-Don't Leave Me Alone-
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rated : T
Genre : Romance/Drama
Pairing(s) : ByaRuki, IchiRuki
WARNING : AU, OOC, typo, rada gaje, multi chapter

Before, in Chapter 3 : Byakuya cukup terganggu dengan kehadiran Rukia yang perlahan mulai menggeser posisinya dan melunturkan popularitasnya.


Chapter 4
Secret Heart

Semakin aku ingin membuangmu
Semakin aku ingin mengenalmu
Mengenalmu jauh lebih dalam
Hingga menyentuh relung hatimu, cintamu...


Rukia dan teman-temannya akhirnya sampai di aula, mereka duduk tepat di tengah aula. Tentu saja semua mata tertuju pada Rukia, dan membuat gadis mungil itu menjadi pusat perhatian. Rukia sepertinya langsung menyadari dan membuat pipinya bersemu merah, sangat lucu dan menggemaskan.

"Duh, aa teh bangga. Akhirnya, apter long teim (after long time), aa bisa duduk bareng neng geulis bintang sekolah!" kata Hitsugaya ga jelas.

"Apaan sih, Shiro-chan? Gaje deh!" goda Hinamori.

"Sabodo teuing apa kata eneng! Yang penting mah, neng Rukia elwes in mai hert (always in my heart)," lagi-lagi Hitsugaya ga jelas.

"Makasih akang Hitsu, cakep, deh! Tapi lebih cakep kalo diem," canda Rukia, membuat yang lain tertawa.

"Buat eneng, apa sih yang ngga?" timpal Hitsugaya.

Mereka bercanda lagi setelahnya, Rukia pun sepertinya sudah dapat beradaptasi di posisinya yang sekarang menjadi pusat perhatian. Bukannya ia ingin sombong seperti Byakuya, hanya saja, sejujurnya ia kurang suka menjadi pusat perhatian, dan sebisa mungkin menghindari hal itu.

Sementara Rukia dan teman-temannya sedang bercanda, tatapan tajam Byakuya tak berpindah dari rukia. Rasa kesal sepertinya sudah menumpuk di hati laki-laki itu, menandakan seolah ia orang yang egois dan tidak mau menerima kekalahan begitu saja.

'Gue kenapa? Apa harus gue marah sama Rukia? Hei! Gue cuma kalah, tapi, gue..., ah! Gue dikalahin sama cewek kayak Rukia! Apa perlu gue semarah ini?' Byakuya bingung sendiri dengan sikapnya.
Tak lama kemudian, seorang guru memulai acara pembukaan dari pengumuman juara umum dari seluruh angkatan. Seperti biasa yang kita tahu, pastilah diawali dengan sambutan-sambutan, pidato dari kepala sekolah, dan sebagainya.

Semua anak mulai merasa bosan, posisi mereka berubah, ada yang mulai bersandar sampai agak merosot dari kursi, ada yang menaikkan kaki, bersandar ke tembok, bahkan ada juga yang sampai tiduran (yang penting pewe). Beberapa juga mulai kehilangan perhatian mereka dengan mengobrol, mendengarkan musik, tapi ada juga yang masih memperhatikan.

"Baik, sekarang tiba saatnya untuk pengumuman juara umum dari semua angkatan. Mencakup kelas X, XI IPA dan IPS, juga XII IPA dan IPS," seorang guru memberi tahukan acara selanjutnya.

Semua anak langsung kembali ke posisi duduk mereka dengan benar, mereka yang tadi tidak memperhatikan pun langsung diam. Semuanya memperhatikan dengan serius, tidak ingin terlewat sedetik pun.

"Dan, juara umum kita tahun ini, dari kelas X, Yachiru Kusajishi. Dari kelas XI IPA, Rukia Urahara, dari IPS, Ichigo Kurosaki. Selanjutnya dari XII IPA, Tetsuzaemon Iba, terakhir dari IPS, Kiyone Kotetsu."

Semua murid yang namanya di panggil segera maju ke depan aula, agar dapat dilanjutkan ke acara selanjutnya, juara dari semua angkatan. Rukia berdiri di samping cowok bernama Ichigo, cowok itu tersenyum pada Rukia. Rukia membalas senyum itu lalu menatap ke sekeliling aula.

"Baiklah, tahun ini, juara kita dengan nilai rata-rata sembilan koma nol, dari kelas..."

Semua anak diam, menunggu kata-kata selanjutnya dari guru tadi, saat itu tatapan Rukia tepat pada Byakuya. Cowok itu hanya memandang balik Rukia dengan dingin. Rukia tak membalas, ia hanya mengalihkan pandangannya.

"XI IPA 1, Rukia Urahara!"

Semua anak bertepuk tangan menyambut juara baru mereka, Rukia Urahara. Rukia maju selangkah ke depan, lalu tersenyum, wajahnya pun bersemu merah. Seorang guru memberikan selamat padanya, dan tak lama diikuti oleh kepala sekolah.

Entah mengapa, pandangan Rukia kembali lagi pada Byakuya, tapi kali ini tak ada tatapan tajam dari Byakuya, cowok itu sudah keluar dari aula. Rukia cukup kesal dengan sikap Byakuya yang pengecut.


Rukia berhenti di sebuah jalan besar, gadis manis itu turun dari bis, lalu memasuki jalan kecil.

"Rukia-nii! Rukia-nii!" panggil anak-anak yang sedang bermain.

"Iya, sayang..." jawab Rukia sambil tersenyum.

Rukia masuk ke dalam sebuah gang kecil lagi, gang kecil itu sepi. Rukia berhenti berjalan beberapa saat, gadis mungil itu terdiam.

"Seorang bangsawan itu boleh ngikutin orang ya?" tanya Rukia.

Lagi, sama seperti saat Rukia menyadari kehadiran Byakuya di ruang musik. Perlahan, Byakuya keluar, lalu berjalan mendekati Rukia.

"Byakuya Kuchiki?" Rukia melipat tangan di depan dadanya.

"Hn."

"Mau apa kamu ngikutin aku? Bukannya kamu kesel?"

"Ya. Tapi bahkan saat gue kesel, lo tetap membuat gue penasaran!" sanggah Byakuya, menjawab sebisanya.

"Hn?" Rukia mengerutkan dahinya.

"Duh, Rukia, kok ada temennya ngga diajak ke rumah?" sebuah suara membuat Rukia dan Byakuya menengok bersamaan.

"Kaa-san!" Rukia menghambur memeluk perempuan setengah baya di depannya.

"..." Byakuya hanya memperhatikan.

"Kaa-san bilang apa? Nggak boleh..."

"Galak sama temen. Haik, kaa-san..." Rukia menggembungkan pipinya.

"Ih? Jelek ah begitu, ayo senyum!" pinta ibu Rukia, Miyako Shiba.

"Hehehe..." Rukia cengengesan.

"Nah, begitu! Oh ya, nak, siapa nama kamu?"

"Byakuya."

"Byakuya-san, mari main ke gubuk kami. Rukia baru kali ini membawa temannya kemari," ajak ibu Rukia.

"Mmm..."

"Udah ayo! Pake mikir!" Rukia menarik lengan Byakuya dengan paksa, Byakuya hanya mengikuti gadis itu.

Setelah itu, tak berapa lama mereka berjalan, mereka bertiga sampai di sebuah rumah sederhana. Byakuya terbelalak seketika saat melihat keadaan rumah Rukia yang amat mini. Rukia melepaskan pegangan tangannya pada Byakuya, lalu tersenyum.

"Rumahku pasti ngga sebagus rumah kamu."

"..." Byakuya tak berkata apapun.

"Ayo di ajak masuk dong, Rukia."

"Ah ya, kaa-san! Bya-kun, ayo masuk!"

"Ya. Permisi."

Akhirnya, hari itu Byakuya menghabiskan waktunya di rumah Rukia. Ia sendiri tidak mengerti mengapa sepertinya ia mulai penasaran dengan gadis mungil itu.

Byakuya bukan tipe orang yang suka bingung dengan moodnya. Tapi sepertinya ini tidak berlaku pada Rukia, gadis manis itu dapat membuat moodnya berubah hanya dalam hitungan detik.


Saat pembagian rapor bayangan, Rukia bersantai di dekat ruang kelasnya. Di dalam kelas, sudah banyak orang tua murid yang datang. Mungkin Rukia adalah sebagian kecil dari anak-anak yang merasa santai saat pembagian rapor bayangan.

Sambil mendengarkan pengumuman-pengumuman, gadis itu duduk di pinggir balkon kelas. Rukia menghentak-hentakan kakinya mengusir bosan.

Hari ini rambut Rukia diikat dua, memakai T-shirt berwarna hijau muda dengan gambar not balok, dan celana jeans panjang, juga tak lupa repatu keds berwarna hijau muda. Tak lama Rukia bersantai, Inoue datang bersama dengan Hinamori.

"Rukiaa!" panggil Hinamori.

HAP!

Rukia melompat turun dari pinggir balkon, lalu merapikan bajunya yang agak terlipat ketika duduk tadi. Setelah itu, ia tersenyum pada kedua temannya.

"Ruki! Ampun deh, gue tuh seneng liat senyum lo! Manis!" puji Inoue, membuat Rukia tersipu.

"Huh! Bisaan aja lo ngerayunya! Mau masuk ga, Ru?" tanya Hinamori.

"Emang udah mulai?" tanya Rukia.

"Kayaknya sich, udah. Huh! Gue ga sabar," celetuk Inoue.

"Gue takut," Hinamori merapatkan kedua tangannya di dada.

"Tenang aja, nilai remed kamu kan bagus-bagus," Rukia menenangkan.

"Iya, berkat lo, Ru. Thanks loh!" puji Hinamori, Rukia tersipu.

Saat ketiga siswi itu sedang asyik mengobrol, tak lama terdengar suara decak kagum, walau cuma bisikan, tapi semua bisa mendengarnya. Pasti Byakuya yang datang! Dan benar saja, cowok cool itu datang bersama ibunya, sangat cantik meski terlihat jelas garis penuaan di wajahnya.

Hari ini Byakuya memakai kaus berkerah berwarna hitam dengan corak-corak putih, celana jeans panjang, dan sepatu keds putih. Tangan kirinya dihiasi dengan jam tangan bermerk Rolex. Cowok itu berjalan cuek di samping ibunya, bahkan ia tak tampak mengobrol dengan sang ibu. Tak sengaja, tatapan mata Byakuya menangkap Rukia dan teman-temannya.

"Byakuya, apa yang kamu lihat?" tanya ibu Byakuya saat mendapati anaknya terlihat fokus melihat sesuatu, Byakuya menggeleng pelan.

Byakuya mengalihkan pandangannya, tapi setelah itu, ia memandang Rukia lagi. Kali ini ibunya mengerti saat melihat tatapan Byakuya ternyata tertuju pada Rukia, wanita itu tersenyum.

"Ah, jadi gadis itu," ibu Byakuya mendekati Rukia.

"Okaa-san," panggil Byakuya, tapi ibunya sudah terlanjur di dekat Rukia.

"Siapa nama kamu, nak?" tanya ibu Byakuya.

"Saya? Rukia Urahara, tante," jawab Rukia, lalu tersenyum.

"Rukia. Nama yang bagus. Kamu kelas sepuluh?" tanya ibu Byakuya polos, membuat Inoue dan Hinamori sontak tertawa kecil. Byakuya yang berdiri tak jauh dari situ pun terlihat menahan tawa.

"Hah? Saya kelas sebelas IPA, tante," wajah Rukia bersemu merah.

"Loh? Sekelas dengan Bya-kun?"

"Iya, tante, sebangku pula!" Inoue yang menjawab.

"Wah, maaf, tante kira kamu adik kelasnya. Habisnya..."

"Rukia," Byakuya mengisyaratkan Rukia untuk mengikutinya.

"Tante, saya permisi dulu. Inoue, Momo, nanti kita ketemu di kantin, ya!" pamit Rukia yang disambut anggukan oleh Inoue dan Hinamori.

"Oh, ya. Sebenarnya tante juga udah mau masuk, nih." ibu Byakuya pun masuk ke dalam ruang kelas.

Rukia mengikuti Byakuya, cowok itu berjalan santai, menuju ke sebuah tempat. Rukia berjalan di sampingnya, mencoba menyamakan langkah dengan cowok cool itu.

"Pelan-pelan dong, Bya-kun! Ampun deh, jalannya cepet banget!" protes Rukia.

"Apa perlu gue gendong?" Byakuya memandang Rukia tajam.

"Sembarangan!" Rukia menggembungkan kedua belah pipinya.

Akhirnya, Byakuya melambatkan langkahnya hingga Rukia dapat mengikutinya tanpa harus berlari-lari kecil. Ternyata, Byakuya membawa Rukia ke ruang musik. Cowok cool itu pun membimbing Rukia masuk ke dalam ruang musik dengan menggenggam tangannya lembut.

"Sebenernya kamu mau ngapain, sich, ngajak aku ke sini?"

"Gue mau lo main piano."

"Main piano?"

"Iya, buat gue. Mau ngga?"

"Nggak."

"?" Byakuya menatap gadis itu dengan pandangan bingung.

"Aku nggak mau main piano buat kamu."

"!" Byakuya memberikan death glarenya.

"Iya, iya, aku mau..." Rukia menunduk pasrah.

"Bagus," Byakuya mengacak rambut Rukia lembut.

Byakuya berdiri di dekat piano, ia membuka tutup piano, sementara Rukia duduk di kursi untuk membuka tutup tuts, lalu meregangkan jarinya. Perlahan, gadis itu mulai bermain piano, jari-jari mungilnya menari indah di atas tuts piano, dan memainkan nada-nada yang mengalun merdu. Byakuya duduk di samping Rukia, sekilas tampak wajah Rukia merona, meski sikapnya tak berubah.

Sambil menikmati alunan piano, Byakuya memejamkan matanya, mencoba menikmati lagu itu. Mungkin emmang benar, Rukia amat menyukai musik. Buktinya, meskipun ia berasal dari keluarga yang kurang mampu, Rukia tetap lihai membuat jarinya menari di atas tuts piano. Byakuya menarik nafas panjang, lalu membuka matanya, tepat pada saat Rukia menyelesaikan permainan pianonya.

"Bagus."

"Thanks."

"Lo belajar di mana?"

"Ehn, dulu ada yang ngajarin waktu aku kecil. Aku jadi pembantu di rumah yang besar, lalu..."

"Ya, gue udah tau kelanjutannya," Byakuya memotong cerita Rukia, gadis itu tersenyum.

"Hihi..."

"Lo itu, memang penuh kejutan, ya?" Byakuya mengalihkan pandangannya, berusaha agar Rukia tak melihat wajahnya yang tersipu.

"Iya? Hahaha..., oh ya, aku kayaknya harus ke kantin, nih. Bye, Bya-kun!" Rukia bangkit dari tempat duduk, lalu berlari kecil keluar dari ruang musik.

Byakuya tersenyum sendiri melihat tingkah Rukia, sepertinya ia mengerti sekarang, bahwa ia mulai tertarik pada gadis itu. Tapi, Byakuya tak ingin terburu-buru, ia masih senang menyimpan perasaannya itu. Cowok cool itu ingin bermain dengan hatinya sendiri. 'Let it be my secret heart'.


Di lapangan outdoor, anak-anak ekskul futsal baru memulai permainan mereka hari ini. Tim pertama beranggotakan Ichigo, Shinji, Ishida, Sado, dan Hichigo. Mereka berlima cukup terkenal di kalangan anak IPS, karena Ichigo termasuk anak yang berotak cemerlang. Buktinya, meski lapangan mulai panas karena sinar matahari mulai menggarang, lapangan mulai ramai dan riuh oleh beberapa kaum hawa. Tim kedua yang biasanya hanya ada di kursi cadangan, hanya bisa pasrah melihat tim pertama.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara peluit tanda permainan segera dimulai. Ichigo, sang kapten, memulai permainan dengan sangat baik dan langsung menguasai bola. Ia menendang bola dengan penuh semangat dan mengopernya ke Sado. Sado pun menggiring bola hingga ke dekat gawang, menendang, namun hanya menyentuh tiang. Ternyata bola memantul dan menyentuh kaki Shinji. Shinji tersenyum licik dan menendang bola tadi dengan kekuatan penuh.

GOLLLL ! (A/N : Maaf, saya keseringan nonton bola, jadi semangat sendiri.)

Semua penonton bersorak, gawang tim B kebobolan dan tim A berlari dengan semangat, peluh sudah membasahi tubuh mereka. Saat kiper tim B mengoper bola ke temannya, pandangan Ichigo tertuju pada seorang gadis mungil nan manis yang berdiri di samping lapangan. Rukia, Inoue, dan Hinamori ternyata menonton pertandingan latihan futsal itu.

"Nanti kita ke kantin habis nonton futsal aja," kata Inoue.

"Iya, iya," Hinamori setuju.

"Terserah kalian aja, deh," Rukia tersenyum.

Tepat saat itu, Ichigo memperhatikan senyum gadis itu, lalu kembali konsentrasi pada permainan. Ichigo dan teman-teman grupnya semangat bermain hari ini, mereka dengan mudah menguasai bola hingga permainan berakhir dengan skor 4-0. Tentunya dimenangkan oleh tim Ichigo.

Ichigo mengelap keringatnya dengan handuk kecil di pinggir lapangan, lalu menenggak sebotol air mineral. Ia cukup lelah, dilihat dari bulir-bulir keringat yang keluar. Matanya berkeliling, mencoba mencari-cari sosok gadis yang tadi dilihatnya.

"Nyari apa lo?" tanya Hichigo.

"Ah? Nggak!"

"Kayaknya sih, nyari si juara umum yang tadi nonton," sahut Sado.

"Emang tadi dia nonton?" tanya Shinji.

"Iya, ama dua temennya itu. Masa lo ga liat?" celetuk Ishida.

"Berisik ah! Sotoy! Emang siapa yang nyari dia?" Ichigo menenggak air mineralnya lagi.

"Jeuh, muna lo!" Ishida menoyor Ichigo.

"Parah nih anak," Ichigo menoyor balik.

Saat kelima sahabat itu sedang asyik bercanda, semua mata penonton tertuju pada mereka. Atau lebih tepatnya, melihat ke arah Ichigo, cowok yang paling tinggi diantara teman-temannya.

"ICHIGOOO!" terdengar jeritan supporter.

Ichigo hanya menatap para penonton yang kebanyakan adalah kaum hawa, lalu memberika senyuman mautnya. Jelas saja saat itu semuanya berteriak semakin histeris.

"The next idol," cibir Shinji.

"Itu nyindir atau pujian?" tanya Ichigo.

"Dua-duanya deh, Mr. Famous."

"Hahaha..., jangan gitu dong, bro! Jadi ga enak gue," Ichigo menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Sementara itu, di kantin, Rukia, Inoue, dan Hinamori asyik menikmati makanan mereka. Sepertinya semuanya sudah menerima rapor bayangan mereka, di lihat dari wajah semuanya yang terlihat lega. Memecah keheningan, akhirnya Inoue memulai pembicaraan.

"Ru, kayaknya Byakuya suka sama kamu, ya?" tanya Inoue polos, sontak membuat Rukia tersedak.

"Minum, minum, Ru," Hinamori memberikan minuman pada Rukia.

"Tenang aja, Rukia. Aku cuma nebak, kok," Inoue tertawa kecil.

"Kenapa kamu bisa bilang begitu?" tanya Rukia, setelah sudah dapat mengatur nafasnya.

"Ya pastilah Rukia, Byakuya tuh baru pertama kalinya manggil nama cewek, nama kamu loh tadi!" Hinamori meredakan tawanya, wajah Rukia tampak memerah.

"Ya, aku...," wajah Rukia benar-benar memerah sekarang, pernyataan kedua temannya membuat Rukia speechless.

"Hihi..., tenang aja Rukia. Sebenernya, dulu waktu SMP, Byakuya nggak begitu loh! Dia baik, sampai akhirnya, dia dikhianatin sama pacarnya, kalo nggak salah, namanya Hisana," cerita Inoue setelah menghabiskan makanannya.

Rukia juga telah menghabiskan makanannya, hanya Hinamori yang masih menyisakan sedikit makanannya. Tak lama, Hitsugaya datang sambil membawa sepiring siomay, lalu duduk di samping Hinamori.

"Masa sih?" tanya Hinamori tak percaya.

"Ya ampun, ngapain gue bohong?"

"Lagi ngomongin apan, sih?" sambar Hitsugaya sambil melahap siomaynya.

"Udah, lo besok aja nyambungnya, urusan cewek!" celetuk Hinamori.

"Ih, yey ga tau, eike kan cewek," Hitsugaya bergaya dengan gemulai.

Semua sontak tertawa melihat tingkah Hitsugaya yang persis banci kaleng itu. Setelahnya, Hitsugaya juga bergidik geli dengan tingkahnya sendiri.

"Dasar bences!" goda Inoue.

"Hehehe..." Hitsugaya nyengir lebar.

"Oh ya, Inoue, ngomong-ngomong, kamu tau dari mana?" Rukia kembali serius.

"Inoue kan satu SMP sama Byakuya, Ru," jawab Hinamori.

"Oh..., pantes kamu tau," Rukia mengangguk.

Hinamori segera menghabiskan makanannya yang tersisa sedikit, sementara Inoue memoles wajahnya dengan bedak. Hitsugaya memakan siomaynya dengan semangat, sementara Rukia hanya duduk, lalu melirik jam tangannya.

"Udah jam satu. Cepet banget! Aku pulang duluan, ya!" pamit Rukia.

"Bye, Rukia!" Inoue, Hinamori, dan Hitsugaya melambaikan tangan mereka.

Rukia tersenyum, lalu melambaikan tangan pada ketiga temannya dan segera berjalan santai menuju ke luar sekolah.


Next :
Chapter 5
Another School Star
(Ichigo? You make me shock!)


Yosh! Akhirnya update juga nih fanfic. Buat para pembaca setia Don't Leave Me Alone, Cha ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan seberat-beratnya. Ya ampun, kalian baik banget! Di chapter 3, ada 46 orang yang sudi membaca cerita gaje ini. Huhuhuhu... Hontouni arigato... *nebar bunga sakura*

Ichigo : Curang banget! Kok gue munculnya sebentar?

Cha : Sabar aja, sih! Giliran kamu tuh ada di chapter depan, tau!

Ichigo : Beneran loh? *nyiapin zangetsu*

Cha : Iii...iii...iyyyaaa... *mundur, bales review*

Mii Saginomiya : iya nihh, Hitsu aku bikin OOC. Makasih yaa udah review ! *hugs* XDD

Yanz ichiruki-chan : ini belum ada, soalnya Bya-kun kan pemalu, terus Rukia juga gengsi. Ehehe... Ini udah aku update. Gimana? *puppy eyes* X))

aya-na rifa'i : eta tah arti na naon nya? *liyeur* xixixixi... Thanks buat ripiu'na!

Zheone Quin : iyaa! Sudah aku update nih! Hehehe... ^^

Violeta-Haru : Ahh, ya ampuuunn! Makasih yaaa! Ngartos basa sunda juga? XDD

edogawa Luffy : Ga papa kakak, yang penting mah, ripiunya. *plak!* Hehehe... Makasih yaa buat reviewnya...

Utsukushi I – KuroShiro6yh : Ini udah aku update. Gimana?

ai_haibara777 : iyaaa..., ini udah aku update ! Hehehe .. XDD

Selesai! Ya ampun, amat terharu deh, makin banyak yang review, jadi makin semangat buat ngelanjutin fanfic ini! Maaf ya kalo Cha agak lama updatenya, soalnya teh, Cha lagi liburan. Jadinya, mamah ga kasih Cha keluar rumah. *ketularan sundanya Hitsugaya*. Jadi, dengan segala kerendahan hati, Cha mohon read and review please... m(_ _)m