Perkenalan Tokoh!

Montblanc : Montblanc adalah seekor Moogle, ciri dari Moogle adalah memiliki 2 sayap yg kecil tapi bisa digunakan untuk terbang dan ciri lainnya adalah bentuk tubuh yg kecil sebesar kepala Manusia dan selalu menggunakan kata "Kupo" diujung kalimatnya saat mereka berbicara.

Montblanc adalah Moogle yang cukup ramah tapi sering teledor, dia ada hubungan dengan Reeve.

Reeve : Pria ini adalah pemimpin anggota "YON" yg artinya Empat. Kenapa? Karena anggota YON hanya memiliki 4 anggota diantaranya termasuk Reeve, Orang berjubah di Chapter 3, dan Montblanc, sisanya adalah Hope. Reeve mempunyai ciri khas yaitu wajah yg berjanggut tidak terlalu tebal dan rambut disisir rapi ke belakang, Pria ini berumur 33 tahun dan sifatnya sedikit tegas.

Hope : Pria yg berumur 20 tahun ini masih terbilang muda untuk masuk ke anggota YON, tapi jangan salah, karena Hope mempunyai skill yg handal untuk memata-matai seseorang yg jauh lebih baik dari Lightning apalagi Montblanc. Hope memiliki senjata Boomerang yg cukup besar yg selalu ia bawa, ciri-ciri dari orang ini memiliki rambut putih kekuning-kuningan.

Claire Lightning Farron : Mata-mata yg menyelamatkan Tifa ini tidak lain lagi adalah orang berjubah di Chapter 3, dia adalah Perempuan berumur 22 tahun lebih tua dari Hope, dengan rambutnya yg berwarna Pink yg tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis ini membuat wajahnya semakin cantik dan menawan, apalagi ditambah dengan kedua bola matanya yg berwarna biru. Sifat wanita ini cukup Dingin, dan tidak terlalu peduli dengan urusan orang lain kecuali dia menganggap urusan itu yg baginya penting saja.

Cerita kali ini tidak terasa akan memasuki Chapter 4, Yasudah tanpa basa basi saya bakal Nulis beberapa tokoh yg akan muncul di Chapter 4 ini.

Tokoh yg akan muncul diantaranya: Lightning, Reeve, Montblanc, Cloud, Tifa, Vincent, Orang-orang di 7th Heaven, dan Barret, sisanya masih misterius. (Siapa yah?)

Chapter 4 : Ungkapan

"Ya, aku mengerti.." jawab Lightning saat di telepon oleh Reeve

Kita Flashback sebentar ke Scene di mana Vincent bertemu dengan Lightning & Montblanc di Gerbang utama Pasar Kalm.

"Atasanku bilang dia sedikit keberatan dengan permintaanmu, tapi dia tetap akan menyerahkan Tifa Lockhart kepadamu" ujar Lightning

"Terima kasih" jawab Vincent datar

Setelah perbincangan singkat mereka berdua, Lightning langsung menyerahkan Tifa yg tidak sadarkan diri kepada Vincent.

"Sebenarnya.. siapa kau?" tanya Vincent yg sedang menggendong Tifa dengan kedua tangannya

"...Kau tidak perlu tahu siapa aku"

"Baiklah, kalau begitu kau harus memberitahuku kenapa kau menolong Tifa?"

"...Itu perintah dari atasanku"

"Siapa atasanmu?"

"Bukan urusanmu"

Perbincangan mereka berdua selalu mendatar dengan jawaban mereka masing-masing. Tapi setelah itu Vincent pergi menuju gerbang utama Kalm untuk menunggu Cloud & Vincentpun meninggalkan mereka berdua (Montblanc & Lightning).

-Di atap Hotel Tropica (Pasar Kalm)-

"Akhirnya kau datang juga" sapa seseorang yg ternyata adalah Reeve, atasan dari YON

"...Jadi, bagaimana sekarang? Gadis itu dibawa kembali oleh temannya" tanya Lightning kepada Reeve

"Sebenarnya aku sedikit keberatan, tapi tak perlu khawatir, aku mengenal orang yg kau sebut teman gadis itu, Vincent Valentine.. itulah namanya"

"Vincent... Valentine?"

"Ya, tapi sekarang lupakan dia.. kita harus kembali ke Markas untuk memikirkan rencana baru"

"Hm? apa kita berencana membawa gadis itu kembali?"

"Kau benar sekali, aku harus bertemu gadis itu. Dan kali ini.. aku akan turun tangan bersama kalian"

"A-Apa!?, kau akan turun tangan!? Kau serius Reeve!? Itu tidak bisa, biarkan para anggotamu yg menjalankan rencana kedua ini!"

"Tidak, aku tetap akan turun tangan"

Lightning hanya diam dan menggelengkan kepalanya sambil mengatakan "Cih.."

"Sudahlah, biarkan ketua turun tangan, agar rencananya bisa berjalan dengan lancar, Kupo!" seru Montblanc pada lightning

"Apa!? Kau diam saja Montblanc, kau itu selalu teledor dan tidak pernah berfikiran serius tentang misi yg kita jalani!"

"M-Maaf jika pernyataanku tadi salah, Kupo!"

Setelah Lightning & Montblanc bertemu Reeve di atap Hotel, mereka bertiga segera kembali ke Markas. –The End of Flashback—

-Bar/Rumah Tifa, (7th Heaven)

"Jadi begitu ceritanya.." ujar Cloud setelah mendengarkan cerita Vincent

"Aku tidak tahu pasti, tapi yg aku tahu hanya itu.. dan yg penting kita harus waspada terhadap Rufus, karena dialah dalang yg berencana menculik Tifa" pernyataan Vincent pada Cloud.

"Rufus... apa yg dia inginkan?" gumam Cloud

Saat perbincangan Cloud & Vincent, mereka berada di ruang santai yg berada di lantai dasar bersebelahan dengan ruang dapur. Saat itu Tifa sudah dibawa ke kamarnya untuk beberapa saat sampai dia sadar kembali.

"Jadi begitu rupanya..." suara perempuan di depan ruang santai itu yg ternyata adalah Tifa!

"...Tifa!" Cloud terkejut sambil berdiri dari tempat duduknya

"Tak apa Cloud, aku baik-baik saja.." Tifa pun tersenyum manis pada Cloud

Saat Vincent melihat Tifa, Vincentpun meninggalkan mereka berdua di Ruang santai dan berkata pelan saat berjalan mendekati Tifa "Saat ini Cloud membutuhkanmu". Tifa mendengar ucapan Vincent dan mata Tifa mulai melebar karena kaget mendengarnya.

Saat Vincent sudah berada di luar Ruang santai Vincent berkata pelan "Mungkin ini waktu yg tepat untuk membiarkan Cloud & Tifa berduaan, dan semoga Cloud mengatakannya sesuai yg di ceritakannya padaku tadi pagi"

"Hmm.. Cloud?" tanya Tifa malu

"Sial, aku tahu aku telah menceritakan soal ini pada Vincent, tapi kenapa dia harus meninggalkan kami berdua!" kata Cloud dalam hati sambil memasang muka kesal & malu.

Melihat ekspresi Cloud, Tifapun mulai melihat Cloud dengan tatapan aneh, aneh karena ekspresi Cloud yg tiba-tiba saja begitu.

"...Cloud, apa kau yg menyelamatkanku di Pasar Kalm?"

Wajar Tifa bertanya soal itu, soalnya selagi Cloud & Vincent mengobrol mengenai penculikan Tifa, Tifa datang ke Ruang Santai saat Vincent bilang "Rufuslah dalang yg berencana menculik Tifa". Jadi Tifa tidak tahu mengenai Lightning & Montblanc.

"..." Cloud hanya terdiam sambil menunduk tidak menatap Tifa sedikitpun (Rasanya dia merasa akan membuat Tifa kecewa jika Cloud mengatakan "Tidak", jadi Cloud memilih untuk diam)

"Aku tahu kau yang-"

Tiba-tiba saja Cloud menjawab pertanyaan Tifa tadi yg tadinya tidak akan dia jawab. "Bukan, bukan aku yg..menyelamatkanmu"

"Huh?" Ekspresi wajah Tifa biasa-biasa saja mendengar jawaban Cloud

"Jadi.. kalau bukan kau yg menolongku, pasti yg menolongku Vincent, bukan?" tanya Tifa sambil menundukan wajahnya

"Tifa, yg terpenting adalah kau selamat" seru Cloud sedikit mengerutkan jidatnya

"...Cloud.."

"...Tifa, aku.. aku...sangat mengkhawatirkanmu saat kau pergi ke Kalm" Kata Cloud yg mukanya mulai sedikit merah karena malu

"Huh?, tenang saja Cloud.. aku sekarang tidak apa-apa kan? Seperti yg kau katakan tadi, yg terpenting adalah aku selamat" Kata Tifa sambil berjalan ke arah Cloud sampai Cloud dan Tifa mulai berdekatan setidaknya 3 meter-an.

"Hmmm, itu.. yah kau benar"

"Jadi?"

"Jadi.. apa?" Wajah Cloud mulai sedikit merah ~lagi~

"Jadi apa yg akan kau lakukan sekarang, Cloud? Karena aku tidak bisa berlama-lama disini karena aku akan pergi memasak untuk Marlene dan Denzel, Yuffie & Sora juga"

"Tidak! Kau tidak boleh memasak dulu hari ini"ujar Cloud yg sedikit tegas pada Tifa karena khawatir. "Kau baru saja pulih, dan tentang apa yg akan ku lakukan sekarang... asal kau mau mendengarkanku aku akan beritahu sekarang juga..."

Mata Tifa mulai melebar karena kaget melihat sikap Cloud yg tiba-tiba mulai mencemaskan dirinya.

"Hmm.. Cloud, aku sudah bilang kan saat di kamarmu, aku akan mendengarkanmu bicara" Tifa mulai tersenyum pada Cloud

"Baiklah, kau harus dengar". Cloudpun mulai menatap mata Tifa dengan tatapan yg tajam.

Saat Cloud ingin mengatakannya pada Tifa dia mulai gugup kembali dan ragu. "Aku.. aku..."

"Hey Cloud, tidak biasanya loh kau gugup di depanku" kata Tifa sambil tertawa kecil meliht tingkah laku Cloud

"T-Tifa, ini serius. Kau harus mendengarkanku"

"Ya-ya.. lain kali saja Cloud, kau membuang waktuku untuk memasak, kau juga lapar kan?" Ujar Tifa pada Cloud dengan senyuman manis kepadanya

Melihat senyuman manis itu, Cloudpun mulai mengangguk secara tiba-tiba. Tifa mulai membalikan tubuhnya dan berjalan menuju ruang dapur untuk memasak.

"Apa yg aku lakukan!? Sial! Kenapa aku harus gagal lagi! Dan senyuman itu... membuat hatiku sudah... Aaaah sial!" kata Cloud dalam hati sambil memasang muka kesal karena tingkah lakunya sndiri.

Setelah makan malam bersama orang-orang di 7th Heaven selesai, tiba-tiba saja pintu depan terbuka. Sudah 10 detik saat pintu itu terbuka dan tidak ada seorangpun yg masuk, orang-orang di 7th Heaven hanya terdiam bengong menatap pintu itu kecuali Cloud dan Vincent. Karena mereka langsung berpikiran kalau itu adalah bawahan Rufus. Tak lama kemudian...

"Kejutan~!" teriak seseorang yg masuk dari pintu depan dengan menggenggam sebuah kado.

"Papa!" seru Marlene menghampiri Barret.

Yah, yg datang itu adalah Barret, dan Marlene adalah anak angkat Barret.

"Barret!" seru Yuffie.

"Waaah dia juga membawa Kado!, pasti didalamnya ada Aksesoris Moogle...~" seru Sora yg wajahnya sudah tidak sabar ingin melihat isinya

"Bodoh kau! Kado itu untuk Marlene, kau tahu!" sentak Yuffie

"Yo, semuanya!" teriak Barret sambil menggendong Marlene

"Jadi, kau sudah selesai lembur?" tanya Tifa senang melihat Barret sudah pulang dan menemui Marlene

"Yah, lagipula aku sudah cukup lelah bekerja sampai malam tidak pulang-pulang. Dan tentunya aku merindukan anakku, Marlene!" seru Barret sambil mencium pipi Marlene yg digendongnya

Sambil menggendong Marlene, Barret masuk lebih dalam ke ruang dapur dan melihat-lihat sekitar sampai pandangan matanya sudah mengarah ke arah Cloud.

Cloud pun melihat Barret dengan senyum kecilnya sambil menyapa. "Yo, selamat datang kembali".

"~Hohoho~! Sepertinya ada yg sok baik denganku yah!" sindir Barret melihat Cloud

Mendengar itupun Cloud tidak tinggal diam dan berkata. "H-Hey! Apa maksudmu!?"

Yah, beginilah Cloud & Barret, mereka sering bertengkar dari sejak pertama kali mereka bertemu. Dan Cloud terlihat lebih akrab dengan Barret dibandingkan yg lainnya.

"Hahaha, maaf Cloud! Aku tidak bermaksud menyindirmu" seru Barret tertawa lebar sambil memukul pundak Cloud dengan tangan kanannya, karena tangan kirinya menggendong Marlene

"Paman Barret! Aku ingin melihat senjata yg kau janjikan saat kau berangkat kerja kemarin!" seru Denzel. (Denzel sangat menyukai senjata Barret yg sudah lama tidak Barret pakai, dan sekarang sudah menjadi pajangan yg disimpan di ruangan kerja Barret)

"Yah nanti akan ku perlihatkan padamu, Denzel-kun!" jawab Barret sambil mengedipkan mata yg terlihat keren ~baginya~

Dan Barretpun mulai melirik ke arah Cloud lagi dengan tujuan ingin berbicara padanya.

"Hey Cloud! Aku butuh bantuanmu" ujar Barret

"Urus saja dirimu sendiri"

"Cloud, kumohon padam-"

"Sudah kubilang urus saja dirimu sendiri"

Melihat Cloud begitu mengabaikan Barret, Marlene mulai memasang wajah kecewanya pada Cloud dan mengatakan "Cloud, aku benci padamu.."

Saat mendengar ucapan itu keluar dari mulut Marlene, Cloudpun mulai merasa sedikit menyesal karena Cloud tidak pernah menunjukan sikap acuhnya dihadapan anak kecil terutama Marlene.

"Oh Cloud, ayolah.. kau harus menunjukan rasa sopan santunmu di depan Barret, karena ada Marlene dan Denzel disini" Kata Tifa dengan ekspresi biasa saja pada Cloud

Cloud kembali menatap Barret dan berkata "Baiklah, apa yg bisa kulakukan untukmu?"

"Hoho, Baiklah. Aku hanya ingin kau pergi ke Restoran Good Pizza yg terletak di Sektor 4"

"A-Apa? Itu jauh sekali.. dan lagipula ini..."

Cloud tidak menyelesaikan kata-katanya karena Marlene kembali menatap Cloud dengan tatapan bencinya lagi. Dan tentunya Cloud tidak ingin dia dibenci oleh anak-anak.

"Aku tahu kalau sekarang sudah jam 9 malam, dan jalan menuju Sektor lain mulai tutup jam 10.00 malam, berdoa saja agar kau tidak telat!" Bentak Barret pada Cloud

"Cih, ya baiklah akan kulaksanakan, jadi apa yg harus kulakukan sesampai disana?" ujar Cloud memalingkan wajahnya

Saat memalingkan wajahnya, Cloud melihat Tifa yg sedang melihat wajah Cloud dengan senyuman manis tentunya, Dan disitulah wajah Cloud mulai sedikit merah melihatya.

Barret menjawab. "Aku hanya ingin kau membelikan Pizza tentunya, aku tadinya ingin membelikan satu untuk Marlene, tapi aku lupa!"

"Cuma itu? Baiklah" jawab Cloud singkat

"Cloud! Cepatlah! Jika kau berdiam disini terus kau tidak akan bisa pulang!" teriak Yuffie sambil meledekinya

Mendengar ocehan-ocehan yg tidak penting bagi Cloud, Cloudpun mulai berjalan menuju Pintu depan dan sesampai diluar. Cloud mulai menaiki Fenrirnya, Saat Cloud ingin menancapkan gasnya Tifa pun membuka pintu depan dan keluar menghampiri Cloud.

"Cloud! Diluar dingin, pakailah Jaket ini." Tifa tersenyum ke arah Cloud sambil menjulurkan jaketnya pada Cloud

"Terima kasih, Tifa"

"Hati-hati, yah?" Kata Tifa sambil tersenyum lagi

Cloud menganggukan kepalanya dan menancapkan gas motornya.

-Sektor 4: Depan Restoran Good Pizza-

Cloud memarkirkan motor Fenrirnya di belakang Restoran Good Pizza, Saat Cloud membuka pintu masuk Good Pizza... "~Bruk!~" Seseorang menabrak Cloud dengan jalan yg teburu-buru hingga makanan orang itu jatuh berantakan dengan bungkusnya yg hampir hancur.

"M-Maaf! Aku tidak sengaja" Cloud pun meminta maaf sambil mengangkat makanan yg jatuh itu

"Apa yang kau lakukan!? Gara-gara kau makanan yg sudah kupesan jadi-" orang itu tiba-tiba terdiam saat melihat wajah Cloud yg sedang mengangkat makanan jatuh itu

"D-Dia.. tampan sekali!" seru orang itu dalam hati

"Maaf, makananmu jadi berantakan dan sepertinya kau tidak mau memakan makanan yg sudah jatuh. Mau aku ganti?" tanya Cloud pada orang itu

Orang itu hanya diam menatap wajah Cloud yg baginya tampan dan menawan, Orang itu berpakaian baju T-Shirt dengan rompi kulit, dan dia menggunakan Topi. (Orang yg saya maksud disini adalah perempuan, Oke)

Cloud melihat aneh pada wanita itu, karena dari tadi wanita itu hanya diam saja tidak menjawab tawaran Cloud tadi.

"Ehem"

"Y-Ya!?" seru wanitu itu kaget mendengarnya.

"Kenapa kau diam saja? Bagaimana dengan tawaranku, kau mau aku ganti atau tidak?"

"I-Itu..."

Cloud sendiri tdak memperdulikan jawaban wanitu itu karena Cloud ingat harus segera pulang, jika tidak. Jalan menuju Sektor lain akan ditutup oleh petugas. Cloud langsung berjalan masuk menuju tempat pemesanan. Wanita itu terus memandangi Cloud dan berharap Cloud cepat membalikkan tubuhnya dari tempat pemesanan karena wanitu itu ingin sekali melihat wajahnya yg tampan lagi.

Cloud menghampiri wanita itu dan menjulurkan tangan kanannya sambil berkata "Ini, sudah kuganti makananmu yg jatuh. Jadi tidak akan ada masalah lagi"

"E-Eh?" Wanita itu jadi salah tingkah

"..." Cloud hanya diam.

Setelah itu, dia mengambil makanan baru yg sudah Cloud ganti, wanita itu berterima kasih pada Cloud, "T-Terima kasih"

"... Sudah waktunya aku harus pergi" kata Cloud sambil berjalan menuju parkiran

"Y-Yah..." wanita itu menganggukan kepalanya

(Siapa wanitu yg dimaksudkan itu?)

Malam semakin larut dan jam ternyata sudah menunjukan pukul 09.50 malam, 5 menit lagi Jalur menuju Sektor lain akan ditutup.

Cloud baru sampai di Sektor 6, karena Sektor 6 cukup besar, bisa memakan waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke Sektor 7, Cloudpun mulai menancapkan gasnya sampai Jarum speedometer menunjuk ke angka 200km/jam

"Sial, ini semua gara-gara Barret.. kenapa harus aku yg ke Sektor 4?" ujar Cloud kesal sambil mengerutkan dahinya

Saat Cloud melihat Gerbang yg bertuliskan "Selamat datang di Sektor 7" Cloud mulai kaget karena gerbang itu mulai menutup perlahan-lahan. Tentu saja! Jam sudah menunjukan pukul 10.01 malam, padahal Cloud sudah menancapkan gas Fenrirnya sampai sekencang angin tapi tetap saja tak keburu karena Sektor 6 benar-benar besar.

Saat gerbang Sektor 7 hampir menutup penuh, masih ada sisa yg terbuka sekiranya seukuran Fenrir Cloud. Cloud melaju kencang dan melewati penjaga, Cloud hanya bilang "Maaf!" dan Cloudpun sudah sampai di Sektor 7, "Huft..." Cloud mulai kelelahan dengan membawa Fenrirnya yg di gas pelan.

"Sial, Barret!" seru Cloud dalam hati

Jam sudah menunjukan pukul 10.15 malam, dan Cloud sudah sampai di 7th Heaven, Saat Cloud membuka pintu depan ternyata 7th Heaven sudah gelap gulita. Cloud hanya terdiam dan berpikir "Mungkin mereka sudah tidur". Saat Cloud berjalan menuju dapur dengan niat menyimpan Pizzanya, Cloud melihat Tifa yg ternyata sedang menunggu Cloud di meja makan, dan di Meja makan itu sudah terdapat cemilan enak buatan Tifa, Cemilan itu adalah cemilan Sea Food kesukaan Cloud. Cloud terkejut melihatnya dan berkata "...Tifa..."

Tifa hanya tersenyum dan berkata "Bagaimana, Cloud? Aku tidak akan melupakan makanan kesukaanmu sejak kecil"

Mendengar kata-kata itu dari Tifa rasanya membuat Cloud senang, Cloud membalas perkataan Tifa hanya dengan senyuman kecil diwajahnya. Setelah melihat Cloud tersenyum walaupun senyuman itu hanya sekilas di mata Tifa, Tifa sangat terkejut karena Cloud sudah lama sekali tidak tersenyum seperti itu, rasanya berbeda jika Tifa melihat senyuman Cloud yg seperti itu. Dan Tifa hanya bisa tersenyum tidak berkata apa-apa.

Cloud mulai menaruh Pizzanya di meja makan dan Cloud mulai duduk berhadapan dengan Tifa. Saat itu Meja makan di dapur sudah di tata rapi dan meja yg mereka duduki adalah meja yg sudah di tata dan diatur oleh Tifa saat Cloud pergi ke Sektor 4. Lebih tepatnya Meja itu tidak besar, melainkan kecil yg hanya cukup dua orang saja.

"Sepertinya ada yg berbeda dengan ruangan ini" kata Cloud sambil memandangi sekitar dapur

Tifa hanya bisa tertawa kecil dan berkata "Tidak Cloud, tidak ada yg berbeda. Aku hanya memindahkan meja besar ke samping dan meja yg kita pakai ini aku pindahkan kemari"

Cloud memandangi meja yg digunakannya selama 5 detik untuk tujuan mengingat-ingat dan langsung bereaksi "Bukankah ini meja spesial untuk pelanggan di Bar?"

"Yup, kau benar. Dan aku sudah mengeluarkannya hanya untukmu"

Wajah Cloud mulai memerah setelah mendengar perkataan Tifa, dan dia langsung menunduk tidak menatap Tifa dan berkata "Ini adalah meja Spesial, dan kau mengeluarkannya hanya untukku?"

"Yah, itu karena aku sudah memasak makanan Favoritmu, Cloud. Aku hanya tidak ingin-"

Cloud memotong pembicaraan Tifa, untuk niat tidak mau mendengar perkataannya lebih jauh lagi. Karena jika Cloud mendengar perkataan Tifa lebih jauh lagi, Cloud bisa saja salah tingkah dan malu. (Alias nge-fly)

"Aku sudah tidak sabar ingin mencicipinya"

"E-Eh?..." wajah Tifa tiba-tiba saja memerah mendengar kata itu dari Cloud

Tifa pun menyerahkan cemilan yg ia buat pada Cloud dan tentu saja tidak lupa minumannya, 1 gelas Jus Jeruk yg segar.

Cloud yg sedang memakan cemilan buatan Tifa itu tiba-tiba saja batuk karena tersedak, kenapa? Karena Cloud melihat wajah Tifa yg tersenyum terus ke arah Cloud.

Akhirnya beres juga nih Chapter! Huft lelah banget rasanya.. ga tau kenapa lelah rasanya. Saya pikir ini adalah Chapter yg cukup menguras pikiran saya.. dan saya cukup pusing mikirin skenarionya begemana ~hihihihi~

Jadi, gimana menurut kalian? Bagus? Atau jelek? Mohon reviewnya di Komentar oke.