Season II


SI KELABU SENJA © Hepta Py

BLEACH © Tite Kubo

Warning: Incest, Dramatisasi, OOC

Main Characters : Kuchiki Byakuya, Kurosaki Ichigo, Kuchiki Rukia

CC : Lebih baik membaca dengan perlahan, chapter panjang ini untuk menebus pengerjaan SKS yang sangat lama. Maklum, saya lagi dilema skripsi. Semoga bisa dinikmati. Paragraf awal hingga tanda batas memakai sudut pandang Rukia.


XXXXXXX


Aku menyebutnya sebagai takdir.

Malam itu aku berharap bisa melihat langsung keindahan Istana Noches—tempat tinggal para bangsawan tinggi keturunan Raja di masa lalu. Kemudian bertemu langsung dengan seorang pangeran yang telah menikahi Hisana nee-san—yang ternyata adalah kakak kandungku.

Segala hal yang telah dikatakan oleh Ginrei jii-sama seakan diambil langsung dari mimpi terindahku. Keinginan ternaifku untuk memiliki sebuah keluarga pun telah dikabulkan olehnya.

Benar, hari itu adalah awalku tinggal di sana. Lima tahun yang lalu—tepatnya saat aku berusia tiga belas tahun yang tak mengerti apa pun tentang ikatan keluarga, kasih sayang atau pun cinta.

Aku terlalu gembira saat harapan kekanakanku untuk bertemu sang pangeran benar-benar menjadi nyata. Aku akan diangkat sebagai adiknya.

Namun... itu semua salah besar.

Aku melihat kobaran api besar saat pertama kali menjejakkan kaki di sana. Mataku terasa panas, kulitku serasa melepuh.

Aku ketakutan.

"Byakuya cucuku—di mana dia?! Kalian belum menemukannya?!"

Bya... kuya? Siapa dia?

"Ini benar-benar gawat, Ginrei-sama! Kami tidak dapat menemukan Byakuya di mana pun."

Pria itu... menghilang? Di dalam kobaran api besar itu?

"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu, Ukitake! Kau harus cepat mengeluarkannya! Dia adalah pewaris tunggal Kuchiki! Cucuku satu-satunya!"

Pewaris? Pria yang menghilang itu adalah... pangeran? Pangeran yang ingin kutemui?

"Anda tidak perlu panik, Ginrei-sama. Tim penyelamat dan para pengawal istana sedang berusaha mengeluarkannya sebelum api menyebar ke seluruh Kediaman-pewaris-utama."

Tanpa sadar aku melangkah maju. Kobaran api yang hampir melahap habis bangunan-putih-kokoh itu membuat tubuhku terpaku. Bagaimana mungkin seseorang masih terjebak di dalam sana? Apakah dia akan selamat? Apakah pangeran itu akan selamat?

Tanganku mencengkram ujung baju Jii-sama semakin kuat. Percikan api membuat mataku memanas. Dan tanpa sadar kedua ujung mataku meneteskan air mata asing yang tak kuharapkan. Aku mengusap air mata itu perlahan kemudian menatap ujung jariku yang basah.

Perih, tenggorokanku serasa tercekik. Perasaan ini baru pertama kali aku rasakan.

Dan saat aku melihat ke sekeliling—seluruh pengawal yang mengitari kami hanya bisa menundukkan kepala, sedangkan para pelayan wanita telah menangis tanpa bisa melakukan apa-apa.

"Byakuya-sama tidak ingin meninggalkan Hisana ojou-sama. Byakuya-sama ingin tetap tinggal di dalam kediaman mereka."

Kalimat itu menimbulkan gelombang asing di dadaku. Kedua mataku bergetar, dan sejak saat itu air mataku terus mengalir meskipun aku telah mencoba untuk membendungnya sekuat tenaga.

Pangeran yang akan kutemui adalah seorang pria yang sempurna. Mencintai Hisana nee-san melebihi segalanya.

Kutundukkan wajah, sesenggukan tidak dapat lagi kuredam. Kenapa Hisana nee-san meninggalkan kakak pangeran itu terlalu cepat? Aku... jika aku menjadi Hisana nee-san, aku tidak akan pernah meninggalkan kakak pangeran itu.

Tidak akan pernah.

"Lihat! Tim penyelamat berhasil menemukannya! Itu Byakuya-sama! Byakuya-sama selamat!"

Seluruh orang yang sejak tadi berdiri di belakangku dan di belakang Ginrei jii-sama berhambur menuju ke depan sebelum aku bisa melihat apa yang terjadi. Namun, batu besar yang mengganjal tenggorokanku serasa lenyap saat mendengar cara Ginrei jii-sama memanggil nama pangeran itu.

Dia pasti baik-baik saja.

"Byakuya... Byakuya... kau selamat... syukurlah,"

Perlahan, para tim penyelamat yang sejak lalu memapah pangeran itu kini mulai menarik diri. Begitu juga para pengawal dan pelayan mulai memberikan ruang untuk Ginrei jii-sama dan pangeran itu. Meskipun samar, aku bisa melihat sosok pria yang kini tengah dipeluk oleh Ginrei jii-sama. Wajahnya berbayang akibat efek kobaran api yang belum padam di belakangnya.

Pangeran itu... lebih tinggi dari jii-sama. Rambutnya begitu gelap dan tergerai hingga melewati bahu. Ketika aku terus menatapnya, wajah pangeran itu mulai terangkat—pandangan kami bertemu.

Jantungku berdetak kencang—sepasang matanya berwarna kelabu kelam—kosong, dingin dan sarat akan kesedihan. Wajahnya begitu pucat namun begitu... indah. Dia pangeran yang sangat tampan.

Benar-benar tampan.

Aku tak mampu mengedipkan mata meskipun aliran tangis telah berubah menjadi air mata bahagia. Bibirku membeku dan tak mampu membiaskan senyuman seperti biasa. Ada apa ini? Apakah aku... terpesona?

Aku melihat ketika ia menggumamkan sesuatu saat memilih untuk beranjak dari pelukan jii-sama dan berjalan menuju ke arahku. Duniaku masih membisu. Aku tidak bisa mendengar apa pun meskipun bibir kakak pangeran itu terus bergerak mengucapkan sesuatu.

Aku masih melihatnya meskipun harus menengadahkan kepala semaksimal mungkin. Semakin berkurang jarak antara aku dengannya—semakin aku bisa merasakan aura dingin dan suramnya menggerogoti seluruh tubuhku.

Sejenak dia membuatku takut, namun sayang, aku tak mampu berhenti menatapnya.

Lalu, aku terkejut sebelum bisa menyadari bahwa pria itu sudah berlutut dan memeluk pinggangku—merapatkan kepalanya untuk mendengarkan bunyi jantungku.

Air mataku kembali lolos begitu deras saat mendengar pria itu hanya mengucapkan satu kata berulang-ulang kali.

"Hisana... Hisana... Hisana...,"

Tanganku bergetar hebat dalam cengkraman tangan besarnya. Perasaan ini benar-benar menusukku. Pangeran itu terdengar sangat putus asa saat mengucapkan nama Nee-san. Aku tak tahu harus melakukan apa.

Saat itulah aku beralih menatap Ginrei jii-sama, kakek itu mengangguk dan menatapku dengan mata yang mencerminkan penyesalan—seolah meminta maaf padaku.

Dan...

Sejak saat itu aku mengerti, keluarga bangsawan bukanlah manusia yang sepenuhnya sempurna dan memiliki apa pun yang mereka inginkan—tidak—mereka juga manusia biasa.

Aku melepaskan belenggu kedua tangannya pada pergelangan tanganku. Bukan ingin menolak, namun sebaliknya.

Dan saat aku memutuskan untuk mendekap kepalanya dengan kedua tanganku yang meragu, aku tahu, kakak pangeran itu pasti dapat mendengar degup jantungku yang sangat memalukan.

Aku mengerti tugasku, dan itulah yang diinginkan Ginrei jii-sama saat membawaku kemari.

Aku tidak akan meninggalkan pria kesepian ini. Aku akan selalu di sampingnya untuk menggantikan Hisana nee-san.

Akan kulakukan apa pun untuknya. Akan kulakukan segala cara untuk menghapus kesedihan di matanya.

Apa pun... hingga ia bisa tersenyum kembali.


XXXXXXX


"Bersiaplah untuk menikah denganku, Kuchiki Rukia."

Rukia tidak bermimpi—ia sedang dilamar—namun kalimat itu tidak diucapkan oleh pria yang ia harapkan. Permainan apa lagi yang sekarang ia hadapi. Rukia tidak mungkin menikah dengan seorang pria yang tidak ia cintai.

Sedangkan cara pandang Ichigo kepadanya membuat Rukia tak mampu berbicara sepatah kata pun. Hanya cengkraman erat pada seprai kasur yang mampu menguatkannya. Gadis itu merasa sendiri, tak ada satu pun yang berusaha membantunya.

Rukia yang tengah meragu berharap seseorang menolongnya, dan ketika tatapan indigo kabur itu beralih pada Ginrei, kakek tersebut hanya mengangguk seolah tidak peduli dengan perasaannya.

Bibirnya bergetar.

Rukia ingin memberontak—jika ia bisa. Gadis itu hanyalah remaja delapan belas tahun biasa yang masih memiliki emosi yang sangat labil. Oleh sebab itu, menangis adalah pilihan yang selalu dilakukannya. Namun, kali ini ia bertekad untuk tidak menyerah pada perintah itu begitu saja.

Ia masih memiliki Nii-sama.

Dan saat Rukia memutuskan untuk mengalihkan pandangan pada wajah sang kakak yang ia cintai—akhirnya air mata lolos dari pipinya. Rukia bukanlah gadis cengeng, ia berubah sejak gadis itu mengenal cinta—cinta terlarang bersama kakak angkatnya.

Kenyataan bahwa Byakuya hanya memandangnya-saja, membuat hati Rukia sakit.

"Hey...," Ichigo menghalangi tatapan intens Rukia kepada Byakuya dengan wajahnya. Rukia memundurkan kepala. "Menikah denganku... apakah itu terdengar sangat buruk bagimu?"

Rukia terlalu kacau untuk menjawab gurauan Ichigo. Namun ia sadar bahwa jari-jari Ichigo telah menghapus lelehan air matanya dan mempertahankan tangan itu di sana.

Mereka masih bertatapan.

"Aku akan membahagiakanmu," sinar manik senjanya berubah, tidak ada celah ragu. "Percayalah, aku... aku... ceh! Begini saja, aku tidak akan mempermainkan gadis malang sepertimu."

Ucap sang pangeran kedua sembari mengamati ekspresi Rukia—gadis itu terperangah—Ichigo membuang wajah dan mengutuk pelan. Sial. Ichigo tak berhasil merangkai kalimat yang sesuai.

Saat pemuda jingga itu lengah, Byakuya sudah ada di sampingnya dan merebut tangan Ichigo dari wajah Rukia.

"Jauhkan tanganmu, Kurosaki Ichigo," nadanya berbisa.

Ichigo menoleh dan memandang Byakuya malas. "Apalagi sekarang, huh? Apakah Kakak ipar menyuruhku untuk langsung menciumnya seperti waktu itu?"

Byakuya memandang Ichigo jijik. Tangan lain miliknya sudah melayang hampir mendarat pada pipi Ichigo. Sayang, seseorang menghentikannya.

"Ini tidak seperti dirimu, Byakuya. Ada apa dengamu?"

"Jii-sama."

Byakuya tahu, jika ia membuat pergerakan, sang kakek pastilah menghentikannya. Namun Byakuya tak bisa diam begitu saja jika wanita miliknya disentuh oleh pria lain tepat di depan wajahnya.

Meskipun terpaksa, akhirnya Byakuya menurunkan tangannya. Rukia memandang Ichigo yang menatap Byakuya awas. Gadis itu hampir saja melihat Byakuya menampar Ichigo karena dirinya.

Rukia mulai mengerti situasi ini. Dia bisa saja membuat persaudaraan antar pewaris sah Kuchiki berantakkan.

"Sesuatu telah mengubahmu. Jangan mencemari nama margamu yang telah kau junjung tinggi melebihi apa pun, Byakuya. Tidakkah kau mengingat pesan dari kedua orang tuamu? Apakah kau akan mengingkari mereka?"

Byakuya melepaskan perlahan cengkramannya pada tangan Ichigo. Kakeknya benar, kedua orang tuanya telah menitipkan segalanya kepada Byakuya setelah kejadian itu menimpa seluruh keturunan Kuchiki hingga hanya menyisakan dirinya.

Byakuya adalah pewaris tunggal Kuchiki—setidaknya sebelum Ichigo ditemukan.

Saat Byakuya semakin tenang, Ginrei melanjutkan. "Pada hari pertunangan adik-adikmu, aku akan mengangkatmu sebagai Kepala Keluarga Kuchiki ke-28,"

Ginrei menjeda untuk melihat reaksi cucunya. Tentu saja, Byakuya terkejut bukan main dan memandang kakeknya tak percaya. Begitu pula yang terjadi pada Rukia.

Lain halnya dengan Ichigo, pangeran kedua terlihat kurang senang. Ichigo tahu, alur permainan ini akan mengarah ke sana. Namun ia sadar, posisi ini akan menimbulkan masalah untuknya.

"Kuharap kau tidak membuat masalah. Kau memiliki tanggung jawab besar untuk masa depan Kuchiki dan Istana Noches. Jangan lupakan itu."

Byakuya menatap lantai pasrah sebelum memutuskan untuk memandang ke arah Rukia dengan meragu. Byakuya tahu, Rukia kecewa, tapi Byakuya tak mungkin membuang sumpah terakhirnya kepada Kuchiki Soujun—ayahnya. Karena Byakuya telah berjanji untuk membangun klan Kuchiki kembali demi leluhur mereka dan demi menebus dosa kakeknya.

Tanpa melepas tatapannya pada Rukia, Byakuya memutuskan untuk menyetujui hal itu. "Aku mengerti apa yang harus kulakukan."

Rukia tak melihat keraguan lagi dalam mata Byakuya yang terus memandangnya begitu lekat. Byakuya ingin Rukia melihatnya saat mengambil keputusan.

Ginrei menghela napas perlahan. Byakuya masih dapat mengontrol perasaannya. Jujur, Ginrei sudah bisa mengendus keanehan hubungan persaudaraan di antara Byakuya dan Rukia. Namun Ginrei harus tetap menetapkan satu jalan hidup untuk Byakuya—dan tidak untuk berbelok ke arah lainnya hanya karena emosi perasaan sesaat.

Rukia membatu di atas tempat tidurnya.

Sedangkan Ichigo tersenyum kemudian memeluk tubuh Rukia, masih dengan Byakuya di sampingnya.

"Hey, jangan bersedih. Kau bisa melakukan apa pun setelah kita menikah. Bukankah sudah kewajiban para bangsawan untuk menikah di usia muda? Kita harus memperbanyak keturunan Kuchiki yang sudah tak tersisa. Seharusnya kau senang."

Gurauan Ichigo sekali lagi tidak mampu mengobati Rukia. Gadis itu pasrah di balik kurungan tangan calon suaminya.

Byakuya memejamkan mata dan memilih untuk menjauh dari ranjang adiknya. Rukia merasa seluruh tubuhnya remuk.

Ada saat dimana ia merasa terkhianati dan kali ini jauh lebih sakit daripada yang pernah ia rasakan. Rukia telah mengabdikan dirinya kepada Byakuya, bahkan sebelum Byakuya bisa menerimanya.

Dan saat tujuan sesungguhnya—untuk membuat Byakuya tersenyum—telah ia lakukan, Rukia terlena dan jatuh cinta kepada Byakuya. Lalu, ia memberikan segalanya untuk pria itu. Dan sekarang... apa semudah itu Byakuya menyerahkan dirinya kepada Ichigo?

Akhirnya tangis Rukia pecah di pundak Ichigo. Pemuda itu merengut.

"Apakah aku terlalu mendesakmu? Tidakkah kau ingin belajar mencintaiku?" nada Ichigo terdengar marah. "Aku bisa membuatmu menyukaiku jika itulah yang kau inginkan. Aku akan menyembuhkan semua lukamu. Dan akan kubayar apa yang telah menyakitimu."

Ichigo melirik tajam musuhnya, namun Byakuya tak lagi menatap mereka. Keduanya masih belum menyadari bahwa kedua pria itulah yang menjadi sumber penderitaan Rukia.

Pewaris utama Kuchiki akhirnya memutuskan untuk meninggalkan ruangan tersebut—mencoba untuk tidak melihat drama buatan Ichigo yang berhasil memukulnya mundur untuk sementara.

Sayang, langkahnya terhenti ketika kalimat Ginrei berhasil membuatnya terkejut.

"Ada satu syarat lagi yang harus kau penuhi sebelum menyandang gelar itu, Byakuya."

Permainan ini belum berakhir, seharusnya Byakuya tahu. Ia tidak ingin berbalik lagi.

"Kau harus menikah dengan wanita bangsawan yang telah kutentukan."

Byakuya menoleh secepat mungkin—ekspresi terkejut tak cocok dengan wajahnya.

Rukia seketika itu berhasil menghentikan tangis dan beralih menatap Ginrei tak percaya.

Sedangkan Ichigo hanya perlu tersenyum tipis, masih ada celah untuknya menduduki singgasana Kuchiki—karena ia tahu, menikah dengan wanita lain hampir tidak akan dilakukan oleh Kuchiki Byakuya.

Tentu saja, jika itu benar dan dialah yang menduduki tahta Kuchiki, Ichigo bisa melakukan apa pun untuk memporak-porandakan para bangsawan lain yang telah bersekongkol menghancurkan keluarganya sepuluh tahun lalu.

Ichigo tertawa di dalam hati. Tuhan masih berpihak padanya.

Byakuya melempar penyangkalan. "Apa maksud—"

"Ini mudah saja," Ichigo menyela dan setelah mendapat perhatian penuh dari seluruh mata yang ada di sana—pemuda itu menyandarkan kepala Rukia di bahu kanannya. "Aku sudah memiliki calon pendamping hidup. Bukankah akan memalukan jika Kakak ipar tidak memiliki pasangan untuk berdansa pada saat pesta nanti? Itu akan membuatku tampak sangat jahat karena sudah mendahuluimu."

Seringai Ichigo positif menyebalkan di mata Byakuya.

Ginrei mengangguk. "Itu benar, pesta pertunangan Ichigo dan Rukia akan menjadi titik awalmu untuk menjadi Kepala Keluarga Kuchiki—tujuan hidupmu sejak dulu. Aku yakin kau tidak lupa."

"Lagi pula, ada banyak wartawan yang akan datang, kau harus memperkenalkan wanita pilihanmu di sana. Bukankah itu hal yang wajar, Byakuya-boy?" seorang lady berkulit gelap tiba-tiba menengahi pembicaraan serius mereka.

Byakuya memandang Yoruichi yang kini bersandar di sisi pintu. Rupa-rupanya wanita itu sudah tahu hal ini akan terjadi, tapi tetap saja merahasiakannya dari Byakuya. Byakuya yang merasa perlu meredam keluhan dan amarah di dalam hatinya memilih untuk diam dan membiarkan Ukitake yang baru saja tiba untuk merangkul bahunya.

"Aku cukup lega sepupu terdekatku akan disandingkan denganmu. Itu pun kalau kau menyetujuinya. Aku akan membuat pesta pertunangan adik ipar kita semegah mungkin untuk merayakannya."

Byakuya bisa menebak arah pembicaraan Ukitake dan ia memutuskan untuk tidak percaya semudah itu.

"Apa maksudmu, Ukitake?"

"Ya, kau seharusnya tahu maksudku. Bukankah kita berempat selalu bersama-sama sejak kecil? Aku benar 'kan, Yoruichi?"

"Tentu saja! Aku yakin dia bisa dijinakkan olehmu, Byakuya-boy. Kita berempat adalah sahabat sejak kecil."

Rukia memandang Byakuya—binar matanya meredup. Siapa wanita itu? Siapa wanita yang menjadi sahabatnya sejak kecil? Rukia sadar, ia tidak mengetahui apa pun tentang Byakuya. Dan meskipun ia pernah merasa cemburu terhadap Shihouin Yoruichi, ia pantas merasakannya, karena Rukia hanyalah orang luar asing yang tidak tahu apa-apa.

"Ichigo...,"

Terkejut? Pasti. Ini adalah kali pertama Rukia menyebut namanya. Ichigo menatap gadis itu tak suka dengan kening berkerut dalam. Bukan karena ia membenci Rukia, tetapi karena wajah sedih gadis itu—yang entah karena apa—kali ini, tak ingin dilihatnya.

Ichigo mengerti meskipun Rukia tidak mengucapkan apa pun. "Ginrei jii-sama, kurasa Rukia perlu beristirahat. Sebaiknya kita lanjutkan pembicaraan ini di ruangan lain."

Ginrei mengangguk. "Kau benar. Kita lanjutkan pembicaraan ini di ruanganku. Kebetulan Yoruichi dan Ukitake sudah sampai di sini."

Ukitake berjalan menuju Yoruichi dan berbisik. "Apakah Urahara akan kemari?"

"Ya, Kisuke akan menyusup selagi Byakuya bersama dengan kita." Mata kucingnya menajam.

"Sebaiknya kita bergegas."

"Aku mengerti."

Mereka sudah beranjak menuju pintu, namun Ichigo masih melihat Rukia berbaring lalu memunggunginya.

"Maaf, Jii-sama. Sepertinya aku harus melewatkan pembicaraan itu. Aku akan menggantikan Kakak ipar untuk menjaga Rukia."

Kalimat itu membuat kaki Byakuya memberat.

Duda itu tahu, jika kali ini ia berdebat dengan Ichigo sekali lagi, rahasia mereka akan terbongkar. Tentu saja, rahasia itu akan mencoreng nama baiknya dan mengotori kehormatannya, begitu pula dengan kehormatan Rukia yang akan menjadi istri pewaris kedua.

Byakuya tidak menduga semuanya akan menjadi serunyam ini. Sejak awal ia tak bermaksud merahasiakan hubungannya dengan Rukia. Ia pasti bertanggung jawab terhadap adiknya, tapi keadaan membuatnya tak berdaya.

"Meskipun aku tidak mempercayaimu, untuk sementara, tolong jaga Rukia untukku, Kurosaki Ichigo."

Ichigo mengesah, kakak iparnya ini tetap kukuh juga rupanya.

"Tentu saja, Kakak ipar. Kau tidak akan menyesal telah menitipkannya padaku."

Meskipun kalimat mereka terdengar wajar, siapa pun juga dapat merasakan bahwa mereka terkesan sedang bertengkar. Meskipun begitu, Byakuya memilih untuk pergi. Dan sebelum pintu kamar Rukia tertutup sepenuhnya, pria kelabu itu menoleh ke belakang.

Hati dan pikirannya masih tertinggal di sana.


XXXXXXX


Sejak Rukia kembali ke A-LaN, rumor mengenai pertunangannya dengan segera menyebar seantero akademi, baik kelas A-list maupun kelas lainnya. Meskipun Akademi Las Noches merupakan sekolah khusus keluarga terpandang dan para bangsawan, ada beberapa diantara mereka berasal dari rakyat jelata biasa yang memiliki hubungan atau koneksi tertentu dengan para kalangan elit.

Oleh sebab itu, di sinilah Hinamori Momo, seorang siswi dari kelas umum yang sedang menyeruput vanilla shake di tangannya.

"Kudengar... para bangsawan Noches akan mengadakan jamuan istimewa di awal musim dingin ini. Apakah kau tahu sesuatu, Shiro-chan?"

Ukitake Toushiro—penyandang kasta kedelapan itu menyandarkan kepalanya pada bahu Hinamori sebelum mengambil alih vanilla shake dari tangan kekasihnya.

"Ukitake oji-sama hanya berkata bahwa Kuchiki dengan Kuchiki akan menjadi bintang utamanya. Itulah yang kutahu."

Ia berdusta, pemuda yang memiliki tinggi badan di bawah rata-rata itu tidak terlalu ingin ikut campur dengan sesuatu yang berbau Kuchiki.

"Cuma itu yang kau tahu?" Hinamori menguji kekasihnya.

"Hanya itu yang bisa kukatakan."

"Sayang sekali. Kau tahu? Ayahku sangat bersemangat saat mengetahuinya. Lagi pula Ayah sudah ditunjuk menjadi wartawan khusus untuk meliput pesta itu. Aku akan menjadi asistennya dan melihat pesta megah itu secara langsung!"

Toushiro yang bosan mencoba memainkan cepol kekasihnya. "Hm. Kyoraku oji-san sudah dipercaya untuk menjadi salah satu wartawan kerajaan. Itulah mengapa kau bisa bersekolah di A-LaN bersamaku."

"Tapi kita berbeda kelas, ingat? Sungguh menyenangkan menjadi bangsawan. Berada di kelas A-list benar-benar menarik 'kan?"

"Tidak juga. Kau bisa melihatnya. Aku tidak bisa bergerak sebebas dirimu. Bahkan aku tidak tahu sampai kapan aku bisa mempertahankanmu."

Shihoun Lisa—wanita supel penghuni kasta kedua—yang sejak tadi memandangi mereka kini hanya bisa mengesah untuk mencairkan suasana.

"Hey, Hinamori. Aku bisa memberikan bocoran informasi yang lebih bagus daripada dia. Kau mau mendengarkannya?"

Hinamori menoleh. "Tentu saja! Beritahu padaku, Lisa-san!"

Lisa menutup majalahnya kemudian mulai membuka suara.

"Kuchiki baru telah datang. Dan pernikahan sedarah akan ditebus oleh orang baru itu. Sayang sekali, kali ini bukan Kuchiki Byakuya sebagai bintang utamanya," ujar Lisa menyindir Toushiro.

"Apakah... anggota Kuchiki mengadopsi orang lain sebelum Rukia-san?"

"Tidak," Lisa menggeleng. "Yoruichi-sama menjuluki Kuchiki baru itu pangeran terbuang. Aku tidak mengerti maksud istilah aneh itu, tapi kurasa, misteri hilangnya putra kedua dan ketiga Kuchiki Ginrei berkaitan dengan datangnya Kuchiki baru itu."

Lisa sudah memulai pembicaraan serius. Dan Toushiro tanpa sadar menanggapinya meskipun dengan suara yang terdengar malas.

"Dari informasi yang kudapatkan, putra kedua Ginrei-sama yaitu Kuchiki Isshin melarikan diri dan tidak pernah kembali hingga sekarang. Sedangkan putra ketiga telah diasingkan ke luar negeri."

Lisa setuju dengan penjelasan Toushiro. "Ya, mereka semua lenyap. Dan putra pertama, yaitu Kuchiki Soujun meninggal akibat kecelakaan pesawat terbang bersama istrinya sekaligus. Lalu, kematian Kuchiki Hisana pun masih jelas-jelas menjadi misteri."

Hinamori tidak menyangka kehidupan sempurna yang selalu diidamkannya itu hanya sebuah kepalsuan. "Maksudmu... seolah-olah ada seseorang yang ingin menghabisi mereka secara perlahan?"

"Aku setuju!" Neliel Tu Oderschvank yang sejak lalu berkutat dengan kaca di tangannya tak ingin tertinggal dengan obrolan menarik mereka. "Saat Kuchiki Byakuya menjadi pewaris tunggal, tiba-tiba saja muncul seorang lagi Kuchiki dan akan menjadi pewaris kedua. Apakah ini sudah direncanakan?"

Lisa menyeringai. "Jika kau mengatakannya seperti itu... kurasa ya. Sesuatu akan terjadi. Dan mungkin saja melibatkan anggota Kuchiki yang masih tersisa atau bahkan drama kematian yang selalu menjadi misteri akan terulang kembali."

"Setuju! Dan kita hanya perlu menjadi penonton manis lalu berpura-pura tidak mengetahui apa pun," Neliel menutup kalimatnya dengan senyuman manis.

"Ceh!" Grimmjow memperbaiki posisi bersandarnya kemudian menyumpal kedua telinga dengan earphone. "Kalian mengganggu acara tidur siangku dengan obrolan yang membuatku muak!"

"Tidak ada yang menyuruhmu tidur di atas atap! Carilah tempat lain jika kau mau!" Senna yang sejak tadi menguping pembicaraan serius antara Lisa, Toushiro dan Hinamori merasa terganggu.

Grimmjow melepas earphone miliknya kemudian menatap langsung Senna, "Sial! Kenapa kau malah berpihak pada mereka? Bukankah kau sangat membenci Kuchiki?"

Senna mengesah kemudian menyeringai. "Jangan salah paham. Aku hanya heran. Kenapa mereka melewatkan hal yang paling penting."

"Maksudmu?" akhirnya Grimmjow terlibat juga.

"Tidak hanya Kuchiki dengan Kuchiki. Melainkan Kuchiki dengan Shiba dalam waktu bersamaan. Kalian akan tahu saat jamuan itu dimulai." Senna tersenyum licik.

Semua terperangah dengan perkataan Senna. Jika benar Shiba menjadi besan Kuchiki, marga mereka akan sejajar dengan marga Kuchiki. Ini cukup mengejutkan.

Sebelum pembicaraan berlanjut, Ulquiorra yang sejak tadi hanya berkutat dengan handphone miliknya kini melirik pada Ashido yang sejak tadi menatap teman dekatnya—Grimmjow—tanpa mengatakan apa pun.

Akhirnya Ulquiorra turut ambil suara. "Apakah... pada akhirnya kau menyukai Grimmjow, Ketua?"

Pria bersurai merah bata yang berkedudukan sebagai pemimpin kelas A-list hanya tersenyum samar. Ashido membelokkan pembicaraan mengenai Kuchiki.

"Aku tahu kalian telah melakukan sesuatu pada bocah Kurosaki itu. Apa kalian mengerjainya?"

Grimmjow diam sejenak kemudian tawa kencang pecah dari mulutnya.

"Itu adalah tradisi, kau lupa? Meskipun pipiku lebam dan kalian tidak menyadarinya, tapi aku mulai menyukai Kurosaki itu. Dia boleh juga saat melawanku."

Ashido beralih menatap Ulquiorra seolah meminta penjelasan.

"Jangan salahkan aku, Ketua. Grimmjow hanya ingin bersenang-senang. Aku tidak berhak mengganggunya," Ulquiorra tetap berada di pihak tengah.

Ishida Uryuu yang sejak tadi hanya berdiri bersandarkan pembatas gedung hanya tersenyum remeh. Pria berkedudukan nomor tiga dalam kasta Noches itu merasa bahwa Grimmjow adalah pemuda terbodoh yang pernah ia kenal.

"Kenapa kau tersenyum aneh seperti itu, Ishida?" Toushiro ambil bicara saat mengetahuinya.

"Tidak ada apa-apa. Hanya saja... dia tidak tahu siapa Kurosaki Ichigo sebenarnya. Kau terlalu gegabah, Grimmjow," jawab Ishida sembari menatap Grimmjow remeh.

Tentu saja. Sejak insiden di Rumah Sakit Noches, Ishida Uryuu telah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Hanya saja, ia tak tertarik menjadi gembong informasi mereka. Dan saat ia tahu bahwa Grimmjow mengerjai Ichigo, Ishida tidak bisa menahan tawa dalam hati.

Ishida berani bertaruh, Grimmjow akan menyesalinya.

"Ceh! Aku tidak takut pada siapa pun! Lagi pula, aku hanya melakukan tradisi seperti biasa. Bukankah dia hanya anak buangan dari panti asuhan? Kau sendiri yang mengatakannya. Tikus itu hanyalah pengganggu."

Neilel tak sependapat dengan kerabat badungnya. "Tikus? Kurasa tidak," Semua mata tertuju pada Neliel. "Pangeran terbuang itu... mungkin saja... Kurosaki Ichigo. Bagaimana menurutmu, Lisa?"

Ishida terhenyak mendengar tebakan Neliel. Apakah gadis itu sengaja?

"Hah? Kenapa kau bisa berkata seperti itu? Kau mengenalnya? Kau pernah tinggal di negara yang sama dengannya 'kan?" Senna bertanya berulang kali tanpa diminta—seperti tertarik.

Gadis toska itu mengerutkan dahi. "Meskipun aku mengenalnya, aku tidak akan memberitahumu, Senna."

"Jika itu benar. Apakah Kurosaki Ichigo terlibat dengan kematian beruntun anggota Kuchiki? Apakah dia benar seorang Kuchiki? Setahuku, anggota Kuchiki selalu memiliki rambut hitam, hampir seperti identitas fisik mereka," Toushiro memutar otaknya.

"Atau... jangan-jangan... Kurosaki Ichigo menyamar sebagai seorang Kuchiki dan akan membunuh Kuchiki yang tersisa?" Hinamori mulai menduga-duga seperti Toushiro.

"Hey, jangan menjadikan seseorang sebagai tersangka jika kalian tidak memiliki buktinya, Nel-san, Toshiro, dan Hinamori-kun. Kalian bisa menimbulkan rumor yang merugikan bagi Kurosaki."

Ashido yang sejak tadi berusaha tidak ingin ikut campur terpaksa turun tangan jika sudah menyangkut salah satu anggota kelas asuhannya.

Neliel berdiri kemudian beranjak dari tempatnya saat mendengar bel masuk berbunyi.

"Kurasa, semua dugaan kita akan terjawab saat pesta nanti. Kita tunggu saja, siapa di antara kita yang menebak dengan benar. Aku bertaruh untuk tebakanku sendiri."

Ishida menatap Neliel curiga. "Dia tahu sesuatu."


XXXXXXX


"Rukia-sama! Rukia-sama!"

"Ojou-sama! Rukia ojou-sama!"

"Shit! Mau sampai kapan aku harus menunggu kalian untuk menemukan gadis itu, huh? Aku akan membawa mobilku sendiri dan pulang sekarang juga," Ichigo beranjak dan mulai menguap bosan.

"Maafkan kami, Ichigo-sama. Tolong tunggulah sebentar lagi. Ukitake-sama berpesan untuk menjemput Anda dan Rukia-sama sekaligus."

"Sial! Ke mana perempuan itu pergi? Apakah dia berusaha kabur seorang diri? Benar-benar merepotkan!" Ichigo membatin.

"Baiklah-baiklah, aku akan tidur di bawah pohon besar yang ada di sana itu," tunjuk Ichigo tepat pada pohon berdaun jingga tertinggi sebelum gerbang A-LaN. "Jika kalian sudah menemukannya, segera beritahu aku."

"Kami mengerti, Ichigo-sama. Terima kasih sudah bekerja sama dengan kami."

"Dasar bodoh, aku tidak akan bekerja sama dengan kalian jika hal ini tidak menguntungkanku."

Ichigo meninggalkan para pengawal Rukia menuju pohon besar yang menjulang hampir sejajar dengan gerbang A-LaN. Sesungguhnya, ia bisa saja pergi sekarang juga, lagi pula, ia masih bebas dan belum menjadi anggota Kuchiki resmi. Bahkan identitasnya pun masih dirahasiakan.

Ichigo selalu berangkat ke sekolah mengendarai Ferrari bekas pemberian ayah angkatnya—pria aneh bernama Urahara Kisuke. Dan ia pun tidak memiliki anjing penjaga seperti Kuchiki Rukia—sehingga pergerakannya pun tidak terbatas.

Namun kali ini, ia harus bersabar. Rukia adalah kunci keberhasilannya sekaligus mangsa yang tak ingin ia lepaskan. Jadi, tidak ada pilihan lain.

Selama berjalan menuju ke arah pohon meranggas itu, Ichigo melepas almamater A-LaN yang ia gunakan kemudian ia sampirkan begitu saja di atas bahunya. Tangan lain merogoh kotak rokok di dalam saku lalu menyulutnya.

"Grimmjow sialan," ia mengutuk sembari melonggarkan simpul dasi. "Lain kali, aku tidak akan berpikir dua kali untuk menghabisinya," geram Ichigo sembari menjilat bibirnya yang robek.

Saat Ichigo telah sampai di bawah pohon, ia berteduh sejenak sembari menghisapi batang tembakau di mulut. Ketika ia menghembuskan asap rokok ke atas, sepasang mata senja bosannya menangkap sosok seorang gadis yang sudah membuatnya menunggu cukup lama.

Sayangnya, Ichigo hanya bersikap wajar kemudian memilih untuk bersandar di badan pohon yang sama.

Ia melipat tangan di depan tubuh. "Celana dalammu terlihat olehku," Ichigo menyeringai. "Boleh juga."

"A-APA!"

Rukia berteriak keras, efek terkejut bukan main. Sejurus kemudian, ia mulai kehilangan keseimbangan tubuhnya di atas dahan yang sejak lalu ia duduki sambil melamun.

Tanpa teriakan Rukia atau tanpa permintaan Rukia, Ichigo sudah lebih dulu siaga merentangkan tangan untuk menangkap tubuh calon istrinya.

Ichigo masih menunggu jatuhnya tubuh Rukia. Namun sayang, hal yang Ichigo tunggu tak membuahkan hasil yang ia harapkan. Pemuda badung itu berhasil dibuat malu oleh Rukia lantaran sang gadis tidak jadi jatuh ke dalam pelukannya. Rukia bisa menstabilkan kembali tubuhnya di atas sana.

"Fiuh... untung saja."

Rukia menghela napas lega kemudian menatap Ichigo di bawahnya. Sebelum Rukia bisa tertawa, Ichigo menurunkan kedua lengannya yang telah merentang kemudian berteriak-teriak tak jelas.

"Sial! Kalau mau jatuh, ya jatuh saja! Kau tak perlu menahan diri seperti itu, Bodoh!"

Rukia membenahi cara duduknya. "Aku tidak yakin kau bisa menangkapku... Bodoh!" Rukia meniru cara bicara Ichigo.

Ichigo tak menduga Rukia bisa melawannya. Kali ini Ichigo terpaksa menengadahkan kepala meskipun ia harus menelan kecewa karena tidak bisa lagi melihat celana dalam Rukia.

"Hah? Kau berani juga rupanya!"

Rukia memandang Ichigo jenuh kemudian mengambil ancang-ancang untuk melompat dari atas dahan. Saat Rukia sudah menyangga tubuhnya dengan dua tangan yang tegak—Ichigo melotot tak percaya.

"Jangan bilang kau akan melom... pat?" sebelum kalimat Ichigo usai, Rukia sudah berada di atas tanah yang sama dengannya.

"Aku sudah terbiasa melakukan hal ini. Dan sayang sekali, orang baru sepertimu bisa menemukanku."

Gadis itu mulai membersihkan roknya, sedangkan Ichigo mendengus kemudian memungut kembali puntung rokok yang terjatuh ketika ia mengambil posisi menangkap Rukia beberapa saat yang lalu.

"Sial! Kau membuatku harus menunggumu. Tidakkah kau tahu bahwa pesta menyusahkan itu sudah semakin dekat?" Ichigo menghirup kembali rokoknya.

Rukia mengambil jeda kemudian menatap tanah dengan putus asa. "Apakah hal itu tidak mengganggumu? Apa kau justru... menantikannya?"

Ichigo menyeringai kemudian berjalan mendekati Rukia. "Jangan menilaiku seperti kau merendahkanku. Kau masih ingat tentang perkataanku waktu itu, bukan? Aku hanya ingin cepat-cepat bisa mencicipimu. Tidakkah kau menyadari rasa laparku yang sudah—"

Sebelum Ichigo berhasil menyelesaikan kalimat, Rukia sudah berdiri semakin dekat. Dan sebelum Ichigo menyadarinya, Rukia sudah akan menyentuh pipinya yang lebam.

"Sesuatu terjadi padamu? Kau lebam."

Sebelum tangan Ruki berhasil meraihnya, Ichigo menampik tangan itu.

"Singkirkan tanganmu. Ini bukan urusanmu."

Rukia terdiam kaget lalu tertawa tiba-tiba.

"Ternyata benar. Kau pria terburuk yang pernah kutemui. Tapi aku akan berusaha untuk tidak terlalu takut lagi kepadamu."

"Apa maksudmu? Seseorang mengatakan sesuatu kepadamu?"

"Misalnya?"

Ichigo mencengkram kedua bahu Rukia. Kedua matanya nyaris melotot sempurna. "Urahara Kisuke! Dia mengatakan sesuatu padamu?! Apa yang dia katakan kepadamu?!"

Rukia menampik kedua tangan pemuda itu kemudian kembali meniru Ichigo. "Bu-kan u-ru-san-mu."

Tidak, Ichigo tak berharap orang lain tahu tentang masa lalunya. Ichigo tidak berniat dekat dengan salah satu anggota Kuchiki yang dibencinya. Ia hanya ingin membalaskan dendam tanpa mereka tahu kejadian yang sebenarnya.

Dan setelah melihat seringai tipis di bibir Rukia, Ichigo tahu wanita itu tahu sesuatu. Sesuatu tentang dirinya.

"Kau dan aku mengalami hal yang sama... itulah yang dikatakan Urahara-dono padaku. Dia mantan anggota Noches, bukan? Urahara-dono teman baik Isshin-sama."

Ichigo memungut almamater A-LaN yang terjatuh ketika tadi ia mencengkram bahu Rukia. Selanjutnya Ichigo berjalan melewati seperti menutupi kepanikan dengan cara kabur dari gadis itu.

"Kau akan menyesal telah mengetahuinya," ancam Ichigo.

"Menurutku tidak. Bukankah hanya aku yang bisa membantumu?"

Ucapan Rukia berhasil membuat kaki Ichigo membeku.

Ia menoleh ke belakang dan melihat Rukia yang memandangnya dengan tatapan sedih. Rukia tahu mereka berdua terjebak ke dalam kubang takdir yang tak pernah mereka harapkan dan yang tak bisa mereka hindari.

Akhirnya, permainan Ichigo tak berjalan lancar seperti yang ia inginkan.

"Ini memuakkan."

Bersambung


CC :

Wah, ternyata terjadi perang pair di dalam review. Dan sepertinya ada yang salah tangkap Rukia menjadi pelacur di sini. Oh demi Tuhan, saya nggak tega bikin Rukia seperti itu. Karakter Rukia di sini lebih tepat diposisikan sebagai korban balas dendam dan perasaan kedua tokoh prianya. Jadi salahkan Ichigo dan Byakuya ya?

Mengenai pairing. SKS belum menampilakn pair di form cerita-nya. Bisa dilihat karakter mereka tidak saya beri tanda pair "[]". Saya akan menentukan pair seadil mungkin sesuai dengan dinamika cerita nanti. Kalau perlu saya matiin salah satu karakternya supaya adil. Atau mati semua? Haha, saya tidak sekejam itu ya.

Semoga SKS bisa diikuti terus. Dan maaf jika mungkin update-nya tidak menentu. /nunduk