Rumah keluarga 'Kim' kini sudah sepi. Beberapa jam yang lalu, Baekhyun dan Daehyun telah berangkat ke China untuk urusan pekerjaan. Harusnya mereka berangkat tiga hari lagi, namun Daehyun sengaja memajukan jadwalnya agar bisa beristirahat alias bersantai alias jalan-jalan terlebih dahulu dengan orang tercintanya.

Taehyung yang kini sendiri di kediaman Kim itu kini mulai beres-beres. Ya, dia dan Jimin berencana akan berangkat besok untuk pekerjaan juga. Karena waktu yang cukup lama, maka mereka memutuskan untuk menginap, tentunya menyewa hotel disana.

Jimin yang malas membawa mobil sendiri itu memutuskan untuk menumpang pada Taehyung saja, toh mereka melakukan pekerjaan yang sama serta menginap di tempat yang sama pula. Lagian Jimin juga tak ada cita-cita untuk berjalan-jalan ke daerah yang cukup pinggiran itu.

Dan oleh karena rencananya, kini Jimin sudah di rumah Kim. Alibi menemani Taehyung serta agar tidak kesiangan.

"Kau menyiapkan sendiri Tae?" tanya Jimin dari atas kasur.

Ya, mereka tidur sekamar. Alasannya? Karena Taehyung yang sudah pindah ke kamar tamu sejak beberapa bulan yang lalu. Dan tidak lucu kan kalau Jimin tidur di kamar Taehyung, sementara pemilik rumah di kamar tamu? Dan karena rencana menginap Jimin ini mendadak, kamar tamu lainnya belum dibersihkan oleh ART.

"Ya" jawab Taehyung singkat.

Jimin hanya mengagguk-angguk saja. Kini ia kembali fokus ke ponselnya. Bekerja? Tentu saja tidak. Jimin kini memainkan game di ponsel canggihnya. Game tembak menembak yang tengah populer saat ini di berbagai kalangan itu.

"Aku mengantuk, bisa kecilkan volumenya?"

Jimin hanya mengangguk saja, seraya mengecilkan volume game di ponselnya.

"Tae, kenapa kau tidak tidur di kamarmu?"

Walau bertanya begitu, pandangan Jimin tak lepas dari ponselnya.

Taehyung yang tengah selesai beres-beres barangnya itupun naik ke atas kasur, berbaring di sebelah Jimin.

"Aku tak bisa Jim, terlalu menyakitkan" jawabnya.

"Maksudnya?"

"Bahkan baunya masih tertinggal disana, aku tak bisa Jim"

"Kau bisa menyuruh ARTmu untuk membereskannya kan?"

Taehyung menutup kepalanya dengan selimut, menyembunyikan wajahnya sendiri.

"Aku tak mampu membuang barangnya Jim, semuanya masih sama. Ia tak membawa apapun saat pergi" ujar Taehyung di balik selimutnya.

Jimin menghela nafas keras, cinta membuat buta memang benar adanya. Walau tak pernah merasakannya, Jimin berharap tidak akan pernah merasakannya, sungguh menyakitkan hanya melihat saja.

"Shit, kalah" gumam Jimin lirih, seraya meletakkan ponselnya di samping kasur. Ya, kalau sudah kalah, Jimin malas untuk bermain lagi. Kekanakan memang.

"Lalu bagaimana kau mengambil barangmu di kamar?" tanya Jimin lagi.

"Aku tak mengambilnya, aku membeli yang baru" jawab Taehyung.

Jimin menatap Taehyung tak percaya. Hanya karena tak sanggup masuk ke kamarnya, sampai-sampai Taehyung membeli perlengkapan pribadinya lagi? Baju dan perlatan mandi juga termasuk kan? Konyol.

"Hei, kau bisa menyuruh ART mengambilkannya untukmu" celetuk Jimin.

"Tidak bisa Jim"

"Apanya?"

"Semua barangku di kamar sudah menjadi miliknya, semua sudah tersentuh olehnya. Hanya dia yang boleh mengambilnya"

Jimin semakin menganga saja. Presepsi macam apa itu? Bahkan barang yang dimaksud Taehyung itu ada di rumahnya sendiri. Bagaimana bisa menjadi miliknya dan tak boleh diambil selain dirinya? Mustahil.

"Ya sudah kau tidur saja Tae, capek juga ngobrol denganmu lama-lama" ujar Jimin akhirnya.

-*123*-

"Hiks hiks"

"Sudahlah Kook, kalau memang benar akan digusur, kita akan pindah ke tempat yang lebih baik" Jin yang sedang main ke rumah Jungkook itu mencoba menenangkan Jungkook yang tengah sesenggukan.

Bukan hanya Jin saja sebenarnya, ada Bibi Lee dan Yoongi juga. Lokasi kafe Yoongi dan kontrakannya juga termasuk dalam wilayah penggusuran, sehigga Yoongi juga ikut dalam kesedihan berlarut Jungkook ini. Entah kenapa ia juga terbawa suasana menjadi mellow begini. Moodnya buruk sekali akhir-akhir ini.

"Aku tidak tahu harus kemana, Hyung. Hiks" Entah lah, Jungkook jadi semakin cengeng saja akhir-akhir ini. Kemana dirinya yang kuat sebelumnya? Tetimbun oleh mood swingnya mungkin.

Bibi Lee membawa teh hangat dari dapur, empat gelas untuk empat orang.

"Termakasih, Noona" ujar Jin.

Ya, memang hanya Jungkook saja yang memanggil dengan sebutan 'Bibi', sedangkan Jin masih memanggil sewajarnya sesuai umur Bibi Lee.

"Kita akan berusaha mempertahankan rumah kita ini Kook. Setidaknya kita harus berjuang terlebih dahulu sebelum menyerah, benar kan Jin?" ucap Bibi Lee berusaha menyemangati Jungkook.

"Iya, Kook. Apa yang dikatakan Noona benar. Apapun hasilnya nanti, setidaknya kita sudah memperjuangkan apa yang menjadi hak kita. Jangan patah semaangat" sambung Jin dengan berapi-api.

Yoongi yang baru menyelesaikan mandinya itu ikut duduk di dekat Jungkook. Ya, apartemen mini Jungkook sudah seperti basecamp mereka saja. Mau melakulan apapun, masuk-keluar juga sesuka hati.

"Minum dulu Hyung. Hiks" ditengah sesenggukannya, Jungkook masih mengingat Yoongi yang dirasa sakit itu.

"Eum" gumam Yoongi pelan sambil meminum teh hangat buatan Bibi Lee.

"Kau sakit apa memang?" Jin mengenal Yoongi karena tak jarang ia mampir ke kafenya, begitu juga Bibi Lee.

"Haanya masuk angin mungkin" jawab Yoongi sekenanya.

Jungkook menyelesaikan tangisannya, kemudian ikut meminum teh hanhat buatan Bibi Lee.

"Bagaimana bisa masuk angin? Kau begadang?" kini Bibi Lee ikut menimpali.

Yoongi menggeleng. Bagaimana bisa begadang kalau hobinya itu tidur? Jam tidurnya bahkan sudah lebih dari cukup.

"Lalu?"

"Entahlah, aku tidak tahu Hyung, Noona" gumamnya pelan.

"Yoongi Hyung sudah terlewat sering muntah-muntah, Bi, Hyung" cerita Jungkook.

Bibi Lee yang mendengarnya sontak melebarkan kedua matanya, menatap Yoongi penuh kecurigaan dan rasa tak percayanya.

"Kau hamil Yoon?" celetuknya.

"Mana mungkin!" sela Yoongi cepat.

Bibi Lee masih belum percaya akan jawaban Yoongi.

"Kuambilkan testpack di rumahku, dan kau harus mencobanya besok pagi" paksa Bibi Lee.

Yoongi terlihat meneguk air liurnya dengan susah payah. Ia yakin jika apa yang dikatakan Bibi Lee tidak benar, tapi entah kenapa ada bagian dari dirinya yang mempercayai itu dan takut tentu saja. Hei, dia tak merasa pernah melakukannya dan mana mungkin terjadi kan saat dirinya saja masih lajang.

Bibi Lee melenggang keluar dari apartemen Jungkook ke apartemennya sendiri. Hanya perlu waktu tak lebih dari lima menit, Bibi Lee sudah kembali.

"Bagaimana kau bisa punya ini Noona?" tanya Yoongi menatap syok ke arah testpack yaang diberikan padanya itu.

"Hei, aku masih muda dan sudah menikah. Apalagi anakku sering menginap disini. Untuk stok tak masalah kan?" jelas Bibi Lee.

"Kau juga mau mengecek sekalian Jin?" tanya Bibi Lee tanpa pikir panjang itu.

"Mustahil Noona! Lagipula aku juga tidak menunjukkan gejala seperti Yoongi. Jangan aneh-aneh" tolak Jin mentah-mentah.

Jungkook dan Bibi Lee tertawa bersama melihat reaksi berlebihan Jin. Memang Jin suka melebih-lebihkan orangnya.

"Nah, ketawa kan jadi cantik lagi" goda Bibi Lee sambil mencolek pipi gembil Jungkook.

"Apa sih Bi" ujar Jungkook malu-malu.

"Ya sudah aku pulang dulu. Kalian istirahatlah, besok bekerja kan? Ayo Noona" Seteah percakapan ringan itu, Jin dan Bibi Lee kembali ke peradaban mereka.

"Nyaman sekali ya Kook tinggal di apartemen ini" ujar Yoongi yang masih disana itu.

Jungkook yang tengah memijat pinggangnya yang nyeri itupun mengangguk sebagai jawaban.

"Bukan dimana kita tinggal Hyung, tapi dengan siapa kita tinggal" ujarnya puitis, yang ia akhiri dengan kekehan. Tak percaya ia mengatakan hal seperti itu.

Yoongipun ikut terkekeh mendengar kalimat cheesy Jungkook. Matanya tertuju pada perut besar Jungkook.

"Apa hamil itu menyenangkan?"

Entah kenapa pertanyaan itu terucap dari bibirnya. Ia seperti sudah termakan ucapan Bibi Lee tadi.

"Tentu saja. Itu berarti kita tidak sendirian Hyung, selalu ada yang menguatkan kita. Menyemangati agar kita tidak pernah menyerah" jawab Jungkook kembali dramatis. Emosinya naik turun memang.

Yoongi menyentuh perut besar Jungkook, mengusapnya memutar dengan lembut, seakan takut jika jiwa di dalam sana terganggu akan sentuhannya.

"Semenyenangkan itu rupanya" gumamnya pelan.

-*123*-

Jimin terbangun saat Taehyung memukul lengannya tidak pelan. Setelah menempuh perjalanan berjam-jam dengan Taehyung seorang yang menyetir, sedangkan Jimin tertidur pulas itu, akhirnya mereka tiba di lokasi. Cukup jauh memang dari perkotaan.

"Sudah sampai?" tanya Jimin dengan wajah tanpa dosanya.

"Ya, cepat bangun" jawab Taehyung ringkas.

Jimin melihat ke sekitar, memang bukan perkotaan seperti tempatnya hidup selama ini. Namun udaranya cukup segar tanpa asap dan debu berlebih dari kendaraan bermotor maupun pabrik. Nyaman. Satu kata itu cukup menggambarkan lokasi ini.

"Ini hotelnya?" tanya Jimin.

"Ya" singkat Taehyung.

Bukan hotel berbintang seperti yang biasanya Jimin maupun Taehyung tempati memang. Melainkan cukup minimalis dan bersih tentunya.

Setelah itu mereka melakukan check-in dan merapikan barang bawaan mereka di kamar yang telah Taehyung pesan sebelumnya. Kamar terpisah tentu saja.

"Ayo kita cari makan, Tae. Aku lapar perjalanan lama ini" ajak Jimin.

"Hei, kau hanya tidur dan aku yang menyetir tanpa bergantian" ingat Taehyung yang membuat Jimin cekikikan sendiri.

Memang itu tujuannya menumpang pada Taehyung. Agar ia tak perlu menyetir sendiri. Membawa sopir? Tidak, ia tak mau merepotkan dengan menyuruh sopirnya pulang sendiri dengan jarak sejauh itu. Kalau ada apa-apa kan Jimin juga yang kena.

"Aku lelah Jim. Kau saja yang keluar membeli makanan" ujae Taehyung lagi.

Jimin berdecak. Ia tak tahu tempat ini dan harus berkeliling sendiri?! Bagaimana kalau dia hilang? Ya, bagaimanapun memalukan bukan? Tapi karena dia lapar, Jimin memutuskan untuk menuruti permintaan Taehyung saja.

"Kau pesan apa?" tanya Jimin pasrah.

"Seperti biasa. Terserahmu asal yang normal saja" jawab Taehyung yang akan bersiap untuk mandi.

Jimin mendengus singkat. Tapi kemudian iapun keluar dari kamar Taehyung. Ia memutuskan untuk jalan kaki saja. Toh tak banyak juga kendaraan yang berlalu lalang disini yang dapat diartikan jalan kaki merupakan pilihan tepat.

"Kemana aku harus pergi?" tanya Jimin pada dirinya sendiri.

Sambil berjalan, ia melihat sekeliling sambil menghafalkan tempat hotelnya berada tadi. Ya, meskipun ada alat bantuan bernama 'Map' sih.

-*123*-

"Hyung"

Panggil Jungkook yang kesekian kalinya. Yoongi yang masih berada di meja kasir itu nampak melamun. Memikirkan banyak hal yang baru saja terjadi padanya.

"Hyung apa kita tutup saja hari ini? Hyung terlihat tidak fokus" ujar Jungkook.

"Ha? Kau mengatakan sesuatu Kook?"

Jungkook memanyunkan bibirnya kesal. Kalau saja bisa, ia juga akan menyentakkan kakinya ke lantai. Namun tertahan oleh perut besarnya, jadi ia urungkan.

"Hyung istirahat saja di rumah. Pasti Hyung terkejut sekali akan berita ini" usul Jungkook.

Ia khawatir dengan keadaan Yoongi sekarang. Pasalnya tadi pagi Yoongi melakukan apa yang Bibi Lee suruh padanya kemarin, dan di luar dugaannya hasilnya menunjukkan dua garis. Ada nyawa lain dalam dirinya. Yang Yoongi khawatirkan adalah bagaimana bisa terjadi? Melakukan hubungan intim saja Yoongi rasa tidak pernah, bagaimana mungkin bisa ada dua garis? Siapa pula penyebabnya? Yoongi sama sekali tak mengingat satu kejadianpun.

"Tidak apa-apa Kook. Aku baik-baik saja" ujar Yoongi pelan.

Kalau pada umumnya, orang yang hamil di luar nikah seperti dirinya pasti akan menangis sesenggukan, menggugurkan janinnya, atau bahkan bunuh diri. Namun, Yoongi berbeda. Ia tak mau bersikap tak terpuji seperti itu. Ia menerima keberadaan nyawa lain itu di tubuhnya. Hanya saja yang menjadi pikirannya saat ini adalah siapa ayahnya? Ya, hanya itu yang menjadi kekalutannya. Walaupun Yoongi yakin tanpa ayahnya sekalipun, Yoongi tetap bisa merawat nyawa itu. Tapi tetap saja ia penasaran tingkat dewa. Kalaupun sudah tahu pelakunya, Yoongi juga tak berniat meminta pertanggungjawaban. Simpel memang pemikiran Yoongi, sesimpel hobi tidurnya.

"Maaf membuatmu khawatir" lanjutnya sambil tersenyum

Jungkook yang melihat Yoongi tersenyum itu juga ikut tersenyum.

"Ya sudah aku membersihkan meja dulu Hyung, mumpung sedang sepi" ujar Jungkook seraya beranjak pergi.

Yoongi hanya mengangguk saja, tak berniat membantu Jungkook. Bukannya Yoongi tak kasihan, tapi hobinya ini mencegahnya untuk beranjak. Pemalas memang.

"Selamat da...tang"

Yoongi menoleh saat Jungkook menyapa pelanggan dengan nada suara yang aneh. Dilihatnya Jungkook yang berdiri kaku sambil melebarkan kedua bola matanya. Dan dilihatnya juga pelanggan yang datang itu sangat asing baginya. Bukan pelanggan biasanya. Mungkin datang dari luar kota karena Yoongi tak pernah melihatnya.

"Kau!" Desis pelanggan itu tampak memelototkan matanya juga.

Yoongi yang melihat adegan tegang nan dingin itupun akhirnya ikut turun tangan. Ia takut pelanggannya itu menyakiti Jungkook.

"Maaf tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Yoongi sopan.

Pelanggan itu memicingkan matanya menatap Yoongi, yang membuat Yoongi agak risih.

"Aku pernah melihatmu. Tapi aku lupa" ujarnya di luar perkiraan Yoongi.

"Maaf, tapi saya baru bertemu dengan anda hari ini" ujar Yoongi tenang dan ramah.

"Tidak, kau sangat familiar. Nanti kuingat-ingat lagi" ujar pelanggan itu seenaknya.

Yoongi ingin rasanya memukul kepala pelanggannya yang seenak jidatnya itu, seolah-olah mengenalnya saja. Padahal Yoongi merasa tak pernah bertemu dengannya.

"Oh ya, dan aku tak ada keperluan denganmu. Aku hanya ingin berbicara empat mata dengannya" lanjut pelanggan itu sambil menunjuk ke arah Jungkook.

"Tidak bisa Tuan, dia tengah bekerja. Anda tidak bisa seenaknya saja" tolak Yoongi.

"Berani sekali kau mengaturku! Kemari Kim Jungkook! Kita perlu berbicara!"

Jungkook yang nampak ketakutan itu hanya menunduk di belakang Yoongi. Mencari perlindungan.

"Sepertinya anda salah orang. Namanya Jeon Jungkook, dan jangan memaksanya sesuka hati anda" Yoongi nampak sedikut kesal akan pelanggannya ini.

"Kau yang salah Nona, namanya-"

"Saya laki-laki tuan" potong Yoongi, menatap nyalang ke arah sang pelanggan.

"Ah, maaf kalau begitu. Dan namanya sudah berganti Kim Jungkook setelah menikah dengan Kim-"

"Cukup! Kita bicara berdua!"

Jungkook tak mau pelanggannya ini melanjutkan ucapannya. Dan dengan segera ia menarik sang pelanggan keluar dari kafe, meninggalkan Yoongi dengan segala kekhawatirannya.

"Apa yang kau inginkan Park Jimin?!"

"Tak kusangka kau masih mengingatku, Nyonya Kim"

-*123*-

Lanjut?