SCARS

Summary: Sebatang kara, tanpa keluarga. Kehidupan yang sulit dan cinta yang harus terpisah paksa darinya. Kebaikan yang selalu buatnya sengsara. Pria itu sangat ia takuti dan benci. Membuatnya menangis, sakit. Hidup yang penuh luka dan derita. Akankah ia masih bisa bahagia?

Disclaimer: Naruto just Masashi Kisimoto punya J

Rated: M

Chap 4

Sedikit info:

· Uchiha Sasuke 27 th

· Hyuuga Hinata 21 th

· Uzumaki Naruto 24 th

· Haruno Sakura 22 th

· Sabaku no Gaara 26 th

· Yamanaka Ino 22 th

Happy reading ^^

"Sa-sas-sasuke-san...?!"

Sosok yang merasa terpanggil itu menoleh ke asal suara. Disana berdiri seorang gadis yang terlihat khawatir menatap ke arahnya.

'Apa yang dilakukan gadis itu tengah malam begini?'

Hinata mulai menuruni landasan curam sungai menuju semak dimana Sasuke bersembunyi. Tangan mungilnya hendak menggapai Sasuke, berniat menolong pria itu. Tapi sebuah tepisan kasar dan hardikan yang malah ia terima.

"Apa yang kau lakukan disini, bocah?! Cepat pergi dan pulang ke rumahmu!"

Hinata terkejut. Ketakutan. Cukup dengan bentakan di perpus tadi, dan kini ia malah kembali mendapat cercaan gratis darinya. Ia berniat meninggalkan tempat itu, sebelum matanya menangkap kilat likuid pekat yang cukup banyak tercecer di tempatnya berpijak.

"U-uchiha-san, kau terluka!"

"Ck! Kau tuli atau apa?! Cepat pergi! Tempat ini tak cocok bagi gadis lemah sepertimu!"

Hinata ingin pergi.

Tapi sisi kemanusiaannya tergugah tatkala melihat ceceran darah itu. Rasanya tak enak jika ia meninggalkan seseorang yang terluka begitu saja. Dia memang bukan ahli dalam hal obat-mengobati. Namun setidaknya sedikit bantuan mungkin bisa membuat luka pria di hadapannya ini membaik.

"U-uchiha-san, flatku ada di dekat sini,"

"Kau masih belum pergi, eh?"

"M-mungkin jika anda ma-mau, me-mengunjungi-"

"Itu tak perlu, aku bisa sendiri. Cepatlah pergi!"

"D-demo..."

'Ck! Perempuan keras kepala,'

"Kau bisa menjaminnya?"

"Eh?"

"Aku sedang dikejar. Kau bisa menjamin jika mereka tak bisa mengikutimu?"

Hinata berpikir sejenak.

"Banyak darahku yang tercecer. Mengikuti tetesannya saja akan membuat mereka dengan mudah menemukan tempat tinggalmu,"

'Jadi itu masalahnya?'

KREEK!

Sasuke mengernyit. Tiba-tiba gadis di depannya menyobek syal yang ia pakai. Lantas sobekan itu ia arahkan padanya.

"Ma-maf, bisakah s-saya tahu di-dimana luka anda?"

Sasuke menatap mata bening yang tulus itu. Sembari menunjukkan dimana lukanya berada. Luka tembak di sebelah atas dada kiri dan sayatan lebar di lengan kiri pula. Keduanya masih mengeluarkan darah yang menetes-merembes di baju.

Hinata dengan sigap menjadikan sobekan syalnya sebagai perban sementara. Bagian sobekan yang lebih kecil sebagai pengikat agar sobekan yang membungkus luka tak bisa lepas. Sedikit bingung Hinata setelah selesai dengan lengan berotot itu. Ia sudah tak punya syal lagi, tak mungkin ia meminta Sasuke merobek kaos atau jaket yang ia kenakan. Itu tidak sopan, karena dirinyalah yang berniat membantu.

Gadis itu menatap ke bawah, berpikir keras apa yang harus ia gunakan lagi untuk menutup luka Sasuke. Dengan tangan yang tanpa sadar masih berada pada pundak pria di hadapannya.

Sasuke menatap Hinata intens. Mata keabuan yang jarang sekali dimiliki oleh kebanyakan orang. Dia punya rambut indigo tebal yang panjang. Wajah bertipe inosen dan gaya konservatif. Mungkin dia adalah gadis baik-baik. Akan sial baginya jika terlibat 'urusan' Sasuke saat ini.

"Menyerahlah,"

KREEK!

Kelelakian Sasuke terhenyak melihat perbuatan gadis itu.

Sebuah tarikan tangan yang kuat untuk merobek kain yang terpasang pada anggota bawah tubuhnya. Benar-benar. Hinata saat ini tengah merobek rok yang ia kenakan. Hingga terlihat pahanya yang putih mulus tersaji cuma-cuma di mata kelam Sasuke.

"Boleh juga, jalang,"

Sedikit tersinggung. Tapi diabaikannya kata kasar itu. Kembali berkutat untuk membalut luka Sasuke. Tapi halangan yang lain membuatnya berhenti lagi –Sasuke masih mengenakan baju-.

"Seharusnya kau gunakan bajuku saja, bodoh," sambil berucap pria Uchiha itu melepas jaket dan kaos yang ia gunakan sekaligus.

Hinata berpaling. Diam mematung. Dirinya tak pernah melihat laki-laki bertelanjang dada secara langsung seperti ini. Apalagi orang yang melakukannya itu adalah Uchiha Sasuke, pebisnis muda tersukses, tipe manusia yang banyak dipuja semua kalangan, kalangan terhormat, pemilik Uchiha corp, perusahaan raksasa Jepang yang sudah disegani seantero dunia.

"Tak jadi menolongku, eh?"

Hyuuga sulung yang suka gugup. Secepatnya ia usap bagian luka yang masih berdarah itu agar tak ada yang menetes lagi saat sumber lukanya terperban. Ia abaikan rasa malunya. Toh, tubuh yang penuh darah itu semakin membuat nuraninya tergerak menolong pria yang notabenenya bersikap kasar padanya.

Rintik yang mulai menderas membuat Hinata mempercepat perbannanya. Sasuke hanya diam tak berkomentar. Mungkin pria itu mengiyakan saja ajakan gadis asing ini, daripada menunggu bantuan yang tak jelas kapan datang membantu. Dia yang mengajaknya. Dia yang menjamin dan menawarkan jasa. Menolak atau menerima sungguh tak ada bedanya. Setidaknya Sasuke bisa memulihkan tenaga pasca melawan kelompok Orochimaru.

Ya, si Oro-tua bangka itulah dalang dari semua luka yang ia dapat. Manusia berwajah ular itu yang memulai permusuhan lama mereka kembali meledak. Sejarah yang panjang memang, kenapa Uchiha dan kelompok Orochmaru terlibat 'perang' tak berkesudahan. Sungguh, Sasuke lebih unggul dibanding dengannya. Hanya saja kelicikan dan sifat pengecut Orochimaru yang terkadang membuat satu-satunya Uchiha yang tersisa itu terdesak.

"Ah.. ame kah?"

"Dimana tempat tinggalmu?"

Sasuke berusaha berdiri. Walau tak nampak kesulitan, Hinata sigap meraih lengan kanan pemuda itu dan menyampirkannya di pundak kecilnya. Terasa berat, tapi gadis itu tak menyerah. Dan Sasuke hanya menatapnya datar.

"Be-berapa meter, dari sini,"

%%%%%%%%%5555555%%%%%%%%%

Tempat ini begitu sempit. Di ruang tengah sekaligus ruang tamu. Hanya satu set sofa-kursi dan dapur kecil di salah satu sisi. Lantai kayu tua yang meski bersih, namun masih jauh dari marmer di mansionnya. Temboknya usang, berwarna membosankan. Tak ada pajangan dinging. Hanya jam tua kecil pada salah satu nakas buku rendah yang berdetak menunjuk angka 1.

Gadis asing yang menolongnya itu masih berkutat di dapur sedari beberapa menit lalu. Hujan deras disertai petir menggelegar di luar sana tak menghalangi aroma lembut nan hangat yang mulai tercium. Ini sudah dini hari, dan gadis itu masih sibuk menyiapkan hidangan untuk 'tamu'nya.

Hinata menutup panci berisi nasi yang telah bercampur beberapa bahan seperti sayuran dan sedikit daging. Dikalungkannya celemek yang ia pakai pada gantungan kayu di dapur dan mulai menuangkan air panas yang lalu dicampur dengan air dingin. Mengangkat ember berisi air hangat tersebut bersama selembar handuk bersih dan membawanya di hadapan Uchiha tunggal.

Sedikit gamang tatkala mata setajam paruh elang itu mengikuti kemana pun anggota tubuhnya bergerak. Dengan hati-hati ia letakkan ember besar itu dan bergegas mengambil kotak obat di kamar. Suara dengung mesin cuci tua yang tengah menggiling baju kotor berdarahnya menjadi peneman Sasuke menunggu gadis itu. Sikapnya tetap waspada. Ia sangat pintar menilai seseorang. Harus cermat, jika tiba-tiba gadis yang terlihat lemah itu ternyata adalah salah satu kaki tangan Orochimaru. Semua kemungkinan bisa terjadi. Dan yang menjadi sesalnya, ia terlanjur terburu-buru menyerang markas musuh tanpa dampingan tangan kanannya. Jika saja Kakashi ikut, mungkin saja taktik serang yang tepat sesuai info yang di dapat bawahannya itu bisa terlaksana. Sayang sekali, pria yang telah melayaninya lama sekali itu kini sedang ada urusan penting. Dan sialnya si brengsek kepala putih itu tidak mau mengangkat panggilannya barang sedetik pun.

Yah, Sasuke tipe yang tidak sabaran. Ia tak suka menunggu lama. Kasar, pemarah, keras kepala. Jika sasaran sudah ada di depan mata, kenapa harus menunggu lagi? Otak jenius, harta melimpah ruah, status kehormatan, darah bangsawan, dan wajah super tampannya lah yang membuat pria itu selalu dipuja, dimanapun dan kapanpun ia berada walau memiliki sifat seperti itu.

"M-maaf, jika anda me-merasa tak nyaman,"

"Hm,"

Mata itu lagi.

Sampai kapan Sasuke akan terus memelototinya?

Suara perasan handuk membuat atomosfir di ruangan itu berubah. Serasa mencekik dan membuat jantung bertalu. Seiring suara jam di nakas menggerakkan jarum panjangnya.

"S-sumimasen, U-uchiha-san..."

'Gadis itu selalu gagap,'

"Hn,"

Sasuke menegakkan tubuh atletisnya. Hinata mulai mengusap darah kering di sekujur tubuh yang terluka. Tangan lembut nan lentik begitu berhati-hati mengusap kotor di tubuh keras itu. Sebisa mungkin menunduk tanpa menoleh pada wajah rupawan Sasuke yang terus-menerus menatapnya intens.

"Siapa namamu?"

"Eh?"

Hinata tiba-tiba mendongak. Dan tatapan mata mereka kembali bersirobok. Jernih bening sesuci cerah cahaya, dan hitam sekelam malam tanpa bintang.

Hinata bersemu malu. Ia tundukkan cepat wajahnya. Tak pernah ia sedekat itu bertatap muka dengan laki-laki.

"H-hinata. Hy-hyuuga Hinata,"

"Apa kau punya kelainan bicara?"

"N-nani?"

"Kau selalu gagap,"

Hinata menelan ludah. Itu sedikit kasar jika yang perlu ia tanyakan adalah kegagapannya.

"M-maaf, sa-saya m-mudah g-gugup-..."

"Apa kau juga seorang pendosa? Kenapa kau selalu berkata 'maaf'?"

Wah, Sasuke. Kau menanyakan kegugupan Hinata hingga gadis itu bertambah gugup. Dan kau menghina tutur halus nan sopannya itu, yang jika dibandingkan denganmu yang tak pernah berkata 'maaf' meski jelas-jelas kau yang salah, itu sungguh jauh berbeda.

"Bu-bukan begit-"

"Teruskan,"

Hinata menatap wajah yang kini telah beralih menatap lurus ke depan –tak lagi menatap wajahnya-.

"Pengobatannya,"

"A-ah, m-maaf..."

Hinata kembali berkutat pada luka Sasuke. Tubuh itu kini mulai bersih sepenuhnya, hanya rembesan darah yang belum membeku dan memang harus segera ditangani.

Ketika tangan mungil yang tak sengaja bersentuhan langsung dengan kulit telanjang Sasuke, pria itu sedikit bergetar. Ada gelenyar aneh yang jika ia abaikan malah semakin kentara ketika jemari Hinata mulai meraba, menyusuri area lukanya yang terbuka. Seolah gadis itu sedang menggodanya dengan gerakan halus yang terasa begitu lembut.

"S-sasuke-san, etto..."

"Ada apa?"

Suara pria itu sedikit serak.

"Sa-saya tidak punya p-peralatan yang lengkap. H-hanya alat sederhana y-yang t-"

"Peluru itu tak ada,"

"E-eh?"

"Mereka langsung menembus kulitku,"

Hinata bergidik ngeri membayangkan kegiatan apa yang dilakukan pria di sebelahnya itu, hingga bisa mendapat luka tembak? Langsung tembus lagi, bukankah itu sangat menyakitkan? Berapa liter darah yang telah mengucur dari lukanya? Melihat baju pria itu telah basah oleh likuit kental berwarna merah.

Inginnya Hinata bertanya seperti itu. Tapi mengingat sifat dan kemesteriusan Sasuke membuat Hinata urung menanyakannya. Ia hanya ingin menolong, tak mau jika ia terlibat hal mengerikan yang tengah pemuda itu alami.

"U-uchiha-san, kenapa b-bisa sampai seperti i-ini?"

"Itu bukan urusanmu."

Tuh, kan?

Hujan semakin deras. Deru angin menerbangkan rerimbunan pohon hingga suaranya sampai di lantai ke lima flat Hinata. Petir sesekali menggelegar, memamerka kilat putih yang menyilaukan mata.

Hinata masih berkutat. Mengusap sekitar sumber luka dengan pensteril -alkohol-. Lalu membasahi kapas dengan obat pemercepat tutupnya luka dan menekankannya secara hati-hati.

"Grh!"

Sedikit erangan Sasuke membuat Hinata lebih hati-hati lagi. Rasanya memang akan 'menggigit'. Tapi pria itu tak protes ataupun menolak. Hanya mengikuti pertolongan pertama amatiran yang gadis itu berikan padanya.

"S-sumimasen!"

Hinata meniup luka-luka itu agar Sasuke merasa lebih baikan.

Tapi si pemuda merasa ada kepakan sayap kupu yang menggelitik dada ketika hembusan nafas halus itu sampai pada permukaan kulitnya. Aroma manis yang menguar dari sana membuat ia ingin menelan dan meraup apa itu yang berasal dari sumbernya.

"Fuuh... fuuh..."

"Hyuuga,"

"H-hai' "

"Aku sudah tidak apa-apa,"

Si gadis berkedip beberapa kali. Lalu detik yang agak lama mengantar gadis itu pada sebuah kesimpulan pasti dan ia segera memberikan sengatan perih di luka Sasuke denagn obatnya -lagi-.

Selesai dengan oles-mengolesi, si Hyuuga mengambil gulungan perban dan gunting. Melilit kulit bercoreng merah itu dengan benda putih panjang. Ia terlihat mahir dalam hal seperti ini. Lilitan rapi mulai terbentuk menutup luka hingga hanya menyisakan rembesan merah yang tak berani keluar lebih jauh lagi.

Telapak halusnya yang lagi-lagi bersentuhan dengan kulit pemuda itu sedikit membuat Sasuke jengah. Ia merasa tergelitik hingga rasa itu mulai merambat ke bagian perut six packnya. Turun, menuju area...

'Apa-apaan ini?'

Sampai suara gunting yang menjetik ujung perban terakhir berhasil mengundang tanya Sasuke pada gadis itu.

"Kenapa kau menolongku?"

"E..."

Mengalihkan rasa aneh di tubuhnya, pria bermarga Uchiha menyodongkan pertanyaan pada gadis gagu di sebelah. Yang telah selesai membebat luka si pria kasar dengan indahnya.

"Aku orang asing yang mencurigakan, kenapa kau menolongku?"

Raut bingung yang sekilas ditujukan itu membuatnya ingat pernah bertemu Hinata di perpustakaan kampus pagi tadi.

"Ti-tidak ada,"

"..."

"T-tidak ada a-alasan khusus m-mengenai hal itu. Ha-hanya..."

'Apa kau salah satu jalang yang mencoba menggodaku? Atau wanita yang ingin meminta balas budi dengan menguras hartaku?'

"S-sebagai sesama, bu-bukankah kita harus t-tolong-menolong?"

Sederhana. Padat, jelas, dan ringkas.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya.

Senyum tulus tersemat apik pada wajah ayu itu. Berhiaskan semu merah yang menggoda. Mata jernih berbulu indah-lentik yang menatapnya penuh kebaikan.

Sasuke menelan ludah.

Itu kepura-puraan atau memang kenyataan? Jarang sekali ada manusia yang mau mengatakan hal membosankan itu di masa ini.

"Hn,"

Hanya dengusan sebagai jawaban si Uchiha.

Hinata tersenyum manis dan membereskan peralatannya. Ia menyambangi dapur dan melihat masakannya. Ketika tutup panci ia buka, tercium aroma lezat bubur sederhana yang siap disantap. Menyajikan makanan halus itu dan beberapa potong apel yang telas dikupas. Menaruhnya di nampan bersama segelas air putih dan membawanya pada Sasuke yang melihat tingkah repot gadis itu hanya untuk mengurusnya.

"Sumimasen, h-hanya ini yang bisa s-saya sediakan,"

Sasuke melihat bubur yang mengepulkan asap harum. Biasanya ia akan disambut berbagai macam makanan sekelas hotel bintang lima ketika berada di mansionnya, bukan satu jenis masakan membosankan yang jarang sekali ia konsumsi. Wajar, ia tinggal sebatang kara, dan makanan rumah hampir tak tersedia untuknya, kecuali makanan tingkat atas yang disediakan pelayannya. Ia tak mau mengeluh. Masih untung gadis itu mau menyediakan makanan untuknya.

Tanpa menjawab pernyataan Hinata, Sasuke mulai menyuap makanan itu ke dalam mulut.

Agak panas.

Di cuaca dingin yang mendung seperti saat ini memang cocok untuk menikmati hidangan yang panas. Apalagi tekstur lembut yang cocok untuk keadaannya saat itu.

Menyuap lagi.

Bubur itu terasa nyaman di lidahnya walau dilihat dari tampilan, terbuat dari bahan-bahan sederhana.

Hinata mengulum senyum melihat Sasuke tak keberatan dengan masakan yang ia buat. Meski tak mengucap sepatah kata pun, pria itu terus memasukkan bubur yang ia buat suap-demi suap ke dalam mulutnya.

Berlalu meninggalkan Sasuke dan mulai berjalan menuju kamar. Ia ingat harus segera menyelesaikan tugas kuliah yang sempat terabai berkat Sasuke. Dilihatnya jam di nakas dan ia terbelalak.

'Gawat, sudah hampir jam 2!'

Bisa-bisa ia bangun dengan mata bengkat besok. Belum lagi selesai kuliah ia harus kerja paruh waktu untuk menghidupi diri. Ah, akan sangat melelahkan pastinya.

%%%%%%%%%555555%%%%%%%%%

Seorang laki-laki berambut raven gelap tengah memandang kabut tebal, bekas ganasnya hujam semalam. Punggung tegapnya terbalut perban di sebelah kiri. Lengan yang terdapat tonjolan besar ototnya juga sama. Tubuh kokohnya begitu terpahat sempurna untuk ukuran seorang manusia. Pinggang ideal dengan ukuran dan tinggi tubuhnya yang menggiurkan setiap mata wanita manapun yang memandang. Setiap gerakan dan gaya yang ia buat pasti mampu menggetarkan seluruh hati kaum hawa. Buat jerit mereka hanya dengan suara hembus nafas seksinya. Dan itu semua cuma bagian belakang dari keseluruhan anugerah Kami-sama padanya. Belum lagi jika ditilik dari depan. Akan buat nosebleed siapapun sebelum sempat menjelajah lebih jauh lagi karya seni hidup yang kini hanya berdiri memandang keluar.

Ya, Uchiha Sasuke kini tengah menimbang sesuatu. Hatake Kakashi mengiriminya pesan singkat tadi malam, jika ia sudah tiba di lokasi adu senjata semalam dan tak mendapati Sasuke disana. Ia menanyakan kemana ia pergi. Kelompok Orochimaru sudah meninggalkan sarang mereka dan hanya jejak tak berguna yang jika diikuti pun tidak akan membuahkan manfaat apapun.

Sasuke membalas pesan itu jika ia sekarang ada di tempat yang aman dan akan segera pulang dini hari nanti.

Dan sekarang waktu itu sudah tiba. Ia mengambil bajunya yang sedikit kering berkat pengering mesin cuci. Tapi seorang elit sepertinya tak akan mau memakai pakaian yang menurutnya telah tak layak pakai. Akan ia buang, jika sudah sampai di mansion. Ia tak mau meninggalakan jejak di area yang masih ia anggap wilayah incaran musuh.

Yamaguchi sebenarnya masih 'wilayah kekuasaannya'. Tapi si tua bangka Orochimaru mulai berani merangsek ke wilayah pinggiran yang memang jarang Sasuke urusi. Meski tak diucap secara lisan maupun tertulis, Uchiha dan Orochimaru telah memiliki 'wilayah' yang sudah ditetapkan berdasar jangkauan kuasa bisnis dan perdagangan. Jika salah satu pihak berani memasuki area musuh, maka itu sama saja pernyataan perang secara tidak langsung.

Suara kicau burung yang ramai membuat suasana kian semarak. Meski daerah ini terbilang tua dan tak terurus, tapi kehijauan pohon, suasana damai dan udara sejuk yang segar membuat daerah ini tak terlalu buruk untuk ditempati. Ketenangan yang semestinya tak terusik oleh sekelompok orang yang egois menjadikan wilayah itu sebagai ladang pertempuran mereka.

Sasuke berjalan membawa pakaiannya menuju pintu keluar.

Gadis bernama Hyuuga Hinata itu tak terlihat lagi ketika Sasuke makan. Mungkin ia tidur atau apa. Dan melihat sebuah pintu yang terbuka sedikit di salah satu sudut rumah, membuat kaki besar Sasuke bergerak memeriksa gadis itu. Dibukanya sedikit pintu, dan seketika aroma lavender lembut menguar dari dalamnya. Bukan aroma menusuk seperti kebanyakan kamar hotel yang pernah ia masuki, tapi aroma lembut yang menenangkan hati ketika melihat seorang gadis mungil yang tertidur mendekap meja di depannya. Sebuah pena terdiam bisu di samping meja. Sasuke mengambil benda itu.

Dilihatnya Hinata tertidur pulas tak terganggu kehadirannya sama sekali. Sasuke yakin ia akan merasa pegal ketika bangun dari tidur seperti itu. Sebagai seorang yang telah ditolong, seharusnya pria raven itu berbalas budi barang sedikit. Seperti memakaikannya selimut atau memindahkan tubuh ringan yang pasti akan mudah diangkatnya itu di kasur yang tepat berada di depannya. Tapi pria yang terkenal dingin dan kasar itu melenggang pergi begitu saja meninggalkan kebisuan flat yang kini sepi seperti tak berpenghuni. Jam di nakas berteriak seperti ingin mencari perhatian pria yang telah lenyap di balik kabut tebal pagi hari. Di antara rimbunan pohon yang seolah membuat tubuh bertelanjang dada itu menghilang tertelan kesunyian dini hari.

TBC

Hwaaaa... gomenasai reader sama!

Chap 2 ada sedikir ralat. Shiro baru sadar saat salah satu reviewer tercinta menyinggung tahun kelulusan Sakura. Itu maksudnya si Sakura lulus sekolah dari Jerman setelah 3 tahun menjalani masa kuliah. Bukan si Sakuranya yang lulus 3 tahun lalu dan hanya menyelesaikan studynya selama 1 tahun! Gila, mana mungkin yak?

#gubrak!

Jadi malu nih...

Maaf minna, meski Shiro gak bisa balas review minna sekalian, tapi Shiro selalu sempetin baca review minna kok. Maaf juga update nya ngaret, soalnya Shiro gak punya wifi di rumah, jadi harus punya waktu yang tepat dulu buat nebeng wifi di rumah temen, hehe :D

Shiro masih banyak kurangnya minna, jadi mohon maaf jika ff yang Shiro buat masih mengecewakan L

BTW, arigatou sudah baca fict Shiro. Tetep baca n komen ff Shiro yakkk...!

#ngarep 0_0

Yosh, see you in the next chap...^^