Lil Hands
by Kyou Kionkitchee
Disclaimer: Kishimoto Masashi-sensei
Genre: Friendship/Family
Pairing: untuk chapter ini lebih menekankan hubungan kekeluargaan Uzumaki Brothers
Warnings: Shounen-Ai, OOC, typo, cliffhanger. Don't like don't read!
A/N: Drabble dan kemungkinan berkelanjutan, mungkin bisa menjadi series of oneshots. Maaf kelamaan untuk fanfic2 yang lain ya… m(_'_)m
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Scene 4: Uzumaki Brothers
Deidara terdiam. Sebelah tangannya masih menggenggam kenop putar pintu apartemennya yang baru saja ia buka. Mata birunya berkedip dua hingga empat kali seakan memastikan apa yang ada di hadapannya adalah nyata. Tak lama, sudut bibirnya bergetar sebelum melontarkan tanya tak percaya.
"KENAPA ADA DI SINI, NARU-CHAN?"
Bukan. Bukan dengan nada marah atau jengkel tetapi dengan nada terkejut bukan main. Tak urung, terselip kerinduan di dalamnya.
"Tehe~ Nalu dateng main, Dei-nii-chan~"
Ya. Sosok yang tak terbayangkan akan datang berkunjung ke apartemen pribadinya yang berjarak dua kota dari tempat tinggalnya, pada pukul sepuluh malam di mana kendaraan umum akan segera berhenti beroperasi, dan hanya dengan berbalutkan jaket oranye kesayangannya.
Tanpa teman. Tanpa pengawas. Tanpa saudara. Sendiri.
Bocah berusia 5 tahun. Uzumaki Naruto. Adik bungsu Uzumaki Deidara.
Remaja berusia 15 tahun yang masih terkejut itu memandang sekeliling, mencari setidaknya sesosok yang seharusnya menjadi wali sang adik. Namun, tak menemukan apa yang ia cari, kemungkinan terburuk terlintas di benaknya.
"Jangan bilang kau datang benar-benar sendirian, Naru-chan, un?" sidiknya pada bocah di depannya.
"Kalo gitu, Nalu gak bakal bilang!" balas Naruto sambil nyengir kuda, membuat kaki Deidara melemas di tempat.
"Aniki bakal marah kalau dia tahu, un!" Ia menepuk dahinya sendiri dengan keras.
"Tenang aja, Dei-nii-chan! Kula-nii-tan lagi lapat hali ini en katanya pulang pagi mau ngulus ulucan lain! Jadi, Nalu main ke cini!" seru Naruto.
Dahi remaja berambut pirang panjang itu berkedut. Ia mendengar hal yang tak menyenangkan. Bibirnya pun menyunggingkan seringai masam yang mengekspresikan rasa tidak sukanya terhadap si kakak tertua.
'Hoo, bagus sekali, Kusorama! Setelah mati-matian mempertahankan hak asuh Naru-chan, sekarang malah sibuk rapat dan membiarkannya keluyuran sendirian, un! Kalau sampai ketemu nanti dan berani protes—'
Dering telepon memutus ancaman batin Deidara. Ia melihat adik kecilnya meraih sebuah ponsel dari sakunya. Namun, bukannya menerima telepon tersebut, Naruto malah mematikannya. Setelah itu, Naruto kembali tersenyum pada kakak keduanya.
'Mencurigakan, un!'
"Naru-chan, dari siapa itu?" tanyanya.
Tidak langsung menjawab melainkan sedikit menggeser kakaknya dari pintu agar ia bisa masuk, Naruto melepas sepatunya, menaruhnya di rak rendah dengan rapi, lalu berjalan menuju sofa yang berhadapan langsung dengan televisi.
Deidara langsung menutup pintu dan menguncinya sebelum menghampiri Naruto yang sudah menyalakan televisi dan tengah menggonta-ganti channel.
"Naru-chan, kau belum menjawab pertanyaanku tadi, un," ingatnya kemudian.
"Dali Kula-nii-tan," jawab Naruto singkat.
"Lantas kenapa nggak diangkat?"
"Nanti ganggu lapat."
Menghela napas, Deidara mengambil ponselnya sendiri dan menekan tombol kakaknya.
"Ada—"
"Selesaikan rapatmu dan segera jemput Naruto di apartemenku, un! Kalau tidak, aku akan benar-benar memindahkan barang-barang Naruto ke sini dan memanjakannya habis-habisan dan kau tidak boleh menemuinya lagi dan silakan bersenang-senang dengan urusan kantormu, un!" Tanpa basa-basi, ia langsung memutus jaringan teleponnya.
[Dua tangan mungil memeluk boneka bantal dengan erat, meniadakan jarak sama sekali.]
Tak lama dari pemutusan secara sepihak, ponsel Deidara balik berbunyi. "Apa—"
"Jangan mendikteku, Ahodara! Dan kenapa Naruto bisa ada di tempatmu, hah? Seharusnya dia sudah tidur di kamarnya! Apa kau yang memintanya untuk datang semalam ini?! Selain bodoh, ternyata kau gila juga ya?!"
"Siapa yang gila, Kusorama?! Kau pikir aku tega membiarkannya keluyuran sendirian semalam ini—jauh pula! Dia yang datang sendiri karena kau bilang akan pulang pagi gara-gara rapat sial di kantormu, un!"
[Menyandarkan dagu pada permukaan empuk tersebut, ia menggigit bibir bawah untuk menahan lirihan hati.]
"Tapi tadi aku meneleponnya tidak dia angkat—dan malah dimatikan! Pasti kau yang mematikannya, 'kan?!"
"Pintar sekali kau! Menuduh yang macam-macam hanya karena aku memilih keluar dari rumah! Memangnya kau pikir siapa dirimu, un? Tuhan, begitu? Berkacalah, Brengsek!"
[Pipi semakin memerah bersamaan dengan mata yang semakin memanas, ia mati-matian berusaha untuk tetap tersenyum.]
"Kau yang seharusnya berkaca, Idiot! Jangan mengumpat kalau Naruto ada di dekatmu! Berikan teleponnya pada Naruto sekarang!"
"Daripada membuang waktu, lebih baik angkat pantatmu dan segera jemput dia di sini! Sekarang Naru—… to…"
[Dan gagal.]
Deidara terdiam lagi. Kali ini karena pemandangan yang terjadi di hadapannya dan dengan penyesalan yang segera merasuki dirinya.
"Oi, Naruto kenapa?! Ahodara?!"
Tak bisa menjawab, tak jua bergerak, Deidara membeku di tempat. Ponsel yang tadinya ditempelkan ke telinga, kini menggantung bebas di tangannya yang melemas di sisi tubuhnya. Matanya membelalak dalam keterkejutan yang berbeda dari yang pertama.
Di sana, di depan televisi yang menyala terang dengan volume keras, di atas sofa merah empuk dengan dua bantal berwarna senada dan sebuah bantal Smiley edisi nerd, Naruto menangis tanpa suara. Aliran deras dari kedua bola matanya menyusuri pipinya yang memerah karena menahan isak yang sesekali terdengar tak lebih dari bisikan. Tangan kecilnya yang memeluk bantal bulat tersebut gemetar dalam kesendirian.
Hati Deidara mencelos melihatnya. Namun, ia tak tahu apa yang menjadi pemicunya. Apa karena dirinya yang bertengkar dengan Kurama? Apa karena takut dimarahi saat nanti Kurama datang? Atau tadi… apa yang dikatakannya tadi di telepon? Apa kata-katanya ada yang menyakitkan?
"Naru-chan—"
"Gomenne… Nalu nyucahin Nii-chan… Nalu cuma pengen ketemu Nii-chan cebental abis itu Nalu bakal langcung puyang… Gomenne…"
Deidara bagai ditusuk beribu jarum panas di sekujur tubuhnya. "Nggak, Naru-chan! Nii-chan sama sekali nggak menganggap Naru-chan menyusahkan, un!" Ia pun menghampiri sang adik yang menggeleng kasar.
"Na-Nalu cuma gak mau cendilian di lumah… makanya Nalu ke tempat Nii-chan… Gomenne… Nalu udah ngelepotin Nii-chan cama Nii-tan… gomenne…"
Tiba-tiba terbayang sosok Naruto duduk sendirian di depan pintu dalam rumah mereka, menunggu siapapun yang pulang pertama dari sekolah, kuliah, ataupun kerja. Menunggu dengan setia, berbekalkan selimut tebal yang disampirkan di kedua pundak kecilnya dan sebuah boneka rubah yang mendekam di antara tangan mungilnya. Sendiri, menunggu waktu tak pasti yang menjadi rutinitasnya setelah sang bunda meninggalkan mereka untuk selamanya.
Ayah yang sibuk bekerja di luar negeri dan jarang pulang.
Kakak pertama yang sibuk kuliah sambil bekerja sehingga selalu lembur atau bahkan menginap di kantor dan langsung pergi kuliah keesokannya.
Kakak kedua yang lebih suka bercengkerama dengan teman-teman sekolahnya dan akhirnya memutuskan untuk tinggal sendiri di kota yang lumayan jauh.
Naruto masih setia menunggu dalam kesendiriannya.
Sebulir air mata mengaliri pipi Deidara. Sejurus kemudian, ia mendekap sosok mungil adiknya dengan erat.
"Gomenne, Nii-chan… Nalu bakal puyang abis ini… benelan kok!"
Deidara semakin membenamkan wajahnya ke leher sang adik, memeluknya dengan semakin erat tapi juga lembut secara bersamaan. "Jangan minta maaf lagi, Naru-chan! Yang salah itu Nii-chan! Naru-chan nggak salah apa-apa, un! Maaf ya!"
"Hiks… Nii-chaaaann… huweeeeeeeeeeeeeee!"
Deidara, dengan air mata berjatuhan, terus memeluk adik kecilnya yang kini menangis lepas. Penderitaan dan kesepian yang dialami sosok mungil itu meresap dalam hatinya, dan menyakitinya dalam penyesalan. Kenapa ia tak bisa lebih peduli padanya? Kenapa ia tak bisa lebih memperhatikannya? Kenapa ia tak bisa menunjukkan betapa ia menyayanginya? Kenapa ia tidak menyadari kegelisahan yang bermain dalam hati adiknya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mencabik batinnya, menenggelamkan pikirnya dalam lautan ketidakberdayaan.
Ponsel yang tidak sengaja terjatuh ketika terperangah mendapati kondisi Naruto masih tersambung. Telinga yang menangkap suara yang baru saja terjadi kini mendengar decakan penyesalan dari mulutnya sendiri.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Kurama tiba di apartemen Deidara sejam kemudian—melewati jalanan yang sudah mulai sepi dengan kecepatan di sirkuit balap mobil, untungnya tidak dikejar polisi. Lelaki berusia 20 tahun itu masih mengenakan jas rapatnya—menandakan bahwa ia meninggalkan rapat yang masih berlangsung dan segera melesat ke tempat adiknya. Ia pun mendobrak masuk pintu yang ternyata sudah tak dikunci.
"Ahodara! Naruto—"
"Berisik, Kusorama!" potong Deidara yang baru keluar dari kamarnya. "Naruto baru tertidur!" Ia menutup pintu kamarnya dan berjalan menghampiri kakak yang sering bertengkar dengannya itu. Ia melihat sosok Kurama yang berkeringat seakan baru saja berlari marathon. Sebuah pemikiran terlintas di benaknya.
"Kau… tidak lupa kalau gedung ini punya elevator, un?"
Wajah Kurama yang sudah merah akibat kehabisan napas tambah memerah setelah mendengar perkataan adiknya. "Usse na! Aku mencemaskan Naruto, bukan elevator!" sanggahnya membela diri.
Deidara pun terkikik. "Kau benar-benar lari dari lantai bawah?! Ini lantai delapan, Baka!" membuat Kurama menjitak kepalanya.
"Tidak lebih bodoh dari orang yang melompat ke sungai di awal musim dingin hanya untuk mengambilkan boneka yang pada akhirnya rusak karena lapuk," balasnya.
"Itu boneka kesayangan Naruto, un~"
Kurama mendengus. "Naruto akan menjadi anak manja kalau dititipkan padamu."
Deidara tertawa mengejek. "Terus siapa yang asyik dengan rapatnya dan meninggalkan Naruto sendiri, un?"
Sebersit rasa bersalah menyusupi hati Kurama. Ia tahu ia lebih banyak di kampus dan kantor daripada di rumah tetapi karena ia memang mempunyai banyak kesibukan dan akan lebih mudah dikerjakan kalau di tempat yang berkaitan langsung dengan subjeknya. Maka dari itu, ia tak pernah membawa pulang pekerjaan… yang berarti ia lebih sering meninggalkan Naruto sendirian.
"Naruto baru 5 tahun, Kusorama! Kalau memang terlalu sibuk dan tidak bisa mengurusnya, biar aku saja, un!"
"Lalu membiarkan Naruto sendirian juga saat kau bermain dengan teman-temanmu, begitu? Kau lupa kalau dulu kau pernah menginap di rumah Sasori selama seminggu tanpa bilang apa-apa padaku dan oyaji, hah? Tepat di saat oyaji pergi ke Chicago dan aku ke perkemahan di Hokkaido selama seminggu. Saat itu Naruto baru berumur 3 tahun! Kalau Tsunade-baba tidak berkunjung tiba-tiba, kau pikir akan bagaimana keadaan Naruto, DEIDARA?!"
Kali ini Deidaralah yang dilanda rasa bersalah. Ia tahu bahwa tindakannya saat itu tidak bisa dimaafkan. Dirinya yang masih suka berkeliaran dan berbuat seenaknya tanpa memedulikan konsekuensinya hampir melayangkan nyawa Naruto yang selama 3 hari ditelantarkan. Untunglah Tsunade, bibi mereka, datang dan segera membawa Naruto ke rumah sakit terdekat untuk diberi pertolongan pertama. Saat pulang ke rumah, Deidara mendapat hadiah bogem mentah dari sang bibi yang kemarahannya melebihi dewa neraka. Namun, berkat kejadian itulah ia bertekad untuk memisahkan diri dari rumah. Ia akan tinggal sendiri dan dengan biaya sendiri di kota yang jauh dari rumah sehingga ia tidak perlu lagi merepotkan mereka.
Atau sebenarnya ia tengah melarikan diri dari tugas seorang kakak dalam menjaga adiknya?
Kuramalah yang berspekulasi seperti itu. Dan hal itulah yang semakin membulatkan tekad Deidara untuk keluar dari rumah. Ia memang tidak pernah sepaham dengan kakaknya.
"Fine! I was wrong back then but at least don't you dare making the same mistake as I was, yeah! He needs you, Big bro!" seru Deidara. "Kau tidak melihat wajahnya saat menangis tadi! Naruto… Naruto sama sekali tidak menyalahkan siapapun kecuali dirinya sendiri… mengatakan bahwa dirinya menyusahkan kita… terus-terusan meminta maaf seakan tidak berhak berlaku egois…" ia mengepalkan tangannya dalam memori yang masih terbayang dalam benaknya, "Apa itu perilaku bocah berumur 5 tahun?" lirihnya tak berdaya.
Lelaki berambut merah cepak yang mendengar hal itu pun merasa sama tak berdaya. Ia tahu bahwa Naruto terpaksa tumbuh lebih dewasa daripada anak seumurannya karena situasi yang melanda mereka. Tidak pernah merasakan kasih sayang ibu yang langsung meninggal setelah melahirkannya, perbedaan umur yang jauh dengan kedua kakaknya, ayah yang jarang pulang karena tuntutan pekerjaan, dan kehidupan di rumah yang lebih sering sendiri setelah pembantu pulang setengah hari. Tidak ada kesempatan untuk meminta kasih sayang lebih banyak, berusaha memendam rasa sepi dengan senyuman dan mantra 'aku baik-baik saja', belajar sendiri dalam banyak hal seperti merapikan diri, membersihkan rumah, memasak makanan yang simpel dan mudah, bersosialisasi dengan teman sebaya yang kebanyakan menganggapnya tidak sebanding… segalanya… di usia yang masih terlalu dini untuk merasakan kemandirian… di usia yang masih mengharapkan uluran tangan dan bimbingan keluarga…
Kurama menyandarkan keningnya ke kepala Deidara yang menunduk dalam. Berdiam di sana, membagi perasaan terhadap adik mereka yang jauh lebih memikirkan mereka ketimbang sebaliknya. Adik yang paling mereka sayangi.
"Biarkan Naruto menginap hari ini, un. Besok aku mau mengajaknya jalan-jalan," ujar Deidara, menerima kehangatan sang kakak yang sangat jarang diterimanya namun paling dirindukannya. Kakak yang dulu sering membantunya di masa kecil.
"Yeah, ide bagus. Aku juga sudah cuti untuk besok. Biar ku telepon TK Konoha besok pagi untuk mengizinkan Naruto libur," ucap Kurama.
Deidara mengekeh pelan, "Sekarang siapa yang memanjakannya, un?"
"Whatever."
Dan ketika esok hari tiba, dengan menggenggam tangan mungil adik kesayangan mereka, Kurama dan Deidara memberikan kebahagiaan kepada Naruto. Dan bagi Naruto, tak ada yang lebih membahagiakan selain kebersamaan dengan orang-orang yang ia sayangi.
Tentunya, ia akan membagi kenangan hari itu dengan sahabatnya di sekolah nanti.
-.-.-TBC-.-.-
Yak, itulah kondisi Uzumaki Brothers. Mungkin ada yang bingung kenapa Naruto yang umurnya baru 5 tahun bisa pergi sendiri dan gak ditanyain polisi di stasiun kereta ato terminal bus. Anggep aja Naruto cerdik en setiap naik kendaraan, dia selalu membaur dengan keluarga2 yang ada di kereta/bus. Itu sih yang Kyou pikirin.
Sebenernya Kyou gak mau bikin yang gelap2 buat fanfic ini tapi apa boleh buat… Ini tangan bergerak sendiri ngetik begitu. /plak
Oyaji: ayah
Scene 5-nya nanti ya~
Ripiu? Jangan pake flem ya~
_KIONKITCHEE_
