Chapter 4 : Taeil X Doyoung

Taeil menatap arlojinya. Matanya yang biasanya bersinar perlahan mulai redup seiring berjalannya waktu. Nafasnya ia hela dengan gusar.

"Lama sekali." Decaknya. Tangan kanannya merogoh saku hoodie-nya, mencari smartphone bercase kelinci itu. Setelah menemukannya, jempolnya dengan cekatan membuka password dan mencari kontak orang yang ditunggu. Tangan kirinya sendiri mulai membuka masker yang menyamarkan identitasnya.

Suara dari ponsel membuat Taeil tersenyum agak lega. Nada sambung terdengar dan artinya ponsel seseorang itu masihlah aktif.

"Yoboseyo, hyung?"

Taeil benar benar menghela nafas lega, akhirnya. "Kamu kemana saja sih, hm? Pantai sudah memanggil-manggilmu. Jangan bergelung saja di kasur. Ayo nikmati liburanmu sebelum kita besok konser!"

"Ya, hyung! Pinggangku masih sakit bekas kemarin.."

"Jangan salahkan hyung, kamunya bikin hyung nafsuan. Ayo! Lagipula Nishikinohama terlalu berharga untuk kita lewatkan, tahu."

"Nishikinohama? YAA! Hyung kok ngga ngajak ngajak sih! Aku kan udah lama pengen kesana!"

Taeil tertawa, pastilah seseorang diseberang sana sedang cemberut, ngambek sama Taeil. "Tadi udah hyung bangunin kamu, kamunya nggak mau. Pas hyung bilang kalo hyung mau pergi, kamu bilang kamu bakal nyusul nanti. Yaudah hyung tinggal."

"AAAAA! Eh, tapi kan Pantai Nishikinohama di Kaizuka kata Yuta hyung, pasti jauh." Taeil makin tertawa kencang, sambil merasakan hembusan angin pantai yang nyaman.

"Kaizuka itu masih di Osaka, sayang. Lagipula tak sampai 10 menit kok dari hotel kita kalau berjalan kaki. Kamu juga gabakal nyasar, soalnya tinggal ikutin jalan raya aja," Taeil melangkahkan kakinya yang hanya terbalut celana pendek mendekati laut, memperhatikan matahari yang terlihat lelah dan ingin segera beristirahat. "Ayo, sunset-nya bagus loh. Nyesel deh nanti kalo ga kesini."

"SPG banget sih. Iya iya aku kesana. Tapi agak lama ya soalnya gabisa aku jalan terlalu cepet.."

"Iya iya. Sana cepet siap siap. Kamu pake celana pendek aja, terus jangan pake sepatu, nanti juga dilepas soalnya."

"Siap!"

.

.

Tak sampai setengah jam kemudian, Taeil merasakan tangan mungil menutupi pandangannya, membuat Taeil tak bisa menahan senyum.

"Hayo tebak, siapa?"

Taeil melepas tangan mungil tersebut. "Doyoung, lamu gausah main tebak tebakan gini. Masa aku gakenal pacar sendiri jadi harus nebak?"

Doyoung tertawa, lalu menaruh dagunya di bahu lebar Taeil. Tangannya ia biarkan menjuntai di masing masing bagian bahu Taeil. "Iya iya."

Taeil menoleh kearah kanan, lalu tiba tiba mencium pelipis yang tertutup surai hitam kecoklatan milik kekasihnya. "Gimana, Nishikinohama nggak bikin kecewa kan?"

Doyoung menggeleng, matanya tak lepas dari hamparan air jernih dan matahari yang mulai pulang ke peraduan hingga tak sadar tangan Taeil mengenggam tangannya erat. Bagaimana mau lepas, kalau pemandangan seindah itu terpampang di depan mata? "Aniya! Benar kata hyung dan Yuta hyung, pemandangannya indah sekali.."

"..Badaboda yeppeun yeppeun, neoui jageun soneul japgo japgo. Gateun kkumeul kkuneun, yeogin paradise paradise, para dise dise dise.."

Membandingkan pada laut yang cantik, menggenggam tangan kecilmu. Bermimpi pada mimpi yang sama, ini adalah surga.

Doyoung mengalihkan tatapannya ke Taeil yang sekarang malah menatap lurus ke arah laut didepan mereka. Taepi Taeil sama sekali tak sadar dan masih terus bernyanyi.

"..Byeolbitboda balkeun balkeun, neoui misoga nan joha joha. Gateun kkumeul kkuneun, yeogin paradise paradise, para dise dise dise.."

Membandingkan pada bintang yang semakin terang, aku menyukai senyummu. Bermimpi pada mimpi yang sama, ini adalah surga.

Doyoung mulai menatap laut kembali, melihat matahari akan benar benar tenggelam. Bintang-bintang mulai menampakkan diri, menggantikan cahaya matahari yang mulai meredup.

"..Yeogi pureun island, nae ane siwonhage bureowa. Neoreul talmeun i island, dulmani deutneun padosoriwa. Nuni busin island, ireoke banjjagineun moraewa. Neowa geotneun island, ireoke i yeoreumeul chaewoga.."

Pulau berwarna biru ini secara menyegarkan memanggilku untuk datang, pulau yang menyerupai dirimu. Hanya kita berdua yang mendengar deruan ombak, pulau yang berkilauan, dengan pasir yang bersinar. Sebuah pulau untuk berjalan bersamamu, mari menghabiskan musim panas seperti ini.

Doyoung menutup matanya perlahan, menikmati moment-moment langka yang bisa mereka rasakan. Berduaan di pantai menikmati sunset bagi pasangan mungkin terdengarlah biasa. Tapi bagi Taeil dan Doyoung, ini sama sekali bukanlah biasa. Kesibukan keduanya membuat mereka tak punya banyak waktu berdua untuk menikmati waktu yang beranjak pergi.

"..Gieok sok jeo pyeone namaitneun, pogeunhan geu norae norae, bureooneun baram tago, negero negero jigeum dallyeoga."

Pada kenangan kita yang tetap hidup pada lagu pengungkapan cintaku, pergi dengan embusan angin, ke arahmu aku berlari.

Taeil mengakhiri nyanyiannya dengan memangut bibir Doyoung lembut, tanpa nafsu. Hanya ada cinta yang tulus dan besar. Doyoung maupun Taeil menutup mata, merasakan apapun yang tersalur dalam ciuman manis itu.

"Aku mencintaimu, Kim."

"Aku juga, hyung."

Author's note :

Maafin ini absurd sangat. Mudah mudahan manis yak. Semanis cinta Jaehyun ke Taeyong. WKWKWKWKWKWKWKWKWK. Dan makasih buat aegiji yang mau ffnya ini dibajak sama aku, HUAHAHAHAHAHAHA /evil laugh with Jisungie/

-takoyutaki