SELAMAT HARI RAYA, MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN xD

Mohon maaf kalo kurang bisa memenuhi asupan Orz Ini aja bikinnya ngebut pas pulkam, 2k+ words bonus THR /APAAN

Possible OOC (KARMANYA TOLONG).


Assassination Classroom (c) Matsui Yusei


"Hey,sudah dengar belum?"

Hari minggu, sekitar pukul 10.

Seorang remaja bersurai merah sedang bersandar di dinding sebuah toko sambil sesekali melihat jam di smartphone nya dengan wajah jengkel.

Sudah lewat 15 menit dari waktu janjian, kenapa pasangan kencannya belum datang juga?

Dia menatap kesal ke arah gerombolan perempuan yang mengelilinginya. Ada yang menanyakan namanya, meminta nomornya, dan oh shit siapa itu yang pegang-pegang.

Karma menghela napas, dia lelah.

Didekati perempuan-perempuan genit memang hal yang biasa terjadi bagi anak remaja bertampang diatas rata-rata dengan gaya oke seperti Karma Akabane. Tapi kali ini lebih parah, apa mungkin dia terlalu over-dressed ?

Yah hari ini kan dia ada kencan dengan Okuda, wajar dong kalau dia ingin kelihatan keren di depan pacarnya? Walaupun sebenarnya tanpa usaha pun dia sudah keren.

Enggak, ini bukannya Karma narsis atau apa, tapi ini hanya pendapat pribadi penulis.

Dia mengecek jam lagi.

"Jangan jual mahal gitu deh, minta nomormu!" salah satu cewek berambut ikal bertanya dengan nada manja.

"Kalian ingin nomorku?" Karma menyeringai sadis dan seseram mungkin dengan niat menakuti, "Coba lompat kodok dulu ke seberang sana lalu jangan kembali lagi."

"KYAA SERAAM~ TAPI TETAP KEREN!"

Cringe.

Tolong, Karma jijik.

"Aku sudah ada janji dengan pacarku, jadi kalian bisa pergi aja gak?" Karma memberitau mereka pelan-pelan disertai senyum terpaksa.

"ENGGAAKK," Mereka malah makin mendekatkan diri. "DARIPADA SAMA SATU ORANG KAN LEBIH BAIK SAMA KAMI."

Karma mengerutkan dahi, dia kan tidak seperti seseorang yang berambut pirang dan berjidat lebar di kelasnya —Maehara bersin— Jelas Okuda lebih baik daripada kumpulan perempuan centil kelebihan parfum ini.

Cuekin sudah, pelototin sudah, ancam sudah, lalu dia harus apa lagi?

Hajar? Sayang sekali dia masih punya prinsip tidak memukul cewek.

Lagipula kenapa mereka pantang menyerah banget, sih? Jadi ganteng memang dosa ya.

Apa dia harus berpindah tempat saja? Percuma, menunggu dimanapun resikonya sama, dan dia juga tidak bisa berpindah terlalu jauh dari tempat janjian.

Karma baru saja mau mengecek waktu lagi sebelum dia melihat bayangan di belakang patung.

Ah, disitu dia rupanya.

"Manami."

Karma bergumam cukup keras sampai perempuan-perempuan tadi melihatnya bingung. Dia menyingkirkan mereka dari jalannya dan langsung berjalan ke bayangan itu.

"Sejak kapan kau disini?"

Orang itu langsung keluar dari persembunyiannya, sesuai dugaannya, itu Okuda Manami. Dia mendesah lega, akhirnya orang yang ditunggunya datang juga.

"Errr, s-s-sejak sekitar uhh 15 menit yang lalu."

Si surai merah mengerutkan dahi, "Sudah selama itu? Kenapa kau tidak menemuiku?" Oke, gadis di depannya ini sudah berdandan cukup manis dan Karma suka itu, tapi dia tetap tidak bisa menyembunyikan kejengkelannya.

Okuda meneguk ludah dan melirik ke arah gerombolan perempuan yang masih memperhatikan mereka dengan berisik.

Ah.

Karma mengerti.

Okuda pasti merasa minder dengan mereka sehingga tidak berani mendekatinya. Dia menghela napas, tangannya langsung menarik tangan Okuda. Karma berniat pergi dari tempat itu, tapi perempuan tadi masih mendekatinya.

"Lupakan saja cewek seperti dia, lebih asik pergi dengan kami."

Karma bisa merasakan Okuda menegang, dia melirik tajam.

"Permisi, aku punya urusan dengan pacarku. Dan oh iya, di toilet sana ada cermin jadi lebih baik kalian periksa dulu diri kalian sebelum menghinanya." Dia menyeringai, "Sadar gak kalau make up itu lebih cocok di tembok?"

Beberapa langsung diam.

Dia bermaksud lanjut berjalan, namun beberapa perempuan lagi masih gencar menanyakan nomornya. Dengan terpaksa dia memberikannya, ayolah mau ditunda berapa jam lagi kencan mereka?

Setelah perempuan-perempuan itu pergi, Karma mengajak Okuda ke sebuah cafe.

"M-maaf," Ucap Okuda sambil mengaduk es tehnya. "Aku terlalu takut untuk menyapamu jadi aku sembunyi. Kau mungkin ma-marah—"

"Iya, aku marah."

Okuda langsung menatap Karma kaget. Dia tau Karma pasti marah karena sifatnya yang pengecut tapi dia agak terkejut juga Karma langsung mengakuinya seperti itu.

"Kau membiarkanku dikelilingi perempuan centil selama lebih dari 15 menit tanpa memberitahuku sama sekali kalau kau sudah datang, " Dia menyedot jusnya sebelum melanjutkan, "Tidak cemburu melihatku dikerubungi begitu?"

Nada memelas Karma menggelitik hati Okuda dan membuatnya makin merasa bersalah, dia menunduk lagi. "Maaf.."

Tidak tega, Karma mengelus kepala Okuda lembut. "Shh, Manami, jangan menunduk lagi dan tatap aku." Okuda mengangkat kepalanya untuk melihat Karma sedang menyendok kue nya lalu mengarahkan sendok itu ke dirinya. "Bilang 'aaa~'."

Okuda langsung memerah, "K-karma-kun! T-tapi itu memalukan. Gimana kalau orang lain liat?"

Dia menyeringai jahil, "Anggap saja ini hukuman untukmu. Ayo, cepat bilang."

Sendok itu menyenggol-nyenggol bibirnya. Dengan wajah semerah jus stroberi Karma, Okuda membuka mulutnya sambil menahan rasa malu. "A-aaa~" Hap, kue itu masuk ke dalam mulutnya.

"Pintar~" Si surai merah licik itu mengelus kepalanya lagi. Memang OOC, tapi rasanya dia ingin menjejalkan salah satu larutan kimianya ke mulut Karma sekarang karena benar saja sekarang mereka jadi pusat perhatian.

"Ngomong-ngomong Karma-kun, tidak masalah kau memberikan nomormu tadi?"

Karma menyendok kuenya, "Tidak apa-apa, tenang saja jangan dipikirkan."

Okuda baru saja mau menanyakan lagi sebelum dia melihat Karma makan kue memakai sendok yang tadi dipakainya.

"I-ITU KAN SENDOK YANG TADI KUPAKAI-"

"Hehe indirect kiss," Jarinya membentuk tanda V di depan. "Tidak masalah toh daripada aku menciummu disini, di depan yang lain."

Dia menyeringai licik sambil menyuap kue nya lagi. Wajah Okuda semakin memerah dengan perkataan Karma, dia sempat mengerutkan dahi tapi kemudian tersenyum.

Setan merah licik ini pacarnya dan dia suka fakta itu.

"Katanya Terasaka dapat banyak sms dari cewek ga dikenal loh!"

"Yah, tapi mereka semua bilang cowok rambut merah. Terasaka kan gak merah, jadi cuma ada satu kemungkinan."

"KARMA BANGKE LO! NOMOR GUE LO APAAAIN!?"

.

.

.

.

"Hey, sudah dengar belum?"

Okuda membereskan buku-bukunya dan memasukannya ke dalam tas. Saat dia menengok ke luar jendela, dia melihat Karma sedang tertidur di bawah pohon, setelah diingat-ingat Karma memang sudah tidak ada sejak jam pelajaran terakhir.

Tanpa berpikir lebih lanjut, Okuda langsung menghampirinya.

Dia duduk di samping Karma, iris violetnya memperhatikan si surai merah yang tertidur lelap dengan headset masih terpasang di telinganya.

Wajah tidurnya kelihatan sangat tenang dan damai. Tidak ada kerutan di antara alis, tidak ada seringai-seringai sadis.

Percaya atau tidak, setan merah itu kelihatan polos saat tidur.

Angin meniup helaian rambutnya, memaksa Okuda untuk menyentuhnya. Dengan ragu-ragu dia menyentuh rambut Karma, dia terkejut, ternyata rambut laki-laki itu lembut juga. Okuda mengelus-elus kepala Karma sambil tertawa kecil, rasanya seperti mengelus kucing.

Suasana sekolah sangat sepi dan sepertinya hanya tinggal mereka berdua disini. Sepertinya dia dan Karma sering sekali hanya berduaan di sekolah, ya?

Dia bersandar ke pohon di belakangnya.

Angin sepoi-sepoi dan suasana yang sunyi ini benar-benar membuat matanya bertambah berat, akhirnya dia tertidur dengan tangannya masih di kepala Karma.

Karma terbangun tiba-tiba karena berat tambahan di kepalanya dan mendapati tangan seseorang. Dia menengok untuk melihat siapa yang ada di sebelahnya, matanya melebar.

Okuda Manami sedang tertidur di sebelahnya, dia mengerjapkan mata, ini bukan mimpi kan?

Setelah yakin itu bukan mimpi, dia tersenyum lalu merangkak mendekati Okuda. Tau kan kalau pangkuan pacar itu bantal terbaik buat cowok? Karena itu Karma langsung mendaratkan kepalanya di pangkuan Okuda tanpa izin.

Nyaman, pikir Karma. Dia tertawa kecil, membayangkan bagaimana reaksi Okuda saat bangun nanti. Tangan Okuda diletakkan di kepalanya lagi lalu Ia menutup mata, berniat untuk melanjutkan tidurnya.

Semoga saja saat bangun Okuda mengelus kepalanya lagi.

Mari kita abaikan saja tanpa izin itu karena Karma sudah bersumpah akan menghajar orang-orang yang mengganggu momennya ini.

"Katanya ada yang lihat Karma-kun tidur di pangkuan Okuda-san loh!"

"HAH SIAPA!?"

"NURUFUFUFUFUFU~~"

"Korosensei, mau sampai kapan anda melanggar privasi murid."

.

.

.

.

"Eh Maehara dengar deh,"

Hari ini Karma bolos pelajaran olahraga. Dia sedang berjalan santai di koridor setelah tadi memeriksa dompet Korosensei yang seperti biasa diabaikan di atas meja, Karma menatap iba isi dompet (kosong) itu sebelum pergi.

Dia melihat si ketua kelas ikemen sedang menggendong Okuda yang kelihatan tidak sadarkan diri. Karma mengerutkan dahi tanda tak senang.

Karma tidak suka bagaimana tangan Isogai menyentuh Okuda. Memang terdengar berlebihan dan pasti Isogai hanya berbuat baik mengantar Okuda ke UKS karena dia ketua kelas, tapi dia tetap merasa agak kesal.

Dia melirik tajam ke arah tangannya yang ada di kaki Okuda karena gendong belakang, untung saja Okuda memakai celana panjang— Walaupun dia tetap tidak senang.

"Ah." Isogai langsung berhenti saat menyadari keberadaannya, "Hai, Karma. Kau bolos lagi ya?

Karma melangkah maju tanpa menjawab pertanyaan Isogai, tatapannya masih tajam. Merasakan hawa mengancam dan arah pandangan Karma, Isogai langsung menjelaskan.

"O-oh, tadi Okuda-san terkena bola dan jatuh pingsan. Aku bermaksud membawanya ke UKS."

Karma hanya mengangguk, sesuai dugaannya.

"Ngg aku mau mengantarnya dulu ,jadi sampai nanti Karm—"

"Tunggu," Dia menahan Isogai yang hendak pergi dengan masih menggendong Okuda. "Biar aku saja yang membawanya."

"E-ehh tapi—"

"Biar aku saja."

Mendengar nada bicaranya yang seperti penuh bisa, si ketua kelas menurut saja dan membiarkan Okuda berpindah ke tangan Karma.

Karma meletakkan tangannya di belakang punggung dan lutut si gadis berkacamata, menggendongnya bridal-style, lalu pergi berlalu meninggalkan Isogai tanpa berkata apa-apa lagi.

Sesampainya di UKS, dia langsung membaringkan Okuda di tempat tidur.

Dia memandanginya beberapa saat sebelum menyingkirkan poni Okuda ke atas, benar saja ada bekas merah akibat terkena bola. Si surai merah itu menunduk lalu mengecup bagian itu.

Melihat kalau Okuda belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun, Karma melanjutkan untuk mengecup di bagian bibir. Setelah beberapa lama dia menarik diri dan melihat mata Okuda sudah terbuka lebar dengan wajah memerah.

"K-karma—"

"Waah, jangan-jangan aku ini pangeran." Dia menyeringai, "Ciumanku bisa membangunkan si putri tidur."

Wajahnya langsung dihantam bantal.

"KARMA-KUN KAMU MODUS!"

"Emang."

"T-TAPI MENCIUM SAAT LAWAN SEDANG TIDAK SADARKAN DIRI ITU NAMANYA MENCURI KESEMPATAN, KARMA-KUN KAM—"

Segala protes Okuda langsung tertahan karena Karma membungkamnya dengan ciuman kedua.

"Cukup Karm—"

Ketiga.

"KARMA-KUN!" Okuda menahan bibir Karma dengan tangannya sebelum Karma sempat menciumnya lagi. Ini sudah terlalu, jantung Okuda tidak akan bisa menahannya lagi kalau lebih dari ini. "K-kamu kenapa sih?"

"Harusnya tadi aku tidak bolos pelajaran." Karma memegang pergelangan tangan Okuda yang sedang memandangnya bingung. "Harusnya tadi aku yang menggendongmu dari awal."

"O-ohh, memang tadinya aku dibawa siapa?"

"Isogai."

Okuda mengangguk-angguk, sekarang dia mengerti. Tapi, masa sih?

"Karma-kun jangan-jangan kamu..." Dia jeda sebentar, "Cemburu ya?"

Karma terdiam. Okuda menahan diri untuk tidak tertawa, tapi akhirnya tawanya keluar juga.

"Apa yang lucu heh,"

"T-tidak ada ahahah m-maafkan aku," Dia berbicara di sela-sela tawa. "Aku hanya tidak sangka seorang Karma Akabane itu gampang cemburu."

"Ohh, jadi karena itu kamu ketawa?" Karma menyeringai lagi, tapi kali ini auranya gelap. "Sebagiannya adalah salahmu, jadi kau harus tanggung jawab."

"Hah a-apa tunggu dulu karma-kun ak- GELI! TUNGGU KARM—" Karma langsung mengelitiki Okuda tanpa ampun, lalu mempertemukan bibir mereka lagi tiba-tiba.

Bantal kembali menghantam wajah ganteng si surai merah dengan keras.

Worth it.

"Masa pas di jalan aku bawa Okuda ke UKS, muka Karma jadi serem gitu HIIIIII. Kira-kira kenapa ya?"

"Kamu itu bodoh atau gak peka sih, Isogai?"

.

.

.

.

"Kalian sudah dengar belum?"

Hari ini hujan turun deras, beruntung Karma mempercayai instingnya dan membawa payung. Dia memandang anak-anak kelas 3-E yang berjalan pulang.

Ada yang menjomblo di payung sendirian, ada yang nekat lari tanpa payung demi pulang, lalu ada pasangan rambut biru dan rambut hijau yang sedang berjalan di bawah satu payung.

Payung yang tidak terlalu besar membuat mereka berjalan berdekatan sampai bahu bersentuhan. Karma melirik lebih tajam, ahh tangan mereka juga bersentuhan rupanya.

Diam-diam si surai merah memuji cara modus Nagisa.

Dia lanjut melihat-lihat dan menemukan Terasaka sedang berdiri memandang hujan juga dengan wajah jengkel. Karma langsung dapat ide.

Dengan spidol kelas dia menulis sesuatu di payung itu, lalu dia langsung mencari Okuda dan menemukannya di dekat rak sepatu.

"Manami,aku ikut payungmu ya."

Okuda mengangkat sebelah alisnya saat melihat payung abu-abu di tangannya, kalau sudah punya payung sendiri ngapain harus sepayung berdua?

"Terus itu buat apa, Karma-kun?"

Karma mengikuti arah pandangan Okuda ke payungnya, dia tertawa santai. "Ohh, aku akan meminjamkannya ke Terasaka."

Jawaban Karma malah membuat Okuda bertambah bingung, "Ehh? Kamu lebih pilih berdua di payung sempit dari pakai payungmu sendiri?"

"Iya dong, sepayung berdua lebih romantis kan?" Okuda sedikit merona dengan ucapan Karma, "Aku mau ngasih payung ini dulu ke Terasaka, tunggu aku ya."

(Untuk mengetahui apa yang terjadi lihat Cerita Para ABG Labil cerita #5)

Setelah memberikannya Karma langsung menghampiri Okuda. Karena perbedaan payung maka Karma yang memegang payungnya. Mereka berjalan beriringan, hanya suara rintik hujan yang terdengar, belum ada salah satu dari mereka yang bicara.

"Hey, Manami." Karma memulai.

"Ya, Karma-kun?"

"Kalau pegang payung begini aku jadi gak bisa megang tanganmu ya."

Wajah Okuda merona lagi, dia bingung kenapa Karma bisa mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu dengan gampangnya.

Okuda diam tak menjawab.

"Manaamii."

"K-kalau begitu biar aku yang pegang tanganmu." Okuda menjawab malu-malu sambil menempelkan tangannya ke tangan Karma yang sedang memegang payung. Karma setengah kaget lalu tersenyum, wajah Okuda masih merah.

Mereka memang merasa ini agak memalukan tapi tidak ada yang mengeluarkan protes. Toh jalanan ini juga sepi dan memangnya siapa yang ebrani mengganggu momen mereka?

"Manami, kau tau apa lagi yang bisa dilakukan di saat hujan?"

"Hm?"

"Ciuman hangat di tengah hujan yang ding- HATCHOO!" Gombalannya rusak oleh bersin yang datang tiba-tiba. Dia menggerutu, "Ah sial."

"Karma-kun kau sakit?" Okuda panik dan langsung memeriksa dahi Karma untuk mengecek panasnya. Ekspresinya langsung berubah lega, "Hoh untunglah masih normal."

Melihat kepanikan Okuda tadi, Karma tidak bisa tidak tersenyum. Tangannya mengelus kepala si gadis berkacamata itu lagi, setengah mengacak-acak.

Kepanikannya yang berlebihan malah membuatnya semakin manis. Yang ingin Karma lakukan adalah menyimpannya untuk dirinya sendiri, tapi dia menahan diri. Bisa-bisa dia ditahan karena melakukan penculikan.

Dia memeluknya dengan satu tangan.

Untuk sekarang ini saja sudah cukup.

Paling tidak sampai 10 tahun lagi.

(Dan tanpa mereka ketahui penyebab bersin Karma bisa dilihat di "Cerita Para ABG Labil"

Enggak, ini bukan promosi.)

"Katanya Karma-kun dan Okuda-san pulang satu payung berdua loh!"

"Halah Kayano, kemarin kamu kan juga gitu sama Nagisa."


Karma gombal mulu oehoek

Makasih yang masih setia nunggu dan review quq sini peloks satu-satu/GAUSAH

Reviews are loved

Salam kapal armada.