Naruto © Kishimoto Masashi.
Namida No Monogatari © Someiyoshino Amari
Hinata Hyuuga & Sasuke Uchiha
OOC, Typos.
.
.
.
.
.
Rupanya langit kelabu itu sangat berpengaruh hingga suasana sekitar menjadi sangat gelap dan mencekam. Hingga Sasuke perlu menyalakan lampu untuk menerangi jalan di depannya. Kini mobil hitam itu melesat cepat di bawah guyuran hujan. Membelah tirai-tirai air yang turun dari langit dengan derasnya. Suara hujan dan guntur yang bersahutan membuatmu diam. Juga jalanan sekitar yang tampak gelap tanpa penerangan selain dari mobil yang kalian gunakan. Terlebih Sasuke mengendarai mobil seolah sedang kesetanan.
"Kurasa kita harus memotong jalan Sasuke."
Kau membuka pembicaraan. Suaramu terdengar jelas meskipun suara guntur di luar begitu mengerikan. Kau rasa hanya itulah cara untuk melalui jalanan sepi ini dengan cuaca yang demikian. Demi keselamatan kalian.
"Tunjukkan."
Kau menghela nafas dan akhirnya menurut padanya.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi ini rumahmu?"
Kau mengangguk tanda mengiyakan.
"Kau harus masuk dulu."
"Tidak." Dia menolak dengan cepat.
"Akan sangat berbahaya berkendara di saat cuaca seperti ini." Nada suaramu datar, namun terselip kekhawatiran di dalamnya dan Sasuke menyadarinya.
"Kau yang memaksa."
Kau tersenyum kecil.
Kau membuka kaca mobil yang berada di sampingmu ketika ada seseorang yang mengetuknya. Menerima benda yang di berikan orang itu sebelum mengucapkan terimakasih kepadanya.
Kemudian kau membuka pintu mobil dan membuka benda yang ternyata adalah sebuah payung yang berwarna merah marun. Berjalan memutar dan mengetuk kaca mobil tepat di sebelah tempat duduk menyetir Sasuke. Dia pun membuka pintu mobilnya dan berjalan bersamamu. Di bawah lindungan payung yang membuat kalian aman dari guyuran hujan.
Kau membuka pintu berdaun dua dengan cas berwarna putih bersih.
"Silahkan masuk."
"Hn."
Kalian berdua melangkah masuk.
Rumah itu terlihat sepi.
Rumah yang besar dan tampak tak berisi.
Sasuke berjalan mengekor padamu. Melewati sebuah rungan yang nampaknya adalah ruang tamu karena ruangan inilah yang pertama kau lalui setelah pintu masuk dan karena di ruangan ini ada kursi-kursi dan juga lemari kaca yang berisikan berbagai macam hiasan yang sangat bernilai mahal.
Sasuke masih berjalan di belakangmu yang tak mengeluarkan sepatah katapun.
Menaiki tangga menuju lantai dua. Rumahmu sepi sekali, tak ada orang selain kalian berdua. Mungkin.
Sasuke dapat mendengarnya meskipun samar. Suara dentingan piano yang beralun merdu meskipun suaranya sedikit tersamarkan oleh deru air hujan. Ketika Sasuke menaikki tangga menuju lantai dua suara samar itu menjadi semakin jelas di pendengarannya yang dia yakini ada seseorang yang sedang bermain piano di rumah ini. Memainkan sebuah lagu yang entah apa namun nadanya terdengar pilu dan mengerikan terlebih nada itu terdengar di tengah hujan. Kau berjalan melewati lorong di lantai dua. Rumah ini di penuhi oleh benda-benda yang terlihat antik nan mahal, rumah dengan gaya tradisional jepang yang terlihat unik dengan isinya yang antik.
Benar saja. Sasuke melihat sosok berambut hitam sepunggung yang sedang duduk menyamping memainkan piano hitam yang di sampingnya tedapat kaca tembus pandang yang menyuguhkan pemandangan di luar yang sedang terguyur hujan.
Sejenak Sasuke merasa terkejut. Rasanya wanita itu sangat tak asing di matanya. Rasanya Sasuke mengenal wanita itu. Tapi siapa?
Kau berjalan mendekat ke arah sosok itu. Menyentuh pundak itu pelan. Permainannya terhenti namun mata rubby itu masih tetap menatap tuts-tuts piano yang berwarna hitam dan putih.
"Aku pulang."
Suaramu terdengar lemah.
Sejenak Sasuke terkejut dengan nada suaramu. Pertamakalinya dia mendengar nada suaramu yang seperti itu. Biasanya kau berbicara dengan nada yang datar dan terkesan sinis juga arogan. Tapi sekarang? Apakah ini Hinata Hyuuga yang sedang berhadapan dengan keluarganya?
Kau mengusap bahu wanita itu dengan lembut. Dan tersenyum manis di belakangnya. Sedangkan yang di perlakukan seperti itu malah diam tak merespon apa-apa.
"Ayo Sasuke."
Dan Sasuke pun kembali mengekor di belakangmu dengan beberapa pertanyaan di benaknya.
.
.
.
Kalian kini berada di ruangan berukuran luas yang isinya dominan berwarna ungu lembut yang di padu dengan warna putih. Bisa ditebak inilah kamarmu.
"Aku akan mengambilkan makanan kecil."
Dan sosokmu berlalu di belakang pintu yang kini berdebam.
Sasuke duduk di tempat tidurmu dengan seprai putih bermotifkan bunga-bunga lily berwarna ungu lembut.
Sasuke memperhatikan sekitar. Kamar yang bisa di bilang luas itu berisikan ranjang tidur di samping pintu kaca besar dengan kaca tembus pandang yang kini di tutupi oleh tirai putih yang meliuk-liuk tertiup angin dari luar. Bisa di pastikan bahwa itu adalah pintu menuju balkon luar yang kini sedang tertutup di karenakan hujan di luar.
Di samping ranjang tidur terdapat meja berukuran kecil berwarna putih dengan paduan warna hitam yang senada dengan ranjang yang kini di duduki oleh Sasuke. Di atas meja itu hanya ada lampu tidur dan sebuah frame foto berwarna ungu. Sasuke mengambilnya, melihat potret seseorang di dalam foto itu. Seorang gadis yang tengah tersenyum ke arah kamera dengan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, hingga membentuk pose yang luar biasa manisnya. Matanya sedikit terpejam karena bibirnya yang tengah mengukir senyuman lebar. Sasuke merasa sedikit ngeri ketika melihat potret Kaichou yang seolah mendistorsikan gadis yang sungguh menyebalkan yang selalu ditemuinya setiap hari. Gadis itu mengenakan baju sailor dengan sebuah mawar berwarna merah di samping kanan dadanya. Bisa di pastikan foto itu di ambil ketika upacara perpisahan sekolah.
Setelah puas melihatnya, Sasuke kembali menaruhnya ke tempat asalnya. Dari tempatnya saat ini Sasuke bisa melihat sebuah meja belajar dengan deretan buku-buku dan kamus tebal yang berderet rapi. Benar-benar kamar seorang perempuan.
Di samping meja itu tergantung sebuah frame foto berukuran besar. Berisikan potret seorang gadis dengan rambut indigo dan poni ratanya sedang tersenyum manis ke arah kamera dengan mengenakan yukatta merah muda dengan rambut yang ditata sedemikian rupa, dan di sampingnya berdiri seorang pria paruh baya dengan balutan yukatta formal yang menambah kesan rupawan. Juga di samping lain gadis itu berdiri seorang wanita muda dengan yukatta merah marun dengan motif bunga-bunga berwarna kuning. Wanita yang sama yang Sasuke lihat di depan piano hitam. Mata ruby itu menatap ramah ke arah kamera. Mata ruby yang memancarkan kehidupan dan kehangatan bagi siapapun yang menatapnya. Tidak seperti tadi, mata ruby yang seolah tanpa kehidupan di sana memandang kosong ke sebuah tuts-tuts piano. Keluarga kecil yang terlihat sangat bahagia. Sasuke bisa menebak itulah Hinata dengan kedua orangtuanya di Festival Hanabi musim panas.
Terjawablah satu pertanyaan yang mengganjal di benaknya. Tentang seorang wanita yang tengah memainkan piano itu. Bukankah dia adalah wanita muda yang sama dengan yang berada di foto itu. Wanita muda yang cantik yang merupakan ibu dari seorang Hyuuga Hinata.
Pintu kamar itu akhirnya terbuka. Menunjukkan sesosok gadis indigo dengan balutan seragam yang sama yang dikenakan oleh Sasuke. Membawa senampan makanan juga teh yang masih meninggalkan asap mengepul di udara.
Kau menaruh nampan berisi makanan itu di atas meja belajarmu. Sebelum memberikannya kepada Sasuke yang duduk bersila di atas ranjangmu.
Tanpa sepatah katapun Sasuke meminumnya dalam keheningan. Begitupun juga dirimu. Memang pada dasarnya kalian tidak menyukai keramaian bukan?
Namun tanpa kau tahu, Sasuke ingin langsung saja menyerbumu dengan berbagai pertanyaan yang ada di benaknya Saat ini. Seperti 'Siapa wanita itu.' atau 'Sebenarnya kau ini siapa?' mungkin juga 'Kau sangat tidak mirip dengan ibumu.' Atau juga 'Bukankah dia ibu tirimu?' Ah tidak, pertanyaan yang terakhir terlalu menyakitkan dan bisa melukai perasaanmu toh Sasuke juga tak punya bukti atas itu, lagi pula itu tidak mungkin 'kan?
Alhasil.
"Rumah ini sepi sekali."
Satu pernyataan yang terlontar dari mulut Uchiha bungsu yang tak ada kaitannya dengan semua hal yang ada di fikirannya saat ini. Dan Sasuke sangat merutuki kebodohannya.
Sementara Sasuke sibuk dengan fikirannya kau melengkungkan sepasang bibirmu hingga membentuk sebuah senyuman. Senyuman yang terlihat di paksakan.
"Karena disini hanya ada aku dan ibuku."
"Kenapa?"
Tak biasanya seorang Uchiha Sasuke menjadi sangat ingin tahu urusan orang lain seperti ini.
Kau diam. Memperhatikan potret dirimu dalam balutan baju perpisahan. Rasa itu seketika menyeruak memenuhi dadamu yang kini terasa sesak. "Sungguh kau ingin tau?" bukan menjawab, kau malah berbalik bertanya kepadanya yang kini menatapmu lekat.
Dia hanya mengangguk mengiyakan.
Kau beranjak berdiri, sebelum akhirnya melangkahkan kaki dan pergi. Ke sudut ruangan yang menyediakan meja laci berbentuk panjang. Membukanya dan mengambil sesuatu di dalamnya yang berbentuk layaknya buku biasa dengan sampul sederhana berwarna pucat. Sebelum berbalik dan kembali melangkah mendekat ke hadapan Uchiha yang kini masih memperhatikan gerak-gerikmu. Tanpa banyak bicara kau hanya menyerahkan sebuah benda yang kau ambil tadi.
.
.
.
.
.
"Aku menyukaimu Sakura."
Suara itu terasa familiar di telingamu.
"Masih menyukaimu."
Kau mengintip dari sebuah pilar diantara pertigaan kolidor sekolah yang menjadi penghubung antara ruangan Osis, Ruang Guru, dan Loker sekolah yang kemudian menghubungkanmu pada pintu utama di depan sana semakin pintu masuk menuju sekolah Higashi ini.
Kau seakan terlonjak seketika melihat sepasang insan berbeda warna rambut dan jenis kelamin tengah saling berhadapan.
"Kenapa kau pergi?"
Suara dari sang lawan bicara sarat akan nada kegetiran. "Kenapa kau tinggalkan aku?!" Sebuah teriakan yang menggema di sepanjang lorong yang kini sepi. Hanya ada kau dan dua sejoli yang nampaknya sedang berselisih.
Sepasang insan yang memang tak asing di matamu terlibat sebuah kisah yang semula sudah kau duga karena kau menemukan kejanggalan di antara mereka.
"Tapi aku kembali. Dengan perasaan masih seperti semula." Suara baritonnya hadir dan terdengar tenang diantara isakan kecil yang terdengar samar.
Kau hanya bungkam. Menguping setiap adegan yang tak semestinya kau lakukan.
Kau akan pergi dari sana. Pergi kemana saja asalkan tidak muncul di hadapan mereka yang tengah terlibat percekcokan jika saja amanat dari Shizune-sensei tidak diembanmu. Amanat untuk menyerangkan formulir peserta untukmu dan sang Uchiha yang harus dikembalikan kepadanya esok pagi dengan keadaan sudah terisi.
Dan ketika kau kembali, adegan itu sudah dimulai. Adegan romansa anak remaja yang membuatmu tersenyum getir. Menyedihkan sekali dirimu yang berada di tengah percekcokan yang membosankan.
"Tapi kau. Kau tidak bisa setia Sakura!"
"Kau pergi terlalu lama."
"Apakah dua tahun bagimu adalah waktu yang lama? Aku yang jauh darimu pun masih bisa setia dan menjaganya. Tapi kau tidak-"
"Kau pergi begitu saja meninggalkanku yang saat itu sangat mencintaimu. Kau pergi meninggalkanku tanpa alasan yang jelas. Aku menderita dengan perasaan ini, aku menjaganya sendirian Sasuke. SENDIRIAN!"
Kau memejamkan matamu erat dengan bibir terkatup rapat. Kau ingin berlari dan menjauh dari sana, tapi kau merasa kuatir ketika kau kembali Sasuke tidak berada di tempat dan amanat yang kau emban akan merepotkanmu sendiri dengan tidak hadirnya Sasuke dan dengan kau yang tidak segera memberikannya hari ini.
"Lantas kenapa sekarang kau menjalin hubungan yang lain hah?"
Kau bisa menebaknya. Sasuke kini tak bisa lagi mengontrol emosinya yang memang gampang tersulut.
"Dia hanya pelampiasan!"
Deg.
Kau membuka matamu cepat yang sebelumnya terpejam erat. Bibirmu terbuka dengan fikiranmu yang menyimpulkan beberapa pertanyaan.
Kenapa?
Kau masih mengingatnya ketika emerald itu menatapmu dengan tatapan yang sarat akan luka dan rasa sakit. Memohon padamu dengan pelupuk mata yang menyimpan air mata yang siap di tumpahkan kapan saja.
Bibir itu melengkungkan senyuman yang membuatmu merasakan sakit yang teramat sangat ketika menceritakan sebuah cerita yang tidak pernah ingin kau dengar. Cerita yang menyayat hatimu dengan sebuah katana transparan yang membuatmu terjebak dalam kebohongan yang membuai.
Dan ketika zamrud itu memancarkan kesungguhan yang luar biasa. Hingga kau merelakan orang yang benar-benar mengisi hatimu dan segalanya untukmu jatuh di pelukan wanita itu.
Lantas kenapa?
"Biarkan aku memilikimu kembali Sakura."
Kau bisa mendengar suara Sasuke yang kini melembut, memohon dengan nada yang tulus.
"Ya, Sasuke."
"Aku akan merebutmu kembali."
Kini wanita itu menyebutnya pelampiasan?
"Dengan cara apapun."
Setelah apa yang semua ku relakan?
Setelah aku mengorbankan perasaanku sendiri? Untuk sepupuku.
.
.
.
.
.
Minggu sore yang cerah.
Langit biru yang terlihat bersih merskipun itu adalah sore hari. Dengan kawanan awan tebal yang terlihat empuk dan akan menghilang dalam waktu sekejap. Bak bola kapas yang lembut dan akan menghilang begitu saja ketika air mengenainya.
Melihat langit dan puluhan awannya membuatmu ingin mencicipi bola kapas berwarna pink lembut itu. tanpa berfikir panjang dan segera bergegas. Kau melangkah menuju sebuah minimarket yang menyediakan bola kapas seperti yang kau harapkan.
Lantas kau memilih apa saja yang akan kau beli dengan keranjang mungil di tangan kiri. Barang yang kau ambil pertama adalah bola kapas, memang tujuanmu datang kesini untuk itu 'kan?
Dan kemudian kau mengambil beberapa bungkus makanan yang terbuat dari biji-bijian yang bisa membuatmu kenyang walau itu hanya sebuah makanan ringan. Sebelum kau membayar, kau mengambil dua bungkus permen karet yang berisi tiga buah perbungkusnya lalu berjalan tenang ka arah kasir yang penjaganya tersenyum ramah saat kau menghampirinya.
Kau memakan bola kapas yang berada di genggaman tanganmu dengan damai. Dengan ekspresi lunak yang tak sedatar biasanya yang kerap kali kau tunjukkan.
Sinar jingga dari mentari senja terpantul pada sebuah danau luas di hadapanmu. Rerumputan itu menjadi saksi bisu akan dirimu yang tengah membeku. Memperhatikan sang surya yang sebentar lagi tugasnya akan tergantikan oleh satelit bumi yang sewarna dengan matamu.
Minggu sore yang cerah tak kau sia-siakan begitu saja. Alhasil melihat matahari senja di danau yang terletak di pinggiran kota ini menjadi sasaranmu. Melihat matahari terbit mungkin bukan ide yang buruk untuk menghilangkan kepenatanmu. Itulah yang berada di fikiranmu hingga kini membawamu pada keadaan yang saat ini sedang kau nikmati.
Hingga matahari kini benar-benar menghilang, tenggelam kembali pulang ke peraduannya. Dalam hati kau masih sangat ingin berada di tempat ini. Namun kau tidak bisa egois, meninggalkan wanita yang kau sayangi sendiri begitu saja di rumahmu yang terbilang megah.
Dan kau pun kembali melangkah. Menapaki rumput teki yang tak terawat dengan kaki berlapiskan sandal kulit berwarna coklat. Perjalanan akan terasa lama, karena kau ingin benar-benar menikmatinya sebelum kau benar-benar berhadapan dengan hari esok yang bisa kau pastikan akan penuh dengan kepenatan dan kebosanan.
.
.
.
Jam masih menunjukkan pukul delapan malam. Dan ini tidak bisa dikategorikan sebagai malam yang larut. Namun menurunnya volume kendaraan dan cahaya remang-remang di tiap persimpangan jalan menggambarkan malam yang terasa kelam dan larut.
Kau melangkah tanpa rasa takut. Tubuhmu yang hanya mengenakan dress selutut dengan cardigan tipis berwarna toska tidak bisa menghangatkanmu dari terpaan angin malam yang dingin menusuk hingga ke tulang.
Berkali-kali kau mengusap-usap kedua tanganmu dan meniupnya dengan mulutmu guna menghantarkan hawa panas yang bisa menghangatkan tanganmu walau hanya sedikit saja.
Akan memakan waktu lama bila kau berjalan memutar mengikuti arah jalan raya menuju rumahmu. Hingga kau putuskan untuk jalan memotong melewati emperan toko yang telah sepi dan melewati gang-gang sempit dengan cahaya seadanya dari celah-celah pertokoan yang di depannya memiliki lampu dengan cahaya penerangan yang memadai.
Matamu yang bulat nampak menyala di kegelapan, ini efek dari pantulan cahaya yang dipantulkan oleh bola matamu yang berwarna putih mirip mutiara yang di miliki oleh tiram-tiram di laut dalam sana.
Suasana sepi tak membuat nyalimu ciut. Justru kau menikmati keadaan ini yang bisa membuatmu cukup tenang ketika potongan banyangan masalalu beberapa waktu lalu kembali menghampirimu. Yang semula telah terkubur rapi kini kembali mencuat kepermukaan.
Kau mendengar suara ribut-ribut ketika melewati gang-gang sempit yang minim penerangan itu. Memang tempat seperti ini sarangnya berandalan yang suka dengan perkelahian.
Kau akan mengabaikannya begitu saja jika suara familiar itu tidak menyapa gendang telingamu. Kau berhenti, berusaha mendengarkan setiap adegan yang terjadi dengan pendengaranmu yang masih berfungsi dengan sangat baik.
"Lepaskan aku bodoh."
"DUAK."
"Kubilang-"
"DUAK."
Kau membelalakkan mata. Dan langsung saja menghampiri tempat kejadian tanpa takut kau akan terkena sasaran.
Benar saja, kau bisa melihat seorang pemuda dengan surai merah bata dengan menjadi sasaran amukan segerombolan pria tidak di kenal yang nampaknya sekelompok berandalan.
Kau berdiri mematung dan otakmu berfikir kerasa mencari jalan keluar untuk usaha melerai mereka. Salah satu dari segerombolan pemuda berambut perak itu melihat kearahmu. Kau sedikit bergidik ketika melihat giginya yang membentuk taring yang tengah menyeringai kearahmu. Dan kaupun diam membeku, merasa menjadi seekor tikus kecil tak diundang yang kehadirannya di sadari oleh sekelompok predator yang siap memangsa kapan saja.
Namun mereka semua serempak pergi setelah melihat kehadiranmu. Kau dibuat aneh oleh tindakan mereka. Kucing liar yang takut oleh tikus kecil? Mungkin tren si robot kucing doraemon telah meracuni fikiran mereka.
"Senpai!"
Kau bergegas berlari kearah pria yang bersandar pada dinding bata. Tak berdaya.
Dan dengan sigap kau menopang berat tubuhnya yang akan ambruk kala itu juga. Rupanya sabuk hitam yang dimilikinya tidak bisa menjamin keselamatannya ketika di keroyok oleh segerombolan preman yang menyerang secara bersamaan.
.
.
.
.
.
.
TBC
Apakah ini mengecewakan?
ありがとう
.
Someiyoshino Amari, 26 Mei 2014
