Baekhyun menahan diri untuk tidak berteriak pada si bungsu Jesper saat ia melihat anak itu melempar semua isi kulkas dan membuat dapurnya berantakan. Baekhyun baru saja kembali untuk menidurkan Jackson yang sedang sakit dan kini anak bungsunya yang kembali berulah. Dengan langkah besar Baekhyun menghampiri Jesper dan mengangkat anak itu dalam gendongannya.
"Apa yang sedang Jes lakukan? Kenapa Jes mengeluarkan semua isi kulkas?"
"Ibu, aku ingin jeli yang dibeli ayah kemarin."
"Tapi itu sudah habis."
Jesper mencebikkan bibirnya, ia seperti berusaha menahan tangis. "Kemarin Jes masih menyisakan lima, bu."
Baekhyun menyeka air mata Jesper dengan ibu jarinya dan mendaratkan kecupan pada pipi merah anaknya. "Kakak Jack memakannya. Bukankah Jes harus berbagi dengan kakak Jack?"
"Hiks.. Aku mau jeli bu! Kembalikan jeli ku! Hiks.." Jesper meronta dari gendongan Baekhyun sehingga ia terpaksa menurunkan Jesper dari gendongannya.
"Cupp.. Cup.. Ibu akan telepon ayah untuk membeli jelinya lagi sayang."
"Hiks.. Hiks.. Benarkah bu?" Jesper memandang Baekhyun dengan mata berharapnya yang membuat Baekhyun seperti melihat dirinya sendiri di masa lalu.
"Iya, Jes tenang saja. Sekarang Jes pergi bermain di ruang tengah, ibu akan membersihkan ini semua."
Sepeninggalan Jesper dari dapur, Baekhyun mulai membereskan semua kekacauan yang Jesper buat. Ia memunguti buah-buahan yang menggelinding di sekitaran dapur, kemudian menyusun botol air dan beberapa makanan ringan seperti semula. Baekhyun mendesah melihat beberapa sayuran yang akan ia masak besok pagi sudah rusak, sepertinya terinjak oleh Jesper. Tapi beruntung Jesper tidak menumpahkan semangkuk sup yang Baekhyun sisihkan untuk Chanyeol saat suaminya itu pulang kerja.
"IBU.. ADIK JES NAKAL!"
"HUWAA... IBU!"
Baekhyun yang mendengar suara ribut langsung keluar dari dapur dan menghampiri mereka yang ada di kamar anak-anak. Dan benar, di dalam Jesper dan Jackson sedang menangis keras. Jesper tertelungkup di lantai, sedangkan Jackson masih ada di atas ranjang dengan tangisan yang sama kerasnya dengan Jesper, wajahnya juga memerah akibat demam tinggi.
"Ya Tuhan, ada apa ini."
Baekhyun langsung menggendong Jesper dan berusaha menenangkan anak itu lebih dulu, namun tangisan Jackson juga membuat Baekhyun harus menenangkan anak sulungnya juga.
"Jackson, tenang dulu sayang." Baekhyun mengelus punggung Jackson perlahan.
"HUWAA... SAKIT!" Jesper menangis lebih keras dari sebelumnya dan Baekhyun menyadari ada sebuah benjolan di kepala Jesper.
"Ssstt.. Jesper jangan menangis. Ibu akan mengobatinya."
Baru saja Baekhyun berdiri dari ranjang, Jackson memegangi tangan Baekhyun dan tidak membiarkan Baekhyun pergi dari kamar.
"Ibu.. Hiks.. Hiks..".
"Hey Jackson sayang, ibu harus mengobati adik Jes dulu." Baekhyun mengelus kepala Jackson agar membuat anaknya mengerti. Namun itu sia-sia karena anak itu sekarang malah melingkarkan tangannya di badan Baekhyun.
"Baek?"
Chanyeol yang saat itu baru tiba dari kantor langsung menghampiri mereka karena mendengar suara tangisan kedua anaknya. Baekhyun membuang napas lega saat melihat Chanyeol pulang disaat yang tepat.
"Ada apa Baek, kenapa Jack menangis dan... Astaga ada apa dengan kepala Jes..."
"Ceritanya panjang Yeol, sekarang tolong temani Jackson, aku akan mengobati Jes dulu."
Jackson yang melihat Chanyeol menghampirinya langsung merentangkan tangan meminta gendong pada ayahnya dan Chanyeol segera menyamankan Jackson pada pelukannya. Sedangkan Baekhyun membawa Jesper ke dapur dan menyiapkan air es untuk mengompres kepala Jesper yang benjol.
"Jes tahan dulu, ibu harus mengompres ini."
Baekhyun dengan hati-hati menempelkan kain basah itu pada kepala Jesper yang dibalas dengan isakan dan rengekan.
"Hikss.. Sakit bu."
"Jesper tahan dulu, ini tidak akan lama."
Baekhyun dengan telaten mengompres kepala Jesper hingga benjolan itu mengecil dan meninggalkan bekas kemerahan. Sesekali ia juga meniupinya agar Jesper merasa lebik baik. Sedangkan Jesper sudah tertidur di pangkuannya. Kemudian Baekhyun membawa Jesper ke kamar anak-anak dan membaringkannya di ranjang yang berseberangan dengan ranjang Jackson.
Jackson juga sudah tertidur di pelukan Chanyeol yang ikut berbaring di sebelahnya.
Setelah itu Chanyeol dan Baekhyun keluar dari kamar anak mereka.
"Yeol, kau mau makan atau mandi dulu?"
"Aku akan makan lalu mandi."
"Baiklah, aku siapkan makanannya."
Chanyeol menahan tangan Baekhyun yang akan pergi ke dapur. "Aku akan melakukannya sendiri, Baek. Sekarang kau masuk kamar dan istirahatlah."
"Tapi Chan, kau pasti..."
"Tidak.. Tidak ada bantahan. Sekarang masuklah kamar dan buat dirimu nyaman."
"Baiklah, aku akan menyiapkan air hangat saja."
Chanyeol memegang kedua pundak Baekhyun dan menatap langsung pada mata suami mungilnya.
"Baekhyunie, dengarkan aku." Chanyeol mengelus kepala Baekhyun pelan. "Sekarang masuklah ke kamar dan berbaring. Kau harus istirahat dulu. Mengerti?"
Baekhyun mengangguk pelan. Hatinya menghangat mendapat perlakuan seperti itu dari Chanyeol.
"Pergilah." Chanyeol menghadiahi kecupan di kening Baekhyun dan pergi menuju dapur.
Baekhyun kemudian masuk ke dalam mereka dan berbaring di atas ranjang. Punggungnya terasa akan patah dan kakinya kesemutan.
Hari ini ia punya begitu banyak pekerjaan di rumah, ditambah lagi Jackson yang sakit dan Jesper sedikit lebih rewel dari biasanya. Baekhyun ingin mengeluh, tapi ia sadar bahwa ini adalah tanggung jawabnya.
Chanyeol pasti juga lebih lelah, itu yang selalu Baekhyun pikirkan. Pria itu mengurus pekerjaan dari pagi hingga malam dan terkadang harus lembur. Tak jarang juga Chanyeol pergi ke luar negeri untuk mengurus kontrak dengan perusahaan asing. Namun suaminya itu tidak pernah mengeluh ataupun mengatakan ia lelah. Bahkan saat ada di rumah, ia selalu menyempatkan diri untuk membantu pekerjaan Baekhyun dan mengurus anak-anak. Chanyeol juga tidak pernah lupa untuk menghubungi Baekhyun disela-sela kesibukannya.
Chanyeol yang selesai dengan acara mencuci piring kemudian pergi ke kamarnya. Disana ia melihat Baekhyun yang telah tertidur. Mengabaikan itu, ia masuk ke kamar mandi dan mulai menyalakan shower. Air panas yang keluar seperti terapi untuk tubuhnya. Kepalanya yang berdenyut nyeri sedikit berkurang dengan itu, begitupun lehernya yang kaku. Setelah selesai, ia keluar dan segera mencari piyama yang nyaman untuk kemudian naik ke atas ranjang.
Baekhyun yang merasakan pergerakan disebelahnya terbangun dan mendapati Chanyeol duduk disampingnya. "Chanyeol."
"Sayang, apa aku membangunkanmu?" Chanyeol mendekati Baekhyun dan berbaring disebelahnya, satu tangannya digunakan untuk menumpu kepalanya sendiri sedang yang satunya ia gunakan untuk membelai kepala Baekhyun.
Baekhyun menggeleng pelan, ia tidak ingin membuat Chanyeol merasa bersalah. "Apa Jackson mengatakan sesuatu tadi?"
"Jackson bilang Jesper memukulnya karena Jackson menghabiskan jeli di kulkas. Kemudian ia tidak sengaja mendorong Jesper hingga jatuh."
Baekhyun mendesah. "Ini salahku Yeol. Harusnya aku tidak bilang pada Jesper bahwa Jackson yang memakannya."
"Tidak Baekhyunie. Yang kau lakukan itu benar, anak-anak harus belajar berbagi dengan saudaranya sendiri."
Baekhyun menggenggam tangan Chanyeol yang ada disekitar kepalanya dan menembawanya untuk dikecup kemudian. "Terima kasih Yeol."
"Aku yang harus berterima kasih, kau ibu dan istri yang baik untuk kami." Chanyeol tersenyum pada Baekhyun. Hanya dengan melihat tatapan Chanyeol, Baekhyun tau bahwa suaminya bersungguh-sungguh.
"Yeol, sepertinya kita harus membawa Jackson ke dokter. Aku khawatir karena demamnya belum hilang."
"Aku akan menemani kalian besok. Kita juga harus memeriksakan kepala Jes, " tangan Chanyeol merambat ke perut datar Baekhyun, "dan adik bayi."
Baekhyun tersenyum dan dihadiahi sebuah kecupan ringan pada bibir mungilnya. Chanyeol tidak bisa menahan diri setiap melihat suaminya yang cantik. Sudah tidak terhitung berapa kali Chanyeol bersyukur akan Baekhyun yang ada di hidupnya. Lelaki mungil yang sudah menjadi kekasihnya sejak sekolah menengah atas ini sangat berharga untuk Chanyeol. Bahkan saat sudah menikah, rasa sayang Chanyeol pada Baekhyun semakin bertambah. Itu karena Baekhyun dengan sukarela ingin merawat keluarga kecil mereka dengan tangannya sendiri. Ia menolak saat Chanyeol akan mencari asisten rumah tangga untuk mereka. Namun karena Chanyeol tidak ingin membuat Baekhyun merasa kelelahan, Chanyeol membuat kesepakatan dengan Baekhyun untuk membiarkan asisten rumah tangga membersihkan rumah dan mengurus pakaian kotor, itupun ia hanya akan datang dua hari sekali. Dan Baekhyun tidak bisa membantah perintah Chanyeol.
"Apa hari ini adik bayi nakal?"
Baekhyun menggeleng lucu, "Adik bayi sangat penurut. Ia tidak memuntahkan sarapannya tadi."
"Itu terdengar baik. Tapi, kau jangan memaksakan diri Baek. Kehamilan muda selalu lebih rentan."
"Tentu saja Yeol. Aku akan menjaga diriku sendiri."
Chanyeol membawa Baekhyun pada pelukannya. Ia tenggelamkan kepala Baekhyun pada dadanya dan mengelus punggungnya pelan.
"Yeol, apa kau mau ku pijat?"
"Tidak perlu Baek, badanku tidak begitu lelah. Lebih baik kita tidur."
"Bukan badanmu Yeol." Baekhyun membawa tangannya pada sesuatu dibawah sana dan Chanyeol seketika menahan napasnya. "Tapi adik kecil ini, apa tidak butuh dipijat?"
.
.
.
.
.
.
.
Haloo
Sebelumnya Jun berterima kasih untuk review dan dukungannya. Awalnya Jun bikin oneshot ini karena iseng dan sekedar menyalurkan hobi. Tapi berkat kalian Jun semangat buat bikin story tentang Chanbaek.
Oh ya, Jun baru publish FF baru judulnya Celebrity Scandal
Yuk, buruan di cek.
.
.
Thank you :*
