Sudah dua hari berselang dari hari kematian Shion, dan dalam dua hari terakhir ini Naruto sudah resmi menjadi seorang ayah dari Ino Yamanaka. Sebenarnya dalam hitungan menit saja, Naruto bisa mengubah status dari Ino Yamanaka agar masuk ke dalam bagian hidupnya dengan meretas data kepolisian Jepang secara legal, namun sebagai orang yang taat akan hukum, Naruto tak semena-mena merubah hal tersebut dengan instan.
Jadi dalam dua hari terakhir ini, Naruto hanya mengurus keperluan kehidupan Ino serta status dari gadis kecil itu, walau sebenarnya dia perlu mengeluarkan beberapa lembar benda penunjang hidup agar surat keterangan keluarganya bisa segera selesai.
Dan di hari ketiga ini, Naruto kembali berjalan-jalan menyusuri kota kecil dengan nama Konoha dengan putrinya yang terus saja bersenandung entah karena apa.
Yah, Naruto tak mempermasalahkan hal itu. Terlebih melihat senyuman di bibir mungil gadis kecil itu, sudah cukup membuat Naruto merasa senang.
"Ino, apa kau mau es krim?"
Ino menoleh dan mengangguk penuh antusias, "Umh!"
Melihat ada sebuah salah satu kursi kosong yang berada di taman kota, Naruto segera mengajak putri angkatnya tersebut ke sana. "Tunggu di sini sebentar, oke?"
Ino hanya tersenyum menanggapi.
Dan akhirnya Naruto pun pergi ke penjual es krim keliling yang tak jauh dari tempat Ino menunggu, walau tanpa orang ketahui pria tersebut melirik ke arah kanan dimana ada sosok berjas abu-abu yang ia ketahui hanya berpura-pura menelpon seseorang.
Naruto sadar, bahwasanya pria tersebut sudah sedari tadi mengikuti dirinya dan juga Ino. Dan pria berambut pirang itu menebak, kalau dia adalah salah satu pengikut mantan suami Shion. Oh, betapa hebat kemampuan melacak para anjing kampungan tersebut, Naruto jadi penasaran dengan bayaran yang mereka terima untuk melakukan hal ini.
Akhirnya peperangan dimulai juga, Naruto benar-benar harus waspada sekarang.
[My New Papa is Lolicon?]
Disclaime: Owned by Masashi Kishimoto
Warning: OOC, Typo, Loli Ino, Agent Naruto, Not Lemon but! Huehuehue...
Genre: Romance, Drama, Action, family, Adventure, Humor, and Etc.
Summary: Naruto Uzumaki, seorang agen dengan pangkat operasi Black Ops yang sekarang sedang menikmati liburan panjangnya. Tapi kini dia harus menikmati liburan tersebut dengan seorang gadis kecil berumur 11 tahun yang polos bukan buatan. Apakah yang melatarbelakangi kehidupan mereka berdua?
Azriel Present
[...]
Chapter 4: We Must be Run!
Naruto hanya menatap datar benda manis berlapiskan wadah berwarna kecoklatan yang terbuat dari tepung terigu di tangannya, kemudian kedua mata birunya beralih ke samping kanan dimana di sana terdapat Ino yang terus saja menjilati es krim di tangannya tanpa mempedulikan sedikit kekesalan hati ayah angkatnya yang sedang iri.
Oh, tahu begini mending dia tadi beli dua es krim rasa jeruk stroberi, daripada beli yang satu itu dan beli satu yang rasanya cokelat. Naruto benar-benar tidak menyangka bahwasanya Ino benar-benar tidak menyukai benda-benda dengan rasa cokelat, ternyata putri angkatnya ini memiliki salah satu kesamaan dengan apa yang tidak dia sukai.
Pria pirang itu menghela nafas sejenak, sebelum pada akhirnya dia meletakkan es krim yang tak sedikitpun ia cicipi ke tanah, berharap akan ada anjing yang memakannya. Kemudian pria tersebut beralih lagi ke arah gadis kecil yang sudah asyik sendiri dengan dunia kecilnya.
"Bagaimana? Apa mau tambah?" Naruto bertanya sambil mengusap puncak kepala Ino. Dan saat Ino menoleh, tangan kekar itu terlepas.
"Tidak, aku tidak mau jadi gendut!" dan dia melanjutkan menjilati sisa es krim di tangannya, mengabaikan Naruto yang kembali menghela nafas.
Ino benar-benar tipikal Loli kesukaan Author (:v).
[...]
Setelah puas mengelilingi area di sekitaran taman kota dan taman kota itu sendiri, akhirnya kedua insan berbeda jenis kelamin namun memiliki warna rambut yang sama itu sedang berjalan pelan menuju rumah mereka.
Perhatian yang Naruto tujukan pada jalan seketika teralihkan saat mendengar kalau Ino sedang menguap. Senyuman simpul yang terpasang dari wajah penuh ketegasan itupun muncul, namun sangat berkebalikan dengan apa yang sedang berada di dalam pikirannya.
Pria itu, pria berjas itu masih mengikutinya. Naruto memang tidak bisa melihatnya dengan jelas, namun insting bertahan hidupnya merasakan sebuah ketidaknyamanan akan pengawasan seseorang.
Naruto tidak bisa terus membiarkan pria ini mengikutinya, bahkan sampai ke rumahnya. Karena jika tidak, maka kejadian yang lebih buruk pasti akan terjadi. Terutama pada Ino.
"Paman!"
Pikiran Naruto serta merta langsung teralihkan saat tiba-tiba Ino berteriak, saat pandangannya terfokus kembali ke depan, yang tertangkap oleh indera pengelihatannya adalah wajah dari pria berambut hitam yang poni depannya hampir menutupi separuh wajahnya.
Berpapasan dengan Utakata di sini, membuat Naruto merasa kalau keberuntungannya sedang meningkat.
"Hei, gadis cantik, lama tidak bertemu." Utakata balas menyapa, pria itu berjongkok dan mengusap puncak kepala Ino yang sedang nyengir lebar. Kemudian tatapan pria berambut hitam itu beralih ke pria berambut pirang di belakang Ino, "Bagaimana kabarmu juga, Kapte –" ucapan bawahan Naruto itu terhenti ketika matanya menangkap ketikdaksenangan pada sorot mata Kaptennya. Dalam satu kedipan mata raut wajah Utakata menjadi serius, "Kapten, ada ap –"
"Jangan dekat-dekat dengan putriku!"
Utakata tersentak. Dia benar-benar tidak mengira bahwasanya pria yang sangat ia hormati menjadi sangat overprotectif seperti ini, dan lagi, dia kini terlihat seperti bapak-bapak pada umumnya, yang dimana selalu menjaga putri kesayangannya agar tidak diganggu oleh seorang Lolicon.
Utakata merasa terasingkan sekarang.
Namun perasaan negatif itu seketika menghilang ketika pria dengan rambut hitam tersebut melihat sebuah tanda dari pergerakan mata Naruto, Utakata tak bodoh, dia tahu kalau pergerakan mata itu menandakan kalau atasannya ini sedang diikuti.
Jadi, dia memutuskan untuk berdiri kembali sembari melempar senyum ke arah Naruto, namun tatapannya kini sudah terarah jauh di belakang kaptennya.
...dan pada akhirnya dia menemukan siapa yang sedang mengawasi kedua orang berambut pirang yang sedang bersamanya ini.
"Paman, ada apa?"
Utakata langsung tersentak ketika Ino bicara dan menarik pelan ujung kaosnya, hal itu membuat Utakata dan memberikan senyum. "Tidak ada apa-apa, Paman baru ingat kalau masih ada pekerjaan, jadi Paman pamit dulu, oke?" Dengan pelan pria tersebut mengusap kepala Ino.
"Tapi jangan lupa untuk mampir ke rumah ya, Paman?"
"Pasti." Utakata melemparkan senyum perpisasahan, sebelum pada akhirnya dia menatap Naruto.
"Hati-hati, Utakata."
"Aku tahu, Kapten." Setelah mengangguk akhirnya dia berjalan melewati Naruto, "Aku pergi."
[...]
Gubrak!
"Sekarang katakan, siapa orang yang menyuruhmu?!" Dengan berbekalkan sebuah pisau yang kini telah dikalungkan di leher seorang pria berjas, Utakata telah membengkuk orang yang memata-matai Ino di sebuah gang kecil tempat sampah berada.
Tangan dari sang pelaku sudah tertekuk di belakang punggung, dan Utakata siap mematahkan lengan tersebut jika orang ini tidak menjawab apa yang ia tanyakan.
"Jawab aku."
Pria yang diancam malah menunjukkan sengiran miringnya, tak sadar bahwa setiap ancaman dari Utakata biasanya akan dilakukan.
"Jika tidak, memangnya kau mau apa?"
CKLAK!
Tanpa basa-basi lagi tulang lengan tersebut akhir lepas dari sendinya, dan lolongan penuh kesakitan sepertinya tak sedikitpun menggoyahkan mental salah satu bawahan Naruto ini.
"Kau masih punya satu sisa lengan lagi sebelum aku menggorok lehermu yang putih ini, bagaimana?" Utakata berujar santai, tak sedikitpun mempedulikan wajah tangis dari korbannya.
"Ba-Baiklah, a-akan aku katakan!" Tak mendengar satupun respon suara dari pria yang kini sedang berada di atasnya, korban akhirnya melanjutkan. "Ya-Yang menyuruhku adalah, Tuan Yagura!"
Utakata terdiam sejenak, "Hm, bagus." Dan dengan satu tarikan singkat, akhirnya pisau itu membelah lehernya sampai setengah pangkal.
Dengan satu kali helaan nafas, akhirnya Utakata kembali berdiri. Sebelum beranjak terlebih dahulu pria yang berumur tiga puluh itu melepaskan kaos tangan yang ia pakai, dan pada akhirnya dia pergi meninggalkan mayat pria yang membuntuti atasannya.
"Yagura...? Sepertinya nama itu tidak asing."
[...]
"Yagura? Bukannya itu nama pemilik salah satu perusahaan material pembuatan senjata api di Jepang?"
"Benar, Kapten. Dan dari data yang kulihat, riwayat hidupnya memang pernah menikahi Shion. Lalu Shion sendiri adalah wanita yang berkelahiran dari Akiyama, keluarganya adalah keluarga berdarah biru, yang rata-rata selalu melahirkan seorang anak perempuan. Dan dari sini, Ino adalah penerus terakhir keluarga Yamanaka, karena Shion merupakan anak tunggal."
"Baiklah, terima kasih atas kerja kerasmu. Dan mungkin untuk beberapa hari kedepan, aku akan menyerahkan Ino padamu."
"Tapi, Kapten, ada ap—"
Dan akhirnya sambungan telponpun terputus.
Naruto, pria dengan rambut pirang ini menyandarkan punggungnya ke sofa, mencoba menenangkan semua otot dan syarafnya yang saat ini seperti mengalami kejang.
Dia menghela nafas pelan dan menatap langit-langit ruang tengah berada, "Apa yang harus kulakukan selanjutnya? Semua ini begitu rumit." Dan untuk yang kedua kali malam ini dia menghela nafas.
Yagura Koimura, adalah nama dari pemilik perusahaan yang mendanai badan keamana negara Jepang, dengan menyediakan peralatan perang serta kendaraan perang yang diperlukan.
Yang Naruto tahu, bahwa Yagura ini mengambil sepersepuluh kekuasaan tentara Jepang. Yang artinya, dia juga memiliki hak menggerakkan satu unit kecil badan keamanan negara sesuai dengan keinginannya, meski itu tidak terikat peraturan.
Dan yang lebih parah adalah, legal.
Yang Naruto kira bahwa mantan suami Shion ini hanyalah orang kaya biasa yang menyalahgunakan kekuasaan kekayaannya.
Tapi kali ini sangat berbeda urusannya jika menyangkut Yagura Koimura.
Dan Naruto benar-benar dibuat stres sekarang, "Mungkin aku harus menarik kata-kataku tentang menyelesaikan permasalahan ini sampai ke akarnya, sepertinya ini semua tidak mudah."
Pria yang umurnya hampir mencapai kepala tiga tersebut memejamkan mata beberapa menit, sebelum pada akhirnya mata itu menyiratkan sebuah keyakinan saat bola matanya kembali terlihat.
"Apakah... Aku perlu mengundang seluruh pasukanku?"
To be Continued...
.
Note: Yah... Bersamaan dengan liburan, saya selaku kriminal yang selalu memanjakan Dedek-Dedek imut nan menggemaskan, melakukan UP besar-besaran yang pastinya tidak sebesar keimutan Loli :v Lolz.
Yup, pada chapter ini terungkap sudah siapa pelaku sebenarnya. Tapi ya gitu, biar ada nama marganya jadinya sedikit ngarang biar gak panik :v
Dan keliatannya nama Yagura Koimura emang pas yak?
Hahahaha... Saya sendiri hampir ngakak saat nemu inspirasi tuh nama, datang dari saat kesandung besi karatan yang pada akhirnya membuat kaki bagus saya dirawat oleh Loli :v (asli mujur dah).
Oh, jangan lupa untuk membaca fic terbaru saya [LUMINA] yang pastinya nanti bikin anda ketagihan dengan kesadisan sang Penghisap Darah.
Sampai di sini saja, silahkan mampi ke fic yang saya UP hari ini dan diperkenankan untuk memberikan Fav/Fol.
Salam Lolicon.
