Taehyung tengah duduk di salah satu meja di kedai Jeon dengan secangkir cortado kesukaannya. Ia tersenyum sambil menopang dagu, mengamati sesosok balita yang mengenakan kaos v-neck abu-abu gelap juga celana jeans hitam yang sedikit digulung di bagian bawah. Kedua kaki kecilnya memakai sepatu boots hadiah dari sang momma.

Ia terlihat sibuk. Berjalan kesana kemari dengan bibir yang mengerucut. Sesekali mata bulatnya akan melirik sang poppa, dan Kim Taehyung yang tentu menyadarinya, akan langsung melambaikan tangan atau memperlebar senyumnya. Setelah itu, Kwonnie akan memalingkan wajah, kembali berjalan dengan kaki yang dihentak-hentakkan.

Pria Kim terkikik dibuatnya, ia bahkan hampir tersedak kopi, tapi ia sungguh tidak peduli. Putranya terlalu menggemaskan, dan pewaris Kim Enterprise merasa menjadi seorang fanboy untuk jagoan kecilnya.

"Taekwon. Momma bilang duduk diam, jangan mengikuti momma terus, nanti kau tertabrak." Jungkook berdecak pinggang. Ia baru saja selesai merapikan hiasan yang ada di dinding sebelah kanan, dan akan berpindah untuk mengganti bunga yang terbuat dari kain flanel dengan warna yang lain. Ia memang rutin melakukannya satu bulan sekali agar suasana kedai selalu fresh. Ia akan menyimpan bunga yang lama setelah membersihkannya, lalu akan menggunakannya lagi nanti.

Yang diperingatkan hanya menggembungkan pipinya. Ia sadar momma-nya sedang mempersiapkan kedai sebelum buka, paman Yumi dan dua orang pegawai lain juga membantu. Kwonnie tentu tidak membantu, ia hanya terus mengikuti sang bunda karena sedari tadi diperhatikan seseorang.

"Main sama poppa. Sebentar lagi momma selesai. Setelah itu momma ganti baju lalu kita berangkat."

Taekwon menggeleng ringan. "Mau ikut momma, tidak mau ditinggal."

"Astaga…" pemuda Jeon yang merasa sangat sangat gemas sejak sarapan tadi langsung mengangkat putra semata wayangnya, lalu mendudukkannya di kursi yang tepat berada di depan ayah si balita. "Diam di sini dan jadi anak yang baik. Tidak boleh mengganggu paman Yumi karena dia sedang membersihkan gelas. Tidak boleh mengganggu yang lain karena mereka sedang membersihkan kaca."

"Kwonnie tidak mengganggu!" pekik si bocah kesal. Bibirnya mencebik dan matanya mulai berkaca-kaca. "Tidak mau ditinggal di sini!"

Pemuda bersurai honey yang telah melenggang pergi sebenarnya masih bisa mendengar suara sang putra, namun ia memilih untuk mengabaikannya.

Taehyung yang melihatnya hanya tersenyum simpul. Sejujurnya ia merasakan perih di hatinya saat mendengar Taekwon seakan tidak mau lagi berinteraksi dengannya. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka memang harus pelan-pelan.

"Jangan cemberut begitu."

Sebuah tangan besar mengusap puncak kepala bocah berusia empat. Ia langsung menoleh, menatap pria dewasa dengan surai sepekat jelaga dengan sorot yang begitu sulit diartikan.

"Poppa akan tunggu di mobil saja kalau Kwonnie tidak mau main bersama. Jadi, jangan berteriak kepada momma, hm? Anak yang baik tidak membentak ibunya."

Setelah itu, Kim muda benar-benar beranjak dari duduknya usai mencuri sebuah kecupan di puncak kepala sang putra.

Bocah yang kini duduk sendirian hanya menundukkan kepala, mengamati sepasang sepatunya yang ia gerak-gerakkan asal.

"Aku benci poppa." gumamnya lirih dengan wajah yang terlihat kesal. "Kenapa ditinggal."

.

A fanfiction, the continuation of "Puzzled"

Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung

Genre: Romance, Family, Hurt/ Comfort, Humor, dll

Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Rated: M for the language and theme, and yeah

Warning: OC for the Taekwon.

Ambigu, typo tak tertahankan, m-preg (?)

.

.

"Painted"

Part IV: The Water Color

Pewaris Kim duduk di belakang kursi kemudi. Ia masih saja tersenyum mengingat kejadian dimana putra menggemaskannya memanggil dirinya poppa.

Saat itu, Kwonnie langsung menoleh ke arah ibunya dengan mata yang membola, sadar akan apa yang barusan ia lakukan. Setelah melihat reaksi sang ibu yang tersenyum di sela anggukan dengan tangan kanan yang mengusap pipi Taekwon, si balita malah menunduk dalam.

Ia makan dengan tenang, sesekali melirik ke arah pria berpakaian serba hitam yang terlihat sangat keren. Lalu ketika ketahuan, ia akan berpura-pura melihat paman Yoon Yoon.

Jeon Taekwon lebih banyak diam, sedangkan ketiga orang dewasa lainnya bersikap biasa. Ia akan menjawab singkat-singkat jika diajak bicara, dan itu sukses membuat Kim Taehyung terus-terusan tersenyum.

"Pelan-pelan, Jeon Taekwon. Pelan-pelan… poppa bisa menunggu selama apapun yang kau mau." gumamnya lirih sambil menatap layar ponsel pintarnya. Foto seorang balita yang tengah berjongkok di atas pasir putih terpampang di sana. Jungkook bilang, foto itu diambil beberapa hari sebelum ulang tahun sang putra yang ketiga. "Maafkan poppa yang melewatkan banyak hal. Setelah ini, kita akan selalu bersama."

Katakanlah Kim Taehyung terlalu melankolis karena ia mencium layar ponselnya, lalu terkekeh geli menyadari tindakannya sendiri.

.

.

.

"Maaf ya, merepotkan. Aku akan memberikan uang lembur, tenang saja." ucap Jungkook kepada seorang pemuda berperawakan tinggi.

Ia yang sudah berganti pakaian kini mengenakan sweatshirt putih dengan aksen bunga-bunga berwarna gradasi hitam. Celana panjang dan sepatu berwarna senada membuat penampilannya sempurna. Di bahu kanannya tersampir tas punggung berwarna hitam yang berisi perlengkapan sang putra.

"Jangan sungkan soal ini. Lagipula kau tidak memotong gajiku ketika aku bolos beberapa hari karena tugasku menumpuk, jadi jangan berani-berani kau menambah uang lembur untukku."

"Baiklah… baiklah… Paman Yumi." Jungkook tertawa kecil saat menirukan cara Kwonnie memanggil salah satu pegawainya. "Aku akan kembali sebelum petang. Terima kasih, sebelumnya."

Mereka lalu berjalan mendekati seorang bocah yang masih menunduk. Tangan mungilnya memainkan kancing celananya yang berbentuk seperti permen.

"Kau yakin memaafkannya, Kook? Dia benar-benar ayahnya Kwonnie?"

Jungkook menghentikan langkahnya, membuat namja yang berjalan bersamanya juga berhenti. Jeon muda sungguh tidak mau jika putranya mendengar pembicaraan ini.

"Dia sudah meninggalkan kalian sangat lama. Kenapa kau mau saja kembali bersamanya?"

Pemuda bermata onyx tersenyum tipis. "Aku yang lari darinya."

Penyandang marga Jeon menjeda cukup lama. Ia menghirup nafas dalam sebelum menatap lekat sepasang iris kecoklatan milik pemuda yang lebih tinggi darinya. "Aku punya banyak alasan. Yang paling utama adalah Kwonnie-ku. Kau ingat saat dia pulang dari play group dan bilang tidak ingin sekolah lagi? Aku tidak ingin putraku mengalami hal seperti itu. Awalnya aku merasa ragu padanya, tapi kulihat Taehyung mulai berubah. Sadar atau tidak, bahkan sejak sebelum tahu bahwa Kwonnie adalah putranya, Tae sudah menunjukkan kalau dia menyayanginya."

"Dan yang paling penting, kau mencintai si brengsek itu." sahut si pegawai cepat. Walau kalimatnya tergolong kasar, ia menggunakan nada jenaka yang membuat kesan ramah tanpa menggurui maupun menilai dengan sebelah mata.

Jungkook tertawa canggung, bahkan semburat kemerahan muncul di pipinya tanpa aba-aba.

Baru saja ingin membalas, suara klakson mobil sukses membungkam bibirnya. Ia menoleh ke arah mobil hitam yang terparkir di luar, dan Kim muda terlihat memberikan tanda padanya agar cepat.

"Pergilah, sepertinya ada yang cemburu." ucap pemuda yang dipanggil Yumi oleh Taekwon. Ia berjalan terlebih dahulu, lalu mengangkat tubuh balita yang duduk di atas kursi. Dengan nada ceria ia bicara, "Hei… siapa yang hari ini jalan-jalan sama momma dan poppa-nya? Jangan lupa belikan paman Yugyeom oleh-oleh."

"Hih… turunkan aku." keluh si balita. Ia menatap galak pria yang memakai apron hitam, lalu mencubit pelan tangannya. "Paman Yumi tidak dapat oleh-oleh karena mengagetkan."

"Paman Yugyeom, bukan Yumi." si pemuda tinggi menurunkan bocah yang sudah dianggapnya seperti keponakan sendiri. Tangannya menarik kedua pipi Kwonnie main-main.

"Mwomma pwanggil Yumi.. Yumii begitu."

Mencium pipi Taekwon gemas, Yugyeom akhirnya melepaskan si menggemaskan. "Pasti momma bilang Yugyeom-ie, bukan Yumi."

"Pokoknya Yumi!"

Kim Yugyeom mengerang kesal, dan itu sukses membuat Jeon mungil tertawa senang. Berkali-kali ia mengatakan frasa paman Yumi dengan sengaja sebelum sang bunda mengajaknya untuk segera keluar karena sang poppa telah menunggu. Tentu sesudah pamit kepada si paman.

"Lama sekali." gumam pria Kim yang telah menunggu di dalam mobil. Nada bicaraya lumayan keras, sengaja.

Jungkook yang telah membuka pintu penumpang di sisi pria pujaannya hanya terkikik geli.

Kim Taehyung yang cemburu ternyata menggemaskan.

"Kwonnie mau duduk sendiri di belakang atau dipangku momma di depan, atau kita sama-sama di belakang?" pemuda Jeon menanyai putranya sebelum mereka masuk ke mobil. Pasalnya, ini untuk pertama kalinya mereka mengendarai mobil bertiga.

Ketika menjemput Taekwon dari rumah sakit, paman Yoon Yoon duduk di depan karena Kwonnie merengek minta tiduran dengan paha momma sebagai bantalnya. Tentu pasangan ibu-anak ini duduk di kursi belakang.

Si balita tampak berpikir keras. Alisnya bertaut saking seriusnya ia. Kedua mata bulatnya tak henti-hentinya menatap roda kemudi di depan sang ayah, dan Kim Taehyung menyadari itu.

"Mau menyetir bersama poppa? Duduk di pangkuan poppa sini." tentu Kim muda akan merasa sangat senang jika balita kesayangannya mau duduk di pangkuannya. Ia tersenyum tipis penuh harap.

"Jangan melakukan yang macam-macam. Menyetir dengan balita di pangkuanmu sangat berbahaya."

Belum sempat Jeon Taekwon menjawab, ibunya sudah terlebih dahulu mengomel. Ia jadi semakin kesal. Tadi sang ibu memarahinya dengan wajah seram, walau tidak terlalu seram, hanya karena Kwonnie ingin mengikutinya terus. Lalu, momma kesayangannya menghentikan waktu seru-seru saat ia membuat kesal paman Yumi.

Sekarang, gantian Kwonnie yang akan bersikap menyebalkan.

Dengan tekad ingin membuat Jungkook kesal, tanpa mengatakan apapun Kwonnie langsung masuk melalui pintu yang dibuka ibunya. Ia lalu perlahan merangkak ke kursi kemudi dan duduk anteng di pangkuan sang ayah.

Setelahnya, ia tersenyum mengejek ke arah sang bunda.

Pemuda Jeon jelas tahu apa maksud putranya, namun ia malah merasa gemas. Karena tidak ingin mengecewakan Kwonnie yang sudah berusaha, sang ibu memasang wajah pasrah sebelum menghela nafas dan duduk di kursinya.

"Jangan khawatir, aku akan hati-hati." gumam Taehyung menenangkan. Sebelah tangannya terulur untuk mengusap kepala Jungkook sebelum ia mencondongkan tubuhnya dan mengecup ringan pelipis pemuda kesayangannya.

Setelahnya, sang kepala keluarga memasang seat belt, dengan putra tunggalnya ikut terikat. "Sabuk pengaman dipakai agar..?"

Taehyung mencondongkan tubuhnya agak menyamping, menatap wajah bingung bocah kesayangannya. Sebelah tangannya menggoyangkan besi pengait sebelum dikaitkan, memberi isyarat bahwa ia menunggu jawaban dari sang putra.

"Umm…" lagi-lagi Jeon Taekwon berpikir serius. Ia terdiam hampir satu menit sebelum bibirnya mulai bergerak mengeluarkan suara. "Agar tidak terbang saat mengendarai mobil."

"Terbang?" Taehyung membeo. Setahunya, mobil tidak bisa terbang. Atau, mungkin Taekwon menonton siaran kartun yang ia tidak ketahui, dimana mobil bisa terbang. Entahlah…

"Iya, terbang." Jeon kecil berucap meyakinkan. Ia sedikit menoleh untuk menatap wajah sang ayah yang kebingungan. "Kalau ada batu atau lubang di jalan lalu mobilnya dugu dugu duguuu... lalu orangnya bergoyang."

Tubuh mungil si balita bergoyang ke kiri dan ke kanan, ia bergerak naik-turun seolah terjadi guncangan hebat di mobil yang dikendarainya. "Kalau batu dan lubangnya besar, orangnya bisa terbang wuusshhh... Makanya pakai sabuk pengaman biar tidak terbang."

Yang paling tua di dalam mobil itu adalah yang paling keras tertawa. Ia memasang sabuk pengamannya dengan benar, lalu memeluk gemas dan mencium dalam pipi putra kesayangannya.

"Pintarnya anak poppa. Siap untuk menyetir, hm?"

Taekwon mengangguk antusias, mengabaikan kalau barusan Taehyung menyebut dirinya sendiri poppa. Padahal biasanya ia akan merasa sungkan begitu kata itu keluar.

Sang ayah memutar kuncinya, menghidupkan mesin, lalu menjalankan kendaraannya. Ia menjelaskan bagian-bagian di mobilnya. Dan yang menjadi favorit Jeon Taekwon tentu saja klakson.

Jungkook sampai harus menegurnya berkali-kali agar balita aktifnya berhenti menekan benda itu.

Taehyung malah membiarkannya, bahkan ia balik menegur pemuda Jeon saat ia mengomeli Kwonnie. Ia juga akan terkekeh saat melihat orang-orang di jalan mengomel karena tiba-tiba mendengar suara klakson panjang, sementara yang paling muda akan tertawa keras. Ketika momma mengomel, ia dengan semangat menjulurkan lidahnya dan tersenyum meremehkan setiap kali poppa membelanya.

Jeon Jungkook tersenyum tipis.

Setahunya, Kim Taehyung tidak pernah seceria ini. Pria itu lebih sering terlihat serius, bahkan exhausted di beberapa kesempatan. Aura wibawanya kuat. Tersenyum saja ia jarang. Tapi sekarang pria bersurai jelaga tertawa lepas. Melakukan hal bodoh bersama putranya. Ia terlihat begitu senang.

Kwonnie tidak lagi terlihat canggung, mungkin hanya karena ia lupa untuk melakukan kecanggungan seperti biasanya. Tapi tidak apa-apa. Jeon Jungkook akan selalu berharap agar jagoan kecilnya sering lupa.

Dan yang sebenarnya merasa paling bahagian adalah pemuda bersurai madu, ia sungguh tidak malu untuk mengakuinya.

"Nah, sudah sampai." gumam sang ayah sesaat setelah ia memarkirkan mobilnya di basement salah satu pusat perbelanjaan di Busan.

Sebenarnya ia ingin mengajak dua orang kesayangannya ke Gyeongju World Amusements. Bagi pria Kim, jaraknya lumayan dekat, tapi sang kekasih tidak menyetujuinya. Tentu karena ia merasa khawatir jika nantinya Taehyungakan kelelahan menyetir. Bagaimanapun juga, esok Taehyung akan kembali ke Seoul dengan mengendarai mobilnya. Sedangkan Busan-Seoul jika ditempuh dengan kendaraan roda empat membutuhkan waktu sekitar lima jam.

Ia sungguh tidak ingin Kim Taehyung kelelahan.

Maka ia mengusulkan untuk pergi ke pusat perbelanjaan saja. Di sana, ada zona khusus untuk permainan bagi berbagai usia.

Pria bersurai arang mau tidak mau menyetujuinya.

"Aku pernah kesini. Aku mau main balapan tapi momma bilang tidak boleh." Kwonnie berbicara riang. Ia menggandeng tangan pemuda ber-sweatshirt putih dengan aksen bunga hitam untuk berjalan tak tentu arah. Sementara sang ayah mengikutinya dari belakang.

"Kenapa kau tidak mengizinkannya, Kook?" pria yang berprofesi sebagai pemimpin di perusahaan keluarga Kim berucap dengan nada lirih. Ia tahu betul kekasihnya memiliki alasan yang kuat untuk melakukan itu.

Jungkook menghela nafas. "Putramu ingin balapan menggunakan trolley."

Dengan satu kalimat itu, Kim Taehyung tertawa renyah. Ia merapikan tas punggung milik Jungkook yang ia sampirkan di bahu kirinya dan berdehem sekali ketika orang-orang mulai menatapnya aneh.

"Kwonnie mau main apa?"

"Aku mau balapan pakai itu." si balita berhenti berjalan. Ia menatap mata ayahnya, lalu beralih ke deretan trolley yang tertata di depan supermarket.

"Bagaimana kalau yang lain? Kudengar tempat ini punya permainan seru tentang balapan mobil, atau menembak monster."

Yang ditanya hanya diam. Ia menatap ke arah lain sambil sesekali melirik deretan trolley yang terliat sangat menyenangkan.

Menyadari hal itu, Taehyung berjongkok, lalu membisikkan sesuatu ke putranya.

Sedetik kemudian, Taekwon mengangguk setuju. "Oke! Kita main tembak-tembakan monster, tapi setelah itu beli eskrim."

Sang ibu menoleh ke arah pria Kim yang kini kembali berdiri. "Kau menyogoknya?"

Menunjukkan rectangle smile, Kim Taehyung hanya mnyodorkan tanda peace.

Mereka naik ke lantai atas menggunakan eskalator, dan si menggemaskan Kwonnie langsung mmengajukan sebuah pertanyaan.

"Kenapa tangganya bisa jalan sendiri?"

Belum dijawab oleh Jeon muda, pria Kim sudah terlebih dahulu menyahut.

"Di bawah sini." kaki kanannya menghentak sementara jemari kirinya menunjuk ke anak tangga yang ia pijak. "Ada mesinnya."

"Seperti mesin mobil?" Kwonnie ingat, tadi ayahnya bilang bahwa mobil yang mereka kendarai bisa berjalan karena memiliki mesin. Semua benda yang bisa berjalan sendiri memiliki mesin, bahkan robot Optimus Prime dan Bumble Bee-nya juga.

"Seperti mesin mobil, tapi dinyalakan memakai listrik seperti kipas angin Kwonnie yang ada di depan televisi." gumam Taehyung. Ia menjeda kalimatnya saat akan mendekati bagian ujung agar sang putra, juga bundanya berhati-hati. Setelahnya, ia melanjutkan "Kalau dipencet tombolnya, nanti bergerak terus."

Si balita mengangguk puas dengan jawaban yang ia terima. Bocah itu kembali menanyakan hal yang ia lihat saat menaiki eskalator berikutnya. Dia terus dan terus bertanya mengenai banyak hal, dan Kim Taehyung akan menjadi satu-satunya yang menjawab.

Jungkook lebih memilih diam, tersenyum sambil mengamati ayah dan anak yang saling mengobrol. Ia mengikuti tangan anaknya yang bergoyang ke kiri dan ke kanan, sesekali terkekeh saat putranya melontarkan pertanyaan yang tak terduga.

"Nsh.. Kwonnie mau main apa?"

"Balapaaaann!" teriak bocah bermata bulat. Ia menarik-narik jaket ayahnya dengan antusias saat sang ayah sedang membeli game card. "Kwonnie juga mau game yang mengambil boneka, tapi mau yang Pokemon. Nanti paman yang main, bonekanya untuk Kwonnie."

"Apa lagi?" Taehyung dengan sangat kasual menggandeng tangan kecil putranya, berjalan menuju area permainan balapan.

Jungkook terkekeh, mengambil tas yang pria Kim bawa lalu menggendongnya di punggung. Sebelah tangannya terulur untuk mengusap kepala sang putra. "Jangan banyak-banyak. Nanti uang poppa habis untuk main."

"Uhh.. tapi aku mau main banyak-banyak." protes si balita. Ia menatap kesal ibunya, lalu beralih ke pria bersurai gelap yang menggandengnya. "Boleh main banyak-banyak?"

"Tentu saja boleh."

Jeon Taekwon tersenyum lebar, menunjukkan rectangle smile-nya yang begitu Taehyung rindukan.

Mereka bermain balapan, dengan Kwonnie yang lagi-lagi duduk di pangkuan ayahnya. Ia memegang kemudi, diam-diam dibantu sang poppa yang sebenarnya bertugas untuk menginjak pedal rem dan gas. Mereka bertanding dengan pemuda Jeon yang harus rela tidak memiliki rekan satu tim.

Taekwon memilih masuk ke dalam tim Taehyung karena pria itu bisa mengendarai mobil, sedangkan momma-nya sama sekali tidak bisa. Tentu ia melakukan ini agar bisa menang dengan mudah.

Jungkook sendiri sebenarnya sangat bersyukur saat sang putra tidak memilihnya sebagai rekan satu tim. Bagaimanapun ia sadar bahwa dirinya akan sangat heboh ketika bermain game.

Pertandingan berlangsung seru. Pria berjaket hitam memberi arahan kepada sang putra yang sedikit kesusahan untuk menggerakkan roda kemudi. Untungnya, bocah itu tidak keberatan ketika tangan besar sang ayah menumpuk di tangannya, dengan sangat lembut menggerakkan stir mobil yang mereka kendarai.

Kwonnie akan tertawa saat mereka menabrak pembatas jalan karena kursi yang mereka duduki akan langsung bergetar, sementara Jungkook heboh sendiri ketika mobilnya tertinggal jauh.

Tentu tim Taehyung memenangkan pertandingan, Jeon Taekwon berteriak girang. Ia lalu menyeret ayah dan ibunya di masing-masing tangan kanan dan kirinya, berjalan menuju sebuah mobil dengan corak hijau army. Mobil itu terlihat sangat keren dan si balita menyukainya.

"Aku mau naik ini."

Bocah berusia empat menatap orangtuanya secara bergantian, membuat sang ibu tersenyum lalu mengusap kepalanya.

Taehyung mencondongkan kepalanya ke badan mobil, membaca dengan saksama cara permainan itu bekerja. Setelah itu, ia bicara kepada sang putra. "Ini game tembak-tembakan, nanti mobilnya tidak bergerak."

"Uhh.. tapi aku mau yang dugu duguu duugu duguuu…" bibir Kwonnie mengerucut, tubuhnya digerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan, seolah menirukan tubuhnya sendiri yang berguncang ketika menaiki game balap tadi.

"Di sini kau akan menembak dinosurus. Yang dugu dugu mungkin senapan yang kau pegang. Mau coba? Nanti kalau tidak suka tidak usah dilanjutkan."

Jeon Taekwon mengangguk setuju. Matanya berbinar antusias karena biasanya, momma akan melarangnya mencoba ini-itu. Tapi paman Tae memperbolehkannya melakukan apapun.

Uhh… rasanya menyenangkan memiliki poppa.

Mereka bertiga duduk di dalam mobil, ada dua buah assault rifle guns yang mengarah ke monitor di depan mereka. Scene yang tertera di monitor seolah adalah pemandangan yang mereka lihat dari mobil.

Kali ini, bocah dengan kaos abu-abu memilih unruk duduk di pangkuan momma-nya karena ayahnya bilang, Jeon Jungkook jago dalam permainan tembak, juga game yang mengharuskan pemainnya membidik.

Awalnya ia tertawa dan bersorak seru ketika mobil yang mereka kendarai seolah melaju dari kejaran kawanan velociraptor, atau raptor berukuran kecil dengan warna kulit kebiruan. Taekwon mengarahkan rifle-nya, sementara Jungkook menarik pelatuknya. Deinonychus yang muncul pun masih membuatnya kegirangan karena dinosaurus sejenis raptor itu berukuran sedang.

Suara makhluk purba yang menggema di dalam mobil yang mereka kendarai, juga tembakan-tembakan yang diluncurkan terasa begitu menyenangkan bagi si balita.

Tapi ketika utah raptor muncul, Kwonnie mulai merasa ketakutan. Ia mulai berdiri dari pangkuan ibunya dan memeluk leher sang ibu kuat. Bagaimanapun, makhluk itu berukuran besar dengan rata-rata setinggi manusia dewasa.

"Lari! Lariii… ayo momma cepat lariiiii!" pekik si anak histeris.

Sudah dibilang bahwa Jeon muda akan fokus dengan dunianya ketika ia bermain game, jadi bocah kesayangannya yang sedang ketakutan sama sekali tidak ia sadari.

"Uwaaaa! Tidak mau dimakan monster.. mommaaaaa! Suruh dia pergi! Kwonnie tidak mau." teriaknya saat melihat seekor T-rex mendekat. Ukurannya sangat-sangat besar, mungkin lebih besar dari rumah Taekwon. Suara saat makhluk itu membuka mulutnya benar-benar memekakkan telinga. Dan itu mengerikan.

Pria Kim yang duduk di sebelah mereka menyadari ketakutan putranya. Dengan segera ia menarik tubuh si menggemaskan, mendekapnya dengan sebelah lengan, sementara tangan yang satu masih memegang rifle dan menembaki makhluk karnivora yang muncul di layar.

"Tenang saja, poppa dan momma akan mengalahkan dinosaurus yang jahat."

Kwonnie mengangguk cepat. Ia memeluk leher sang ayah, menenggelamkan kepalanya di sana, namun dengan wajah menghadap ke layar. Sepasang mata bulatnya takut-takut melihat makhluk besar yang tengah ditembaki oleh kedua orangtuanya.

"Poppa suruh dinosasurusnya pergi, Kwonnie takut."

Sebenarnya Kim Taehyung ingin tertawa mendengar putranya mengucapkan dinosasurus, tapi ia kelewat bahagia saat kembali dipanggil poppa. Maka Kim muda memutuskan untuk bersikap keren dan mengalahkan si monster.

Sebenarnya, ada tulisan YOU LOSE tertera di layar dengan huruf berwarna merah yang besar saat permainan berakhir. Namun pada waktu yang sama, T-rex yang mereka lawan terlihat ambruk. Karenanya, Jeon kecil memekik senang. Untung saja si bocah belum bisa membaca.

"Huh… tanganku pegal." keluh Jungkook saat permainan telah selesai. Ia meregangkan tubuhnya dan langsung terkejut ketika sang putra menghilang dari pangkuannya, "Kwonnie?"

Taekwon mencebikkan bibirya saat sepasang mata onyx sang ibu menangkapnya yang masih bergelayut di leher pewaris Kim Enterprise. "Momma jahat! Aku panggil tidak mau bilang! Kita hampir dimakan monster."

"Maafkan momma, sayang. Momma tidak sengaja."

Kwonnie memalingkan wajahnya, lebih memilih untuk memanjat tubuh tegap sang ayah, menyembunyikan dirinya.

"Kita keluar dulu." ucap Taehyung sambil menggendong putranya, berjalan keluar dari mobil dan mencari tempat duduk. Sebelah tangannya mengelus tubuh sang putra dengan senyum lebar terpatri di bibirnya. "Jangan marah sama momma. Momma hanya berusaha agar monsternya tidak menangkap kita."

"Tapi dinosasurusnya menyeramkan. Momma tidak mau memelukku! Malah paman Tae yang memelukku. Itu menyebalkan." keluh si balita saat ia didudukkan di sebuah kursi, masih di area permainan.

Pemuda Jeon langsung memeluk tubuh putranya sambil meminta maaf. "Momma hanya terlalu fokus, sayang. Lihat.. momma bawakan susu pisang, juga camilan kesukaan Kwonnie."

Tubuh berbalut sweatshirt putih itu lalu membuka tas yang sedari tadi ia bawa, mengeluarkan sekotak susu pisang, juga sebuah kotak bekal berwarna baby blue. Di dalamnya terdapat roti panggang dengan irisan sosis dan saus tomat, juga keju sebagai topping.

Kwonnie yang melihatnya langsung berbinar. Ia mengucapkan terima kasih, lalu meminum susunya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya memegang sepotong pizza buatan rumah dan menggigitinya besar-besar.

"Pelan-pelan, jagoan." gumam Taehyung seraya mengusap puncak kepala bocah kesayangannya yang terlihat semakin menggemaskan. Ia menoleh saat sesuatu menyentuh bibirnya. Begitu mengetahui bahwa itu sepotong pizza yang disuapkan oleh sang kekasih, Kim muda membuka mulutnya. "Terima kasih."

Jungkook tersipu saat pria Kim tiba-tiba mencuri sebuah kecupan dari bibirnya. Mereka diam selama beberapa saat, tenggelam dalam waktu untuk menikmati pizza sederhana buatan Jeon muda.

Taehyung tersenyum lebar saat melihat calon istrinya mengeluarkan sebotol air minum dari dalam tas. "Kau menyiapkan semuanya?"

Yang ditanyai langsung mengangguk. "Aku membiasakan Kwonnie agar tidak sering-sering jajan. Kau tahu, makanan jadi yang dijual biasanya menggunakan banyak penyedap rasa. Itu tidak baik untuk kesehatannya."

Bukannya memberi tanggapan, pewaris Kim malah menoleh, lalu menatap sesosok bocah yang menarik-narik jaketnya.

"Paman, aku mau boneka yang Chikorita." rengek Taekwon yang telah selesai memakan sepotong pizza. Ia menunjuk sebuah ufo catcher dimana terdapat banyak binatang berwujud aneh, yang dicurigai sebagai Pokemon, di dalamnya.

"Biarkan poppa minum dulu." tegur sang ibu seraya menyodorkan botol air minum kepada pria pujaannya. Ia mengambil sapu tangan, lalu membersihkan bibir dan pipi putra kesayangannya.

"Chikorita yang mana? Bagamana kalau Pikachu? Poppa suka Pikachu.""

Sejujurnya, Kim Taehyung tidak pernah hafal dengan nama-nama Pokemon selain Pikachu dan Snorlax.

"Hih… poppa payah." masih dengan susu pisang di tangan kanannya, Kwonnie menarik sang ayah dengan tangan kiri, lalu menuntunnya ke ufo catcher berisi Pokemon.

Melihat itu, Jungkook tersenyum lebar. Ia sadar putranya masih sering memanggil Kim Taehyung dengan paman Tae. Tapi tidak apa-apa, setidaknya kata poppa lolos beberapa kali dari bibir mungilnya. Ia memberesi kotak bekal dan botol minum sebelum menyusul pasangan ayah-anak yang sudah tiba di permainan yang putranya inginkan.

"Chikorita yang itu." seru Taekwon sambil menunjuk seekor Pokemon berwarna hijau muda, memiliki empat kaki dengan selembar daun lebar menancap di kepalanya.

"Baiklah, akan poppa coba."

Jungkook yang sudah tiba di sana langsung mengangkat tubuh putranya agar Jeon kecil bisa melihat detik-detik kemenangan ayahnya.

Kim Taehyung tenggelam dalam konsentrasinya saat menggerakkan lengan ufo. Sepasang mata elangnya menatap tajam boneka yang diinginkan balitanya. Dengan sangat hati-hati, ia menurunkan lengan ufo-nya di posisi yang menurutnya tepat. Dan ketika lengan itu terbuka untuk menangkap si Chikorita, Jeon Taekwon mendesah kecewa.

Sebenarnya, Jungkook ingin tertawa melihat ekspresi terkejut Kim muda. Tapi ia mengurungkan niatnya. Dua kali ia diseret Kim Taehyung ke klub malam, dimana tuannya bermain di mesin judi, cukup membuatnya tahu bahwa pria Kim sangat ahli dalam permainan itu. Tapi sekarang, di depan mesin ufo catcher, skill memainkan mesin judi sepertinya tidak berguna.

Pewaris Kim tidak percaya ini.

Ia menang permainan judi dengan sangat mudah, tapi menjadi seorang pecundang di depan permainan bocah seperti ini?

Harga dirinya dipertaruhkan.

"Paman Tae payaaaaahhh!"

Ditambah sang putra yang mengawasinya, Kim Taehyung sungguh harus terlihat keren.

Maka ia mencobanya lagi dan lagi. Dan untuk yang kelima kalinya, ia gagal.

Kim Taehyung, seorang penjudi ulung yang dipecundangi oleh permainan anak-anak bernama ufo catcher.

Ingin rasanya ia mengumpati, atau menendang benda itu sekuat tenaga, namun dua pasang mata bulat yang sedari tadi mengawasinya membuatnya urung.

Sungguh Kim muda tidak mau meracuni pikiran polos sang putra dengan kata kasar lagi, atau tindakan anarkis.

"Katanya Spongebob, poppa harus menjadi mesinnya biar bisa menang. Ayo ayo menjadi mesin! Squidward saja bisa…"

Kalimat barusan membakar semangatnya. Bagaimanapun, pewaris Kim Enterprise tidak sudi jika disejajarkan dengan makhluk aneh yang memiliki kelamin di wajahnya.

Dengan tekad sekuat baja dan konsentrasi yang luar biasa. Kim Taehyung mulai kembali menggerakkan lengan ufo-nya perlahan. Bahkan pukulan-pukulan heboh dari Kwonnie di lengannya, yang kemungkinan bertujuan untuk memberi semangat, sama sekali tidak membuatnya buyar.

Jemari lengan ufo itu hampir meraup leher Chikorita yang Taekwon inginkan, namun akhirnya malah memegang seekor monyet dengan jambul naik dan api sebagai bentuk ekornya.

"Yaaa! Chimchar!" yang paling muda memekik riang. Ia langsung menggerak-gerakkan tubuhnya, berusaha meloloskan diri dari gendongan sang ibu.

Setelahnya bocah yang mengenakan atasan abu-abu itu langsung merogoh slot kotak dimana boneka yang didapat akan keluar.

"Chimchar lucunaaaa!"

Bocah itu terlihat senang saat memeluk boneka Pokemon-nya, Kim Taehyung menghela nafas lega. Sebenarnya ia khawatir kalau sang putra tidak menyukai Pokemon monyetnya. Tapi setelah melihat senyum yang mengembang, mau tak mau ia ikut senang.

"Wajahmu terlihat seperti akan menghadiri rapat untuk memperebutkan tender saat main tadi." Jungkook terkikik geli. Ia mengusap pelipis pria Kim yang berkeringat dengan ujung sweatshirt yang dikenakannya.

"Mau bagaimana lagi?" pria berpakaian hitam balas terkekeh, sepasang iris kecoklatannya tak lepas dari wajah sumringah Jeon Taekwon. "Aku harus terlihat keren di hadapan jagoan kecilku, Yeah, walau dapatnya bukan Chikorita. Setidaknya dia kegirangan."

Merasa diperhatikan, si balita menatap kedua orang tuanya bergantian. "Karena paman payah, dapat Chimchar tidak apa-apa. Tapi lain kali harus Chikorita. Mengerti?"

Kim Taehyung memasang sikap siap. Ia lalu memberi hormat dengan tangan kanannya, memasang pose bak tentara yang menghadap sang atasan. Dengan suara tegas ia berkata, "Siap, kapten."

Lain kali.

Artinya, Jeon kecil masih akan bermain dengannya…

"Janji. Tidak boleh bohong." tangan kanannya yang mungil terulur. Ia menjulurkan jari kelingking, sementara menekuk keempat lainnya.

Melihat itu, Kim muda menyambut dengan tangan besarnya, dan mereka melakukan janji jari kelingking.

Sang ayah tentu tersenyum senang. Bagaimanapun, dengan ini sang putra seolah memberitahu dirinya bahwa bocah yang masih menyandang marga Jeon itu bersedia untuk diajak pergi bersama.

Ya… Kim Taehyung akan mewujudkan saat-saat dimana mereka akan selalu bersama.

Pasti.

.

.

.

Mereka kembali menjelang petang dengan keadaan Kwonnie yang kelelahan, namun senang. Ia puas tertawa saat melihat paman Tae-nya memasukkan bola basket ke dalam ring, tentu si balita yang meminta ayahnya bermain basket. Ketika akan melempar bola yang entah ke berapa, benda bulat berwarna orange gelap itu malah menabrak besi pembatas sehingga memantul kembali dan mengenai kepala sang ayah.

Walau sempat tertawa sampai perutnya sakit, si mungil akhirnya berdecak kagum saat permainan berakhir dan semua lampu di sisi ring menyala warna warni. Setelahnya, terdengar bunyi riuh tepuk tangan dan sorakan dari dalam mesin game. Kata momma, itu tanda kalau sang poppa berhasil mencetak skor tertinggi di permainan itu.

Setelah lelah bermain, Taehyung mengajaknya makan.

Kwonnie suka daging sapi berasap yang ia makan, juga kentangnya. Paman Tae bilang, namanya steak. Momma pernah memasak yang mirip seperti itu tapi tidak pernah bilang kalau namanya steak.

Kwonnie juga suka saat pria bersurai hitam meminjam trolley dari supermarket, lalu mendorong Taekwon yang duduk anteng di dalamnya sambil memakan eskrim.

Kim muda akan sesekali mendorongnya cepat, sesuai yang ia janjikan ketika tiba tadi, lalu sang ibu akan menegur, sekaligus mengomeli ayah-anak yang tertawa girang.

Dan di sinilah mereka, bertiga di ruang keluarga Jungkook dengan Kwonnie yang tiduran di atas sofa setelah menjajarkan robot Optimus Prime, Bumble Bee, dan boneka Chimchar di atas meja.

"Keren." gumamnya merasa puas.

Taehyung yang melihat itu hanya terkekeh ringan. Ia berjalan mendekati Jungkook yang baru selesai membongkar isi tasnya dan mencuci kotak bekal, juga botol minuman yang tadi dipakai. Sebelah tangannya merangkul pundak yang lebih muda. "Aku ingin memberitahunya kalau besok aku harus pergi. Bisa tinggalkan kami?"

"Tentu." ucap pemuda Jeon. Ia memberikan kecupan singkat di bibir pria pujaannya sebelum berjalan menuju balita yang masih memakai v-neck dan celana jeans-nya. Perlahan ia berkata sambil mengusak kepala Kwonnie. "Momma ke depan membantu paman Yugyeom, Kwonnie di sini sama poppa, oke?"

Berbeda dengan beberapa waktu lalu, kini Jeon kecil mengangguk walau pelan. Sang ibu pun langsung berjalan keluar. Ia terlebih dahulu memberikan tepukan ringan di pundak pria Kim sebagai semangat.

Pewaris Kim menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia kemudian duduk di sofa, dekat dengan kepala sang putra. Sebelah tangannya mengusap dahi Kwonnie lembut.

Si balita mengerang risih, namun perlawanannya hanya berbentuk gelengan lemah yang mencoba menghindari tangan besar sang ayah. Setelah itu, ia membiarkan telapak tangan hangat itu berada di kepalanya.

"Besok, poppa harus pergi."

Sepasang mata si balita membola.

Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi dirinya merasa kesulitan bernafas. Dadanya terasa sakit seperti saat ia menceburkan diri ke kolam renang sekitar tiga bulan lalu, padahal saat itu ia tidak bisa berenang. Alhasil, banyak air yang masuk melalui hidung dan mulutnya.

Ada banyak sekali yang ingin ia katakan, tapi bibir mungilnya menolak untuk bicara. Tubuhnya yang ingin bangun, lalu melotot ke arah sang ayah pun berakhir dengan diam.

"Poppa ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Kwonnie jadi anak baik di rumah dan menjaga momma, ya?" pria Kim melirik wajah putranya yang memerah. Perlahan diangkatnya tubuh menggemaskan itu, lalu ia dudukkan di pangkuan. "Kwonnie marah sama poppa?"

Si bocah menatap lekat ayahnya dengan sorot yang sulit diartikan.

Butuh sekitar lima menit sebelum ia berhasil mengucapkan sesuatu. "Akan pergi jauh-jauh?"

Dan Kim Taehyung yang mengangguk sambil tersenyum sukses menyulut rasa marah di hati Jeon Taekwon.

Pria di hadapannya bilang dirinya adalah ayah Kwonnie yang bekerja jauh-jauh dan baru pulang setelah sekian lama. Sekarang malah akan pergi lagi?

Apa poppa kembalinya lama lagi?

Padahal Kwonnie belum memanggilnya poppa terus menerus.

Padahal Kwonnie belum bilang maaf karena waktu itu memukul ayahnya.

Dengan bibir bawah yang mencebik dan raut wajah yang kacau, mata Taekwon yang memerah terlihat benar-benar berair.

"Jagoan, jangan menangis. Maafkan poppa, ya?"

Si kecil Jeon menggeleng kuat-kuat. Ia mulai terisak sekarang. Kedua tangannya melepas lengan kekar sang ayah yang memeluknya, bahkan menepisnya saat mencoba mengusap pipinya.

"Kwonnie…"

"Ke-napa pergi-pergi terus…" si bocah tersak lirih. Kali ini ia tidak berteriak dan mengamuk. Taekwon lebih memilih untuk menunduk dan menyembunyikan wajahnya. "Ka -kalau lama sekali nanti aku sudah bisa naik mobil… Itu… lama… aku ti -dak mau lama."

Taehyung paham betul dengan kalimat yang terlontar dari bibir darah dagingnya. Ia berusaha menjelaskan. "Tidak akan selama itu, jagoan. Besok poppa yang akan mengajari Kwonnie naik mobil kalau Kwonnie sudah besar."

"Bohong!" dengan mata berair dan memerah, Taekwon menatap sedih wajah tegas sang ayah. "Pasti tidak sayang aku."

Dada pria Kim terasa begitu nyeri. Matanya terasa panas saat mendengar ucapan polos itu meluncur begitu saja bak timah panas yang menghantamnya tepat di dada.

Baru saja ingin mengatakan sesuatu, sang putra sudah terlebih dahulu bertindak.

"Jahat!" pekikan itu seolah menjadi komando dari bocah berusia empat untuk dirinya sendiri agar melompat turun dan segera berlari menuju kamarnya. Ia lalu menutup pintunya kasar, menimbulkan suara yang membuat kepala Kim muda berdenyut sakit.

"Aku salah lagi." Taehyung terkekeh, mengolok dirinya sendiri yang salah memiih kata sehingga membuat sang putra salah paham.

Butuh waktu sekitar lima menit baginya sebelum memutuskan untuk kembali ke hotel. Bagaimanapun, keadaan hatinya sungguh kacau sekarang. Ia tidak mau berakhir dengan membentak Kwonnie dan membuatnya semakin sedih. Besok sebelum berangkat, ia akan coba berpamitan lagi.

"Kook, aku mau kembali ke hotel." gumamnya datar setelah keluar dari ruang keluarga dan mendapati pemuda kesayangannya duduk di belakang meja kasir.

Jungkook yang menyadari perubahan raut wajah Kim muda langsung berdiri dan mengikutinya keluar dari kedai. Tangannya dengan lancang mencekal pergelangan pria yang lebih tua saat ia hendak masuk ke dalam mobil.

"Ada apa hyung, apa kalian bertengkar?"

Taehyung menghela nafas berat. Ia menatap lekat kekasihnya sebelum bicara. "Bukan bertengkar, tapi aku sudah membuat putra kita berpikir bahwa aku tidak menyayanginya. Aku pusing sekali, Kook. Rasanya sulit setengah mati, padahal aku hanya ingin dia memahami ucapanku."

Tidak. Kim Taehyung tidak menyalahkan Kwonnie. Ia hanya merasa frustasi karena gagal berkomunikasi dengan sang putra.

Maka Jungkook memberinya sebuah pelukan untuk menenangkannya. "Tidak apa-apa. Nanti aku coba jelaskan padanya."

Niatnya, Jeon muda hanya ingin memberikan pelukan singkat. Namun Kim Taehyung malah balas memeluknya erat, menenggelamkan wajahnya ke perpotongan leher dan bahu sang kekasih. "Terima kasih banyak. Aku pasti sudah kehilangan kendali kalau tidak ada kau di sini."

"Jangan minum yang aneh-aneh." gumam Jungkook mengingatkan. Ia terkekeh ringan saat sebelah tangannya terulur naik untuk mengusap kepala bagian belakang pria Kim.

"Dari mana kau tahu aku akan minum, hm?"

Jeon Jungkook mengerang kesal. Ia melepas paksa pelukan mereka, lalu mendelik kesal.

"Bercanda, Nyonya Kim. Poppa tidak akan minum liquor. Poppa hanya akan minum teh atau kopi." Taehyung tertawa renyah. Kedua tangannya terulur untuk menarik pipi pemuda Jeon ke segala arah. Perlahan, senyum di bibirnya mulai luntur. "Kwonnie masuk ke kamar, dia menangis."

"Ya, dia juga seperti itu kalau marah padaku. Tapi pintunya tidak dikunci. Kau tidak masuk?"

Kim muda menggeleng ringan, memejamkan matanya selama beberapa saat kala tangan Jungkook dengan lembut membelai rahangnya. "Aku tidak mau berakhir dengan kehilangan kendali dan membentaknya."

Jungkook terkekeh kecil. "Baiklah… besok pagi datang untuk sarapan bersama. Sekarang beristirahatlah. Jangan minum kopi agar kau bisa tidur nyenyak."

Pewaris perusahaan Kim mengangguk kecil sebelum mencium lembut bibir Jungkook-nya. "Aku mencintaimu, Kook. Sangat."

"Aku juga mencintaimu." namja bersurai madu tersenyum manis. "Kwonnie juga pasti sangat sangat menyayangimu."

"Kuharap juga begitu."

.

.

.

Pukul delapan malam, Jungkook duduk di sofa, membiarkan televisinya menyala sementara ia sendiri sibuk mengecek catatan pengeluaran dan pemasukan kedai. ia begitu fokus dengan kegiatannya sampai sebuah suara yang sangat familiar menyapa gendang telinga.

"Momma…" Kwonnie membuka pintu kamarnya, berjalan gontai menghampiri sang ibu yang duduk bersila.

Jungkook tersenyum kecil. Diletakkannya buku yang sedari tadi ia pantengi. Ia merentangkan tangan lebar-lebar. "Apa jagoan momma kelaparan sampai-sampai terbangun jam segini?"

Ketika sang ibu menghampiri sang putra di kamarnya tadi, bocah itu sudah terlelap. Maka yang Jungkook lakukan adalah membersihkan tubuh Kwonnie dan mengganti pakaiannya.

Jeon kecil menggeleng lemah.

Ia menghamburkan diri ke dalam pelukan ibunya, membuat sang ibu memekik kaget.

"Astaga! Tubuhmu panas sekali!" Jungkook membaringkan putranya di atas sofa. Ia hendak beranjak untuk mengambil kotak obat ketika jemari kecil menarik tangannya lemah. "Ada apa, sayang? Momma ambilkan obat untukmu, ya?"

Jeon Taekwon menggelengkan kepalanya, lalu mulai menangis.

"Sayang… katakan bagian mana yang sakit. Hei…" sejujurnya Jungkook merasa panik. Taekwon kecilnya tidak pernah menangis ketika demam, dan sekarang balita kesayangannya melakukan itu.

Ketika melihat tangan kiri Kwonnie memegangi dadanya, Jeon muda benar-benar takut kalau jantungnya kembali sakit atau sejenisnya.

"Poppa-ku…" gumam Taekwon di sela isakannya. Wajahnya yang berurai air mata terlihat begitu menyakitkan untuk Jungkook. "Poppa…"

"Sebentar, momma hubungi poppa biar dia datang ke sini." tangan kanan Jungkook terulur untuk meraih ponselnya di atas meja.

Jugkook merasa benar-benar resah. Tiga kali ia menghubungi Kim Taehyung, dan semuanya tidak diangkat. Matanya mulai terasa panas saat sang putra tak henti-hentinya menangis sedangkan demamnya malah terasa semakin tinggi.

"Kumohon, hyung… angkat."

Dan hingga panggilan ketujuh, tuan muda Kim tidak mengangkat panggilannya.

.

.

.

TBC

.

.

Seharusnya kuunggah kemarin, tapi kemarin aku sangat-sangat pilek. Tidak mau ingus menetes di mouse pad.

.

.

Review please,

Tiger