Playboy's Tale

JAEYONG AREA

WITH

JOHNTEN. MARKHYUCK.

WARN

Boys Love, lil bit dirty talk, Out Of Character, typo(s) everywhere, bahasa non baku.

.

.

.

JohnD: Nanti malam jam 10 di Blackpearl club.

JayJ: Ada apa?

JohnD: Yuta mengadakan pesta. Kau tau lah.

JayJ: Oke. Hanya kita? Mark?

JohnD: Bocah itu tidak bisa. Katanya sudah ada janji dengan seseorang. Sial sekali sepertinya dia sudah mengambil start dari kita berdua.

JayJ: Siapa lagi kali ini?

JohnD: Artis barumu yang baru debut, Haechan.

JayJ: Hah? Ku kira dia hanya menyukai orang yang lebih tua darinya.

JohnD: Entahlah sepertinya ia terkena sindrom heart attack. Kau tau tadi siang itu sifatnya benar-benar menggelikan.

JayJ: Aku bisa bayangkan. Omong-omong sudah waktunya pulang dan aku memiliki urusan lain daripada harus membalas chatmu, John. Sampai ketemu nanti malam. Adios!

Jaehyun berdiri dari duduknya dan menyimpan ponselnya di saku celananya. Kemudian berjalan sedikit tergesa ketika menyadari sudah lebih dari 10 menit dari jam pulang kerja. Setelah sampai didepan ruangan, ia segera membuka pintunya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.

"Tae—yong?" Jaehyun mengecilkan suaranya saat melihat ruangan besar itu kosong. Ia terdiam sejenak, apa lelaki cantik itu sudah pulang? Ah sial sekali dirinya lupa menanyakan nomor ponselnya. Kalau sudah begini kan dia juga yang susah. Jadi Jaehyun memutuskan untuk pulang ke rumahnya, sekalian bersiap-siap untuk nanti malam.

Saat mobilnya tengah berhenti karena lampu merah, tanpa sengaja matanya menangkap siluet seseorang yang sangat dikenalnya. Orang itu sedang duduk di halte bus yang berjarak beberapa meter dari tempatnya saat ini. Ketika lampu berubah hijau, ia menepikan mobilnya dan dan langsung turun menghampiri orang itu.

"Kenapa tidak menungguku?"

Mendengar sebuah suara yang sangat dikenalnya, lelaki bersurai pink itu mendongakkan kepalanya. Menghela napasnya sebentar sebelum mengeluarkan suaranya.

"Apakah itu harus?"

Bukanya menjawab, Jaehyun malah menarik tangannya dan memasukkan tubuhnya ke dalam mobilnya secara paksa. Taeyong tidak sempat berpikir karena tindakan Jaehyun terlalu tiba-tiba dan sekarang ia harus terjebak lagi bersama manusia mesum ini.

"Jaehyun!" Taeyong berteriak saat lelaki tampan itu masuk ke dalam mobil. Ia memasang wajah galaknya. Kalau diibaratkan didalam kartun, hidung dan telinga Taeyong sudah keluar asap. Tapi, dimata Jaehyun pemandangan disampingnya justru luar biasa imut.

"Yes, sugar?"

Taeyong mengerang. Panggilan itu lagi. Setiap ia mendengarya pasti jantungnya selalu bereaksi diluar keinginannya. Dan ia benci itu.

"Berhenti memanggilku seperti itu dan turunkan aku!"

"Dan membiarkanmu sendirian di tengah keramaian seperti itu? kalau nanti ada yang berbuat mesum padamu bagaimana?"

"Ya, dan orang mesum itu adalah kau!"

Jaehyun tertawa. Oh iya kenapa ia bisa lupa ya kalau dirinya ini sangat mesum. Yeah, Jaehyun akui dirinya memang mesum, tapi ia masih belum berani menyentuh Taeyong lebih dari sekedar ciuman. Padahal keinginan itu ada, sangat kuat malah. Tapi ketika ia hendak melakukannya, akal sehatnya selalu berteriak jangan.

"Kalau sedang marah seperti ini kau malah semakin manis ya. Tidak salah aku memanggilmu sugar."

Sial sekali Jaehyun ini. Kenapa suka sekali menggombali Taeyong? maunya sih tersipu, tapi tentu saja Taeyong tidak akan melakukan itu. mau taruh dimana harga dirinya? Ingat! Dia ini bukan lelaki murahan.

Ia membuang mukanya kearah jendela. Meratapi nasipnya yang malang. Tega-teganya Ten meninggalkannya dan lebih memilih lelaki tinggi itu daripada sahabat sehidup sematinya! Ingatkan Taeyong untuk memaki lelaki mungil itu jika nanti mereka bertemu dirumah. Haechan? Duh Taeyong kan baru saja kenalan dengan anak itu. lagipula arah rumah mereka tidak searah, dan anak itu dijemput oleh managernya. Maklum artis. Lah Taeyong? sudahlah tidak usah dibahas.

"Hey!" Taeyong terlonjak saat merasakan sebuah tangan menepuk pahanya. Ia menolehkan wajahnya kearah sang pelaku yang membuatnya kaget.

"Apa?!"

"Kau melamun." Jaehyun terkekeh. "Omong-omong kau tidak mau menunjukan arah rumahmu? Ohh atau kau mau pulang kerumahku?"

Taeyong mendengus, "bisa tidak sih sekali saja pikiranmu itu terbebas dari hal-hal yang berbau mesum?!"

Jaehyun hanya mnegangkat bahunya, "Jadi tidak mau memberi tau nih? Yasudah berarti aku akan membawamu ke rumah—"

"Iyaiya akan aku tunjukkan jalannya!" pekik Taeyong. Dia panik juga, bagaimana jika Jaehyun benar-benar membawanya kerumahnya? Tidak tidak. Pokoknya jangan sampai si mesum ini mencuri kesempatan dalam kesempitan. Tapi—Taeyong mengerutkan alisnya, merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, lebih tepatnya pada pahanya. Seperti ada yang menyentuh, mengelus bahkan—

"FUCK! SINGKIRKAN TANGAN SIALANMU DARI PAHAKU, DASAR MESUM BRENGSEK!"

.

Baru saja dibilang, ternyata Jaehyun sudah lebih dulu mencuri kesempatan dalam kesempitan tanpa bisa Taeyong cegah.

.

.

.

Playboy's Tale

Setelah berjam-jam latihan, akhirnya latihannya pun usai. Lelaki manis bersurai merah itu mendudukkan tubuhnya dilantai dan menyandarkan kepalanya ditembok. Kakinya ia selonjorkan ke depan, peluh membasahi sekujur tubuhnya. Ia memejamkan matanya, mengatur napasnya yang masih tersengal akibat melakukan gerakan-gerakan dance untuk performancenya.

"Haechan, aku duluan! Segeralah pulang dan beristirahat. Besok jadwalmu padat dari pagi hingga malam."

"Ya sebentar lagi aku akan pulang, coach. Terimakasih, hati-hati dijalan!" Mereka saling melambaikan tangan sebelum sang pelatih meninggalkannya sendirian. Haechan kembali memejamkanmatanya, rasa lelah dan kantuk tidak dapat ia hindari.

Beberapa menit berlalu, ia masih menutup matanya dan akan menuju ke alam mimpi sebelum ia merasakan ada sesuatu yang dingin menempel dipipinya. Dengan malas ia membuka matanya. Dan hal pertama yang tertangkap oleh retinanya adalah wajah seseorang yang amat sangat dekat dengan wajahnya.

"Astaga!"

DUAGH

Haechan memekik, dengan refleks memundurkan kepalanya ke belakang. Namun sialnya kepalanya malah membentur tembok dengan cukup keras. Membuatnya meringis sambil mengelus pelan kepalanya.

"Hey, kau baik-baik saja? Maafkan aku."

Sebuah elusan lembut dikepala Haechan membuat tubuhnya menjadi kaku seketika. Dilihatnya wajah lelaki tampan yang berada tepat didepannya yang masih setia mengelus belakang kepalanya dengan hati-hati. Yatuhan, kendalikan dirimu, Lee Haechan!

"Ehm senior, maksudku Mark. Bisa kau mundur sedikit? Posisi kita terlalu dekat."

Hening. Mark tidak menggubris ucapan Haechan, ia masih tetap pada posisinya. Haechan yang merasa diabaikan menghela napas dan membuka suaranya lagi.

"Mark!"

"Baiklah baiklah." Mark memyudahi acara mari-mengelus-kepala-Haechan dan memundurkan sedikit tubuhnya. Mereka saling bertatapan sejenak sebelum Haechan membuang mukanya. "Minumlah, aku tau kau pasti sangat lelah."

Ternyata lelaki dihadapan Haechan itu membawa minuman dingin untuknya. Tanpa berpikir dua kali Haecahn langsung menerimanya dan meminumnya sampai habis, karena ia memang sangat haus saat ini!

"Kenapa kau ada disini?" Bukannya mengucapkan terimakasih, setelah selesai dengan minumanya ia malah bertanya seperti itu. Yang ditanya tersenyum lebar, membuat wajahnya semakin terlihat tampan.

"Kau lupa? Tadi saat makan siang kan aku mengajakmu bertemu."

Haechan memutar kedua matanya malas, "Ku kira kau hanya main-main. Lagipula untuk apa bertemu denganku? Kau kan artis super sibuk kenapa bisa-bisanya kau malah berada disini dan repot-repot menemuiku?"

Mark takjub. Perasaan tadi siang saat mereka sedang makan lelaki didepannya ini tidak banyak bicara? Tapi kenapa sekarang malah bicara panjang lebar?

"Kau ini cerewet sekali." Mark menggelengkan kepalanya. "Hari ini jadwalku hanya tadi pagi saja. Besok baru seharian penuh." Ia menatap ke dalam mata Haechan. "Omong-omong, aku lebih suka dirimu yang cerewet seperti ini daripada kau yang diam seperti tadi siang. Kau jadi terlihat semakin manis dan imut."

Hell, si perayu ulung kelas kakap macam Mark Lee mulai mengeluarkan aksi gombalannya. Mulut Haecahn gatal ingin menyumpahi lelaki dihadapanya ini. Tapi ia teringat perkataannya tadi siang bersama Ten dan Taeyong.

Flashback

"Aku punya rencana."

Ten dan Taeyong memusatkan perhatian mereka kearah Haechan. Memandang dengan ekspresi penasaran.

"Ikuti saja permainan mereka. Bersikaplah manis sesekali dihadapan mereka. Lalu—"

"Kau gila?! Tidak, aku tidak akan melakukan itu!"

"Dengarkan aku dulu sampai aku selesai bicara, Taeyong hyung." Haaecan menarik napasnya sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Lalu buat mereka jatuh kedalam pesona kita, setelah—"

"Aku rasa itu adalah hal yang tidak mungkin." Kali ini Ten yang memotong ucapan Haechan. "Maksudku, mereka adalah playboy yang memiliki banyak pelacur. Dan mereka mendekati kita hanya untuk koleksi para pelacurnya saja."

"Benar!" Taeyong berucap dengan semangat sambil menggebrak mejanya. "Aku sudah bisa menduga apa yang ada didalam pikiran mereka."

"Tidak seperti itu! mereka memang.. yeah para lelaki yang haus akan belaian. Tapi aku bisa membedakannya jika mereka mendekati kita bukan untuk mereka tiduri, melainkan untuk mengenal kita lebih jauh.. mungkin."

"Hah?" Taeyong pusing. Apanya yang mau mengenal lebih jauh? Jaehyun itu mendekati Taeyong karena ingin mencicipi tubuhnya saja! Kenapa bisa-bisanya Haechan berpendapat seperti itu.

Tapi memang benar. Satu-satunya disini yang langsung mengajak sex saat pertama kali bertemu ya hanya Jung Jaehyun. Johnny dan Mark tidak melakukan itu ketika mereka bertemu dengan Ten dan Haechan. Jadi, tidak salah kan pemikiran Haechan?

Mereka terdiam sesaat. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Kemudian tidak lama Haechan membuka suaranya.

"Aku akan mencobanya. Aku akan mengikuti alur permainan mereka dengan permainanku juga. Dan aku yakin aku tidak akan terbawa perasaan. Ini hanya permainan, mereka tidak akan serius dengan kita. Percayalah."

Ten mengangguk, "sepertinya.. aku juga akan mencobanya. Tidak ada salahnya bukan? Lagipula aku tidak akan serius, aku hanya ingin lihat seberapa besar usaha mereka untuk menaklukan para mantan-mantan mereka yang sebelumnya."

"Terserah kalian." Taeyong angkat bicara. "Jika aku mengikuti permainan si mesum itu yang ada malah makin gencar dia mencari cara untuk mencuri kesempatan dariku. Pokoknya aku tidak mau, pass!"

Flashback off

"—chan? Haechan?"

"O-oh." Haechan tersadar dari lamunannya. Ia bisa melihat saat ini Mark sedang tersenyum, dan itu membuatnya sedikit salah tingkah.

"Ayo kita makan. Setelah itu kita cari udara segar sebelum kita penat dengan aktifitas kita besok. Setelah itu aku antar pulang."

Mark sudah memulai permainannya. Pikir Haechan. Lelaki tampan itu sedang berusaha mendekatkan diri terhadapnya, Haechan tidak bodoh untuk menyadari itu. Jadi dengan keyakinan hatinya, ia akan menyanggupi ajakan Mark.

"Baiklah, tapi biarkan aku mandi terlebih dulu." Mark mengagguk, membiarkan Haechan meninggalkannya sendirian.

Drtt drtt

Ponsel Mark berdering, ketika melihat siapa yang menghubunginya ia segera mengangkat panggilan itu.

"Yo."

"Blackpearl club jam 10."

"Aku tidak bisa. Aku sudah ada janji."

"Dengan siapa?"

"Secret."

"Haechan?"

"Ck. Kalau sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku tutup."

Tanpa menunggu jawaban dari si penelpon, ia segera memutuskan sambungannya. Sejenak ia terdiam, tumben sekali dirinya lebih mementingkan seseorang daripada bermain di club. Sebenarnya bisa saja ia mengiyakan ajakan Johnny barusan dan membatalkan rencananya dengan Haechan. Ia juga dulu sering seperti itu kok dengan mantan-mantan kekasihnya. Tapi entah kenapa membayangkan wajah kecewa lelaki manis itu membuat dirinya tidak sanggup untuk melakukannya.

15 menit berlalu, akhirnya Haechan kembali. Wajahnya terliha lebih fresh dari sebelumnya. Mark berdiri dari duduknya dan menghampiri lelaki manis itu.

"Kita pergi sekarang?"

Haechan hanya mengangguk. Kemudian mereka pergi, Mark memutuskan untuk mampir disalah satu restaurant sushi, karena ketika bertanya kepada Haechan lelaki itu menjawab menyukai semua jenis makanan. Jadi Mark membawanya ke restaurant sushi favoritnya.

Mereka makan dalam diam, lebih tepatnya Haechan karena Mark mengajaknya bicara tapi lelaki manis itu hanya menanggapinya dengan gumaman atau dengan gerakan kepala. Mark jadi bingung, sebenarnya sifat Haechan itu seperti apa? Tadi saat diruang latihan ia begitu cerewet. Kenapa sekarang si manis itu kembali ke mode diamnya? Apa Haechan memiliki alterego? Ah, itu tidak mungkin.

Selesai makan, Mark membawa Haechan ke sungai han. Udara disini benar-benar sejuk dan Mark menyukainya. Mereka berjalan beriringan dipinggir sungai, dan sepertinya Mark tidak salah membawa Haechan kesini, karena ia bisa melihat saat ini wajah Haechan terlihat senang menikmati udaranya.

"Haechan."

"Hmm."

"Kau benar-benar seperti malaikat. Aku bersungguh-sungguh."

Langkah Haechan terhenti diikuti dengan Mark. Ia menghadapkan tubuhnya kearah lelaki tampan yang berada disampingnya. Haechan menarik napasnya sebelum mengeluarkan suaranya.

"Mark, tolong jangan berbicara yang tidak-tidak."

"Tapi aku serius!"

Haechan memutar bola matanya, "serius menggombaliku?"

"Hah? Aku tidak—"

"Mark, aku masih baik padamu karena aku menghargaimu sebagai seniorku. Jadi aku harap kau jangan terlalu banyak mengeluarkan gombalan-gombalanmu itu karena aku tidak suka mendengarnya."

Mark hanya mengangkat bahunya acuh, "aku tidak janji." Ia bisa mendengar Haechan mendecih. "Tapi jika aku melakukannya dengan tindakan, kau pasti suka kan?"

"Apanya?"

"Seperti tadi saat aku mengelus kepalamu. Aku bisa melihat semburat merah dipipimu." Mark terkekeh kala melihat wajah Haechan saat ini. Ia terlihat ingin mengelak namun tidak bisa karena sudah tertangkap basah olehnya.

Haechan melengos, ia melanjutkan langkahnya dengan kaki yang dihentakkan. Seperti sedang merajuk. Mark tertawa keras melihatnya dan ia segera mengejar lelaki manis itu sebelum kehilangan jejaknya.

"Wow, sepertinya ada yang ngambek?"

"Diam!"

"Hey kau menggemaskan sekali, aku jadi ingin menciumu."

"Berisik!"

Mark tertawa lagi, kemudian ia menghalangi jalan Haechan dengan berdiri didepan lelaki manis itu, ia bisa melihat wajah merah Haechan. Sepertinya lelaki itu salah tingkah.

"Haechan, rasanya aku ingin—"

"Berhenti merayu dan antar aku pulang sekarang, Mark!"

Oke, Mark mengerti sekarang. Dua hal dari sifat Haechan. Lelaki manis itu galak, dan suka memerintah. Dan Mark akan mengingatnya dengan baik.

.

.

.

Playboy's Tale

Ten pusing, setelah tadi Johhny menculiknya kerumahnya dengan alasan untuk menemaninya makan malam, sekarang ia terjebak di club malam bersama dengan Johnny tentunya. Padahal lelaki tinggi itu sudah berjanji akan mengantarkannya pulang setelah itu. tapi dirinya sekarang malah berada di club. Duh, Ten ini anak baik-baik yang tidak pernah menginjakkan kakinya di club malam! Tau begitu lebih baik ia pulang bersama Taeyong tadi daripada harus mengiyakan ajakan lelaki tinggi ini.

"Johnny! Kenapa kau malah membawaku kesini?!"

Yang diajak bicara hanya diam saja dan teru menyeret tangan mungil Ten sambil melongokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Saat sampai dilantai 2, akhirnya Johnny menemukan seseorang yang dicarinya.

"Jay!"

Merasa ada yang memanggil, sang pemilik nama menolehkan kepalanya. Ia mengangkat tangannya menyuruh Johnny duduk bergabung dengannya.

"Whatsup bro? Ah ya Happy Birthday btw." Johnny ber high five ria sebelum mengambil tempat duduk disana. Lalu ia menyuruh Ten duduk disampingnya.

"Aku baik, dan sialan! Aku sedang tidak berulang tahun hari ini."

Mereka semua yang ada dimeja itu tertawa. Kira-kira ada sekitar tiga orang disana, ditambah dirinya dan Johnny berarti totalnya ada 5 dengan meja yang melingkar.

"Kau membawa seseorang rupanya."

Mendengar suara yang familiar, Ten memandang kedepan. Tak lama mulutnya terbuka lebar saat mengetahui siapa yang duduk tepat didepannya.

"Bos?!"

Yang dipanggil mengibaskan tanganya, "panggil aku Jay jika kita sedang berada diluar kantor."

Ten hanya mangut-mangut. Sudah hal wajar sih jika ia bertemu bosnya di tempat seperti ini. Hanya ia tidak menyangka saja ternyata bosnya itu satu komplotan dengan Johnny. Berarti mereka juga satu komplotan dengan Mark bukan?

"Kekasih barumu, John?"

"Bukan," Johnny mengambil segelas wine lalu meneguknya. "Setidaknya belum untuk saat ini."

Lelaki yang tadi bertanya itu terkekeh, "Oh ya kita belum berkenalan. Aku Yuta dan yang ini Winwin, tunanganku." Yuta, lelaki yang menggelar pesta itu mengulurkan tangannya sambil melirik kesamping.

Ten mengangguk, "Ten. Dan aku bukan kekasih atau calon kekasih orang ini." Ia menyambut uluran tangan Yuta dan Winwin secara bergantian. Mendengar jawaban Ten membuat Yuta dan Jaehyun tertawa.

"Pede sekali dirimu kawan menyebutnya seperti itu." ucap Jaehyun setelah berhasil mengendalikan tawanya.

"Seo Youngho yang malang."

"Sialan kalian semua."

Setelahnya mereka terlibat dalam beberapa percakapan. Ten bosan! Untuk apa juga Johnny membawanya kesini kalau ujung-ujungnya ia malah asik sendiri dengan teman-temannya. Winwin juga hanya diam saja, Ten kan jadi malas mau membuka percakapan duluan.

"Hey Jay, lihatlah kebelakangmu." Jaehyun menoleh ke belakang, kemudian seringainya muncul.

"Kau memang yang paling mengerti, John. Aku kesana dulu."

"Selamat bersenang-senang!" Yuta berteriak, Johnny hanya menggelengkan kepalanya. Ten? Ia masih agak kaget melihat kelakuan binal bosnya secara langsung. Tiba-tiba perutnya terasa mual membayangkan hal yang tidak tidak.

Johnny menyadarinya, lelaki tinggi namun tampan itu merangkul bahu Ten saat melihat lelaki mungil itu menundukkan kepala sambil memijatnya.

"Kau baik-baik saja?"

"Tidak, ugh maksudku bisakah aku pulang lebih dulu?"

"Aku antar." Johnny berdiri sambil membantu Ten. Merasa Johnny terus menerus merangkul bahunya, Ten menggerakkan tubuhnya, mengisyaratkan agar lelaki tinggi itu melepaskan tanganya.

"Aku baik-baik saja." Ujar Ten saat ia berhasil melepas rangkulan Johnny, kemudian menatap Yuta dan Winwin secara berganian. "Aku pulang duluan, terimakasih untuk pestanya Yuta-ssi dan Winwin-ssi."

Yuta tersenyum lebar, "tak masalah. Semoga cepat sembuh kalau begitu."

Setelah pamit Johnny mengantar Ten pulang. Mereka sedang berada di dalam mobil saat ini dengan Ten yang sesekali menunjukan arah rumahnya. Sebenarnya Ten gatal sekali ingin menanyakan suatu hal dengan Johnny, tapi ia masih enggan membuka mulutnya, entah karena apa.

Johnny menyadari kegelisahan Ten, sambil meliriknya sekilas ia membuka suaranya. "Ada hal yang ingin kau tanyakan?"

"Ah? Tidak, tidak ada."

"Kau yakin? Bertanyalah selagi aku memberimu kesempatan."

Ten berpikir sejenak, lalu akhirnya iamemutuskan untuk bertanya. "Apa kalian selalu seperti itu? hmm seperti yang dilakukan bos tadi."

Johnny tidak langsung menjawab. Ia menimbang-nimbang apakah ia harus menjawab pertanyaan Ten secara jujur? Baiklah, Johnny akan berkata jujur meskipun itu akan beresiko pada upayanya mendekati Ten.

"Begitulah cara kami bersenang-senang. Tapi jangan berpikiran buruk dulu, kami melakukan one night stand hanya jika kami ingin. Tidak termasuk kalau status kami sedang memiliki kekasih. Aku akui kami bertiga pun dulu mengkonsumsi narkoba. Tapi sekarang sudah tidak lagi."

"Kalian gila?!" Ten shock berat. Sebejat itukah kelakuan mereka? "Kalian semua? Kau, Johnny, Mark dan Yuta?"

"Yuta tidak lagi karena ia sudah bertunangan dengan Winwin. Dan kami bertiga juga sudah tidak separah dulu."

Ten menghadapkan tubuhnya kearah Johnny, ia menatap Johnny dengan pandangan horror. "Lalu maksudmu mendekatiku apa? Untuk menjadikanku mainan seperti mereka-mereka?! Setelah itu kau akan membuangku layaknya sampah. Tidak, kau tidak akan bisa melakukan hal seperti itu kepadaku, Seo Youngho."

Johnny mengentikan mobilnya ketika ia sudah sampai didepan rumah milik Ten. Ia balik menatap wajah lelaki mungil itu.

"Kau bertindak seolah aku adalah orang jahat. Aku sama sekali tidak memiliki niat untuk menyakitimu seperti mantan-mantanku. Percayalah."

Ten mendengus kasar. "Manis sekali bualanmu." Ia melepas seatbeltnya kemudian menatap Johnny sekilas. "Ah bilang juga pada si Mark itu, jika dia berani menyakiti Haechanku, aku yang akan memotong penis kebanggaanya. Terimakasih atas tumpanganya." Setelah mengatakan itu Ten buru-buru turun dari mobil Johnny tanpa memandang wajah lelaki itu.

Johnny hanya bisa menatap punggung Ten yang menghilang dibalik pintu. Ia menghela napasnya dan menyenderkan kepalanya di jok mobil.

"Chittapon, aku... tidak akan menyerah begitu saja."

..

"Taeyong?"

"Yah Taeyong! Apa kau marah padaku?"

"Menurutmu?!"

Astaga, Taeyong dalam mode ngambek itu bukanlah hal yang bagus. Ten kan sudah menjelaskan alasan kemarin dia meninggalkan Taeyong dan lebih memilih Johnny, tapi tetap saja lelaki cantik itu marah padanya.

"Baiklah, maafkan aku. Nanti makan siang aku yang traktir deh."

Taeyong tidak tergoda, "kalau makan sih aku masih mampu beli sendiri!"

Ten mengelus dadanya, sabar Ten, bantinnya. Sahabatnya ini memang agak menyebalkan. "Okeoke jadi kau mau apa?"

"Hmm," Taeyong meneguk habis susu cokelatnya. "Nanti akan aku pikirkan. Dan bukan berarti saat ini aku sudah memaafkanmu!" Ia mengambil tasnya dimeja lalu melihat arlojinya. "Cepat bergegas bodoh." Tanpa menunggu Ten yang masih mengunyah rotinya, ia langsung berjalan keluar rumah.

Saat membuka pagar, seseorang tengah berdiri sambil menyandarkan tubuhnya dimobil sportnya. Taeyong mengernyitkan dahinya melihat pemandangan itu.

"Jaehyun?"

Tepat setelah ia melihat sosok Jaehyun yang tengah berdiri didepan rumahnya, Ten berlari menuju kearahnya sambil berteriak.

"Tunggu aku Taey—BOS?!"

"Siapa yang kau panggil... Bos?"

Ten tidak menjawab, tapi matanya tidak lepas dari sosok Jaehyun yang saat ini tengah berdiri menatap mereka berdua dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku.

Taeyong mengikuti arah pandang Ten. Otaknya mencoba memproses ucapan sahabatnya, dan tak lama ia melebarkan matanya sambil menunjuk wajah Jaehyun dengan telunjuknya,

"KAU? BOS KAMI?"

.

.

.

TBC

Review kalian sangat aku tunggu. Dan terimakasih kepada pembaca setia ff abal ini:

Special thanks for kalian Jaehyunskitten, JaeyongieFangirl dan Xhaf. Esp teman-teman gc #Jaeyongantikaram yg elwes memberiku asupan all about JAEYONG.

Big thanks to:

gitakanya, masyaallahminhyun, riskaendahp, b. Ulu, elspethlee, zeroo082, nunim, Jaeyong Sweety, cottoncandgii, LDHLTY151, Wiji, TyongieBaby, Rimm, jhx, yunyoungHO, jjaeong, jaeyongs, ilop . you, mayaeri16, Silvia, xolovexian, Guest, Ppine, cherry701, hvcbs, biewulfy, Chochoellah, Jilly Choi, Anna, jyonhs, natns88, Dfandra, starciou.

Maaci udh review dan bikin diriku senyum2 sendiri bacanya wkwk. Makasih jg buat yg udh fav/follow ff ini. Sekali2 review lah ya biar aku makin semangat jg buat lanjutinya.

See ya in next chap!