Dari : Unknown

"Maaf sudah membuat kalian menunggu.. ini adalah kode terakhir.. katanya ada dua apa tiga lapis gitu..."

"Clue : pramuka."

"motw oge ouqe paol xi iaau po trem greh"

8 | 26

.

.

"Kamu yang nyusun kodenya malah kamu yang bingung sendiri-ssu.." Kise berkata pelan terhadap ponselnya sambil sweatdrop.

"Ada apa, Kise?" tanya Aomine.

"Ah, ini kodenya-ssu.. mungkin ini yang terakhir, ini benar-benar memusingkan.." jawab Kise sambil menggaruk kepalanya. Aomine langsung merebut ponsel Kise.

"Apa ini? Oi Tetsu, apa ini juga kode yang sama seperti tadi?" tanya Aomine. Kuroko ikut melihat kode itu dengan teliti.

"Tidak, mungkin sedikit berbeda. Dan mungkin saja clue yang diberikan itu berhubungan." jawab Kuroko. "Ini mungkin sedikit memakan waktu." lanjut Kuroko.

"Tunggu, berarti kamu juga tahu cara memecahkannya?" tanya Aomine lagi.

"...mungkin." jawab Kuroko. "Kise-kun, Aomine-kun, ayo kita pergi." Kuroko lalu menuju ke luar kelas, sementara Aomine dan Kise hanya menatap heran Kuroko.

"Dia itu seorang yang ahli dalam hal ini ya!?" ujar Aomine dan Kise bersama sambil saling menatap. Lalu mereka memutuskan untuk mengikuti Kuroko.

Kuroko pergi ke mana? Tunggu kelanjutannya ya!

##########

####Tasku Hilang!####

##########

Disclaimer : Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi

WARNING! 1000% OOC, TYPO, GaJe, bahasa tidak baku, EYD ancur, nggak nyambung, bikin mules di kepala & pusing di kaki, dan hal-hal nistaaaa lainnya!

Jangan dibaca kalo dirasa nggak menarik, tapi kalo penasaran & tahan sama kenistaannya, ya monggo! /dilemparbolabasket

##########

####Tasku Hilang!####

##########

"Kurokocchi! Kamu mau ke mana-ssu!?" Kise berhenti mengejar lalu bertanya.

"Perpustakaan." jawab Kuroko, yang segera turun ke lantai 2. Perpustakaan berada tepat di sebelah tangga.

"Haah?" Aomine mengangkat sebelah alisnya.

"Sudahlah, kita ikuti saja Kurokocchi-ssu. Pasti dia telah merencanakan sesuatu.." ujar Kise.

"Heh, benar juga. Mungkin dia terlalu bersemangat, sampai benar-benar terhanyut dalam permainan ini." ujar Aomine. Mereka berdua pun menuju tangga, lalu turun mengikuti Kuroko. Tetapi...

"Ah tidak!" sepertinya bukan cuma Kuroko yang terbakar semangatnya, tetapi mereka berdua juga. Akibatnya, kini mereka terpeleset lalu jatuh menggelinding di tangga. Posisi Kise, meringkuk kesakitan sambil memegang kedua kakinya, sementara Aomine, dirinya seperti merangkak dengan kepalanya yang menempel di lantai.

"Ittai ittai ittai.." Kise mengaduh, begitu juga dengan Aomine.

"Kise-kun, Aomine-kun, apa yang kalian lakukan?" tanya Kuroko yang tiba-tiba saja sudah berada di sana.

"Main sirkus. Ya jatuh lah! Ittai ittai.." seru Aomine sambil berusaha berdiri dari posisinya.

"Kami tidak berhati-hati sampai terjatuh-ssu.." Kise ikut berkata. Mendengar itu, mata Kuroko berkaca-kaca, benar-benar merasa bersalah atas Aomine dan Kise.

"Aomine-kun, Kise-kun, aku benar-benar minta maaf.." ujar Kuroko pelan sambil menunduk, namun masih bisa didengar oleh Aomine dan Kise.

"E-eh!? Kurokocchi tidak perlu minta maaf-ssu!" balas Kise.

"Kami baik-baik saja, Tetsu. Hanya luka sedikit." lanjut Aomine meyakinkan.

"T-tapi..." Kuroko benar-benar merasa bersalah, hingga wajahnya pun kini seperti memohon agar dua orang di hadapannya itu menurutinya.

'Ini anak benar-benar ingin kubawa pulang!' sempatnya mereka berdua membatin seperti itu di saat mereka babak belur seperti ini. Kise menutup mulutnya karena menahan semburat merah di pipinya, sementara Aomine hanya menahan agar semburat merah di pipinya tidak keluar.

"...kalian berdua harus diobati. Ayo, Kise-kun, Aomine-kun." waktu seakan berhenti seperempat detik ketika Kuroko mengangkat lengan mereka agar bertumpu di kedua pundaknya. Hanya rasa haru yang menyelimuti hati Aomine dan Kise, apalagi dengan Kuroko yang berusaha membantu mereka berjalan. Tubuhnya yang kecil tidak masalah untuknya. Kini Kuroko berada di tengah, dan kedua orang di sampingnya hanya memandangnya heran.

"K-Kurokocchi.." bulir-bulir air matanya mengalir menuju pipinya yang terluka, memandang seseorang di sampingnya yang berusaha membawa tubuhnya ini. Kise terharu dengan Kuroko, rasanya tidak pernah dirinya menemukan teman yang begitu peduli dengannya.

"Tetsu.." hampir sama dengan yang dirasakan Kise, Aomine merasa kagum dengan Kuroko. Rasanya tak pernah dirinya membayangkan ternyata Kuroko adalah orang yang sangat mempedulikan teman-temannya, tentu di balik hawa keberadaannya yang tipis dan sifatnya yang suka mengejutkan orang lain itu.

Tanpa diketahui Kuroko, Kise dan Aomine mengukir senyum tulus untuknya.

##########

####skip time####

##########

"Kise-kun, tolong tahan sedikit." Kuroko sepelan mungkin mengobati luka di wajah Kise.

'Ya ampun, aku benar-benar ingin meledak!' batin Kise ngawur melihat wajah Kuroko yang sangat imut di matanya. Jika bukan karena lukanya, mungkin terlihat jelas semburat merah di pipinya.

"Eh? Kise-kun... kenapa pipinya basah?" tanya Kuroko selagi mengobati wajah Kise.

"Ah? Itu... ah, mungkin tadi aku tidak sengaja menangis kesakitan-ssu..." jawab Kise bohong.

"Ah, begitu ya." balas Kuroko sambil terus mengobati wajah Kise.

"Oi Kise, jangan berpura-pura kesakitan untuk meminta perhatian Tetsu." Aomine berkata.

"Bilang saja Aominecchi iri-ssu.." balas Kise tak kalah.

"Heh, bukannya kau yang iri? Aku dan Tetsu sangat akrab, baik di lapangan maupun di dunia nyata. Kau hanya beruntung bisa mendapat Tetsu sebagai partner latihan di awal." jleb. Kise memang iri dengan Aomine yang sudah lebih akrab dulu dengan Kuroko, tapi bagaimana lagi, dia baru ikut basket tahun ini, dan awalnya dia menganggap Kuroko orang yang kurang dalam basket. Namun sekarang? Kise begitu menghargai orang yang sedang mengobatinya ini.

'Sial, aku memang kurang beruntung dari Aominecchi.' batinnya.

"Baiklah, Kise-kun sudah selesai, sekarang giliran Aomine-kun." Kuroko lalu berpindah dari hadapan Kise ke Aomine.

"Jangan iri, Kise––"

"Aomine-kun, tolong diamlah." belum selesai Aomine berkata, dirinya sudah mendapat sumpelan kapas di mulutnya.

"Wahahahaha Aominecchi, makanya jangan banyak ngomong-ssu!" Kise terbahak melihat Aomine.

"Bwah! Oi Tetsu! Apa yang kamu lakukan!?" Aomine memuntahkan kapas di mulutnya, lalu dibuangnya ke tempat sampah di sampingnya (baca : Kise).

"Karena itulah tolong tenanglah sedikit, Aomine-kun." ujar Kuroko datar.

"Oi! Aominecchi jorok-ssu!" Kise mau tidak mau membuangnya di tempat sampah sesungguhnya di pojok ruangan, lalu mencuci tangannya di wastafel yang tersedia.

"Iya Tetsu. Maaf Kise, aku tidak sengaja." balas Aomine.

'Apanya yang tidak sengaja, kau hampir selalu melakukan ini kepadaku jika ada aku..' batin Kise sambil sweatdrop.

"Baiklah, semuanya sudah selesai." Kuroko mengembalikan peralatan P3K ke lemari di ruang UKS yang kini ditempatinya bersama dua pasiennya.

"Terima kasih, Kurokocchi. Aku tidak menyangka Kurokocchi juga ahli di bidang ini-ssu.." ujar Kise.

"Terima kasih, Tetsu." Aomine ikut berkata.

"Sama-sama, Kise-kun, Aomine-kun." balas Kuroko.

"Eh, ada pesan masuk?" Kise mengambil ponselnya di saku celananya yang bergetar.

.

.

Dari : Unknown

"Kalian masih belum memecahkan kode terakhir? Heeh, baiklah, tetapi jika kalian ingin mengungkap si pelaku juga, kalian harus menemui seseorang. Dia ada di nomer-nomer yang ada di setiap kode yang dikirim."

.

.

"Nomer-nomer yang ada di setiap kode yang dikirim? Apa maksudnya-ssu?" Kise menggumam.

"Ada apa Kise-kun?" tanya Kuroko.

"Kurokocchi, memang ada nomer-nomer di setiap kode yang diberikan si pelaku-ssu?" tanya Kise balik.

"Itu..." Kuroko sedikit berpikir.

"...sepertinya memang ada, Kise-kun. Kenapa tidak kamu periksa sendiri?" tanya Kuroko lagi.

"Oh iya! Hampir semua kodenya kan ada di ponselku-ssu! Aah kenapa aku bisa lupa.." Kise menepuk jidatnya lalu segera mengecek kode di ponselnya.

"Itu... ah! Ini dia-ssu!" Kise berseru sendiri.

"16, 18, lalu..." Kise kembali memainkan jemarinya di ponselnya.

"...8, 26. Apa ini?" Kise menggumam.

"Ini kertas yang berisi kode pertama tadi. ada angka 19 dan 26 di sini." Kuroko menunjukkan kertas itu di hadapan Kise dan Aomine.

"Coba saja diurutkan sesuai urutan alfabet." usul Aomine.

"Kalau begitu..." Kise mulai mengurutkan nomer-nomer itu sesuai kata Aomine. Setelah semenit, "tapi 8 jadi H, 16 jadi P, 18 jadi R, 19 jadi S, dan 26 jadi Z-ssu.." lanjut Kise.

"H, P, R, S, Z, Z... Tetsu, ada cara lain?" tanya Aomine.

"Entahlah, tetapi itu bisa dipikirkan nanti." jawab Kuroko.

"Yosh, ayo kita pecahkan petunjuk ketiga-ssu!" Kise bersemangat.

"T-tunggu, Kise-kun..." potong Kuroko.

"Eh? Ada apa?" tanya Kise.

"Kise-kun dan Aomine-kun sebaiknya di sini saja. Biar aku yang memecahkannya sendiri." jawab Kuroko.

"Oi Tetsu, memangnya kenapa kami tidak boleh membantumu?" tanya Aomine.

"Itu... " Kuroko menggaruk pipinya.

"...aku ingin kalian beristirahat di sini, lagipula kaki kalian sepertinya sedang sakit." lanjut Kuroko.

"T-tapi kami benar-benar baik-baik saja Kurokocchi!" balas Kise.

"Tetsu, kamu telah membantu kami sampai ke sini. Bukannya ini saatnya kami untuk membalas kebaikanmu?" Aomine ikut berkata.

"T-tapi.." Kuroko menjawab ragu, tetapi tiba-tiba saja matanya sedikit membulat melihat pancaran keyakinan yang dikeluarkan oleh mata Kise dan Aomine, juga senyuman yang diukir mereka. Bahkan Kuroko masih mematung ketika Aomine dan Kise sudah bediri dan mengacak rambutnya.

"Tetsu, kami baik-baik saja." ucap Aomine sedikit menegaskan. Kise menyetujui dengan anggukan. Kuroko yang mulai sadar dari lamunannya pun mengangguk kecil dan tersenyum.

"Baiklah." balas Kuroko.

"Ayo, jangan berlama-lama lagi-ssu!" Kise membuka pintu UKS dan menarik lengan Kuroko tiba-tiba, dan refleks Kuroko berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Aomine ikut berjalan ke luar ruang UKS.

"Kise-kun, jangan menarikku tiba-tiba." gerutu Kuroko. Tetapi sedetik kemudian senyum mengembang di wajahnya.

##########

####skip time####

##########

"Rasanya aneh sekali, perpustakaan masih buka jam segini-ssu.." Kise berkata sambil melihat-lihat buku-buku yang ditata rapi di rak yang cukup tinggi itu.

"Tetsu, buku apa yang kamu cari?" tanya Aomine.

"Buku saku pramuka. Sesuai clue-nya." jawab Kuroko.

"Tetsu, kamu yakin itu bukan jebakan?" tanya Aomine lagi, sambil memilah buku yang dicari.

"Ya, karena mungkin pelaku merasa ini sulit?" Kuroko berkata dengan nada bertanya.

"Ah, entahlah.." Aomine masih mencari-cari buku saku pramuka.

"Kurokocchi, aku menemukan buku yang menarik-ssu.." ujar Kise sambil menunjukkan sebuah buku bersampul coklat muda.

"Hm? Ini..." Kuroko memandang seksama buku itu, dan dirinya teringat sesuatu.

"...terima kasih, Kise-kun. Mungkin ini juga dibutuhkan." balas Kuroko.

"Tetsu, ini bukunya. Terlalu kecil, jadi susah mencarinya." Aomine menyerahkan buku saku yang dipegangnya ke Kuroko. "Apa itu?" tanya Aomine sambil menunjuk buku bersampul coklat muda yang dipegang Kuroko.

"Aku pernah membaca buku ini, dan sepertinya ada macam-macam sandi di sini." jawab Kuroko. Aomine hanya mengangguk mengerti.

"Baiklah, ayo!" ajak Kise ke tempat membaca. Kuroko dan Aomine hanya mengikuti.

"Ya ampun, apa pelaku menasehati kita agar membaca buku yah.." gumam Aomine sambil menarik kursi.

"Mungkin saja." balas Kuroko yang sudah duduk. Aomine hanya mendengus lalu duduk.

"Tapi Aominecchi, setidaknya kita jadi lebih tahu tentang kode-ssu.." ujar Kise yang juga sudah duduk.

"Aku mengerti, aku mengerti.." balas Aomine. "Jadi, aku harus mulai dari mana?" Aomine bertanya.

"Kurokocchi, rasanya tidak mungkin jika huruf-huruf itu diubah lagi menjadi sebuah sandi-ssu.." Kise berkata.

"Benar juga..." Kuroko berpikir. "...ano, Kise-kun, coba buka buku itu." ujar Kuroko.

"Ah, baiklah." Kise pun memulai penjelajahan isi buku itu. Ada macam-macam sandi di sana, yang tentu saja membuat mata Kise hampir seperti obat nyamuk.

"Kise-kun tidak apa-apa?" tanya Kuroko khawatir. Kise yang merasa dipanggil langsung kembali fokus.

"Ah, tidak apa-apa, Kurokocchi.." jawab Kise sambil menggaruk kepalanya.

"Ah, sebentar... ini..." Kise membaca sebuah halaman bertajuk 'morse' di buku itu.

'Variasi penyampaian kode morse lainnya yaitu dengan huruf vokal dan konsonan.'

' dengan huruf vokal, sementara STRIP (-) diganti dengan huruf konsonan.'

"Kurokocchi, mungkin ini-ssu!" seru Kise.

"Ah, benar juga. Aomine-kun, tolong ganti semua huruf di kode itu. Untuk huruf vokal, ganti dengan titik. Untuk huruf konsonan, ganti dengan strip." pinta Kuroko.

"Siap Tetsu. Tunggu sebentar.." Aomine menuju tasnya yang ada di loker penitipan tas di dekat pintu masuk, lalu mengambil buku tulisnya.

"Kise, ponselmu." Aomine yang sudah di tempatnya meminta ponsel Kise, di mana kode itu berada.

"Ini. Jangan dibajak loh.." Kise berkata sambil menyerahkan ponselnya.

"Mana mungkin Kise.." balas Aomine.

"Aku kira kamu masih sempat membajak akun media sosialku di saat seperti ini-ssu.." Kise mendengus. Aomine tidak menanggapi.

"Jadi..." Aomine lalu mengerjakan tugasnya. Setelah satu-dua menit kemudian Aomine telah selesai mengerjakannya.

"Tetsu, jadinya seperti ini." kata Aomine sambil menyerahkan secarik kertas yang dia ambil dari buku tulisnya. Tertulis 'motw oge ouqe paol xi iaau po trem greh' dan dibawahnya ada simbol '-.- .-. ..-. -..- -. ... -. -.- -.-'.

"Jika ini dijadikan huruf, maka..." Kuroko menggumam. "...Aomine-kun, pinjam buku sakunya dan buku tulismu sebentar." Aomine pun menyerahkannya. Kuroko pun mulai menulis sesuatu di buku itu.

Setelah beberapa detik Kuroko selesai menuliskan huruf dari sandi morse itu. "Seperti ini jadinya." Kuroko menunjukkan hasilnya kepada Kise dan Aomine, yang tertulis 'YRFXNHNQQ'.

"Eeh? Masih seperti ini-ssu?" seru Kise.

"Tentu saja. Ini karena menurut pelaku sandinya tidak hanya melalui satu penyelesaian, tetapi dua atau tiga." jelas Kuroko.

"Tapi bagaimana kita menemukan penyelesaian ke dua?" tanya Aomine.

"Haah ini semakin memusingkan-ssu.." mata Kise sudah seperti obat nyamuk, sementara Kuroko sedang memikirkan sesuatu.

"Ano.. Aomine-kun, kamu pernah bilang jika pelaku pasti sudah mengetahui apa yang akan kita lakukan kan?" tanya Kuroko.

"Ah? Ya, tapi apa hubungannya Tetsu?" tanya balik Aomine.

"Berarti ini semua sudah direncanakan oleh pelaku? Perpustakaan yang buka sampai sore ini, rasanya aneh bukan?" tanya Kuroko.

"Ah, kamu benar juga.." jawab Aomine.

"Jangan-jangan perpustakaan ini telah dibajak-ssu!" seru Kise ngawur.

"Memangnya pesawat!?" jitakan dari Aomine kembali mendarati di kepala Kise.

"Ittai.." Kise mengusap kepala malangnya.

"Ano..." Kuroko berpikir sejenak sambil menggaruk pipinya.

"Ada apa Tetsu?" tanya Aomine.

"Kurokocchi memikirkan sesuatu-ssu?" Kise ikut bertanya.

"...Kise-kun, Aomine-kun, apakah mungkin jika pelaku benar-benar mengetahui tentang kita?" tanya Kuroko.

"Itu... mungkin saja-ssu, kan seperti yang dikatakan Aominecchi, bahkan mungkin saja mereka benar-benar tahu sifat kita semua-ssu.." jawab Kise, sementara Aomine mengangguk mengiyakan jawaban Kise.

"Kalau begitu... berapa nomer absen Kise-kun?" tanya Kuroko.

"Eh? Ah, sebelas.." jawab Kise.

"Lalu Aomine-kun?" tanya Kuroko lagi.

"Aku? Tiga." jawab Aomine.

"Dan aku sendiri dua belas.. ah, tidak mungkin." ujar Kuroko.

"Maksud Kurokocchi?" tanya Kise bingung.

"Aku berpikir akan menggunakan sandi geser, tetapi jika itu digeser dengan jumlah dari nomer absen kita hasilnya tidak akan berubah..." jelas Kuroko.

"Ah, begitu yaa..." Kise menggumam.

"Lalu harus dengan apa lagi ini..." Aomine mencengkeram kepalanya, pusing.

"Nomer, nomer..." Kise sejenak melihat ponselnya, dan tiba-tiba bohlam muncul di kepalanya.

"Kurokocchi, mungkin ini bisa-ssu!" seru Kise.

"Apa maksudmu Kise?" tanya Aomine.

"Nomer telepon-ssu! Memang agak aneh sih, tapi coba saja!" jawab Kise. "Maksudku coba jumlahkan angka terakhir dari nomor telepon kita-ssu!" lanjut Kise.

"Kurokocchi, biar aku tulis..." Kise mengambil buku tulis di hadapan Kuroko, lalu mengecek nomer telepon miliknya juga dua orang yang hanya memperhatikannya dengan ekspresi bingung.

"...ah, jadinya, Kurokocchi adalah dua, sementara aku delapan, dan Aominecchi adalah tujuh. Jadinya tujuh belas-ssu.." jelas Kise.

"Baiklah, aku akan coba digeser tujuh belas huruf ke belakang." ujar Kuroko, lalu mengambil kembali buku tulis dari tangan Kise. Setelah satu-dua menit kemudian...

"Kise-kun, kamu salah. Tidak mungkin tasku berada di Hogwarts." kata Kuroko ngawur sambil menyerahkan buku tulis yang tertulis 'YRFXNHNQQ' menjadi 'HAOGWQWZZ'.

'Kamu mulai tidak waras ya?' batin Aomine dan Kise berbarengan sambil sweatdrop.

"Kalau begitu... mungkin ada yang harus dikurangi-ssu.." ujar Kise.

"Jika seperti ini tidak mungkin." Kuroko menulis kalimat matematika yang disusunnya di buku tulis. Tertulis '8 - 2 - 7 = xxx', dan di sebelahnya '7 - 2 - 8 = xxx'.

'Entah kenapa aku berpikir ini seperti...' batin Aomine ngawur melihat buku tulisnya.

"Jika dua dikurangi tujuh lalu dikurangi delapan?" tanya Aomine.

"Tidak mungkin juga-ssu!" teriak Kise. Aomine seketika menutup telingannya.

"Kise, kamu ingin membuat gendang telingaku pecah hah?" Aomine membalas.

"Iya iya, maaf.." balas Kise.

"Ah Tetsu, coba jika hanya satu angka yang mengurangi." usul Aomine.

"Baiklah." Kuroko pun kembali menggerakkan tangannya untuk menulis. Setelah beberapa saat..

"Hasilnya seperti ini." ujar Kuroko sambil menunjukkan hasil kerjanya. Di buku itu tertulis '2 + 8 - 7 = 3' dan di bawahnya '2 + 7 - 8 = 1'.

"Sepertinya tetap tidak ada hasilnya.." Kuroko berkata pelan. Tetapi kini justru sebuah senyuman mengembang di wajah Kise.

"Tidak Kurokocchi, kamu hanya kurang satu lagi-ssu." kata Kise. Mendengar ucapan tadi, Kuroko lalu melihat tulisannya lagi dengan teliti. Sesaat kemudian senyum kecil terkembang di bibirnya.

"Aku melupakannya." ujar Kuroko lalu menuliskan sesuatu di buku tulis di hadapannya. Dan tertulis '7 + 8 - 2 = 13'.

"Baiklah, biar aku yang menyelesaikannya Kurokocchi!" seru Kise. Kuroko hanya menyerahkan buku tulis itu.

"Oi Kise, kamu yakin?" Aomine berkata.

"Aominecchi, aku sudah mulai menikmati ini-ssu!" jawaban Kise terdengar ambigu di telinga Aomine, bahkan Kuroko. Mereka berdua hanya sweatdrop. Setelah semenit, Kise dengan bangga menunjukkan hasilnya.

"Ini-ssu! Dari 'YRFXNHNQQ' menjadi 'LESKAUADD'!" seru Kise sambil memamerkan apa yang ditulisnya di dalam buku tulis.

"Lalu apa artinya itu!? Kamu bisa menerjemahkannya!? Di pikiranku itu seperti KUA!" Aomine berteriak sambil menunjuk buku tulisnya yang dibawa Kise.

'Aomine-kun tidak waras.' batin Kuroko. Mungkin mereka sudah berpikir terlalu banyak, dan jadilah mereka seperti ini.

"Eh!? Iya ya..." balas Kise sambil menggaruk kepalanya.

'Dan kamu baru menyadarinya!?' batin Aomine yang kini berteriak-teriak.

"Tunggu, Kise-kun. Ini seperti..." Kuroko melihat tulisan itu dengan teliti, dan sesaat kemudian senyuman tersungging di wajahnya.

"Aomine-kun, coba acak huruf-huruf ini sehingga menjadi sebuah tempat." pinta Kuroko kepada Aomine. Sebenarnya dia sudah tahu jawabannya, hanya saja dia ingin menguji Aomine.

"Kenapa tidak kamu sendiri, Tetsu?" balas Aomine.

"Karena Aomine-kun yang menyadari pertama kali jika kode ini belum selesai kan?" sial. Aomine termakan perkataannya sendiri.

"Baiklah.." Aomine mau tak mau mengerjakannya.

'Rasakan itu, Aominecchi! Hahahahaha!' batin Kise dengan tawa nista.

"Sambil menunggu Aominecchi kita pecahkan nomer-nomer yang tadi yuk, Kurokocchi!" ajak Kise.

"Ya." balas Kuroko.

"H, P, R, S, Z, Z... Kurokocchi, menurutmu ini menggunakan apa-ssu?" Kise bertanya. Entah karena di sampingnya adalah Kuroko, gaya bicaranya sedikit seperti anak polos.

"Menurutku..." Kuroko berpikir sejenak, lalu sebuah ide muncul di benaknya.

"...mungkin saja seperti ini. Aku tidak tahu namanya apa, tapi begini. A sama dengan Z, lalu B sama dengan Y, dan seterusnya." jelas Kuroko.

"Ooh, begitu ya... baiklah, aku coba-ssu." Kise mengeluarkan ponselnya, lalu emarinya dengan lincah mengetik apa yang dimaksud Kuroko. Kuroko yang hanya memperhatikan ternyata ditepuk-tepuk pundaknya oleh seseorang di belakangnya, Aomine.

"Tetsu, ini bukan?" Tanya Aomine sambil menunjukkan jawabannya di buku tulisnya yang tertulis 'KELAS DUA D'.

"Benar, Aomine-kun." jawab Kuroko. Aomine hanya sedikit mengangkat ujung bibirnya, terkekeh.

"Kurokocchi, jadinya seperti ini-ssu–– Aominecchi, sudah ketemu tempatnya?" Kise bertanya melihat Aomine yang sudah tidur-tiduran dengan kepala di meja dan berbantal tangan. Aomine hanya menjawab dengan menunjukkan hasilnya kepada Kise.

"Heeh, cepat juga-ssu." ujar Kise. Aomine hanya melanjutkan tidurnya.

"Ini." Kise memperlihatkan ketikkannya kepada Kuroko, yang tertulis 'SKIHAA'. Kise mengangkat sedikit ujung bibirnya, tahu siapa yang dimaksud.

"Ooh, aku kira dirinya adalah pelakunya." ujar Kuroko.

"Ya sudah, ambil tas Kurokocchi lalu cari dia-ssu!" Kise bangkit dari duduknya, diikuti Kuroko dan Aomine. Mereka lalu pergi dari perpustakaan, dan menuju kelas dua D, yang merupakan kelas dari orang yang dicarinya.

Setelah menaiki tangga...

"Akashicchi!" Panggil Kise yang bahkan tidak perlu teriak Akashi yang berdiri di depan pintu dan menunggu mereka itu bisa mendengarnya. Akashi hanya menengok ke arah sumber suara.

"Akashi-kun, kembalikan tas milikku." ucap Kuroko setelah sampai di hadapan Akashi. Akashi langsung menyerahkan tas Kuroko.

"Akashi, kamu berhasil membuat kami bertiga pusing yah.." ujar Aomine.

"Hebat Akashicchi! Kamu bisa membuat kode serumit itu-ssu!" Kise ikut berkata.

"Selamat Akashi-kun. Kamu keren." hanya itu tanggapan Kuroko sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.

Akashi hanya diam sejenak mendengarkan tiga orang di hadapannya ini berbicara tentangnya, padahal sebenarnya...

'Aaah ya ampun! Mereka memujiku! Aah jadi malu aku! Apalagi Tetsuya bilang aku keren! Aaah rasanya ingin meledak diriku ini! Dan Tetsuya, kamu benar-benar imut dengan pose itu! Aaaah~' batinnya nista. Jika mereka tidak lupa sifat Akashi yang sebenarnya, pasti mereka sudah sweatdrop membayangkan Akashi yang membatin nista ini.

Ah, mereka juga belum tahu (termasuk Kuroko) jika Akashi ––mungkin–– punya ketertarikan berlebih terhadap Kuroko. Dan beginilah akhirnya jika dia terlalu memikirkan Kuroko. Dan mungkin juga alasannya menjadi jomblo ––ngenes–– adalah karena menunggu Kuroko.

"Sebenarnya bukan aku pelaku utamanya. Aku hanya ikut membantu." balas Akashi sambil tersenyum tipis agar terlihat keren di depan Kuroko. Jawaban Akashi membuat Kise dan Aomine diam sambil membuka mulutnya, bingung.

"Eh? Padahal kukira Akashi-kun yang merencanakan ini semua.." Kuroko berkata dengan polosnya. Dan hati Akashi pun hancur berkeping-keping dengan secuil kalimat dari Kuroko.

'Kuatlah Seijuurou, kuatlah menghadapi terpaan badai yang pasti akan berlalu ini Seijuurou. Aaah Tetsuya! Jangan menjerumuskanku ke dalam jurang yang dalam ini. Sakit Tetsuya, Sakit!' batinnya berlebihan.

'Tapi tidak apa-apa, aku akan selalu mencintaimu Tetsuya! Ai lav yu Tetsuya!' acara membatin alay Akashi pun dilanjutkan. Dia berusaha untuk tegar di hadapan ketiga orang di depannya.

"Sudah berapa orang yang kalian temui sejak permainan dimulai?" tanya Akashi yang mulai normal.

"Mungkin tiga?" Kise menjawab.

"Siapa saja?" lanjut Akashi.

"Itu... Midorimacchi, Murasakibaracchi, dan Akashicchi-ssu..." Kise berkata.

"Apa maksudmu, Akashi?" tanya Aomine menginterupsi.

"Dan orang yang sangat dekat dengan kalian tetapi kalian belum menemuinya adalah dalang di balik permainan ini." jelas Akashi.

"Berarti... tunggu! Jangan katakan..." belum selesai Aomine berkata, suara seseorang terdengar di telinganya. Sangat tidak asing.

"Yap, tepat sekali, Aomine-kun!" dan sang pemilik suara pun datang dari dalam kelas, bersama Midorima dan Murasakibara.

"Momoi-san/Momocchi/Satsuki!?" Kuroko, Kise, dan Aomine terbelalak kaget.

"Ya, aku yang merencanakan ini semua. Bagaimana? Kalian tidak menyangka kan?" tanya Momoi penasaran.

"Apa maksudmu mengerjai kami Satsuki!?" teriak Aomine.

"Momocchi, kenapa kamu melakukan ini-ssu!?" keluh Kise.

"Baiklah baiklah.. sebenarnya... aku hanya ingin bermain-main dengan kalian..!" jawab Momoi tanpa dosa. Kise dan Aomine terdiam lemas dengan mulut menganga, sementara Kuroko hanya biasa saja.

"Sejak awal aku memantau kalian loh! Tetsu-kun! Kamu benar-benar keren!" Momoi merangkul lengan Kuroko. "Momoi-san, sakit." balas Kuroko.

"Tapi, itu hebat sekali Momocchi! Apa kamu yang membuat semua sandinya-ssu?" tanya Kise yang mulai normal.

"Tentu saja tidak! Tadinya aku akan melakukan ini sendirian, tetapi ternyata Akashi-kun mengetahui rencanaku, dan ternyata dia tertarik dan mau membantu! Dan juga, Midorin dan Mukkun juga mau membantu." jelas Momoi sambil melepas rangkulannya.

"Bukan membantu, tetapi dipaksa nanodayo." Midorima menyela.

"Sa-chin, kamu berjanji akan membelikanku sekotak maibou. Mana?" Murasakibara yang selalu setia dengan maibou di mulutnya justru menagih maibou kepada Momoi.

"Iya, nanti aku belikan Mukkun." jawab Momoi. Dia lebih rela jika uang jajannya habis karena sekotak maibou, daripada membuat si titan ungu ngambek dan tidak mau latihan.

"Kami berempat bergantian menulis surat yang dikirim ke kalian, dan ternyata Akashi-kun dan Midorin punya ide tentang kode atau semacamnya itu!" lanjut Momoi. "Dan aku juga yang memasukkannya ke dalam tas kalian loh.." Momoi masih menjelaskan.

"Berarti Momocchi––!"

"Satsuki telah melihatnya!" Kise dan Aomine berseru sambil saling berpandangan. Dan seketika itu juga mereka tertunduk lemas.

"Sudahlah, Ki-chan, Aomine-kun. Itu sudah terlanjur kulihat, dan aku geli juga sebenarnya.." Momoi menahan tertawa.

"Jika Momoi-san selalu memantau kami, berarti..." Kuroko teringat akan ceritanya tentang Akashi. Tapi tiba-tiba saja Momoi mengajak Kuroko sedikit menjauh dari kerumunan lainnya.

"Tetsu-kun, aku akan merahasiakannya dari Akashi-kun. Tenang saja." bisik Momoi yang mengerti maksud Kuroko, lalu mereka kembali ke kerumunan.

"Ano.. Momocchi, siapa yang mentransfer pulsaku-ssu?" tanya Kise.

"Itu Midorin. Iya kan, Midorin?" Momoi menghadap Midorima.

"Bukan aku, tapi kamu yang menyuruhku, Momoi." jawab Midorima sambil membenarkan kacamatanya.

"Lalu siapa yang mengambil Mai-chan milikku?" tanya Aomine kemudian.

"Aku. Ada masalah?" giliran Akashi yang menjawab. Aomine hanya mendengus.

"Kalau begitu, apa ada yang mengambil sesuatu milikku dari tas ini?" tanya Kuroko.

"Satsuki, kamu tidak mengambil apapun kan?" Aomine mengintimidasi.

"Aomine-kun! Aku tidak mungkin melakukannya!" balas Momoi.

"Lalu Midorimacchi atau Murasakibaracchi? Atau bahkan Akashicchi!?" seru Kise.

"Aku tidak menyentuh tas Kuroko nanodayo." jawab Midorima, lagi-lagi dengan menaikkan kacamatanya.

"Aku juga tidak mengambil apapun milik Kuro-chin." jawab Murasakibara.

"Aku.. juga tidak." jawab Akashi ragu-ragu.

"Benarkah Akashicchi? Jangan bohong sama Kurokocchi-ssu.." Kise hanya bermaksud untuk main-main, tetapi karena dirinya menyebut nama Kuroko, Akashi kembali kambuh.

'A-aku.. t-tentu saja tidak! Aku tidak mungkin melakukannya! Tapi tadi... tapi tadi.. aah tidak! Aku hanya memegang tasnya, tidak lebih dari itu! Tetapi... ada apa dengan perasaan ini!?' batinnya. Sepertinya kali ini Akashi berakting menjadi gadis pemalu.

"Akashicchi baik-baik saja?" pertanyaan Kise membangunkan Akashi dari lamunan nistanya.

"Ah, tentu aku tidak mengambil barang apapun dari Kuroko." jawab Akashi yang sudah kembali normal.

"Kalau begitu, ayo kita pulang. Kamu benar-benar mengurangi waktu tidurku, Satsuki." Aomine pun melangkah menuju tangga ke bawah.

"Eeh!? Tunggu Aomine-kun!" Momoi mengejar Aomine.

"Eh Midorimacchi! Apa lucky item milikmu hari ini-ssu?" tanya Kise sambil berjalan mengikuti kedua rekannya.

"Hmph. Kebetulan hari ini adalah buku tentang kode nanodayo." jawab Midorima sambil menunjukkan buku di genggaman tangan kirinya, sambil berjalan beriringan dengan Kise dan Murasakibara.

"Mido-chin, bukannya maibou ya?" tanya Murasakibara yang ikut berjalan.

"Diamlah nodayo!" seru Midorima.

"Akashi-kun mau pulang bersamaku?" tanya Kuroko.

'H-hei! Yang benar saja!? A-aku.. akan pulang... bersama... Tetsuya!?' Akashi kembali kambuh.

"Akashi-kun?" Kuroko menghadap Akashi dengan wajah imutnya.

"Ah, ya." jawab Akashi singkat. Mereka berdua lalu berjalan bersama, mengikuti kelima teman mereka.

Yah, pada akhirnya hanya senyuman dan canda tawa yang terkembang di wajah mereka, seakan tak terjadi apapun. Momoi masih mengejar Aomine yang tidak peduli dan hanya menguap sepanjang jalan, lalu Kise dengan suaranya dan bahan obrolan yang seakan tak pernah habis, Midorima yang selalu membawa lucky item dan mendengarkan ramalan Oha Asa yang seakan sudah menjadi kebutuhan, dan Murasakibara yang tidak pernah berhenti untuk memakan maibounya. Dan Akashi, yang sedang berdelusi karena orang di sebelahnya, Kuroko, yang hanya terus berjalan tanpa memikirkan kewarasan orang di sampingnya.

'Permainan... selesai!'

##########

The End

##########

Oke, ini maksa banget chapter empatnya. Tapi...

Yey! Akhirnya selesai juga! /jumpalitan /ha

Makasih yang mau baca fic ini, dan kalo berminat bisa meninggalkan kritik & saran berupa review. Jangan flame lohh..

Dan Akashi-kun... pfftttt /ketawa nista/ maaf telah menistakanmu, lagi. /digunting/ ta-tapi ini beneran ide yang nggak tau kenapa keluar di otakku lalu aku tulis di sini... /dibunuh

Mohon maaf kalo ada kata-kata yang kurang berkenan, dan sekali lagi terima kasih! ^^