Disclaimer : Tite Kubo

Rate : T

Genre : Fantasy, Romance, Hurt/Comfort

Pair : Aizen x Orihime

(AiHime)

~Moon and Sun ~

WARNING : CRACK PAIR, OC, OCC, NO BAKU, EYD BERANTAKAN, ALUR CEPAT, DLL

.

.

.

.

.

.

Suasana di dalam istana Hueco Mundo nampak lengang tak terlihat ada aktifitas walau beberapa penjaga berlalu lalang memantau keadaan istana, melihat juga meninjau apakah ada hal berhaya atau takut jika penyusup masuk ke dalam istana walau sebenarnya itu tak mungkin terjadi mengingat sistem keamanan baik di dalam maupun luar istana Hueco Mundo begitu ketat juga berlapis apalagi banyak Menos Grande berkeliaran di sekitar gurun pasir membuat siapapun sulit untuk masuk ke dalam area istana Hueco Mundo, lantas hal itu tak membuat para penjaga menjadi malas berjaga juga berpatroli karena kemungkinan terburuk bisa saja terjadi.

Salah seorang penjaga berjalan di sekitar koridor istana sendirian hanya di temani temaran cahaya lampu dinding.

Para pelayan di istana memang sengaja hanya menyalakan lampu-lampu dingding di koridor sebagai penerangan membuat siapa saja yang berjalan di dalam istana harus berjalan secara hati-hati takut jika nantinya menabrak sesuatu apalagi Aizen yang merupakan Raja sekaligus pemilik istanan megah ini banyak mengoleksi benda-benda antik seperti guci, vas bunga besar berusia ratusan tahun bahak ribuan tahun yang ditaruh di beberapa sudut koridor sebagai hiasan. Jika bertanya dari mana pria bermata Hazel tersebut mendapatkannya, tak ada yang tahu sama sekali selain Ulquiorra, anak buah kepercayaan sekaligus tangan kanan sang Raja.

Walau keadaan di Hueco Mundo selalu gelap karena bulan berada didalam fase malam tidak ada siang hari ataupun matahari maupun bintang yang terlihat menghias langit tapi saat ini adalah waktu istirahat dimana tak hanya Raja serta Ratu saja yang tidur para Adjuchas yang bertugas melayani serta membersihkan istana juga memerlukan istirahat serta tidur sama seperti mahkluk lainnya.

Keadaan di dalam istana bisa dikatakan begitu tenang tak ada tanda-tanda keributan seperti beberapa waktu lalu dimana Aizen memang sengaja mengundang seluruh anggota Espada ke istana lebih tepatnya mengajak mereka semua untuk duduk berkumpul di ruang pertemuan istana dengan mengajak serta Orihime, sang istri untuk ikut menemani.

Dan seperti yang sudah Aizen serta Ulquiorra duga sejak awal kalau kehadiran Orihime ditengah-tengah rapat pertemuan para Espada tentunya membuat kaget serta tak suka walau sikap mereka tidak di tunjukkan secara langsung tapi ada ada saja satu atau dua Espada terlihat tidak begitu senang bahkan secara berani menunjukkan sikap kurang bersahabat saat melihat kehadiran Orihime padahal wanita berhamkota orange kecokelatan itu adalah istri sekaligus Ratu di istana Hueco Mundo dan sudah seharusnya seluruh Espada, para Komandan tertinggi kerajaan menghormati bahkan takut kepada Orihime bukan bersikap kurang ajar dengan tidak menghargainya sama sekali karena itu sama saja dengan menentang Aizen sebagai Raja sekaligus penguasa Hueco Mundo.

Ditengah-tengah pertemuan waktu itu tiba-tiba saja Ulquiorra menyerang Grimmjow mengakibatkan Sexta Espada tersebut kehilangan lengan sebelah kanannya dan seketika suasana menjadi mencekam serta riuh karena ulah Ulquiorra yang tak pernah di duga sama sekali terlebih oleh teman-teman Espada lainnya.

Grimmjow hanya bisa duduk berlutut merintih kesakitan memegangi lengannya yang terputus, darah segar akibat lukanya mengotori lantai ruang pertemuan membuat bau amis menyengat hidung begitu terasa. Tubuh Orihime sebenarnya gemetar ketakutan bahkan nyaris pingsan melihat darah tapi semuanya berusaha di tutupinya demi menjaga wibawa sang suami dan tak mau menjukkan sisi lemahnya dihadapan para Espada terlebih mereka semua meremehkan kemampuannya sebagai seorang Ratu.

Namun apa yang di lakukan Ulquiorra adalah perintah Aizen, dimana hal itu memang sengaja dilakukan untuk membuktikan sekaligus membungkam mulut mereka semua yang selama ini selalu meremehkan Orihime, istrinya.

Orihime bukanlah sosok wanita lemah, tak berguna sama sekali yang selama ini di bayangkan. Dibalik sifat lembutnya serta terlihat begitu lemah tak berdaya juga tak berguna ternyata menyimpan kekuatan dasyat yang tak dimiliki siapapun termasuk Aizen sekalipun. Dan semenjak kejadian dimana Orihime menyembuhkan luka Grimmjow bahkan mengembalikan tangan Grimmjow yang sudah terpotong seperti sedia kala membuat semua Espada terkesan juga salut, dan menganggap kalau Raja mereka tak salah pilih memilih pasangan serta Ratu karena dengan kekuatan yang dimiliki Orihime bukan tak mungkin kerajaan Hueco Mundo semakin kuat.

^,^

Berjalan sendirian di koridor dalam keremangan dalam balutan dress tidur berlengan panjang berwarna peach, Orihime mendatangi setiap ruangan di istana yang jumlah hampir ratusan demi mencari sosok pria bersurai cokelat pendek dengan mata Hazel, berstatus sebagai penguasa di kerajaan ini sekaligus suami. Dan, sudah hampir dua puluh menit mencari tapi Orihime belum menemukan keberadaan pria tampan tersebut, membuat hatinya tiba-tiba di rundung perasaan sedih.

Padahal belum ada empat jam Orihime tidak bertemu namun rasa rindu mendera hati. Sebenarnya Orihime sudah mencoba tidur sendirian di kamar tapi hampir satu jam berada diatas kasur memposisikan diri dengan berbagai pose tidur agar bisa nyenyak tidur namun mata tak mau terpejam sama sekali bahkan rasa kantuk tak menghampiri Orihime benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak kalau tidak ada Aizen didekatnya, dan terkadang hal itu membuat Orihime sebal.

Ketika hendak menaiki tangga menuju lantai empat seseorang menyapa Orihime dari belakangnya, "Orihime-sama!" teriak Espada cantik bersurai hijau panjang bergelombang yang di ketahui bernama Nelliel, istri dari Nnoitra salah satu Espada yang bertugas di perbatasan.

Espada cantik ini berjalan tergesa-gesa menghampiri, membungkuk hormat kepada sang Ratu. Tadinya Espada bersurai hijau dalam balutan pakaian pelayan ini hanya ingin pergi ke belakang istana menemui sang suami yang kebetulan baru saja datang setelah selesai dari tugasnya di perbatasan, namun siapa yang menduga kalau akan bertemu dengan sang Ratu.

"Ah~Nelliel-chan!" kata Orihime kaget.

Wanita bersurai hijau ini melemparkan senyuman lebar melihat tingkah lucu sang Ratu yang ketakutan tadi ketika di panggil seperti seorang pencuri yang ketahuan, "Anda ingin kemana, Orihime-sama?" tanya Nelliel penasaran.

"Apa kau melihat, Aizen-sama?" Orihime balik bertanya penuh harap kalau pelayan manis ini tahu keberadaan Aizen yang dicarinya sejak tadi.

Berpikir sejenak kemudian Nelliel menampilkan senyuman manis, "Tadi, hamba melihat Yang mulia masuk ke dalam ruang baca tapi itu sekitar satu jam yang lalu."

Senyuman cerah langsung menghiasi wajah cantik Orihime, "Benarkah itu?" Tanya Orihime antusia memastikan kalau Nelliel tak salah lihat.

"Iya, tapi itu satu jam yang lalu hamba melihatnya,"

"Tak apa, karena aku yakin kalau Aizen-sama pasti masih ada disana, dan bisakah kau buatkan secangkir teh untuk Yang mulia serta camilan lalu bawakan ke ruang baca," perintah Orihime.

Nelliel membungkukan tubuh dalam, "Baik, Orihime-sama,"

"Terimakasih. Sampai nanti lagi, Nelliel-chan." Kata Orihime seraya berlalu.

Tersenyum sesaat melihat punggung sang Ratu yang semakin lama semakin menjauh dalam kegelapan, "Selamat beristirahat, Orihime-sama." Gumamnya karena dirinya lupa untuk mengatakannya tadi.

Langkah kaki Orihime semakin cepat menuju ke ruang baca yang terletak di lantai empat dimana memang biasanya pria bermata Hazel itu selalu menghabiskan waktu disana mulai dari mengerjakan laporan kerajaan, membaca buku bahkan membahas stategi perang dengan beberapa Espada kepercayaanya dan pastinya Ulquiorra tak pernah ketinggalan selalu ada di setiap pertemuan karena menjadi Espada paling dipercaya atau bisa dibilang tangan kanan Aizen.

Orihime berdiri tepat di depan pintu besar berlapis cat cokelat tua dengan pahatan atau ukiran indah disekitarnya dengan gagangan berwarna emas. Mengenggam gagang pintu lalu mendorongnya perlahan hingga menimbulkan suara namun tidak terlalu keras karena sepelan mungkin Orihime membuka pintu takut jika mengganggu waktu santai sang suami yang sangat mencintai buku mungkin melebihi dirinya karena tak jarang Orihime merasa cemburu, di acuhkan jika Aizen sudah memegang buku.

Kedua mata abu-abu Orihime memandang ke seluruh ruangan yang banyak berderet rak-rak buku berisikan berbagai macam buku, dan jika di hitung jumlahnya mencapai ribuan.

Saat matanya melirik ke pojokkan ruangan, dirinya menangkap sosok sang suami dimana tengah duduk nyaman di atas sofa berukuran panjang dengan sebuah buku berukuran cukup tebal berwarna cokelat muda di tangan, raut wajah Aizen nampak serius tak menyadari sama sekali kedatangan Orihime yang berjalan ke arahnya dalam balutan dress tidur berbahan satin berlengan panjang berwarna peach.

"Aizen-sama," panggil Orihime pelan menginterupsi kegiatan pria bermata hazel tersebut yang terlihat begitu fokus membaca.

Aizen terkejut sesaat namun kemudian menoleh seraya tersenyum pada sang istri seraya menutup buku perlahan, "Kemarilah," tangannya terulur ke depan meraih tangan Orihime yang saling bertautan.

Tubuh wanita cantik bersurai orange kecokelatan tersebut di tuntunnya untuk duduk disebelahnya, "Ada apa, Hime? Kenapa kau sini," Aizen membelai lembut pipi gembil sang istri membuat wajahnya langsung bersemu merah seperti buah plum.

Kedua tangan Orihime langsung melingkar erat di tubuh Aizen, "A-aku tak bisa tidur," rajuknya dengan nada manja layaknya anak kecil yang takut tidur sendirian di kamar karena habis bermimpi buruk.

Wajah Orihime di tenggelamkan ke dada bidang Aizen menyembunyikan pipinya yang bersemu merah tanda tengah malu sekaligus merajuk dan sifat manjanya layaknya anak kecil tiba-tiba muncul.

Tersenyum sesaat, Aizen mengelus puncak kepala Orihime penuh kasih, "Kalau begitu ayo kita..."

"Aku ingin tidur disini. Anda lanjutkan saja membacanya." Sela Orihime cepat.

Rasa malas untuk kembali ke kamar menghinggap di hati, sepertinya tidur di ruang baca tak buruk juga selain itu tidak menganggu aktifas membaca Aizen.

Tak mau berdebat apalagi sampai menolak keinginan Orihime yang entah kenapa belakangan ini sifatnya terlihat begitu berbeda tidak seperti biasanya dan malah cenderung manja selalu ingin di sayang bahkan tak jarang mencari-mencari perhatian padahal seluruh perhatian, cinta, dan kasih sayang Aizen hanya untuk Orihime seorang karena wanita itu adalah dunianya, pusat kehidupan Aizen.

Menyadarkan tubuh di sofa dengan sebuah bantalan besar di belakang sebagai sandaran agar terasa nyaman sedangkan Orihime sudah terlelap tidur mungkin saja sudah bermimpi indah, kebebetulan ada selimut yang kemarin Orihime bawa dan bisa dipakai untuk menutupi tubuh mereka berdua. Mengecup singkat puncak kepala sang istri, Aizen melanjutkan kembali kegiatan membacanya yang tadi sempat tertunda. Salah satu tangan Aizen melingkar nyaman di tubuh Orihime sedangkan yang satu lagi digunakan untuk memegangi buku.

Walau agak kesulitan membaca dalam posisi seperti ini tapi Aizen tidak merasa keberatan sama sekali bahkan senang karena ada Orihime di dekatnya, walau tengah terlelap tidur.

Membalik halaman selanjutnya, mata hazel milik Aizen membaca setiap deret kata di dalam buku mengenai informasi mengenai dunia manusia dimana belum banyak yang mengetahui mengenai salah satu dunia dari tiga dunia, dunia tempat tinggal para roh yaitu Soul Soceity, dunia para Hollow, Hueco Mundo lalu dunia manusia tempat tinggal mahkluk mortal karena memiliki umur pendek.

Selang beberapa menit kemudian tak lama setelah Orihime tertidur.

Kreek~

Pintu ruang baca terbuka, seorang pelayan Adjuchas wanita datang membawakan secangkir teh bunga melati dengan beberapa keping kue biskuti gandum utuh sebagai teman pendamping dan dibelakang pelayan tersebut ada Ulquiorra berjalan mengikuti masuk ke ruang baca tanpa tahu kalau sang Raja sedang bersama sang Ratu.

Reaksi Aizen sedikit bingung saat melihat kedatangan Adjuchas tersebut karena seingatnya dirinya tidak pernah meminta dibawakan apapun. Dan sang pelayan yang mengerti akan sikap serta reaksi sang Raja langsung membungkuk hormat, "Tadi Orihime-sama memerintahkan hamba untuk membawakan ini untuk anda," kata sang pelayan menjelaskan.

"Terima kasih. Kau boleh keluar sekarang,"

"Baik, Yang mulia." Kata sang pelayan seraya berjalan menunduk hormat serta takut kepada sang Raja kemudian menutup pelan pintu ruang baca.

Sementara itu Ulquiorra berjalan mendekat ke arah Aizen lalu berdiri tak jauh dari sofa, "Apakah kedatanganku menggangu waktu istirahat anda," ujar Ulquiorra dengan wajah datarnya.

"Tidak. Duduklah," Aizen mempersilahkan anak buah kepercayaannya itu untuk duduk di sofa di sampingnya dan menemaninya di ruang baca karena ia cukup merasa kesepian walau ada Orihime di dekatanya dan kebetulan Ulquiorra datang, setidaknya Aizen memiliki teman mengobrol walau isi dari perbincangannya dengan Espada bersurai hitam tersebut pastinya tidak jauh dari membahas mengenai pasukan kerajaan, strategi perang dan semacamnya.

Mungkin bagi sebagian besar Espada menganggap sosok Ulquiorra sangat menyebalkan, kaku, dan tak bisa di ajak berbincang namun itulah yang menjadi nilai plus tersendiri bagi Aizen mengapa sampai menjadikan Ulquiorra sebagai orang kepercayaannya.

Perlahan-lahan Aizen bangun mengubah posisinya menjadi duduk namun tetap mendekap erat tubuh Orihime karena kedua tangan istrinya masih melingkar erat di tubuhnya seperti seekor koala dan itu sangat menggemaskan bagi Aizen.

Orihime menggeliyat tak nyaman saat Aizen berusaha melepaskan dekapan tangannya, "A-anata..." igau Orihime.

Ujung bibir Aizen terangkat membentuk sebuah senyuman kecil, "Aku disini, Hime. Tidurlah, mimpi yang indah." Katanya mengecup pelan puncak kepala sang istri dan itu dilakukan di depan Ulquiorra yang raut wajahnya nampak datar tanpa ekspresi sama sekali melihat adegan romantasi dari sepasang suami istri tersebut yang tengah dimabuk asmara layaknya pasangan remaja.

Ekspersi wajah Ulquiorra benar-benar dingin tak memiliki ekspresi sama sekali juga perasaan apapun. Tak heran jika teman-teman Espada-nya mengatai Ulquiorra sebagai wajah papan atau wajah datar karena tak pernah menunjukkan ekspresi hatinya entah itu senang, sedih ataupun marah.

"Maaf, membuatmu harus melihat hal seperti ini," ujar Aizen dengan perasaan tak enak.

"Tak masalah, Aizen-sama. Selama anda senang dan nyaman melakukannya saya ikut merasa senang juga." Sahut Ulquiorra datar menanggapi.

Aizen tersenyum kecil menanggapi kata-kata Ulquiorra.

Menyesap teh buatan pelayan tadi lalu menaruh kembali cangkir keramik tersebut di atas meja, "Apakah ada hal penting yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya Aizen tak berbasa-basi.

"Anak buahku melihat beberapa klan Quincy memasuki gerbang Soul Society."

"Quincy?!" dahi Aizen berkerut bingung.

"Benar Aizen-sama, karena dilihat dari pakaian putih yang di kenakan serta hawa Reaitsu mereka. Tidak salah lagi kalau itu adalah Quincy."

Ekspresi bingung Aizen berubah menjadi kaget karena tak menduga sama sekali kalau klan Quincy datang ke Soul Society karena klan Quincy atau bisa dibilang para pendeta suci adalah sebuah klan yang terbuang dari kerajaan Soul Society seribu tahun lalu dimana dulu salah satu pendiri Quincy, Yhawch berusaha merebut tahta kerajaan Soul Society dengan melakukan kudeta besar-besaran.

Pria bersurai hitam panjang itu berusaha menggulingkan Raja pada waktu itu dimana sebenarnya keduanya masih memiliki hubungan darah karena kebetulan mereka adalah sepupu, dimana Yhawch adalah anak dari kakak perempuan Raja.

Perang besar pun tak terhindarkan, banyak korban berjatuhan termasuk dari keluarga kerajaan, keadaan Soul Society pada waktu itu benar-benar kacau balau bahkan bisa dibilang begitu menyedihkan karena banyak desa-desa terbakar, hancur akibat dari pertarungan, pada waktu itu Aizen masih berusia muda tapi sudah berada di Gotei tiga belas sebagai salah prajurit biasa belum menjadi seorang Komandan, dirinya juga ikut merasakan peperangan dimana dengan kedua matanya sendiri melihat rekan-rekannya terbantai serta para Quincy.

Perang memang selalu membawa bencana sekaligus penderitaan mendalam bagi siapapun tanpa terkecuali.

Aizen memandang sekilas wajah lelap sang istri, kemudian memandang dingin ke arah Ulquiorra, "Jika memang berita yang kau sampaikan itu benar bukan tak mungkin kalau Soul Society berniat melakukan pemberontakan di belakang kita. Padahal aku sudah berbaik hati dengan memberikan perjanjian damai walau Orihime menjadi imbalannya untuk menjadi istriku."

"Apa yang ingin aku lakukan untuk anda?" tanya Ulquiorra.

Aizen merebahkan tubuh Orihime ke sofa lalu menyelimutinya hingga sedada, untung saja Orihime tidak terbangun, Aizen bangun dari posisinya kemudian berjalan santai ke arah jendela lalu berdiri di bawahnya memandang penuh arti bulan besar yang bersinar terang di kerajaannya, "Aku ingin kau diam-diam mencari tahu mengenai kondisi Soul Soceity dan laporkan semua yang kau lihat dan jika memang benar Soul Society berniat melakukan sesuatu, maka dengan terpaksa bendera perang harus aku kibarkan kembali."

"Lalu bagaimana dengan nasib Orihime-sama? Bukankah beliau adalah salah satu bagian dari Soul Society,"

"Kini Orihime istriku, Ratu di kerajaan ini dan bukan lagi bagian dari Soul Society. Jalankan perintahku tanpa ada yang mengetahuinya sama sekali." Titah Aizen.

"Baik, Aizen-sama. Akan saya jalankan perintah anda." Sahut Ulquiorra patuh kemudian pergi menghilang dari hadapan Aizen.

Suasana di ruang baca begitu hening tak terdengar suara apapun bahkan suara lembaran buku yang di balik hanya suara desiran angin yang menjadi melodi tersendiri menemani Aizen.

Hati Aizen bergejolak hebat antara marah dan bingung, mengingat janjinya pada sang istri untuk tidak berperang kembali dengan Soul Society dimana akan mengakibatkan banyak orang menderita karena kehilangan orang terkasih, keluarga tapi jika Byakuya tidak bisa menepati janjinya sendiri bahkan ingin menyerang Hueco Mundo sudah kewajiban Aizen sebagai seorang Raja melindungi rakyatnya dari serangan luar mengingat seluruh penduduk kerajaan Hueco Mundo juga berhak untuk hidup sama seperti penduduk Soul Society.

"Maafkan aku, Hime." Lirihnya pelan.

TBC

A/N : Apakah masih ada yang menantikan Fic ini?

Maaf jika kelanjutannya sangat lama karena saya benar-benar sibuk dan sedikit kehilangan jalan cerita Fic ini.

Untuk kelanjutannya sedang dalam pengerjaan namun saya tak bisa janji kapan bisa update chapter selanjutnya.

Saya juga ingin memberitahu kalau saya berencana akan membuat cerita Moon dan Sun di akun Wattpad namun sedang dalam pengerjaan, jika berkenan kalian bisa mampir membaca salah satu karya saya di OgamiBenjir08.

Saya ucapkan terima kasih kepada siapapun yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca Fic ini dan jika berkenan tinggalkan Riview.

Ogami Benjiro II