Naruto © Masashi Kishimoto

Seperti Matahari Terbit © Thia Nokoru

Naruto – Sakura

.

Seperti Matahari Terbit

.

Chapter 4,

Sakura menatap pantulan dirinya di sungai yang saat ini sedang mengalir dengan tenang. Sakura duduk di pinggir sungai dan menatap wajah cantiknya yang kini terpantul di air sungai itu. Sakura membelai wajahnya di dalam air. Pantulan wajahnya pun perlahan menghilang.

"Sakura… Aku adalah Sakura." gumam Sakura pelan.

Sakura kembali menatap pantulan dirinya di air sungai. Kedua tangannya mengepal dengan kencang. Kedua matanya sudah membendung air yang segera ingin keluar dari sana.

"AKU BENCI! AKU BENCI! AKU BENCI! BENCI! BENCI! BENCI! AAAAA…." Sakura berteriak dengan kencangnya, sambil memukul-mukul pantulan dirinya di air sungai. Mengeluarkan seluruh emosi yang dipendamnya entah sudah berapa lama. Air mata sudah mengalir deras dari kedua matanya.

"AKU TIDAK MAU HIDUP LAGI! AKU SUDAH TIDAK TAHAN LAGI…!" teriak Sakura kembali.

Sakura menangis. Di dalam hutan yang sepi ini, tempat Sakura tinggal seorang diri, Sakura sudah mengurung dirinya di dalam hutan selama seminggu. Sakura sudah tidak mempunyai semangat untuk hidup lagi. Sakura sedih, Sakura sangat sedih meratapi kehidupannya yang seorang diri. Selama ini dia bertahan hidup karena orang yang telah menyelamatkan dirinya sewaktu kecil. Karena Yamato, Sakura harus tetap bertahan hidup.

"Kau dimana? Kenapa kau meninggalkan aku juga? KENAPA YAMATOOO…?!" teriak Sakura.

Sakura mengingat saat-saat dirinya bersama dengan Yamato. Sosok laki-laki yang sudah dianggapnya sebagai pengganti ayahnya.

.

2 tahun yang lalu, Sakura terpisah dengan Yamato. Saat berkunjung ke sebuah desa yang ternyata sedang terjadi peperangan, Yamato meninggalkan Sakura dan ikut berperang di desa itu. Perang yang terjadi hanya untuk memperebutkan wilayah saja. Sama seperti desa tempat tinggal Sakura dulu. Yamato menyuruh Sakura untuk pergi jauh dari desa itu, dan menunggunya di tempat sebelum mereka sampai di desa itu. Sakura pun menurut dan segera pergi dari sana. Tapi, sudah berhari-hari Sakura menunggu kehadiran Yamato, Yamato tidak datang sama sekali. Sakura pun segera pergi ke desa itu, perang sudah berakhir. Banyak sekali mayat-mayat yang berserakan di desa itu. Sebuah bendera besar tertancap di wilayah desa itu, menandakan kalau desa itu kini telah menjadi milik dari lambang bendera itu.

"Hiks… Yamato… dimana kau?" Sakura mencari Yamato.

Apakah Yamato ada di salah satu mayat yang berserakan itu? Tapi, Sakura tidak menemukannya. Tidak ada mayat Yamato. Sakura yakin sekali kalau Yamato masih hidup. Apakah Yamato tertangkap? Atau Yamato telah pergi meninggalkannya? Berbagai pikiran buruk berputar dalam pikirannya.

Saat akan meninggalkan desa itu, Sakura melihat seseorang yang sangat menyeramkan mendekat ke arahnya. Seseorang yang seluruh tubuhnya penuh dengan jahitan dan di wajahnya memakai sebuah cadar. Sakura membuat kuda-kuda kalau-kalau saja orang itu akan menyerangnya.

Tapi, orang itu malah melewatinya tanpa menatap Sakura. Sakura memperhatikan orang itu, orang itu mengangkat sebuah mayat dan digendongnya tanpa risih. Euuhh… apakah orang itu tidak merasa bau? Itukan mayat? Pikir Sakura.

Deg!

Orang itu kini menatap Sakura dengan tajam. Sakura meneguk ludahnya karena takut ditatap seperti itu.

"Apa kau juga sedang mencari seseorang disini?" tanya orang itu.

"I-iya, a-aku sedang mencari seseorang…" jawab Sakura takut-takut.

"Ketemu?" tanya orang itu lagi.

"Err… tidak. Dia tidak ada dalam mayat-mayat yang berserakan ini. Apakah ia masih hidup?" tanya Sakura polos.

"Siapa orang itu?" tanya orang itu lagi. Sepertinya orang itu sangat ingin tahu orang yang Sakura cari.

"Err… namanya… Yamato," jawab Sakura.

"Yamato…" Mendengar nama Yamato, orang itu terlihat berpikir keras.

Sakura melihat orang menyeramkan itu sedang berpikir. Apakah ia mengenal Yamato? Tapi, memangnya siapa Yamato itu sampai dikenal banyak orang?

"Sebentar, kalau tidak salah…" gumam orang itu.

Orang itu berjalan mendekat ke Sakura sambil menggendong mayat yang terlihat menyeramkan. Sakura agak mundur saat orang itu berdiri di hadapannya. Tapi, saat orang menyeramkan itu menunjukkan sebuah buku kecil dengan banyak foto-foto yang tertempel di buku kecil itu, Sakura pun akhirnya mendekat dan melihat sebuah foto yang ditunjukkan kepadanya.

"Apakah dia yang bernama Yamato?" tanya orang itu.

Sakura sangat terkejut melihat foto Yamato yang ada di buku kecil milik orang menyeramkan ini. Bagaimana bisa?

"Ke-kenapa bisa ada di buku itu? Kau mengenalnya? Bisa beritahu aku dimana dia sekarang?" tanya Sakura cepat.

"Hahaha… aku mengenalnya, tapi itu sudah lama sekali. Kau tahu? Mayatnya dihargai sangat mahal bila kau menjualnya." Orang menyeramkan itu tertawa sambil berkata seperti itu.

Mendengar perkataan orang itu Sakura serasa mau muntah. Apa katanya? Mayat Yamato dihargai sangat mahal? Memangnya siapa Yamato sampai diburu seperti itu?

"Memangnya siapa Yamato? Kenapa bisa masuk daftar orang yang dicari?" Sakura tahu buku kecil yang dipegang oleh orang itu. Buku itu adalah buku daftar orang-orang yang mempunyai harga tinggi.

"Dia dulunya adalah seorang ninja yang sangat hebat. Banyak desa-desa yang menyewanya untuk menyelamatkan mempertahankan wilayah desa itu. Tapi, entah karena apa, tiba-tiba saja Yamato menghilang. Tidak ada yang tahu dimana Yamato. Mungkin sampai saat ini? Tapi, di tempatku banyak sekali orang-orang petualang, ninja, atau bahkan perampok sekalipun. Sedikit banyak aku pernah mendengar kabar tentangnya dari orang-orang yang berkunjung ke tempatku." ucap orang itu.

"…." Sakura terdiam. Sakura tidak menyangka kalau Yamato ternyata adalah orang yang hebat. Sedikit banyak Yamato memang mengajari Sakura jurus-jurus ninja. Yamato tidak pernah membahas tentang kehidupannya. Yang Sakura tahu, Yamato sangat sayang kepadanya dan selalu menjaga Sakura.

"Kau sepertinya sedang tersesat? Apa kau mau datang ke tempatku? Siapa tahu disana kau bisa mendapatkan informasi tentang Yamato dari orang-orang yang berkunjung di tempatku." tawar orang itu.

"Benarkah? Bila aku datang ke tempatmu aku akan mendapatkan informasi tentang keberadaan Yamato?" tanya Sakura penuh harap.

"Informasi itu bisa kau dapat bila memang ada yang melihat Yamato." jawab orang itu.

"Gawat, sudah terlalu siang. Aku harus pergi." Orang itu menatap ke langit, melihat matahari yang kini sudah berada diatas kepalanya. "Kau mau ikut denganku?"

Sakura menatap orang yang menyeramkan itu. Sakura ingin ikut, tapi Sakura takut karena mereka baru saja bertemu. Bagaimana kalau Sakura nanti dijual olehnya? Tapi, Sakura ingin mengetahui keberadaan Yamato.

"Baiklah, aku ikut denganmu!" Sakura memberanikan diri membuat sebuah keputusan.

"Sebelum ke tempatku, kita jual mayat ini. Tenang saja, kau juga akan aku beri bagian." ucap orang itu.

"Ikh, tidak perlu…" ucap Sakura merasa jijik.

Kini, mereka berdua berjalan beriringan. Sakura mengikuti orang yang menyeramkan itu.

"Perkenalkan, aku Kakuzu. Kau?" tanya orang yang menyeramkan itu.

"Sakura…" jawab Sakura.

"Nama yang cocok untukmu." kata Kakuzu.

"Ya," ucap Sakura bosan.

Rasanya, perjalanan Sakura terasa membosankan dengan Kakuzu yang selalu bertanya hal-hal yang tidak penting. Inilah pertemuan Sakura dengan Kakuzu.

.

Sampai saat ini, 2 tahun sudah berlalu, Sakura tidak pernah mendengar kabar tentang Yamato di tempat Kakuzu. Memang, banyak sekali orang-orang yang datang ke rumah hiburan Kakuzu. Penjahat kelas atas pun pernah menginap di tempat Kakuzu. Saat mendengar informasi tentang desa yang diserang atau ada seorang pahlawan kebaikan, Sakura selalu datang untuk melihat apakah disana ada Yamato? Dan mulailah hari-hari Sakura sebagai seorang pencuri kecil-kecilan karena ia juga butuh uang untuk bertahan hidup. Terkadang, Kakuzu menawarkan sebuah pekerjaan kecil. Seperti menjadi seorang mata-mata, mengikuti Kakuzu melaksanakan misi dari ketua organisasinya, menjadi pesuruh pun pernah Sakura lakukan.

Sekarang, Sakura merasakan bosan dengan kehidupannya. Selalu seperti itu berulang-ulang. Sakura selalu ingat kata-kata Yamato, "Kau harus bersyukur, karena kau masih hidup. Saat ini matahari sedang tenggelam, menghilangkan cahayanya di tempat ini. Seperti dirimu yang saat ini sedang kehilangan cahaya kehidupanmu. Tapi, matahari tidak akan pernah tenggelam selamanya. Matahari akan terbit kembali, menyinari tempat ini. Jadi, kau harus mempunyai semangat seperti matahari terbit. Saat matahari terbit adalah sebuah awal kehidupan baru setiap harinya. Sebuah semangat baru untuk menjalankan kehidupan ini dengan lebih baik. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Karena kita bisa membuat awal kehidupan baru setiap harinya." Itulah pesan yang selalu Yamato katakan kepada Sakura.

"Tapi… aku sudah lelah… aku sangat lelah untuk bisa memulai awal kehidupan baruku setiap harinya…"

.

T_N

.

"Kau sepertinya sedang tidak baik,"

"…."

"Kemana saja kau seminggu ini?"

"Di gunung,"

"Haha… kau ini, senang sekali mengurung diri di gunung? Apakah kau tidak suka tinggal disini?"

"Dimana saja sama. Kalau disini, kau selalu mencekikku dengan harga tinggi! Padahal, aku ini bisa dibilang anak pungut-mu, mungkin?"

"Hahaha… anak kucing yang tersesat…"

"Aku tidak tersesat!"

"Ya, kau seperti anak kucing yang tersesat. Karena kau sama sekali tidak mengetahui apa-apa, Nona…"

"Ughh…"

Sakura sudah kembali ke rumah hiburan milik Kakuzu. Ia sudah memperbaiki kegalauannya dan kesedihannya selama di gunung.

"Mau ikut misi denganku?"

"Hn? Misi? Misi apa?"

"Agak berbahaya juga. Dan misi ini juga melibatkan ninja dari Desa Konoha."

"Memangnya apa?"

"Di daerah perbatasan Desa Suna, desa padang pasir. Suna membayar ninja dari Konoha untuk membantu melindungi Suna. Ada yang ingin menguasai Suna yang saat ini sedang maju. Kepala Desa Suna masih dibilang masih muda. Mungkin dia seumuran denganmu. Namanya adalah Sabaku Gaara. Salah satu teman organisasiku berasal dari Suna. Ia bernama Akasuna Sasori. Sasori tertangkap oleh Orochimaru. Dan kau tahu sendiri siapa itu Orochimaru, heh? Entah Orochimaru atau bukan yang ingin menguasai Suna, Sasori dalam bahaya. Aku dan rekanku Hidan, akan kesana untuk menyelamatkan Sasori. Selebihnya, kami tidak perduli dengan soal penguasaan Suna."

"Sepertinya misi yang berbahaya. Mengingat Orochimaru adalah salah satu ninja yang hebat dan sangat jahat. Aku ikut! Hanya menyelamatkan Sasori saja, kan? Tidak ikut dalam pertempuran?"

"Ya, hanya mencari Sasori, bila sudah ketemu, kita segera pergi dari sana…"

"Kapan?"

"Sore ini berangkat,"

"Sip!"

Sakura menantang bahaya. Kenapa dia mau ikut misi Kakuzu? Padahal Sakura bukan salah satu anggota organisasi Kakuzu. Sakura itu seperti pesuruh Kakuzu, tapi bukan berarti Kakuzu memperlakukan Sakura dengan sangat tidak baik.

Sore hari pun tiba. Sakura sudah siap untuk ikut bersama Kakuzu dan Hidan menuju Desa Suna. Tidak akan memakan waktu lama untuk bisa sampai di Desa Suna.

"Kita harus bergerak cepat!" tegas Kakuzu.

"Ya, tapi… kenapa kau mengajak dia? Dia hanya akan menyusahkan kita saja dalam misi ini…" keluh Hidan sambil menatap Sakura rendah.

Sakura menatap kesal Hidan. "Aku tidak akan menyusahkanmu, kok! Kalau pun aku menyusahkan, aku hanya akan menyusahkan Kakuzu saja!" tegas Sakura kesal.

"Cih, aku tidak mau perduli denganmu!" ketus Hidan.

"Siapa juga yang mau kau perdulikan, heh?" cuek Sakura.

"Haahh… kalian berdua, berhentilah. Hidan, kau tidak perlu memikirkan Sakura. Misi tetap misi. Hiraukan yang lain. Aku mengajak Sakura, karena aku yakin Sakura punya misi sendiri. Kita pergi!"

Setelah mengucapkan itu, Kakuzu segera melesat pergi. Hidan mengikuti. Dan Sakura segera mengikuti Hidan dari belakang. Sakura masih memikirkan perkataan Kakuzu kalau Sakura punya misi sendiri? Maksudnya apa? Tapi, Sakura tidak mau ambil pusing. Sakura pun segera mensejajarkan kecepatan larinya dengan Kakuzu dan Hidan.

Setelah melewati perbatasan antar desa, mereka bertiga sampai di padang pasir. Setelah melewati padang pasir ini, mereka akan sampai di Desa Suna. Desa pasir yang sangat tersembunyi.

"Ini sudah parah. Selama perjalanan, orang awam sama sekali tidak ada. Aku punya firasat buruk. Bahkan sangat buruk." gumam Kakuzu.

Benar firasat Kakuzu. Sampai di pintu gerbang masuk Desa Suna, keadaan sudah kacau. Peperangan sudah terjadi.

"Kita ini bukan kawan ataupun lawan mereka. Sebisa mungkin, hindari peperangan. Informasi yang kudapat, Sasori dikurung di ruang bawah tanah di bangunan yang paling tinggi di desa ini. Lihat, disana. Tujuan kita hanya kesana. Setelah itu, kita segera pergi dari sini." jelas Kakuzu.

"Hn,"

Kakuzu, Hidan, dan Sakura segera menerobos masuk ke Desa Suna yang kini sedang berperang di malam hari. Sakura harus waspada, karena mereka bisa dianggap sebagai musuh. Karena Sakura terlalu memperhatikan perang yang terjadi, Sakura jadi tertinggal jauh dari Kakuzu dan Hidan. Sakura pun segera fokus kembali menuju bangunan tinggi itu. Sialnya, beberapa kunai meluncur ke arahnya. Sakura bisa menghindarinya. Tapi, Sakura malah di kejar oleh beberapa ninja desa ini. Sakura terus berlari melompati rumah-rumah yang terbuat dari pasir ini. Sebisa mungkin, tidak ikut dalam pertarungan. Sakura terus menghindar dari ninja-ninja yang menyerangnya. Berlari semakin menuju ke dalam desa, disana ada sebuah lapangan pasir yang sangat luas. Sepertinya disanalah pusat dari peperangan ini. Ninja-ninja hebat bertarung di lapangan luas itu. Kenapa harus ada peperangan hanya untuk menguasai sebuah wilayah? Untuk apa? Pikir Sakura. Bukankah hidup damai, tenang, bisa berkumpul bersama keluarga, atau bermain bersama teman, bukankah itu sudah membahagiakan? Sakura tidak mengerti pikiran orang-orang itu.

"Sial! Aku harus berlari kemana lagi? Didepan sana adalah pusat dari perang ini. Tidak mungkin kan, aku berlari kesana? Kalau aku kesana, itu namanya cari mati!" rutuk Sakura.

Sakura memperhatikan orang-orang yang bertarung di lapangan itu. Diantara banyaknya orang-orang di lapangan luas itu, mata Sakura terpaku pada sosok seorang laki-laki berambut coklat. Laki-laki itu… apakah Sakura salah lihat? Sakura mengucek-ngucek kedua matanya, berharap kalau Sakura telah salah lihat. Tapi, benar, apa yang dilihatnya itu benar. Tidak salah. Air mata mulai membendung di kedua matanya. Sakura menangis. Penantiannya selama ini tidak sia-sia, ikatan jodoh untuk bisa kembali bertemu akhirnya datang.

"Ya-Yamato… Yamato…" ucap Sakura pelan.

Sakura memutuskan untuk masuk ke dalam lapangan luas itu. Tidak perduli kalau ia harus ikut bertarung. Yang ada dipikirannya hanya ingin bertemu dengan Yamato. Hanya Yamato.

Sakura terus maju menuju Yamato. Serangan demi serangan di laluinya dengan mudah. Kedua matanya tidak lepas dari Yamato. Tapi, sepertinya keadaan Yamato sudah sangat parah. Yamato sudah terluka parah. Yamato sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan. Akhirnya, sebuah pedang menembus tubuh Yamato. Sakura melihat itu dengan sangat jelas. Kedua bola mata Sakura melebar, pemandangan itu juga seperti menusuk dirinya sendiri.

Tidak, tidak mungkin, tidak mungkin, Sakura terus mengucapkan itu. Saat Yamato terjatuh dari berdirinya, barulah Sakura mempercayai apa yang telah dilihatnya itu.

"YAMATOOOOO…!" Sakura berteriak dengan sangat kencang.

Deg!

Suara jeritan seorang perempuan ditengah-tengah pertempuran ini membuat seorang laki-laki berambut kuning jabrik, merasakan debaran yang menyakitkan. Tiba-tiba saja dirinya merasa khawatir, entahlah apa yang harus ia khawatirkan? Dia sendiri kini sedang bertarung membantu Desa Suna mempertahankan wilayahnya sendiri.

'Aku kenapa, ya? Suara jeritan itu, suara perempuan itu mengingatkan aku dengan Sakura. Padahal aku sudah lama tidak bertemu dengannya lagi. Tapi, kenapa aku kepikiran tentang Sakura?'

Uzumaki Naruto. Ya, Naruto ikut membantu Desa Suna untuk mempertahankan wilayah Suna. Desa Suna membayar dan meminta pertolongan kepada Desa Konoha untuk membantunya.

"Apakah ada orang awam di dalam pertempuran ini? Bukankah warga sipil biasa sudah dipindahkan ke tempat yang aman?" pikir Naruto.

Perasaannya sangat kuat untuk menghampiri tempat asal suara jeritan itu. Naruto pun mengalihkan pertarungannya, dan berlari menuju asal suara jeritan itu.

Sakura terus berlari, dan tidak menghindari serangan yang diarahkan kepadanya. Tubuhnya sudah penuh luka akibat goresan kunai yang tidak dihindarinya. Sakura tidak memperdulikan rasa sakit di luar tubuhnya itu. Hatinya jauh lebih sakit daripada luka-lukanya itu. Air mata terus mengalir dari kedua matanya. Nama Yamato terus tergumam di bibirnya.

"Tidak…"

Akhirnya, Sakura sampai di depan tubuh Yamato yang sudah terbaring di lapangan pasir ini. Sakura segera menghamburkan dirinya memeluk tubuh Yamato.

"TIDAAAKKK… YAMATOOOO…!" Sakura berteriak kembali.

Sakura mengguncang-guncangkan tubuh Yamato agar Yamato segera bangun. Dengan sedikit sisa kekuatannya, Yamato dengan perlahan membuka kedua matanya. Dilihatnya seorang perempuan cantik bermata emerald, dengan rambut merah muda yang lembut, membuat Yamato tersenyum melihatnya.

Tangan kanan Yamato terangkat dengan perlahan dan menyentuh pipi Sakura, "Putri kecilku… kau sudah semakin tumbuh dewasa, kau semakin cantik, anakku…" ucap Yamato pelan.

"Yamato, jangan tinggalkan aku lagi… jangan tinggalkan aku lagi… aku mohon…" Sakura tidak bisa menghentikan air matanya yang sudah mengalir dengan deras.

"Haahh… maafkan aku yang sudah meninggalkanmu, Saku-chan… Andai aku punya sedikit waktu lagi untuk menjelaskan semuanya kepadamu, tapi aku rasa itu tidak perlu…" Yamato dengan perlahan menghirup dan menghembuskan napasnya yang sudah terlihat berat itu. "Aku sangat senang, disaat terakhirku ini, aku bisa melihat dirimu… Kau harus terus hidup Sakura, teruslah seperti matahari terbit. Saat matahari terbit adalah awal baru dari kehidupan setiap harinya. Kau harus terus hidup, dan hidup bahagia, putri kecilku…" Itulah kata-kata terakhir dari Yamato. Yamato sudah memejamkan kedua matanya. Wajahnya terlihat damai dan ada sebuah senyum yang terukir di bibirnya.

"TIDAAAKKK…!" Sakura kembali berteriak.

Teriakan dari Sakura membuat orang-orang yang sedang bertarung merasa terganggu dan mengalihkan perhatian mereka ke Sakura. Musuh dari Suna lah yang ingin menyerang Sakura. Sebuah pedang meluncur ke arah Sakura dengan cepat.

TRAANGG!

Pedang itu ada yang menangkisnya. Sakura selamat. Ya, selamat karena Naruto berhasil menangkis pedang itu dengan kunainya. Naruto juga terkejut, ternyata jeritan perempuan itu adalah Sakura. Berbagai pertanyaan pun berputar di pikirannya. Mengapa Sakura ada di tengah-tengah pertempuran ini? Lupakan dulu pikiran itu.

"Bangun! Sedang apa kau disini, hah? Cepat pergi dari sini!" Naruto menarik Sakura paksa yang masih memeluk tubuh Yamato yang sudah tidak lagi bergerak.

"Aku tidak mau! Aku mau bersama Yamato!" Sakura melepaskan tarikan Naruto pada tangannya.

"Dia sudah mati! Cepat pergi dari sini!" Naruto kembali menarik Sakura paksa.

"Aku bilang aku tidak mau!" Sakura bersikeras ingin terus bersama dengan Yamato.

Tidak mungkin mereka terus berdebat ditengah-tengah pertarungan ini. Seorang laki-laki berambut merah menghampiri Naruto dan Sakura.

"Naruto, kabar baik. Orochimaru terluka parah. Aku tidak menyangka kalau Hokage dari Konoha datang langsung kesini. Tsunade telah membuat tangan Orochimaru mati dan tidak bisa digunakan. Aku rasa, Orochimaru akan segera mengundurkan diri dari perang ini." jelas laki-laki berambut merah itu.

"Gaara, benarkah? Tapi, disini masih berperang belum ada tanda-tanda untuk mengakhiri perang."

"Sebentar lagi, aku rasa…"

Benar apa yang telah dikatakan oleh Gaara. Suara dentuman keras entah berasal darimana, menandakan kalau Orochimaru telah mengundurkan diri dari peperangan ini. Musuh-musuh Suna dengan segera berlarian keluar dari Desa Suna mengikuti Orochimaru yang sudah kabur lebih dulu.

"Dia siapa?" tanya Gaara yang melihat Sakura menangisi Yamato di belakang Naruto.

"Ah, dia… dia Sakura…" jawab Naruto.

Gaara menghampiri Sakura, ingin melihat siapa orang yang telah ditangisinya itu.

"Yamato…" ucap Gaara pelan.

Walau pelan, Sakura mendengarnya. Sakura menolehkan kepalanya melihat Gaara.

"Kau mengenalnya?" tanya Sakura masih menangis.

Gaara mengangguk pelan. Gaara berjongkok di sebelah Sakura. Menatap Yamato yang sudah tiada.

"Semoga kau berbahagia di alam sana, Yamato…" ucap Gaara pelan.

"Kenapa? Kenapa Yamato bisa ada disini? Kau mengetahuinya?" Sakura menarik baju Gaara meminta penjelasan kepada Gaara.

"Aku menemukan Yamato yang sedang sekarat di sebuah desa yang sedang terjadi peperangan beberapa tahun lalu. Aku membawanya ke sini, dan mengobatinya di desa ini. Aku mengenal Yamato dari pembicaraan orang-orang, dia adalah seorang pahlawan. Karena aku telah menyelamatkan hidupnya, Yamato memutuskan untuk bekerja melindungi desa ini. Aku tidak menyangka sama sekali kalau Yamato bisa tewas dalam peperangan ini." jelas Gaara sedih.

Ternyata seperti itu. Yamato bukannya meninggalkan Sakura dengan sengaja, melainkan Yamato terluka parah dan ditolong oleh Gaara. Untuk membalas budi, Yamato memutuskan tinggal di Suna dan tidak mencari Sakura sama sekali.

"Hiks… Yamato… kau meninggalkan aku lagi…" Sakura tidak hentinya menangis.

"Kau… siapanya Yamato?" tanya Gaara.

"Yamato sudah aku anggap seperti ayahku sendiri… dia yang telah menyelamatkan aku saat terjadi perang seperti ini dulu…"

Naruto hanya bisa diam melihat Sakura dan Gaara yang terlihat akrab membicarakan tentang Yamato, orang yang sama sekali tidak Naruto kenal. Perang sudah selesai. Musuh sudah melarikan diri mundur. Entah mengapa, pemandangan Sakura dengan Gaara disebelah Sakura membuat Naruto kesal. Cemburukah? Masa cemburu, sih?

"Gaara! Kau harus cepat ke pusat! Hokage sudah menunggumu!" Seorang perempuan cantik yang dikuncir 4 tergesa-gesa menghampiri Gaara.

"Aku segera kesana. Terima kasih, Temari." ucap Gaara.

Sebelum Gaara pergi meninggalkan Sakura dan Naruto, "Maaf, aku harus pergi. Aku akan kembali lagi, dan memakamkan Yamato dengan layak."

Naruto menatap Sakura yang masih menangisi Yamato. Naruto pun kini berjongkok di sebelah Sakura. Naruto bingung, bagaimana ia menghibur Sakura?

"Sudahlah… Kau tangisi terus, dia tidak akan bangun lagi…" ucap Naruto.

Entah apa yang salah dengan kata-kata Naruto, kata-kata Naruto itu membuat Sakura menatapnya tajam.

"Eh? Apa aku salah bicara?" tanya Naruto takut yang ditatap seperti itu oleh Sakura.

"Baka! Bodoh! Aku tahu Yamato tidak akan bangun lagi! Tapi, kau juga tidak harus berkata seperti itu…!" Sakura jadi memukul-mukul Naruto yang ada di sampingnya dengan kencang, membuat Naruto kewalahan menghadapi pukulan Sakura.

Naruto menangkap kedua tangan Sakura yang memukulnya, dan segera menarik kedua tangan Sakura hingga kini Sakura terjatuh dalam pelukan Naruto. Naruto memeluk Sakura dengan erat.

"Kalau begitu, menangislah… menangislah sepuasmu…" ucap Naruto lembut.

Sakura tidak bisa melepaskan diri dari pelukan Naruto. Tenaga Naruto lebih kuat darinya. Akhirnya, Sakura pun luluh dengan kata-kata Naruto dan menangis dalam pelukan Naruto.

Tap!

Tiga orang berhenti di belakang Sakura dan Naruto.

"Sakura," panggil salah satu orang itu.

Naruto menoleh dan segera melepaskan pelukannya pada Sakura dan mengacungkan sebuah kunai ke arah orang itu.

"Maaf, sebenarnya aku sudah mengetahui kabar tentang Yamato. Tapi, aku tidak mau kau terlibat dengan perang ini. Perang ini sangat berbahaya. Dan aku juga tidak menyangka kalau Yamato akan berakhir seperti ini…" ucap Kakuzu yang tidak memperdulikan Naruto yang mengacungkan kunai ke arahnya.

"Orochimaru sialan! Seharusnya aku juga ikut berperang menyelamatkan desaku ini! Cih, dia malah sudah lebih dulu menangkapku dan mengurungku di bawah tanah!" gerutu Sasori kesal.

Sasori sudah diselamatkan oleh Kakuzu dan Hidan tanpa ikut dalam peperangan.

"Kau mau disini, atau ikut pulang bersama kami?" tanya Kakuzu.

Kakuzu juga ikut sedih, melihat Sakura yang menangis seperti itu.

"Aku masih mau disini. Aku tidak akan pergi sebelum Yamato di makamkan dengan aman. Aku tidak mau meninggalkannya. Kalau aku lengah, kau pasti akan menjualnya, kan?" tanya Sakura polos.

Kakuzu melongo mendengar ucapan Sakura itu.

"Hahaha… kau masih mengingatnya, ya? Aku tidak akan mengambil apa yang sudah menjadi milik orang lain. Yamato sejak awal sudah menjadi milikmu, Sakura…"

"…." Sakura hanya diam.

"Kalau begitu, kami pulang dulu. Kuharap, setelah ini kau masih mau bermain di tempatku, ya…"

Sedikit, Kakuzu takut kalau ia tidak akan lagi bertemu dengan Sakura. Sakura sudah menemukan Yamato. Setelah ini, kemana Sakura akan tinggal dan pergi? Kakuzu tidak bisa membaca apa yang akan dilakukan oleh Sakura setelah ini.

Kakuzu, Hidan, dan Sasori pun pergi dari Desa Suna menuju tempat organisasi mereka.

Hari sudah larut malam. Cahaya bulan menyinari Desa Suna yang setengah hancur akibat peperangan ini. Ninja-ninja yang tewas dalam perang dikumpulkan dan akan dimakamkan dengan aman.

Setelah Sakura melihat sendiri Yamato dimakamkan dengan aman, Sakura baru bisa pergi dari tempat ini. Ternyata Gaara, pemimpin yang masih muda itu sangat baik.

"Kalau kau mau, kau boleh tinggal di desa ini. Aku akan memberikanmu tempat di sini…" ucap Gaara menghampiri Sakura.

Sakura menatap Gaara, Sakura tersenyum manis kepada Gaara, membuat Naruto yang setia mendampingi Sakura, kesal kepada Sakura yang memberikan senyum manisnya itu kepada Gaara.

"Terima kasih sudah memakamkan Yamato dengan aman. Aku bisa tenang sekarang. Terima kasih juga tawarannya untuk memberiku tempat tinggal, tapi aku tidak bisa tinggal disini. Tidak ada orang yang aku kenal disini…" ucap Sakura tersenyum.

"Kau akan pergi?" tanya Gaara.

"Ya," Sakura berjalan mendekat dan memeluk Gaara sebentar.

Perlakuan Sakura yang tiba-tiba ini, membuat jantung Gaara berdebar-debar. Hei, Sakura memang cantik. Siapa yang tidak terpesona dengan Sakura? Apalagi jantung Naruto, jantung Naruto sangat berdebar-debar karena emosi. Emosi dan marah karena Sakura memeluk Gaara.

"Aku pergi, terima kasih untuk semuanya…"

Sakura pun segera melompat ke atap-atap dan berlari dengan cepat untuk meninggalkan Desa Suna. Naruto sangat terkejut karena Sakura tidak pamit atau memberi salam perpisahan atau apa gitu kepadanya, Naruto hanya bisa cemberut dan kesal. Apalagi, Gaara terlihat merona wajahnya setelah dipeluk oleh Sakura.

"Cih! Menyebalkan!" rutuk Naruto.

"Eh? Apa ini?" Gaara merasakan ada sesuatu di kantongnya. "Sejak kapan?"

Gaara mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya. Ada satu bunga sakura hitam dan selembar kertas. "Kenapa uangku bisa berubah jadi ini?" tanya Gaara bingung.

Naruto melihatnya. Sudah pasti itu ulah Sakura.

"Aku benciiiii…! Bahkan dia malah mencuri milik Gaara! Bukan milikku! Aku rela, kok, kalau kau mencuri uangku lagi Sakuraaaa…!" teriak Naruto.

"Apa maksudmu, Naruto? Sakura mencuri? Jadi, Sakura mencuri uangku, begitu?" tanya Gaara.

"Iya, Gaara!" jawab Naruto kesal.

Sepertinya Gaara tidak mempermasalahkan uangnya yang Sakura curi. Gaara membaca kertas itu, disitu tertulis Sakura meminta maaf kalau ia telah mencuri uang Gaara. Gaara tersenyum membaca kertas itu. Naruto yang melihatnya pun jadi semakin kesal.

"Mungkin, Sakura tidak mencuri uangmu karena ia tahu kalau kau tidak punya uang, Naruto…" Gaara tersenyum pada Naruto.

Mendengar ucapan Gaara, Naruto segera mengecek setiap kantong di pakaiannya, memang benar, Naruto sama sekali tidak membawa uang. Ini membuat Naruto menahan tangis karena dia ternyata sangat miskin, walau bayaran sebagai ninja sangat mahal.

"Huwaaaa… aku lupa membawa uaaaanggg…" rengek Naruto.

"Hahaha…" Gaara menertawakan Naruto.

Disela-sela tawanya Gaara, Gaara bergumam kalau semoga Gaara dan Sakura bisa bertemu kembali. Naruto yang mendengarnya mengancam Gaara kalau Sakura itu adalah incarannya. Tapi, Gaara sama sekali tidak perduli.

Walau Sakura sudah bisa tersenyum, itu hanya topeng yang digunakannya di depan Gaara dan Naruto agar mereka tidak mengkhawatirkannya. Lihat, selama perjalanan pulang, Sakura menangis tiada henti. Air matanya tidak mau berhenti. Rasa sedih kehilangan Yamato sangat dalam dirasanya. Dan Sakura kembali pulang ke gunung. Menumpahkan kesedihannya disana. Seorang diri. Berharap saat gelap telah tenggelam dan cahaya sinar matahari terbit yang menggantikan kelamnya malam, adalah awal baru dari kehidupan Sakura. Sakura harus bisa terus bangkit dan bertahan untuk hidup. Kesedihan dan penderitaannya sudah berlalu. Jadi, setiap harinya adalah awal kehidupan yang baru. Sakura harus terus hidup.

BERSAMBUNG

11 MEI 2014

A/N :

Nyo~ jadilah ceritanya seperti ini… :3 Malah jadi makin panjang aja ceritanya… hehehe… kalo gak suka, nikmatin aje, ya… ^_~

Saya ambil judul seperti matahari terbit ini, dan artinya itu dari pengalaman saya sendiri… hehe… inspirasi kehidupan… buku-buku inspirasi hidup… dan saya tidak dengan baik menyampaikan apa pesan yang terkandung dalam seperti matahari terbit itu… hehe… XD

Nyooo~ ada tokoh baru muncul nih… Nah, lo… ada Gaara tuh… hihihi… :*

Balas review, dulu chapter 3 nyo… :D

Dark Namikaze Ryu Kalau dari ciri-ciri mungkin udah tau. Tapi, Sakura cuma pencuri kecil yang pecicilan kesana-kemari aja… hehe… ^^v

Uzumaki Satoshi Hahaha… tetap semangat, yosh! Jangan suruh makan yang banyak, saya udah n'dut ntar makin n'dut… XD #plak hahaha…

Samsulae29 Maaf, kayaknya 1 atau 2 chapter lagi untuk lanjutan dari chapter 1, tunggu ya… :D

Gray Areader Hahaha… sabar, ya… 1 atau 2 chapter lagi, nyo~ :3

Senju Toshirama Lanjuuuuttt… :D

Rinzu15 the 4th Espada Hehehe… makasih Rinzu-chan… :D

OhhunnyEka Makasih, ya… :D

Cindy elhy Lanjutkaaann… :D

Terima kasih banyak buat kalian semua yang sudah membaca lanjutannya dan mereviewnya, ya… terima kasih… :D Semoga kalian semua suka sama lanjutannya ini… :D

Nah, udah selesai… Sampai jumpa chapter 5 ya… :D

Be happy… :*

Review? :3