhyun," Baekhyun terperangah melihat seorang berdiri didepan ruangan Seunghyun tengah memberikan bungkukan hormat padanya.
Baekhyun berusaha mengalihkan tatapannya dan menata rambutnya agar terlihat semakin berbeda.
"Percuma anda menutupinya, saya akan tetap tahu bahwa anda Tuan Baekhyun." Taejoon tersenyum manis.
"A-ah iya, jika kau disini berarti.."
"Tuan Chanyeol? Tuan ada_"
"Tolong jangan katakan padanya aku kemari."
Baekhyun memelas mohon pada Taejoon yang juga menatapnya prihatin, sekretaris itu hanya mengangguk dan mempersilahkan Baekhyun memasuki ruangan Seunghyun.
Yang Taejoon tidak tahu adalah bahwa ayah dari bossnya itu memiliki rasa tidak suka yang sangat besar terhadap mantan suami Chanyeol.
.
.
.
Baekhyun menunduk hormat pada sang mantan ayah mertua sebelum mendekat padanya dan berdiri didepan meja.
Sedang lelaki yang hampir memliki kriteria yang sama seperti Chanyeol meletakkan gelas winenya dan berdiri, menyambut Baekhyun dengan pelukan dan menepuk pundak si mungil beberapa kali. Tapi senyumnya amat licik, dan seharusnya Baekhyun tahu itu.
"Duduklah, sayang." Kata Seunghyun dan Baekhyun menurut, duduk di sofa dan pria tinggi itu duduk disofa satunya.
"Ayah ingin mem_"
"Oh oh oh oh, jangan panggil aku ayah. Kau tahu kau tidak pantas." Seunghyun tersenyum manis, Baekhyun hanya mengangguk dan balas tersenyum namun senyum miris.
"Aku mengundang kau untuk membagi kabar bahagia. Kau sudah mendengarnya kan?"
Baekhyun tidak tahu kenapa hatinya kembali berdenyut sakit saat mengingat hal itu dan melihat wajah Seunghyun sama sekali tidak membuat perasaannya membaik. Jadi ia menjawab dengan cepat dan dengan begitu obrolan mereka akan berakhir lalu ia akan pulang menemui sikembar.
"Aku tahu."
"Hahaha, bukankah kau memiliki kesadaran akan hal itu? Anakku akan menikah dan bukankah seharusnya orang sepertimu menjauhi Chanyeol?" Seunghyun menuangkan wine untuk Baekhyun, "Dan bawa anak-anak harammu ikut menjauh. Kalian itu bagaikan parasit."
Baekhyun menggeram, ia menatap sinis Seunghyun dengan bola mata yang bergetar menahan airmata.
"Berhenti mengatakan anak-anakku anak haram! Aku papanya, dan Chanyeol daddynya. Mereka lahir dalam hubungan yang sah!" Sentak Baekhyun.
"Cih, Chanyeol daddynya? Menggelikan. Aku tidak pernah menyetujui kalian, bukankah itu berarti kau adalah pendosa yang memaksa menikahi anakku? Lalu melahirkan dosa-dosa lain yang menjijikkan."
"Cukup Tuan!" Baekhyun berdiri, bernafas dengan susah dan mencoba meredakan sakit dikepalanya dengan memejamkan mata sejenak. "Aku akan benar-benar menjauhi Chanyeol."
Lalu Baekhyun keluar dari ruangan itu dengan pintu yang terbanting. Memang tingkah yang tidak sopan, membuat Seunghyun tertawa puas dan menatap pintu ruangannya tajam sambil menggumankan kata 'jalang'.
Lalu ia menghubungi seseorang untuk terus memata-matai Baekhyun.
.
.
.
Raga Baekhyun menyetir dengan baik namun jiwanya seakan masih tertinggal diruangan Seunghyun. Matanya sembab karena terus mengaliri air asin yang pilu, beberapa kali ia mengusap pipinya dan untung saja ia masih sadar dan berhenti ketika lampu merah.
Ia menelpon Minseok untuk menanyakan sikembar dan jawaban dari sahabatnya itu membuat hatinya sedikit tenang, Kyungsoo sedang bermain dengan Daeul dan seseorang yang Kyungsoo ingin temui lagi belakangan ini, ketika Minseok mengatakan nama anak itu adalah Kai. Baekhyun semakin lega.
Sedangkan Sehunie bermain bersama Jaehyun, mengganggu beberapa karyawan perempuan dan untuk informasi, Sehun sangat senang dipuji oleh seorang perempuan. Membuat kepercayaan dirinya semakin menjadi dan itu sangat menggemaskan.
Ia akan menginjak pedal gas kembali ketika rambu berwarna hijau namun ia langsung terlonjak ketika seseorang berlari dari ujung zebracross dan menghantam kap depan mobilnya. Baekhyun menjatuhkan ponselnya dan segera keluar dari mobil, melihat kesekitaran yang ribut-ribut lalu beberapa orang petugas patroli menghampiri Baekhyun dan mengatakan terima kasih.
Baekhyun marah, bagaimana bisa ia baru saja menabrak seseorang dan polisi itu mengatakan terima kasih padanya?!
"Setidaknya anda sudah berhasil melumpuhkannya,"
Baekhyun melihat seseorang yang sedang menunduk memegangi kakinya itu dengan mata bergetar ketakutan, seorang polisi menunjukkan sebuah berkas dan beberapa foto pada Baekhyun.
"Dia seorang pendatang dari desa. Mencuri, membuat kegaduhan seperti orang gila dan keresahan masyarakat adalah yang paling utama. Beberapa kali orang memergokinya sedang menarik anak-anak, dan memukul para pejalan kaki."
Baekhyun menerima beberapa foto itu dan melihatnya dengan tangan bergetar, lalu pada satu foto, ia melihat korbannya sedang memegang beberapa chocopie curian keluar dari minirmarket dan tak sengaja menatap kearah kamera yang memotretnya. Baekhyun semakin bergetar dan jatuh berjongkok, memegang pundak yang terbalut pakaian kotor dan lusuh itu,
Di antara sirine mobil kepolisian dan beberapa petugas yang sudah bersiap menodong senjata, jaga-jaga kalau anak itu mulai bertingkah gila. Baekhyun berkata takut-takut,
"Taehyung-ah?"
.
.
.
Chanyeol menundukkan kepalanya hormat ketika kepala keluarga Xi menuangkannya wine dengan tawa khas orang tua. Ia juga menepuk pundak Chanyeol beberapa kali dan memuji betapa hebat dan tampannya Chanyeol. Cukup membuat lega bahwa pria tinggi itu bisa melindungi anaknya yang manja.
"Bukankah anakku semakin tampan dan matang, Xi?"
Chanyeol mengepalkan tangannya diatas lutut, mendengar kedua orang yang sedang bercanda dan ia melihat ibunya dengan nada canggung-canggung berbicara dengan Jiyeon, ibu Luhan yang berdarah asli Korea.
Sedangkan disampingnya, Luhan sedang bergelayut manja.
"Wow, tentu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana wajah cucuku nanti, perpaduan Park Chanyeol dan Xi Luhan. Benar-benar pas."
Seunghyun tertawa lagi dan melirik anaknya yang sejak tadi terdiam, ia menggeram pelan dan mencoba mengkode istri yang duduk disebelahnya untuk memancing Chanyeol. Tapi si tinggi itu hanya menjawab seadanya membuat Seunghyun benar-benar kesal dengan perlakuan tidak sopan Chanyeol.
"Ayah, jangan terlalu cepat membicarakan cucu. Aku malu~" Luhan menyembunyikan wajahnya dilengan Chanyeol tapi selanjutnya ia menatap ayahnya dan Seunghyun malu-malu, "Apapun jenis kelaminnya nanti, cucu ayah pasti akan terlihat hebat. Karena Chanyeollie adalah daddynya." Luhan mengadah, menatap Chanyeol yang hampir saja mual dengan jamuan makan siang memuakkan ini.
"Aww, lihat sekarang siapa yang tidak sabar, huh?" Tuan Xi menyenggol pundak anaknya yang kemudian mereka larut dalam obrolan mereka, Chanyeol benar-benar tidak bisa bergabung karena ia sudah merasa risih sejak awal.
Tak sengaja saat Chanyeol akan meminum winenya ia bertatapan dengan Seunghyun yang duduk didepannya, ayahnya begitu banyak menyiratkan jutaan kalimat yang Chanyeol abaikan begitu saja. Ibunya, Sooyoung Cuma bisa menatap kasihan putranya yang tertekan.
Putranya yang bernasib malang, memiliki ayah keras seperti Seunghyun.
.
.
.
Baekhyun menatap dua orang petugas patroli yang terus berdiri disudut ruang rawat korban tabrakannya. Petugas itupun menatap Baekhyun dengan senyum sopan, selagi Taehyung diperiksa oleh dokter Baekhyun menghampiri petugas muda itu.
"Apa yang kalian tunggu?"
Sang petugas yang paling tampan dan berdiri didepan Baekhyun tersenyum kikuk, "Ah maaf Tuan, bagaimanapun yang anda khawatirkan saat ini adalah tersangka utama timbulnya keresahan warga. Jadi kami akan menunggunya sembuh dan membawanya ke kantor untuk diperiksa identitasnya lebih lanjut."
Baekhyun menghela nafasnya sebelum mendongak lagi, agaknya ia kesal karena dilibatkan dengan orang-orang bertubuh tinggi akhir-akhir ini.
"Namanya adalah Kim Taehyung, datang dari desa terpencil di Bucheon dan mungkin nyasar saat tiba di Seoul. Dia memiliki sedikit gangguan mental, dan aku juga heran kenapa dia bisa sampai di kota ini." Jawab Baekhyun lugas.
Petugas itu saling lirik dan kembali berkata kikuk pada Baekhyun. ragu-ragu mengatakan kalimatnya, dipenglihatannya Baekhyun adalah orang yang bersih, asli penduduk Seoul, sopan dan elit. Jika ia memiliki kerabat dari desa, bukankah lucu?
"Maaf, apa ia kerabat anda?"
Baekhyun mengangguk sekali, "Maaf untuk itu, aku akan menanggung semua yang telah dilakukannya. Bisa kau jelaskan padaku lebih detail? Apa yang dilakukannya selama ini?"
Petugas tampan itu tersenyum manis, untuk sesaat ia terpesona dengan kelugasan Baekhyun terlebih lelaki mungil itu tidak malu-malu mengakui kerabatnya.
Petugas Choi, membungkuk sopan dan mempersilahkan tangannya untuk membawa Baekhyun keluar dari ruang inap Taehyung. Mereka akan berbicara diluar,
"Meski begitu Tuan, tersangka akan tetap menjalani pemeriksaan."
"Baiklah," Jawab Baekhyun dan tersenyum sekali.
.
.
.
Kyungsoo dan Kai sedang bermain disamping cafe, terdapat sebuah taman bermain kecil anak-anak yang dibuatkan Baekhyun khusus untuk sikembar. Tapi banyak juga pelanggan yang membawa anak-anak mereka dan menitipkannya ditaman bermain, sedangkan ada Hani dan Taeyeong yang menjaga anak-anak selagi para orangtua sibuk menikmati waktu didalam cafe.
Seperti saat ini, saat Hani dan Taeyeong kerepotan menjaga anak-anak lain. Dalam kotak pasir yang tidak begitu besar, Kyungsoo duduk dengan perkakas pelastik untuk membangun sebuah kerajaan atau mungkin sebuah kue untuk Kai. Sedangkan temannya itu menatapnya sambil menopang dagu dengan sikut yang ia tumpu diatas kaki yang bersila.
"Daritadi kembaran Kyungsoo sibuk melihat kita." Celetuk Kai membuat Kyungsoo mengadah, dan menoleh kesebelahnya. Ia bisa melihat Sehun yang terduduk disudut counter pemesanan tengah dikerumuni para karyawan perempuan.
Tapi matanya tak lepas dari dirinya dan Kai.
"Biar saja, dia memang seperti itu."
Kamong cafe memiliki dinding kaca transparan yang tebal, itu mengapa mereka bisa melihat Sehun dan pengunjung didalam tanpa harus terganggu dengan pekikan anak-anak. Disisi lain juga para orang tua tetap bisa mengawasi anak-anak mereka.
"Sepertinya dia cemburu."
Kyungsoo berhasil mencetak satu bongkahan pasir dengan ember kecil berwarna biru, wajahnya sangat datar.
"Salahnya sendiri tidak mau diajak bermain."
"Ada apa?" Tanya Kai, mengusak rambut Kyungsoo yang mulai basah karena keringat. Padahal hari tak begitu panas dan angin berhembus normal.
Kyungsoo menatap Kai, "Ada apa apanya, Kai?"
Lalu Kai menggeleng dan tersenyum manis, ia mengambil sekop kecil dan mulai menyendok pasir kedalam ember lagi.
"Wajah Kyungsoo kalau terkena sinar matahari semakin lucu, aku menyukainya." Kata Kai malu-malu, begitu juga dengan Kyungsoo yang berhenti menusuk sebuah bendera kecil diatas bongkahan pasirnya.
"Apa Kyungsoo jelek?"
"Eh, tidak-tidak." Kai mengibas tangan buru-buru melihat Kyungsoo memegangi kedua pipinya yang kemerahan, lalu ia menarik tangan Kyungsoo. "Kyungsoo tidak jelek. Kyungsoo itu terlalu manis bagiku."
Dasar penggombal muda. Kai memang tahu soal merayu, menurun dari ayahnya katanya. Padahal usianya masih sembilan tahun.
"Apa Kyungsoo itu semacam kue? Kenapa dibilang manis?" Kyungsoo protes dengan cemberutan.
"Jadi?"
"Tampan."
"Uh yeaah, sangat tampan." Kai tertawa saat Kyungsoo memuji dirinya sendiri dan mereka akhirnya tertawa bersama.
"Seperti daddy Kyungsoo, tampan." Kata Kyungsoo asal saat mencari-cari sendok pelastik yang sudah terkubur dalam pasir,
"Ohya? Seperti apa?"
Kyungsoo berpikir sambil mengelus dagunya, "Bagi Kyungsoo daddy itu seperti pangeran dalam dongeng yang sering papa bacakan, tapi Sehunie selalu bilang kalau daddy itu lebih mirip heroes dalam Marvel."
"Boleh aku bertemu dengan daddy Kyungsoo?" Kai berharap, menanti respon Kyungsoo cemas.
"Boleh. Tapi daddy itu sangat-sangat sibuk, Kyungsoo saja jarang bertemu. Hehe." Kyungsoo menyengir, sekaligus tindakan maafnya karena mungkin tidak bisa membawa daddynya kehadapan Kai.
Kai tersenyum dalam diam, mengetuk-ngetukkan telunjuknya diatas pasir. Menatap wajah Kyungsoo yang sedang serius membangun sebuah istana. Ia tidak tahu apakah benar papa dan daddy Kyungsoo sudah pisah atau tidak, mau bertanyapun rasanya tidak tega.
Didalam cafe, Sehun sedang mencebikkan bibirnya melihat Kai yang sudah mencuri waktunya bersama saudaranya. Ia ingin sekali merengek dan membuat Jaehyun kepayahan.
.
.
.
TBC
.
Notes:
Sinetron banget. Miyane.
Ohya, disini untuk kata daddy, uncle ga gue italic ya. Bayangin aja bakal banyak kata daddy dan gue harus ngeitalic tuh kata. Satu chap aja ada berapa puluh kata daddy :(
Typos miyane.
EBI kacaw miyane.
Terima kasih buat yang baru ngereview dan yang ngereview again. SERIUS GUE BACA. Yang ngefav, ngefoll juga terima kasih yaa bae. Untuk review chap 4 ini, insya Allah gue bales nakku :(
Gue shock beneran sama angka siders wkwk, ganyangka bisa sampe segitu. Yahh, cewa de
.
Ps: Ini update-an terakhir
Pss: Menurut kalian bapaknya Kai siapa?
Psss: Gue ada bikin ff oneshoot cb M. Tp gapede publish /iklan
