Tawa Donghae terdengar renyah. Kibum yang sedang duduk di atas ranjang rawatnya tanpa berbuat apa-apa menjadi penasaran.
"Hadiah dariku bagaimana?" Tawa Donghae terhenti. Ia mempause video yang di tontonnya melalui ponselnya.
"Tenang saja. Dia sudah menerimanya dan terlihat sangat senang. Tidak sia-sia kau menggeretku untuk kabur dari rumah sakit kemarin." Donghae menangkis tangan Kibum yang akan mengacak rambutnya. Ia bisa melihat Kibum sangat tidak biasa dengan senyum yang menggantung di wajahnya. Tak memedulikan sahabatnya yang sedang dalam masa kasmaran, Donghae kembali menonton video di youtube.
"Kau sedang apa?" Donghae kembali menghentikan tawanya.
"Menonton trailer film. Baru-baru ini aku sering menonton film." Kibum mengangguk. Ia mengambil dompetnya di meja samping ranjangnya, mengambil salah satu kartu kreditnya dan menyodorkannya ke arah Donghae. Donghae memandang Kibum penuh tanya.
"Setelah Eommaku datang, pergilah membeli dvd yang kau suka."
"Jongmalyo?!" Donghae segera memasukkan kartu kredit Kibum kedalam dompetnya.
"Jangan lupa cari tahu restoran favoritnya."
"Ay ay captain!" Donghae berdiri dan membuat gestur hormat. Tetapi sebelum ia kembali duduk, raut wajahnya semakin terlihat cerah saat di depan pintu ibunya Kibum sudah datang. Donghae berlari menghampirinya dan memeluk wanita paruh baya yang tetap cantik di usianya itu.
"Eommoni... aku merindukanmu! Tapi karena aku sangat merindukanmu, aku harus pergi agar rinduku bertambah besar." Ny. Kim terkekeh kecil. Donghae seperti biasa selalu bisa membuat suasana hatinya membaik.
Setelah Donghae berpamitan, Ny. Kim menghampiri anak sulungnya dan memeluknya.
"Bagaimana perasaanmu adeul?" Kibum tersenyum hangat. Ia melepaskan pelukan ibunya yang dirasanya tubuhnya sedikit kurus.
"Aku sangat baik. Eomma, jangan diet terlalu ketat. Kau semakin kurus. Ah, Mana dongsaeng cantikku?" Ny. Kim tak bisa untuk berhenti tersenyum. Dalam hati ia sangat bersyukur Kibum bisa menerima keadaannya dan menjadi sangat hangat akhir-akhir ini. Ia sangat penasaran apa penyebab anaknya ini tiba-tiba berubah, tetapi ia tak perlu bertanya apa-apa lagi. Bukannya bagus kalau Kibum yang sekarang jauh lebih baik.
"Sa hee? Katanya dia tidak ingin menjengukmu kalau kau masuk rumah sakit lagi."
"Dia benar-benar manis. Bagaimana aku tidak bisa berhenti memanjakannya? Eomma, lakukanlah sesuatu padanya. Suruh ia cari pacar."
"Aigoo.. Aigoo... kau menyuruh Eomma melepaskan putri kecil Eomma, sedangkan pangeran tampan Eomma belum pernah mengenalkan pacarnya." Kibum cepat-cepat meraih selimutnya dan menaikkannya menutupi sampai ujung kepalanya.
"Lihat. Siapa sekarang yang sedang malu. Aigoo..."
"Eomma!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Pergi sendirian rasanya sepi. Kalau ada Kibumpun tidak membantu. Aaa! Telpon Changmin. Dia pasti tahu restoran favorit Kyuhyun." Donghae merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya.
"Changmin-aaaaa... ke toko x cepat. Aku akan mentraktirmu sepuasnya." Donghae memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia membuka pintu kaca toko yang di maksud dan masuk ke dalamnya. Suara Changmin tadi sangat bersemangat saat mendengar kata traktir sepuasnya. Jadi Donghae tidak perlu menunggu di depan toko untuk menunggunya datang.
Saat Donghae tengah serius mencari dvd film yang dicari, tiba-tiba ia ingat sesuatu. Ia mencari etalase dimana para otaku berada. Sebelumnya ia pernah melihat teman sekelasnya membawa komik dan membacanya sepanjang pelajaran. Ia jadi penasaran dan mengambil salah satu bluray dengan judul acak di sana. Saat ia hendak mengambil satu yang tumpukannya hampir habis karena kemungkinan itu yang terlaris, tangannya yang sudah memegangnya tiba-tiba ditindih tangan orang lain. Saat Donghae melihat siapa pemilik tangan itu, jantungnya tiba-tiba berdebar kencang dan mengalirkan perasaan aneh.
"Yeppo." Ungkapnya tanpa sadar.
"Ne?"
"Yeppeuda." Ungkap Donghae lagi. Seseorang di hadapannya melihat kebelakang dan tidak ada siapa-siapa selain dirinya. Orang itu menunjuk dirinya sendiri dan Donghae mengangguk.
"Choneun Kim Heechul. Namjaya. Namja!" Donghae gelagapan. Ia bingung akan mengatakan apa. Untunglah Changmin segera datang menjadi dewa penolongnya dan mengeluarkan Donghae dari situasi yang sulit.
"Yo! Ikan! Akhirnya ketemu kau. Ayo kita pergi. Traktir aku makan yang enak."
"Changminah! Ah, Jongmal mianhada. Naneun Lee Donghae imnida." Donghae membungkukkan badannya ke arah Heechul meminta maaf sekaligus sebagai salam perkenalan.
"Chogi, bolehkah aku mentraktirmu makan sebagai permintaan maaf? Kebetulan kami sedang mencari tempat makan yang enak. Apa kau keberatan Heechul-ssi?"
"Ryokai! (Ok) tunggu aku membayar ini sebentar." Donghae mengangguk senang. Changmin menepuk bahu Donghae dan menunjuk Heechul dengan dagunya.
"Siapa dia?"
"Teman makan kita."
"Eh? Aku baru tahu kau orang yang sangat baik."
"Ya. Begitulah. Lagipula aku membayarnya dengan uang Kibum."
"Dan juga sangat jujur. Kajja. Dia sudah selesai."
.
.
.
.
.
.
.
Kyuhyun menaruh lima kotak yang berisi hadiah-hadiah couple di atas ranjang tidurnya. Hari ini bukan ulang tahunnya. Dia juga sangat yakin kalau tidak memiliki satupun fans. Ia sedang berpikir keras kira-kira siapa yang memberinya hadiah-hadiah mahal ini. Disana ada gelang couple, cincin couple, masker couple, dua topi fedora berwarna hitam dan putih. Hanya saja hanya ada satu setel pakaian. Ditambah jam tangan couple.
Kyuhyun mengambil sweater berwarna putih gading di dalam kotak itu dan memakainya. Sangat pas di badannya. Masih ada kemeja putih dan celana bahan berwarna krem di bawah sweater itu.
"Tunggu, baju ini... gelang, cincin, masker, topi, ha! Ini pasti dari Kibum! Tapi kenapa ada jam tangan? Aku tak mengerti kenapa benda-benda ini diberikan padaku." Kyuhyun menggaruk belakang kepalanya. Ia mengambil satu cincin di dalam kotak kecil dan mengarahkannya pada sinar lampu.
"Yeppuda...tapi aku suka cincin yang terlihat lebih menonjol. Bukan seperti cincin tunangan ini, dia lupa aku ini namja?" Kyuhyun mengembalikan cincin pada kotaknya. Ia beranjak untuk menata kembali kotak-kotak itu dan di taruh di pojok kamarnya. Setelah selesai Kyuhyun bercerita tentang apa yang ia alami hari ini pada kaktus kesayangannya seperti biasa, ia bergabung di meja makan bersama keluarganya.
.
.
.
"Kyunnie, tadi yang kau bawa hadiah dari siapa?" Cho Ahra, anak sulung keluarga Cho yang cantik itu tidak tahan untuk tidak bertanya karena rasa penasarannya."
"Noonaku yang cantik sedunia, kau lupa kita sekarang di meja makan?" Mendengar tanggapan Kyuhyun yang dingin, Ahra mengacak rambut Kyuhyun gemas.
"Ayolah ceritakan. Nunamu yang cantiknya tidak ada duanya ini sangat penasaran. Dari pacarmukah? Atau dari fansmu?"
"Ehem. Ahra?" Ny. Cho menegur putrinya. Lupakah ia kalau saat ini Kyuhyun sedang tidak memakai maskernya.
"Mianhe Eomma." Ahra kembali melanjutkan makannya tanpa sepatah katapun. Selesai makan dan membantu Eommanya mencuci piring, Ahra segera berlari ke arah kamar dongsaeng satu-satunya itu.
"Nuna... kubilang ketuk pintu dulu sebelum masuk." Ahra hanya memasang cengiran tak bersalahnya. Ia masuk seenaknya dan mengambil kaktus yang menjadi tanaman favorit Kyuhyun satu-satunya di kamar itu.
"Eoh. Rasanya dia tidak tumbuh tinggi. Waktu itu tingginya sama saja."
"Nuna. Aku ini sudah besar. Jadi kalau masuk ketuk pintu dulu. Apa kau lupa kalau aku namja? Namja. Memangnya kau tidak malu masuk kamar seorang namja seenaknya. Aish. Susah sekali bicara padamu nuna. Kau itu sangat sulit diatur, benar kata Appa. Dan waktu itu yang kau maksud itu kemarin."
"Aigoo... anak Appa.. Kau mau mengambil jarak antara adik dan kakak eoh? Aku tak mau. Aku juga tak pernah menganggapmu seorang namja. Lagipula aku ini Nunamu, jadi sebagai Nuna yang baik lagi tercantik sedunia sudah sepantasnya memperlakukan adik laki-lakinya lebih akrab. Nanti kalau kau sukses dan aku melarat kau tidak akan membantuku. Kalau kita tidak akur dari sekarang, setelah orangtua kita tidak ada pasti kau akan melupakanku."
"Araseo. Araseoyo. Berhenti bicara yang bukan-bukan, Nuna. Kau bicara seperti itu membuatku terlihat seperti seorang Oppa. Terserahlah kau menganggapku apa."
"Jadi?" Ahra mendekati meja belajar Kyuhyun dan mengambil harmonika lalu meniupnya asal.
"Jadi apa? Ya! Kalau tidak bisa memainkannya jangan ditiup! Nanti Eomma marah kalau dia mendengarnya. Kau tahu kan, kalau kau itu tidak berbakat memainkan itu. Ya! Ya! Nuna!" Tak memedulikan omelan Kyuhyun, Ahra tetap meniup-niup harmonika milik Kyuhyun semakin keras. Bahkan ia memeletkan lidahnya ke arah Kyuhyun, mengejek dan kembali meniupnya.
"Nuna. Aku akan ke kamarmu dan memutuskan string biolamu satu-persatu kalau tidak berhenti sekarang juga." Kyuhyun berlari ke arah pintu kamarnya sambil membawa gunting dan di pamerkannya pada Ahra.
"Ya. Ya! Araseo." Ahra langsung melempar harmonika kesayangan Kyuhyun ke tempat semula.
"Ya! Kau merusaknya." Kyuhyun berjalan ke arah Nunanya dan mengambil harmonikanya lalu mengelap bekas air liur yang tertinggal disana ke baju Nunanya.
"Ya. Dasar dongsaeng tidak sopan. Tidak bisa menjaga perasaan perempuan." Kyuhyun tersenyum tak bersalah."
"Ada apa Nuna kesini?" Kyuhyun membersihkan pinggiran mangkuk keramik berwarna putih dengan tinggi enam centimeter dan diameter lima centimeter yang menjadi wadah si kaktus, binatang peliharaan Kyuhyun menggunakan tissu.
"Kenapa? Tidak boleh?"
"Nuna... aku kan hanya bertanya. Kau itu cantik-cantik tapi galak."
"Ah, siapa yang memberimu hadiah ini?" Ahra membuka satu-satu kotak yang bertumpuk di pojokan kamar Kyuhyun.
"Hari ini bukan hari ulang tahunmu. Juga bukan hari valentine atau hari natal."
"Nuna. Menurutmu orang yang memberikan hadiah itu maksudnya apa?"
"Hooo...aksesoris couple eoh?" Tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun, Ahra masih sibuk melihat-lihat.
"Nunaa..."
"Menurutku? Hemm.. begini. Kalau yang memberi hadiah ini aku yakin bukan fansmu. Karena fans tidak memberikan hadiah-hadiah berisi barang-barang couple seperti ini kecuali dia adalah seorang fujoshi. Kau belum punya pacar pastilah dia mengincar posisi itu. Ya, opsi kedua sepertinya aku sangat yakin."
"Tapi biasanya pacar tidak memberikan barang-barang couple untuk disimpan di salah satunya." Kyuhyun kurang yakin juga dengan asumsinya ini mengingat dia sebelumnya belum pernah memiliki seseorang yang dianggapnya spesial.
"Berarti dia ingin kau mengundang kerumahnya agar benda-benda ini bisa dipakai. Aigoo... Siapa Kyunnie? Siapa dia? Nuna benar-benar penasaran."
"Itu... aku tahu tapi aku tidak yakin. Aku akan menanyakannya saja dulu baru akan kuberitahu padamu." Kyuhyun meletakkan kaktus kesayangannya di tempat semula juga ditata dengan benar supaya tidak jatuh.
"Aku yakin dia orang yang berharap banyak padamu Kyunnie. Jangan sampai kau mengecewakan perasaannya ne? Karena biasanya orang yang memberikan sebuah cincin pasti harapannya sangat besar. Apa kau menyimpan perasaan juga padanya?" Kyuhyun menggeleng, Ahra menghela napas berat.
"Aku tidak tahu." Mendengar jawaban Kyuhyun dan juga mengamati cincin couple di dalam kotak beludru itu, tampaknya Ahra mengerti alasan Kyuhyun tidak tahu mengenai perasaannya. Ahra mengambil cincin kecil di antara kedua cincin itu, memakainya di jari manisnya dan ternyata sangat longgar. Mengetahui hal itu, Ahra menghela napas berat lagi dan segera mengembalikannya di tempat semula. Bahwa orang yang menyukai Kyuhyun adalah seorang namja, sama seperti dongsaengnya.
"Keturunan White Rose terakhir, eoh? Kenapa tidak aku saja yang menanggung itu? Jadi Kyuhyun bisa menikah dan memiliki anak." Gumam Ahra lirih. Ahra memandang wajah dongsaengnya yang manis itu sendu. Tampaknya meski berat, Ahra harus bisa menerima dongsaengnya yang akan disukai banyak namja dengan lapang dada.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc^^
