Turn On The Light

All character belong to Naruto

Naruto © Masashi Kishimoto

1999

Turn On The Light by Putpit

16 Oktober 2014

Summer Camp

Suara deburan ombak terdengar indah bersama hembusan angin. Langit begitu cerah dan matahari bersinar terik sehingga membuat hawa sekitar terasa menggerahkan. Setelah menempuh perjalanan dua jam lebih menuju Pulau Nanakusa, rasa lelah para murid murid kelas tiga Konoha Art Senior High School terbayar lunas oleh keindahan disini. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu istirahat yang hanya diberikan tiga puluh menit oleh guru pengawas. Mereka terlihat berpencar dan asyik pada kegiatannya masing-masing. Ada yang duduk berselonjor di pinggir pantai sambil menikmati pemandangan, ada yang bergerombol untuk membangun istana pasir, serta ada pula bermain-main air layaknya anak kecil.

Haruno Sakura sendiri lebih senang berdiri diam menatap lautan lepas. Rambutnya yang dikuncir dua rendah ditutupi oleh topi anyaman bambu sehingga terlindungi dari sengatan mentari. Celana pendek bercorak bunga dan kaos biru mudanya bergerak-gerak seiring kencangnya angin musim panas.

Pantai. Bila berada di pantai, Sakura seakan ditarik kembali ke masa itu. Masa dimana ia masih berteman baik dengan Naruto.

Setiap terbayang masa lalu, maka Sakura akan merasa rindu. Namun, kerinduannya tidak akan menghasilkan ikatan pertemanan kembali dengan Naruto. Karena ada cerita lain. Cerita lain yang membuat Sakura membenci laki-laki yang kerap ia panggil cowok durian tersebut.

"Sakura!" seru sebuah suara nyaring dari arah utara.

Sakura menoleh ke samping kanan dan mendapati dua sahabatnya tengah melambai penuh senyuman kepadanya. Sakura pun membalas lambaian mereka kemudian dua sahabatnya itu berlari bergandengan menghampiri Sakura.

"Guru Gai sudah meniup peluit agar kita kembali ke area perkemahan, kenapa kamu malah melamun disini? Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu ada masalah?" tanya Ino bertubi-tubi.

Sakura mendengus. "Kau seperti sedang menginterogerasi penjahat Ino. Pertanyaanmu terlalu banyak."

Ino merengut, "Aku bertanya karena aku mengkhawatirkanmu. Semenjak kita sampai di Pulau Nanakusa, kamu terus saja diam dan melamun. Aku berpikir jika kamu ada masalah," jelasnya menyentuh bahu Sakura.

"Aku tidak apa-apa Ino. Kamu memang sok tahu deh. Aku cuma kecapekan aja," sahut Sakura meraih tangan Ino di pundaknya kemudian menggegamnya erat.

"Sungguh?" tanya Ino masih belum yakin.

Sakura terkekeh. Ia melingkarkan masing-masing lengannya pada pundak dua sahabatnya. "Girls, this is summer. Jangan berpikiran macam-macam deh! Aku cuma capek doang kok. Sungguh," ujarnya mantap.

Ino dan Tenten saling berpandangan sejenak. Mereka kemudian mengangguk bersamaan.

"Baiklah, kami percaya. Tapi jika kamu memang butuh cerita, maka kami siap mendengarkan," beritahu Tenten.

Ino mengangguk sekali lagi. "Ya, kami siap dua puluh empat jam penuh."

"Kau terdengar seperti dokter penjaga UGD Ino," gurau Sakura seraya tertawa.

"Aku serius, forehead. Persahabatan kita bukan hanya satu atau dua hari, melainkan dua tahun lebih. Aku dapat dengan mudah mengetahui kalau kamu berbeda hari ini," kata Ino.

"Terima kasih," balas Sakura. "Terima kasih karena sudah perhatian padaku. Aku baik-baik saja kok," lanjutnya sembari mengajak Ino dan Tenten untuk melangkah pergi.

TOTL…

Tak jauh dari tempat Sakura, Naruto tengah mengamati punggung sang gadis musim semi tersebut sampai ia berbelok dan menghilang dari pandangan. Naruto menghela nafas berat lalu berjalan keluar dari rerimbunan pohon yang menutupi sosoknya sedari tadi.

Naruto tersenyum kecil tatkala mengenang hari-harinya bersama Sakura sewaktu kecil dulu. Saat itu, mereka suka berlarian di sepanjang pantai sambil mengacungkan mainan kincir angin yang terbuat dari kertas sehingga kincirnya berputar-putar cepat. Mereka juga suka berenang memakai pelampung bebek ditemani kedua orang mereka. Ya, dulu banyak hal menyenangkan yang biasa ia lakukan bersama Sakura. Namun sekarang semua hal menyenangkan itu hanya bisa terkenang tanpa bisa terulang.

"Hei Naruto," sapa Neji menepuk bahu sang Uzumaki.

"Hmm," sahut Naruto sekenanya.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Shikamaru.

"Tidak ada."

"Lalu, apa yang sedang kau lakukan disini sendirian?" tanya Shikamaru lagi.

"Tidak ada."

"Apa ada masalah?" tanya Shikamaru untuk yang ketiga kali.

"Tidak ada," jawab Naruto sama seperti dua jawaban lain.

Neji membalikan badan sembari berkata, "Kalau begitu kamu bisa membantu kami mengumpulkan kayu untuk acara ramah tamah nanti malam kan?"

Naruto yang sejak tadi menerawang lurus ke lautan di depannya merespon dengan anggukan singkat dan menjawab. "Oke."

Ketiganya lalu berjalan masuk ke hutan di bagian selatan pulau. Setelah satu jam berlalu, mereka kembali ke area perkemahan dan menyusun kayu-kayu membentuk kerucut di tengah-tengah area perkemahan. Naruto lantas menggunakan sisa sore hari ini dengan membersihkan diri serta bersantai.

Tepat pukul enam, matahari telah tenggelam sempurna. Seluruh peserta summer camp sekaligus guru-guru pengawas berkumpul untuk makan malam. Acara kemudian berlanjut dengan ramah tamah. Semua orang duduk bersila mengelilingi api unggun dan nampak mengobrol ringan satu sama lain. Suasana yang tercipta benar-benar terasa hangat.

"Hello everybody! Semangat membara!" seru Guru Gai berdiri tegap diantara para murid serta rekan kerjanya.

"Hello Guru Gai!" sahut orang-orang serempak.

"Tidak, tidak. Bukan begitu caranya membalas salam semangat membara dari Guru Gai," kata beliau sambil menggoyang-goyangkan telunjuk kanannya. Beliau mengedarkan pandangan dan melanjutkan, "Jika aku bilang 'hello everybody! Semangat membara,' maka kalian harus menjawab 'hai hai hello Guru Gai! Semangat membara.' Oke?"

"Oke."

"Baiklah, aku ulangi lagi," ucap Guru Gai. Beliau berdehem sejenak dan berkata, "Hello everybody! Semangat membara!"

"Hai hai hello Guru Gai! Semangat membara!"

Guru Gai bertepuk tangan keras. "Bagus, bagus. Pertahankan terus semangat membara kalian ya!" ujar beliau sambil memamerkan senyum lima jarinya. "Di acara ramah tamah malam ini, kita akan mengakrabkan diri pada teman-teman yang lain. Bersantai dan menikmati waktu untuk mengenal teman-teman dari berbagai jurusan," lanjut Guru Gai.

Sebenarnya Naruto mengantuk, tapi melihat guru eksentrik di hadapannya memandu acara dengan semangat, membuat kantuknya pun perlahan menghilang.

Naruto terus mendengarkan ucapan Guru Gai sampai beliau berkata, "Ramah tamah itu tidak seru tanpa penampilan dari murid-murid berbakat seperti kalian. Maka dari itu, awal acara akan dibuka oleh penampilan dari penyanyi seriosa kita, Haruno Sakura. Yei!"

Sontak tepuk tangan terdengar bergemuruh seiring langkah gadis tersebut menuju tempat Guru Gai berdiri. Sakura terlihat berbeda dengan rambut dikuncir dua rendah dan gitar yang dibawanya. Ia membungkuk sopan lalu duduk di kursi yang telah disediakan.

"Apa judul lagu yang akan kamu nyanyikan Sakura?" tanya Guru Gai.

"Salah," jawab Sakura sembari tersenyum.

Guru Gai menaikkan sebelah alisnya. "Hah, salah? Memang ada yang salah dari pertanyaanku tadi?" tanya beliau pura-pura kaget.

"Oh, bukan begitu. Maksud saya, judul lagu yang akan saya nyanyikan adalah Salah," jelas Sakura nampak salah tingkah.

Guru Gui tertawa lebar. "Ya, ya, aku tahu. Aku cuma bercanda," kata beliau mencoba menenangkan Sakura. "Hmm, aku dengar lagu ini kamu ciptakan sendiri. Apa itu benar?"

"Ya. Ini merupakan lagu pertama yang saya ciptakan," jawab Sakura tersipu malu.

"Wow. Pada umur berapa kamu membuatnya?"

"Lima belas tahun."

"Apa ada cerita dibalik lagu ini?"

Sakura tertawa keki. Ia terlihat merenung cukup lama untuk menjawab.

Guru Gai pun menyadari sikap berlebihannya. Beliau spontan ikut tertawa keki. "Áh, aku seperti pembawa acara talkshow karena terlalu banyak bertanya. Maaf."

Sakura tertawa lagi. "Ya. Anda cocok untuk pekerjaan itu," ujarnya. Ia lantas melanjutkan, "Hmm, cerita dibalik lagu ini ialah tentang kenangan masa lalu yang menyakitkan."

"Kenangan menyakitkan itu membentuk dirimu agar menjadi lebih dewasa," komentar Guru Gai menampilkan senyum khasnya. Beliau memang selalu berpikiran positif. "Baiklah, tidak perlu basa-basi lagi, silahkan tunjukan kehebatanmu Nona Haruno!" ujar Guru Gai lalu melangkah pergi.

Naruto memerhatikan Sakura memetik senar-senar gitarnya, memainkan beberapa kunci sebagai nada pembuka dan sesaat kemudian ia bernyanyi.

Owooo…

Dulu. Dulu semua terasa hebat kala kita bersama. Bersama-sama

Tersenyum, tawa, tangis, terisak itu tidak apa-apa. Tidak apa-apa asalkan dirimu di sampingku

Kini kenangan itu hanyalah masa lalu

Kita tidak bersama. Tidak ada lagi kata kita

Aku cinta kamu, namun semuanya salah

Ada dia yang tersakiti disana

Aku cinta kamu, namun semuanya begitu salah

Ada dia yang menangis sendirian disana

Owooo…

Dia adalah sahabatku. Tak akan mungkin aku bisa menyakitinya

Menyakitinya begitu dalam

Lebih baik seperti ini. Maka tak akan yang ada tersakiti

Tersakiti karena cinta kita

Aku cinta kamu, namun semuanya salah

Ada dia yang tersakiti disana

Aku cinta kamu, namun semuanya begitu salah

Maafkan aku, kita tak akan pernah bisa bersama

Sakura mengakhiri nyanyiannya dengan nada suara yang tinggi. Entah perasaan Naruto saja atau memang Sakura sengaja, yang pasti selama bernyanyi tadi kedua iris emerald gadis musim semi itu tak pernah lepas dari Naruto. Seakan lagu tersebut ditujukan padanya.

TOTL…

Keesokan pagi, murid-murid kelas tiga Konoha Art Senior High School nampak berbaris rapi di tengah area perkemahan mengenakan kaos olahraga. Tema hari kedua summer camp ialah sport and fun, jadi semua kegiatan akan berkutat seputar kemampuan fisik. Guru Gai menjadi koordinator sekaligus penanggung jawab kegiatan karena beliau merupakan guru olahraga di sekolah kami.

Pukul enam lebih lima belas menit tiba-tiba terdengar dentuman suara dari arah utara. Anak-anak yang tadinya terlihat sering menguap dan matanya hanya terbuka setengah spontan terbelalak kaget.

Sosok laki-laki berambut kuning jabrik kemudian muncul dari belakang speaker jumbo dan bersalto ria ke barisan anak-anak. Ia mengepalkan tangannya ke atas sembari berseru, "Yo, selamat pagi semua!"

"Pagi, Naruto!" sahut mereka.

"Yo, perkenalkan namaku adalah Uzumaki Naruto. Aku adalah instruktur senam hari ini, jadi kalian harus semangat membara yo!" ujar Naruto dengan intonasi yang menggebu-gebu.

Sakura memutar kedua bola matanya tak suka. "Ogah deh," ucapnya lalu membalikan badan.

Ketika ia hendak pergi, Ino menahan lengannya dan bertanya, "Kamu mau kemana?"

"Kemanapun asalkan menjauh dari si durian," jawab Sakura.

"Kita harus melakukan semua kegiatan summer camp tanpa bantahan. Apa kamu mau dihukum Guru Gai?" tanya Tenten di sebelah kiri.

Sakura tersenyum kecil. "Banyak alasan yang bisa digunakan untuk pengecualian."

"Memangnya apa alasan yang mau kamu berikan?" sela seseorang di belakang Sakura.

Sakura menghela nafas keras. Tanpa menoleh pun ia sudah mengenali si pemilik suara. Karena ia sedang malas bertengkar, Sakura memilih beranjak. Namun, langkahnya mendadak berhenti oleh tangan yang memegangnya.

"Mau alasan sakit? Hei, dahimu terlalu lebar dan cerah bila dikatakan sakit. Atau mau pamit ke toilet? Hei, toilet disini terlalu besar untuk dijadikan markas bersembunyi oleh tubuhmu yang kurus itu. Oh, atau kamu mau mengaku kalau Uzumaki Naruto terlalu hebat menjadi instruktur senam jadi kamu memilih kabur?" cerca orang tersebut.

Sakura menarik tangannya, mencoba melepas pegangan orang tersebut, tapi usahanya sia-sia. "Naruto, lepaskan tanganmu dariku atau kau kubunuh!" ancam Sakura.

"Aku lebih suka pilihan kedua," jawab Naruto.

Sakura mendecakan lidah. Ia memutar tubuhnya dan melotot marah. "Aku bilang lepas ya lepas. Dasar durian jelek gila!" makinya.

"Hei, ada ribut-ribut apa disini?" ujar Guru Gai menghampiri keduanya.

Sakura memasang wajah sakitnya lalu berkata, "Guru Gai, kepala saya pusing. Sepertinya saya butuh istirahat deh."

"Kamu sakit Sakura? Yauda, kamu boleh istirahat di tenda saja," ujar Guru Gai memberi intruksi pada Naruto. "Tolong kamu antar Sakura ya, Naruto."

Naruto tersenyum lebar seraya berucap, "Siap!" Ia menaruh kedua tangannya pada tubuh Sakura kemudian menggendongnya ala bridal style.

Sakura membelalakan mata kaget. Ia mengumpat lantas berteriak pada Naruto, "Durian gila! Turunin aku sekarang! Apa-apaan ini? Beraninya kamu gendong aku!"

Naruto tertawa kencang. "Orang sakit ternyata bisa teriak-teriak kayak kaleng cempreng ya," ejeknya menatap lekat pada Sakura.

Sakura mengedarkan pandangannya dan merasa malu lantaran teman-temannya memperhatikan keduanya. Ia berbisik, menahan amarah. "Turunin atau kau kubunuh!"

Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Bukankah orang sakit itu lemas jadi tidak bisa jalan ya? Aku hanya ingin menolongmu Sakura."

Emosi Sakura meletup. "Turunin sekarang!" teriaknya sambil menekankan kata sekarang.

"Baiklah." Naruto mengedikan bahu lalu melepaskan kedua tangannya sehingga Sakura pun terjatuh ke tanah. Anak-anak yang melihat hal tersebut menganga kaget, namun detik selanjutnya mereka tertawa kencang.

Sakura mengaduh sambil mengelus pantatnya yang nyeri. Sedikit air mata tampak di ujung matanya, bukan karena ia kesakitan melainkan karena ia sungguh malu ditertawakan teman-temannya. "Kau benar-benar kejam, Naruto."

Naruto yang tadinya ikut tertawa bersama teman-temannya mendadak memasang raut sedih. Sekilas ingatan masa lalu menghampirinya, ucapan Sakura sama persis seperti yang diucapkan perempuan itu sebelum dia pergi. Apa Naruto kembali berbuat salah kali ini?

Naruto berjongkok. "Maaf," ujarnya memegang lengan Sakura, mencoba membantu Sakura berdiri.

Sakura menepis tangan Naruto. Ia melirik tajam pada laki-laki itu. "Hal yang seperti ini yang ngebuat dia pergi. Kamu dan ketololanmu!" desis Sakura bangkit secara perlahan dan tertatih pergi.

TOTL…

"Kamu tidak apa-apa?"

Sebuah suara diluar tenda membuat Sakura terbangun dari tidurnya. Setelah bertengkar dengan Naruto, Sakura kembali ke tenda dan menangis diam-diam hingga ketiduran. Ia sengaja menyuruh Ino dan Tenten meninggalkannya di tenda sendirian supaya ia bisa menenangkan diri.

Sakura mengerjapkan mata beberapa kali, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, kemudian membuka resleting tenda untuk melihat orang tersebut. "Oh, Sai. Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku," katanya tersenyum tipis.

Sai membalas senyum Sakura sambil menyodorkan sebuket bunga berwarna ungu. "Semoga kamu merasa tenang ketika kamu menghirup aroma bunga itu! Aku baca di buku bila bunga lavender bisa memberikan efek tenang dan meredakan stress."

Sakura menerima bunga pemberian Sai dan berpikir bila lelaki itu lumayan romantis, tapi agak menyebalkan. Bagaimana bisa dia mengatakan bila Sakura stress, padahal Sakura tidak mempunyai banyak masalah melainkan hanya satu masalah dengan cowok durian yang membuat darahnya seakan mendidih.

Sakura keluar dari tenda dan berdiri berhadapan dengan Sai. "Oh ya, ada acara apa setelah ini?" tanya Sakura.

"Jelajah hutan. Memangnya kenapa?"

Sakura menggeleng kecil. "Tidak apa-apa. Aku ingin ikut," jawabnya.

"Jangan! Kamu tadi habis jatuh, jadi pasti masih sakit. Lagipula aku juga mendengar kamu menangis, kamu pasti malu ditertawakan seperti itu. Lebih baik istirahat saja," jelas Sai.

Sakura tersenyum mendengar perkataan Sai yang begitu perhatian. Lelaki kaku ini ternyata mengerti perasaannya. "It's okay, Sai. Aku bosan di tenda terus," ucapnya menenangkan.

Sai nampak berpikir sejenak lantas menjawab, "Baiklah. Kamu bisa satu kelompok denganku."

"Oke."

Jelajah hutan dimulai pukul satu siang. Ada dua puluh kelompok yang terdiri dari lima orang tiap kelompoknya. Mereka berangkat bergilir sesuai instruksi Guru Gai. Jalanan yang dilalui berliku dan terdapat banyak tumbuhan rambat yang menutupi tanah. Ketika sampai di pos pertama, Sakura melihat tiga buah tali terpasang di pohon. Disana ada Bu Kurenai yang menjaga pos. Masing-masing anak diharuskan berayun di pohon agar dapat melewati pos pertama. Sakura dan keempat anggota lainnya gembira lalu high five bersama karena berhasil melalui pos satu dengan baik. Selanjutnya, Sakura sampai di pos yang dijaga oleh Pak Kakashi. Di pos ini, satu kelompok diharuskan merayap melewati tali-tali yang dipasang sambil memegang kaki anggotanya dengan mata tertutup. Mereka pun merayap meliuk-liuk layaknya ular yang kebingungan. Terakhir adalah pos yang dijaga Guru Gai. Terdapat kubangan lumpur di pos ketiga. Dua kelompok akan bertarung di lumpur dan anggota yang paling banyak terjatuh adalah yang kalah. Kelompok Sakura berhadapan dengan kelompok Lee.

Gadis bermahkota merah muda itu tersenyum lebar dan merenggangkan tangannya, bersiap-siap.

"Tenang saja, aku tidak akan bersikap kasar padamu Nona Sakura. Bila perlu aku bersedia kamu jatuhkan dalam satu kali pukulan," kata Lee memberikan senyum lima jari pada Sakura.

Sakura menggeleng. "Tidak perlu repot-repot mengalah, pasti aku akan mengalahkanmu dengan satu kali sentilan," sahut Sakura meremehkan.

Bukannya marah, raut wajah Lee justru berbinar takjub. "Oh tentu saja. Semangat membara dari Haruno Sakura memang hebat!" serunya gembira.

Sakura pun hanya bisa menghela napas jengah.

Priiit…

Peluit tanda dimulainya permainan berbunyi nyaring. Sakura melawan siswa dari Jurusan Musik, namun ternyata cukup sulit untuk menjatuhkannya karena siswa tersebut memiliki postur tubuh gempal, ditambah lagi arenanya berada di lumpur sehingga tidak bisa bergerak dengan leluasa. Sakura mencoba mendorong sekuat tenaga, sang lawan tetap bergeming. Sakura kehabisan napas. Dia berhenti sejenak, berpikir. Ketika lengah seperti itu tiba-tiba siswa tersebut maju hendak mendorong Sakura, tapi Sai dengan sigap memeluk pinggang Sakura dan membawanya ke sisinya. Beberapa detik, Sakura dapat merasakan betapa tegapnya dada bidang Sai dan betapa kerasnya degup jantung Sai. Sakura dengan cepat melepaskan diri dari pelukan Sai lalu berjalan ke depan dan menggelitiki si siswa. Spontan siswa tersebut tertawa terpingkal-pingkal dan jatuh ke lumpur. Kemenangan pun diraih oleh kelompok Sakura. Kelimanya berangkulan gembira, tapi sesaat kemudian Sakura menguraikan diri karena dia berada begitu dekat dengan Sai. Tak tahu kenapa, Sakura terlihat salah tingkah saat bersama Sai.

TOTL…

"Voli pantai!" Anak-anak berseru senang sambil berlarian di sekitar pantai yang sejuk di sore hari.

Para murid lelaki Konoha Art Senior High School hanya mengenakan celana pendek sedangkan para murid perempuan mengenakan bikini bermacam-macam motif.

Sakura memakai bikini two piece berwarna merah marun, Ino juga berbikini two piece berwarna ungu polkadot, sedangkan Tenten lebih suka memakai one piece berwarna hijau tua yang bagian punggungnya terekspos sempurna. Ketika Ino dan Tenten langsung bergabung ke dalam group voli pantai, Sakura justru berjalan menyusuri tepi pantai, tidak tertarik pada olahraga tersebut.

"Baju macam apa ini?"

"Kekurangan bahan dan norak."

"Ya ini namanya baju renang musim panas."

"Apa tidak ada baju lain?"

Suara-suara pertengkaran membuat Sakura menghentikan langkah dan menoleh ke sumber suara. Ia mendapati jika Ino, Tenten, Neji, dan Shikamaru sedang berdebat. Sakura mengerutkan kening, curiga pada keempatnya lantaran pertengkaran mereka terdengar seperti pertengkaran kekasih. Tapi Sakura yang sedang tidak mood tidak ambil pusing dan melanjutkan langkahnya.

Sakura duduk menghadap barat. Mengamati siluet jingga yang terlukis indah di langit. Burung-burung bernyanyi riang kembali ke sarangnya. Sakura yang sedari tadi bermain dan tertawa riang berbaring ke pasir pantai yang bersih, niatnya ialah beristirahat sebentar. Perlahan kantuk menyergapnya dan Sakura pun tertidur. Tanpa disadari, ada seorang lelaki mendekatinya dan merebahkan diri di sebelah kirinya. Ia memandang Sakura lekat seolah-olah Sakura adalah mimpi yang akan menghilang saat ia sejenak saja mengalihkan pandangan.

Sakura yang nyenyak dalam tidurnya bergerak ke kiri dan tanpa sengaja bibir gadis itu menyentuh bibir sang lelaki hingga membuat sang lelaki terbelalak dan spontan menahan napas. Ciuman manis kala matahari terbenam, siapa yang bisa melupakan kenangan indah ini?

TOTL…

"Dasar pelor!"

"Nih cewek nggak takut masuk angin kali ya."

"Kenapa aku mau bersahabat sama cewek ileran gini? Benar-benar memalukan."

"Buat apa dia pakai baju renang kalau ending-nya malah molor disini. Nggak habis pikir deh."

Gerutuan yang terdengar membuat Sakura terbangun. Ia mendapati selimut tebal melingkupi tubuhnya, suasana pun telah berubah menjadi gelap pertanda malam telah datang. Kelihatannya karena kecapekan Sakura jadi tertidur di pantai cukup lama. Ia mendongak melihat kedua temannya sembari mendelik marah.

"Kenapa baru bangunin? Kalian memang sahabat yang kurang perhatian," omel Sakura beranjak berdiri.

"Kami kira kamu sudah balik ke tenda duluan, eh ternyata malah asyik tiduran disini," kata Ino membela diri.

Sakura merapatkan selimut ke sekeliling tubuhnya. Ketika sampai di dalam tenda, ia berganti pakaian lalu melipat selimut berwarna hitam tersebut. Di ujung selimut rupanya terdapat tulisan bordir 'sai' dan dari tulisan itu Sakura tahu kepada siapa ia harus mengembalikan selimut hangat ini.

Malam terakhir Summer Camp kembali diisi oleh penampilan murid-murid Konoha Art Senior High School. Kali ini, Naruto berkesempatan tampil pertama. Tentu saja tarian hip hop menjadi andalannya. Tari seperti nadi Naruto, ia bukannya lelah, ia justru selalu energik di setiap tampilan. Sakura yang bosan pun menjauh dan mencari sosok Sai diantara anak-anak yang melingkari api unggun. Ketika Sakura menemukan Sai, ia langsung menghampirinya hendak mengembalikan selimut tetapi baru dua langkah, Sakura mendengar percakapan Sai dengan seseorang yang berada di seberang telepon.

"Bertunangan? Tidak Ma, aku tidak ingin secepat itu."

"Iya, aku memang menyukai dia tetapi aku belum mengungkapkannya."

"Jangan terburu-buru, Ma! Aku takut dia justru akan menolakku."

"Hmm, namanya Haruno Sakura. Sudah puluhan kali aku mengatakannya padamu, Mama."

"Iya. Haruno Sakura adalah perempuan yang aku sukai."

"Sudah jangan berpikir tentang pertunangan atau apapun itu. Istirahatlah Ma, aku menyayangimu."

"Night"

Sakura merasakan kehangatan melingkupi dirinya. Pengakuan Sai secara tidak langsung benar-benar membuat ia senang. Apalagi ia mengetahui kalau Sai sungguh perhatian padanya. Sakura reflek melihat selimut di pegangannya kemudian berjalan mendekati Sai. Ia berpura-pura tidak tahu tentang percakapan Sai dengan Mamanya barusan.

"Sai!" sapa Sakura riang.

"Oh, hai Sakura!" balas Sai tersenyum lembut.

"Ini," kata Sakura menyodorkan selimut di tangannya.

Sai menerima selimut tersebut dan mendekapnya.

"Terima kasih ya."

"Oh, iya sama-sama."

Malam itu, Sakura memutuskan untuk ingin mengenal lebih dalam mengenai Sai. Dan tentu saja, ia siap membuka hatinya.

TOTL…

Pukul lima pagi, Sakura telah bangun. Dia lagi-lagi menyusuri tepi pantai, menikmati tenangnya deburan ombak dan dinginnya angin laut. Jaket bulu yang dikenakannya menjaga suhu badan Sakura supaya tetap hangat.

Saat Sakura termenung, sekelebat sosok masa lalunya hadir. Sosok itu tersenyum, mengajak Sakura bermain. Sakura menurutinya, ia berlari riang hingga air matanya perlahan menetes. Ia terharu bisa melihat sosok itu, padahal Sakura berpikir bahwa mungkin saja ia telah melupakan sosok itu karena masa lalu mereka yang pahit.

Sakura mengatur napasnya yang naik turun. Ketika akan berlari lagi, kakinya tersandung batu dan ia secara tanpa sadar sudah berada begitu dekat dengan laut. Akhirnya Sakura pun terjatuh ke laut, kakinya sakit sehingga ia tidak bisa bergerak saat ombak menggulungnya ke tengah.

"Tolong!"

Sakura memejamkan mata, memanjatkan doa agar ada seseorang dari sekolahnya yang mendengar teriakannya.

"Tolong!"

Sakura berteriak sekencang mungkin. Air laut yang memasuki mulutnya membuatnya sulit bernapas.

Byuur…

Seseorang terdengar menceburkan diri dan berenang menghampiri Sakura. Dia meraih tubuh Sakura, mendekapnya, dan menggiringnya ke bibir pantai. Sakura memejamkan mata serta mencengkeram jaket orang tersebut lantaran terlampau takut.

"Tenang Sakura. Tenanglah. Kamu sudah selamat," ucap orang tersebut.

Sakura masih tidak mau membuka mata. Badannya bergetar hebat.

"Princess, kamu nggak pa pa. Lihat aku," kata orang tersebut mengelus pipi kanan Sakura.

Perlakuan ini. Kehangatan ini. Tidak akan bisa Sakura dapatkan kecuali dari laki-laki itu. Sakura pelan-pelan membuka mata. Iris hijau zambrudnya bertatapan langsung dengan iris biru sapphire yang begitu ia kenal.

Laki-laki itu tersenyum menenangkan. "Ada aku disini. It's alright princess."

"Naruto!" isak Sakura memeluk Naruto erat sembari menangis di pelukannya.


Hola, apa kabar readers?
Aku harap kalian senang sama chapter ini yaa. Sebenarnya aku sudah menulis sebagian cerita di tahun 2014, tapi maaf karena padatnya aktivitas jadinya barusan update. Sudah dua tahun nggak nulis, maaf kalau feelnya ngga dapat. Hiks hiks

Yo, sampai bertemu di chapter kelima: "Engaged"

"Ayo kita bertunangan!"

"Jangan bercanda!"

"Apa kamu mau kalau kita menikah saja? Baiklah, bagaimana kalau kita menikah besok?"

"Astaga…"

Oh ya, terima kasih untuk semua dukungan kalian. Bila ada kritik atau saran atau pesan atau kesan, silahkan tulis lewat review. Ditunggu loh! wink~

Salam,

Putpit \(._.)/

Thanks for support guys

Guest (un-log in review), .indohackz, Sai Akuto, dheeviefornaruto19, Akashi lina, Namikaze nada, RyuuNoHoKo, Manguni, Chanon, Waraney, Legend Madara, Namikaze Nara, Aurora Borealix, monalisachin, Riri26, Kanazuki Aiichi, NS, CherryFoxy13, ryuu abe, Hyuuhi Ga Ara, Yeni, and all silent readers.

REVIEW

~Please~