Title : One More Time (CHANBAEK)
Author : DandelionLeon
Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun
Other Cast : Kim Jongin, Oh Sehun, Choi Zelo, Xi Luhan, Do Kyungsoo and other cast yang masih dirahasiakan bakal muncul di Chapter selanjutnya.
Genre : Romance, Drama
Rating : T/M
Disclaimer : seluruh cast disini milik orang Tua dan agency mereka. Isi cerita murni dari pemikiran saya.
Warning ! DLDR! Yaoi, typo bertebaran, dan buat tangan jahil yang kerjanya copy cats hasil kerja keras orang, dimohon menjauh dari area saya *fake smile*
.
.
recomended song : winter sonata OST - first time , A&T - something happened to my heart Ost BBF.
.
.
.
Chanyeol menatap sepasang kekasih dihadapannya dengan raut wajah bingung.
'Apakah aku salah bicara?' Batinnya dalam hati.
Sedetik kemudian, terdengar gelak tawa yang begitu nyaring dari Luhan maupun Sehun. Hell yeah... Mana mungkin mereka percaya bahwa Baekhyun sudah 'tidur' dengan Chanyeol. Paling Chanyeol hanya berilusi. Atau Chanyeol sudah gila? Fikir mereka.
"Apa yang lucu? Aku rasa kalian harus dilarikan segera ke rumah sakit jiwa."
Ucapan datar tuan Park itu membuat Luhan dan Sehun menutup rapat mulut mereka.
"Kau yang sudah gila. Apa kau begitu merindukan Baekhyun sehingga kau berucap yang tidak-tidak?"
Chanyeol tersenyum miring. Ya, mana mungkin temannya itu mempercayai omongannya. Ia hanya mengedikkan bahunya asal. Malas menjelaskan dan menceritakan bagaimana kejadian yang sebenarnya. Chanyeol tau nanti dua orang di hadapannya itu akan bertanya yang tidak-tidak.
"Omong-omong, aku serius dengan ucapanku tadi. Baekhyun memang telah kembali ke Korea."
Chanyeol menatap Luhan dengan skeptis. Ia menyeringai tajam, sepertinya bermain-main dengan dua orang ini seru juga fikirnya. Sekalian untuk hiburan di akhir pekannya.
"Lalu? Apa hubungannya denganku?" tanyanya tanpa beban sama sekali. Mungkin jika posisinya saat ini Chanyeol belum bertemu Baekhyun, ia akan memberi pertanyaan membabi buta pada Sehun atau Luhan. Tapi, yeah... Bahkan Luhan yang notabene nya sahabat Baekhyun saja kalah start dengan Chanyeol yang lebih dulu bertemu dengan lelaki manis itu.
Seolah tak percaya dengan reaksi Chanyeol, Sehun meletakkan punggung tangannya pada dahi Chanyeol. Lelaki yang lebih tinggi dengan cepat menepis tangan Sehun. Ia paling benci disentuh seperti ini. Kecuali jika Baekhyun yang- itu juga jika Baekhyun bersedia menyentuhnya.
"Pardon? apa kau demam Park? Bukankah kau yang terlalu bersemangat untuk berjumpa dengan Baekhyun?"
Sejujurnya Chanyeol ingin tertawa sekarang juga. Melihat ekspresi sepasang kekasih itu. Benar-benar lucu.
"Sudahlah, lebih baik kalian pulang saja. Aku akan menanti kebenarannya ketika acara reuni disekolah nanti tiba. Aku ingin menikmati waktu liburanku."
"wow! Susah payah kami memberi info, kau mengusir kami tuan Park Chanyeol yang terhormat?" sengit Luhan tak terima. Dengan santainya Chanyeol mengangguk.
"Dasar manusia berhati es! Ayo Sehun! Lebih baik kita duduk santai di kedai bubble tea dari pada berada di rumah patung berjalan ini."
Chanyeol mendesah pelan. Seperginya dua rusuh itu, diiringi dengan umpatan-umpatan dari mulut Luhan. Chanyeol kembali tersenyum seperti orang gila. Ia akan meraih Baekhyun ke dalam pelukannya. Chanyeol ingin Baekhyun mencintainya lagi. Apapun caranya.
.
.
"Jadi... Kau kembali bertemu dengannya? Dan dia mengatakan bahwa dirinya hancur saat kepergianmu?"
Baekhyun mengangguk samar. Ia menatap sahabat di depannya itu dengan kosong.
"Ku simpulkan bahwa dia telah menyadari perasaannya padamu Baek. Dan... Kalian memang ditakdirkan untuk bersama."
Baekhyun terkekeh pelan, namun terkesan hambar. Zelo hanya menatap Baekhyun dengan raut wajah tak tergambarkan.
"Tidak Zelo. Aku tau, dia hanya berusaha mengintimidasiku. Sudah ku ceritakan sejak dulu bukan? Bahwa Chanyeol membenciku?"
Kali ini giliran Zelo yang tertawa. Ia mengedikkan bahunya asal.
"Kau tak pernah tau apa yang dia rasakan Baekhyun. Chanyeol... Dia mengalami masa terburuk saat kau pergi."
Baekhyun menatap Zelo tak percaya. Ia merasa Zelo berubah. Ada apa dengan anak itu? Fikirnya.
"Kenapa kau jadi membelanya? Apa karena dia adalah hyungmu saat ini?"
Zelo menepuk pundak Baekhyun pelan. Pandangannya menatap lurus sungai han didepan mereka. Seulas senyum tipis tergambar di bibirnya.
"Mungkin itu salah satunya. Tapi, hatiku tergerak saat melihat dirinya yang begitu frustasi saat itu. Ia benar-benar seperti tak bernyawa. Sepertinya ia benar-benar menyesali perbuatannya."
Lelaki yang lebih mungil berdecih sinis. Ia menatap Zelo seolah tak percaya.
"Kau mencoba menggoyahkan hatiku yang ingin melupakkannya? Kenapa? Apa dia yang menyuruhmu melakukan hal ini? Ah~ aku semakin yakin. Apalagi pekerjaan ini kau yang menawarkannya padaku. Kalian telah merencanakannya bukan?!" Nada bicara Baekhyun mulai meninggi.
Ya, itu memang benar. Zelo yang menawarkan Baekhyun pekerjaan. Tetapi sungguh, Chanyeol tak ada mengambil kendali dengan hal ini. Ini murni rencana Zelo. Ia hanya tak ingin melihat Baekhyun merana lebih dari ini.
"Jangan keras kepala Baekhyun-a. Apa sebegitu bencinya kau pada Chanyeol? Seingatku, Baekhyun yang dulu memiliki hati yang besar untuk memaafkan seseorang. Kau terlalu cepat berubah."
Tatapan tajam Baekhyun meredup. Ia menggigit bibir bawahnya. Jemari lentiknya mengusap bibir gelas pelastik yang berisikan kopi itu dengan gerakan tak beraturan.
"Tak semudah itu Zelo. Aku hanya ingin tau, seberapa jauh dia berusaha untuk mendapat maafku. Dan... Aku ingin tau, atas dasar apa dia ingin mendapat itu semua. Atas dasar penyesalan atau... Cinta? Hhh... Aku memang terlalu bodoh bukan?"
Zelo tersenyum lembut. Ia mencubit pipi Baekhyun dengan kuat, lelaki mungil itu menatap sebal pada Zelo.
"Yeah, terserahmu. Tapi aku tak ingin melihat Baekhyun yang kaku seperti ini. Kau semakin mirip dengan Chanyeol, kau tau?"
"Yak!"
.
.
.
Sebenarnya, bukan tanpa alasan Chanyeol berada disini. Seharusnya, CEO sepertinya tak harus turun ke lapangan seperti sekarang. Ia bahkan rela berkeliling resort, melihat gondola gantung yang rusak, lalu berjalan beberapa kilometer mengikuti beberapa karyawannya. Yeah, Chanyeol bukan lelaki yang mau melakukan hal seperti itu. Kecuali dengan alasan, ada Byun Baekhyun disana. Sudah jelas!
Mata elangnya menatap Baekhyun yang tengah menjelaskan beberapa desain ruangan dengan serius. Diam-diam ia akan tersenyum saat melihat Baekhyun yang dengan imutnya mengerucutkan bibirnya ketika tengah berfikir serius.
"Jadi, lebih baik ganti beberapa lampu krystal disana dengan model yang lebih minimalis dan terkesan trendy. Seperti gambar ini, kelihatannya menarik bukan?"
"Apa kau sudah selesai?"
Baekhyun yang tengah berdiskusi dengan dua arsitek paruh baya disana terlonjak saat Chanyeol berbicara dengan suara rendah ditelinganya. Ia mengusap telinganya yang memerah, sungguh menggemaskan dimata chanyeol.
"Tidak, aku harus_"
"Lee Minhyuk, apa ini sudah selesai?" Potong Chanyeol dengan bertanya pada sekretarisnya yang tadinya tengah berkutat pada tablet ditangannya.
"Untuk hari ini, sudah selesai sajangnim."
"Baiklah, kajja. Kita harus makan siang."
Dengan tidak elitnya, Baekhyun ditarik secara paksa oleh Chanyeol. Chanyeol memang tipe pemaksa dan suka semaunya. Jadi, Baekhyun hanya memilih diam.
Sentuhan tangan Chanyeol, genggaman tangannya yang begitu erat membuat hati Baekhyun menghangat. Ia tersenyum diam-diam. Bisakah Baekhyun berharap bahwa perlakuan Chanyeol kali ini memeiliki maksud 'lain' yang terselubung?
Mereka sampai pada restoran di Daemyung Vivaldi Park. Banyak keluarga atau beberapa sepasang kekasih maupun sepasang suami istri menghabiskan waktu makan siang mereka di restoran mewah tersebut. Baekhyun hanya terdiam tanpa mau berucap sepatah kata pun.
Restoran khas Perancis mungkin akan lebih baik didatangi saat makan malam tiba. Setidaknya itu yang ada dipemikiran Baekhyun. Ia merasa kaku berada disini.
"Permisi Tuan, silahkan." Seorang waiters perempuan mendekati mereka dengan menyerahkan dua buah buku menu. Baekhyun langsung memesan tanpa menatap lama buku menu tersebut.
"Croque Monsieur et Café au lait."
"Aku juga." Pelayan tersebut mengangguk lalu beranjak dari sana.
Baekhyun mengernyit saat Chanyeol memesan makan dan minuman yang sama dengannya.
"Wae? Sepertinya kau punya selera yang baik juga dalam memilih makanan."
"Aku sudah terbiasa, setidaknya di Paris aku sering membelinya dulu."
Chanyeol mengernyit bingung. Bukankah Baekhyun tinggal di Swiss? Seakan mengerti dengan arti tatapan Chanyeol, Baekhyun terkekeh ringan.
"Aku bekerja di Paris selama setahun."
Chanyeol mengangguk. Ia merasa bingung harus melakukan apa lagi. Dirinya yang terlalu kaku membuatnya setengah mati bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Sementara Baekhyun, sepertinya anak itu terlihat tenang-tenang saja. Terlebih ketika makanan mereka telah dihidangkan, lelaki mungil itu tampak santai memakan makananannya.
"Hey, omong-ommong bagaimana dengan hubunganmu dan Sandara?"
Chanyeol berhenti mengunyah makanannya. Ia menatap Baekhyun dengan skeptis.
"Maaf? Aku rasa kau sudah tau tentang kenyataan bahwa pertunangan kami tak pernah terjadi dulu."
Baekhyun membulatkan mulutnya. Satu fakta yang tak pernah ia tau. Bahkan Luhan, Kyungsoo maupun Zelo tak memberi tahu hal ini?
"Aku membatalkannya tepat dimana kau pergi. Kau menyadarkanku bahwa aku tak mencintai perempuan jalang itu. Aku mencintai seorang lelaki yang ada dihadapanku kini."
Baekhyun terbatuk mendengar gombalan yang sialnya membuat pipinya memerah. Dengan rakus, ia meneguk air putih didepannya. Chanyeol hanya dapat tersenyum dalam hati. Seserius apa sosok Baekhyun sekarang, bukankah dia tetap Baekhyun yang dulu?
"Wow! Itu terdengar cheessy. Kau tau? Kau berkata seolah aku perusak pesta pertunangan kalian." Ucap Baekhyun dengan sedikit kekehan darinya.
"Tidak. Mengapa kau berfikir seburuk itu?"
"Entahlah, aku hanya merasa demikian. Sudahlah, lupakan saja. Bolehkah aku permisi setelah ini? Aku ada janji dengan teman lamaku."
"Siapa?" Satu pertanyaan yang membuat Baekhyun menelan ludahnya gugup. Chanyeol bertanya dengan nada tak senang.
"Hanya teman lama, kau tak perlu tau. Ku rasa."
"Aku berhak tau, dan aku minta batalkan janjimu karena aku ingin mengajakmu makan malam pukul 7 nanti."
Baekhyun menghembuskan nafasnya kasar. Kenapa Chanyeol bertindak posesif seperti ini? Fikirnya. Ia meneguk minumannya dengan pelan.
"Apa makan siang saja tidak cukup?" Tanya Baekhyun dengan hati-hati, tak ingin mengundang emosi Chanyeol ke permukaan.
"Tidak, ada hal yang ingin ku sampaikan padamu. Ini penting." Lelaki tinggi itu menyesap kopinya dengan gaya elegan. Seakan tak ada beban sama sekali ketika mengucapkan kalimat yang membuat Baekhyun bertanya-tanya dalam hati.
"Kenapa tidak sekarang? Aku sibuk dan_"
"Aku tidak menerima penolakan. Baiklah, kau harus tampil baik malam ini. Aku menunggumu di lobby hotel. Aku permisi dulu."
Belum sempat protes Baekhyun melayang, lelaki tinggi itu dengan seenaknya meninggalkan Baekhyun yang terdiam ditempat.
"Hal penting? Hal penting apa?" Gumam Baekhyun tanpa sadar. Ia mengusir segala kemungkinan yang akan terjadi dalam fikirannya. Ia kembali melanjutkan makan siangnya. Yeah, ia memiliki waktu beberapa jam hingga jam 7 malam tiba nanti.
.
.
Tak ada yang lebih mengejutkan ketika melihat Chanyeol bermain dengan salju di arena ski. Jauh-jauh Jongin pergi kemari hanya untuk menemani Chanyeol bermain dengan salju seperti bocah lima tahun? Membuat boneka salju? Begitukah? Sepertinya saraf otak Chanyeol memang sudah putus satu.
"Astaga, kenapa kau tidak ajak Sehun saja yang sama gilanya denganmu itu untuk bermain salju seperti ini? Kau membuang waktuku Park! Aku bahkan akan ada pertemuan penting dengan klien ku dari Jerman."
Well, Chanyeol memang menelpon Jongin dan memaksa lelaki berkulit tan itu datang ke Gangwon hanya untuk bermain salju. Chanyeol terkekeh sejenak. Ia mengeratkan syal tebal berwarna krim yang ia kenakan.
"Kau harus sedikit bersenang-senang Jongin."
Jongin menghembuskan nafasnya, sedikit kesal tentu saja.
"Jadi, hal penting apa yang ingin kau tanyakan?"
Pertanyaan Jongin menghentikan aktifitas Chanyeol yang tengah menumpuk salju, seperti ingin membuat boneka salju? Mungkin, seperti itu.
Wajahnya kembali serius. Ia berdehem sejenak.
"Bagaimana cara menyatakan cinta yang sedikit lebih manis... Maksudku, yeah... Yang seperti itu. Kau tau bukan? Selama ini wanita yang selalu menyatakan perasaan mereka padaku. Aku hanya ingin berlatih, ketika Baekhyun kembali nanti maka aku sudah siap."
Jongin menyipitkan matanya, menatap Chanyeol dengan curiga.
"Apa? Baru kali ini aku melihat Park Chanyeol yang seperti ini. Kau ingin melakukan hal-hal yang bertentangan denganmu? Ohoho, kau terbentur batu karang hingga fikiranmu menjadi seperti ini?"
Chanyeol mendelik kesal. Ia menggaruk rambut hitamnya. Merapikan poninya yang berantakan akibat tertiup angin.
"Ck! Jawab saja apa sulitnya?"
Jongin tersenyum lembut, ia menepuk pundak sahabatnya itu.
"Tak perlu lakukan hal yang manis. Tak peduli jika ada bunga, coklat atau kejutan manis lainnya. Yang kau perlukan hanyalah kesiapan hatimu dan juga berikan ia senyuman agar ia nyaman."
Chanyeol berfikir sejenak. Well, ucapan Jongin memang ada benarnya. Ia bukanlah anak remaja yang baru mengalami masa pubertas lagi. Chanyeol sudah berkepala dua.
"Yeah, aku rasa saranmu benar. Tak sia-sia aku memanggilmu kemari. Aku benar-benar beruntung." Ucap Chanyeol sambil menepuk-nepuk pundak jongin yang menatapnya datar.
"Ya, dan aku yang merasa dirugikan. Seharusnya kau bisa membicarakan ini lewat telepon. Huh... Merepotkan!"
.
.
.
Pukul tujuh kurang lima. Chanyeol duduk di lobby hotel. Menunggu Baekhyun tentu saja. Matanya tak lepas dari jam tangan yang ia pakai. Chanyeol hanya takut Baekhyun tak datang.
"Aish... Si pendek itu lama sekali." Gumamnya dengan kesal. Padahal waktu belum menunjukkan jam tujuh tepat.
Sebuah sepatu Converse berwarna hitam berada tepat di depan Chanyeol. Mata Chanyeol meneliti dari bawah ke atas. Itu Baekhyun dengan penampilannya yang casual.
"Aku kira semua hanya leluconmu saja."
Chanyeol tersenyum tipis. Ia bangkit dari sofa yang tadi ia duduki.
"Aku tak main-main dengan ucapanku."
"Jadi, bagaimana dengan makan malam? Bukankah inti dari pertemuan ini adalah hal tersebut?"
Chanyeol terkekeh pelan. Baekhyun terlihat kaku dimatanya. Walau tak menutup bahwa sikap kaku dan dingin Baekhyun hanyalah kepura-puraan.
"Aku tidak suka restoran, disana terlalu ramai. Bagaimana dengan tempat lain?"
Baekhyun mengangguk ragu. Akhirnya kedua lelaki itu berjalan menuju lift.
.
.
Dan disinilah dua orang itu berada. Di kamar Chanyeol. Telah tertata apik makanan berbagai macam diatas sebuah meja yang memang dikhususkan untuk dua orang. Ruangan tersebut remang. Hanya ada dua lampu berwarna kuning yang tertempel di dinding dan juga, jangan lupakan lilin yang ada di tengah-tengah meja. Baekhyun jadi menyimpulkan bahwa Chanyeol telah menyiapkan semua ini.
Matanya berbinar menatap makanan di atas meja. Oke, Baekhyun bukan orang yang sok menjaga image jika sudah berhubungan dengan makanan. Binar matanya semakin terlihat saat melihat buah kesukaannya, stroberi.
Chanyeol tersenyum geli melihat tingkah Baekhyun. Moodnya berubah secepat itu ketika melihat makanan? Baekhyun semakin terlihat menggemaskan dimatanya.
"Wow, ini indah." Puji Baekhyun dengan pipi merona.
"Hm, terimakasih. Kau bisa duduk sekarang."
Keduanya duduk berhadapan. Nafas Baekhyun tercekat saat wajah Chanyeol berada dekat dengannya.
'd-dia mau apa?' Fikir Baekhyun gugup.
"Kau harus melepas syalmu. Aku sudah menghidupkan pemanas ruangan."
Tangan lelaki itu melepaskan syal merah yang tadinya melilit dileher Baekhyun. Perlakuan sederhana itu membuat Baekhyun merona bukan main. Pantas saja Chanyeol memiliki banyak gadis yang memujanya dulu. Perilakunya ternyata bisa semanis ini.
"Y-yeah, aku bisa melepaskannya sendiri sebenarnya."
Chanyeol mengulum senyumnya. Wajahnya yang terkena sinar lilin membuat pesona lelaki itu bertambah beberapa kali lipat. Mungkin jantung Baekhyun akan terus berolahraga selama sesi pertemuannya dengan Chanyeol ini. Tetapi, Baekhyun berusaha tidak menunjukkan sikapnya yang memuakkan itu, seperti gadis.
Denting suara garpu atau pisau terdengar sesekali. Mereka makan dengan tenang. Menu meat steak dan redwine memang pilihan yang tepat untuk diner.
"Aku rasa, aku takkan bertele-tele lagi."
Baekhyun menatap Chanyeol sejenak. Ia kembali menunduk menatap makanannya.
"Ya, kau bisa katakan apa tujuanmu mengajakku kemari." ucap Baekhyun tenang.
Chanyeol meneguk redwine nya lalu berdiri, menarik kursinya menuju sebelah Baekhyun berada. Si mungil sempat terlonjak, namun berusaha menutupi.
"Ehm, aku... Aku ingin meminta maaf padamu Baekhyun."
Baekhyun mengangguk samar.
"Bukankah sudah ku katakan bahwa aku butuh waktu?"
Sontak, Chanyeol menggenggam tangan halus Baekhyun. Memaksa Baekhyun untuk menatap matanya.
"Kau boleh menertawakanku. Memakiku sesuka hatimu atau apapun itu. Tetapi, bisakah kau melihat ketulusanku Baek?"
Untuk sesaat, Baekhyun terdiam. Ia tak tau dengan apa yang telah terjadi pada Chanyeol.
"Aku tau, kau tulus memintaa maaf padaku Chanyeol. Aku bukannya tidak memaafkanku, hanya saja_"
"Aku bahkan hampir gila dalam penyesalan Baekhyun."
Desahan kecil dari bibir Baekhyun terdengar jelas di telinga Chanyeol. Ia menatap Baekhyun penuh harap.
"Baiklah, jika itu maumu. Tapi ku mohon satu hal, setelah ini kau jaga jarak dariku. Bisakah?"
Permintaan atau justru terdengar seperti perintah Baekhyun itu membuat Chanyeol mengernyit tak suka. Ia menggenggam tangan Baekhyun semakin erat.
"Kenapa?"
"Aku hanya merasa tidak nyaman."
Bohong jika Baekhyun berucap demikian. Satu hal yang harus diketahui, ia menghindari Chanyeol hanya tak ingin rasa cintanya membesar pada lelaki itu. Baekhyun tak ingin kecewa untuk kedua kalinya.
"Lihat aku."
Seperti sebuah mantra, Baekhyun menatap Chanyeol. Dan ia menyesal karena telah melakukannya. Mata tajam itu seolah mengintimidasi dirinya masuk ke dalam jurang pesona Chanyeol. Apa lagi ketika lelaki itu dengan seenaknya menghapus jarak diantara keduanya. Memberi kecupan manis pada bibir Baekhyun.
Ini memang bukan kali pertama Baekhyun mendapat ciuman dari Chanyeol. Hanya saja, ini berbeda. Terkesan lembut dan berhati-hati. Baekhyun terlena saat bibir tebal nan sensual milik Chanyeol bergerak diatas permukaan bibirnya. Mata tajam lelaki itu tak menutup barang sedikit pun. Ia asyik menikmati wajah Baekhyun dalam batas jarak sedekat ini. Melihat mata Baekhyun yang tertutup dan bagaimana ekspresinya saat itu.
Chanyeol tau, Baekhyun masih memiliki perasaan padanya. Ketika pagutan bibir diantara mereka mulai lebih dalam dan panas, tangan Chanyeol mulai berani bergerak mengelus punggung Baekhyun. Entahlah, sepertinya entah setan apa yang merasukinya hingga mencium Baekhyun dengan penuh kerinduan seperti itu.
Seakan tersadar dengan apa yang telah ia lakukan, Baekhyun membuka matanya. Ia mendorong Chanyeol menjauh. Nafasnya terlihat tak beraturan, begitu pula dengan Chanyeol. Keduanya saling tatap, seakan menyampaikan sebuah telepati.
"Aku mencintaimu, Baekhyun."
Pernyataan mendadak itu membuat fikiran Baekhyun kalut bukan main. Tubuhnya seakan melemas. Apakah ia salah dengar? Fikirnya.
Suara hening disana membuat Chanyeol resah. Jantungnya berdetak seirama dengan jarum jam, bahkan lebih cepat. Chanyeol tau, ini terlalu cepat. Bahkan mereka baru saja bertemu beberapa hari yang lalu. Tetapi, ia tak ingin berlama lagi mengungkapkan perasaannya.
"Maaf Chanyeol, Sayangnya aku tidak."
Deg!
Kalimat yang baru saja terlontar dari bibir Baekhyun itu membuat jantung Chanyeol seakan pecah. Apalagi melihat raut wajah Baekhyun yang datar dan pancaran matanya terlihat kosong.
"Jika tidak ada hal yang ingin kau katakan lagi, aku permisi."
Chanyeol tersenyum perih. Sesakit inikah rasanya di tolak? Jadi seperti inikah perasaan Baekhyun dulu?
"Jika kau berfikir aku akan menyerah untuk mendapatkanmu, kau salah besar Baekhyun. Justru aku akan semakin gencar untuk mendapatkanmu kembali." Teriak Chanyeol dengan seringai tajamnya.
.
.
To be continued
.
.
Issssh... Sumveeeh... Aku merasa otakku buntu untuk ide ff ini. But, Chapter depan konflik udah mulai muncul. *smirk*..
Maaf yang ngerasa alurnya cepat atau apapun itu. Memang terkesan blak-blakan sekali Chanyeol ungkapin cintanya. Tapi sekali lagi, kalo chanyeol terus nutupin perasaannya, kapan dong aksi dia buat rebut cinta baekhyun terjadi? *naik-naikin alis*
and then, aku memang berencana tamatin ff ini dan juga 'kissmons' sesegera mungkin karena aku pengen publish new ff yang udah bersarang di folder...
thanks buat yang udah review, follow, favorite. Buat siders, diminta agar tobat segera ya?
Oh iya, doakan minggu depan urusan dikampus kelar ya ? Supaya aku bisa ngelajutin ff ini dan yang lainnya dengan cepat dan tanpa kendala.
Anyway, buat yg mau kenal aku , kalian bisa add fb aku : Rizki Zelinskaya
atau twitter : aleyna_BF
aku cuma sering main di fb sih, hoho.
And then... Mohon reviewnya kembali... Satu review anda sangat bermanfaat buat kelangsungan ff ini.
RnR... Saranghae... =D
