Dearkimkai presents:
Jongin Next Door
Oh Sehun – Kim Jongin
Warn! DLDR guys!
Because this is
Boylove and CrackPair!
.
.
Jongin bangun dari tidurnya, ia melihat kesamping ternyata sehun sudah tidak ada. Laki-laki itu selalu bangun lebih awal dibanding dirinya, ia selalu kalah start.
"Sudah bangun?" Sehun terlihat tengah mengeringkan rambut hitamnya yang masih basah dan segar. Dan selalu saja seperti ini, setiap pagi Jongin selalu disuguhi tubuh telanjang Sehun. Maaf ralat, tidak sepenuhnya telanjang. Bagian bawah masih tertutup rapi dengan handuk putih yang melilit dipinggang. Jangan berfantasi liar.
"hmm" hanya gumaman yang keluar dari bibir Jongin, oh kenapa pipinya terasa panas di pagi yang sejuk ini. Buru-buru jongin menyibakkan selimutnya dan membuang segala pikiran anehnya saat ia melihat jam meja yang sudah menunjukan pukul enam pagi.
"Kau mau kemana?!" Pekik Sehun lalu buru-buru mendekati Jongin dan menahan tubuhnya yang berniat menuruni ranjang.
"Aku ingin mandi, aku bisa terlambat sekolah hyung" Jawab Jongin agak bingung dengan sikap Sehun yang terlihat sangat khawatir.
"Hari ini kita kedokter untuk memeriksa kakimu yang terkilir, kau tidak perlu masuk sekolah terlebih dahulu hari ini"
"Ahhh ya" Jongin melihat kakinya yang terbalut kain kaos milik Sehun dengan motif garis-garis horizontal hitam, ia ingat jika kemarin dirinya terjatuh dari balkon kamarnya.
"Tapi aku tetap harus mandi"
"Ya, baiklah kau bisa berendam dalam bathup itu cukup aman untuk kakimu" Sehun melingkarkan tangannya pada pinggang Jongin, menyampirkan lengan kanan pemuda yang lebih muda itu pada pundaknya lalu membantu Jongin berdiri dari ranjang dan memapahnya perlahan menuju kamar mandi. Mungkin jika Jongin perempuan ia akan memekik girang, karena demi tuhan! kini tubuhnya benar-benar bergesekan dengan tubuh shirtless Sehun, bahkan jemarinya tengah menyentuh pundak kokoh yang masih terasa dingin itu.
Jongin menghentikan gerakannya dan itu membuat langkah Sehun juga ikut berhenti lalu menatap bingung wajah pemuda manis disampingnya. "Hyung ingin memandikanku?" Jongin sedikit berdehem. Sedangkan Sehun dibuat sedikit kaget dengan pertanyaan ambigu Jongin. Mereka sudah didepan bath up anyway.
"Tentu saja tidak" Jawab Sehun cepat. Jongin terkikik geli.
"Kalau begitu hyung bisa keluar sementara aku mandi"
"Ah Baiklah" Sehun terlihat kikuk dan melepaskan tangannya dari pinggang Jongin dengan hati-hati.
.
Tao menatap gelisah pada bangku pojok nomor dua dari depan yang masih kosong, ini sudah hampir jam masuk sekolah tapi waktu masih harus menyuruhnya bersabar, ia langsung berdiri dari kursinya saat Byun Baekhyun memasuki kelas.
"Dimana Jongin?" tanyanya tanpa membiarkan pemuda Byun itu duduk terlebih dahulu.
"Apa urusanmu? Minggir" Baekhyun mendorong pundak Tao untuk segera menyingkir dari hadapannya.
"Hey Byun, tinggal menjawab saja apa susahnya?"
"Aku tidak akan menjawab pertanyaan dari musuh temanku" Baekhyun meletakkan tasnya dan duduk dengan tenang. Tao berusaha menekan amarahnya, karena hanya namja pendek dihadapannya ini yang bisa memberikan informasi tentang jongin.
"Baek, jangan memancing masalah" Tao berucap sedikit pelan. Baekhyun melirik dengan ekor matanya yang sipit itu, otaknya berfikir untuk mempertimbangkan apakah ia perlu memberi Tao atau tidak. Tapi toh ujung-ujungnya nanti dia juga akan memeberitahu wali kelasnya dan seluruh teman sekelasnya akan tahu.
"Dia sakit" dan jawaban dari bibir tipis itu langsung membuat Tao membulatkan matanya.
"Jongin sakit? Apa? Dia sakit apa? Kenapa dia bisa jatuh sakit?" Tao segera mengambil posisi duduk disamping Baekhyun dan memberondong berbagai pertanyaan.
"Hentikan itu bodoh, kakinya terkilir karena terjatuh dari balkon kamarnya" Bekhyun akhirnya menjawab pertanyaan Tao dengan intinya.
Bukannya berterimakasih atas informasi yang diberikan oleh Baekhyun, pemuda china itu justru langsung keluar dari kelas tanpa sepatah katapun. "Apa-apaan anak itu" desis Baekhyun sebal.
.
Sehun keluar dari mobilnya, berlari kecil dan membukakan pintu penumpang.
"Ah tunggu sebentar," ia segera membuka pintu mobil belakang dan mengambil sepasang kruk baru.
"Ini sangat merepotkan" Jongin menggurutu menerima sepasang kruk dari Sehun dan mulai memposisikannya dibawah ketiak kiri kanannya. Sedangkan Sehun sudah siap siaga disampingnya untuk berjaga-jaga jika Jongin kesusahan berjalan.
"Aku bisa hyung, tenang saja" Sehun hanya mengangguk namun ia tetap saja berjalan disamping pemuda tan tersebut dengan kedua tangan yang terangkat mengambang – hampir menyentuh pundak Jongin- seperti menjaga keseimbangan barang dengan hati-hati, dan Jongin hanya memutar bola matanya bosan.
Sehun membuka pagar rumah dan membiarkan Jongin berjalan terlebih dahulu, ia memandang sekitar dengan mata memicing tajam seolah tengah mengaktifkan semua inderanya.
"Ada apa hyung?" Jongin menyadari Sehun yang masih berdiam diri diluar pagar.
"Tidak, ayo masuk"
.
Pemuda bermata panda itu menghela nafas lega, ia hampir saja ketahuan jika tengah mengamati Jongin dari balik pohon yang berjarak 50 meter dari rumah Sehun. Setelah mendengar kabar dari Baekhyun tadi ia langsung melesat pergi membolos sekolah.
"Bagaimana si bodoh itu bisa terjatuh dari balkon?" tanyanya entah pada siapa.
"dasar bodoh" ia masih mengamati bagaimana kaki Jongin yang kesusahan berjalan karena kaki kirinya diperban dan harus menggunakan kruk.
"Tapi kenapa Jongin tidak masuk kerumahnya sendiri? Ah bukankah Ajushi itu adalah wali Jongin?" mata tajam Tao masih mengamati gerak-gerak Jongin dan Sehun, sampai keduanya benar-benar hilang dari pandangan pemuda yang memiliki kulit serupa dengan milik Jongin.
Sedangkan didalam rumah Sehun tengah membantu Jongin untuk duduk diatas sofa, "Aku bisa sendiri hyung" Jongin jadi gemas sendiri dengan perhatian Sehun yang memperlakukannya seperti orang lumpuh saja, padahal ia hanya terkilir dan ia punya kruk yang cukup untuk membantunya.
"Hehehe," Sehun justru hanya meringis canggung dan menggaruk pelipisnya, ia juga tidak tahu kenapa dirinya begitu khawatir terhadap pemuda tan yang sebelumnya ia klaim sebagai remaja yang begitu merepotkan.
"Hyung tidak pergi ke kantor?"
"Tidak, aku meminta ijin untuk tidak masuk kantor hari ini" Jawab Sehun sambil mengambil kruk Jongin dan meletakkannya disamping lengan sofa.
"Boleh ya seperti itu?"
"Tentu saja boleh, lagipula jatah cutiku masih banyak" Sehun meraih remote televisi dan duduk nyaman disamping Jongin. Keduanya terdiam mengamati layar televisi yang berganti-ganti channel karena Sehun tidak bisa menemukan acara yang bagus. "Kau tidak keberatan menonton acara memasak?" Sehun menoleh kesamping.
"Sepertinya tak ada pilihan lain" Jongin terkekeh pelan.
LED berukuran 32 inch itu menampilkan bagaimana terampilnya tangan seorang chef laki-laki yang masih muda tengah mengiris bawang dengan sangat rapi, cepat, dan tepat. Tapi kedua laki-laki yang tengah menonton itu tak ada yang tertarik, bahkan yang lebih muda terlihat menguap beberapa kali.
Sehun menoleh kesamping, lalu mengusap kepala Jongin dengan sayang dan menariknya hingga berada tepat diatas pundak lebar miliknya. "Tidurlah," ucapnya santai dengan senyum tipis yang tersemat diwajah tampannya.
Sedangkan Jongin ia bahkan masih menahan nafasnya dengan mata yang membulat sempurna, ini terlalu tiba-tiba. Maksudnya, perhatian manis Sehun yang membuat jantungnya bertalu-talu dengan desiran aneh yang menyenangkan, rasanya begitu begitu canggung tapi mendebarkan. Apa ini? Kenapa begini? Jika begini mana bisa ia tidur!
.
Setelah kemarin ijin sakit selama tiga hari, kini Jongin memaksa untuk masuk sekolah dan hebatnya Sehun mengantarkan dirinya hingga depan kelas. Ini berlebihan menurut Jongin, kakinya sudah lebih baik bahkan kini ia hanya memakai satu kruk tapi memang yang namanya Oh Sehun keras kepala dan tidak mau kalah akhirnya ia harus rela menundukkan kepala sepanjang perjalanan karena, sumpah ya dia terlihat seperti lelaki lemah.
"Jongin!" Seru Baekhyun yang baru saja masuk kelas dan begitu girang mendapati teman sebangkunya yang sudah kembali masuk sekolah.
"Hai" Balas Jongin cengengesan.
"Bagaimana keadaanmu?" mata sipit baekhyun menelusuri kaki kiri Jongin yang masih diperban. "Apa sakit?" ia meringis membayangkan bagaimana Jongin jatuh dari balkon.
"Tentu saja sakit, tapi sudah tidak apa-apa"
"Maaf ya tidak menjengukmu" ujar Baekhyun dengan wajah sedihnya.
"Hentikan itu Baek! Aku tidak patah kaki" Jongin memutar bola matanya malas mendengar nada sedih yang dibuat-buat oleh sahabatnya itu dan disusul kekehan Baekhyun menggelitik telinganya.
"Kau tau, selama tiga hari kau tidak masuk sekolah si Huang itu selalu bertanya kepadaku tentang keadaanmu. Terdengar sangat tidak biasa, aku rasa ia menyukaimu Jongin." Pemuda tan itu mendelik mendengar penuturan sahabatnya yang dirasa sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa ia berpikiran jika Tao si pencari masalah itu menyukai dirinya, mitos apalagi ini.
"Jangan membuat masalah baru, Baek!" Jongin dengan tega menggeplak kepala sahabatnya itu.
"Ya! aku tidak sedang membuat masalah, aku berbicara sesuai keadaan!" pemuda dengan milky skinnya itu menggerutu sambil mengusap usap kepalanya. Jongin mendengus kasar.
Tak lama setelah itu, orang yang jadi topik pembicaraan mereka datang memasuki kelas dengan wajah bosan hidupnya itu, tapi langsung tampak sumringah saat melihat kebangku Jongin.
"Hei anak mama! Kau masuk sekolah juga rupanya, kukira kakimu tak bisa berjalan lagi" helaan nafas lelah terdengar dari bibir Jongin, ia melirik Baekhyun dengan pandangan ini yang dibilang jika Tao menyukainya?
"Aku sedang tak ada waktu untuk meladenimu, pergi sana" Jongin mengeluarkan buku-bukunya dan meletakkan diatas meja, ia mengabaikan kehadiran Tao yang masih berdiri di sisi kanan tubuhnya dengan mata yang menelisik perban di kaki Jongin.
"Baiklah, cepat sembuh" Tao melewatinya dengan menyisakan Jongin yang tercengang mendengar ucapan terakhir pemuda asal Tiongkok itu.
.
Jongin menggerak-gerakkan kaki kananya yang tidak sakit, dirinya tengah menunggu Sehun yang berjanji akan menjemputnya hari ini, ia sendirian di pos security karena sahabatnya Baekhyun harus mengikuti kelas vocal sampai sore.
"Menunggu ahjussi sebelah rumahmu?" Jongin mendengus mendengar suara tengil yang sungguh sudah akrab ditelinganya. Ia hanya melirik dari ekor matanya terlalu malas menoleh pada lelaki yang hanya berjarak semeter darinya.
"Mau apa kau disini? Ingin mengejek lagi? Tidak mempan" Jongin semakin tak sabar menunggu kedatangan Sehun sekarang, ia terlalu malas meladeni musuhnya ini.
Tao justru terkekeh mendengar ucapan Jongin yang entah kenapa selalu terlihat lucu jika ia sedang bersungut-sungut seperti itu, ia melangkah mendekat.
"Jangan dekat-dekat!" Jongin sudah ancang-ancang mengangkat kruknya hendak memukul si Tao yang berjalan semakin dekat kearahnya. "Kubilang jangan dekat-dekat!" dan Tao justru tergelak mendengar teriakan Jongin yang sungguh siapapun yang mendengar akan mengira Jongin adalah seorang gadis.
"Hey santai saja, kau berteriak seakan aku ingin menculikmu" masih dengan sisa sisa tertawanya, Tao berjongkok melihat kaki Jongin yang diperban. "sakit?" Tao mendongak menatap Jongin yang juga sedang menunduk lalu menarik kaki kirinya.
"Tentu saja" Jongin memutar bola matanya malas.
"Dasar bodoh!" Tao terkekeh tapi pandangan matanya tetap mengarah pada kaki Jongin yang dibebat, pandangan yang menyiratkan banyak kekhawatiran yang tidak akan pernah Jongin sadari.
"Jongin?" kedua remaja SMA itu mendongak melihat siapa yang datang, itu Sehun yang terlihat tampan dengan kemeja navy yang digulung hingga siku. Tatapan matanya mengarah pada Tao yang masih berjongkok didepan kaki Jongin
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sehun dengan mata menyipit tajam, kedua tangannya berada didalam saku celananya. Terlihat santai namun penuh dengan intimidasi.
"Tidak ada" balas Tao datar dan berdiri dari posisinya. Keduanya – Sehun dan Tao- saling melemparkan tatapan tajam dan tidak ada yang berniat mengakhiri ketegangan diantara mereka sampai deheman Jongin menyadarkan keduanya.
"Ayo Jongin kita pulang," Sehun menyentuh lengan kanan Jongin yang bebas dan menuntunnya pelan menuju mobilnya yang berada diluar gerbang sekolah.
"Apa dia mengganggumu lagi?" Tangan Sehun mulai mendorong perslening lalu menginjak gas mobil meninggalkan sekolah Jongin dengan menyisakan aroma tipis bahan bakar gas.
Jongin tertawa kecil, "Tidak, dia tidak menggangguku" lalu menolehkan kepalanya pada Sehun yang fokus menyetir. "Kenapa Hyung terlihat marah tadi?"
"Apa? Aku?" Jongin mengangguk.
"Aku tida marah, aku hanya menakutinya" jelas Sehun dengan memutar kemudi kekanan.
"Untuk apa menakuti Tao?"
"Agar dia tidak mengganggumu, Jongin"
Jongin mendengus mendengar alasan Sehun, "memangnya aku anak kecil"
"Kau memang"
Jongin merenggut, "Aku tidak"
"Kau iya,"
"Tidak."
"Ya, kau anak kecil yang memang harus dilindungi" ucapan Oh Sehun terdengar seperti kampanye di peringatan hari anak dunia.
"Apa ini karena permintaan ibuku?" Jongin menatap sisi kanan wajah Sehun, raut wajahnya begitu kentara mengharapkan jawaban dari pria muda berkulit pucat tersebut. sedangkan Sehun diam beberapa saat, ia menoleh kesamping dan tatapannya bertumbukan dengan mata bulat Jongin yang terlihat sangat indah diterpa sinar matahari yang menerobos kaca mobilnya.
"Hyung?" Jongin mulai menuntut jawaban. Dan Sehun mulai gamang dengan jawabannya, apakah benar semua hal yang dilakukan untuk Jongin selama beberapa hari ini semata-mata karena sebuah tanggung jawab? Atau memang ada sebagian dari diri Sehun yang ingin melindungi Jongin?
"Mungkin itu salah satunya," Jawab Sehun mengalihkan pandangannya kembali pada jalanan.
"Jika begitu, ada salah keduanya. Apa itu?"
"Kau terlalu banyak bertanya, Jong"
.
Sudah satu minggu lebih Jongin tinggal dirumah Sehun, mereka terlihat begitu menggemaskan untuk menjadi kakak – adik, dan terlalu manis untuk terlihat seperti sepasang kekasih. Sekarang setiap pagi Jongin akan membantu Sehun menyiapkan sarapan, meskipun hanya menuang susu dalam gelas dan juga meletakkan makanan dipiring setidaknya ia sedikit memberikan kontribusi, lalu sarapan bersama dan Sehun akan mengantarkan Jongin pergi kesekolah, malam harinya Sehun akan menemani Jongin belajar dan berakhir Sehun yang frustasi karena kebodohan Jongin dalam matematika, tapi pada akhirnya Sehun selalu menemani Jongin untuk tidur bersama, memeluknya untuk berbagi kehangatan yang nyaman. Dan Jongin akan selalu melupakan kejengkelannya pada Oh Sehun yang boosy ketika ia sudah tidur berada dibawah ketiak pria muda bertubuh atletis itu.
"Jongin," Sehun memanggil pelan pemuda tan yang saat ini tengah memejamkan mata, tidak ada sahutan, lalu Ia mencoba menusuk-nusuk pipi tembam Jongin dan tersenyum geli saat melihat raut wajah Jongin yang memberenggut karena merasa tidurnya terganggu. "Cepat sekali tidurnya, dasar beruang"
Sehun kembali tersenyum, ia mengamati wajah Jongin yang begitu polos saat tertidur. Matanya yang segaris dengan bulu mata halus, hidungnya mungil dan terlihat lucu, serta bibirnya yang benar-benar mengundang untuk digigit. Apa? Sehun segera mengenyahkan pikiran kotornya, sungguh tidak seharusnya ia memiliki pikiran kurangajar seperti itu, tapi Jongin dengan segala yang ia miliki memang mampu mengundang siapapun untuk datang. Tangan kiri Sehun yang bebas megusap rambut Jongin dengan sayang, lalu mengecupi puncak kepala Jongin kecil-kecil, menghirup aroma rambut bercampur shampoo yang berpadu menguarkan aroma khas Kim Jongin.
"Kini aku semakin tidak yakin, jika aku hanya melidungimu karena permintaan nyonya Kim" Sehun tersenyum sebelum ia benar-benar menutup matanya.
To be continue...
.
Thanks to :
Nabilapermatahati,ohkim9488, , jjong86, onlysexkai, park rinhyun-uchicha, chanzhar, rei14, nadis, soororo, putri 836, asmaul, kim jongin kai, novisaputri09, tobangga garry, adindanurmas, kainieris, geash, hseong94, steffvaro22, cute, babycevy67, hunkailovers, youngimongi, gray, gurlbie, arkunakim, boomie92, husnus28, guest, krisnaanggadewi, langit senja, blissfulxo, ucinaze, , dio imoet.
Thanks for ya all yang sudah foll, fa, review. Terimakasih sekali, i'm so apreciated :*
Maaf updatenya lama, maaf..
Sincerely,
dearkimkai
