Aku tidak punya ibu kandung. Oh, tentu ada, sebab manusia tidak terlahir begitu saja dari batu dan angin. Tapi dia bukan ibu. Dia manusia majemuk yang selalu bersuara, "Silahkan masuk, aku sudah membersihkan dan memandikannya. Ya, ya, dia seharga lima perak saja. Silahkan." Dengan seseorang di luar pintu kamar.

Di dunia luar, aku melihat sosok ibu seperti malaikat pelindung yang di kirim tuhan untuk melindungi darah dagingnya, anak. Melindungi berkah Tuhan dengan sungguh-sungguh, membelai saat anaknya tersungkur di tanah, menyayanginya lebih dari apapun di jagat raya, melindunginya dengan menyembunyikan anaknya dalam dekap peluk saat sedang turun hujan.

Ibuku. Ibuku tidak begitu. Aku memang berkah untuknya, berkah mata uang.

Empat tahunku terasa seperti seribu tahun karenanya.

Waktu itu umurku sepuluh tahun. Yang aku rasakan hanya sakit, dan sakit. Mengapa aku harus melalui ini? tanyaku entah kepada siapa. Ibuku tidak mengajarkanku tentang Tuhan untuk mengadu.

Lalu para pria datang. Biasanya sampai dua-tiga orang, tidak pernah kurang —lebih seringnya. Aku siap dengan telanjang bulat. Tubuh kecil yang rapuh di perlakukan brutal, keras, memasukkan kelamin besar mereka di tiap lubangku yang terbuka.

Apa ini yang dimaksud bercinta?

Tidak.

Dimana rasa cinta kasihnya? Dimana sentuhan hangat yang menenangkan? Dimana ciuman yang memabukkan itu?

Aku hampir melukapaan memori ini, sampai tuan Sesshomaru membangkitkan kenangan menyedihkan di kelip kepalaku yang berdenyut.

Aku di gilir, di manapun, kapanpun. Di jatuhkan ke lumpur. Meminum air kotor dari tanah sementara aku bersujud dan menghadapi kelamin mereka dari belakang tubuhku.

Menuruti fantasi mereka. Baju wanita, sampai pakaian binatang menyerupai kucing.

Aku tidak terbiasa di ikat, di rantai, di cambuk bahkan di tetesi lilin-lilin terbakar. Tapi mereka menyukai itu. Itu tidak manusiawi —mereka semua tidak manusiawi. Aku melihat ibu melintas saat mereka menyentak dua kelamin mereka di dalam lubang bawahku sambil memuntahkan cairan kelamin mereka, tapi ibu tidak bergerak, tidak mengambilku dan memelukku.

Dia diam. Menghitung mata uang.

Saat itu aku berumur sepuluh tahun. Nyonya Izayoi menemukanku di tumpukan sampah saat umurku empat belas. Malam hari. Baju yang lengket dan mulut yang terluka. Dia memelukku dan berkata, "Oh anakku. Kau baik-baik saja?"

Sejak saat itu, aku merasakan kembali pelukan yang suci murni dari sosok ibu. Walau bukan ibu kandung yang darahnya mengalir di nadiku, dia ibu kandungku dari dasar jiwa.

Sampai disitu. Aku tidak ingin lagi mengingatnya. Kumohon menghilang dari kepalaku.

Itu sudah lama dan hampir kulupakan. Sungguh. Namun bekas trauma sedikit mengejutkan ingatanku.

Tapi sentuhan tangan mereka tidak bisa sedikitpun di samakan dengan sentuhan hangat tuan Sesshomaru. Ia berbeda, sangat berbeda dengan kotoran-kotoran itu.

Aku harus memainkan peran, bersandiwara. Membuat kelakuanku seperti tidak pernah tersentuh oleh laki-laki. Suci.

Aku tau ini sebuah kesalahan. Menyedihkan yang parah. Tapi aku tidak ingin tuan Sesshomaru mengetahuinya. Menandaiku sebagai pelacur anak-anak kotor impresi dari prajurit-prajurit yang tidak punya uang untuk mendapatkan kehangatan wanita.

…:0-0-0:…


© All Story Rights Reserve. DESTINY chapter IV

©INUYASHA belong to ;
TAKAHASHI Rumiko

©INUYASHA Fanfic, DESTINY belong to ;
AUTHOR

Genre: drama, romance. Tragedy.

Warning: MATURE CONTENTS.
Author plot universe; alternative universe in Edo setting, explicit sexual content. Adult-view only.


…:0-0-0:…

Aku mengendalikan diriku, mengambil napasku senyaman mungkin, menghembuskannya sepelan mungkin. Mataku mengudara ke langit-langit ruangan dengan pandangan hampa, seakan ada sesuatau diatas sana sedang menyerukan sesuatu yang tidak-tidak.

Aku mendorong tuan besar, aku mendorong seorang Sesshomaru-sama sampai terjungkal ke lantai dengan cara yang tidak elit. Aku sudah gila!

Konfrontasi luar biasa antara ketakutan dan rasa bersalah menimbun tubuhku. Aku ingin bergerak dari ranjang, tapi sendiku membeku di bawah kulitku yang dingin. Aku menyaksikan bagaimana tuan itu bangkit dan menepuk kimono emasnya yang terhembus debu, matanya lalu menatapku, membakar ketakutanku menjadi api-api yang menjalar dan menerkam tubuhku ke dalamnya.

"Kurasa," tuan itu mendesah, "Kurasa ada yang salah dengan kepalamu, bocah tengil."

Aku menelan gumpalan ditenggorokanku. "Ma-maaf tuan, saya,"

"Apa kita memilik urusan yang belum terselesaikan? Teganya kau mendorongku di saat genting. Milikku bisa terluka kalau kau mendorongku seperti monyet gila." tuan itu bergerak maju, menarik lenganku dengan satu tarikan lembut. Ketakutan masih melahap tubuhku. Apa sekarang dia akan menarik pedangnya dan membuat sayatan berputar di sekitar leherku?

Aku berlutut di depan tuan itu, sementara ia menggantikanku duduk di ranjang. Cahaya terbatas dari lampu kandil membuat pandanganku tidak begitu jelas, hanya saja kenapa iris emas itu bisa menyala seperti sebuah berlian Jubilee cemerlang di bawah lautan gelap? Matanya sulit untuk di acuhkan. Tatapan seindah karat berlian itu membuat lututku bergetar.

"Tu-tuan," gemetar di lututku menular ke mulutku, membuat suaraku begetar seperti kedinginan.

"Inuyasha," Tuan ini menyebut namaku, "Berdiri."

"Sa-saya,"

"Ber-di-ri."

Tubuhku berdengung, telapak tangan tuan yang melingkar di lenganku yang kurus mengirim denyutan istimewa keseluruh tubuhku.

"Tuan, mohon ampuni saya, saya—"

"Hei, hei, dengarkan aku." Tuan itu menengadahkan kepalanya, mengintip wajahku yang menunduk dengan cara yang sangat manis. Aku tau ini gila, sangat gila. Logikaku memutar kemungkinan akan konsekuensi apa yang harus kuterima karena mendorong seseorang yang begitu agung ke lantai berdebu dengan cara yang sangat kurang ajar.

"Inuyasha, sebenarnya apa yang membuat gelisah? Apa kau punya tekanan jiwa di masa lalu yang sulit kau atasi?"

Trauma bergerincing lagi. Tapi aku berhasil menumpasnya. Bukan… bukan hal itu yang menjadi kendala.

"Bu-bukan semacam te-tekanan jiwa, tuan, hanya—"

"Hanya?"

Aku melihat tuan Sesshomaru, tatapan mengujinya benar-benar tidak bisa di tepis.

"Hanya apa, Inuyasha?" Aku melihat tuan itu mengangkat tangan, hampir merasakan kehangatan telapak tangannya membelai atas kepalaku, namun ia menariknya, memutar haluan jemari yang panjang itu ke pelipisnya. "Apa aku membuatmu takut?"

"A-apa,"

"Aku tidak membuatmu takut, bukan? Apa komplotan maniak itu masih menganggu pikiranmu?"

Aku terdiam. Mendengar tuan ini berbicara semacam itu mengundang rasa bersalahku.

"Kau tidak menjawab?"

Tuan itu berdiri dari ranjang, lalu mengutip kimonoku di lantai dan menyampirkannya di atas bahuku.

"Dengarkan aku, Inuyasha." Tuan itu menarik daguku.

Kerendahan suaranya membuat jantungku melompat di dalam dadaku. aku menatapnya, menyaksikan mata emas tuan itu berbinar diantara cahaya yang redup. Aku menggenggam tanganku yang basah. Sedikit lagi jarak yang tersisa sampai kami akan berciuman.

"Pernahkah kau begitu mencintai seseorang yang baru kali itu kau temui? Kau bahkan tidak mengenalnya, tidak tau siapa dia bahkan namanya. Tapi kau hanya mencintainya tanpa alasan. Itu membuatku merasa lemah. Bertingkah lemah? Seperti sebuah kelakuan yang tidak pernah aku tunjukkan pada siapapun."

Tuan itu dengan lembut menempatkanku ke dalam dekapannya. Tubuhku berdengung lagi. Pelukan yang menyenangkan mengelilingi tubuhku. Bukan, bukan sebuah sayatan pedang yang mengelilingi tubuhku. Lengannya kuat dan menenangkan. Hilang sudah kerisauan di dalam tubuhku.

"Iya. Saya tau bagaimana rasanya tuan. Jatuh cinta yang seperti sebuah misteri." Karena aku mengalaminya sekarang, karenamu, tuan Sesshomaru, itu adalah kau.

"Kau tau." Tuan Sesshomaru mendengus. "Lemahku ini hanya aku tunjukkan padamu."

Aku tersenyum lebar, senyum pertama untuk hari ini.

Tuan itu menikmati senyumku, sepertinya, karena ia juga ikut tersenyum.

"Berjanjilah untuk tidak lagi mendorongku seperti tadi." ucap tuan ini. "Lalu, hilangkan segala sesuatu tentang ketakutan, pembunuhan atau penculikan. Aku tidak akan pernah melakukan itu padamu."

Kenyamanan di udara meresap melalui pori-pori kulitku, mengangkat rasa nyaman seperti sedang tidur di atas lapangan hijau sambil menyaksikan matahari tenggelam.

"Saya belum siap untuk melakukan seks, tuan."

Aku bisa menebak reaksi tuan ini. Ledakan tawa.

"Baik, baik, aku mengerti." Tuan ini menarik kimononya dan membenarkan obinya. Aku menyaksikannya menyisir rambut peraknya degan jari-jari lentik itu, menekan lipatan kimono ke dalam pinggangnya dan mengusap keringat yang berhenti di sisi wajahnya. "Kalau soal seks yang kau cemaskan, aku tidak akan memaksa. Apa itu yang benar-benar membuatmu resah?"

"Iya, sepertinya,"

"Kenapa, kalau aku boleh tau alasannya? Kau takut aku menyakitimu?"

"Ba-banyak yang harus di rencakanakan, dan di persiapkan."

"Kau punya rencana dan persiapaan untuk seks bersamaku? Hebat."

"Ja-jangan mengolok-olok saya, tuan," Aku menurunkan suaraku. "Saya hanya berpikiran macam-macam, seperti betapa saya tidak pantas untuk melakukan itu dengan tuan dan—"

"Untuk ukuran pria periang, kau punya sisi negatif yang akut. Kelewatan. Ini bukan masalah kau pantas atau tidak. Ada apa dengan melakukan seks denganmu, Inuyasha? Kenapa kau berasumsi tidak pantas jika melakukan itu denganku?"

Aku sudah sering mengatakannya.

Tuan ini begitu tampan, indah, agung. Sementara aku, aku hanya… aku. Aku tidak punya apapun yang membuat orang-orang memalingkan pandangannya saat aku lewat di tengah-tengah mereka. Aku tidak seperti Miroku yang entah kenapa seperti sebuah magnet raksasa yang di jatuhkan tengah-tengah orang banyak karena semua orang pasti akan melihatnya dengan cara yang memohon.

Dan lagi, dulunya aku hanya orang yang kotor.

"Maafkan saya, tuan."

"Kau terlalu banyak meminta maaf hari ini." Tuan ini mengecup tulang hidungku. "Dan itu membuatku murka."

Benar-benar tidak baik berada di dekatnya untuk kesehatan organ pernapasan, aku begitu mudah merasa jantungan tiap kali berada di didekatnya.

"Tidak ada seks untuk hari ini?"

Aku terbatuk. "Saat ini, ya, tuan."

"Saat ini? Kau mengatakannya seakan-akan besok aku bisa melakukannya."

Aku membayangkannya. Seks panas. Seks pertama kali yang panas. Dengan tuan Sesshomaru. Tak terkatakan akan bagaimana rasanya.

"Mungkin tuan, kita bisa melakukannya besok."

Oh persetan. Aku sudah tidak lagi waras!

Tuan itu memiringkan kepalanya, "Apakah kau sedang mengujiku?" tuan itu menyeringai.

Ciuman datang menghimpiri keningku. Aku memejam karena ciuman itu turun ke kelopak mataku. Kehangatan ini menjadi sebuah ruangan kedap udara yang menyelimuti tubuhku. Aku tidak bergerak saat sebuah napas datang di sekitar bibirku.

Tuan ini mencium. "Ah,"

Aku mendengar suara desahku. Persetan. Aku mendesah seperti wanita.

Desahku tidak membuat tuan berhenti. Tuan itu menempatkan ibu jarinya di bibirku, menekan dan membuka, menyentuh gigi depanku dengan ibu jarinya. Aku menyesap napasnya, menggelinjang karena lidahnya datang setelah itu. Daging yang bergerigi mengecap air liurku, menjalar dengan lembut di sekitar bibirku. Tidak ada hipnotis ataupun sihir yang pernah mengambil alih tubuhku sampai membeku ketulang-tulang. Ciuman ini melakukannya.

"Kau luar biasa, Inuyasha, aku hebat bisa menahan diri sampai sejauh ini."

Ia memajukan lagi wajahnya, tubuhnya. Dadanya yang keras mengetuk-ngetuk, sama kerasnya seperti suara jantungku.

"Nghh…"

Tuan ini menghisap lidahku, menempatkannya di dalam mulutnya. Air liur yang menggenang di dasar mulutku membuatku berdeham, menimbulkan getaran lembut pada bibir kami.

Air liurku mengalir jatuh dari sisi bibirku yang terbuka, menempel di sisi wajah tuan. "Tu-tuan,"

Tuan menjangkau tengkukku, menipiskan jarak nol diantara kami, "Shht," Lidah tuan berlarian lagi, mengaduk isi mulutku, meneliti gigiku, berputar dengan lidahku seperti tarian-tarian eksotis."Kau suka?"

Suara basah merekah diantara ciuman kami, seperti melodi dosa pada kategori tertinggi.

"I-itu, nhh —ah."

Dia memutar kepalanya ke sisi lain sambil mengigit bibirku, kemudian mengulum dan mengigit lagi dengan kekuatan pada rahangnya. Menciptakan rasa sakit yang begitu membuatku merinding. Bukan, bukan sakit. Hal itu mengirim gelombang yang luar biasa nikmat ke selangkanganku.

Kepalaku berdengung. Basah yang mengalir terasa menggelitik daguku, dengan jumlah yang banyak. Tuan ini tidak memelankan tempo ciuman, kuluman serta gigitannya di semua bagian mulutku. Membasahi mulutku dengan air liurnya yang licin. Gigi depannya menubruk bibirku dengan keras, melahap dan tidak sabaran. Apakah ciuman bisa berubah menjadi di luar kendali seperti ini?

Rambut perak indah bergerak perlahan di kepalanya saat ia memiringkan wajahnya. Dalam sedetik tuan melepas mulutnya, memberi kesempatan untuk mengambil udara ke dalam paru-paru yang kekeringan.

"Tu-tuan, hentikan."

"Hanya ciuman," Tuan ini berbisik di dalam ciumannya, air liurku jatuh menetes ke dalam mulutnya. "Tidak ada seks, dan aku terima itu. Tapi berciumanpun tidak boleh? Itu tidak bisa termaafkan."

Aku mengerang dan menyentuh tuan ini, memeluk, adalah kegilaan tapi aku melakukannya dengan kedua tangan. Kedua lenganku berada di pundaknya, melilit lehernya, menekan tubuh yang seolah mirip dengan khayalan yang indah-indah. Tapi ini bukan fiksi karena aku juga merasakan tangan tuan ini mencengkram pinggangku.

"Menjadi lebih berani sekarang?" tuan ini mengusap leherku, membentuk sebuah lingkaran yang lambat dengan jari-jarinya.

Aku menatapnya. Jangan menatap kataku di dalam hati, karena menatap bangsawan bisa di kenakan hukum harakiri, itu juga yang paling ringan, aku bisa saja di arak ke seluruh kota dengan wajah serta tubuh bermandian minyak dan puncaknya kulitku dibakar seperti pesta daging babi. Aku merutuk di dalam kepalaku, mataku tidak mau melepaskan pemandangan di depan wajahku. Siapapun tidak akan mampu.

"Ikutlah denganku, Inuyasha. Makan malam bersama perdana menteri diadakan satu jam lagi."

Tuan ini membalas tatapanku dengan sebuah tatapan kerinduan. Kenapa— menurutku— tuan ini sangat rapuh? Tempo hari aku membaca buku tentang 'Tennou Heika Sesshomaru-sama' yang dituliskan dengan kuas tebal, cerita mengenai semua hal tentangnya, bagaimana ia berdiri membawahi ribuan prajurit untuk merebut apa yang menjadi haknya dari tangan bangsawan Inggris. Cara ia berbicara. Tindakannya yang ratusan langkah ke depan penuh dengan persiapan. Sosok yang bukan mudah luluh lantak karena manusia.

Tapi dia lemah di depanku. Seperti sangat mudah di pukul jatuh.

Ini bukan berarti aku berkesempatan membunuhnya. Membunuh Tennou Heika setimpal dengan dua buah gunung persembahan pihak musuh atau jaminan kaya raya sampai keturunan selanjutnya, tentu nyaliku hanya akan bertahan saat melihat pisau. Berpikiran untuk membunuh tuan ini? itu hanya saat akal sehatku hilang dari kepalaku.

"Makan malam?"

"Ya. Rapat bulanan yang membosankan, tapi taman etnik di dalam rumah perdana menteri sangat indah."

Oh ya tuan? Saya meragukannya. Apa ada lagi keindahan di bumi ini selain melihat tuan? kata-kata itu muncul tanpa berani aku muntahkan dengan mulutku.

"Karena sifatnya yang suka mempertunjukkan kekayaan, ia pasti menyajikan alkohol yang enak. Aku juga harus bertemu teman lama." Sambungnya, tuan ini menghembus napas hangatnya ke wajahku. "Kau ikut."

"Saya tidak bisa."

"Ini bukan ajakan permintaan." Ucapnya datar. "Ini perintah."

"Tuan," rasa mengigil menjalar dengan cepat di tulang punggungku, "Saya tidak bisa begitu saja ikut ke acara semacam itu. Bagaimana dengan reputasi tuan?"

"Reputasi?"

"Karena membawa laki-laki kumuh ke dalam lingkungan yang sempurna."

"Apa yang membuatmu berpikiran kau tidak sempurna? Kau sempurna seutuhnya di mataku, Inuyasha."

Aku menarik napas dalam-dalam, menghirup udara di sekitar tubuh tuan Sesshomaru. Dengan cara yang sangat akrab ia mengatakan kata-kata itu, tubuhku seperti di putar terbalik, diikat oleh rajutan kayu apung dan dibiarkan mengarungi lautan yang luas. Atau mungkin aku seperti terbang.

"Tuan,"

"Tidak ada alasan."

"Tapi tuan, itu tetap tidak bisa saya laku— " Tuan itu mengangat jari-jarinya, kemudian menekan semua ujung jarinya ke mulutku. Memotong suaraku.

"Kenapa? Apa kau takut?"

"Tidak tuan."

"Lalu?"

"Sa-saya, saya juga tidak tau."

"Kau tidak ingin berada di dekatku?"

"Tentu saja bukan!" suaraku meninggi. Tidak ada alasan untuk merasa jengah berada di dekat tuan Sesshomaru, hanya orang terbelakang mental yang merasakan itu. "Te-tentu saja bu-bukan, tuan."

"Apa aku… bau?"

Aku tersenyum sangat lebar, malah berakhir seperti sedang tertawa. "Siapa yang menyangka kalau tuan ternyata pelawak yang handal."

"Sungguh," tuan ini membuat gerakan membaui dirinya. "Aku mungkin mempunyai bau badan yang mematikan."

Ya tuan, mematikan, dalam berbagai hal. Mati dimabuk dan jatuh cinta dengan aroma badan yang khas.

"Tidak tuan, tuan tidak seperti itu." Aku terkekeh. Mana mungkin.

Percakapan ini mengirimkan aliran hangat ke sejujur tubuhku. Aku tidak pernah bosan terpesona, seakan-akan selalu ada denyutan baru tiap kali aku menatap tuan ini dan itu semua tidak pernah dibuat-buat. Aku pernah terpesona oleh nyonya opera sabun berambut pirang yang gempal dari negeri jauh. Suaranya yang tinggi dan merdu seperti keluar dari sebuah lukisan yang indah. Tapi itu bukan terpesona yang seperti sekarang.

Terpesona oleh tuan Sesshomaru berada di tingkatan yang lain.

"Saya akan datang. Saya akan ikut."

Tatapan tuan jatuh ke bibirku sebelum dia berbicara. "Kau harus ikut."

"Harus, ya baiklah, tuan." Aku tersenyum.

Tuan Sesshomaru membantuku membenenarkan lipatan kimono di tubuhku. Bangsawan yang membenarkan kimono seorang pelayan? Apa aku akan masuk surat kabar karena hal ini? Banyak hal yang terjadi padaku —yang menurutku— tidak pada tempat yang seharusnya. Tuan Sesshomaru selalu punya kejutan yang dapat mengguncang Bumi. Siapa lagi orang-orang istimewa yang mendapat perlakuan sepertiku?

Istrinya?

Tempo hari ia berkata "Aku tidak punya seseorang yang seperti itu."

Buka-buku juga tidak mengulas tentang 'Biografi Tuan Sesshomaru : Seseorang yang Menjadi Terkasihnya' atau semacamnya, tidak satupun. Hanya orang kepercayaan dalam berperang. Jaken, dan sekarang tinggal di salah satu tanah milik Tuan Sesshomaru di Tokyo. Dan beberapa nama lain seperti Naraku atau lainnya yang tidak mampu kepalaku ingat.

Tuan itu menarikku ke ujung pintu. Rambutnya yang terurai panjang memancingku untuk menyentuhnya. Lancang dan gila kau, Inuyasha!

"Ta-tapi sebelum itu, tuan, saya harus minta ijin pada nyonya."

Tuan itu tertawa dengan keras. "Jangan risaukan yang satu itu."

Ya tentu. Pastilah nyonya memperbolehkannya

Ya tentu. Trauma bukanlah hal yang aku risaukan lagi sekarang.

.

.

.

Tidak ingin kurang ajar atau tidak sopan, tapi rapat bulanan yang di katakan tuan Sesshomaru tidak lebih dari acara pesta minum-minum yang brutal. Tawa-tawa yang lebar, makanan berserakan dan perempuan kurang kain, yang membedakannya hanya orang-orang ini kebayakan punya status, seperti perdana menteri, jenderal, tuan tanah rakus dan pejabat korup serta pembunuhan bayaran yang melupakan dosa-dosanya untuk beberapa saat.

Seharusnya ada perempuan dari rumah bordil kami satu-dua orang, tapi kali ini sepertinya tidak.

Aku berada di meja terdepan dengan tuan Sesshomaru, dan sangat jelas terlihat tuan Sesshomaru membenci posisi duduknya. Aku berdiri di belakang kursinya. Alih-alih menjadi pelayan pribadinya.

"Tuan tidak memakan makan malam tuan?" aku melihat piring porselinnya berisi daging disiram saus kental berwarna coklat. Sudah dingin.

"Alkohol yang membuatku ingin datang ke tempat ini."

"Hanya berhati-hati tuan, jangan sampai anda terlalu mabuk."

"Tenang," Tuan itu memutar kepalanya ke arahku. "Ada kau yang akan membopohku." Senyumnya.

Tuan rumah, si perdana menteri, datang sambil mengapit dua wanita di sisi kanan dan kirinya. Aku menunduk, hampir membungkuk. Tuan Sesshomaru membalik tubuhnya, tidak berdiri, hanya sikap siaga yang formal dengan menegakkan punggungnya.

"Sesshomaru-dono, aku tidak menyangka kau akan datang kali ini."

Kali ini?

Tuan Sesshomaru hanya tersenyum. ia mengambil gelas berisi alkohol dan menegaknya.

"Kau tidak bersama Jaken?"

"Dia hanya datang di acara pertemuan yang berguna."

Uh-oh. Apa itu sindiran?

"Sebentar lagi kami akan membuka gentong sake yang nikmat. Ikutlah dengan kami, Sesshomaru-dono."

Aku mengintip mereka. Melihat betapa dua wanita berambut sanggul itu menatap tuan Sesshomaru dengan tatapan khas geisha dan berakhir dengan di acuhkan, melihat perdana menteri yang kikuk dan tidak sedikitpun peka —aku memikirkan tuan perdana menteri adalah orang yang memiliki aura mirip dengan tuan Sesshomaru tapi tidak— atau tuan Sesshomaru yang wajahnya begitu bosan, semuanya di luar perkiraanku tapi juga lucu dan konyol

"Aku hanya ingin mengucap salam dan memberi minuman dari barat, sebagai oleh-oleh."

Salah satu perempuan perdana menteri memainkan matanya. Tuan Sesshomaru bahkan tidak melihat mereka.

"Padahal semua ingin kau lebih lama ada disini, Sesshomaru-dono." Aku tau itu adalah bualan hebat, dan tuan Sesshomaru juga sadar akan hal itu.

"Hebat mendengar itu keluar dari mulutmu. Pertahankan." Tuan Sesshomaru berdiri dari kursinya lalu menatapku. "Aku harus bertemu seorang, tunggulah disini." ucap tuan padaku.

Tuan Sesshomaru menatap perdana menteri. "Suruh seseorang menjaganya, bisakah?"

"Ti-tidak perlu, tuan." kataku cepat.

"Jangan takut, Sesshomaru-dono. Istanaku punya benteng pertahanan yang di akui kekuatannya. Tapi aku akan menyuruh seseorang melakukannya. Menjaga sesuatu yang penting ini."

Tuan Sesshomaru memberi isyarat tangan, lalu meninggalkanku di meja pertemuan bersama perdana menteri dan selingkuhannya.

Aku melihat perdana menteri yang agak tambun itu, memberikannya senyuman namun tidak digubris. Seharusnya aku tau tuan Sesshomaru punya banyak pembenci.

"Inuyasha, namamu?" perdana menteri melepas dua wanita yang tadi di rangkulnya.

"I-iya, benar."

"Luka sayat di kaki kananmu sudah membaik?"

Jantungku melompat.

Keringat dingin muncul di kulitku. Aku merasakan hawa kejam yang anehnya begitu familiar merayap di belakang punggungku. Aku ingin melarikan diri namun sebuah tangan menekan mulutku, begitu erat sampai telapak tangannya menyentuh gigiku. Satu tangan lain mencekikku dari belakang tubuhku.

Bagaimana bisa aku lupa dengan orang ini?

"Luka sayat yang aku ciptakan begitu cepat membaik. Kali ini menikmati jalan-jalan dengan Sesshomaru, bocah sial?"

Kepalaku kering, pasokan udara yang kurang membuat tubuhku melemah dan hilang kesadaran. Kakiku lemas, jantungku memukul-mukul. Darah mengalir di urat nadiku dalam jeritan yang melumpuhkan.

Aku menatap perdana menteri, "Kali ini lakukan dengan cepat. Lenyapkan dia, Bankotsu" Ucapnya.

Aku di seret ke dalam kegelapan.

Sebelum mataku sepenuhnya memburam, aku melihat dua wanita itu menertawaiku di balik kain lengan kimononya.

.

.

.

Rapat bulanan perdana menteri.

Makan malam kelas atas. Sopan santun kelas menengah.

Tuan Sesshomaru berdiri, menyentuh pundakku, "Aku harus bertemu seseorang", ucapnya. Tanpa firasat buruk, ku biarkan matahariku itu pergi.

Perdana menteri, malaikat maut. Memisahkanku dengan tuan Sesshomaru.

Membuatku di pertemukan kembali dengan setan neraka yang jatuh ke Bumi.

Lalu mendorong tubuhku masuk ke dalam pusaran gelap mengenaskan.

Aku terikat. Kepala terbungkus kain kotor dan berdebu. Menimbulkan batuk kronis, napas terputus, panik akan mutilasi hidup-hidup adalah ketakutan terbesarku.

Di seret dan di angkat seperti karung beras, di lempar ke dalam kotak kayu —mungkin peti matiku . Tubuhku di muat dan di padatkan. Lalu di tutup. Aku mencium bau ternak.

Sepertinya aku di angkut dengan kereta kuda. Karena aku mendengar derap langkah dan suara putaran roda kayu bergulir di jalan, tluk… tluk… tluk… Semakin cepat. Tubuhku bergetar, bukan bukan karena jalanannya.

Perjalanan seperti ribuan tahun, aku sampai di tempat tujuan mereka. Peti kayuku terbuka tapi tidak dengan penutup kepalaku.

Jantungku, jantungku sakit. Lonceng maut berdenting di sela-sela napasku yang tercekat. Ketakutan mutilasi berkeliaran di kepalaku.

Sepertinya aku pingsan sekarang.

.

.

.

"Bangun, terkutuk!"

Aku membuka mata, tatapan mata yang lurus menunjukkan tiga orang kulit putih terbesar yang pernah kulihat, memiliki tinggi enam setengah kaki. Raksasa. Mengelilingiku seperti sedang pesta api unggun.

Aku sadar dengan posisi terduduk, bersandar pada sesuatu yang dingin. Apa aku masih utuh?

"Sadar dia." Kulit putih bicara.

Satu orang lainnya datang, bertubuh tidak lebih pendek dariku. Pedang berkilauan di tangan kanannya.

Mereka semua memakai jubah —atau apapun itu seperti kain hitam menutupi seluruh tubuh sampai mata kaki.

Seharusnya aku tau siapa mereka.

Tanganku gemetar.

Tangan. Tubuh. Bagaimana tubuhku?

Di tengah pencahayaan dari lampu minyak yang redup, aku melihat kakiku terikat besi yang tersambung pada sebuah kait baja dan di palu ke dalam lantai. Kimono masih melekat. Tangan terbebas tapi tidak mau —tidak bisa bergerak.

Sejauh ini aku bagus dan lengkap, tidak terpotong, tidak tersadar di alam lain.

Aku menengadah kepada kulit putih. Masing-masing dari mereka berdiri, menatapku di bawah jubah dan kegelapan. Aku mencelos ketakutan, mereka seperti satu ketakutan besar yang sulit di binasakan. Wujud ketakutan yang menyeringai saat mereka terbang di atas kepala seperti malaikat maut, menukik dan berputar membagi bubuk putus asa.

"Dia seorang perempuan?" kulit putih terbesar berbicara, aksen Jepang yang buruk. Ia lalu berjongkok, menyentuh kepalaku dengan tenaga "Dia cantik dan rapuh. Apa kita benar-benar harus membunuhnya?"Ia berjongkok di depanku dan menyentuh kepalaku dengan tenaga.

Jantungku melompat ke tenggorokanku. "Jangan sentuh aku!"

"What he say?" Salah satu dari mereka bermata keabuan, sulit berbahasa Jepang.

"Dia bilang 'Oh wow, silahkan perkosa aku sepuasnya, mister.' Begitu." Satu sosok maju, aura familiar. Aku mengenali suara itu, suaranya terekam di salah satu bagian hatiku yang kelam dan daftar harus-di-lupakan.

Dia yang tempo hari menculikku. Pria dengan luka menyerupai salib di keningnya, Bankotsu.

"Ke-kenapa kau lakukan ini?" rasa takut mencekikku dan membuat suaraku tenggelam ke dalam tenggorokanku. Aku meringkuk dan bergetar-getar, nyaris menangis. Dia menertawakan reaksiku yang seperti pemintal jalanan kumuh.

"Sayangku… sayangku…" dia berjongkok di depanku. Meraih sisi wajahku sebelum aku menepisnya. "Lihat, dia seperti tupai yang ketakutan." Ucapnya kepada tiga orang kulit putih, dua dari mereka tertawa.

"Why ya'll laughing?" tanya mata abu-abu.

"This shrimp said he's like a fucking scared-ass squirrel." kulit putih besar menjawab.

"That's aint funny."

"Yeah I know. Just let straight to it and shut up."

"Sejujurnya aku takut, manisku," Ia menjilat bibirku. "Siapapun tidak punya nyali jika berurusan dengan Sesshomaru, anehnya, kali ini, ia melepas mangsanya begitu saja. Apa aku beruntungan? Atau tuan besar itu melemah? Karena kau?"

Aku membuang wajahku, "Kau telah jadi buronannya, dia akan tau aku hilang dan mencariku."

"Yakin sekali, manis?" Dia tertawa, menghembuskan napasnya yang bau ikan busuk ke wajahku. "Tapi ya, dia mencarimu sekarang, sudah satu hari sejak aku merampasmu darinya dan Edo benar-benar panik karena kau."

Kesimpulan kecil yang akau dapat, aku telah hilang selama seharian penuh. Tidakkah seseorang mencari tau, tidakkah tuan Sesshomaru mencariku?"

"Hentikan bicara membosankan ini, biarkan kami membelah kepalanya sekarang lalu berikan imbalan kami." Aku menatap kulit putih berambut pirang, menatap ke matanya dan dia melihat ke arahku. "I'll stab your eyes, dog!" ia membentak, walau tidak tau ucapannya, aku bisa mengerti jeritannya seperti akan membungkamku selamanya, serbuan air mata menyelubungi pandanganku.

Lalu pandanganku terpaku pada seseorang. Bola mata kosong menatap tanah telah berubah warna. Sosok tersebut adalah paman tukang kayu. Melayang terombang-ambing di udara, terikat lehernya oleh tali tambang. Tangannya mengepal dan lengannya tersulur kaku ke bawah, sementara kakinya saling mengait, seakan-akan perjuangannya menghadapi kematian sangatlah hebat. Tidak ada lagi wajah tertawa dan periang, wajahnya berubah kaku dan tersiksa.

Bankotsu menatapku, "Ahh... lihat, lihat dia. Dia tidak bisa menaati tugasnya dengan benar," Tangan yang kasar mencengkram rahangku, menarik wajahku dan memaksaku untuk melihat mayat paman yang masih bergoyang, "Lihat Inuyasha sayang, karena kau dia mati seperti ini. Kah! Menyedihkan! Seandainya si sialan Sesshomaru tidak datang waktu itu, dia pasti sudah menebas kepalamu dan menyembunyikan jasadmu di tumpukan kayu bakarnya."

Aku yakin wajahku pucat pasi. Bibirku terbuka dan membeku. Hatiku tercabik-cabik. Tiga orang kulit putih, masing-masing dari mereka bermata abu-abu dan kesulitan berbahasa Jepang, si tubuh besar, dan satu lagi berambut pirang tergila, menatap ke arahku. Bankotsu adalah sesuatu yang menyeretku ke dalam mimpi buruk sejak pertemuanku dengan tuan Sesshomaru. Merekakah malaikat mautku? Kesedihan dan keputusasaan membakar seluruh energi kehidupanku. Air mata memenuhi mataku.

Bisakah aku melebur bersama angin dan menghilang?

"Ku-kumohon, jangan,"

"Hei, temanku. Kalian tidak perlu membunuhnya terlalu cepat. Dia akan mati, pada akhirnya. Ini kesempatan besar merasakan seperti apa pilihan Tennou Heika bukan? Aku yakin seks dengannya pasti sangat menyenangkan." Bankotsu menyalak seperti anjing.

Kulit putih terbesar maju, "Sungguh? Yang seperti itu boleh kami lakukan?"

"Ya. Kita hanya akan mengirim kepalanya, bukan bokongnya. Kalian bisa memiliki itu."

TO BE CONTINUED.


SPECIAL THANKS!

226IM-used, Ai no Est, kaneko SeiYu, .397, aprilOzi, CumiGorengTepung, cutiebird, Dalian08, Deep'O'world, .1, fudafujo1, , Heavenly Fujoshi, hidekonara197, iseemoonlight, jayoung552, jovitadewi, J'TrimFle, Jung Eunhee, Jung HaRa, kise cin, Kurnia130296, Kurousama, Lil' Kimmahiro, lupanama, Lusy Jaeger Ackerman, Mary chan, michhazz, Minge-ni, Mon Chaton's, Namikaze Ichilaw, Narusake, Park Aeri-shi, Porsafere, Raizel Jeagerjaques, reiths89, rieka, Ritsu ayumu, Rylan77, Samuel903, shira, Shiroi.144, shuu-ie, the babykyu kyu, Upik Abu, Uta640, Verochi chan, yamamura sayuri, yume miku, yuu, Asuji Posya, Bulu Burung, Chavoone, FarIndpussy, Ji-Jicouple, Kagehoshi Nao, Rin Kazayuki, WUnicornB, YUNJAE SHiP and JOYers, arifacandlelight dan beberapa Guest.

.

Author kembali lagi dari lubang neraka sambil membawa cerita yang hampir di lupakan ini.

Karena dulu di salah satu bagian bumi Indonesia banjir, maka bermandianlah laptop Author di kos tercinta. Menyebabkan kerusakan yang tidak bisa di disembuhkan #lebay Alhasil semua cerita Author hilang. Laptopnya sih nggak masalah, datanya yang mahal #curhat Pelajaran buat kalian sedia selalu harddisk untuk menyimpan data-data yaa.

Cukup sulit untuk melanjutkan cerita ini. Tapi lagi-lagi, inbox Author tetap berdatangan e-mail yang sangat mendukung cerita ini maupun cerita yang lain. Tidak banyak memang. Tapi itu punya NILAI YANG BANYAK di hati author.

Author mohon dukungan dari pembaca, fol/fav dan review benar-benar Author butuhkan untuk perkembangan cerita. Rasanya menyenangkan bisa berinteraksi dengan pembaca.

Author minta maaf karena sempat ngacangin reviews, DM bahkan request yang di buat khusus untuk Author. Untuk selanjutnya pasti Author balas.

Then... U can keep my word for the next chapter. PREPARE UR SOUL. Lol.

Terima kasih.