Disclaimer: J.K. Rowling

-oOo-

Jelas, Klub Jurnalistik yang dianggap remeh semua orang adalah klub yang mempunyai anggota paling tidak ramah yang pernah kuikuti. Atau begitulah menurutku, karena aku belum penah bergabung dalam klub apa pun sebelumnya.

Beberapa anak—baiklah, di klub itu ada 6 anggota resmi dan hanya Hermione Granger yang menerima kami—Klub Jurnalistik menolak mentah-mentah ide tentang aku bergabung dngan mereka. Theo—yang egonya rusak berat karena diremehkan—langsung pergi setelah mengucapkan kata-kata seperti "Aku juga tidak sudi bergabung dengan orang-orang sok seperti kalian!" dengan nada marah. Hermione Granger tampak kecewa berat. Ia menatapku dengan matanya yang indah, memohon padaku secara non-verbal. Aku hanya berdiri di sana, tercabik-cabik antara keinginan untuk mengejar Theo—well, aku juga setuju kalau mereka sama sekali tidak menyenangkan—dan keinginan untuk mengabulkan permintaan Hermione Granger.

Aku mendongak dan mataku bersiborok dengan matanya, mengirmkan aliran listrik ke sekujur tubuhku. Dorongan hati untuk tetap bergabung dengan klub ini, sementara otakku menjerit untuk mengejar Theo. Ibuku pernah berkata, "Selalu ikuti kata hatimu, Draco dear."

Tapi, Mum, aku terlalu pengecut untuk mengikuti kata hatiku.

Jadi aku menggeleng, menggumamkan kata-kata seperti "Maafkan aku" dan berlari keluar kelas mengejar Theo.

Aku mulai bertanya-tanya apakah di sini ada Klub Pecundang, karena di situlah tempatku seharusnya.

-oOo-

Hari Sabtu nyaris tidak pernah menjadi hari yang buruk. Biasanya pada pagi hari aku akan jogging dengan Theo—sambil membicarakan hal-hal tidak penting seperti apakah zebra adalah kuda warna putih dengan garis warna hitam atau unicorn hitam dengan garis warna putih—menuju desa Hogsmeade yang ramai. Kami akan di sana selama satu sampai dua jam, makan hotdog dan minum soda sambil melanjutkan diskusi yang tadi. Kemudian kami akan berjalan kaki pelan-pelan ke rumah, dengan perut kenyang hotdog.

Setelah itu aku akan mandi dan melewati beberapa jam selanjutnya seorang diri. Theo biasanya berkencan, pergi ke gym—kadang-kadang aku juga ikut—atau bahkan menemani kakak perempuannya shopping kalau ia pulang dari cara jalan-jalan-kerjanya. Sementara aku akan berdiam diri di rumah, main PlayStation, mencuci mobil, menemani ayahku main golf, pergi berenang atau—kalau mood-ku sedang sangat baik—membantu ibuku mengurusi taman kecil di delakang rumah.

Kemudian malamnya aku akan makan malam di rumah, menonton CSI atau National Geographic, kemudian tidur dengan damai.

Tidak ada yang spesial, tapi tidak pernah buruk.

Saat ini, aku sedang duduk di bangku panjang di taman kecil yang ramai di desa Hogsmeade sambil mengunyah hotdog. Theo sedang pergi membeli kopi—akhirnya ia mengganti soda dengan kopi karena lidahku sudah lupa bagaimana nikmatnya soda yang sebenarnya. Taman ini selalu ramai dengan anak-anak kecil, terutama pada hari Sabtu dan Minggu. Biasanya mereka berlari-lari sambil berteriak gembira dengan teman mereka, sementara para orangtua menempati bangku-bangku panjang. Para ibu bergosip seru, sementara para ayah membicarakan bisnis.

Suasana seperti ini selalu membuatku tenang. Membuatku lupa pada segala masalah yang terjadi seminggu sebelumnya.

Seorang bocah laki-laki dengan rambut hitam datang. Ia membawa sebuah bola pantai di tangannya yang kecil. Ia berusaha memanjat bangku di sebelahku agar bisa duduk di sana, agak kesusahan karena kakinya yang pendek. Anak itu duduk bersender di sebelahku, bola dipangkuannya dan mulutnya cemberut. Sama sekali tidak memperhatikanku.

Setelah beberapa lama dalam diam, bocah itu memandangku. Matanya berwarna hitam, jernih dan polos. Ia memandangku dengan sorot mata mempelajari khas seorang anak kecil.

"Apakah ada sesuatu di wajahku?" tanyaku, membalas tatapannya.

Bocah itu menggeleng, kemudian menunjuk kacamataku. "Aku tidak tau. Kenapa kau memakai benda itu di wajahmu, Mister?"

Aku terkekeh pelan. Kemudian melepas kacamataku, melihatnya sekilas dan memakainya kembali. "Ini kacamata. Aku memakainya karena penglihatanku tidak bagus."

Bocah itu tidak menyahut. Ia malah tetap asyik memperhatikanku.

"Kenapa warna rambutmu putih, Mister?" tanyanya ingin tahu.

"Ini bukan putih," sahutku, agak tersinggung karena rambutku disebut putih. Oke, rambutku memang pucat sekali, tapi jelas tidak putih. "Ini pirang-pucat."

"Bukankah pirang seperti rambut nona si penjual es krim?" Ia menunjuk gadis muda penuh senyum yang menjual es krim di pojok taman.

"Yeah, dia memang pirang," jawabku, berusaha menjelaskan. "Tapi punyaku bukan hanya pirang."

Bocah itu diam lagi. Ia menghela napas dan memeluk bolanya lebih erat di dada, kembali cemberut.

"Mengapa kau tidak bermain dengan temanmu?" tanyaku, merasa harus menghibur si anak laki-laki kecil.

"Sudah pulang," sahutnya, bibrnya cemberut tidak suka. "Ia pergi ke toko kue di sebelah sana karena hari ini sepupunya ulang tahun."

"Oh." Aku terdiam sebentar. "Kenapa kau tampak sedih?"

"Mum tidak mengijinkanku ikut ke toko kue itu. Katanya kami akan ke rumah Grandma dan Grandpa satu jam lagi. Dan waktunya tidak cukup kalau aku ikut pergi ke sana." Ia merengut tidak suka.

"Well, kau bisa ke toko itu lain kali."

Bocah itu tidak menjawab.

"Berapa umurmu?" tanyaku tiba-tiba.

"Lima," jawabnya, tiba-tiba ceria. "Tapi aku akan berumur enam tahun di bulan Desember nanti."

Aku menyeringai. "Ah, jadi kau akan berulang tahun sebentar lagi?"

"Ya!" sahutnya semangat. "Tapi Mum bilang ulang tahunku masih dua bulan lagi. Aku tidak tau apakah itu sebentar atau lama, tapi aku selalu menunggu-nunggu ulang tahunku. Dad bilang aku bukan lagi anak kecil, jadi aku harus bersikap baik. Apakah kau juga punya hari ulang tahun, Mister? Berapa umurmu?"

Aku tersenyum kecil, teringat betapa aku dulu juga bersemangat menunggu hari ulang tahunku. "Ulang tahunku di bulan Juni, itu masih sangat lama. Sekarang aku tujuh belas dan jangan panggil aku 'Mister', aku belum terlalu tua."

Alis mata bocah itu mengerut. "Apakah tujuh belas jauh dari enam?"

"Er.. Kurasa tidak terlalu jauh."

"Kau tadi bilang aku tidak boleh memanggilmu 'Mister', lalu aku harus memanggilmu apa? Dad bilang aku harus memanggil laki-laki yang sudah dewasa 'Mister'."

Aku tertawa pelan, menikmati bicara dengan seorang bocah kecil polos berumur lima tahun. "Panggil aku 'Draco' kalau begitu."

"Jadi namamu 'Draco'? Mengapa aneh sekali? Apakah itu semacam nama obat batuk?" Ia agak kaget dengan namaku.

Aku mengeryit dalam. Apakah ada obat batuk yang bernama Draco? "Aku juga tidak tau, orangtuaku yang memberi nama."

"Apakah kau menyukai namamu? Aku sangat menyukai namaku, kau tahu. Namaku William, tapi Dad dan Mum dan semua orang memanggilku Willi. Aku tidak terlalu suka nama Willi, tapi Dad berjanji akan memanggilku William ketika aku sepuluh tahun. Kurasa itu waktu yang agak lama. Jadi kau memanggilku Willi, walaupun aku tidak mengeluh kau memanggilku William. Tapi kurasa Dad akan tidak suka padamu kalau kau memanggilku William karena katanya, orang yang baik hati akan memanggilku Willi. Dan Dad sangat suka pada orang yang baik hati," cerocosnya dengan mata berbinar-binar.

Aku terdiam sebentar ketika otakku mencerna rentetan kata yang keluar dari mulut bocah kecil itu.

"William. Aku setuju denganmu, nama itu benar-benar bagus."

Willi tertawa senang. "Lihat kan? Aku akan memberitahu Mum kalau nama William memang bagus sekali. Tapi tunggu, kurasa Mum sedang bicara dengan Mrs Hensmith di sana. Mereka selalu mengobrol, Mum dan Mrs Hensmith. Apakah kau mengenal Mrs Hensmith, Draco?"

Aku menggeleng. "Tidak. Aku tidak kenal."

"Yah, memang sebaiknya kau tidak kenal Mrs Hensmith. Dia sangat cerewet," dengus Willi, mengayun-ayunkan kakinya yang pendek. "Selalu bicara tentang merajut dan membuat syal dan ia berbau seperti kucing. Tapi ia sering memberiku es krim, enak sekali. Kata Mum ia sering memberiku es krim karena ia sayang padaku, tapi aku tidak terlalu percaya." Ia mengangkat bahu tidak peduli.

Aku mengagguk-angguk. Berusaha mencari topik lain.

Tepat pada waktunya, Theo memutuskan untuk datang. Kedua tangannya membawa kopi panas di gelas plastik.

"Antriannya benar-benar panjang, kau tahu," gerutunya, menyerahkan kopi padaku. "Si penjual sudah sangat gendut kurasa, pelayanannya lama. Benar-benar tolol orang itu."

Theo sudah mau duduk di sebelahku ketika ia melihat Willi duduk di sana. Masih memeluk bola pantai dan menatapnya dengan tertarik.

"Siapa kau?" tanyanya spontan.

Willi langsung berbinar ditanya begitu oleh Theo. "Namaku William, tapi kau memanggilku Willi. Apakah kau teman Draco? Siapa namamu? Dan apa yang kau pegang itu? Apakah itu salah satu dari minuman yang dijual laki-laki gendut dan berkumis di sebelah kios es krim? Dad sering beli kopi di sana. Apakah itu enak? Bolehkah aku minta sedikit?"

Mata Theo langsung membelalak kaget diberondongi pertanyaan semcam itu. Ia menatap Willi dengan tatapan tidak percaya.

"Mister? Kau baik-baik saja?" tanya Willi, melambaikan tangannya yang kecil di depan wajah bengong Theo.

"Kau memanggilku apa?" sahut Theo seolah tidak percaya dengan telinganya.

"Aku tidak tau namamu, jadi aku memangilmu 'Mister'. Tapi kalau kau memberitahu namamu, aku akan memanggil namamu. Tadi Draco juga memberitahu namanya, jadi aku tidak perlu memanggilnnya 'Mister.'"

"Namaku, Theo," ujar Theo, mengulurkan tangannya yang tidak memegang gelas. "Dan siapa tadi namamu?"

Willi tersenyum senang, ia menjabat tangan Theo dengan tangannya yang kecil dan menggoyangkannya sekuat tenaga. "William, tapi semua orang memanggilku Willi. Sebenarnya nama lengkapku William Andrew Gosyen. Tapi kurasa itu terlalu panjang jadi aku tidak—"

"Senang bertemu denganmu, Willi," potong Theo tidak sabar, menggoyangkan tangan kecil Willi.

Aku tertawa melihat ekspresi takjub sekaligus tidak percaya di wajah Theo.

"Apakah kau teman Draco, Theo? Tadi aku sudah ngobrol dengannya. Dia sangat baik dan ramah. Kami sedang membicarakan Mrs Hensmith yang cerewet itu. Apakah kau mengenal Mrs Hensmith?"

Awalnya Theo hanya melongo tolol mendengar ocehan Willi, tapi ia segera menjawab pertanyaan Willi. "Oh, maksudmu, Mrs Gadson yang rambutnya beruban itu?"

"Kau benar!" pekik Willi, bertepuk tangan senang. "Aku juga sangat heran kenapa rambutnya bisa penuh uban seperti itu. Apakah rambutku juga akan beruban? Aku tidak suka rambut beruban, aku suka rambutku yang sekarang," tanyanya dengan nada khawatir sambil menyentuh puncak kepalanya.

Theo mengerucutkan bibirnya geli sambil duduk di sisi lain Willi. "Aku tidak tahu, Willi. Yang jelas, rambutku dan Draco akan lebih dulu beruban daripada rambutmu."

Willi tampak ngeri. "Astaga, itu mengerikan sekali." Dan untuk sesaat ia tampaknya sedang berada dalam pikirannya sendiri.

Theo mengambil waktu ini untuk menyeruput kopinya dan memandangku seolah bertanya apa-yang-kau-lakukan-dengan-anak-ini. Aku hanya menyeringai.

"Sepertinya aku harus pergi sekarang, Mum sudah selesai bicara dengan Mrs Hensmith. Lihat! Itu Mum." Ia menunjuk seorang wanita berambut pendek yang sedang melambai ceria pada kami bertiga. Willi balas melambai.

Willi memeluk bolanya lebih erat ketika ia melompat turun dari bangku. Ia mendongak, menatap wajahku dan Theo dengan matanya yang jernih dan senyum lebar di bibir.

"Sampai ketemu lagi, Willi," ujarku, melambai kecil padanya.

Willi tertawa senang dan menepuk-nepuk lututku. "Kita harus ngobrol lagi, Draco! Kau harus datang ke rumahku ketika Mum membuat brownies. Brownies buatan Mum enak sekali. Aku yakin kau akan suka. Sebentar, aku akan meminta alamat rumahku pada Mum." Kemudian ia berlari menuju ibunya sebelum aku sempat mengatakan apa pun.

Theo terkekeh keras di sebelahku, nyaris tersedak kopinya.

"Firecracker, bocah Willi itu," gumamnya.

Aku mengangkat bahu tepat ketika Willi kembali berlari kepada kami.

"Oh, aku sudah tanya pada Mum. Hm, rumah kami berada di Gif—Griffi—"

"Gryffindor," bantu Theo.

"Yeah! Gryffindor Resident," sambar Willi. "Di sana nomor 19. Tepat di sebelah rumah Mrs Hensmith. Kau harus ke sana, Draco! Kau juga, Theo! Mum berjanji akan membuat brownies yang banyak dan kalian akan bertemu Dad. Dad sangat ramah dan baik dan suka tersenyum. Kalian berjanji akan ke rumahku besok?"

Aku tertawa dan balas menepuk bahunya. "Yeah, tentu. Besok kami akan ke sana."

Willi meloncat-loncat gembira dan tertawa-tawa. "Brilian!" Kemudian ia berlaih pada Theo yang hanya ikut nyengir-nyengir bodoh. "Bolehkah aku meminta minumanmu sedikit, Theo?"

Theo nyaris tersedak kopinya untuk yang kedua kali. "Er…" Theo melirikku panik, tidak yakin harus bilang apa. "Ini kopi, Willi."

"Lalu?" sahutnya tidak mengerti.

"Kurasa kau tidak boleh minum, er, kopi."

Kedua alis mata Willi terangkat. "Mengapa?"

"Well, aku tidak tahu," jawab Theo sambil memasang ekspresi berpikir keras. "Bagaimana kalau kau minta saja kopi pada ibumu? Aku yakin ia akan membuatkan kopi yang enak."

Willi mengagguk setuju. "Yeah, kuarasa aku akan meminta kopi saja pada Mum. Aku sering melihatnya membuat kopi untuk Dad."

Theo mengagguk juga, menyeringai senang karena kata-katanya berhasil. "Ya sudah kalau begitu. Sampai jumpa besok, Willi."

Willi berlari meninggalkan kami secepat kakinya yang kecil bisa. Ketika sudah sampai ibunya ia berbalik dan melambai bersemangat dan berteriak sambil tertawa-tawa, "Sampai ketemu, Draco! Sampai ketemu, Theo! Jangan lupa besok kalian datang!"

Kami balas melambai, hanya berusaha terlihat sopan di depan ibunya yang tersenyum ramah pada kami berdua.

Setelah Willi dan ibunya pergi, aku menoleh pada Theo, "Apakah kau merasa familiar dengan Gryffindor Resident nomor 19?"

Theo menggeleng. "Tidak. Tapi aku tahu bahwa rumah itu bukan rumah biasa."

Aku mengangkat alis. "Maksudmu? Apakah itu semacam rumah berhantu dan Willi adalah salah satu arwah penunggunya?"

Theo memutar bola mata dan menjawab dengan nada sarkastik. "Kreatif sekali, Draco. Tak ada yang lebih masuk akal dari itu."

"Kalau begitu kenapa?"

"Kau tidak tau?" Theo mengangkat satu alis. "Well, rumah itu bersebrangan dengan rumah—"

Kemudian kesadaran menghantamku dan aku berbisik ngeri, "—Hermione Granger."

Theo mengangkat bahu. "Tampaknya kita akan bertemu dia lagi besok."

Aku menelan ludah gugup. Tiba-tiba, ide berkunjung ke rumah Willi terasa tidak terlalu menyenangkan lagi.

-oOo-

"Kau yakin akan pergi ke sana, Theo?"

"Positif. Aku sudah bosan berkencan dengan banyak gadis. Ada baiknya mencari suasana baru berteman dengan Firecracker-Boy."

"Atau kau tertarik dengan brownies ibunya?"

"Aku tak bisa menyangkal itu memang salah satu alasanku."

Aku mendengus. "Kau tau, kelemahanmu pada brownies suatu hari nanti akan mengubah hidupmu."

Theo terkekeh sambil menyelinap ke kursi penumpang mobilku. "Kalau yang kau maksud gadis dengan brownies terenak, aku tak keberatan menikahinya."

Aku memutar kunci mobilku dan menyalakan mesinya yang halus sambil memutar bola mata. Sungguh khas Theo. Tidak tahan dengan brownies. Bah.

"Kau yakin kita tidak jalan kaki saja ke sana?" tanya Theo ketika aku memundurkan mobil.

"Aku sudah merasakan hawa musin gugur yang dingin. Dan Gryffindor Resident berada di bukit. Tidak terima kasih. Sol sepatuku sudah mau rusak," jawabku sambil menyetir.

"Atau karena hari ini Hallowen?" kekeh Theo.

"Aku tidak takut dengan hal macam itu. Aku lebih takut denganmu," ujarku enteng.

Theo mendengus. "Yeah. Aku zombie dan aku memakan otakmu."

"Atau kau drakula dan kau menghisap darahku."

Setelah itu tak ada dari kami yang bicara lagi.

Setelah perjalanan sekitar dua-puluh menit, kami sampai di gerbang besar dengan tulisan GRYFFINDOR RESIDENT melengkung di atas. Seorang satpam yang gendut menyetop kami di gerbang itu. Ia memberi kami hormat ala militer asal-asalan ketika aku membuka kaca.

"Cari siapa?" tanyanya cuek dan tidak peduli.

Aku mendengar Theo terkikik pelan di sebelahku.

"Kami mencari rumah William Gosyen…?" jawabku ragu-ragu.

"Oh, anak kecil keluarga Gosyen? Rumah kesepuluh di sebelah kiri, cat warna biru muda," ujarnya.

Aku nyengir. "Terima kasih."

Si satpam mengibaskan tangannya ketika aku menutup kaca mobil.

Gryffindor Resident bukan perumahan elit seperti perumahanku atau Theo. Rumah-rumah di sini sedikit lebih kecil dengan halaman yang tak berpagar. Suasanya tenang, bukan tenang yang mencekam, tetapi tenang yang membuatmu yakin bahwa tetanggamu selalu melihat keadaan. Rumah-rumahnya juga terlihat hangat.

"Kurasa itu rumahnya." Theo menunjuk rumah bercat biru dengan dua lantai.

"Kau yakin?"

"Kita harus turun dan mengeceknya bukan?" Theo mengangkat bahu.

Aku memarkirkan mobil di depan rumah itu dan mematikan mesin mobil. Theo membuka pintu dengan segera melompat keluar, tapi aku diam saja.

"Well?" panggil Theo dari luar. "Apakah kau akan turun dan menikmati kehangatan di dalam rumah atau kau akan tetap di dalam mobil seperti stalker?"

Aku mendesah. "Bagaimana kalau Hermione Granger melihatku?"

Aku memperhatikan rumah di seberang jalan. Rumah itu bercat krem dan berlantai dua, sama dengan rumah lainnya. Pintu depannya tertutup rapat, tetapi gordennya terbuka. Ada orang di dalam rumah itu.

Theo mengerang. "Lantas kenapa? Lagipula, mungkin sekarang dia sudah melihatku berbicara dengan orang di dalam mobil kan?"

"Kan melihatmu, bukan melihatku."

"Apakah mobilmu termasuk mobil pasaran, Draco?"

Aku meringis. Tentu saja. Audi semacam ini bukan mobil yang biasa kau lihat di jalan raya.

"Kau sudah ditunggu Firecracker-Boy, tau," lanjut Theo.

Aku memandang rumah Willi ragu-ragu.

Theo berdecak tidak sabar. "Draco, berhentilah menjadi pengecut. Kau tau bahwa yang ditunggu Firecracker-Boy sebenarnya kau, bukan aku. Dia hanya tertarik padaku karena aku mengetahui Mrs Hensmith dan ia ingin mencoba kopiku."

Aku membuang napas berat dan memantapkan hati.

"Oke," gumamku sambil membetulkan letak kacamataku. "Bring it on."

Kemudian aku membuka pintu mobil dan keluar.

Theo menatapku sebal dari sisi mobil yang lain. "Nah, tidak susah kan keluar dari mobil? Sekarang ayo cepat. Aku sudah lama tidak makan brownies."

Aku memutar bola mata dan mengikuti Theo. Punggungku berkeringat, seolah ada orang yang mengawasiku dari rumah seberang. Oh, semoga saja Hermione Granger pergi entah ke mana dan di dalam rumah hanya ada orangtuanya.

Aku sendiri juga tidak tau kenapa aku begitu takut bertemu Hermione Granger. Yang kurasakan adalah seharusnya aku bergabung dengannya di Klub Jurnalistik hari Jumat kemarin, tetapi aku tidak bisa bergabung karena aku begitu payah. Ada rasa malu, enggan dan kecewa pada diriku sendiri.

Apakah itu masuk akal?

"Apakah sebaiknya kau yang memencet bel?" tanya Theo dengan seringai di ujung bibir.

Aku mengangkat satu alis. "Memangnya kenapa aku?"

"Untuk meredam rasa gugup?"

Aku membuang napas keras lewat mulut. "Tidak apa-apa. Toh ini rumah Willi, bukan rumah Hermione Granger."

"Bagus sekali. Aku tau ini terdengar bodoh, tapi aku menyukai memencet bel rumah orang."

Theo menyeringai ketika aku menatapnya seolah ia satwa kebun binatang yang lepas.

Pintu rumah terbuka lebar bahkan sebelum bel selesai berbunyi. Willi berdiri di ambang pintu, mendongak menatap kami dengan mata berbinar penuh semangat.

"Kalian datang!" jeritnya kencang sebelum memeluk kedua lututku.

Aku membalas memeluknya dengan awkward. Theo menertawakan ekspresiku.

"Bagaimana kabarmu, Firecracker-Boy?" tanya Theo ketika Willi memuluk lututnya.

"Aku senang sekali!" pekiknya, tersenyum lebar. "Aku sudah menyangka kalian akan datang, tapi aku tidak menyangka kalian akan benar-benar datang. Oh, aku senang sekali! Ayo masuk! Mum sedang membuat brownies seperti kataku kemarin."

Willi menyeret kami masuk ke dalam rumah, bahkan langsung menuju dapur.

"Mummy!" panggil Willi. "Ini Draco dan Theo yang kemarin di taman. Lihat, Mum, mereka benar-benar datang! Dan mereka akan mencoba brownies buatanmu!"

Mrs Gosyen berbalik. Ia mengenakan celemek bunga-bunga di luar gaun rumahnya. Rambutnya sama hitamnya seperti Willi, walaupun matanya berwarna coklat cerah. Ia tersenyum lebar dan ramah pada kami berdua.

"Ah, jadi kalian berdua," katanya menghampiri kami sambil melepas celemeknya.

Theo—yang langsung berubah menjadi seorang gentleman sejati—segera mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Mrs Gosyen. "Theodore Nott, Mrs Gosyen. Senang bertemu dengan Anda," katanya penuh pesona.

Mrs Gosyen tersenyum sopan, tampaknya tdak terlalu memperhatikan pesona Theo. "Senang akhirnya bertemu dengan anak laki-laki yang menemani Willi kemarin."

"Kemarin bukan saya," sahut Theo lembut. "Sebenarnya, Willi ditemani oleh teman saya ini. Perkenalkan Draco Malfoy, Madam."

Aku berusaha tersenyum sopan dan hangat. "Selamat siang, Mrs Gosyen."

Mrs Gosyen tertawa ringan. "Oh, tentu saja. Maaf kalau Willi agak sedikit memaksa kalian."

"Ah, tidak juga," ujar Theo. "Bukan begitu, Firecracker-Boy?" Ia mengedipkan sebelah matanya yang hijau pada Willi.

Willi terkikik senang.

"Brownies sudah jadi. Tapi aku tidak bisa menemani kalian hari ini. Aku sudah ada janji dengan salah seorang teman."

"Tidak apa-apa, Madam," sahut Theo, kembali menebarkan senyum cerahnya.

"Oh, panggil saja Shenna."

Lima belas menit kemudian, aku, Theo dan Willi sudah duduk di meja makan dengan piring brownies masing-masing. Theo makan paling cepat, menikmati semua suapan di mulutnya.

"Kau benar, Firecracker-Boy," gumam Theo di sela-sela suapannya. "Brownies ini memang luar biasa."

Willi terkikik lagi. "Aku tahu. Mum memang luar biasa."

"Ke mana dia akan pergi, Willi?" tanyaku ingin tahu.

Willi mengangat bahu. "Mum mengajarkan kursus memasak sekarang di toko roti di dekat kantor pos. Kurasa dia ke sana hari ini. Dia selalu pulang dengan membawa kue-kue enak."

Aku mengagguk-angguk.

"Mum juga punya asisten, kau tau. Dia gadis yang cantik. Penuh senyum dan sering memberiku buku cerita bergambar. Mungkin dia akan pergi dengan asistennya hari ini."

"Dan di mana ayahmu?" tanya Theo.

"Dad main golf," dengusnya. "Katanya karena dia akan bertemu teman lamanya. Selalu main golf, Dad itu. Aku tidak mengerti. Golf sangat membosankan. AKu selalu tertidur ketika menunggui Dad main."

Aku terkekeh geli melihat ekspresi polos Willi.

Tak berapa lama kemudian, terdengar bunyi bel dari pintu depan.

"Kau tidak membuka pintu?" tanya Theo setelah menyuap brownies.

Willi menggeleng. "Itu pasti asisten Mum. Biarkan saja."

Walaupun terlihat ragu, Theo tidak mengatakan apa-apa setelahnya.

Aku mendengar langkah kaki masuk ke dalam rumah. Langkahnya begitu ringan dan asntai, jelas langkah seorang perempuan. Aku mendengar langkah itu menuju dapur, tapi Willi tampaknya santai-santai saja.

"Willi?"

Willi mendongak dan tersenyum cerah. Theo ikut mendongak dan matanya melebar kaget. Aku memutar tubuh ke arah pintu dan langsung melihat perempuan itu.

Dia seorang gadis. Rambutnya cokelat, diikat tinggi di puncak kepala. Ia mengenakan jeans dan jaket warna ungu. Ia menelengkan kepala melihat kami bertiga melalui matanya yang berwarna cokelat hangat. Mata itu sangat familiar, terlalu familiar bahkan.

"MISS HERMIONE!" jerit Willi sebelum melompat dari kursi dan memeluk lutut gadis itu.

-oOo-

Aku tahu aku payah. *sujud*

Memang sudah hampir sebulan dari terkahir aku update. Benar-benar telat. Astaga. Aku memang payah dan tidak berbakat bikin fic multi-chap.

By the way, terima kasih yang sudah me-review chap sebelumnya. Aku senang sekali. Kalian membuat aku bersemangat. Maafkan aku kalau ada typo atau kesalahan-kesalahan. Semoga tidak terlalu mengganggu. Aku memang bukan orang yang teliti, jadi yah…

Anyway, bagaimana kalau kalian review lagi?

DarkBlueSong