Inoichi tersedak minuman kopi hangatnya begitu mendengar teriakan histeris dari anaknya. Single parent itu segera meninggalkan dapur dan bergegas ke arah sumber suara.
"Ino! Ada apa?" ia bertanya dengan heran pada anaknya yang tiba-tiba menutup kembali pintu kamar dengan agak keras dari luar.
Ino segera berbalik menghadap ayahnya, ia menelan ludah sementara kedua tangannya di belakang memegang erat kenop pintu. "I...itu, ano..." gadis pirang itu berusaha mencari jawaban yang tepat. "A..aku," wajah putihnya memanas. "!"
"Apa?" Inoichi mengernyit heran. Tidak paham dengan kalimat cepat yang dilontarkan Ino dengan sekali nafas dan tanpa spasi itu.
Ino menghela nafas. "I-itu ayah. Tadi aku tidak sengaja melihat... emm... Sasuke ganti baju di dalam," tak enak hati juga telah membohongi ayahnya sendiri. Tapi, yah, apa boleh buat. Masa' Ino harus menjawab sudah memergoki kedua temannya berbuat 'mesum' di dalam kamar, masih dalam kawasan rumahnya pula. Walaupun itu hanya kesimpulan Ino sendiri.
"Oh... kau ini." Inoichi mendesah. "Ceroboh sekali. Makanya, kalau mau buka pintu kau harusnya mengetuk dulu."
"Aku lupa Ayah."
"Oh ya, mana Sakura? Dari tadi aku tidak melihatnya,"
Pertanyaan simpel itu sukses membuat Ino membeku di tempatnya. Ia kembali berkeringat dingin. "S-sakura... dia–" Ino harus memutar otaknya kembali, satu kebohongan yang ia buat, mengawali kebohongan yang lain. "...ada di dalam kamar mandi, yah, dia dari tadi di kamar mandi. Dia bilang tadi perutnya sangat sakit." Oh... dosa besar apa yang telah Ino perbuat hari ini sehingga terjebak dalam situasi seperti ini. Gadis itu mengeluh dalam hati.
+Dōbutsu © Sayaka Dini
Naruto © Masashi Kishimoto
+Anima © Mukai Natsumi
Code Breaker © Akimine Kamijyo
SasuSaku
Fantasy/Romance
AU-School Life dengan penuh fantasi.
*#~+Dōbutsu ~#*
Ino memijit pelipisnya, ia sedikit frustasi. Sementara kedua temannya yang berdiri di hadapannya hanya menunduk. Eits, ralat, hanya Sakura yang menunduk, merasa bersalah. Sedangkan Sasuke masih bisa berdiri tegak di samping Sakura, memasang wajah datarnya, seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Hah, sampai kapan pemuda itu baru sadar.
Mereka bertiga kini berdiri di depan rumah Ino. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Waktunya mereka pamit pulang. Tapi karena ada sedikit masalah –masalah besar bagi Ino– tampaknya Sakura dan Sasuke mau tidak mau harus menerima sedikit 'ceramah' dari gadis pirang tersebut.
"Kalian ini..." Ino lagi-lagi mendesah. "Setidaknya kunci dulu pintu kamarnya. Untung saja aku yang membuka pintu kamar itu, coba kalau ayahku. Bagaimana bisa kalian menjelaskan hal 'itu' semua nantinya?"
"Ino, sudah kubilang, kau salah paham," tegas Sakura.
"Sakura! Di mana letak salah pahamnya hah?" Ino nyaris menjerit mendengar penyangkalan Sakura untuk kesekian kalinya. "Jelas-jelas aku sudah menangkap basah kalian sedang–" Ino tak sanggup melanjutkan kalimatnya begitu mengingat kejadian tadi. Seketika itu wajahnya kembali memanas.
Sakura yang melihat reaksi Ino, sudah pasti paham apa yang dipikirkan Ino. Gadis berambut merah munda itu lantas ikut memanas saat memorinya juga mengingat kejadian tadi. Ah... betapa malunya dia. Ingin rasanya ia mengubur dirinya sendiri saat itu, ketika Ino datang di waktu yang sangat amat tidak tepat. Jelas saja Ino berpikir yang macam-macam melihat posisi mereka berdua saat itu.
Mata aquamarine Ino lantas melirik Sasuke yang sejak tadi diam. Emosinya kembali naik begitu melihat pemuda itu tampak tak acuh dengan masalah (besar bagi Ino) saat ini. Pemuda itu malah asik mengotak-atik tombol di ponselnya.
"Kau juga Sasuke!" Ino berujar sambil berkacak pinggang. "Setidaknya lihat kondisi dan situasinya dulu sebelum bertindak. Kau benar-benar sudah merepotkanku, tahu!"
Sasuke mengalihkan perhatiannya pada Ino. Sasuke yang sejak tadi tidak nyambung dengan apa yang kedua gadis itu bicarakan –karena terlalu fokus dengan urusannya di dalam ponsel– mengira arah pembicaraan Ino mengenai kedatangan Sasuke dengan kondisi terluka dan sampai-sampai harus dirawat di rumah Ino.
"Oh..." gumam Sasuke. "Aku minta maaf mengenai itu. Lain kali tidak ku ulangi. Lagian gadis ini yang mengajakku sejak awal," kata Sasuke sambil menunjuk Sakura dengan jempolnya. Yah, Sasuke tidak bohong, memang benar Sakura kan yang mengajak Sasuke ke rumah Ino. Sayangnya, kedua gadis di hadapannya itu menyalah artikan ucapan Sasuke.
Sakura cengok di tempat. Ia yang mulanya mengira Sasuke akan menyangkal tuduhan Ino, malah berbalik menyudutkannya.
Apa katanya? Sakura yang mengajak Sasuke sejak awal untuk melakukan 'itu'? Begitu maksudnya? Wajah Ino tak kalah cengoknya dengan ekspresi Sakura saat ini.
Setelah beberapa detik berlalu, kesadaran Sakura pun kembali. "Kau ini!" Sakura nyaris menjerit pada Sasuke. Sedangkan pemuda itu hanya menoleh pada Sakura dan memasang wajah innocent-nya sambil berujar, "Apa?"
Ouh! Ingin rasanya Sakura menjambak model rambut Sasuke yang mencuat ke atas itu sebagai pelampiasan kekesalannya. Jika saja ia tidak ingat siapa Sasuke sebenarnya. Si dōbutsu Elang, dua kata itu tercetak tebal dalam ingatan Sakura sekarang.
Kekesalan Ino kini mulai menghilang. Melihat Sakura yang tampak kebakaran jenggot karena tampang Sasuke yang sangat tak acuh itu. Terasa melihat sepasang kekasih yang hendak memulai perang kecilnya. Yah, itulah pendapat Ino melihat keduanya.
"Ehm," Ino berdehem, berusaha menarik perhatian Sakura dan Sasuke yang saling menatap di hadapannya itu. Tak ingin kedua 'sejoli' itu bertengkar di depan rumahnya malam-malam begini, Ino pun berniat mengusir keduanya secara halus.
"Sudahlah. Kalian pulang cepat gih. Nanti kemalaman sampai di rumah," Ino lalu melirik Sasuke, niatnya yang ingin menggoda kembali muncul di benaknya. "Aku percayakan Sakura padamu yah. Jaga temanku ini baik-baik," pintanya sambil mengedip jahil.
"Ino-Pig!" seru Sakura. "Apa-apaan kau ini. Aku bisa menjaga diriku sendiri kok!" Sakura membuang muka, lalu berbalik meninggalkan Ino dengan perasaan kesal.
Sasuke hanya diam tak menanggapi. Baginya tidaklah penting mengurusi pertengkaran kedua gadis tersebut. Ia pun berjalan di belakang Sakura.
Sepeninggalan mereka, Ino tersenyum aneh. Gadis itu lantas mengambil ponsel di saku celananya, "Ah! Ini pasti akan menjadi berita hangat buat besok. Akan kuberi tahu Matsuri dulu," gumamnya sendiri sambil memasuki rumahnya kembali, dengan senyuman aneh yang tak hilang dari parasnya.
*#~+Dōbutsu ~#*
Mereka berdua berjalan dalam keheningan malam. Sesekali Sakura melirik Sasuke yang berjalan di sampingnya. Namun ketika Sasuke balas meliriknya, Sakura lekas menunduk, lalu menendang kerikil yang tampak di jalanan. Lagi-lagi ia merasa gelisah. Setiap keheningan yang mereka lewati selalu saja membuat Sakura tak tenang berada di dekat Sasuke. Ia sendiri tak tahu kenapa.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan," ujar Sasuke. Sepertinya ia sadar akan kegelisahan yang tampak dari tingkah Sakura.
Gadis itu tersentak sejenak. Akhirnya ia menghela nafas sebelum memulai pembicaran serius. "Em... giliranmu," ujar Sakura pelan, ia bahkan tak berani menolehkan kepala untuk menatap Sasuke di sampingnya.
Sasuke jelas tak mengerti maksud ucapan Sakura. "Apanya?"
Sakura mendesah. "Aku kan sudah menjelaskan siapa diriku padamu. Sekarang giliranmu yang menjelaskan siapa dirimu sebenarnya?"
"Bukannya sudah jelas. Aku dōbutsu Elang–"
"Bukan itu maksudku," potong Sakura. Kali ini ia memberanikan diri menoleh pada Sasuke. "Sebenarnya apa pekerjaanmu? Aku sudah melihatmu dua kali menangkap dōbutsu. Apa kau itu pemburu dōbutsu? Apa kau juga–" Sakura menelan ludahnya terlebih dahulu untuk melanjutkan kalimatnya dengan lirih. "–akan menangkapku?" dengan perasaan takut yang kembali muncul, Sakura lekas menunduk.
Sasuke lantas menyeringai tipis, sayangnya Sakura tak melihat hal itu. "Jika kau takut. Kenapa dari awal kau malah memberitahukanku tentang rahasia kemampuanmu itu?" tanya balik Sasuke.
"Itu karena..." Sakura lagi-lagi curi pandang ke arah Sasuke. "Karena sebelumnya aku tidak berpikir kalau kau akan menangkapku. Awalnya kukira, karena kita sejenis, aku bisa berteman denganmu. Tapi..."
"Hn? Tapi?" tuntut Sasuke sambil terus melirik Sakura di sampingnya yang kian menunduk sambil berjalan.
"Setelah kupikir-pikir lagi, dan juga setelah melihat kau menangkap dōbutsu beruang itu. Presepsiku mulai berubah tentangmu. Apalagi tingkahmu yang aneh dan selalu membawa pisau lipat itu," sindir Sakura.
"Lantas, kenapa kau tidak lari saja sekarang?" saran Sasuke dengan nada sinis.
Sakura segera melompat, mengambil jarak aman dari Sasuke seraya menatap pemuda itu dengan horror. "Jadi kau benar-benar ingin menangkapku?" serunya panik sambil menunjuk pemuda itu.
Sasuke ikut menghentikan langkahnya. Kini mereka berdiri di persimpangan jalan tiga arah. Pemuda itu menanggapi tingkah Sakura dengan seringai mengejeknya. "Berpikirlah dengan jernih," sindirnya. "Jika aku berniat seperti itu, sejak pergi dari rumah Yamanaka tadi aku pasti sudah menangkapmu. Dasar baka."
Sakura mendelik marah mendengar ledekan Sasuke. Tapi gadis itu tak urung juga untuk tetap menjaga jarak dengannya. Takut-takut jika saja Sasuke menipunya dan mendadak menerjangnya. Yah, Sakura harus tetap waspada.
"Jadi, apa pekerjaanmu sebenarnya? Bukan memburu dōbutsu kan?" tanya Sakura.
"Itu bukan pekerjaanku. Tapi sudah menjadi tugasku," tegas Sasuke. "Dan aku bukan memburu sembarangan dōbutsu."
"Lalu, dōbutsu seperti apa yang kau incar?" pikiran Sakura mendadak penuh dengan keingintahuan perihal tentang Uchiha Sasuke, dōbutsu elang yang baru saja ia kenal itu.
"Dōbutsu yang membuat masalah," ujar Sasuke dengan nada datarnya. Namun tatapannya tetap serius menghujam mata emerald Sakura yang sejak tadi bertanya.
"Membuat masalah?" Sakura membeo. "Seperti apa?" tanya Sakura masih belum mengerti. Gadis itu memiringkan kepalanya agak ke samping. Raut wajah penasarannya terlihat lucu dan imut. Tapi Sasuke tidak akan mau mengakui hal itu. Yah, tidak akan pernah.
Sasuke menghela nafas. Sejujurnya ia malas untuk menanggapi berbagai pertanyaan dari orang yang tak begitu kenal. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang mendorongnya untuk memuaskan gadis dengan tatapan emerald itu yang menghujamnya dengan rasa penasaran yang sangat besar terlihat. Jauh dalam lubuk hatinya, Sasuke sendiri tak sadar kalau dia menyukai perhatian gadis itu yang tertuju padanya. Begitu pun Sakura, yang secara tidak langsung sudah sangat tertarik dengan pemuda emo itu sejak ia melihatnya terbang di malah hari seminggu yang lalu.
"Seperti dōbutsu buatan yang hilang kendali," jawab Sasuke. Lalu ia melanjutkan lagi penjelasannya saat meihat Sakura membuka mulut, hendak bertanya lagi, gadis itu tidak akan paham kalau Sasuke tidak menjelaskan lebih rinci.
"Mereka –yang entah bagaimana caranya– mendapatkan kemampuan dōbutsu itu tapi tidak bisa mengontrolnya. Akibatnya, kekuatan dōbutsu itu sendiri yang mengambil alih pengendalian tubuh manusia-separuh-hewan tersebut," jelas Sasuke. Ia sengaja ambil jeda untuk memperhatikan raut wajah Sakura. "Dōbutsu buatan itu lah yang menjadi dōbutsu yang benar-benar memiliki sifat hewan. Dōbutsu liar, hilang kendali," ujar Sasuke.
Melihat Sasuke mengakhiri penjelasannya. Sakura kembali bertanya, "Apa itu yang terjadi dengan pemuda tadi?" yang dimaksud Sakura adalah pemuda-separuh-beruang yang terlibat pertarungan dengan Sasuke tadi sore. Jika diingat lebih detail lagi, kalau tidak salah, Sakura memang melihat pemuda yang memiliki cakar itu sedikit mengeluarkan air liur di sudut bibirnya dengan tatapan liar seperti hewan.
"Hn." Sasuke hanya menanggapinya dengan anggukan dan gumaman khasnya.
Sakura menghela nafas. "Kalau begitu aku bisa lega sekarang." Air muka Sakura berubah menjadi lebih rileks sekarang.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya, heran. "Untuk apa?" tanyanya.
"Aku tidak perlu lagi waspada denganmu. Aku kan dōbutsu asli. Jadi tidak ada alasan bagimu untuk menangkapku atau mengancamku lagi, bukan?" Sakura tersenyum penuh kemenangan.
Sasuke malah membalas dengan seringai mengejek. Firasat Sakura kembali buruk. Senyuman gadis itu perlahan lenyap.
"Siapa bilang? Aku juga kadang mengincar dōbutsu asli." Secara tidak langsung Sasuke menyatakan ada kemungkinan ia akan menangkap Sakura.
Sakura tersentak. "Kenapa bisa begitu?"
"Karena ada juga dōbutsu asli yang nakal," ujar Sasuke dengan nada rendah namun begitu tajam terdengar. "Dōbutsu asli yang memanfaatkan kemampuanya untuk melakukan hal-hal buruk, juga termasuk dōbutsu yang membuat masalah.
"Seperti..." Sasuke mengambil langkah untuk mendekati Sakura. "Pria si dōbutsu tikus yang kemarin. Tertangkap basah sedang menjual narkoba di gang sempit itu."
Memori Sakura kembali teringat ketika mendapati Sasuke yang terbang tinggi sambil membawa pria yang teriak ketakutan. Sakura baru ingat, karena ia terlalu fokus dengan sayap hitam yang membentang dan mengepak itu, ia sampai mengabaikan moncong tikus yang dimiliki pria yang berada dalam cengkramannya itu.
"Jadi," Sasuke sudah berdiri tepat di depan Sakura. "Ancamanku yang tadi masih berlaku untukmu."
Sakura masih saja diam. Bahkan untuk mendongak sedikit saja rasanya ia tak mampu. Pandangannya terus tertuju pada leher Sasuke yang sejajar dengan arah matanya.
Tangan Sasuke lalu terangkat dan menunjuk jidat Sakura. "Selama aku terus mengawasimu, dan di saat aku mendapati kau menyalahgunakan kekuatanmu itu..." Sasuke agak membungkukkan badannya. Mensejajarkan pandangan Sakura padanya yang sejak tadi diam mematung. Kemana mulut cerewetnya yang sejak tadi mengajukan berbagai pertanyaan?
Mengabaikan rasa heran di benaknya, Sasuke kembali melanjutkan perkataannya. "... di saat itu juga, aku tidak akan segan langsung menangkapmu. Kau mengerti?"
Aish... seandainya Sasuke itu bukan seorang dōbutsu. Andai saja dia hanya pemuda biasa, Sakura pasti rela untuk ditangkap olehnya.
Sakura tersentak atas pikirannya sendiri. Ia lekas membuang muka, mengalihkan perhatiannya pada hal apapun selain wajah tampan di hadapannya yang selalu sukses membuat ia grogi jika berada di dekatknya. Sontak telnjuk Sasuke yang menempel di jidatnya terlepas karena gerakan kepala Sakura yang ke samping.
Rona merah di wajah Sakura disalah artikan Sasuke sebagai rasa marah. Sasuke kira Sakura kesal karena tidak bisa lepas dari ancaman Sasuke. Hah, Jangan harap Sasuke mau melepaskannya begitu saja. Giliran Sasuke yang kini tersenyum penuh kemenangan.
Pemuda itu lantas kembali berdiri tegak, memasukkan tangannya di saku celana. Mata onyx-nya mengerling ke jalan dua arah di hadapan mereka. "Kemana arah rumahmu?" tanyanya.
Sakura tersentak, kemudian mengerjap dan menatap Sasuke. "Ah, i-tu." Sakura menoleh dan menunjuk jalur kiri jalan sambil berucap, "Ke sana."
"Oh–"
"Tapi kau tak perlu mengantarku," sambung Sakura cepat. "Jangan kau pedulikan perkataan Ino tadi yang menyuruhmu untuk mengantarku sampai ke rumahku. Aku bisa jaga diriku sendiri kok," tolak Sakura. Sejujurnya, alasan yang sebenarnya adalah berada terus di dekat Sasuke membuat Sakura sangat gelisah. Cukup sampai di sini saja mereka jalan bersama.
Sasuke mengernyit. "Siapa bilang aku ingin mengantarmu?"
"Eh? Lalu?" Sakura tak sadar kalau ia sudah memasang wajah seperti orang bodoh.
Sasuke berusaha menahan tawanya dan bersikap sesantai mungkin. "Aku hanya ingin bilang. Arah kita selanjutnya berlawanan. Jadi, kau tak perlu berjalan denganku lagi."
Gubrak!
Sakura nyaris terjungkal dari posisinya berdiri. Tiga kedutan segitiga muncul di sisi jidatnya. Mengembungkan pipinya kesal, menahan rasa malu sekaligus marah. 'Kalau hanya karena itu, kau tak perlu menanyakan letak rumahku!' ingin sekali Sakura berteriak seperti itu. Namun ia tahan, karena otaknya masih bisa berpikir normal agar tidak bertindak lebih memalukan lagi.
Sasuke lalu berbalik dan berjalan ke arah jalur kanan. Tetapi baru lima langkah ia berhenti lagi karena seruan Sakura.
"T-tunggu!" tahan Sakura.
Sasuke menghela nafas dan berbalik. "Ada apa lagi?" tanyanya sedikit kesal. Sejujuranya ia ingin lekas pulang dan segera beristirahat.
"Ah. Itu, ano," Sakura sendiri bingung, bagaimana caranya untuk mengutarakan sesuatu yang sedari tadi menganggu pikirannya. "Ehm, begini." dan dia memulainya, berjalan tiga langkah untuk mendekati Sasuke. "Sebenarnya aku tidak ingin begini terus denganmu."
Sasuke menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Maksudku, Aku tidak pernah berniat buruk padamu. Jadi berhentilah mengancamku dan mencurigaku terus," pinta Sakura. Gadis itu lalu menghela nafas. "Kurasa, hubungan tak mengenakkan ini berawal dari pertemuan awal kita yang juga tidak menyenangkan."
"Lantas, kau mau apa sekarang?" Sasuke mulai tak sabar. Pemuda itu sungguh ingin lekas pulang.
"Ehm, baiklah. Kita mulai saja dari awal." Sakura menegakkan badannya. "Hai, perkenalkan. Namaku Haruno Sakura." Gadis itu membungkukkan badannya memberi salam. "Aku teman sekelasmu di Okayama Gakuen. Kuharap kita bisa berteman dengan baik. Salam kenal." Dan ia mengakhirinya dengan senyuman ramah.
Sasuke heran dibuatnya. Dalam hati agak geli melihat tingkah gadis ini yang tak pernah ia sangka.
"Ehm." Sakura kembali beredehem. "Kau?" ucapnya heran karena Sasuke masih diam saja tanpa membalasnya.
"Hn. Uchiha Sasuke," gumam pemuda itu dan setelahnya ia berbalik. Kembali berjalan meninggalkan Sakura yang melongo di tempat.
Hanya itu? Sakura sweatdrop. Aku bicara panjang lebar dan dia membalasku hanya dengan itu? Sakura tidak habis pikir. Ah, sudahlah. Setidaknya dia tidak akan memanggilku 'merah muda' lagi.
"Oh ya." Sasuke berhenti dari langkahnya setelah jaraknya sudah lima meter dari Sakura. "Merah muda," panggilnya tanpa berbalik ke arah gadis yang ia maksud.
Sakura mendengus kesal. "Apa?" serunya jengkel dengan panggilan itu.
Sasuke yang masih membelakanginya itu, hanya menolehkan kepalanya ke samping. Memberikan seringai tipisnya yang khas, ia berujar melalui atas bahunya, "Sampai jumpa besok." Tanpa menunggu reaksi Sakura, pemuda itu sudah kembali melangkah pergi.
Hanya satu kalimat tadi, tapi itu sudah sukses mencairkan kekesalan Sakura pada pemuda emo itu. Senyuman senang kembali muncul di parasnya. Gadis itu lalu berseru, "Yah. Sampai jumpa besok di sekolah!" Sakura melambai pada sosok Sasuke yang semakin menjauh. "Jangan panggil aku merah muda lagi yah! Sasukeee!"
Mungkin, ini akan menjadi awal yang baik buat mereka.
Semoga...
*#~+Dōbutsu ~#*
Keesokan harinya. Sakura tidak lagi datang terlambat. Lima menit sebelum pelajaran pertama dimulai, Sakura sudah duduk manis di bangkunya, dan rutinitas baru pertamanya adalah menoleh ke samping kanan, ke seberang bangku, tempat Sasuke yang masih kosong.
'Aish... apa yang kau pikirkan Sakura? Jelas-jelas dia terluka kemarin. Luka di tubuhnya itu mana mungkin bisa sembuh secepat itu. Dia pasti tidak akan masuk sekolah hari ini,' batin Sakura yang masih menatap bangku kosong itu. Sekalabat ingatan kembali menyerang pikirannya. Saat Sasuke berjalan menjauh malam itu, menyempatkan diri menoleh ke samping, memberikan seringai tipis dari atas bahunya sambil berucap, Sampai jumpa besok.
Tanpa sadar Sakura mendesah kecewa.
"Apa yang kau pikirkan? Sakura-chan~" bisik Matsuri dengan nada menggoda di telinga Sakura.
Sakura tersentak. Ia nyaris terjungkal dari bangkunya. Matsuri yang duduk di belakang bangkunya plus Ino yang di samping Sakura, terkikik geli melihat tingkah temannya itu.
"A-apa yang kalian lakukan?" tanya balik Sakura, sedikit geram karena Matsuri –yang secara tak langsung– sudah mengagetkannya. Juga Ino yang menertawainya, dan Tenten yang berusaha menahan tawanya dari balik senyuman gelinya.
"Sakura," Ino memanggil dengan ekspresi cemas yang dibuat-buat. "Seharusnya aku yang bertanya begitu. Apa yang kau lakukan dari tadi?" tanya Ino dengan nada peduli yang sungguh terdengar dibuat-buat. "Apa kau tidak sadar? Dari tadi kami sudah duduk di sini sebelum kau datang. Dan kau sama sekali tidak menyahut saat kami menyapamu. Bolehkah aku tahu apa yang sudah mengganggu pikiranmu? Forehead-chan~"
Sakura mendelik. Hendak membalas sindiran Ino, namun gadis pirang itu mendahuluinya lagi.
"Ah, coba kulihat." Ino menggerakkan kepalanya ke samping, untuk bisa melihat arah di belakang kepala Sakura, tepat di bangku Sasuke –yang masih kosong. "Aish... dia belum datang yah? Apa itu yang sudah menganggu pikiranmu?" Ino melirik Sakura dengan seringai jahilnya.
Sakura berusaha menyangkal. "Tidak! Aku hanya–"
"Sakura-chan," kali ini Matsuri yang memanggil, sekaligus memotong ucapan Sakura. "Tidak boleh membohongi diri sendiri, itu tidak baik lho. Sudahlah, mengaku saja. Aku sudah dengar semua dari Ino semalam." Matsuri mengedipkan matanya.
Sakura mendelik. Gadis itu lalu memberikan death glare pada Ino si pelakunya. Ia yakin, Ino kalau sudah bercerita tidak sepenuhnya benar, pasti ada tambahan di sana sini, apalagi Ino semalam sudah salah sangka padanya.
"Dengar teman-teman," Sakura mulai menjelaskan. "Aku tidak punya hubungan apapun dengan Sasuke. Percayalah." Sakura berusaha terlihat meyakinkan.
Ino dan Matsuri malah tergelak tawanya.
"Apa?" Sakura mengernyit heran. "Apanya yang salah?"
Tenten menghela nafas, kasihan juga melihat Sakura yang dikerjain habis-habisan oleh kedua temannya itu. "Sakura," ia memanggil. "Kau kena perangkap mereka. Tidakkah kau sadar? Sejak tadi Ino dan Matsuri sama sekali tidak menyebut nama Sasuke. Yah, meski orang itu yang mereka maksud. Tapi mereka sengaja memancingmu agar kau menyebut namanya duluan." Bahkan Tenten tak tahan untuk menampilkan senyuman gelinya.
Matsuri berusaha meredakan tawanya. "Oh..hihihi... jadi Sasuke orangnya..." Gadis itu pura-pura paham, padahal ia sudah tahu sejak tadi.
Ino menambahi. "Tidak heran sih, kalian kan memang terlihat mesrah, hihihi..."
"Matsuri! Ino!" seru Sakura. Wajahnya memanas menahan marah. Gadis itu mengeluarkan aura membunuh yang mampu membuat Ino dan Matsuri langsung menghentikan tawanya dan menelan ludah di tempat.
"Hei, sudahlah." Tenten berusaha menengahi. "Lihat, orang yang kalian bicarakan itu sudah datang," tegur Tenten.
Sontak ketiga temannya segera menoleh, memandang figur tegap yang baru saja masuk ke kelas dan berjalan ke bangkunya, tepat di seberang bangku Sakura.
Cukup menarik perhatian. Karena selain dia adalah siswa baru kemarin, Sasuke juga memiliki daya tarik tersendiri dengan wajah tampannya dan sikap tak acuhnya yang membuat ia makin terlihat keren di mata siswi-siswi Okayama Gakuen.
Nyaris semua perhatian siswi-siswi sekelasnya tertuju pada Sasuke, ada juga beberapa siswi kelas lain –yang mengikutinya sejak tadi– berdiri di luar kelas, dan saling dorong-mendorong di sisi pintu dan jendela luar. Berbagai bisikan nyaring terdengar dan itu membuat Sakura risih melihatnya.
Ino lantas menyenggol Sakura seraya berbisik, "Cepat! Kau harus segera mengumumkan hubunganmu dengan Sasuke. Kau akan menyesal nantinya kalau Sasuke sudah direbut siswi lain." Ino mengakhiri ucapannya dengan kedipan mata serta senyuman jahilnya.
Matsuri membenarkan. "Betul kata Ino!"
Sakura memerah lagi. Dan dia kembali memarahi kedua temannya itu.
"Oi, Teme!" sambut Naruto sambil meletakkan lengannya di atas pundak Sasuke. Mengalihkan perhatian Sasuke yang sedikit curi pandang pada keributan di bangku seberang –Sakura dan teman-temannya.
"Aku punya sesuatu yang menarik untukmu," ujar Naruto nyengir.
Mau tak mau, Sasuke penasaran juga. "Apa itu?"
Naruto lantas membisikkan sesuatu di telinga Sasuke. Setelahnya cengiran Naruto masih saja nangkring di parasnya. "Bagaimana? Mau ikut tidak?"
Sasuke mengernyit. "Kau bilang itu menyenangkan?" sindirnya.
"Oh, ayolah Sasuke." Naruto merangkul pundak Sasuke, berusaha untuk membujuknya. "Demi temanmu yang tampan ini. Mau yah? Ya, ya?" ujarnya sambil mengangguk-ngangguk sendiri.
Sasuke mendengus, menurunkan lengan Naruto dari pundaknya. "Hn, terserah kau saja." Repot juga menghadapi teman seperti itu.
"Bagus!" Naruto girang bukan kepalang. "Persiapkan dirimu sepulang sekolah nanti, oke?"
*#~+Dōbutsu ~#*
Seolah tak mengindahkan kehadiran Iruka di depan kelas yang terus mengoceh tentang sejarah Konoha, Uchiha Sasuke, anak baru kemarin, malah asik memainkan ponsel layar sentuhnya di bawah meja bangku. Kepala ravennya agak menunduk. Tampak seperti sedang membaca buku sejarah yang terbentang di atas meja. Nyatanya, seluruh pikiran dan arah pandangnya tertuju pada layar ponselnya yang tersembunyi di balik meja.
Naruto yang berada di sebelahnya tampak gelisah, penasaran, sesekali ia berusaha untuk mengintip apa yang dilihat teman barunya itu. Namun di saat waktu yang sama, Sasuke langsung menoleh dan memberikan tatapan tajamnya yang seolah berkata 'Jangan-coba-mengintip'.
Pemuda pirang itu lantas menghela nafas. "Huf! Video bokep aja dinikmati sendiri, pelit kau," gerutunya, jelas Naruto salah paham.
"Kubunuh kau setelah ini," balas Sasuke, yang sukses membuat Naruto bungkam.
Ponsel Sasuke bergetar. Padangan Sasuke kembali tertuju pada layar ponselnya, membaca sederet email, dan ia langsung menyeringai tipis. Kejadian ini tak luput dari perhatian Sakura, yang sejak tadi diam-diam memperhatikan tingkah Sasuke.
"Sensei!" Sasuke menyela penjelasan Iruka.
"Yah, ada apa Uchiha-san?" Iruka tersenyum sumringah, mengira Sasuke mengajukan pertanyaan mengenai pelajarannya yang sangat jarang dilakukan siswa lain.
"Boleh aku ke toilet sebentar?"
Dan senyuman Iruka langsung sirna begitu saja.
Setelah Sasuke keluar, giliran Sakura yang mengacungkan tangannya. "Sensei Iruka!"
Iruka kembali tersenyum. "Yah, Haruno-san? Apa pertanyaanmu?"
"Emm, Aku juga ingin pergi ke toilet." Sakura berusaha tak mengacuhkan pandangan heran dari teman-temannya. "Boleh kan Sensei? Aku sudah... tidak tahan," Sakura memasang wajah meringis menahan sakit perut.
Iruka menghela nafas. "Yah, tapi cepatlah kembali."
Tak berapa lama Sakura pergi, seorang siswi berambut indigo ikut mengacungkan tangannya. "S-sensei..."
Iruka lantas memberikan tatapan tajam, "Tidak Hyuuga. Aku tidak mengizinkanmu pergi." Guru sejarah itu mulai kesal.
"T-tapi sensei, aku kan–"
"Saya bilang tidak boleh, yah tidak boleh. Kamu ingin membantahku, Hyuuga Hinata?"
Hinata menciut di bawah kekesalan Iruka. "T-tidak Sensei."
"Bagus."
Gadis yang duduk paling belakang dan sederet dengan Naruto itu, hanya menghela nafas pasrah. Padahal niatnya baik untuk bertanya mengenai pelajaran, sayangnya Iruka sudah salah paham duluan.
*#~+Dōbutsu ~#*
Sasuke terus berjalan sambil menghubungi seseorang melalui ponselnya.
"Dia dōbutsu asli buronan kita seminggu lalu, Sasuke-kun," sahut suara perempuan di ujung sana. "Tapi aku tidak yakin kau bisa menghadapinya mengingat kondisimu yang belum pulih sepenuhnya. Apa perlu ku kirim Suigetsu untuk membantumu?"
"Tak perlu," tolak Sasuke. "Terlalu lama untuk menunggunya. Katakan saja di mana posisi dōbutsu itu sekarang, Karin."
Perempuan itu pun menjelaskan apa yang diminta Sasuke.
"Perkebunan tomat ya,"
Diam-diam, dari jarak yang dirasa cukup aman, Sakura mengikuti langkah Sasuke di sepanjang koridor sekolah, menuju tangga, dan naik ke lantai paling atas, ke atap sekolah.
Sesampainya di atap gedung okayama gakuen yang sepi. Tanpa ada yang melihat –kecuali Sakura yang mengintip dari pintu tangga– Sasuke lekas membuka kancing bajunya, dan membuang seragamnya begitu saja. Tapi tidak seperti spiderman ataupun superman yang masih memiliki baju di balik kemejanya, Sasuke tidak menggunakan apapun, langsung menampilkan dada dan perutnya rata dan agak berbentuk, tidak kalah keren dengan penampilan super hero mana pun. Aish, mimisan Author pun tak bisa ditahan lagi melihatnya.#abaikan.
Sakura hanya bisa memandang punggung Sasuke karena pemuda itu berdiri membelakanginya. Tanda dōbutsu elang di punggungnya sempat berkedip putih, kulit punggungnya mengerut, membentuk garis vertikal, dan berlipat-lipat menjadi tujuh gundukan kecil. Sekejap, kulit punggung Sasuke sobek terbelah dua yang anehnya tidak mengeluarkan darah dan ekspresi Sasuke tampak tidak menahan kesakitan ketika sepasang sayap hitam itu keluar dari tulang punggungnya. Sayap itu membesar, sepuluh kali lipat lebih besar dari sayap elang biasa, selaras dengan tubuh tegap Sasuke. Kedua sayap berbulu dominan hitam itu membentang lebar dan mulai mengepak. Perlahan kaki Sasuke terangkat bersama tubuhnya. Tepat ketika Sakura memutuskan untuk segera keluar dari tempat persembunyiannya dan mencegat Sasuke. Pemuda itu keburu pergi, terbang tinggi ke atas langit.
Menyisakan Sakura yang berdiri di atas atap gedung okayama gakuen, sambil mendongak ke langit. Merasakan sensasi hempasan angin yang ditimbulkan Sasuke saat terbang tadi, beserta jejak bulu burungnya yang jatuh melayang di atas hidung Sakura.
Rasa keingin tahuan Sakura kembali membuncah. Kemana sebenarnya Sasuke pergi? Sebegitu pentingkah sampai ia harus bolos pelajaran di hari keduanya bersekolah sebagai siswa okayama gakuen? Dia tampak buru-buru sekali.
Sakura memutar bulu elang itu di kedua jarinya. Kalau tidak salah, Sakura mendengar pembicaraan Sasuke dengan seseorang di ponselnya. Dan Sasuke menyebutkan kata dōbutsu, juga tentang perkebunan tomat.
Tunggu.
Perkebunan tomat?
Satu-satunya perkebunan subur di kota Konoha yang terbesar, hanya ada di kawasan barat Konoha, terdapat rumah kaca perkebunan yang sangat besar. Dan letaknya cuma satu kilometer dari Okayama gakuen.
Seulas senyum senang berkembang di paras Sakura. Tanpa pikir panjang, gadis itu segera melesat turun ke lantai dasar gedung Okayama. Jika Sasuke bisa bolos sekolah dengan cara terbang dari atap sekolah, maka Sakura bisa melompati dinding pembatas di belakang gedung sekolah, seperti biasa. Menggunakan kemampuan dōbutsu mereka masing-masing.
Bersambung...
Dini: Halo~ Halo~ *melambai dengan innocent-nya*
#BleTaK! PlaaK! KloNTaNG! JdaaaK! BuaaK!#
Dini: eng... *tepar dengan tidak elitnya*
Sakura: *bawa panci* Kemana aja elo?
Ino: *bawa wajan* Beraninya menghilang tanpa kabar!
Matsuri: *bawa teaplon* Mana janjimu yang dulu? Hah!
Tenten: *bawa tabung gas* Jangan jadi bang toyip dunk!
Sing~~
SasuNaru: *sweatdrop*
Naruto: Kesambet apa tuh para wanita?
Sasuke: Entahlah...
Nging~ Nging~ Krek.. *lalat lewat-?-
Hinata: E-ehm... Kita balas reviewnya aja dulu,, *membawa kumpulan map yang sangat banyak* Y-ya ampun, ini kebanyakan.
Naruto: Wow, gubrakan besar tuh Dini-chan, tapi elonya malah gak update-update secepatnya. Kan sayang banget.
Matsuri: Iya tuh, padahal udah janji bilangnya seminggu sekali. Bikin kecewa aja elo!
Dini: G-gomen nih, benar-benar gomen, apa mau dikata. Jalan cerita dikehidupan nyata tidak akan pernah bisa dipredeksi sebelumnya, kita hanya bisa merencanakan, tapi tidak 100% bisa dilaksanakan. Saya benar-benar minta maaf sebesar-besarnya pada semuanya. Sungguh, saya yang jatuh sakit selama dua minggu, terus ngurus masalah keluarga dan studi saya yang mendadak datang tanpa diundang belum terpikirkan sebelumnya. Sampe-sampe saya harus terkena wb dan melantarkan fict yang sudah dijanjikan sendiri. Sekali lagi mohon jangan membenci saya, dan maafkan saya... *menunduk sedalam-dalamnya*
Sasuke: hn, udah selesai pidatonya? *nyindir*
Sakura: Makanya, lain kali jangan bikin janji seenaknya.
Dini: Iye-iye maaf... maaf banget...
Naruto: Oi, terus gimana dengan ini? *nunjuk kumpulan map* numpuk banget tuh jadinya.
Tenten: Wah, makan banyak halaman kalo diblas di sini semua,,,
Hinata: balas yang tidak log-in aja yah, terus yang log-in lewat PM aja...
Ino: Oke. Yang review sebelumnya pake akun, silahkan cek PM-nya... XD
Matsuri: Baiklah, yang pertama dari Witthecha valery, jawabanya mereka tuh separo-paro, alias gak jelas. Ada banyak, nanti satu persatu ditampilkan seiring berjalannya cerita. Amuba? Emang tuh hewan yah? *balik pasang wajah anak tk*
Sasuke: Gezz…. Siaapa yang lu bilang ayam hah?
Sakura: Sabar Sas, sabar sas,,,
Dini: Wah, ane dibilang unyuu,, *berblushing ria*
Naruto: Ge-er banget lu Dini-chan..
Tenten: Selanjutnya buat Avle Haruno, ana-chan, aira akachi, Chini VAN, DEVIL'D, garoo, wia azolla, Soraka Menashi, KristaL, Andaaza, dan Naiia-chan. Thanks pujiannya. Dini-chan lu disemangatin tuh, cepetan kalo update fict.
Dini: Oke, ane usahain…^^
Sakura: Untuk Fae-chan, makasih udah bilang saya imut,, *blushing+makin imut*
Sasuke: *ikutan Blushing* E-ehm. Aku bukan bebek. Gezz.. kenapa semua orang selalu salah paham dengan dobutsuku? *kesal*
Sakura: *bisik2 dengan Fae-chan* O-oke, akan kulakukan.
Sasuke: Aku bisa mendengarnya Sakura, *nyindir*
Sakura: *gleek*
Ino: Aku telat Fae-chan dan Uchiha Hime Is Poetry Celemoet, terlalu syok... :(
Hinata: buat CheeriLy, klo mereka nikah? Wah, pasti anak elang berbulu pink akan terlihat imut, *berbinar*
Sakura: tuh kan, Ghealicis aja ikutan merinding baca adeganku dengan Sasuke… *lagi2 blushing*
Sasuke: buat Uchiha Hime Is Poetry Celemoet, buset, nama lu panjang amat. Apaan? Gua gak ada hubungan darah dengan Suzana! *naik pitam*
Dini: ItaIno? Wah, saya udah punya planning tentang pasangannya Ino yang laen nih.. gomen ne…
Ino: buat sakulov, Yeee…. Mana ku tahu kalo mereka mau 'gituan'
Dini: buat aira akachi, Onyxita Haruno, Sheila, dan B-Rabbit Lacie, saya emang sengaja buat Sasuke pintar dalam hal lain, tapi polos dan benar-benar gak peka terhadap perasaan wanita. Nyahahhaa… *tertawa laknat*
Sasuke: apa maksudmu dengan kata 'polos'? *innocent*
Dini: salam kenal juga fleur de cerisier, Rainy LOVE Reita the GazettE, dan Pink Cherry, makasih~ ^^ jadi cheerleader? Tapi ane gak mau bayar lho yah, Xp
Hinata: buat sora no aoi dan tanpa nama, pertanyaanmu itu akan dijawab seiring berjalannya alur cerita, mohon bersabar untuk menunggunya.
Naruto: seperti dikatakan sebelumnya, untuk Kikyo Fujikazu, Akatsuki mungkin gak dimunculin ma Dini, termasuk Itachi.
Matsuri: buat Mimi – chan, katanya mba author sih pastinya ada pairing lain… tapi aku masih meragukan kewarasannya *ngelirik Dini*
Sasuke: hey b2st, sepertinya kau salah alamat, di sini kagak ada SasuNaru tahu. *sweatdrop*
Ino: buat Popisuke uchiha, iya nih, hiks, kenapa harus aku yang mengalaminya? *pundung*
Sasuke: Untuk Soraka Menashi, GaaraSaku? Maaf, permintaan anda ditolak.
Tenten: Udah selesai yah?
Ino: Yang lain tinggal di PM… *ngetik di laptop*
Matsuri: Wokeh, kalau gitu saatnya pamit.
Naruto: Oi, biarin Hinata yang nutup, dia baru muncul di chap ini.
Sasuke: halah. Cuma ngelinpet doank, bentar lagi.
Naruto: *deathglare*
Sasuke: *kagak mempan*
Sakura: Nee, Hinata? Kagak usah peduli mereka, kau menutup saja.
Hinata: O-oke. Terima kasih atas Reviewnya dan kesabarannya juga kesetiannya yang masih mau nunggu ini fict. Mohon komentnya ditinggal lagi yah…. Akhir kata, Arigatou gozaimasu minna-san.
~Dini~
