Chapter 4 – Him
War, Love, and Friendship.
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
WARN – Bahasa kasar, Adegan Kekerasan, OOC, Typo, BloodScene, Supernatural! AU, Fantasy, Romance, Drama, dan sejenisnya.
"Okaa-sama, aku rindu padamu, cepatlah kembali."
Pemuda bersurai biru itu menundukkan kepalanya sembari tetap memegang gagang telepon yang berada di genggamannya. Perasaan sedih dan kecewa terasa ketika ia mendengar kabar buruk yang tak lain dari ibunya sendiri.
"Maafkan aku, Tetsuya-chan… Tetapi tampaknya aku takkan kembali.."
Suara parau terdengar dari gagang telepon tersebut, yang langsung menyalur kedalam gendang telinga Kuroko. Kuroko mengingit bibir bawahnya kuat-kuat, mengingat bahwa ibunya akan meninggalkannya tanpa sepengetahuannya, dan untuk selamanya.
"Sebelum Okaa-sama sepenuhnya takkan kembali.. Aku ingin kau bergembira, Tetsuya.."
Sebuah bisikan lembut yang keluar dari ibunya itu membuat darahnya berdesir. Sekuat tenaga untuk tidak menangis, Kuroko mengangguk, meskipun hal itu takkan dilihat oleh ibunya. Ia berusaha sekuat mungkin utuk terlihat tetap bahagia, untuk tidak membuat ibunya merasa terbebani.
"..Okaa-sama bangga padamu. Tolonglah, bergembiralah dengan orang yang mencintaimu dan juga yang kau cintai.. Okaa-sama sayang padamu,"
"Okaa-sama.."
Hembusan nafas, badan lelah, sayatan, Kuroko bingung bagaimana untuk menjelaskan situasi yang dialaminya. Masihkah ia bernafas, ataupun kemana jalannya perginya ia tak tahu. Membiarkan insting dan kaki mungilnya itu menuntunnya pergi menjauh dari orang yang tak ingin ditemuinya.
Basah. Kuroko menggigil, sembari berusaha untuk menahan dingin yang di sekujur tubuhnya. Ia merutuki cuaca yang sedang hujan pada saat waktu yang tidak tepat. Andai jika ia menjadi seorang dewa, ia akan membantu orang-orang yang bernasib sama pada dirinya.
Tapi sayang sekali, ia bukan seorang dewa, namun melainkan seorang manusia biasa.
Langkah kakinya kembali menyusuri jalanan berliku-liku yang merupakan tantangan terbesarnya. Terkena sampah berkali-kali, jalanan yang menunjak, ataupun terkena kaleng cat atau sesuatu. Bahkan ia tak tahu dimana orang yang mengejarnya tadi, entah ia sudah berhenti mengejar Kuroko atau tidak.
Okaa-sama..
Kuroko mengenggam erat liontin perak yang bertengger di lehernya. Liontin itu merupakan satu-satunya peninggalan ibunya yang ia miliki, dan merupakan pembawa keberuntungan, yang seperti ibunya terangkan sewaktu ia masih balita. Doa-doa ibunya tertuang dalam liontin lama itu, dan Kuroko tak bisa menyia-nyiakan doa-doa pembawa berkah oleh ibunya kepada Tuhan yang ditujukan untuk dirinya.
Kuroko menoleh kebelakang, berharap pemuda itu masih berada di belakangnya. Tidak, bukan maksudnya Kuroko untuk membiarkan pemuda itu mengejarnya terus menerus, tetapi hanya saja jika pemuda itu luput dalam sudut pandangnya, maka sama saja membawa dirinya kedalam malapetaka, apalagi didalam gang sempit seperti ini.
Manik aquamarine nya menelusuri setiap sudut-sudut lorong dibelakangnya secara cepat, namun teliti. Sial! Orang itu tak berada dibelakangnya, kemana perginya orang itu? Apakah orang itu masih mengikutinya, atau memutuskan untuk berhenti?
Beberapa detik kemudian, ia menyesal karena telah menengok kebelakang dan membuat pikirannya memikir hal-hal sepele seperti itu. Ia menjadi tak fokus pada jalanan yang berada didepannya, dan membuat dirinya tertabrak oleh seorang pemuda dan terjungkal kebelakang.
Dengan cepat Kuroko mengangkat wajahnya, berharap bukanlah orang yang mengejarnya yang ditabrak olehnya. Tetapi sayangnya, ketika ia melihat manik abu-abu yang sangat dikenalinya, sekujur tubuhnya merinding. Tampaknya keberuntungan sedang tidak berpihak padanya.
Berusaha untuk memberanikan dirinya, manik aquamarine Kuroko menatap lurus ke dalam manik abu-abu yang menghalangi sinar matahari yang mau menerpanya. Tetapi apa yang dilakukannya sia-sia, justru dirinya mundur beberapa langkah menjauhi pemuda itu.
"Ha-Haizaki-kun.. To-tolong hentikan ini.."
Jantung Kuroko terasa ingin copot ketika ia memberanikan dirinya untuk berkata kepada pemuda dihadapannya, Haizaki Shougo. Terlebih lagi, Haizaki memandang Kuroko dengan tatapan tidak suka, tak enak dengan perkataan yang ditujukan kepadanya. Sungguh, Kuroko terlihat seperti seorang gadis ketika hendak ingin dibunuh oleh orang-orang yang ingin memutilasi dirinya.
"Tch, untuk apa aku menghentikan permainan yang menurutku dapat menghiburku, Tetsuya?"
Haizaki berdecak kesal sembari memandang kembali Kuroko dengan tatapan tidak wajar, atau bisa Kuroko bilang, mata seorang iblis. Manik abu-abunya itu seakan-akan berkilat tajam kearah Kuroko, seperti menyuruhnya untuk tidak melakukan hal yang tidak sesuai kehendaknya.
Haizaki dengan kasar menarik kerah seragam Kuroko, dan mengangkatnya keatas hingga Kuroko bisa merasakan dirinya tidak menyentuh permukaan tanah. Dengan sekali sentakan, Haizaki menghantamkan Kuroko keras menuju permukaan dinding yang masih terbuat dari batubata, membuat Kuroko merasa tubuhnya remuk dalam sekejap.
Haizaki kembali mengangkat kerah Kuroko, tetapi kali ini tidak membantingnya. Ia meraba-raba kulit putih susu di leher Kuroko, tak sabar untuk menggoreskan kulit putih itu dengan darah milik Kuroko sendiri, membentuk sayat-sayatan yang dihasilkan oleh Haizaki. Ia mendekatkan kepalanya hingga berdekatan dengan telinga Kuroko, dan kemudian berbisik pelan.
"Aku sedang kesal, Tetsuya. Hibur aku.."
"Kuroko Tetsuya, 13 Tahun. Seorang manusia? Yang benar saja, nanodayo?"
Pemuda bersurai hijau itu menatap aneh kepada pemuda bersurai merah dihadapannya sembari menekankan kata 'manusia' didalam perkataannya. Tak percaya sekaligus ingin tahu tersirat di manik zamrudnya, meskipun Midorima takkan mengatakannya secara frontal karena terlalu tsundere. Namun entah mengapa, perkataan Akashi itu membuat Midorima penasaran.
"Aku mengatakan sejujurnya, Shintarou. Dia adalah seorang manusia," ucap Akashi tenang.
Perkataan yang dikeluarkan oleh Akashi tetap tak membuat rasa penasaran Midorima membuncah, dan justru ia tak merasa puas dengan jawaban singkat Akashi. Rata-rata klien yang Akashi terima adalah seorang iblis kuat, ataupun terkadang menyuruh sekelompok Centaur yang lemah. Tetapi kali ini Akashi menerima sebuah tugas dari klien untuk menjaga seorang manusia? Yang benar saja!
"Kau tertarik pada seorang manusia nanodayo?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Midorima membuat Akashi menaikkan mengernyitkan dahinya heran. Merupakan sebuah kebohongan jika Akashi tak penasaran dengan Kuroko Tetsuya, tetapi apakah sampai hal kecil seperti itu dapat mengejutkan Midorima? Memang seperti apa dirinya biasanya?
"Sebegitukah kau kaget, Shintarou? Cepatlah cari data tentang anak itu." Ucap Akashi mengalihkan topik.
Midorima yang mendengarkan perintah Akashi itu hanya bisa menggeram pelan dan kemudian mencari data dirak-rak biodata yang dimilikinya. Hei, dirinya juga bingung mengapa dirinya bisa seantusias seperti ini, bahkan hampir melupakan ke tsundere-an nya yang terjadi secara reflek.
Manik zamrudnya kembali mengobrak-ngabrik setumpuk kertas di lacinya, dan mencari pada nomor urut "K" yang terdepan. Mengurut nama-nama disana hingga menemukan nama target yang dimaksud hingga baris terakhir. Namun, ia tak menemukan nama "Kuroko Tetsuya" yang dimaksud oleh pemuda bersurai merah itu.
"Akashi, apakah kau yakin Kuroko Tetsuya yang kau sebutkan adalah seorang manusia nanodayo?" Tanya Midorima bingung.
Akashi mengangguk. Sebuah kernyitan heran kembali muncul di dahi Midorima ketika mendapat balasan dari Akashi. Aneh, ia tak menemukan data secuil pun tentang Kuroko Tetsuya. Apakah para dewa tidak menganggap seorang Kuroko Tetsuya adalah seorang manusia?
Midorima kemudian berjalan menuju mejanya, dan lalu meraih gagang telepon berwarna putih dan kemudian menekan nomor-nomor disana untuk menelpon asistennya sekaligus adik, Midorima Shinou. Tetapi jawaban yang didapatkan oleh Midorima tetap saja tak membuat segala suatu berubah, masih tetap tak ada clue secuil pun.
"Kau tak mendapatkan informasinya, Shintarou?" Tanya Akashi tajam.
"Aku tak menemukannya, Akashi. Apakah kau tahu apa nama sekolahnya? Kemungkinan saja aku bisa mencarinya." Jawab Midorima cepat sembari mulai mengutak-ngatik sesuatu dileptopnya. Akashi dengan cepat meraih ponsel merahnya, dan kemudian melemparnya kearah Midorima tanpa takut ponsel itu rusak terjatuh atau apa. Dan ponsel itu sukses mendarat di kedua tangan Midorima.
Setelah beberapa menit mengakses, Midorima memutar leptopnya untuk menghadap kearah pemuda bersurai merah. Didalam layar leptop itu, ditampilkan seorang pemuda bersurai biru dengan manik aquamarine yang jernih, dan begitu pula dengan data-data disebelahnya yang tampaknya tidak terlalu sempurna, masih ada kekurangan.
Akashi menyeringai kecil seraya bangkit dari tempat ia duduk,
"Shintarou.. Aku membutuhkanmu,"
"Dasar brengsek, manusia tak berguna!"
Haizaki melempar tubuh mungil Kuroko kedinding, membuat Kuroko kembali merasakan sakit yang luar biasa. Pakaiannya yang semula rapi sudah tak terlalu bisa dikatakan sebagai pakaian yang layak. Kulit putih susunya itu kini sudah terobek-robek, penuh sayatan. Entah bagaimana pemuda mungil itu berhasil hidup.
"Kkh.."
Untuk berbicara saja, rasanya mustahil bagi Kuroko. Seakan-akan suaranya tercekat ditenggorokannya, menghalangi akses untuk berbicara. Tulang punggungnya ia rasa sudah patah sejak tadi, ataupun wajahnya yang dipenuhi lebam kebiru-biruan. Sakit, seperti dikuliti perlahan-lahan.
"Ha..iz..aki-kun, he-henti..kan.."
Ia mual. Ia lelah. Ia ingin kembali merenggut kebebasan yang ditarik secara paksa darinya.
"Kau pikir aku akan berhenti? Aku takkan peduli jika kau mati, Tetsuya." Ucap Haizaki sinis.
Haizaki mengayunkan tongkat baseball nya dan melayangkannya kearah Kuroko, memukulnya telak diperut. Kuroko kemudian terbatuk-batuk, dan mengeluarkan sedikit darah kental di sudut bibirnya yang sudah membengkak.
Namun, ketika ia hendak pasrah terhadap nasibnya, sebuah sosok tak dikenal tiba-tiba muncul entah dari mana dibelakang Haizaki, dan menendangnya kesamping dengan keras hingga terpental kedinding. Pemuda bersurai merah itu menatap Haizaki kesal, sebelum dirinya mengulurkan tangan kepada Kuroko seraya memberinya senyuman lembut.
"Aku, Akashi Seihuurou. Akan menyelamatkanmu."
Entah Kuroko sedang bermimpi atau tidak—ia yakin, ia melihat sepasang sayap malaikat dibalik pemuda itu yang berkepak perlahan, mengangkatnya menuju langit sebelum kesadarannya perlahan-lahan menghilang sepenuhnya.
Halo.
Sudah updet~ Silakan nikmati. Maafkan atas bahasa dan alurnya yang aneh.
Yang berharap chapternya lebih banyak, maaf ._.
Rou hanya bisa mengetik maximal 1k, dan itu pula dipaksakan. Maafkan Rou!
Lagi punya mood nulis, jadi awalannya cara nulisnya sedikit berbeda. Tetapi sewaktu di akhirannya terkena WB. *nangis* /gak
Terima kasih yang sudah mau mereview, Rou terhura *nangis haru* /hei
..Review?
