Survivors in the Snowstorm
Marhaban ya ramadhan… ahlan wa sahlan ya ramadhan… met puasa semua, maafkanlah semua kesalahan yang pernah dibuat author gendeng ini. Semoga puasanya nggak ada yang bolong-bolong ya… huhuhu… nggak kerasa, udah puasa lagi aja. Oia, makasih ya buat semua ripiunya. Maap saia nggak bisa ngebales satu per satu lagi.
Oh iya, buat yang nanya, lagu yang di chapter lalu dinyanyiin sama Akatsuki itu lagunya White Shoes and the Couples Company. Di disclaimer ada kok.
Episode #4. Kiba
Sebulan setelah pemakaman Minato dan Kushina. Namikaze bersaudara sudah kembali ke rutinitas mereka masing-masing. Mereka sepakat, hidup harus terus berjalan walaupun orangtua mereka telah tiada. Toh sekarang Jiraiya dan Tsunade tinggal bersama mereka.
Konohamaru dan Naruto sudah kembali ceria seperti biasa. Tawa mereka kembali sering terdengar. Lelucon sering mereka lontarkan, lagi. Semangat mereka dalam menjalani hidup sudah kembali. Mereka justru menjadi lebih bersemangat, karena mereka ingin membuat almarhum ayah dan almarhumah ibu mereka bangga.
Tetapi ada yang lain dari Kiba. Sekarang, ia menjadi lebih tertutup, cuek, misterius, malas, dan temperamen. Terkadang ia sering meledak marah tanpa alasan. Pintu kamar yang biasanya terbuka lebar sekarang tertutup rapat-rapat. Ia sering pulang malam, dan kalau pulang selalu menghindar dari keluarganya. Ia jarang bertegur sapa dengan adik-adiknya.
Jiraiya, Tsunade, dan Naruto benar-benar mengkhawatirkan keadaan Kiba yang sekarang makin mirip junkies. Tsunade pernah mencoba bicara dengan Kiba, yang berujung dibantingnya pintu kamar tepat di depan wajah Tsunade. Tsunade hanya bisa mengurut dada.
Sekarang, Kiba sering keluar bersama dengan dua orang remaja berpenampilan junkies, borjuis, dan nakal. Teman-temannya yang lama ia tinggalkan. Dua remaja itu adalah seorang pemuda berambut biru muda panjang bernama Suigetsu, dan seorang gadis berkacamata dan berambut merah dengan potongan aneh bernama Karin.
Naruto tidak menyukai kedua teman baru kakaknya itu. Namun, apa daya, ia tidak mampu mencegah kakaknya untuk tidak bergaul dengan ketiga junkies itu. Dari penampilannya saja, Naruto bisa menduga bahwa mereka bukan orang baik-baik.
Pernah, suatu kali, Suigetsu dan Karin ribut dengan Naruto. Begini kejadiannya.
Flashback
Naruto sedang duduk santai di ruang tamu keluarga Namikaze. Matanya fokus pada kata demi kata yang terangkai dalam buku Laskar Pelangi. Tiba-tiba, terdengar suara orang masuk rumah. Naruto bangkit, mengira kakaknya sudah pulang. Namun, yang terlihat adalah orang yang berbeda.
Seorang pemuda yang seusia dengan kakaknya, berambut biru muda panjang, berkaus ungu mencolok, bergigi seperti hiu, dan berpenampilan junkies seenaknya nyelonong masuk ke kediaman Namikaze, tanpa mengetuk, memencet bel, atau mengucapkan salam terlebih dahulu. Ia didampingi oleh seorang gadis berambut merah panjang, berkacamata, dan berpenampilan menor dan sok glamour.
"Maaf, kalian siapa ya? Kok nyelonong masuk gitu aja sih? Nggak ngeliat ada bel di depan pintu?" tanya Naruto sinis. Suigetsu menyeringai.
"Anak kecil... minggir, kami mau lewat," usirnya. Muka Naruto memerah. Orang ini berani menantangnya.
"Yang harusnya minggir itu kalian! Seenaknya masuk rumah orang!" bentak Naruto. Karin mencibir.
"Heh anak kecil! Kita nggak ada urusan sama elo! Kita mau ke kamar Kiba! Kiba nyuruh kita nunggu di sana!" bentak Karin.
"Persetan sama Kak Kiba!! Kalian diajarin sopan santun nggak sih, sama orangtua kalian? Emangnya ini rumah nenek moyang kalian, jadinya kalian bisa masuk ke sini seenak anus kalian?" balas Naruto pedas. Suigetsu marah.
"Kurang ajar! Jaga mulut lo!" serunya sambil melayangkan tinjunya ke arah Naruto. Naruto lebih gesit. Ia memelintir tangan Suigetsu, lalu menendang perutnya. Ha! Suigetsu belum tahu, bahwa Naruto adalah seorang taekwondoin yang super kuat!
Suigetsu terjatuh. Nafasnya tersengal-sengal. Ada darah di sudut kanan bibirnya.
"Cih, kau kuat juga, anak kecil…," gumamnya. Karin nampak panik.
"Oke, oke. Kami minta maaf karena seenaknya masuk rumahmu. Sekarang, kamu mau kan nganterin kami ke kamarnya Kiba?" Karin mencoba bernegosiasi dengan Naruto. Naruto memandangnya dengan dingin.
"Nggak. Kalian tunggu di sini sampai Kakak pulang. Gue bakal ngawasin kalian," jawab Naruto.
"Ngapain kita pake diawasin elo segala? Emangnya kita bayi!" protes Suigetsu. Naruto memandangnya dengan tatapan dingin.
"Apa elo pengen hidung elo itu ngocorin saos darah?" tanyanya dingin. Suigetsu bergidik, mengingat keganasan Naruto.
"Kalo nggak, turutin perintah gue," lanjut Naruto sambil memberi isyarat pada Karin dan Suigetsu untuk duduk di sofa. Karin menelan ludahnya. Ia menarik Suigetsu, lalu duduk di sofa yang ditunjuk Naruto.
"Tampang kayak tampang kalian nggak bisa dipercaya. Itulah penyebab gue ngawasin kalian."
End of Flashback
Semenjak bergaul dengan Karin dan Suigetsu, sikap Kiba memburuk. Naruto menyimpan kecurigaan besar kepada kedua orang itu.
SurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstorm
"Naru, Kiba sama Konohamaru mana?" tanya Kakashi, saat Naruto memasuki gymnasium KIHS.
"Konohamaru nggak bisa ikut, kemaren kakinya keseleo gara-gara main bola. Kalo Kak Kiba… nggak tahu deh, beum… dari tadi hapenya mati, nggak bisa dihubungi," jawab Naruto. Dahi sang blackbelt tampan berkerut.
Aneh, udah tiga minggu ini Kiba nggak muncul-muncul. Alasannya bermacam-macam. Banyak tugas, ada acara kampus, sakit… aku jadi curiga…, batin Kakashi.
"Beum? Saaabeeeuum??" panggil Naruto, mengembalikan pikiran Kakashi ke bumi lagi.
"Kita omongin soal Kiba pas pulang aja, oke?" pinta Kakashi. Mau bagaimanapun, Kiba adalah salah satu murid kebanggaannya. Ia sangat peduli dengan hidup Kiba. Naruto mengangguk, lalu berlari menyusul teman-temannya yang sudah siap-siap duluan.
Dua jam kemudian, latihan hari itu pun berakhir. Naruto yang sudah selesai beres-beres menghampiri Kakashi.
"Kak Kiba yang sekarang… aneh banget, beum," ujar Naruto.
"Aneh gimana?" tanya Kakashi.
"Jadi kayak junkies gitu… pokoknya berubah lah," jawab Naruto.
Beberapa murid yang akan pulang menyalami Kakashi dan menyapa Naruto. Sepeninggalan mereka, Naruto melanjutkan kembali percakapannya dengan Kakashi.
"Naru curiga… Kak Kiba make narkoba."
"Hush! Kamu ngomong apa sih?" sergah Kakashi sambil memelototi Naruto. Naruto memainkan ujung rambut pirang panjangnya.
"Abis… perilaku Kak Kiba kayak orang make sih. Mana sekarang dia suka pake obat tetes mata, makan permen karet… pokoknya udah kayak junkies deh! Temen-temennya yang sekarang juga orang nggak bener! Masa' temennya pernah masuk rumah Naru tanpa ijin?!" sergah Naruto berapi-api.
"Hmmm… iya juga ya…," Kakashi mengiyakan. "Terus, temennya yang masuk rumah itu Naru apain?"
"Kan ada dua orang… Naru sempet adu mulut sama dua-duanya. Eh, yang cowok mau nonjok Naru. Naru pelintir tangannya, terus Naru tendang deh perutnya," jawab Naruto dengan intonasi biasa, seakan ia hanya membiarkan Suigetsu begitu saja. Kakashi nampak berseri-seri dibalik maskernya.
"Gitu dong... jangan cuma bisa nangis doang...," komentar Kakashi. Naruto mendelik ke arahnya.
"Emangnya siapa yang nangis doang, hah? asal nuduh aja bisanya," sahut Naruto kesal. Kakashi terkekeh.
"Sori deh… ya udah, kita pulang aja yuk! Kamu dijemput apa gimana?" tanya Kakashi sambil bangkit dan menyandang ranselnya.
"Naru ikut Sabeum aja deh," jawab Naruto sambil melompat berdiri. Sebelah alis Kakashi naik.
"Bener nih?" tanyanya meyakinkan. Naruto mendengus.
"Kan Naru bukan numpang sama Noordin M. Top atau Dr. Azahari. Oma nggak bakal marah-marah kok," jawab Naruto sewot. Kakashi tertawa.
"Oke deh. Sekalian, Sabeum emang mau ngobrol sama Oma Opa Naru."
SurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstorm
Tsunade menghela nafas berat. Matanya memperlihatkan kekhawatiran yang sangat besar.
"Yah… Naru benar, Nak Kakashi. Kiba memang sudah berubah. Sangat berubah."
Jiraiya meraih dan menggenggam tangan istrinya. Merasakan seluruh kekhawatirannya.
"Kami berharap… sebagai salah satu orang yang sangat dekat dengan Kiba, Nak Kakashi mau merubah Kiba kembali…," pinta Jiraiya sambil menatap mata Kakashi dalam-dalam. Kakashi tak sampai hati untuk menolak permintaan pria renta itu.
"Baiklah, Pak Jiraiya. Saya akan coba. Insya Allah," jawab Kakashi. Seulas senyum muncul di bibir Naruto, Konohamaru, Jiraiya, dan Tsunade.
"Thanks, beum," ujar Naruto. Konohamaru meringis sambil memegangi kakinya yang keseleo.
Tiba-tiba, seorang remaja urakan memasuki rumah tanpa basa-basi. Rambut cokelat jabriknya berantakan, matanya sayu dan cekung, pakaiannya berantakan, dan ia terlihat kumal sekali.
"Kiba," panggil Jiraiya. Kiba berhenti berjalan, lalu berbalik.
"Kenapa?" tanyanya, singkat, jelas, padat.
"Sini dulu," panggil Jiraiya lagi. Kiba berdecak.
"Nggak mau. Kiba masih ada urusan."
Kakashi tersentak. Biasanya, Kiba sangat menurut kepada kakek-neneknya.
"Kiba," panggil Kakashi. Kiba menoleh ke arah Kakashi tanpa minat.
"Apa?" tanyanya dengan nada kesal.
"Gue mau ngomong dulu sama elo. Boleh kita ke taman belakang sebentar?" ajak Kakashi. Kalau di luar tempat latihan, mereka memang biasa ber-gue-elo.
"Elo nggak denger apa? Gue masih ada urusan! Ntar aja kek! Toh masih banyak waktu ini!!" bentak Kiba, lalu berjalan dengan acuh tak acuh ke arah tangga. Kamarnya, kamar Naruto, dan kamar Konohamaru memang berada di lantai 2.
Naruto kaget bukan main. Kiba yang biasanya sangat menghormati Kakashi, sekarang malah berani membentak Kakashi.
"KAKAK!" raung Naruto sambil berlari menyusul Kiba, dan menarik tangannya.
"APAAN SIH??" bentak Kiba. Naruto menatap kedua mata kakaknya dengan marah. Tak tampak gentar di kedua bola mata Naruto.
"Kakak berubah, tau nggak sih?! Kakak yang sekarang tuh lain! Jadi berandalan! JADI JUNKIES!!" raung Naruto keras. Kiba nampaknya tak kalah berani dari Naruto.
"Bukan urusan elo kalau gue udah berubah!! Toh ini hidup gue, bukan hidup ELO!!" bentak Kiba sambil menyentak tangan adiknya, lalu berlari ke kamarnya. Di depan pintu kamarnya, ia berhenti sejenak dan berbalik.
"Oh iya, kalo elo mau nyalahin siapa atas perubahan gue, salahin Ayah sama Bunda atas kepergian mereka yang mendadak."
Pintu kamar Kiba tertutup, lalu terdengar suara 'cklek' tanda sudah dikuncinya pintu tersebut. Naruto mematung di tangga. Suasana berubah menjadi sunyi senyap.
"Bangsat…," umpat Naruto perlahan.
"KELUAR DARI KAMAR LO, BANGSAT!!" raung Naruto keras. Kemarahan telah membuat sepasang mata biru langit itu bercucuran air mata.
Tidak ada tanggapan dari kamar Kiba, kecuali bunyi dentuman musik yang nampaknya sengaja dikeraskan.
"Naru… udah, Naru…," Kakashi mencoba menenangkan Naruto. Tangannya menepuk-nepuk bahu Naruto yang sesenggukan. Naruto jelas sangat terpukul atas kata-kata kakaknya itu.
Setelah itu, suasana berubah menjadi tidak enak. Jiraiya dan Tsunade agaknya merasa malu atas perilaku Kiba.
"Ano... Nak Kakashi, maafkan perilaku Kiba. Well… seperti yang Nak Kakashi lihat, sikap Kiba sekarang memang begitu…," kata Tsunade meminta maaf. Kakashi tersenyum di balik maskernya.
"Nggak pa-pa, kok, Bu. Saya janji, insya Allah saya akan coba untuk memperbaiki sikapnya, dan mencari tahu apakah Kiba make atau nggak," ujar Kakashi.
"Terima kasih sekali, Nak Kakashi," kata Jiraiya. Kakashi tersenyum.
"Sama-sama, Pak Jiraiya. Well, karena sudah mau maghrib, saya pulang dulu," kata Kakashi, mohon diri. Ia menyalami Jiraiya, Tsunade, lalu Naruto. Naruto sudah tidak menangis lagi, namun ia nampaknya sangat shock.
"Naru…," bisik Kakashi sambil menyalaminya, "Tolong, secepatnya geledah kamar Kiba. Gunakan akalmu, ok?"
Naruto mengangguk mantap. Kakashi menepuk bahunya, lalu melangkah pergi ke luar.
SurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstorm
Pukul sebelas malam tepat menurut jam di sebelah tempat tidur Naruto. Jiraiya, Tsunade, dan Konohamaru sudah terlelap. Kiba, tiada yang tahu kecuali Tuhan. Namun, Naruto berniat untuk mencari tahu.
Naruto bangkit dari tempat tidurnya. Perlahan, ia keluar dari kamarnya, lalu berusaha membuka pintu kamar Kiba.
"Damn… masih dikunci…," umpatnya perlahan. Naruto mundur, lalu mengambil ancang-ancang. Duakk!! Ia menendang pintu kamar Kiba sampai terbuka. Jika Kiba sedang tertidur, Naruto tidak perlu takut Kiba akan terbangun. Kiba kalau tertidur memang seperti seekor beruang grizzly sedang hibernasi, tidak peduli pada apapun yang terjadi.
Rencana Naruto, setelah berhasil mendobrak pintu kamar Kiba, ia akan mencari bukti bahwa Kiba adalah seorang pemakai narkoba.
Namun, saat ia melihat apa yang ada di balik pintu kamar Kiba, rasanya ia tidak perlu mencari lagi.
"KAKAAAAAAAAAAAAAAK!!" raung Naruto sambil menghambur masuk ke dalam kamar Kiba.
Ingin tahukah kalian, apa yang dilihat Naruto, sehingga ia kalap begitu?
Ia melihat Kiba. Ya, Kiba.
Kiba, sedang teler, dengan tangan kiri terbalut dengan semacam pengikat dan tangan kanan memegang suntikan. Tak jauh dari tangan itu, terlihat sebuah botol kecil.
Heroin.
Kiba is a drug user.
Definitely.
Lalu, adegan berikutnya serasa berubah menjadi adegan-adengan slow motion bagi Naruto.
Jiraiya dan Tsunade yang terbangun karena teriakan Naruto berlari ke kamar Kiba. Sama seperti Naruto, mereka terperanjat saat melihat pemandangan di dalamnya. Tangis Tsunade langsung pecah. Jiraiya hanya bisa memanggil-manggil nama Kiba.
Konohamaru menyusul mereka. Ia menjerit keras saat melihat kakak sulungnya. Ia lalu memeluk neneknya.
Naruto merosot. Rasanya kakinya tak kuat lagi menopang beban tubuhnya. Ia lalu menjerit keras, menjeritkan kemarahan, kekecewaan, kesedihan, dan keputusasaan. Apa salahnya, sehingga ia harus menerima cobaan seperti ini?
TBC...
SurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstormSurvivorsintheSnowstorm
Hoho… setelah sebuah chapter nangis-nangis, sekarang saia malah ngasih anda chapter teriak-teriak… jahatnya saia…
Niat dalam hati pengen bikin fic penyambut puasa… doakan cepet selesai ya…
Well, pendapat anda-anda semua mengenai chapter ini dapat dituliskan dalam review…
Kukuku... saia masih belum puas ngebikin anda kaget lagi... konflik dalam fic ini masih banyak!! WASPADALAH!! WASPADALAH!! (lho, kok malah jadi Bang Napi sih??)
Pipis, lop, en gaul,
PuTiLiciOUs.
