_ Watashi O Aishite _
Chapter 4
Pairing : SasuNaru/SaiSaku
Genre : Romance/Drama
Rate : M
Disclaimer : Masashi Kisimoto
Warning : OOC, OC, Typo's, BoyxBoy, YAOI, AU, alur kecepetan, gaje, cerita pasaran, dll..
.
.
.
.
Umur:
- SasuNaru: 38 thn (Pekerja)
- Itachi : 40 thn (Pekerja)
- Deidara : 38 thn (Pekerja)
- Baruto dkk : 16 thn (kls 2 SMA)
- Menma : 8 thn (kls 3 SD)
- Sarada : 12 thn (lompat kls 2 thn, skrng kls 3 SMP)
.
.
.
/ No Like? /
/ No Reading! /
.
.
.
.
~ Happy Reading ~
.
.
.
.
~ DrakKnightSong ~
.
.
.
.
Seperti halnya sebuah istilah yang mengatakan 'Karma berlaku bagi siapa saja'. Istilah tersebut memang benar adanya. Setiap perbuatan yang kita lakukan, baik maupun buruk pasti akan mendapatkan balasannya. Namun sepertinya pemuda satu ini sangat mensyukuri 'karma' yang diberikan Tuhan untuk dirinya. Karena menurutnya jika 'karma' itu tidak datang kepada dirinya, mungkin ia tidak akan pernah menyadari pada perasaannya yang sudah tumbuh jauh-jauh hari ketika pertama kali mereka bertemu. Sebuah perasaan yang membawanya pada kebahagiaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, yaitu kebahagiaan yang membuatnya selalu merasa terbang hingga ke langit ketujuh.
"Tousan! Aku berangkat dulu ya?" Teriak seorang bocah berambut blonde, bersiap berangkat kesekolah.
"Baruto, kau mau meninggalkan adikmu lagi, hah?" Kembali. Suara teriakan menghiasi sebuah rumah megah, terlihat sosok pemuda berambut blonde menatap tajam bocah tadi. "Antarkan Menma dulu kesekolah, Tousan ada rapat dengan klien" Titahnya, menggandeng lembut lengan seorang bocah berambut raven.
"Hahh, baiklah. Ayo, Otoutou. Aniki akan mengantarmu kesekolah" Ujar Baruto, menghampiri sang adik yang baru berumur 8 tahun itu, "Tapi nanti yang jemput Tousan ya?" Pintanya, memandang melas sang Ayah.
"Iya, kalau masalah itu. Tousan akan menjemputnya" Sahut Naruto, mengangguk pelan. Sontak membuat Baruto girang.
"Yeyyy~" Teriaknya, girang.
"Baruto-nii memangnya sibuk lagi ya? Sampai tidak mau menjemputku" Gumam Menma, mata bulat hitamnya menatap sebal sang kakak.
"Hehehe maaf ya Menma, tapi Aniki harus latihan basket untuk Turnamen nanti. Jadi untuk beberapa waktu kedepan, Aniki tidak bisa menjemputmu seperti biasa" Jelas Baruto, perlahan. Tidak mau mengecewakan sang adik.
"Begitu? Ya sudah, tapi nanti kalau udah selesai turnamennya, Aniki mau kan jemput aku lagi?" Tanya Menma, serius. Namun, dipandangan Naruto juga Baruto, tatapan itu sangat lucu bagi mereka. Hampir saja keduanya menyerang bocah lucu itu, dan menghujaninya dengan kecupan-kecupan maut mereka.
"Tentu saja, Aniki-mu pasti mau. Iya kan, Baruto?" Kata Naruto, tersenyum evil. Baruto langsung bergidik ngeri melihat tatapan mengancam sang Ayah, ia pun hanya mampu menganggukkan kepalanya, menyetujui keinginan sang Ayah.
"Yeyy~ Baruto-nii memang is the best deh~" Girang Menma, memeluk erat tubuh tinggi sang kakak.
"Hahaha, ya sudah ayo berangkat" Ajak Baruto, menggandeng tangan sang adik. Naruto tersenyum senang, melihat keakraban kedua anaknya.
"Senang ya melihat mereka berdua akrab, Naruto?" Naruto sedikit terhenyak kaget, ketika dua buah tangan memeluk pinggang rampingnya. Tanpa berbalik pun ia sudah tahu siapa pria yang tengah memeluknya ini.
"Ya, begitulah. Kau tidak pergi kekantor?" Tanyanya, menyamankan diri didalam pelukan pria dibelakangnya.
"Hn, aku malas kekantor" Bisik suara tersebut, seraya menjulurkan lidah panjangannya untuk mengulum telinga tan sang pemuda.
"Ngh~ S-sasukehh~ m-memangnya yang semalam belum cukup?" Tanya Naruto, mencengkram erat kedua tangan yang masih setia memeluk pinggangnya dari belakang. Sasuke tidak menjawab pertanyaan sang blonde, ia sibuk menyegarkan kembali tanda yang baru beberapa jam yang lalu ia buat, dan juga siapa yang akan puas menikmati geliatan seksi ekhem-istri-ekhem nya ini? Sasuke tidak akan pernah puas.
Sasuke sangat bersyukur Naruto yang ia kira tidak akan mau menerimanya untuk merawat dan mengurus janin dalam kandungannya dulu, ternyata itu hanya trik Naruto dalam menguji kesungguhan dirinya. Masih ingat jelas dibenaknya, bagaimana ia berjuang mati-matian melakukan berbagai cara untuk membuat sang Namikaze memaafkan dan mengizinkannya. Setelah sang kakak membantu dirinya dalam mengurusi surat perceraian yang tidak membutuhkan waktu lama, mengingat Itachi merupakan seorang Pengacara, sangat memudahkan dirinya untuk segera pisah ranjang dengan Sakura. Sasuke yang saat itu sempat dirawat di Rumah Sakit selama hampir dua bulan, harus menahan ekstra sabar ketika hatinya bergolak menahan perasaan rindu, yang sedikitnya membuat ia tersiksa. Sasuke sendiri sedikit bingung dengan keadaan dirinya sendiri, apa mungkin karena ia sudah terbiasa dikunjungi dan direcoki Naruto, membuat ia mulai terbiasa dan jika sehari saja tidak bertemu serta mendengar suaranya. Ia merasakan perasaan rindu yang mendalam.
Mengenai keluarganya sendiri ketika tahu bahwa selama ini Sakura sudah berkhianat pada dirinya, sontak membuat keluarga Sasuke dirundung perasaan kecewa yang mendalam. Pasalnya selama ini mereka selalu menyimpan kepercayaan padanya, dan dengan teganya gadis itu malah membuat dirinya beserta keluarga kecewa. Fugaku selaku Ayah dari Sasuke sangat tidak menerima perlakuan yang dilakukan Sakura, dengan murka pria itu sangat menyetujui jika Sasuke menggugat cerai Sakura. Fugaku serta sang istri pun menolak mentah-mentah untuk mengasuh apalagi mengakui jika Sarada adalah cucunya, mereka memang sangat menyayangi Sarada, sekalipun gadis mungil itu bukan cucu kandungnya. Akan tetapi baik Fugaku maupun Mikoto tidak ingin mengasuh anak yang bukan 'milik' mereka, dan alhasil hakim memutuskan hak asuh Sarada jatuh sepenuhnya ke Sai juga Sakura, dan mengenai Sai sendiri. Pria itu memilih menggugat cerai istrinya, lalu menikahi Sakura. Sasuke pribadi merasa sangat kasihan pada istri Sai karena dicerai begitu saja demi wanita lain, akan tetapi itu masalahnya sendiri, dan ia sangat malas ikut campur masalah orang lain.
Nah, dimulai sejak masalahnya dengan gadis pink itu selesai, Sasuke mulai menceritakan mengenai masalahnya dengan sang blonde. Untuk kesekian kalinya keluarga Uchiha harus menerima sebuah berita heboh, setelah berita mengenai Sakura yang selingkuh sampai menampung(?) bayi oranglain, sekarang keluarga Uchiha harus mendengar sebuah berita dimana ia sudah menghamili seorang pria. Dan ternyata Fugaku merupakan sahabat dari Ayah Naruto a.k.a Minato-saat itu Minato tidak tahu jika ia berasal dari keluarga Uchiha- ketika mengetahui jika yang ia hamili merupakan sahabat lamanya, langsung saja kedua orangtua mereka memerintahkan ia untuk menikahi Naruto. Memang sih acaranya tidak terlalu meriah, hanya beberapa sahabat dan keluarga saja yang diundang, mengingat pernikahan sesama jenis masih terdengar asing. Membuat ia memilih melakukan pernikahan secara tertutup. Masih ingat jelas saat pria Namikaze ini mengandung Menma delapan tahun yang lalu, Sasuke cukup kerepotan memenuhi segala keinginan pria blonde itu. Bukan karena keinginannya sulit, melainkan ketika Naruto hamil, pria itu lebih sensitif dibandingkan saat tidak mengandung, salah sedikit saja pria itu akan marah dan ngambek. Juga jangan lupakan sifatnya yang plin plan, semakin membuatnya pusing tujuh keliling. Akan tetapi walau begitu, perasaan lelahnya terbayar oleh kelahirannya seorang anak yang sangat dinantinya. Seorang anak yang menjadi pemicu semangat bagi dirinya, bahkan terlalu senang dengan kelahiran Menma kedunia, Sasuke sampai menitikan air mata karena terharu. Ia sendiri semakin yakin, jika Menma memang anak kandungnya, darah dagingnya sendiri. Karena ketika Sakura melahirkan Sarada, perasaan yang ia rasakan hanya perasaan senang saja, tidak ada air mata juga perasaan haru didalam dirinya.
Bertahun-tahun ia lewati dengan merawat bayi mungil dan menjadi kebanggaan dirinya. Lalu sekarang bayi mungilnya sudah tumbuh menjadi bocah yang lucu juga menggemaskan. Yang paling membuatnya senang adalah, selain karena Baruto yang bisa menjadi kakak yang baik dan perhatian pada Menma, ternyata bocah raven itu menuruni gen jeniusnya, yang semakin membuatnya diliputi perasaan senang sekaligus bangga tiadatara.
"S-sasukehh~" Desah Naruto semakin menjadi saat sebelah tangan Sasuke mulai memilin niple kanannya dari luar kemeja, ia pun menyandarkan diri pada dada bidang sang raven yang masih sibuk membuat kissmark dileher berkeringatnya.
"Ekhem" Suara daheman yang cukup keras, langsung membuat keduanya menghentikan aktifitas mereka. "Masih pagi" Lanjut suara tersebut, bosan.
"I-itachi-nii" Gugup Naruto, merapikan kembali kemejanya yang sedikit berantakan akibat ulah Sasuke. Matanya mendelik ngambek ke arah pemuda raven yang hanya menatapnya kalem.
Sasuke mendengus sebal, "Kupikir kau sudah berangkat, Baka-Aniki" Ketusnya.
"Apa ini? Kau ketus sekali hanya karena aku mengganggu aktifitas mesummu, kasihan kan Naruto jika kau terus-terusan serang" Kata Itachi, membuat Naruto blushing seketika. Sedangkan sulung Uchiha yang melihatnya hanya mampu tersenyum geli.
"Apa Menma dan Baruto sudah berangkat?" Sebuah suara lain menyahut percakapan ketiganya, sontak ketiga pria itu menatap kearah seorang wanita cantik berambut pirang panjang dengan poni kiri menutupi sebelah matanya.
"Ah Dei-nee? Iya mereka sudah berangkat" Jawab Naruto tersenyum, "Apa Dei-nee membuatkan mereka bento lagi?"
"Um! Aku sudah membuatkan mereka bento, sayang sekali mereka sudah berangkat" Desah wanita itu, kecewa. Itachi yang melihat tatapan kecewa sang istri langsung menghampirinya, dan merangkul pundak kecil sang istri.
"Tidak apa, biarkan aku yang mengantarkan bento itu kesekolah mereka" Ujarnya, menenangkan sang istri yang terlihat begitu kecewa.
"Apa kau serius, Danna?" Deidara menatap berbinar sang suami, yang mengangguk yakin.
"Tentu saja, sayang" Sahut Itachi melayangkan kecupan mesra dikening Deidara, "Ini kan bento untuk mereka? Biru untuk Menma, orange untuk Baruto?" Itachi tersenyum tipis disaat wanita didepannya mengangguk semangat.
"Wah~ terima kasih Dei-nee, Itachi-nii jadi merepotkan kalian" Ujar Naruto tidak enak.
"Tidak apa Naruto mereka kan keponakan kami, jadi tidak masalah kan kami ingin membuatkan mereka bento?" Kata Itachi, meremas bahu sang istri pelan.
"Iya, tentu saja" Naruto tersenyum canggung, "Hanya saja aku tidak enak terlalu merepotkan Dei-nee"
"Kau ini bicara apa, Naruto? Sudah ah, jangan dibahas lagi. Danna? Lebih baik kamu segera berangkat ke sekolah mereka, nanti kesiangan lho berangkat kekantornya" Seru Deidara, mendorong pelan tubuh tegap pria raven berkuncir keluar ruang tamu, menuju pintu utama. Sasuke yang sedari diam hanya menatap datar tanpa berniat ikut dalam percakapan kecil itu, ia pun mengecup pipi Naruto pelan.
"Aku juga berangkat ya?" Salamnya, menyeringai ketika Naruto malah menatapnya marah namun wajahnya dipenuhi semburat merah.
"B-baka! Ugh, hati-hati dijalan" Ketus Naruto, manyun. Itachi dan Deidara hanya tertawa kecil melihat sikap Naruto yang masih canggung terhadap perlakuan Sasuke.
"Kalian berdua hati-hati dijalan ya?" Kata Deidara, mengecup cepat kening Itachi, lalu melambaikan tangan kearah Sasuke yang mulai masuk kedalam mobil Ferrary hitam pemberian sang kakak untuknya., sedangkan Itachi yang sudah berada didalam mobil Sportnya mulai menyalakan mesin. Setelahnya mobil berbeda warna itu pun melaju kencang menjauhi pekarangan Rumah Namikaze-Uchiha, dan meninggalkan sepasang manusia yang masih asyik berdiri di teras rumah.
"Naruto?" Panggil Deidara, Naruto pun menatap dirinya dengan pandangan bertanya. "Kau tidak berangkat kekantor? Bukankah ada rapat?" Lanjutnya, mengerutkan kening ketika pria Namikaze itu malah menghela nafas.
"Iya, aku akan kekantor" Gumam Naruto, berjalan gontai ke sebuah kursi soda untuk mengambil tas kerja miliknya. "Aku berangkat dulu, Dei-nee" Pamitnya, berlalu meninggalkan Deidara menatapnya bingung.
"Naruto-kun? Kau baik-baik saja bukan?" Tanya Deidara, mencengkram lembut tangan sang adik iparnya itu.
"Eh? Iya aku baik kok" Naruto mengangkat sebelah halisnya, "Memang kenapa, Dei-nee?"
"Kau terlihat tidak bersemangat. Ada apa?" Terlihat sekali jika wanita berasal dari Iwagakure ini khawatir akan kondisi pria yang sudah ia anggap adiknya, sorot matanya menatap tanpa ragu pria didepannya. Mencoba meyakinkan pada sang blonde, untuk mempercayainya dan berbagi masalah yang mungkin saja sedang menimpanya.
"Aku.. Tidak kenapa-kenapa Dei-nee. Aku hanya merasa lelah saja" Naruto pun melepaskan cengkraman wanita didepannya, dan menepuk pelan bahu tersebut. "Aku berangkat dulu ya? Dei-nee jaga diri dirumah. Jaa" Setelahnya, ia pun bergegas meninggalkan Deidara yang menatap punggungnya khawatir. Tanpa sadar pemuda Namikaze itu menghela nafas lelah, "Kenapa tiba-tiba aku merasa tidak bersemangat seperti ini?" Tanyanya, menggeleng pelan. Tidak mau terlalu berlarut dalam kebingungan, ia pun mulai memajukan mobilnya menjauhi kediamannya dan berlalu menuju kantor Namikaze untuk mengikuti rapat yang ia pastikan akan datang terlambat. Mengingat sekarang jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat seperempat.
"Aku harus bergegas, jika tidak ingin datang telat" Gumamnya, menginjak pedal gas dan mobil sport itu pun berlalu dengan sangat cepat. Tanpa perduli pada setiap makian orang-orang yang ditujukan kepadanya karena sudah membawa mobil ugal-ugalan, Naruto terus melajukan mobilnya hingga selamat ke Rasengan Corp.
"Ohayou, Menma-kun?" Sapa seorang bocah perempuan berambut blonde dikuncir, yang hanya dibalas anggukkan kalem oleh sang bocah raven.
"Menma-chan! Nanti sore kita main game yuk?" Ajak bocah berambut coklat merangkul akrab pundak kecil Menma.
"Dimana?" Hanya itu yang dikeluarkan dari sepasang bibir tipisnya, berbeda sekali jika bocah raven itu berada dilingkungan keluarganya. Sekalipun Menma sudah berteman baik dengan bocah berambut coklat tadi, ia tetap irit kata, persis seperti sifat sang Uchiha bungsu.
"Dirumahku, bagaimana?" Tanya bocah cokelat tadi, yang sepertinya sudah terbiasa dengan sikap dingin sang raven.
"Aku belum izin sama Nii-chan juga Tousan" Sahut Menma, melirikkan matanya kearah sang teman.
"Hahh kan bisa melalui telepon? Ayolah~ aku yakin kedua Tousanmu memberi izin padamu, Menma-chan~" Dengan manja bocah itu mengayun-ayunkan tangan Menma yang hanya menatapnya malas.
"Tidak mau. Aku ada-"
"Menma-kun?" Menma menghentikan ucapannya ketika salah seorang guru menghampiri dirinya, "Ada seseorang mencarimu" Lanjut guru itu, menunjuk kebelakang.
"Hai Menma? Kau melupakan bentomu" Dan orang yang dimaksud pun ternyata Itachi yang tengah tersenyum ke arahnya, sontak membuat semua anak perempuan yang melihat kearahnya, berblusing-ria.
"Itachi-nii!" Pekik Menma senang, membuat semua temannya menatap kaget atas sikap OOC bocah raven. Bocah yang baru genap delapan tahun itu pun berjalan menuju sang pria yang tengah berdiri didekat pintu masuk, "Bento? Apa Dei-nee membuatkan ku bento lagi? Maaf Ita-nii aku tidak tahu, dan jadi merepotkan deh" Tutur Menma, menatap tidak enak Itachi.
"Kau ini bicara apa sih? Lagian Ita-nii memang ingin menemuimu" Itachi pun mengacak gemas surai raven yang berwarna sama dengannya, "Aniki pikir sudah masuk sekolahmu, nyatanya belum?" Itachi pun menganggukkan kepalanya pelan, "Ya sudah, Aniki permisi dulu ya mau mengantarkan bento untuk kakakmu, Baruto" Setelah melayangkan kecupan sayang dipuncak kepala sang bocah, Itachi pun melambaikan tangannya seraya kedua kakinya melangkah menjauhi kelas yang mulai gaduh tersebut.
"Hati-hati dijalan ya, Ita-nii!" Menma pun melambaikan tangannya semangat, kedua mata hitamnya terus mengikuti punggung Itachi hingga akhirnya ia tidak dapat melihat punggung tersebut.
"Wah~ kakak tadi sangat tampan! Dia siapa mu, Menma? Kakakmu?" Celetuk seorang gadis gemuk, menatap penuh penasaran pada Menma yang hanya mengangguk sekali.
"Kya~ kakakmu sangat tampan" Menma hanya mendengus bosan mendengar segala pujian yang dilayangkan untuk sang paman, dalam hati ia merasa bingung plus ngeri disaat bersamaan, jika mengingat kembali diumur mereka yang baru menginjak delapan tahun. Sudah begitu mengatahui mana pria tampan dan tidak, Menma hanya menggidikkan bahunya tidak perduli. Ia pun kembali mendudukkan diri dikursinya dengan membawa sekotak bekal kiriman sang bibi untuknya, dalam hati ia sudah berjingkrak-ria karena lagi-lagi ia bisa mencicipi masakan sang bibi yang sangat enak itu. Ya walaupun masakan Tousannya nomor satu, bisa dikatakan semua masakan yang dibuat oleh keluarga sangat enak, termasuk masakan sang kakak. Baruto.
"Sampai dikirim seperti itu" Kata Kyuujin-bocah si rambut cokelat-menunjuk kotak bekal Menma menggunakan dagunya, sedangkan Menma hanya tersenyum senang.
"Aku pikir Nee-chan tidak akan membuatkanku bekal karena semalam Nee-chan sedang sakit, nyatanya ia tetap membuatnya untuk kami" Jelas Menma, menatap sendu kotak bekal ditangannya. Kyuujin menepuk pelan pundak sang sahabat menenangkan.
"Ya sudah, dengan begitu hari ini pun kau akan selamat dari para monster itu dikantin" Menma hanya mengangguk meng-iya-kan. Benar apa yang dikatakan Kyuujin, ia tidak usah datang ke kantin sekolah dan bertemu dengan para monster yang biasa disebut dengan 'wanita'. Kadang Menma bingung apa yang membuat para wanita itu selalu mengelilingi dirinya dan repot-repot membawakan makanan untuknya. Ia bukannya tidak senang, hanya saja terlalu sering dibawakan makanan dari para wanita itu malah membuatnya tidak enak, dan jangan lupakan ia sangat tidak suka teriakan para wanita jika ia mau menerima kotak makan pemberian mereka.
"Yang berarti aku tidak bisa makan gratis hari ini" Desah Kyuujin, kecewa. Menma pun mendengus acuh.
"Memang nya kau tidak bawa uang?" Tanya Menma sedikitnya ia merasa kasihan juga sih pada sahabatnya itu, karena selama ini jika para monster itu memberinya bento, yang selalu menghabiskan makanan itu semua adalah Kyuujin. Bukannya Kyuujin miskin sampai tidak mampu beli makanan dikantin, hanya saja bocah berambut cokelat itu lebih sering menghemat untuk ditabungnya membeli barang-barang yang ia inginkan nanti.
"Bawa sih, cuma kan makanan gratis itu enak hehehe" Tawa Kyuujin yang langsung mendapat jitakan sayang dari sang sahabat.
"Baka" Dengus Menma sweatdroop. Kyuujin pun hanya tertawa menanggapi ucapan sinisnya, yang tidak lama terhenti ketika suara bel masuk sekolah terdengar dan seorang guru pun datang. Memulai aktifitas hari ini dengan sebuah pelajaran yang amat disukai sang raven, yaitu Matematika.
GREKK
"Yo! Kau bawa bekal lagi, Baruto?" Sapa seorang remaja mendudukkan bokongnya disamping Baruto yang sibuk makan.
"Um!" Hanya itu yang dikeluarkan sang bocah blonde, mulutnya saat ini tengah penuh dengan dadar gulung kesukaannya.
"Kaasanmu rajin ya mau membuatkan bekal untukmu?" Lanjut remaja lainnya, sebelah tangannya menenteng bungkusan Takoyaki yang ia beli dikantin sekolah.
"Bukan Kaasan yang buat-" Baruto meraih botol minum milik remaja disebelahnya, dan meminumnya. "-hahh, ini bento buatan bibi-ku. Tadi pagi Ita-nii mengantarkannya kesini" Jelas Baruto, nyengir tidak dosa pada sang remaja yang tadi ia minum minumannya, manyun kearahnya.
"Kau ini kalau mau minum, izin dulu dong" Gerutu remaja tadi, "Ah iya, sekarang turnamen kurang dari 2 minggu lagi nih"
"Um! Kau benar, dan jadwal latihan pun makin padat" Yang lain menganggukkan kepala, "Baruto kami berharap banyak padamu, lho" Ujar lainnya.
"Huh? Kenapa seperti itu? Kalian juga, aku mengharapkan permainan terbaik dari kalian" Baruto menyeringai acuh ketika teman-temannya malah menghela nafas lelah, "Jangan mempermalukanku, mengerti?" Sambungnya, serius.
"Kau berkata seperti itu karena tidak ingin mempermalukan diri didepan mantanmu kan?" Dengus Temujin, mengerlingkan mata.
"Yeah~ benar juga! Aku baru ingat jika lawan kita nanti itu dari sekolah Takenshin School" Seolah disadarkan yang lain pun sontak menatap kaget sang leader yang menatap mereka kalem. "B-baruto? Kau tidak apa-apa?" Lanjutnya bertanya.
"Apanya yang tidak apa-apa, heh?" Baruto mendengus sinis, "Sudahlah, sekalipun nanti gadis itu datang kepertandingan dan membela dia, aku tidak peduli" Ketusnya, berlalu meninggalkan semua pasang mata yang menatap punggungnya kalut.
BLETAKK
"Aduh!" Ringis Temujin mengelus kepalanya yang terkena jitakan dari gadis cantik berambut merah, "R-rii-chan~ kenapa memukul kepalaku tiba-tiba?" Tanyanya, sedangkan semua teman lainnya menatap dirinya nanar.
"Huh! Kau bodoh, Baka-Temu! Seharusnya kau tidak menyebut nama gadis itu!" Sewot sang gadis, melotot tajam.
"Aku tidak menyebut namanya, Rii-chan! Tanya saja yang lain" Semuanya mengangguk kaku disaat gadis bermata sipit itu menatap mereka tajam, "Tapi kau tidak usah melibatkan gadis itu didalam pembicaraan kalian! Kalian mau sekolahan kita kalah dari sekolah TakenShin?" Temujin beserta yang lain menggeleng kompak, Rii-chan mendengus sweatdroop melihat kekompakan teman-temannya itu. "Ya sudah kalau begitu jangan bahas gadis itu untuk sementara ini" Setelahnya tanpa dosa gadis itu pun kembali ke meja dimana ketiga temannya sudah menunggu untuk memulai menyantap makanan mereka.
"Kadang aku heran kenapa gadis sepertinya memiliki kekuatan besar. Astaga! Kepalaku benar-benar sakit akibat pukulannya tadi" Keluh Temujin, mengusap sayang kepalanya.
"Itu salahmu sudah membuat Baruto pergi. Perlu kau tahu, dari tadi Rii-chan memperhatikan kita. Makanya gadis itu langsung memukul kepalamu karena sudah membuat pemandangan indahnya kabur" Celetuk Shui menegak minuman bersoda miliknya.
"Apa sih istimewanya gadis kacamata itu? Sudah cupu, sok cool lagi memutuskan hubungan dengan Baruto" Keluh Kirei, tidak senang.
"Sarada memang seperti itu, persis seperti Kaasannya" Timpal yang lain, ketus.
"Bukan begitu masalahnya!" Elak Temujin, membuat semua temannya memandang bingung. "Aku dengar Sarada memutuskan hubungan mereka karena orangtuanya tidak merestui Sarada untuk berpacaran dengan Baruto, kalau tidak salah.. Orangtuanya memiliki suatu masa lalu kelam dengan kedua Tousannya Baruto" Jelasnya, mengangguk yakin dengan ucapannya.
"Maksudmu sekarang kedua keluarga mereka bermusuhan seperti itu?" Celetuk Shui menggaruk kepalanya ragu.
"Err-sepertinya" Temujin pun memajukan bibirnya beberapa senti kedepan, "Ah tapi mungkin bukan karena itu! Sudahlah lupakan saja, cepat habiskan makanan kalian, sebentar lagi istirahat akan selesai, aku duluan kekelas ya?" Setelah melambai sebentar, remaja itu pun berlalu meninggalkan semua temannya yang menatap kesal dirinya.
"Selalu seenaknya!" Ketus Kirei, manyun.
"Um! Setelah membuat kita kebingungan, pasti langsung kabur" Setuju Shui, menggeleng pelan. Mereka hanya mampu mendengus pelan menanggapi kebiasaan remaja tadi, dan mereka pun kembali melanjutkan makanan mereka masing-masing, tanpa menyadari seorang gadis berambut merah mendengar semua pembicaraan mereka. Jarak meja diantara mereka yang hanya dibatasi satu meja, sangat memudahkan sang gadis mencuri dengar pembicaraan tersebut.
"Baruto" Gumam Rii-chan, menghela nafas.
Tap Tap Tap
"Lelahnya~ seharusnya aku juga minta dibuatkan bento pada Dei-nee" Gumam Naruto berjalan gontai menuju ruangan kerjanya, ia yang baru selesai menghadiri rapat, terlihat sangat kelelahan membuat para karyawannya menatap prihatin sang Ceo.
PLUK
"Eh?" Kaget Naruto, menengadahkan kepalanya kesamping ketika seseorang menaruh telapak tangannya diatas kepalanya, namun ia pun langsung mendengus ketika tahu siapa orangnya.
"Kenapa kau terlihat lesu, Naruto? Apa Sasuke terlalu keras bermainnya?" Dengus geli Shikamaru, melihat wajah Naruto memerah mendengar ucapannya tadi, "Ayo makan bersama, kebetulan aku tidak memiliki teman bicara untuk makan nanti"
"Bodoh! Kalau makan mulutmu hanya berfokus pada makanan! Jangan sambil berbicara" Ketus Naruto, mengusap pangkal hidungnya.
"Hahh, iya deh iya. Ayo cari makan, jangan terlalu sibuk ngurus perusahaan, kau pun harus mengisi perutmu" Tanpa perduli sang blonde menolak, pria Nara itu pun menyeret sang bos untuk ikut dengannya, "Lagi pula ada yang ingin aku bicarakan" Lanjutnya, membukakan pintu mobil untuk pria blonde.
"Hahh, aku bisa bawa mobilku sendiri, Shika" Desah Naruto, sebal.
Shikamaru menggeleng menolak, "Kau ikut denganku pakai mobil ini" Dan Shikamaru pun mendorong paksa tubuh Naruto untuk masuk kedalam mobil Ferrary birunya, ia tertawa kecil ketika sang blonde mengumpat-umpat kepadanya. Cuek, Shikamaru langsung menutup pintunya, dan segera berlari ketempat kemudi. Mobil pun melaju meninggalkan kawasan Rasengan corp, menuju kafe terdekat.
Tidak ada yang bersuara, masing-masing diantara sang Namikaze dan sang Nara, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Bahkan saat mobil itu sampai ke kafe Konoha pun tetap tidak ada yang mengeluarkan suara. Bukannya Shikamaru tidak ingin mengajak Naruto berbicara, hanya saja ketika melihat sang blonde sibuk dengan pikirannya sendiri, membuatnya yakin tidak akan didengar sekalipun ia berteriak didekat telinganya. Setelah memesan makanan untuk mereka, Shikamaru menatap malas pria didepannya.
"Oi!" Panggilnya, yang diacuhkan sang blonde, dengan gemas ia pun melempar gulungan tissu dan tepat mendarat didepan pandangan sang Namikaze tertuju.
"Apa?" Tanya Naruto, malas.
"Itu seharusnya menjadi pertanyaanku, Naruto" Ujarnya, "Kau kenapa? Apa ada masalah? Kuperhatikan sejak tadi pagi kau terlihat tidak bersemangat"
"Aku hanya kelelahan saja. Kau benar, Sasuke terlalu bersemangat bermainnya, hingga membuatku tidur selama 3 jam" Jelas Naruto seraya mengangguk pelan ketika makanan yang ia pesan sudah datang, ia sedikit mengerutkan halis begitu melihat sang pelayan memerahkan wajah. "Kenapa wanita itu?" Tanyanya, tanpa dosa.
"Hahh, mendokusei. Kau terlalu frontal berbicaranya" Terang sang Nara, menggeleng pelan.
"Frontal?" Naruto mengerutkan halisnya dalam, lalu ia pun menggidikkan bahunya acuh. "Ya, kau benar. Dan itu salahmu, nanas" Tunjuknya, mendengus sinis.
Shikamaru menatap bingung Naruto, "Kenapa aku?"
"Bukankah itu jawaban yang kau ingin dengar ketika dikantor tadi?" Sinis Naruto, menyuapkan steak daging kedalam mulutnya.
"Ah begitu. Tapi aku kan hanya bercanda, mana tahu kalau itu tepat" Shikamaru pun menggidikkan bahunya kalem, "Oh iya, aku dengar Baruto err-ini sih hanya pertanyaan selewatku saja ya? Kau tidak usah jadi bahan pikiran" Naruto mendengus mendengarnya.
"Apa sih? Kau mau bertanya apa?"
"Err-apa kau tahu jika Baruto pernah menjalin hubungan dengan Sarada?" Tanya Shikamaru, membuat Naruto yang hendak menyuapkan daging kemulutnya, terhenti.
"Apa? Baruto? Dengan Sarada?" Beo Naruto, mengerutkan kening tidak percaya. "Dapat berita itu dari mana?"
"Kau tahukan jika Shikadai berteman dengan Baruto cukup lama, dan ia pun teman satu kelas dengannya?"
"Jadi.. Sejak kapan kau tahu?"
"Err-maaf sebenarnya aku sudah tahu cukup lama, hanya saja-"
"Tunggu! Tadi kau bilang 'Baruto pernah menjalin' apa itu tandanya mereka sudah putus?" Tanya Naruto, yang diangguki Shikamaru.
"Aku dengar sih begitu dari Shikadai" Naruto mendengus pelan.
"Baguslah kalau begitu. Aku tidak akan merestui Baruto jatuh ketangan si bocah kacamata itu" Ketus Naruto, menggenggam erat pisau ditangannya.
"Hei, ayolah~ kau tidak seharusnya berlaku kasar padanya" Peringat Shikamaru menggelengkan kepala, "Dia masih anak-anak. Kau hanya bermasalah dengan kedua orangtuanya, Naruto"
"Aku tahu, tapi tetap saja aku tidak akan mengizinkan bocah itu mendekati putraku" Desis Naruto dingin, sontak membuat Shikamaru merinding ngeri mendengar nada dingin yang keluar dari sepasang bibir tipis itu. Shikamaru hanya terdiam tidak menjawab, dalam hati ia sedikitnya merasa perlu waspada pada pria didepannya ini. Mungkin Naruto terlihat baik dan ceria, tetapi sebenarnya dibalik itu semua tersimpan suatu emosi yang jika sudah keluar, akan sangat merepotkan dan terlalu mengerikan untuk ditangani.
"Hahh, mendokusei" Desahnya, menegak kopi yang ia pesan. Naruto terlihat sibuk dengan pikirannya kembali, membuat ia hanya bisa menggeleng pelan. "Naruto?" Panggilnya, yang hanya ditanggapi lirikan acuh sang blonde. "Aku kan sudah bilang jangan dipikirkan" Katanya, gemas.
"Hn" Gumam Naruto, acuh. "Sudah selesai belum? Aku mau kembali kekantor" Lanjutnya, menegak habis jus orange miliknya. Shikamaru mendengus mendengarnya.
"Mendokusei. Ayo kembali ke kantor" Ajaknya, meletakkan beberapa lembar uang diatas meja, diikuti sang blonde yang juga meletakkan beberapa uang lembar. Setelahnya kedua pria dewasa itu pun sama-sama meninggalkan kafe dan kembali menuju Rasengan Corp menggunakan mobil Ferrary biru milik sang Nara.
"Buka mulutmu" Titah seorang gadis pada bocah didepannya, sebelah tangannya memegang sebuah sendok yang sudah penuh oleh makanan. Namun sepertinya bocah didepannya malah terdiam, menatap dingin dirinya. "Ayo Menma~ aku tahu kau sangat menyukai masakanku~" Lanjutnya, setengah manyun.
"Idiot, jauhkan sendok kotormu dari wajahku" Desis bocah raven, berbahaya.
"Err-aku rasa kau harus menuruti-"
"Ah aku tahu kau sangat menyukai telur gulung ya? Hahaha sama persis seperti kakakmu ya?" Tawa sang gadis, tidak memperdulikan makian sang raven yang cukup berbahaya itu. "Ayo buka mulut-"
PLAKK
PLUKK
Aoi hanya menatap kaget sendoknya yang tergeletak pasrah keatas meja, makanan yang sudah ia sendok itu tumpah.
"Aku sudah mengatakannya padamu, berhenti mengangguku" Sinis Menma, seraya berlalu meninggalkan sang gadis seorang diri, sedangkan Kyuujin mengekor dibelakangnya.
"Err-kau seharusnya tidak berlaku kasar padanya" Bisik Kyuujin ketika sudah berada didekat sang Uchiha.
"Seharusnya kau mengikuti saranku untuk jangan makan ditempat laknat itu! Cih" Decih Menma, menggenggam erat bento ditangannya. Niatnya ingin makan tenang dikantin, lagi-lagi harus digagalkan oleh kelakuan seorang gadis cilik yang begitu centil. "Masih kecil saja sudah centil begitu, bagaimana sudah besarnya nanti" Gumamnya, bergidik ngeri.
"Masih ada waktu lima belas menit lagi, bagaimana kalau kita makan diatap saja?" Usul Kyuujin yang tidak ditanggapi sang raven, hampir saja bocah cokelat itu mendesah kecewa karena ia tidak akan sempat makan siang. Akan tetapi ketika melihat sahabat kecilnya berbelok kearah tangga yang menuju ke atap sekolah, membuatnya menyunggingkan senyuman cerah. "Hehehe kau memang pengertian kawan" Ucapnya ceria.
"Aku hanya tidak ingin bocah sepertimu pingsan karena tidak makan dan akhirnya malah menyusahkanku" Dengus Menma, membuat bocah disampingnya manyun.
"Kau berkata seperti itu tanpa melihat kondisimu juga, kawan! Kau pun sama sepertiku! Masih bo-cah!" Sungut Kyuujin, yang ditanggapi dengusan acuh Menma.
"Oh iya, err-apa kau-"
"Kau duduk disana saja, aku duduk disitu!" Potong Menma, ketika mereka sudah sampai diatap sekolah. Tanpa perduli pada Kyuujin yang sudah menyiapkan ancang-ancang untuk duduk, Menma mengusir Kyuujin yang hanya bisa menurut.
"Ck, dasar" Gerutunya.
"Hn" Dengan mengacuhkan Kyuujin yang sibuk manyun, Menma mulai memakan bento buatan Deidara penuh minat.
"Menma!" Panggil Kyuujin, mengunyah mie ramen yang ia pesan tadi dikantin.
"Hn?"
"Apa tidak apa-apa tuh kau berlaku kasar pada Aoi? Bukankah kau menyukainya?" Tanya Kyuujin menatap intens bocah disampingnya.
"Aku tidak pernah menyukai gadis centil sepertinya" Jawab Menma, mendelik sinis.
"Tapi aku sering melihat kau memperhatikannya"
"Aku? Memperhatikannya? Yang benar saja" Menma menggeleng tidak percaya.
"Serius, Menma! Aku sering melihat kedua matamu tertuju pada Aoi!"
"Aku sarankan padamu, kawan. Untuk berhenti menonton drama picisan di tv"
"Astaga! Aku tidak suka sinetron! Enak saja, kau pikir aku perempuan apa?" Ketus Kyuujin tidak terima.
"Kalau begitu berhenti berkata yang menunjukkan bahwa kau seperti itu" Kata Menma, menyeringai.
"A-a-ugh! Terserah kau saja deh" Ucap Kyuujin, menghela nafas. Menma hanya melirik acuh, ia pun menggidikkan bahunya.
"Aku sudah selesai. Aku duluan" Seperti biasa, tanpa memperdulikan keadaan sang teman yang masih asyik menyantap makanannya. Bocah raven itu berlalu begitu saja, meninggalkan bocah lainnya yang tengah kelimpungan menghabiskan makan siangnya.
"MENMA IDIOTTTT! JANGAN TINGGALIN AKU!" Teriak Kyuujin, hampir mewek karena sempat tersedak kuah ramen yang begitu pedas.
"Cih, urusai!" Dengus Menma, dalam hati ia tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah memerah sang teman akibat tersedak tadi.
"Hiks kau kejam" Gerutu Kyuujin, mengusap air matanya kasar. Sebelah tangan lainnya menggosok hidungnya yang terasa gatal, merasa seperti ada kuah ramen yang masuk kedalam rongga hidungnya.
"Hn" Gumam Menma, melirik sejenak Kyuujin. Ia pun mengambil sapu tangan miliknya dari dalam saku celana, menarik lengan Kyuujin yang menggosok mata berairnya, bocah Uchiha itu pun mengusap air mata tersebut.
"E-eh?" Kaget Kyuujin, entah kenapa wajahnya terasa memanas menerima perlakuan tersebut.
"Kenapa wajahmu memerah?" Tanya Menma, mengangkat sebelah halisnya tinggi.
"Err-tidak" Kyuujin pun menggelengkan kepalanya kuat.
"Hn, lanjutkan olehmu. Aku mau keperpustakaan dulu. Mau meminjam beberapa buku disana" Imbuhnya, memberikan sapu tangan miliknya. Dan dengan gaya khasnya, bocah raven itu berlalu meninggalkan Kyuujin yang terbengong.
"Dasar baka!" Gerutunya pelan, mengusap air matanya.
.
.
Kedua mata obsidian itu sibuk menelisik satu persatu barisan buku yang berjajar rapi dirak buku perpustakaan, dengan sesekali mengintip isi buku, bocah raven itu menggelengkan kepala ketika buku yang ia cari tidak ada.
"Perpustakaan disini kurang lengkap ternyata" Komentarnya, pelan. Ia pun mendengus kecewa, "Aku minta Papa untuk belikan saja deh" Lanjutnya, mengangguk-angguk. Baru saja ia hendak melangkahkan kaki mungilnya, telinganya menangkap sebuah pembicaraan yang membuatnya mengerutkan halis.
" Seperti suara Aoi" Gumamnya, mencari sumber suara tersebut. Halisnya semakin bertaut tajam ketika mendengar suara isak tangis, kedua matanya menatap sendu kedepan ketika ia menangkap seorang gadis mungil terisak sedih seraya menundukkan kepalanya dalam.
"Hiks apa aku sejelek itu sampai Menma tidak mau aku dekati?" Bisiknya, sangat pelan. Namun masih cukup terdengar keras oleh bocah raven yang tengah mengintip dari balik rak buku dibelakangnya.
"Sudahlah Aoi, jangan menangis. Bukankah sudah kukatakan, jika Menma itu tidak mungkin memiliki niatan untuk berpacaran diusianya yang sangat dini seperti kita? Lebih baik kau-"
"Siapa yang ingin berpacaran? Aku mendekatinya karena aku mengagumi dirinya, bukan karena ingin berpacaran! Aku juga cukup tahu diusia kita seharusnya tidak ada kata cinta! Kau ini bicara apa, Yue?" Dengus Aoi, sewot.
"Err-tapi kau menyukainya kan?" Tanya Karin, tersenyum canggung ketika mendapatkan tatapan tajam sang gadis, "Tidak suka ya?" Karin pun menegak ludahnya susah payah. Sedangkan Aoi hanya mendengus sinis.
"Ugh, baiklah. Aku minta maaf, aku pikir kau menyukainya" Gumam Karin, menghela nafas lelah.
"Tapi diusia kita pun banyak yang memiliki perasaan cinta untuk sesama jenisnya" Celetuk Yue yang langsung mendapat jitakan sayang dari Aoi. "I-ittai~" Ringisnya.
"Huh, cinta yang kita miliki diusia seperti kita, hanya cinta monyet. Beberapa tahun kedepan aja aku yakin perasaan itu akan lenyap" Dengus Aoi, sebal.
"Menganggumiku?" Beo Menma, menatap intens Aoi yang sedang memasang wajah ngambek. Entah kenapa Menma merasakan kembali beribu kupu-kupu terbang didalam perutnya, ia tidak mengerti kenapa setiap melihat kearah gadis itu, dadanya bergemuruh tidak karuan. Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Kyuujin diatap tadi memang benar, ia sering memperhatikan Aoi, tapi ia masih belum yakin dengan apa yang ditafsirkan oleh Kyuujin bahwa ia menyukainya. Ia bahkan tidak tahu apa arti kata 'menyukai' yang dimaksud Kyuujin, apa sama seperti ia menyukai soup tomat?
"Apa aku harus bertanya pada Tousan.. Atau Baruto-nii?" Tanyanya, melirik sekali lagi pada sang gadis dipojokkan ruangan.
GLEK
"Lebih baik aku segera kembali kekelas saja" Gumamnya, bergegas menjauhi tempat perkara, dan tanpa disadarinya sepasang manik Emerald menatap punggungnya bingung.
"Menma?" Gumam Aoi, yang ternyata menyadari kedatangan Menma tadi. Ia mengerutkan halisnya penasaran, "Apa ia mendengar pembicaraan kami?" Bisiknya, tersenyum tipis.
"Hei, Aoi! Kita kembali kekelas yuk? Sebentar lagi masuk nih" Ajak Karin berdiri dari duduknya, dan berjalan terlebih dahulu menuju pintu keluar, kedua temannya yang lain, termasuk Aoi pun ikut keluar perpustakaan. Kembali kekelas.
"Hari ini kau mau lembur lagi, Otoutou?" Tanya Itachi merapikan buku, manik Onyxnya melirik sekilas sang adik yang sibuk dengan pekerjaannya.
"Tidak. Aniki duluan saja pulangnya, tinggal sedikit lagi tugasku. Nanti aku menyusul" Jelas Sasuke, mengetik sesuatu diatas keyboard-nya.
"Baiklah, aku duluan ya? Hati-hati dijalan, Otoutou" Peringat Itachi, yang diancungi ibu jari oleh Sasuke.
"Hn, bawel seperti biasa" Gumam Sasuke menggeleng pelan, ia pun kembali berkutat dengan komputer kerjanya. Hari ini entah kenapa banyak klien yang mendatanginya, sejak ia menikah dengan Naruto beberapa tahun yang lalu, Itachi mengajaknya untuk bekerja bersama dirinya menjadi Pengacara. Awalnya ia menolak dan memilih bekerja di Rasengan Mart saja, hanya saja setelah dipikir kembali, ia bisa mempermalukan Naruto jika bekerja disana. Yah, walau Naruto juga kedua orantua mereka tidak mempermasalahkan mengenai pekerjaan apa yang ia lakoni, tetap saja ia merasa sedikit sungkan kepada pria pemilik manik Shappire itu. Jadi, Sasuke pun menerima pekerjaan yang ditawarkan oleh sang kakak kepadanya, pernah satu waktu ketika Sai bercerai dengan mantan istri beberapa tahun silam. Pemuda murah senyum itu mendatangi kantorya, dan meminta salah satu karyawan disana bekerja untuk dirinya mengurusi surat perceraian dan menjadi pengacaranya. Sai yang saat itu tidak mengetahui jika ia bekerja disana, pria itu terlihat tertohok dan langsung mengurungkan niatnya begitu saja ketika melihat dirinyalah yang mendatangi Sai. Ia sendiri sempat tertegun mengetahui itu, akan tetapi ia berusaha bersikap profesional dalam bekerja. Maka dengan berat hati ia mencoba membantu dan bersikap seformal mungkin padanya, tapi dasarnya manusia tidak tahu diri. Sai malah menolak dan meminta yang lain untuk menanganinya, karena tidak ada yang lain lagi, mengingat saat itu tengah terjadi banyak masalah, membuat Sai harus ditangani olehnya dulu. Yang memang hanya ada beberapa klien saat itu. Tapi dengan tidak tahu dirinya pria pucat itu menolak, dan memilih pergi kekantor agensi lain untuk mengurusi surat perceraiannya. Sedikitnya ia beruntung karena dengan begitu ia tidak usah bertatap muka terlalu lama dengan pria penghancur keluarganya, oh tidak-tidak! Sedikit banyak Sasuke merasa bersyukur dan sangat berterima kasih pada pria itu, karena ulah kedua manusia tidak tahu diri itulah ia bisa memiliki keluarga yang sangat sempurna baginya. Memiliki dua anak laki-laki yang sangat cerdas dan lucu, juga memiliki seseorang yang amat membuatnya merasa hidupnya semakin sempurna, yaitu seorang pemuda berparas tampan dan memiliki sikap unik dimatanya. Seorang pria yang membuatnya tidak berhenti mengucapkan rasa syukur kepada Kami-sama. Naruto Namikaze atau yang sekarang bermarga Uchiha. Naruto Uchiha.
Sasuke tertawa kecil mengingat beberapa moment berharga diantara ia dan Naruto, bagaimana Naruto tertawa, marah-marah, bahkan satu moment yang sangat ia sukai diantara semua moment diantara mereka, yaitu moment disaat pria tan itu mendesah dibawah kendalinya. Geliatan seksi juga nyanyian indah sanggup membuat sulit berpaling kepada yang lain.
BRUK
"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan saat ini, akan tetapi bisa tidak kau tidak OOC seperti itu, Sasuke?" Dengus seorang pemuda berambut hitam pekat, menggeleng pelan.
"Hn" Gumam Sasuke, acuh. Ia tidak perduli sekalipun orang-orang akan memandang dirinya gila karena sudah tersenyum tidak jelas, yang ia pikirkan saat ini adalah segera menyelesaikan tugasnya ini, lalu pulang kerumah menemui keluarga kecilnya.
"Aku duluan ya, Uchiha-san!" Pamit seorang gadis berlalu meninggalkan Sasuke yang sibuk menyelesaikan tugasnya.
"Masih lama?" Tanya pria tadi, mengintip sekilas ke layar komputer milik Sasuke, "Cepat juga, padahal tugasmu lebih banyak dariku, Sas" Pria itu berdecak kagum ketika Sasuke sudah menyelesaikan tugas kantornya.
"kau masih lama?" Tanya Sasuke mematikkan komputer kerjanya setelah sebelumnya sudah memindahkan file tersebut kedalam flashdisc miliknya.
"Sudah. Ayo pergi bersama ke basementnya" Ajak sang pria meraih kunci mobil yang tergeletak didalam laci meja kerjanya.
"Hn" Sasuke pun mengikuti sang pria itu dibelakang.
"Yo! Sampai ketemu besok, Sasuke!" Pamit pria tadi melambaikan tangannya dan setelahnya mobil sedan itu pun berlalu meninggalkan Sasuke yang sedang menyalakan mobilnya.
"Kadang aku bingung kenapa ia mau repot-repot menungguku pulang? Dasar Taka" Gumamnya, mulai melajukan mobil miliknya menjauhi kawasan tersebut. Dalam hati ia berniat ingin pergi ke salah satu toko kue untuk membelikan cake cokelat yang ia janjikan pada Menma dan cake orange untuk Baruto, ia baru ingat jika kemarin malam ia berjanji akan membelikan mereka cake kesukaan mereka. Maka Sasuke pun membanting setir kekiri ketika matanya menangkap toko kue langganannya sudah terlihat didepan mata. Secepatnya ia pun keluar dari mobil dan bergegas memesan cake yang ia inginkan.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya sang pelayan, begitu Sasuke mendatangi meja resepsionis.
"Aku ingin pesan dua cake orange dan satu cake cokelat ya?" Ujar Sasuke, yang diangguki mengerti oleh sang pelayan.
"Baiklah mohon tunggu sebentar" Kata sang pelayan, menyiapkan pesanan yang dipesan sang pelanggan.
Manik Onyxnya melirik kursi tunggu yang sudah berada sesosok perempuan memakai dress pendek dengan sebuah topi pantai disurai.. Pink? Entah kenapa ia merasa tidak asing dengan warna rambut juga perawakan tubuh wanita itu.
"Sakura-san? Ini pesanan anda" Sasuke segera membalikkan badannya begitu sang wanita yang ternyata mantan istrinya itu berjalan kearahnya, atau lebih tepatnya menghampiri meja resepsionis untuk mengambil pesanan kuenya.
"Terima kasih" Ujar Sakura, lalu ia menghentikan gerakannya begitu melihat perawakan seorang pria disampingnya terasa tidak asing baginya. "Sa.. suke?" Tanyanya, ragu.
DEGH
Seolah tersengat jutaan voltase listrik yang mengenai tubuhnya, Sasuke sedikit terlonjak ketika Sakura mengenali dirinya. Mengembalikan sikap dingin dan acuhnya, Sasuke berusaha terlihat seperti biasa dan menatap datar sang wanita disampingnya.
"Emm-gimana kabarmu, Sasuke-kun?" Tanya Sakura, sedikit menundukkan wajah memerahnya.
"Baik" Jawab Sasuke acuh.
"Syukurlah kalau begitu" Sakura tersenyum tipis, "Kau sama sekali tidak berubah ya?" Katanya, yang dibalas kerlingan bosan sang Uchiha.
"Maaf ini pesanan anda, Tuan" Intruksi seorang pelayan memberikan tiga buah dus cake yang ia pesan tadi. Dalam hati Sasuke sangat mensyukuri datangnya sang pelayan, dengan begitu ia tidak usah bertatap muka terlalu lama dengannya.
"Hn, terima kasih" Ucapnya memberikan beberapa lembar uang kepada sang pelayan, dan berlalu meninggalkan Sakura yang terlihat mengekor dibelakangnya. Acuh dan tidak perduli. Itulah yang Sasuke lakukan, seolah tidak mengenali wanita dibelakangnya, ia terus berjalan menuju mobilnya yang terparkir cantik diparkiran. Namun baru saja ia hendak memasuki mobil, sebuah tangan yang amat dikenalnya mencengkram lembut pergelangan tangannya.
"Sasuke-kun" Panggil Sakura, menatap sendu punggung tegap didepannya. "Aku minta maaf atas perbuatanku beberapa tahun lalu" Lirihnya, menggigit bibir bawahnya. Genangan air mata terlihat memenuhi kelopak matanya, "Sasuke-kun?"
SRETT
Tanpa memperdulikan Sakura, ia menyingkirkan tangan itu darinya. "Sebaiknya kau simpan kata maafmu untuk dirimu sendiri, Shimura-san. Karena aku tidak yakin bisa memaafkan dirimu dengan tulus" Sakura tidak tahan membelalakkan kedua matanya, genangan air mata yang sedari tadi ia tampung mengalir dengan deras membasahi kedua pipinya.
"S-sasuke-"
"Kau sudah terlalu banyak menorehkan luka dihatiku, dan aku mohon, berhenti menganggu hidupku. Aku sudah cukup bahagia hidup dengan Naruto" Terangnya, memasuki mobil dan melajukannya meninggalkan Sakura yang terduduk lemas diatas lantai.
"Hiks S-sasuke-kun A-aku sungguh-sungguh mencintaimu" Bisiknya, pelan. Kedua tangannya mencengkram sebelah dada kirinya yang terasa sesak. Tapi sayangnya pria raven itu tidak akan kembali untuk bersuka-ria mengulurkan tangannya dan menghapuskan air matanya.
Malam ini bintang terlihat sangat indah, kelap-kelipnya sangat terlihat terang menghiasi langitnya malam yang pekat. Dengan ditemani bulan sabit, langit malam ini semakin indah untuk dipandang.
Diatas sebuah balkon kamar dilantai dua, terlihat sesosok remaja berambut blonde, sepasang manik Shappire itu menatap lekat kearah langit malam. Sebelah tangannya yang menenteng secangkir cokelat panas, satu jari tangan kanannya sibuk melingkar-lingkar dipinggiran cangkiri tersebut. Sepasang Shappirenya menerawang jauh kedepan.
Ceklek
"Baruto-nii!" Panggil bocah raven berlari memasuki kamar sang kakak, dan langsung mendekatinya ketika melihat sang kakak tengah terduduk dibalkon kamar. "Baruto-nii" Panggilnya lagi, disaat tidak mendengar sahutan. Menma sedikit memajukan bibirnya sebal. "A-"
"Ada apa, Menma?" Potong Baruto mengalihkan pandangannya untuk menatap sang adik yang kini mendudukkan dirinya didepannya.
"Dipanggil Tousan!" Lapor Menma, mengambil cokelat panas Baruto, lalu meminumnya. "Ukh,sudah dingin" Gumamnya, "Jangan katakan sedari tadi Baruto-nii sibuk melamun" Baruto mengerutkan halisnya, seolah bertanya 'Dari mana kau tahu?'
Menma menujuk cangkir milik Baruto menggunakan dagunya, "Minumannya masih penuh" Jawabnya, lalu menarik tangan sang kakak. "Ayo kebawah! Tousan punya permainan untuk kita"
"Apa papa sudah pulang?" Tanya Baruto seraya berdiri mengikuti sang adik yang masih betah menggandeng tangannya, tanpa canggung ia pun merangkul pundak sang adik, sayang.
"Belum" Menma menggelengkan kepalanya, "Sepertinya Papa lembur lagi deh" Ucapnya, merangkul pinggang sang kakak manja. Sikap yang hanya ia lakukan dilingkungan keluarganya, bahkan bisa dipastikan jika salah satu temannya melihat sikapnya ini, bisa terserang penyakit jantung karena selama ini ia selalu bersikap dingin dan acuh didepan yang lain.
"Begitu" Baruto hanya mengangguk pelan, dan mereka pun langsung disambut senyuman riang dari seorang pria berambut blonde diruang keluarga. "Permainan apa yang ingin Tousan tunjukkan?" Tanyanya, mendudukkan diri diatas karpet berbulu dekat Naruto, diikuti Menma yang mendudukkan diri tidak jauh darinya.
"Truth or dare" Jawab Naruto kalem, membuat kedua anaknya mengerutkan halis.
"Truth or dare? Jujur berani maksudnya?" Tanya Baruto, mengerlingkan mata ketika mendapat anggukkan dari Naruto , "Aku tidak ikutan deh" Lanjutnya, sontak mendapat tatapan tajam dari sang Ayah.
"Kau harus ikutan, dan kau juga, Menma" Tuntut Naruto, ketika putra bungsunya juga ingin menyela.
"Apa tidak ada permainan lain, Tousan? Misalnya semacam-"
"Tidak ada" Potong Naruto cepat, ketika Menma memberikan usulan padanya.
"Wah~ tumben kumpul" Intruksi Deidara, kedua tangannya menenteng sebuah nampan yang berisi beberapa macam cemilan yang sengaja ia bawa.
"Apa kau mau ikut bermain, Dei-nee?" Tanya Naruto, yang langsung mendapat anggukkan setuju sang kakak ipar. "Yosh! Kalau begitu permainan akan semakin seru!" Serunya, semangat.
"Tadaima!" Tiba-tiba suara teriakan yang sangat tidak asing, kembali mengintruksi Naruto yang akan memulai permainan.
"Okaeri, Danna" Sambut Deidara, menghampiri sang suami.
"Eh? Ada apa ini? Tumben kumpul disini" Tanya Itachi ikut mendudukkan diri begitu Deidara mengajaknya duduk diatas karpet.
"Naruto akan memulai permainan, kau ikutan ya, Danna?" Ajak sang istri manja, walau Itachi merasa lelah dan ingin beristirahat, ia tidak menolak permintaan sang istri tercinta. Apalagi jika mengingat sang istri yang saat ini tengah mengandung diusia empat bulan, membuatnya tidak bisa menolak permintaan tersebut. Siapa tahu ini keinginan sang jabang bayinya?
"Tentu saja, kalau boleh tahu permainan apa?" Tanyanya, menyuarakan rasa penasarannya.
"Truth or dare, paman" Desah Menma, sedikit manyun.
"Hahahah kenapa wajahmu ditekuk seperti itu, Menma?" Tawa Itachi mengacak surai raven keponakannya sayang.
"Kami ingin permainan yang lebih manusiawi" Sahut Baruto disambut delikan tajam sang Ayah.
"Apa permainan ini tidak manusiawi, Huh?" Komentar Naruto galak.
"Sudah sudah, ayo kita mulai permainannya" Lerai Deidara, ketika Baruto dan Naruto akan memulai adu mulut. Membuat Naruto menyeringai penuh kemenangan.
"Baiklah, kita gunakan botol ini ya?" Kata Naruto, meletakkan sebuah botol ditengah-tengah mereka yang membuat formasi melingkar. "Oke kita mulai" Dan ia pun mulai menggerakkan botol tersebut. Dengan gerakan cepat botol itu memutar hingga akhirnya ujung botol tersebut berhenti tepat mengarah ke Deidara, "Truth or dare, Nee-chan?" Tanya Naruto semangat. Dalam pikirannya ia sudah menyiapkan beberapa hal yang akan ia keluarkan untuk sang kakak ipar.
"Dare, un!" Jawab Deidara, pasti. Sontak membuat Naruto tersenyum skeptis.
"Kelitikin Itachi-nii sampai tertawa keras" Titahnya, membuat Itachi membelalakkan matanya horror.
"Hohoho dengan senang hati~" Menma, Barutodan Itachi menatap horror keduanya.
"E-err entah kenapa saat ini perutku t-terasa mulas" Alasan Itachi, mulai mengambil ancang pergi, namun dengan cepat Deidara menahan tangannya. Dengan jurus ampuh wanita berasal Iwagakure itu menatap sulung Uchiha merajuk.
"Danna~" Rajuknya, berkaca-kaca.
GLEK
"U-ugh! Astaga" Gumam Itachi salah tingkah, sedangkan Naruto hanya tertawa setan dalam hati. Sedikit mendelik tajam kearah sang adik ipar, ia pun menganggukkan kepala pelan. Deidara menyeringai senang, dengan penuh suka cita mulai malayangkan aksinya. Awalnya Itachi bisa menahan serangan sang istri, akan tetapi terlalu lama diklitiki pinggangnya terasa geli juga.
"H-hahahaha a-astaga! S-sudah, Dei" Ucap Itachi, masih menahan emosinya untuk tidak tertawa terpingkal-pingkal. Sungguh! Ini terlalu menggelikan baginya, alhasil ia pun tertawa keras, seraya berusaha tidak mendorong sang istri untuk berhenti dan menjauhi.
"Astaga" Desah Baruto dan Menma bersamaan, menepuk jidatnya.
"Heheh enak gak Danna" Tanya Deidara menghentikan aksinya. Dengan tanpa dosa ia menatap sang suami yang sibuk menetralkan deru nafasnya.
"Oke dilanjut darimu, Dei-nee" Intruksi Naruto, menatap nanar Itachi yang terlihat berantakan.
"Awas kau ya, Naruto" Desis Itachi setengah bercanda.
"Oke aku mulai!" Dengan semangat Deidara memutar botol tersebut, dan berhenti secara perlahan tepat didepan Menma. "Truth or dare, Menma?"
"Err-truth saja" Cengir sang bocah ragu, ia tidak mau bernasib sama seperti pamannya.
"Baiklah, jawab yang jujur ya" Ujar Deidara yang diangguki sang bocah, "Berikan kami nilai atas sikap kami kepadamu" Katanya, membuat Menma mengerutkan halisnya.
"Nilai?" Beonya, yang lain sontak menatap penasaran pada Menma. Sepertinya mereka juga ingin mengetahuinya.
"Ya, berapa nilai kebaikan kami menurutmu, juga lainnya" Deidara menggidikkan bahu acuh.
"Err-baiklah" Setuju Menma menganggukkan kepala, "Untuk Tousan aku memberi nilai 95% baik dan penuh perhatian, 5% nya menyebalkan-" Naruto mendelik tajam, tidak terima. Menma hanya nyengir kaku melihat tatapan tajam sang Tousan, "-lalu untuk Papa 100% baik hehehe. Baruto-nii sama dengan Tousan, 95% baik dan sayang tapi 5%nya kadang menyebalkan"
"Huh? Menyebalkan apanya, Otoutou?" Tanya Baruto, menjitak kepala sang adik yang meringis sakit.
"Ittai~ huh! Menyebalkan kalau Aniki sudah bergelut dengan bola kesayanganmu, aku pasti diterlantarkan" Gerutu Menma, manyun.
"Hoo~ begitu ya" Baruto menyeringai kecil, "Tapi setidaknya aku masih mau menyempatkan diri untuk mengajakmu bermain, sedangkan kau jika sudah bertemu dengan buku favoritemu, sama sekali tidak melihat keadaan sampai-sampai aku diacuhkan" Terang sang kakak, membela diri.
"Tapi-"
"Shut up! Ayo dilanjut berapa nilai untuk bibi dan pamanmu" Potong Naruto mulai jengkel.
"Oh oke, Dei-nee 100% baik dan sayang-" Lanjut Menma mendapat pelukan maut ala Deidara yang senang, "-sedangkan Itachi-nii sama seperti Tousan juga Baruto-nii" Katanya, menjulurkan lidahnya saat Itachi memanyunkan bibirnya berpura-pura marah.
"Apa aku seperti itu?" Rajuk Itachi, membuat yang lain sweatdroop.
"Sudah-sudah ayo dilanjut, Menma putar botolnya. Abaikan saja pamanmu" Ucap Deidara acuh, yang mau tak mau membuat Menma melanjutkan permainan. Segera saja bocah tersebut memutar botol yang ternyata berhenti tepat kearah Itachi.
"Truth or dare,Paman?" Tanya Menma, ragu.
"Dare" Jawab Itachi, mantap.
"Oke,habiskan ini dalam waktu 30 detik" Tanpa ragu bocah berambut raven itu memberikan sebotol minuman bersoda miliknya yang baru ia ambil dari dalam kulkas, yang berarti minuman ini sangat dingin dan sedikitnya jarang ada orang yang bisa menghabis minuman dingin bersoda dalam waktu 30 detik.
"Oke. Kalau aku bisa menghabiskannya, kamu pijat punggung paman ya?" Kata Itachi membuat Menma manyun tidak terima.
"Tidak mau! Ini kan permainan paman~" Rajuknya, menatap melas sang bibi.
"Danna!" Tegor Deidara, melotot tajam kearah Itachi. Lagi-lagi Baruto dan Naruto menepuk jidatnya, sweatdroop.
"Baiklah baiklah" Gumam Itachi meraih sebotol minuman bersoda itu, ia pun mulai membuka tutup botol yang masih tersegel dan menempatkannya didepan kedua belah bibirnya.
"Oke dimulai dari sekarang!" Seru Menma, melihat jam ditangannya. Mencoba memastikan jika sang paman tidak melebihi waktu yang ia berikan. Menma melongo tidak percaya ketika Itachi sanggup menghabiskan minuman bersoda miliknya dalam waktu kurang dari 20 detik. Tidak hanya Menma yang tertegun, Baruto, Naruto dan Deidara pun tidak menyangka jika Itachi mampu menghabiskannya secepat itu.
"Apa kau sehaus itu?" Tanya Deidara baru ingat jika suaminya belum diberi minum sejak pulang tadi, pantas saja Itachi mampu menghabiskannya secepat itu.
"Hahh, terima kasih lho Menma rasa haus paman akhirnya hilang" Kata Itachi menyeringai kecil, sedangkan Menma malah manyun tidak terima.
"Ukh, aku salah kasih tantangan" Gumam sang bocah, kecewa. Baruto menepuk bahunya pelan, mencoba menenangkan sang adik.
"Tenang Menma, masih ada waktu untuk memberikan paman Itachi tantangan yang sulit" Bisik Baruto, yang ditanggapi anggukkan penuh yakin dari Menma. "Nah, ayo dilanjut paman" Sambungnya pada Itachi.
"Oh? Aku ya? Baiklah" Tanpa sungkan sulung Uchiha mulai memutar botol tersebut dan bergerak lambat menuju kearah pria pirang, sontak Itachi menyeringai penuh dendam pada Naruto yang mulai memasang siaga satu.
"A-apa?" Naruto meneguk ludahnya susah, "A-aku pilih truth saja" Jawabnya langsung, membuat Itachi merenggut tidak senang.
"Kau curang, Otoutou! Kenapa tidak memilih dare saja?" Tegurnya, menatap bosan Naruto.
"Karena aku sudah tahu niat tidak baikmu, Itachi-nii" Jelas Naruto, acuh. "Ayo berikan pertanyaan untukku" Ucapnya, membuat Itachi merenggut tak senang.
"Baiklah, tunggu sebentar" Itachi pun nampak berpikir keras, pertanyaan apa ya yang bisa sebanding dengan tindakannya tadi. Haduh~ ia tidak mempunyai pertanyaan bagus, disaat ia mulai merasa lelah. "Hahh, kali ini kau boleh lolos dariku, Naruto" Desahnya, menyerah. "Dimana letak 'tato' kesukaan mu?"
"Huh?" Naruto mengerjapkan kedua matanya, tidak mengerti. Begitu pun kedua anak dan kakak iparnya, bereaksi sama sepertinya.
"Dimana letak 'tato' yang kau sukai jika Sasuke mentato-mu" Jelas Itachi, sontak membuat Naruto membelalakkan kedua matanya dengan wajah yang memerah.
"Err-a-apa tidak ada pertanyaan lain?" Tanya sang blonde, menundukkan wajahnya, menghindari kedua anaknya untuk tidak menatap dirinya.
"Tato?" Beo Menma, "Memang Papa suka mentato Tousan ya?" Pertanyaan sang bocah menjadi tamparan keras untuk Itachi tersadar atas pertanyaan tak senonohnya, lekas saja Deidara menjitak dan mencubit sang suami yang begitu bodoh berkata seperti itu.
"A-auh~ err-kita ganti pertanyaan" Ringis Itachi, mengusap kepalanya sakit. Naruto tanpa sadar bernafas lega, namun disisi lain ia meruntuki sikap Itachi yang terkesan tidak sopan baginya.
"Bodoh! Sudah Menma, lupakan pertanyaan bodoh pamanmu ini" Ujar Deidara, mendelik tajam kearah Itachi.
"Hahh, mendokusei" Desah Baruto.
"Err-apa makanan favoritemu selain ramen" Tanya Itachi putus asa.
"Err-steak daging" Jawab Naruto singkat, menggaruk kepalanya yang tak gatal. "O-oke sekarang giliranku kan?" Tanyanya namun karena hanya tinggal Baruto seorang, Naruto tidak memakai botol sebagai petunjuk untuknya. "Kau yang terakhir kan, Baruto?" Tanyanya memastikan. Baruto hanya mengangguk pelan.
"Iya, Tousan. Dan aku pilih truth saja" Gumam Baruto tanpa sadar sudah membuat Naruto menyeringai senang.
"Baiklah, Tousan harap kau mau menjawab pertanyaan ini dengan jujur" Katanya, yang lagi-lagi diangguki mengerti sang anak. "Apa kau pernah menjalin hubungan dengan seseorang? Kalau boleh tahu siapa nama gadis itu? Dan berapa lama kalian berhubungan" Tanyanya beruntun, menatap penuh intimidasi Baruto yang menatapnya canggung.
"A-aku tidak pernah-"
"Jawab yang jujur, sayang~" Potong Naruto, tersenyum berbahaya.
GLEK
"U-ugh! A-aku.. Err-ya aku.. Pernah menjalin hubungan dengan seorang anak SMP bernama Sarada, dan itu.. H-hanya berjalan selama d-dua bulan" Jelas Baruto, meruntuki pertanyaan sang Ayah kepadanya.
"A-apa?" Sebuah suara lain tiba-tiba menyahut terlebih dahulu sebelum yang lain-kecuali Naruto-bertanya kaget.
"P-papa?" Kaget Baruto, mengetahui jika Sasuke mendengar ucapannya.
"Kau pernah menjalin hubungan dengan gadis bernama Sarada?" Tanya Sasuke memastikan pendengarannya.
"U-ugh! Y-ya" Baruto mengangguk canggung, tidak mengetahui jika ia sudah membuat ketiga pria dewasa plus satu orang wanita terhenyak marah.
"Jadi apa yang dikatakan Shikamaru benar" Kata Naruto, mendesis. "Tousan peringatkan padamu jangan sekalipun kamu berhubungan lagi dengannya, mengerti? Juga kau Sasuke!" Ketusnya, membuat Sasuke tersentak kaget.
"A-aku?" Beo Sasuke, menelan ludahnya susah payah.
"T-tapi kenapa Tou-"
"Pokoknya Tousan tidak mau kau membantah ucapan Tousan! Jika Tousan mendengar bahwa kau dekat-dekat lagi dengannya, Tousan pastikan kau tinggal kembali bersama Jiisan dan Baasan di Kirigakure!" Seru Naruto tidak bermain-main.
"Iya tapi kenapa Tousan? Apa Tousan mengenali keluarganya?" Tanya Baruto, menatap nanar Naruto yang mendelik marah kepadanya, Menma yang duduk disampingnya hanya mampu mengusap pelan bahu Baruto. Mencoba menenangkan sang kakak untuk tidak terbawa emosi.
"Apapun itu, yang jelas kau ikuti saja keinginan Tousanmu" Sela Itachi, mencengkram lembut bahu Baruto.
"T-tapi-" Baruto mengepalkan kedua tangannya, begitu melihat Naruto berlalu begitu saja.
"Papa harap kau melakukan apa dikatakan Tousanmu" Lanjut Sasuke, yang berlalu mengikuti Naruto.
"Sebenarnya ada apa sih" Gumamnya, membuat Itachi dan Deidara menghela nafas.
"Kaasan Sarada sebenarnya-"
"Dei" Potong Itachi menggelengkan kepala, melarang sang istri untuk menceritakan pengalaman kelam Sasuke.
"Tapi mereka berhak mengetahuinya, Danna!" Ujar Deidara.
"Tolong ceritakan, Bibi, paman. Aku ingin tahu alasannya" Lirih Baruto, menatap melas sepasang suami istri itu.
"Tolong jelaskan pada Baruto-nii, siapa tahu dengan begitu Baruto-nii menjadi mengerti dan mengikuti keinginan Tousan" Pinta Menma, merasa kasihan pada sang kakak yang terlihat kalut.
"Baiklah" Desah Itachi, mulai menceritakan siapa keluarga mantan kekasihnya itu. Baruto hanya menggeleng tidak percaya mendengarnya.
"A-apa? Jadi seperti itu" Gumam Baruto, merasa prihatin pada nasib sang Papa.
"Naruto" Panggil Sasuke, menghampiri sesosok pria yang tengah terduduk dipinggir tempat tidur, menghadap keluar jendela.
"Entah kenapa aku merasa sesak" Lirih Naruto, mencengkram kuat dadanya, "Aku tidak akan membiarkan gadis itu mendekati putraku" Sasuke tertegun mendengar nada dingin keluar dari mulut Naruto. Tanpa bersuara ia mengulurkan tangannya, dan mendekap tubuh Naruto erat.
"Aku juga tidak akan membiarkan itu terjadi" Bisiknya, mengecup penuh sayang puncak kepala Naruto. Bisa ia rasakan sebuah telapak tangan mendarat didadanya, lalu mencengkramnya erat.
"Aku membencinya,Sasuke" Bisik Naruto, "Aku membencinya"
"Aku tahu, Dobe" Sasuke menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak menyukai sikap menjijikkannya, dan aku tidak mau Baruto sampai mengalami hal yang sama sepertimu" Lanjut Naruto, Sasuke hanya memejamkan mata ketika sekelebat bayangan beberapa tahun silam kembali menghantui pikirannya, "Aku tidak mau itu terjadi padanya, pada anak kita"
"Hn, aku mengerti perasaanmu Naruto. Hanya saja jangan terlalu keras pada Baruto, dia tidak mengetahui apapun" Ucap Sasuke perlahan, "Kau tidak melihat ekspresi wajahnya? Sekarang masa dimana untuknya mengalami pubertas"
"Aku tahu itu, hanya saja aku tidak akan membiarkan itu terjadi begitu saja jika ia menjatuhkan hatinya pada gadis itu" Dengus Naruto jijik.
"Hn, ya sudah. Lebih baik sekarang kau istirahat, aku mau memberikan cake ini untuk Baruto juga Menma, juga untuk Dei-nee" Setelah melayangkan kecupan sayang pada kening Naruto, Sasuke segera berlalu meninggalkan Naruto yang tengah menatap punggungnya nanar.
"Aku tidak mau kau jatuh kembali kedalam pelukannya, Sasuke" Bisiknya merebahkan diri diatas tempat tidur, kedua matanya merawang jauh kelangit-langit kamarnya. "Apa memang aku terlalu keras pada Baruto?" Gumamnya, kembali mengingat ekspresi putra sulungnya yang terhenyak kaget dan sedih disaat bersamaan.
"Tapi aku tidak mau Baruto sampai mengalami apa yang dialami Sasuke" Bisiknya, menggigit bibir bawahnya keras, ia pun mengambil posisi tidur yang nyaman, dan memutuskan untuk tidur. Pikirannya saat ini kacau karena mendengar berita yangTop of Form tidak mengenakan untuk dirinya, dan ia memilih untuk mengistirahatkan pikiran serta tubuhnya. Semoga saja dengan begini besok ia akan merasa baikkan.
.
"Baruto-nii" Panggil Menma menatap sendu sang kakak, "Apa kakak masih memikirkan perkataan Tousan?" Tanyanya, pelan.
"Tidak. Aniki sedang memikirkan cerita tentang Papa" Gumam Baruto, menenggelamkan kepalanya dibalik selimut tebalnya.
"Hm~ benar juga. Aku tidak menyangka Papa memiliki pengalaman masa lalu yang buruk" Menma menggeleng prihatin sebelah tangan kanannya meraih selimut sang kakak. "Aniki" Panggilnya pelan.
"Hm? Sudah malam, Otoutou. Kau tidurlah" Gumam Baruto, enggan membuka selimutnya. Tapi sepertinya sang adik tidak akan membiarkan sang kakak tidur, jika ia belum bisa berbicara puas dengannya.
"Aniki! Ukh, aku mau bertanya beberapa hal nih" Gerutunya, manyun. Kedua tangannya mulai mengguncang tubuh sang kakak kasar, "Aniki~"
Baruto menghela nafas panjang, ia pun mulai membuka selimut yang tadi menutupi wajahnya. "Tanya apa Otoutou? Memangnya tidak bisa besok ya? Aniki ngantuk nih" Baruto menguap lebar, kedua matanya menatap ngantuk sang adik yang tengah menggeleng kuat.
"Tidak bisa!" Katanya tegas, "Sebab.. Aku mulai diliputi perasaan tidak nyaman" Lanjutnya setengah berbisik. Baruto mengangkat sebelah halisnya tinggi, merasa ada sesuatu yang sedang terjadi pada adiknya ini.
"Ya udah, apa yang ingin kau tanyakan?" Ucapnya mulai mendudukkan diri seraya menyandarkan diri kekepala ranjang.
"Err-aku sendiri merasa tidak yakin dengan apa yang terjadi denganku, hanya saja aku.. Setiap aku melihat teman perempuanku.. A-aku merasa jantungku selalu berdegup kencang tiap kali melihat kearahnya.. A-aku-"
"Ah~ seperti itu rupanya" Tiba-tiba Baruto tertawa ketika mendengar penjelasan sang adik bungsunya yang ternyata sudah mengalami cinta pertama, "Wah~ tidak aku sangka ternyata adikku sudah sebesar ini ya?" Kekehnya, yang dihadiahi pukulan pada bahunya dari sang adik.
"Apa sih! Aku serius Aniki! Kenapa malah ketawa?" Sungut Menma, marah. Kedua tangannya ia lipat didepan dada, dengan bibirnya sedikit ia majukan kedepan.
"Oke oke, kamu mengalami itu hanya pada satu teman wanitamu, atau semua wanita?" Tanya Baruto mulai serius.
"Err-satu orang, Aniki" Bisik Menma, menggigit bibir bawahnya.
"Hahhh, begitu" Terlihat Baruto mengangguk-anggukkan kepala pelan, "Kau mengalami cinta pertama. Ckck aku tidak menyangka kau secepat itu mengalami perasaan jatuh cinta diumurmu yang sangat dini" Dengusnya, setengah menggerutu.
"E-eh? C-cinta? Maksud Aniki aku.." Menma tidak sanggup melanjutkan ucapannya ketika melihat sang kakak menganggukkan kepalanya kembali, membenarkan ucapannya.
BLUSH
Langsung saja wajah sang bocah yang selalu memasang ekspresi dingin itu, tidak sanggup untuk tidak memerahkan wajah imutnya. Baruto yang melihat kelakuan sang adik hanya tertawa kecil, dalam hati ia merasa heran sekaligus lucu pada adik bungsunya ini. Ia bahkan baru bisa 'bertemu' dengan perasaan cinta ketika ia baru menginjak kelas 1 SMA, dan adiknya diumur 8 tahun sudah merasakan perasaan yang seharusnya sangat 'tabu' bagi kebanyakan anak diusianya yang dini.
'Hahh, jaman sekarang ternyata semakin tidak bisa dimengerti olehnya' Pikir Baruto, memijat pangkal hidungnya.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu membuat kedua bocah yang sibuk berbicara 'serius' itu, menatap penasaran pada siapa yang mendatangi kamarnya.
"Otoutou bukakan pintu-Papa?" Belum sempat menyelesaikan ucapannya, pintu itu terbuka oleh seorang pria dewasa raven yang tengah tersenyum kearah dirinya juga sang adik.
"Kalian belum tidur? Bukankah besok harus berangkat sekolah?" Tanya pria tersebut, mulai berjalan memasuki kamar Baruto.
"E-eh uh err-kami baru saja akan tidur, Papa" Sahut Menma, tersenyum canggung. Sasuke hanya tersenyum tipis menanggapinya, ia pun tanpa sungkan mendudukkan diri disamping Menma seraya sebelah tangannya yang menenteng sebuah kantung plastik diletakkan diantara Menma dan Baruto.
"Untuk kalian" Katanya, singkat. Membuat kedua anaknya menatap kaget bingkisan tersebut.
"Eh? Untuk kami?" Beo Baruto mulai mengintip bingkisan tersebut. "Uwah~ cake kesukaanku!" Pekiknya girang ketika manik Shappirenya menangkap sekotak kue kesukaannya.
"Eh? Cake jeruk maksudnya?" Dengan cepat sang adik menyambar bingkisan tersebut. "YEYYY AKU JUGA DIBELIKAN!" Teriaknya, girang langsung melayangkan pelukan maut pada Sasuke yang hanya tertawa kecil menanggapinya. "Arigatou Papa!" Ucapnya, senang.
"Sama-sama. Dengan begitu janji papa sudah lunas ya?" Kata Sasuke, balas memeluk putra bungsunya.
"Eh? Janji? Ah, benar juga" Baruto menepukkan tangannya, ketika baru mengingat kemarin malam Ayahnya berjanji pada mereka akan membelikan cake kesukaan mereka. "Um! Janji Papa sudah lunas" Angguknya, seraya mulai menikmati cake pemberian sang ayah.
"Ya sudah jika sudah selesai makan, jangan lupa untuk menggosok gigi dan langsung tidur, mengerti?" Ujarnya, mengecup kening masing-masing kedua putranya. "Kalau begitu, Papa mau kekamar, mau beristirahat" Pamitnya berlalu meninggalkan kedua anaknya yang sibuk menikmati cake pemberiannya. Bibir tipisnya tidak berhenti mengukir senyuman pada kedua putranya itu. Melayangkan sekali lagi pada kedua putranya, ia pun menutup pintu tersebut, dan berlalu kembali kekamar. Sesampainya disana ia sambut oleh suara dengkuran halus dari seorang pria yang amat ia sayangi, lagi-lagi bibirnya mengukir senyuman melihat wajah damai Naruto. Perlahan ia mendekati sosok tersebut, sebelah tangannya terulur dan menyentuh kening tan itu, dalam hati ia merasa sangat bersyukur dapat memiliki pria blonde ini. Baginya ini merupakan kebahagian yang tiada duanya. Dengan penuh sayang ia kecup kening tersebut, dan mulai merebahkan diri disamping tumbuh Naruto, perlahan ia mulai melingkarkan sebelah tangannya mendekap tubuh mungil Naruto.
"Selamanya aku akan tetap mencintaimu, apapun rintangan yang sudah kita lalui bersama, terbayar oleh kehabagian yang kini aku dapatkan. Terima kasih, Dobe. I love you" Bisiknya mengecup lembut pipi Naruto, dan mulai memejamkan kedua matanya. Bersiap menjalani hari esok yang lebih menyenangkan bersama keluarga kecilnya.
.
.
.
_ END _
Krik
Krik
Krik
Krik
GYAHHHHH
Astaga astaga astaga!
*jedukin kepala ketembok*
aku minta maaf buat endingnya..
sebenarnya ini JAUH dari plot akhir yang aku buat, serius deh T^T
tapi karena ada beberapa kendala, jdinya aku tidak bisa melanjutkan ff ini sampai akhir dan tepat waktu!
dan untuk menghargai keputusan para panitia acara OP2 akhirnya dengan segala kekurangan dalam persyaratan yang sudah dibuat, dengan nekat aku memutuskan ff ini berakhir sampai disini!
Jejejejejejenggggggg!
*dilempar bakiak
Tapi tenang saja minna *kibas2 poni orochimaru/dor
aku akan tetap MELANJUTKAN ff ini, cuma dalam bentuk SEQUEL!
oke deh, tapi aku gak janji bakal publish dalam waktu cepat, karena aku ada bberapa urusan yang harus aku lakuin skrang *gaknanya!
oke deh, sekali lagi aku minta maaf buat para panitia, aku udah lancang ikutan acara OP2 *bungkuk2
akhir kata sekian dan terima kasih!
*pulang naik getek
Bottom of Form
