Detektif Conan by Aoyama Gosho

From Detective to Teacher by Shinju Yoichi

Chapter 4

Akhirnya bel pulang berbunyi.

Shinichi segera memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dan keluar tanpa pamit ke guru lain. Dia berjalan dengan pelan sambil memasukkan tangan ke saku celana, Shinichi menghela napas karena belum mendapat informasi apapun tentang organisasi di sekolah ini. Sebenarnya, Shinichi bahkan bingung bagaimana mulai mencarinya.

Saat sedang memakai sepatu dia melihat Ai berjalan ke arah gerbang. Shinichi pun langsung mengejarnya.

"Hei," sapanya sambil menepuk pundak Ai. "Mau pulang?"

Ai menolehkan sedikit kepalanya dan memberikan tatapan 'Sudah jelas kenapa tanya.' Shinichi nyegir melihat reaksi Ai.

"Perlu kuantar?" tanyanya.

"Tidak perlu" jawab Ai kemudian pergi. Shinichi terdiam di tempat karena kaget melihat Ai bicara, setelah sadar Shinichi mengejar Ai.

"Oi, kamu bisa ngomong?" Ai berhenti berjalan saat mendengar perkataan tidak sopan itu. Kemudian berbalik menghadap Shinichi.

"Kamu pikir aku bisu?" katanya dengan tatapan dingin.

"Ahh...Yah... Kamu gak pernah ngeluarin suara sama sekali. Jadi kupikir—" Shinichi mengatakan sambil mengelus belakang lehernya. Perkataannya berhenti saat melihat Ai pergi.

"Hei! Aku kan tidak tau!" Ai mengabaikan teriakan Shinichi dan terus melangkah.

Shinichi lagi-lagi menghela napas.

"Segitu parahnya ngira orang itu bisu?"

Shinichi pun berjalan ke arah minimarket untuk membeli beberapa makanan instan sebelum pulang.

...

Saat menenangkan bagi Shinichi adalah saat diam di rumah sambil menikmati kopi sendirian. Dan saat-saat yang dinantikan Shinichi itu hilang ketika melihat seorang pesulap duduk di sofanya.

"Hai, Shin-chan~" Sapa Kaito sambil melambaikan tangannya.

"Arghh... kenapa kamu tidak pernah memanggilku dengan benar?! Dan hentikan kebiasaanmu masuk ke rumahku sembarangan! Dasar pencuri!" ekspresi yang terbentuk di wajah Shinichi mengingatkan Kaito tentang wajah marah ibunya saat dia belum membereskan kamar setelah diteriaki berkali-kali.

"Hei! Itu masa lalu oke? Kamu janji melupakan hal itu karena alasanku mencuri cukup bagus." Shinichi menatap tajam ke arah Kaito, tapi kemudian duduk di sebelahnya.

"Bagaimana sekolahmu?" Kaito mengajukan pertanyaan yang sering ditanyakan orang tua saat anaknya pulang, membuat Shinichi memandang Kaito aneh, "Maksudku muridmu." Kaito membetulkan ucapannya.

"Biasa saja. Anak-anak itu tidak banyak merepotkan seperti yang kukira." Kaito menatap Shinichi dengan tampang berpikir.

"Apa?" tanya Shinichi risih melihat tatapan Kaito.

"Yah... kuharap kamu bisa mengembangkan sikap berperasaan kepada orang lain. " Shinichi mengerutkan dahinya saat mendengar itu.

"Apa maksudmu?" tanyanya.

"Pikir saja sendiri," kata Kaito sambil beranjak dari sofa. "Aku mau pulang."

"Sana pergi." Usir Shinichi dengan tangan yang berpose 'hus hus', yang dibalas Kaito dengan juluran lidah.

Saat baru membuka pintu, Kaito berbalik "Oh iya, kamu kenal tetangga sebelah rumahmu?" tanya Kaito tiba-tiba.

Shinichi menaikkan alisnya sambil menjawab "Tetangga sebelah?" Kaito mengangguk.

"Kanan atau kiri?" kata Shinichi dengan maksud bercanda, Kaito memberikan ekspresi datar.

"Aku tahu. Dia seorang profesor yang membuat barang-barang unik." Kaito mengedipkan matanya beberapa kali, sebelum kemudian menjawab "Oh" lalu pergi keluar rumah Shinichi.

Saat suara pintu gerbang yang ditutup terdengar Shinichi berjalan ke dapur untuk membuat kopi yang sudah diimpikannya sejak berangkat. Saat sedang merebus air, Shinichi memikirkan pertanyaan Kaito.

"Kenapa dia mendadak tertarik sama profesor?" kata Shinichi sambil melihat teko yang mulai mengeluarkan uap.

...

Kaito mengetuk pintu rumah Ai, terdengar sahutan dari dalam. Setelah beberapa saat pintu terbuka sedikit, Ai mengintip dari celah itu.

"Hai, Nee-san," sapa Kaito sambil tersenyum lebar. "Aku datang berkunjung."

"Tak kusangka kamu benar-benar datang." Ai membukakan pintu lebih lebar, kemudian mempersilahkan Kaito masuk ke dalam. Kaito masuk sambil melihat ke sekeliling rumah yang dimasukinya.

"Rumahnya sederhana sih tapi besar juga ditinggali sendirian." Pikirnya.

"Duduk saja." Kata Ai saat melihat Kaito berdiri melihat sekeliling rumahnya, Kaito pun duduk di sofa ruang tamu. Ai meninggalkan Kaito ke dapur yang masih terlihat dari ruang tamu untuk menyiapkan minuman. "Mau minum apa?" tanyanya

"Apa saja boleh." Jawab Kaito sedikit canggung berada di rumah seorang wanita. Hei, seandainya Ai wanita yang bisa ia temui seusai pertujukannya dia tidak akan merasa gugup sedikit pun.

"Air keran?" tawar Ai dengan wajah serius. Kaito speechless mendengar tawaran Ai, kemudian tertawa kecil mendengar lelucon Ai yang diucapkan secara serius itu. Dia tidak tahu kalau Ai tidak bercanda.

"Apa kamu punya coklat?" Jawaban Kaito langsung membuat Ai menyiapkannya. "Dingin?" tanya Ai, Kaito menjawab dengan Anggukan. Kemudian Ai membawa dua gelas coklat dingin untuknya dan Kaito ke meja yang ada di depan Kaito.

"Terima kasih." Walaupun sering sok akrab, tapi canggung juga saat ke rumah orang seorang wanita yang baru sekali dia temui. Apalagi wanita semacam Ai yang punya aura berbeda.

Saat menyesap es coklat yang ada di depannya. Dia menikmati setiap tegukan, dinginnya es menyegarkan tenggorokan di cuaca yang lumayan panas ini. Setelah beberapa tegukan, Kaito memperhatikan baju Ai dari balik gelas. Baju turtle neck hitam polos tanpa lengan dan celana putih jeans tiga perempat. Penampilan sederhana yang cukup membuat Kaito terpana. Menurut Kaito, Ai sudah cukup cantik meski tanpa riasan apapun.

"Jadi? Apa kamu kesini hanya iseng?" tanya Ai membuka pembicaraan. Ia masih menikmati minumannya.

"Begitulah, aku sedang bosan dan tidak ada kerjaan," Kaito meletakkan es coklatnya yang kurang dari separuh ke atas meja. "Oh, kudengar nee-san seorang profesor yang membuat barang-barang unik?"

Ai menatap Kaito bingung "Dari siapa kamu dengar?" Ai menoleh mengikuti arah jari Kaito yang menunjuk rumah Shinichi yang terlihat dari jendela.

"Ah... Pantas saja." Ai kembali menatap Kaito "Yang dia maksud bukan aku."

"Ai-kun! Aku pulang!" suara seorang lelaki membuat Kaito menoleh ke arah pintu yang menjadi sumber suara yang didengarnya.

"Selamat datang," Ai menunjuk ke arah profesor "Yang dimaksud profesor itu dia."

"Siapa ini?" tanya profesor. Kaito langsung berdiri tegak dan memperkenalkan diri.

"Salam kenal, namaku Kuroba Kaito."

"Ah! Kamu yang pernah datang mengantarkan Ai-kun pulang kan? Aku ingat suaramu. Namaku Agasa Hiroshi, seorang profesor jenius yang membuat barang-barang unik!" kata profesor dengan bangga sambil melakukan pose hormat ala prajurit sasageyo.

"Maksudnya barang-barang yang tidak berguna." Sela Ai santai sambil meletakkan gelasnya.

"Hei!" teriakan profesor membuat Kaito tertawa. Mereka pun berbincang dengan santai sejak kedatangan profesor yang senang bercerita, mungkin faktor usia. Ditambah keahlian Kaito menghibur orang, mereka terus tertawa—kecuali Ai yang hanya tersenyum—. Saat Ai memperingatkan Kaito untuk pulang karena sudah larut, Kaito pun pamit.

"Mampirlah lagi. Aku mau lihat trik sulapmu yang baru!" kata profesor saat mengantar Kaito ke depan gerbang dengan Ai.

"Tenang saja! Aku akan datang setiap hari!" jawab Kaito dengan semangat dan wajah ceria.

"Apa kamu pengangguran? Kalau hanya ingin makan sebaiknya ke restoran." Kata Ai sinis yang dijawab dengan tawa Kaito.

Tapi sejak itu Kaito benar-benar datang hampir setiap hari. Dan dia tetap tidak mengetahui Ai seorang siswi.

...

Hampir seminggu Shinichi mengajar. Tidak ada kejadian yang heboh di kelas.

Shinichi yang sedang bosan pun iseng melihat-lihat buku absen, kemudian dia sadar ada murid yang selalu absen.

"Hm? Genta Kojima gak pernah datang sejak upacara pembukaan?" gumamnya. Seorang guru yang kebetulan lewat mendengar gumaman Shinichi.

"Sebaiknya kamu awasi dia." Kata guru yang namanya tidak diingat Shinichi itu.

"Kenapa?" tanya Shinichi.

"Dia itu yang biasa orang sebut yankee." Kata guru itu sambil berlalu.

Shinichi melongo.

"Yang bener aja di kelasku ada preman?"

...

Bel istirahat terakhir berbunyi tepat ketika Shinichi keluar dari ruang kepala sekolah.

Dia saja baru tahu diantara muridnya ada yang bernama Genta Kojima, yang ternyata preman. Sekarang dia dipanggil kepala sekolah terkait itu.

"Yah... Kamu tahu kan sekarang sudah cukup lama sejak hari masuk sekolah. Tapi Kojima tidak pernah datang ke sekolah, kuharap kamu bisa membantunya. Kalau begini terus dia bisa dikeluarkan." Kata kepala sekolah padanya tadi.

"Hah... Sialan, kenapa aku harus ngurus bocah yang gak pernah kulihat." Kata Shinichi sambil berjalan ke taman belakang sekolah. Tidak ada yang mau kesana karena tempat itu dirumorkan berhantu, sehingga tidak terawat. Sejak saat bersekolah dulu ini menjadi tempat Shinichi bersantai.

Saat sampai, Shinichi berniat duduk di bangku yang ada di depan kolam tanpa ikan yang sudah berlumut. Tapi dia melihat seorang siswi sedang membaca buku disitu. Dari ciri-cirinya sepertinya orang yang sudah lama tidak Shinichi temui. Seragam yang sesuai aturan, rambut pirang kecoklatan, siapa lagi kalau bukan murid yang ia kira bisu. Shinichi melangkah ke arah Ai.

"Hei." Sapanya, kemudian duduk di sebelah Ai. Ai hanya meliriknya.

"Tidak kusangka kamu tahu tempat ini." Ai tidak menjawabnya.

"Kamu masih marah? Itu kan hanya salah paham." Kata Shinichi. Ai menoleh ke arah Shinichi.

"Aku tidak marah. Aku tidak suka sikapmu."

"Apanya?" tanya Shinichi bingung.

"Kamu tidak melihat sekitar." Shinichi menunggu lanjutannya, tapi Ai diam melanjutkan bacaannya. Membuat Shinichi bertanya-tanya maksud perkataan Ai.

Kemudian Shinichi teringat tentang masalah yang baru tadi dia dapat.

"Hei, kamu kenal Genta Kojima?" tanya Shinichi tiba-tiba.

"Aku sekelas dengannya tahun kemarin." Jawab Ai.

"Kamu tahu kalau dia preman?" perkataan Shinichi membuat Ai menoleh ke arahnya.

"Kenapa kamu bilang begitu?" tanya Ai

"Dia sering di skors karena melakukan hal-hal yang melanggar peraturan sekolah. Juga ada berita dia memalak anak sekolah lain, sering bolos, dan ikut geng motor ilegal."

"Begitu? Apa kamu menganggap dia preman?" tanya Ai.

"Entahlah. Aku belum melihatnya langsung." Jawaban Shinichi membuat Ai menutup bukunya dan berdiri.

"Sebaiknya kamu melihat secara keseluruhan untuk memastikan kebenarannya. Tidak selalu yang dipercayai banyak orang itu benar." Kata Ai sambil melangkah. Tiba-tiba Ai berhenti dan bicara tanpa berbalik. "Kadang aku bingung siapa yang guru disini."

"Apa maksudmu?" Tanya Shinichi tersinggung, walaupun dia memang merasa tidak pantas menjadi guru, dan memang tidak berniat.

Ai pergi meninggalkan Shinichi tanpa menjawab pertanyaannya.

Akhir minggu, Berkat koneksinya Shinichi menemukan informasi tentang tempat nongkrong para preman yang kemungkinan orang yang dicarinya ada disana. Berdiri agak jauh dari bangunan tua yang cat nya sudah mengelupas sana-sini itu, Shinichi melihat banyak motor yang diparkir di depannya.

"Kalau asal masuk bisa mati aku." Batinnya

Kepala sekolah tua itu menyuruh Shinichi memanggil Genta kembali sekolah. Yang tidak bisa ditolak oleh Shinichi saat kepala sekolah melambaikan kontrak kerja di tangannya. Dan sekarang Shinichi bingung apa yang mau dia lakukan. Masuk dengan resiko berada di kumpulan orang-orang yang kemungkinan besar preman, atau diam disini melihat bangunan tua seperti orang bodoh. Bukannya Shinichi takut, tapi dia bukan seorang monster seperti pacar nona kaya Sonoko yang bisa menghajar kerumunan orang. Dia bertarung dengan otak, bukan otot.

"Berpikirlah wahai otak! Lakukan sesuatu!"

"Ah." Shinichi mendapat ide. Disaat seperti ini lah pesuruh—ehm—teman sangat dibutuhkan. Shinichi menekan tombol di handphonenya.

"Hei, Kucing sialan. Sebaiknya kamu kemari kalau tidak mau masuk penjara."

...

"Tidak ada yang namanya Genta Kojima." Kata Kaito setelah keluar dari gedung preman itu.

"Benarkah? Kurasa ini perkumpulan paling besar yang kutahu. Makasih, kucing." Kata Shinichi sambil mengelus dagunya.

"Bukannya udah kubilang gak usah ngungkit hal itu lagi?" kata Kaito sambil menyipitkan mata. "Dan kenapa kamu panggil aku kucing?!"

"Bukannya lebih baik daripada pencuri?" kata Shinichi dengan cuek nya. Shinichi berjalan ke arah halte bus, meninggalkan Kaito yang menunjukkan ekspresi geram dan menyumpahinya di belakang.

Saat duduk di halte, Shinichi mencari cara menemukan bocah yang satu ini. Saat sedang melamun dia tiba-tiba tersadar.

"Lah, aku kan gak tau wujudnya bocah ini kayak apa." Kata Shinichi sambil menepuk dahinya. Saat bis yang ditunggu datang, dia langsung naik ke dalam.

Tiba di rumah dia melihat Kaito di depan rumah profesor. Merupakan misteri bagaimana dia bisa sampai lebih dulu darinya. Shinichi hanya memiringkan kepala nya melihat profesor dan Kaito berbincang akrab di pagar.

"Hmph... Seperti yang diharapkan dari penghibur."

...

Besoknya, sepulang jam sekolah Shinichi duduk di tempat favoritnya sambil memandangi foto yang baru dia dapat dari profil murid.

"Dilihat seperti apapun dia gak keliatan kayak preman" batinnya sambil mendekatkan foto itu ke matanya.

"Bocah gendut gini jelas-jelas cuma hobi makan doang..."

"Sudah kubilang kamu harus melihat keseluruhannya." Sebuah suara dari belakang membuat Shinichi menoleh.

"Hai, Ai-chan." Ai langsung melihat Shinichi dengan jijik."Uhm... Haibara" koreksi Shinichi.

"...San" kata Ai sembari duduk di sebelah Shinichi. "Huh?"

"Haibara-san, panggil aku dengan sopan. Kita tidak sedekat itu." Kata Ai yang menyilangkan tangannya.

"Hei! Aku lebih tua darimu!" Ai menatap Shinichi aneh. "Lalu?" tanya Ai dengan nada tidak mengerti yang entah dibuat-buat atau tidak.

"Kenapa aku harus sopan? Lagian, kamu kan murid! Aku guru!"

Ai sedikit menatap dingin saat mendengar perkataan Shinichi "Menurutmu guru boleh tidak sopan dengan murid?" ekspresi Shinichi menunjukkan dia mengiyakan perkataan Ai walaupun agak ragu.

"Bukannya itu tidak adil?" Ai menghadap Shinichi, masih dengan menyilangkan tangannya "Kenapa guru boleh seperti begitu? Karena mereka hidup lebih lama? Karena mereka lebih pintar?"

Seolah tersadar, Shinichi tampak berpikir "Hm? Kenapa aku pikir tidak perlu sopan ke yang lebih muda?"

"Apa kamu punya pengalaman buruk dengan guru?" tanya Shinichi karena tidak bisa menemukan jawaban untuk pertanyaan Ai.

Awalnya Ai diam, kemudian menjawab "Tidak juga, hanya aku sudah melihat berbagai macam guru." Ai menatap ke arah kolam tanpa ikan di depannya.

"Kalau begitu bagaimana guru ideal menurutmu?" Shinichi menatap Ai lekat, memperhatikan segala ekspresinya.

"Tidak ada." Jawaban yang dikeluarkan Ai dengan cepat tidak disangka-sangka oleh Shinichi.

"Kenapa?" Shinichi merasa setiap orang punya guru ideal. Yang baik, ramah, ceria, santai, atau malah tegas saat mengajar. Apapun itu orang selalu mencari guru yang sesuai kriterianya.

"Menurutku tidak ada guru ideal." Ai menjelaskan jawabannya "Setiap guru punya karakter sendiri, kalau dimaksimalkan mereka semua bisa jadi guru ideal. Jadi tidak ada yang pasti." Shinichi sedikit terkejut, kemudian tersenyum kecil.

"Hmph... Tidak kusangka perawan sepertimu berpikir seperti ini. Itu luar biasa..." pujian keluar dari Shinichi yang sangat pelit mengeluarkan pujian.

"Tapi kalau guru terbaik, kurasa guru yang paling mengerti muridnya adalah seorang guru yang sebenarnya."

"Bukannya banyak yang seperti itu?" tanya Shinichi tidak mengerti.

"Aku tidak butuh kata-kata 'Sensei mengerti' atau 'Sensei tahu perasaan kalian', perkataan begitu malah membuatku mual." Ai mengerutkan dahinya, seolah mengingat mimpi buruk "Guru yang sebenarnya mengerti tentang muridnya tidak perlu diucapkan, tapi terlihat dari tindakan."

"Begitu? Kurasa menjadi guru perkerjaan yang berat. Aku bahkan malas melakukan ini..." keluh Shinichi.

"Kenapa kamu memaksakan diri?" tanya Ai sambil melirik. Shinichi langsung mengalihkan pandangannya ke kolam yang tadi dilihat Ai.

"Ah... Itu... Yah... Begitulah..." Shinichi sedikit gugup, mana mungkin Shinichi bilang dia mencari petunjuk tentang orang yang terlibat organisasi gelap.

"Aku tahu kamu pasti punya alasan sendiri." Kata Ai tidak peduli, ia melihat jam tangannya "Sudah waktunya aku pulang."

Saat berdiri dan bersiap pergi, Shinichi menahan pergelangan tangan Ai.

"Hei, menurutmu aku bisa membuat Kojima kembali sekolah?" tanyanya sambil menundukkan kepala. Sejujurnya setelah mendengar perkataan Ai, ia benar-benar tidak merasa pantas menjadi guru. Tidak sekalipun dia benar-benar berniat membantu muridnya, apalagi memahami mereka. Entah kenapa dia ingin menjadi guru terbaik seperti yang Ai bilang.

"Guru yang mengarahkan jalan untuk muridnya. Apa jadinya kalau guru tidak bisa memahami muridnya?" kata Ai sambil tersenyum kecil, yang tentu tidak dilihat Shinichi "Menurutku kamu tipe orang yang bisa jika benar-benar berusaha, Sensei" Ai menekankan kata 'sensei' di akhir. Shinichi mengadahkan kepalanya dengan terkejut, ini pertama kalinya Ai memanggilnya 'sensei'.

"Makasih, Haibara...san" jawab Shinichi dengan sedikit cengiran. Ai pun berbalik pergi setelah Shinichi melepaskan pergelangan tangannya. Tapi setelah beberapa langkah dia berhenti, Ai membalikkan badannya.

"Sensei, Bukannya sudah kubilang untuk melihat secara keseluruhan? Sebagai guru kamu tidak bisa langsung berasumsi tentang muridmu begitu saja." Shinichi menaikkan alisnya "Darimana kamu tahu aku perawan?" kata Ai sambil tersenyum miring. Meninggalkan Shinichi terdiam mengedipkan matanya beberapakali, kemudian tertawa.

"Hahaha... Kurasa aku mulai meragukan dia seorang siswi SMA"

Bersambung

A/N : Hm... Author ngerasa aneh sama fic sendiri... Entah kenapa Author susah nulis narasi :v begitu sadar isinya percakapan semua (._.) dan astagaaa author itu sangat lack of romance .-. jadi cuma pake scene yang lewat di otak aja...silahkan kalau mau kritik, yang banyak aja...

waktu baca fic sendiri... TT_TT susah banget bikin fic yang memuaskan. Doakan chap berikutnya bisa lebih bagus dari ini yah...

Makasih buat para reviewers \(-.-)/

uyab4869, rukia, hiru nesaan, AiEmerald, dan para guest