THE CLOCK TOWER

by Purplelicious Violetta

.

Inspired of The Struggle Within: Clock Tower II

.

"Ayo, Tsunade!"

Hinata berjalan menunduk –mengendap-endap supaya para penjaga tidak melihat mereka. Ia tutupi kepalanya dengan tudung jubahnya.

"Kita mau kemana, Ojou-sama?" tanya Tsunade ditengah perjalanan mereka. Hinata menatap Tsunade sambil tersenyum. "Tidak tahu."

Tsunade mendadak berhenti berjalan. "Lalu?" ucapnya terkejut. Namun, Hinata masih saja tersenyum. Ia terkikik pelan melihat reaksi sahabatnya itu –yang juga servant di kastil ayahnya. "Apa kau pernah mendengar Ladang Biru, Tsunade?"

"Pernah," jawabnya sambil terus berjalan.

"Kau pernah kesana?"

"Tentu."

"Benarkah? Apa disana benar-benar biru?"

"Tidak. Itu hanya ladang rerumputan biasa, hanya saja disana terdapat sebuah danau yang airnya benar-benar biru. Bukan biru lautan –tapi biru langit cerah!" Tsunade menatap Hinata yang tampak terkagum-kagum. "Dulu, aku sering kesana dengan sahabatku."

"Wah, pasti tempatnya indah, bukan? Antarkan aku kesana, Tsunade!" Hinata menarik tangan Tsunade dan berlari dengan ceria. "Eh? Malam ini?"

Hinata hanya mengangguk. "Malam ini!"

Tsunade tidak dapat menolak permintaan Hinata. Bagaimana pun, Hinata adalah gadis yang cukup keras kepala –jika sebagai sahabatnya. Sementara sikap anggun dan lemah lembutnya hanya saat ia berada di dalam kastil –sebagai countess Hyuuga, tentunya. Tudung jubah yang semula menyembunyikan kepalanya sudah terbuka saat ia berlari. Rambut indigonya begitu gemulai diterpa angin malam.

Mereka memasuki wilayah hutan pinggiran Konoha. Tidak ada sedikitpun rasa takut menyelimuti kedua gadis itu. Terlebih Hinata –ia juga ingin merasakan masa remajanya sebagai gadis biasa yang bebas bergaul dengan siapa saja dan bermain bersama sahabatnya –bukan hidup sebagai seorang puteri yang dikekang. Namun, kehidupannya yang sesungguhnya sebagai countess Klan Hyuuga menjadi kendala tersendiri baginya.

"Kirei.." Kedua matanya tidak berkedip sedikitpun beberapa saat. Hinata terperanjat saat tiba di suatu tempat bernama Ladang Biru.

Tempat itu sungguh luar biasa indahnya. Cahaya bulan yang memantul pada genangan air berwarna biru itu membuat keadaan disekitarnya terasa terang.

"Tsunade, ini Ladang Biru?"

Tsunade hanya tersenyum disela kelelahannya setelah berlari-lari bersama Hinata tadi. Kemudian ia duduk di sebuah batu besar yang cukup datar. "Inilah Danau Biru. Ladang rerumputannya ada diatas sana!" Tsunade menunjuk sebuah pohon ginko besar diatas sebuah bukit yang rendah. Tampak jalan setapak dan beberapa tangga menuju keatas sana. "Di balik pohon itu?" tanya Hinata polos.

Tsunade hanya mengangguk.

"Ayo, kesana, Tsunade!" ajak Hinata kemudian.

"Maaf, Ojou-sama. Aku masih sangat lelah. Kau duluan saja. Nanti aku menyusul," ujarnya. Hinata tidak tampak kecewa. Ia memaklumi Tsunade yang terlihat sangat kelelahan karena ulahnya –menariknya untuk berlari bersama. Senyumannya masih terukir jelas di wajah ayunya.

"Baiklah. Jangan lama-lama, Tsunade!" Hinata langsung berlari kecil diantara jalan setapak yang sempit itu. Kemudian menaiki beberapa anak tangga. Ia tidak memikirkan betapa lelahnya tubuhnya setelah berlarian tadi. Ia sungguh bahagia malam itu. Ia tidak pernah melihat tempat yang begitu natural seperti ini. Bahkan kastil megah Hyuuga menurutnya bagai sebuah penjara yang mengekangnya –walau ada beberapa orang yang menyenangkan, baginya.

Hinata menyentuh batang pohon ginko itu sesaat setelah sampai. Ia biarkan tubuhnya beristirahat sejenak. Nafasnya ia biarkan terengah-engah karena kelelahan. Tak lama indera pendengarannya mendengar sesuatu yang tidak biasa di tempat itu. Ia mendengar bunyi alunan indah shakuhachi. Matanya langsung menjelajah kesekitar. Namun yang ia lihat hanyalah hamparan rumput-rumput yang hijau.

"Siapa yang memainkan shakuhachi disini?" Hinata terus bertanya-tanya sambil mencari pemain shakuhachi tersebut.

Ia melihat seorang memakai kinagashi dengan atasan berwarna putih dan bawahan berwarna hitam. Rambutnya yang segelap malam sedikit mencuat kebelakang. Hinata melihat lambang uchiwa di punggung pria itu. Hinata semakin yakin jika orang itulah yang sedang memainkan shakuhachi. Hinata tampak ragu untuk menegur orang itu. Rasanya tidak sopan untuk mengganggu seseorang.

"Um.. A-ano.."

Pria itu berbalik dan terkejut saat melihat Hinata. "O-ojou-sama.."

"Uchiha-san?"

- Chapter IV -

"Okaa-chan?"

Naruto menghampiri Kushina yang sedang memunguti pecahan-pecahan piring yang jatuh di lantai dapur. "Kaa-chan tidak apa-apa? Hati-hati, nanti jari Kaa-chan terluka!" ucap Naruto kemudian. Kushina hanya tersenyum. "Tidak apa-apa, Naruto."

"Biar aku saja yang memungutinya. Kaa-chan lanjutkan saja mencuci piring yang lain," ujar Naruto sembari ikut memunguti pecahan-pecahan piring. "Baiklah. Jangan sampai tanganmu terluka, Naruto!"

Kushina kemudian berdiri dan kembali mencuci beberapa piring yang masih kotor. Sedangkan Naruto melanjutkan memunguti serpihan-serpihan kaca dari piring yang pecah. Namun, bukan Naruto jika ia tidak ceroboh. Ia kurang berhati-hati dengan serpihan-serpihan yang halus. Alhasil, jari telunjuknya pun mulai mengeluarkan cairan merah yang agak kental. Ia hanya meringis pelan –agar Kushina tidak mendengarnya.

"Sial!" umpatnya pelan.

Ia mengibas-ngibas jari telunjuknya itu. Beberapa tetes darah yang keluar dari luka kecil di jari telunjuknya menetes dan berceceran di lantai. Tanpa ia perhatikan, tetesan darahnya yang menetes tadi bergerak –saling mendekat ke setiap tetes, kemudian menyatu dan menghilang dengan cepat –seperti terserap oleh lantai berkeramik itu.

"Kaa-chan, sudah selesai. Dimana aku harus membuangnya?" tanya Naruto sambil mengangkat piring yang pecah itu. "Masukkan saja kedalam tong sampah disana!" Kushina menunjuk sebuah tong sampah kecil di sudut dapur. "Baiklah!"

Setelah memasukkan pecahan piring itu, Naruto kembali menghampiri Kushina yang masih mencuci beberapa peralatan makan lainnya. "Kaa-chan, permisi sebentar. Aku mau mencuci tangan, sebentar saja!" Kushina pun memperbolehkan Naruto mencuci tangan sebentar. Namun ia melihat sesuatu yang aneh dari kucuran air bekas Naruto mencuci tangan. Airnya berwarna sedikit merah.

"Naruto.." ucap Kushina lirih. Wajahnya mulai memucat. Kelereng matanya masih terpaku pada air yang berwarna sedikit merah itu. "Ada apa, Kaa-chan?"

"A-apa tanganmu berdarah?"

Naruto mematikan keran air dan menatap Kushina. Ia heran mengapa ibunya tampak aneh. "Hanya luka kecil di jari telunjukku saja. Kaa-chan kenapa?" Kushina langsung meraih jari telunjuk Naruto yang masih berdarah dan melilitkannya dengan sebuah serbet. "Ini tidak boleh terjadi.. Tidak! Tidak boleh!" Kushina terus meracau tidak jelas. Sedangkan Naruto hanya melihatnya heran.

"Kaa-chan, kau kenapa? Ada apa?" Naruto begitu tampak khawatir. Beberapa kali ia mengguncang-guncangkan tubuh Kushina dengan perlahan. Namun, Kushina tetap saja melilitkan jari Naruto dengan serbet. "Naruto tidak tahu apa-apa. Kumohon, jangan!"

Naruto yang semakin khawatir akan keadaan ibunya langsung memeluknya. Tubuh kekarnya berusaha membuat Kushina tenang. Cara itupun berhasil. Perlahan, Kushina mulai diam, tapi ia menangis. Naruto merasakan ada sesuatu yang aneh yang disembunyikan Kushina. Ia melepas pelukannya dan menatap sayu kepada Kushina.

"Kaa-chan, ada apa? Apa yang terjadi?" Naruto mengulang-ulang pertanyaannya. Namun, Kushina hanya diam –menangis. "Naruto.." ucapnya sembari menatap kelereng sapphire Naruto. Kemudian ia tatap serbet yang masih membungkus jari Naruto dalam genggamannya. Tidak ada bercak darah di serbet putih itu. Kushina semakin khawatir. Ia takut apa yang ia bayangkan benar-benar terjadi pada putranya itu.

Perlahan, ia buka lilitan serbet itu. Naruto sangat terkejut. Tidak ada luka di jari telunjuknya. Padahal tadi, jelas ia melihat luka kecil di jari telunjuknya.

"Apa yang sebenarnya terjadi.."

.

Sasuke melepas kacamatanya, kemudian menutup buku tebal yang tadi dibacanya. Onyxnya menatap aneh kearah Naruto yang tampka begitu tegang sembari duduk di sebuah kursi santai di depan perapian kamar itu. Naruto baru saja menceritakan kejadian yang ia alami tadi. "Apa maksudmu 'tiba-tiba menghilang'?"

Tubuh Naruto tampak gemetar. Ia masih membayangkan kejadian tadi pagi di dapur bersama Kushina.

"Terserah kau mau percaya padaku atau tidak, yang pasti, aku tidak membual, Sasuke!" Naruto begitu tegas. Perasaannya sangat tidak jelas. Suasana kamar itu menjadi sunyi.

"Aku tahu, kau tidak membual Naruto. Aku percaya padamu," ucapnya datar. "Jangan bicara seperti itu jika dalam hatimu kau menganggapku gila atau, –apalah!" Naruto tiba-tiba menendang meja kecil didepannya. Sesaat kemudian ia tampak begitu frustasi sambil menjambak rambut kuningnya sendiri. "Kejadian itu sungguh aneh. Seakan –merubahku menjadi sesuatu yang aneh," ujarnya lirih sembari kembali duduk di kursi yang ia duduki sebelumnya. Ia pejamkan matanya dan mengatur nafasnya lagi. Setitik air menggenang di sudut matanya.

"Aku benar-benar percaya padamu, Naruto. Bahkan aku sudah menyaksikannya sendiri sejak kita tiba disini." Sasuke meletakkan buku yang masih dipegangnya diatas ranjang. Sedangkan Naruto langsung menatap tidak percaya kearah Sasuke.

"Kau ingat saat aku pingsan? Orang pertama yang mengetahuinya adalah Tsunade-san, bukan?"

Naruto semakin mendengarkan Sasuke lebih seksama. Ia memilih diam daripada menjawab ucapan Sasuke. "Tsunade-san bilang jika aku terpeleset dan pingsan. Tapi, kurasa tidak. Kau juga mengalami hal yang sama, kan, Naruto? Orang yang pertama kali menemukanmu pingsan adalah Tsunade-san. Dan dia bilang pada orang tuamu jika kau terpeleset."

Naruto hanya mengangguk –mengerti. Semua penjelasan Sasuke begitu masuk akal. "Benar juga," ujarnya lirih.

"Dan, sebelum kau pingsan, apa kau mendengar suara seorang gadis atau, kau mencium aroma lavender?"

Sapphire milik Naruto membulat –sempurna. Ia sungguh terkejut, –darimana Sasuke tahu? Padahal ia belum menceritakan kejadian di pagi saat ia pingsan. "Tidak mungkin.."

Sasuke hanya mengangguk serius.

"Aku sudah bicara dengan Tsunade-san. Dia menceritakan sedikit apa yang terjadi di rumah ini."

"Tsunade-san? Maksudmu, dia tahu tentang semua ini?"

"Hn."

Sasuke mengambil segelas air putih yang berada di meja sebelah ranjangnya, lalu meminumnya. Hanya setengah gelas ia minum, kemudian meletakkan gelas itu kembali ke tempat semula.

"Jika ingin tahu lebih jelas, besok kita tanyakan saja pada Tsunade-san."

.

"Ano.. Yoroshiku onegaishimasu, Uchiha-san." Hinata tersenyum kemudian. Sementara Uchiha Izuna mulai gugup. "Um, panggil namaku saja. Tidak usah Uchiha," pintanya. Hinata kembali tersenyum dan mengangguk.

"Yoroshiku.."

Detak jantungnya kian cepat.

"..I-Izuna-san."

Suasana kembali hening. Antara Hyuuga dan Uchiha muda itu hanya saling melempar senyum –saling menatap malu-malu. Bagi kedua muda-mudi itu, rasanya tidak apa-apa jika hanya saling bertatap tanpa bersuara. Mereka bahkan lupa ada orang ketiga selain mereka.

"Uhhmm!"

Baik Hinata maupun Izuna mulai salah tingkah. Mereka saling menerawang tatapan ke tempat lain. "Jangan begitu formal, -Ojousama. Panggil saja dia seperti aku memanggilnya." Izuna menatap kearah Tsunade yang masih tersenyum. "Panggil saja dia Izuna-kun!"

Hinata diam. "Izuna-kun.." gumamnya lirih. Sementara Izuna tampak kesal kepada Tsunade. "Hei, kau masih saja memanggilku dengan'-kun'!" gerutunya. Semburat merah menghiasi kedua pipi pemuda Uchiha itu. Sementara Tsunade hanya tertawa melihat raut wajah Izuna. Hinata yang juga melihatnya juga ikut tertawa.

"Lihat, Ojou-sama! Dia lucu, bukan?" Hinata hanya mengangguk disela tawanya. "Makanya, panggil saja dia Izuna-kun!"

Hinata menatap Izuna yang tampak kesal karena diledek oleh Tsunade. "Izuna-kun."

Hinata menghentikan tawanya dan tersenyum pada Izuna. "Kita berteman?" Kali ini Hinata tanpa ragu mengulurkan tangannya kepada Izuna. Tsunade segera diam –melihat adegan itu. Izuna tersenyum, kemudian meraih tangan Hinata. "Tentu saja, Ojou-sama."

Kemudian Izuna hendak melepas jabatan tangan mereka. Izuna menatap Hinata –heran. "Tolong jangan panggil aku Ojou-sama. Aku ingin kau memanggilku Hinata. Hanya Hinata," pintanya lirih. Ia kembali tersenyum.

"Hinata."

.

"Ohayou gozaimasu, Naruto-sama." Seulas senyum lembut menyambut kedua pemuda itu. "Ohayou, Uchiha-san."

Namun senyuman lembut itu tidak terbalas dengan senyuman lembut pula. Malah raut wajah stress dan raut wajah datar yang terkesan begitu dingin. "Oha," jawab Naruto singkat. Kedua pemuda itu semakin mendekat –dan kini sudah berdiri dihadapan Tsunade sendiri.

Tsunade terlihat santai –masih mengerjakan tugasnya merawat kastil yang kini telah menjadi rumah mewah itu. Ia begitu teliti memilih bunga-bungan yang layu. "Apa kalian butuh sesuatu? Teh hangat, mungkin. Atau camilan untuk pagi hari?" Tsunade melepas sarung tangan yang biasa digunakan untuk berkebun.

"Kami hanya butuh penjelasan darimu, ada apa sebenarnya yang terjadi di rumah ini," Sasuke langsung menjawab tegas. "Penjelasan?" Tsunade memasang wajah polosnya. "Rumah?"

Baik Sasuke maupun Naruto hanya diam.

"Tempat ini adalah kastil, Uchiha-san. Tempat ini bukanlah hanya sekedar rumah belaka. Kau tidak tahu apa yang ada didalamnya. Dan seterusnya, tempat ini adalah kastil, bukan rumah." Nada bicara Tsunade tampak sedikit kesal. Namun wajahnya masih saja tersenyum.

"Terserah kau saja, Tsunade-san. Yang terpenting, katakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini!" Tsunade tidak menghiraukan argumen Naruto. Ia memunguti sebuah gunting tanaman dan memasukkannya kedalam sebuah keranjang berisi perlengkapan untuk menanam bunga. Tak lupa, sepasang sarung tangan yang tadi ia lepas juga dimasukkan kedalam keranjang itu.

"Baiklahh, jika kalian memaksa."

Tsunade kemudian mengangkat keranjang itu dan pergi menuju gudang.

"H-Hei, Tsunade-san!"

.

Naruto sudah diam. Beberapa menit lalu mulutnya masih terus menerus memanggil Tsunade yang terus berjalan –meletakkan keranjang yang dibawanya ke gudang, dan kembali berjalan menuju menara jam.

Tsunade berdiri tepat di depan daun pintu menuju menara jam. Tangan kanannya merogoh –masuk kedalam saku dibalik seragam maid-nya. Naruto mulai gelisah menyadari mereka akan naik ke menara jam. "Psst!"

Sasuke masih menatap datar –menunggu Tsunade membuka pintu. "Psst, Sasuke!" Sasuke menoleh kearah Naruto. Tangan kanannya berada di sebelah kiri bibirnya –seperti orang berbisik. "Hn?" Sesekali Naruto melihat kearah Tsunade –khawatir bila wanita itu melihatnya berbisik dengan Sasuke.

"Kita akan ke atas menara jam?" Suara Naruto terdengar sangat lirih, namun Sasuke masih bisa mendengarkan karena ia berada tepat di samping Naruto. "Hn."

"Memangnya kenapa, Naruto?" Sasuke mulai menatap heran kearah Naruto. "Tou-chan bilang, kita tidak boleh naik ke sana. Berbahaya!" Sekali lagi, Naruto melirik kearah Tsunade. "Tidak apa-apa, Naruto. Kalau kau tidak berani, kau bisa menunggu disini. Biar aku yang mengikutinya."

Naruto tampak ragu. Pemuda keturunan Keluarga Namikaze itu menyentuh pundak sahabatnya. Sasuke dapat merasakan tangan Naruto sedikit bergetar.

Suara decitan pintu terbuka membuat Sasuke yang ingin bicara kepada Naruto, bungkam. Tsunade belum juga berbalik untuk beberapa saat. Ia menatap kosong kedalam ruangan yang begitu gelap yang terdapat tangga untuk keatas puncak menara. Aura yang tidak bagus mulai menyeruak dari dalam sana –memberi kesan horror bagi Naruto dan Sasuke. "Sepertinya kau ragu, Naruto-sama."

"Jika kau benar-benar ragu, sebaiknya tidak usah ikut naik ke menara." Tsunade kembali bicara. Tanpa menunggu suara Naruto, Tsunade mengambil sebuah obor yang memang tersedia disana dan menyalakannya. Cahaya yang dipancarkan dari api obor mulai menerangi ruangan sempit itu. Susunan anak tangga tampak tersusun ke atas –melingkar seiring dinding menara yang membentuk seperti tabung.

"Aku akan menunggu diatas."

Sasuke dan Naruto masih bungkam. Mata mereka terus mengekori langkah Tsunade yang menaiki anak-anak tangga menuju menara. Suara derap langkahnya menggema lirih dalam ruangan itu.

"Ja-jadi.."

Naruto mulai bersuara –memecah keheningan diantara mereka berdua setelah Tsunade lenyap dalam jangkauan mereka. "Kau mau ikut keatas tidak? Jika tidak tunggu saja disini, biar aku yang bicara pada Tsunade-san."

"Tidak! Aku juga akan naik. Walau aku ragu, tapi aku juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi!" Sasuke tersenyum tipis. Semangat Naruto yang menggebu-gebu seperti ini sangat ia rindukan. Sekalipun tindakannya bodoh, namun Sasuke sangat menghargai semangat sahabatnya itu.

Tanpa berdiskusi dengan Naruto, Sasuke langsung mengambil sebuah obor lagi dan menyalakannya –seperti Tsunade tadi. Langkahnya sangat siaga menaiki satu per satu anak tangga. Naruto mengikuti langkah Sasuke dari belakang dengan penuh kewaspadaan pula.

Udara terasa begitu pengap. Rasanya anak-anak tangga yang mereka lewati tidak berujung. Namun perasaan Sasuke kali ini cukup berbeda. Rasanya tidak terlalu sesak. Ia tidak merasakan suasana horror seperti saat pertama kali ia mendaki anak tangga menuju puncak menara.

.

つずく

.