Early update, guys…

Minggu ini aku tidak bisa update karena ini hari terakhir untuk modem tersayang *sarcasm* dan mungkin baru bisa mengisi modem bulan depan. So yeah, selagi masih bisa update sekarang, kenapa gak?

Sekali lagi, terima kasih buat yang udah baca dan meninggalkan review untuk WEMB. *hugs*

Untuk jadwal update, sepertinya aku belum bisa memutuskan karena well, kalian tahu modem ini besok sudah tidak bisa dipakai. Jadi, yang tidak ingin ketinggalan WEMB bisa Follow aku di Twitter IrabellaRobsten.

And now, enjoy!


Chapter 3

First Encounter

Sehari, dua hari, tiga hari, satu minggu.

Damn, aku benar-benar bisa gila!

Aku meluangkan setiap waktu kosongku menunggu sebuah keajaiban yang bisa membuatku bertemu dengan My Brown Eyed Girl, tapi tidak ada apa-apa. Setiap kali aku menunggu disuatu tempat—selama berjam-jam—tidak pernah aku temukan tanda-tanda kemunculannya. Dia berteman dengan Alice, harusnya dia juga kuliah disini.

Aku mendesah dan mengganti posisi dudukku di kursi perpustakaan dan hanya menatap kosong ke buku yang ada didepanku. Aku mendapatkan tatapan aneh dari beberapa mahasiswa disini. Well, mungkin karena aku hampir tidak pernah terlihat di perpustakaan?

Sebenarnya tidak juga. Aku sering datang kesini hanya saja tidak di waktu yang ramai seperti ini. Dan kebanyakan mahasiswa sudah pergi.

Kuambil buku yang ada didepanku. Kuputuskan untuk meminjamnya saja karena otakku sedang tidak bisa berfungsi normal. Aku berjalan ke meja penjaga perpustakaan dan langsung berhenti di tempat. Melotot dengan apa yang aku lihat di depanku. Kukedipkan mataku satu kali, dua kali dan tiga kali. Tapi sosok yang ada di depanku tidak lah menghilang. Jadi aku tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi.

My Brown Eyed Girl.

My Brown Eyed Girl disini!

My Brown Eyed Girl disini?

Bagaimana aku tidak pernah bertemu dengannya?

Dengan tanpa perintah, kakiku bergerak sendiri ke arahnya. Tetapi lagi-lagi sebelum aku mencapai My brown Eyed Girl, tiba-tiba dari arah sebelah kiriku ada seseorang yang menabrakku. Bukan, tapi… memelukku?

Aku berhenti dan menoleh kearah dimana aku merasakan tubuh seseorang menempel dekat di tanganku.

Hal yang pertama kulihat adalah rambut pirang dengan semburat warna strowberi disana—aku suka aroma strowberi, tapi bukan berarti aku menyukai perempuan ini—hal kedua yang kulihat adalah sebuah senyuman yang terlalu dibuat-buat. Astaga.

Kenapa dia ada disini?

"Edward, aku mencarimu kemana-mana." Rengek Tara? Tantra? Tanya? Oh yeah, Tanya. Dan dia masih menggelayut di lenganku.

Kulepaskan genggaman tangannya di lenganku dan berusaha menjauh darinya. "Tanya." Suaraku datar.

"Kau kemana saja? Kau belum membalas satupun sms ku."

Huh, sms? "Aku…" Oh iya, sms dari nomor asing yang tidak pernah kubuka dan langsung menghapusnya. "aku sedang sibuk."

"Oh, tapi kau tidak pernah tidak membalas sms dari perempuan lain." Suaranya meninggi dan aku menyapukan pandanganku ke tempat disekitarku berdiri. Pandanganku bertemu dengannya, My Brwon Eyed Girl, dan dia langsung menunduk saat pandangan kami bertemu. Tapi tidak sebelum aku melihat semburat merah di wajahnya.

Apa dia mendengar ucapan Tanya?

Well, terkutuklah aku.

Tanya kembali meraih lenganku dan aku segera menepisnya. "Maaf, aku masih ada keperluan."

Wajah Tanya cemberut dan diapun mau melepaskan lenganku. Aku mulai berjalan kearah My Brown Eyed Girl. Dia masih tidak melihat kearahku dan sekerang dia berdiri memunggungiku di balik mejanya.

Aku sampai di depan mejanya dan aku hanya bisa terdiam, memandangi punggung dan belakang kepalanya. Ia masih sibuk sendiri.

Aku berdehem. Berusaha untuk menarik perhatiannya. Tapi Ia tetap tidak berkutik.

Apa Ia tidak mendengarku?

Aku mencobanya sekali lagi. Dan tetap tidak ada reaksi.

"Permisi?" Akhirnya aku berusara dan nampaknya suaraku terlalu keras karena gadis yang ada di depanku ini terlonjak kaget dan menjatuhkan buku yang ada di tangannya secara tidak sengaja.

"Oh, maaf, aku tidak bermaksud mengagetkanmu." Gadis ini berjongkok untuk mengambil bukunya lalu berdiri lagi. "Aku tadi sudah berusaha memanggilmu tapi kau tidak…" Dan saat itulah My Brown Eyed Girl berbalik menghadapku, memandangku dengan mata cokelatnya yang hangat. Dan aku langsung terdiam.

Seorang Edward Anthony Masen Cullen bisa tidak berkata apa-apa hanya karena berhadapan dengan seorang gadis. Suatu hal yang benar-benar langka.

Oh, tunggu, aku sudah bilang kalau Carlisle mengadopsiku belum? Well, sepertinya belum. Baiklah.

Setelah Carlisle menikah dengan Ibuku, hanya aku saja yang mempunyai nama berbeda dengan mereka bertiga—Carlisle, Esme dan Emmett—lalu Carlisle memberitahu Ibuku kalau dia tidak ingin membuatku merasa berbeda di keluarga ini dan Ia ingin untuk mengadopsiku. Ibuku setuju.

Sementara aku, aku sih tidak terlalu masalah mau namaku masih Masen atau sudah menjadi Cullen. Merasa disayangi saja sudah lebih dari cukup.

Okay, kembali ke topik semula.

Mata kami bertemu dan aku tidak bisa memalingkan pandanganku dari gadis yang ada di depanku ini. Matanya menghipnotisku. Kulihat lagi semburat warna merah di pipinya. Apa dia malu? Lalu mataku menangkap sebuah nametag dibajunya.

Isabella.

Akhirnya. Aku tahu nama My Brown Eyed Girl!

Sepertinya aku tidak bisa menyembunyikan senyum di wajahku karena My… Isabella menatapku dengan pandangan aneh.

"Isabella."

Matanya membelalak. "Bagaimana kau tahu namaku?" Tanyanya.

Huh? Apa aku mengucapkan namanya keras-keras? Dan suaranya, oh Tuhan, sangat merdu.

"Well?" Tanyanya, menunggu jawabanku.

Apa tadi yang Ia tanyakan? Oh! "Ada di nametag mu."

Isabella langsung melihat nametagnya sendiri, lalu muncul lagi rona merah di pipinya. Harus kuakui, aku mulai menyukai warna itu.

Tunggu dulu sebentar, Edward. Menyukai? Kau baru berbicara dengannya.

Kuputar bola mataku pada suara dikepalaku sendiri.

"Jadi, apa yang kau lamunkan sampai tidak mendengarku?" Tanyaku berusaha memulai percakapan.

"Maaf, tapi itu bukan urusanmu."

Oh-kaaay. Sepertinya bukan langkah awal yang bagus.

"Okay, tidak masalah." Lalu aku melihat buku yang ada di tangannya. "Hey, aku sudah membaca buku itu. Jadi endingnya itu pembunuhnya adalah ayah mereka sendiri, itu karena dia…" Suaraku menghilang saat aku melihat ekspresi wajahnya. Ops, wrong move. Again.

"Kenapa kau tidak kembali saja ke pacar-pacar bonekamu itu?" Ucap Isabella, lalu semburat merah itu keluar lagi di wajahnya dan matanya sedikit membelalak, seolah dia tidak sadar telah mengucapkannya keras-keras.

Hal yang tidak lupa aku tangkap adalah kata-kata pacar dan boneka. Jadi Isabella sudah mendengar sejarahku. Aku mendesah.

"Aku hanya ingin mengobrol." Jawabku lemah.

"Dan aku sedang bekerja." Isabella mengarahkan dagunya kebelakangku dan aku langsng menengok kebelakang.

Oh, ternyata ada orang di belakangku. Dan pandangannya bisa dibilang sedikit mengintimidasi, hanya saja aku tidak merasa terindimidasi olehnya.

"Okay, aku mau pinjam buku ini." Kataku sambil menyodorkan buku yang ku bawa. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk mengobrol tapi, hei, aku ada ide.

Isabella sedang memencet-mencet tombol di komputer perpustakaan. "Hei, aku punya ide. Bagaimana kalau kau beri aku nomor telfonmu?" Tanyaku dengan harapan tinggi.

Isabella langsung menghentikan kegiatannya dan memandangku. Sorotan matanya menilai, mencari-cari sesuatu di wajahku.

"Kau selalu bisa keperpustakaan untuk meminjam buku."

Huh? "Aku tahu itu."

"Kalau tahu kenapa meminta nomorku?"

Ah. "Aku meminta nomormu bukan untuk bertanya tentang buku-buku yang ada diperpustakaan. Itu karena aku ingin mengenalmu."

Wajahnya merona lagi. "Aku rasa itu tidak perlu." Isabella menjawab sambil menyerahkan buku kepadaku.

"Kenapa?" Aku masih harus berusaha.

"Aku bukan tipemu."

What?!

Aku tidak bisa menahan diri. Aku tertawa keras mendengar jawabannya. Setelah tawaku reda aku kembali melihat Isabella dan aku langsung menyesal. Raut wajahnya benar-benar membuat hatiku mengernyit sakit.

"Isabella…" Aku mencoba meminta maaf tapi ada seseorang yang memanggilnya.

"Bella, shift mu sudah selesai dan kau juga ditunggu Alice di depan."

"Terima kasih Mrs. Cope." Jawab Isabella lalu tanpa sepatah katapun Isabella pergi meninggalkanku. Sesaat aku hanya tertegun melihatnya pergi.

"Ada yang biasa ku bantu, Edward?" Suara Mrs. Cope membangunkanku.

"Oh, tidak Mrs. Cope, terima kasih." Lalu aku bergegas untuk mengejar Isabella. Aku berlari dai baru mencapai tempat parker saat aku melihatnya.

"Isabella?!" Isabella mendengarku dan dia menengok tapi Ia tidak berhenti. Isabella masuk ke mobil dan mobil itu langsung melesat meninggalkan parkiran dan meninggalkanku yang sedang berlari ke arahnya.

Sial. Apa yang salah denganku?


Poor Edward. :(

Tidak ada yang salah denganmu, Edward, kau hanya belum beruntung.. lol

Don't forget to hit the review button..

Love,

B