Hi Minna….

Akhirnya chap 4 keluar juga nih, hehehe… sebelumnya aku mau ucapin makasih banget buat yang udah baca fic abalku ini ya.

Clein cassie: hehehe.. iya nih akhirnya, duh cepet tau Sasu soal Ryuu ya? Kayaknya sih mau d buat gt, pokoknya ikutin terus ya..

Rosanaru: pertanyaannya lumayan banyak, tp mending ikutin terus ya biar terjawab semua pertanyaannya! Hehehe… kali ini udah update, entah masuk k asap apa gak nih. Tetep ripiew ya…

ryu cassie: oke deh, ntar d buat Sasu menderita dikit deh. Pokoknya terus ripiew ya..

Imperiale Nazwa-chan: hi juga, soal Hikari ntar juga terkuat kok! Maunya Hikari anak siapa neh? Hehehe.. ya yang pasti terus ikutin aza ya.

ttixz bebe: yak an Naru nya mikir2 dulu, hehehe. Iya nih update, terus ripiew dan kasih saran2 nya ya..

laven agrava gaciall 134: makasih ya udah suka, iya tenang aza. Kan SasuNaru jd pastinya Sasu ama Naru deh, hehehe.

Sabaku 'Mizu' Akumu: kurang panjang? Aih.. mudah2an yg skrg panjang ya. Iya gpp, tp terus ripiew ya kedepannya. Soal SasuNaru ama Ryuu? Tenang aku juga pengen cepet2 mereka bareng kok! Xixixi… pokoknya terus baca dan ripiew ya..

diitactorlove: hihhi..aku deh, pokoknya udah update nih. Ditunggu ripiew nya ya

Sekali lagi, makasih banget buat yang udah ripiew fic ku ini. Juga yang udah baca namun tak meninggalkan jejak aku ucapin makasih ya!

Gak mau panjang-panjang ah, pokoknya ditunggu saran2 dan kritiknya ya! Makasih semuanya!

'Met baca ya! *mudah2an gak mengecewakan banget ya! Amin deh!*

..

.

"Katakan padaku Naruto, Ryuu itu anakku kan? Jawab pertanyaanku!" Tak pernah sekalipun aku melihat sorot mata Sasuke yang seperti sekarang ini. Ada kilatan kemarahan di matanya, tapi entah kenapa aku merasa ada luka disana. Melihatnya, sama sakitnya dengan aku mengiris tanganku sendiri. Sakit, perih, itu yang kurasakan sekarang.

"Aku.. Ryuu itu…."

..

.

KEAJAIBAN ITU ADA

Pairing: SasuNaru

Slight SasuSaku

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Rate: M

Warning: Gaje, OOC, miss typo, Boys love etc

..

.

GAK SUKA?

TEKAN TOMBOL "BACK"

..

.

SUKA?

'MET BACA YA

..

.

"Kamu baik-baik saja Naruto?" Temari menegur Naruto yang sejak tadi hanya duduk terdiam. Sejak kembali dari rapat, Naruto terlihat sangat aneh. Meskipun baru sebentar mengenalnya, tapi Temari merasa Naruto bukanlah orang yang pendiam. Bahkan, dimatanya Naruto orang yang sangat periang. Tapi entah kenapa sekarang dia berubah.

"Aku baik-baik saja, terima kasih!" Naruto berusaha untuk tersenyum. 'Aku kuat, sudah sejauh ini aku sama sekali tidak boleh lemah!' Naruto bertekad dalam hati sambil kembali meraih laporan yang seharusnya dia kerjakan daritadi.

"Baiklah kalau begitu. Sebelum kita di tegur olehnya, lebih baik kita kembali bekerja!" Temari meskipun tidak puas, tapi dia memutuskan untuk tidak terlalu banyak bertanya. Naruto hanya mengangguk mendengar ucapan Temari, mengerti siapa orang yang dimaksud oleh teman kerja barunya itu.

Kring..kring..

"Selamat siang, dengan Temari ada yang bisa dibantu?" Temari mengangkat telpon dengan suara lembut yang berbeda dari biasanya.

'Ternyata suaranya bisa merdu juga!' Naruto yang mendengar perubahan suara Temari mau tak mau meliriknya.

"Iya pak, baiklah… Sama-sama..!" Terlihat Temari menutup pembicaraan dan menatap tajam Naruto.

"Kenapa?" Naruto merasa sedikit aneh melihat tatapan Temari.

"Kamu di panggil Naruto!"

"Oleh?"

"Tuan Uchiha!"

'Degh'

"Apa? Tapi kenapa?"

"Aku juga sama sekali tidak tahu, tapi sebaiknya kamu cepat menghadap. Tuan Uchiha sama sekali tidak suka menunggu Naruto!"

"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu!" Dengan gontai dan dengan jantung yang terus berdegup kencang Naruto melangkahkan kakinya.

'Untuk apa Sasuke memanggilku?' Naruto terus bertanya dalam hati, namun sama sekali tidak menemukan jawabannya meski langkah kakinya kini telah sampai di tujuan.

Tok..tok..

Pelan Naruto mengetuk pintu ruangan Presdir Uchiha Sasuke.

"Masuk!" Terdengar jawaban lantang, Naruto pun memberanikan diri untuk masuk.

'Tenang..tenang.. bersikaplah wajar Naruto!'

"Duduk!" Sasuke memerintahkan Naruto untuk duduk tanpa sedikitpun melirik Naruto. Kedua tangannya masih sibuk berkutat di laptop begitu juga dengan matanya.

"Maaf kalau boleh tau, kenapa saya di panggil?" Setelah sekian lama hening, akhirnya Naruto memberanikan diri untuk bertanya.

"Hn." Sasuke menjawab tanpa melihat Naruto, dan sikap itu sukses membuat Naruto kesal sendiri.

'Apa maksudnya si teme ini? Kenapa dia memanggilku tapi malah mengacuhkanku seperti ini?'

"Maaf, kalau sama sekali tidak ada kepentingan lebih baik saya kembali ke ruangan saya. Permisi!" Naruto pun beranjak bangkit dari tempatnya duduk.

"Duduk!" Sebuah perintah menghentikan niat Naruto untuk pergi.

"Maaf?"

"Aku bilang duduk!"

"Baik." Meski Naruto sangat kesal dan marah, tapi dia tetap kembali duduk seperti perintah atasannya itu. 'Sabar, aku harus bisa mengendalikan emosi!'

"Bagaimana pekerjaanmu?" Sasuke kini mulai mengalihkan perhatiannya pada Naruto. Ditatapnya tajam pemuda berambut pirang di hadapannya. 'Sial, dia masih saja manis seperti dulu.'

"Lumayan, saya masih belum terbiasa namun saya yakin saya bisa beradaptasi dengan baik." Naruto menjawab dengan sedikit gugup. 'Kenapa dia menatapku begitu? Tidak, ini tidak boleh, aku sama sekali tidak boleh terlihat lemah!'

"Bagus. Toh aku membayarmu untuk mendapatkan yang terbaik, harap ingat itu!"

'Cih, masih saja sombong seperti biasa.'

"Berapa umur anakmu?"

"Eh?"

"Berapa umur Ryuu, itu namanya kan?"

"Untuk apa anda bertanya begitu?" Naruto sekuat tenaga berusaha untuk bersikap normal.

"Jawab saja!"

"Tapi untuk ap…"

"Aku bilang jawab saja, dan ingat disini aku atasanmu!"

"3 tahun, umur Ryuu 3 tahun." 'Semoga Sasuke tidak menyadarinya!'

"Tidak jauh beda dengan umur Hikari kalau gitu!" Sasuke bergumam namun Naruto bisa mendengarnya dengan jelas.

'Sebenarnya dia lebih tua dari Hikari Sasuke!'

"Hanya itu?"

"Eh?" Sekarang giliran Sasuke yang menatap Naruto tak mengerti.

"Apa hanya itu yang ingin anda tanyakan tuan?"

"Sama sekali tidak. Dan jangan pernah beranjak dari sini sebelum aku yang menyuruhmu pergi!"

"Baik!" 'Cih, benar-benar menyebalkan. Andai saja mencari pekerjaan itu mudah, aku lebih memilih untuk keluar saja saat ini juga'

"Kapan kamu menikah?"

"Hah?"

"Kapan kamu menikah Naruto? Dan siapa ibunya Ryuu?" Ada nada aneh dari ucapan Sasuke, namun Naruto tidak berani berfikir apa-apa lagi.

"Memangnya itu penting?"

"Jawab!"

"Maaf, saya rasa pertanyaan Tuan semakin keluar dari jalur. Dan lebih baik saya kembali bekerja, permisi tuan Uchiha!" Naruto segera bangkit dan tidak peduli dengan teriakan Sasuke yang semakin keras memanggilnya.

'Dia tidak boleh tahu, tak ada yang boleh tahu siapa Ryuusuke!'

..

.

Sasuke's POV

"Narutooo…!" Sekuat apapun aku teriak, dia tidak berbalik bahkan menengok pun tidak. 'Sebenarnya siapa wanita itu Naruto?'

Kutatap pintu tertutup yang baru saja dilalui Naruto tadi. Kosong, mungkin itulah yang menggambarkan hatiku kini. Jangan tanya kenapa seorang Uchiha bisa merasakan kehampaan. Kehampaan itu sudah ada sejak kulepaskan kebahagiaanku. Demi Uchiha, demi menjaga nama baik dan demi generasi Uchiha.

Aku selalu merasa, aku bisa melakukan apapun. Tapi ternyata aku baru tahu, ada hal yang tak bisa aku lakukan. Yaitu melenyapkan bayangan yang selama ini selalu mengusik tidurku.

'Aku tak pernah bahagia Naruto! Asal kau tau, tanpamu aku sama sekali tak merasa bahagia!' Aku berbisik sambil memandang sebuah foto yang kusimpan di dalam laci. Sosok pemuda berambut pirang dengan senyum lebarnya yang mampu melelehkan gunung es. Tatapan hangatnya yang tak pernah berubah.

Kuletakkan foto Naruto diatas meja, disamping foto keluarga kecil yang orang bilang sempurna. Ada yang berbeda disana, fotoku bersama Sakura juga Hikari dengan senyum di wajahku tapi ada yang hampa di sorot mataku. Sedangkan fotoku bersama Naruto, tak ada senyumku disana tapi sorot mataku menunjukkan kebahagiaan.

'Semua tak semudah apa yang aku kira Naruto!'

Flashback

"Sasuke? Gimana cocok tidak?" Kulirik Sakura yang tengah asyik mencoba gaun pernikahannya. Tepatnya pernikahan kami.

"Hn."

"Cocok, sangat cocok. Kamu terlihat sangat cantik Sakura! Betul kan Sasuke?"

"Hn."

"Jadi menurutmu yang mana Sasuke?" Sakura kembali bertanya setelah membuatku harus duduk selama hampir 2 jam lebih melihatnya berganti-ganti gaun.

"Terserahlah! Ambil yang kamu sukai!" Hanya itu yang kukatakan sambil bangkit dari tempatku duduk. "Aku keluar!" Tanpa menunggu jawaban mereka, aku pergi meninggalkan Sakura juga kaa-san. Langkah kakiku terus berjalan tanpa tujuan. Tak peduli seberapa jauh aku berjalan, aku hanya ingin pergi dari tempat itu.

DIJUAL CEPAT

Degghh…

Aku tak tahu kalau langkah kakiku menuju ke tempatnya. Tapi kenapa dijual cepat? Kemana dia?

"Permisi, saya mau lewat tuan!" Sebuah suara menyadarkanku, sosok kakek tua yang tak aku kenal berdiri di depanku sekarang.

"Oh iya." Aku langsung mempersilahkannya lewat. "Eh maaf sebentar…." Aku mengentikan langkah kakinya, meski aku tak mengenal siapa dia tapi dia pasti tahu soal Naruto.

"Iya, ada apa nak?" Kakek itu menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapku.

"Apa kakek tahu Namikaze Naruto?"

"Oh iya, pemuda yang ramah dan menyenangkan!" Jawaban sang kakek hampir membuatku tersenyum senang. 'Naruto memang selalu disukai orang disekitarnya.'

"Tapi kenapa rumahnya di tulis 'DIJUAL CEPAT'?" Seketika aku melihat raut kesedihan di wajah kakek itu.

"Iya, Naruto pergi dari Konoha sekitar 2 hari yang lalu. Sayang sekali, padahal semua orang disini menyukainya. Dia selalu bisa membuat semuanya merasa senang melihat tingkah lakunya!"

"Naruto pergi?" Aku sama sekali tidak percaya dengan ucapan sang kakek. Tapi bukti rumahnya mau dijual sangatlah masuk akal.

"Iya dia pergi."

"Apa kakek tau kemana dia pergi?"

"Tidak. Naruto sama sekali tidak cerita dia mau pergi kemana!"

"Baiklah. Terima kasih kek!" Kutatap kepergian sang kakek itu dengan segala perasaan yang menyesakkan dada.

'Kenapa kamu pergi Naruto?'

Seketika otakku kembali berpur, mengingatkanku akan kejadian itu. Kejadian dimana aku memutuskan untuk meninggalkan Naruto. Memutuskan hubungan yang telah lama aku jalin dengannya. Memutuskan kebahagiaan yang harus aku relakan demi kehormatan keluarga.

'Maafkan aku Naruto, maaf!'

Aku sama sekali tak mengerti kenapa langkah kakiku mengiringku ketempatmu. Tapi aku mengerti kenapa kamu pergi begitu saja. Otakku mengerti namun hatiku tidak.

'Semua kesalahanku! Semuanya salahku!'

Flashback off

Kuraih kembali bingkai yang memasang fotoku dan Naruto, dengan perlahan kumasukkan kembali ke dalam laci meja. Semua memang salahku, dan hidupku kini telah berubah.

'Tapi siapa istri Naruto? Dan kapan mereka menikah?' Pertanyaan itu terus ada di dalam otakku. Mengorek keterangan dari Naruto sama sekali tidak ada gunanya.

'Aku harus tahu, dan aku pastikan aku akan mengetahui semuanya!'

Sasuke's POV end

..

.

Langkah kaki mungil itu terlihat sangat riang, begitu juga dengan raut wajahnya. Saat terlihat rumahnya, langkah mungil itu semakin cepat. Namun, dia berhenti saat dilihatnya ada orang asing di depan rumahnya.

"Hai, Ryuu!" Sosok asing yang tak lain Uchiha Sasuke itu menyapa Ryuu dengan raut muka sedikit lembut dari biasanya.

"Paman siapa?" Ryuu menjawab dengan heran. "Eh, aku ingat! Aku pernah melihat paman di sekolahku. Kalau tidak salah paman tou-sannya Hikari kan?" Ryuu tersenyum penuh kemenangan, karena sudah mengenali orang yang hampir dilupakannya.

'Aku tak menyangka anaknya Naruto begitu cerdas!'

"Iya, paman ayahnya Hikari. Tapi paman juga temannya tou-sanmu!"

"Oh, jadi paman teman tou-san!" Ryuu mengangguk-angguk kecil tanda mengerti. "Tapi tou-san belum pulang paman!"

"Paman tahu."

"Kalau tahu kenapa paman kesini? Kan tou-san tidak ada!"

"Paman mau kesini mau ketemu Ryuu, boleh kan?" Sasuke bertanya sambil mengagumi kecerdasan bocah cilik di hadapannya.

"Hmm..boleh! Kalau begitu ayo masuk paman!" Dengan senyum lima jari nya, Ryuu mempersilahkan Sasuke masuk ke dalam rumahnya.

'Dia sangat mirip Naruto, kecuali kepintarannya!'

"Silahkan duduk paman!" Ryuu menunjuk sofa orange yang terdapat di ruang tamu rumahnya.

Sasuke pun segera duduk di sofa itu sambil melihat sekelilingnya. Terlihat banyak sekali foto-foto yang terpajang di dinding juga di sebuah lemaru kaca yang tampaknya memang ditunjukkan untuk foto-foto saja.

"Sebentar ya paman, Ryuu ambil minum dulu!" Sasuke hanya mengangguk kecil, Ryuu pun hilang dari pandangannya. Sasuke pun kembali melihat-lihat keadaan sekeliling. Dia tertarik pada lemari kaca yang penuh dengan foto-foto. Sasuke pun berdiri mendekati lemari itu, disana memang foto-foto Ryuu sangat mendominasi. Ada foto Ryuu bayi bersama Naruto dengan posisi Ryuu di pangkuan Naruto. Ada foto Ryuu yang tengah dimandikan Naruto, dan masih banyak lagi.

'Tapi kenapa hanya foto Ryuu dan Naruto saja?' Sasuke bertanya dalam hati saat melihat semua foto-foto itu yang tak ada satu pun menunjukkan foto ibunya Ryuu.

"Ini teh nya paman!" Suara Ryuu cukup mengagetkan Sasuke, mengembalikannya pada alam sadar yang sempat ditinggalkannya.

"Hn." Sasuke menjawab pelan sambil kembali berjalan dan duduk di samping Ryuu.

"Paman teman tou-san sekolah?" Ryuu membuka percakapan terlebih dulu.

"Iya, paman teman sekolah ayahmu!"

"Oh.. "

"Ryuu bolehkah paman bertanya sesuatu?"

"Boleh, apa paman?"

"Daritadi paman lihat hanya ada fotomu dan ayahmu. Tapi sama sekali tidak ada foto ibumu, kalau boleh tau…" Sasuke sedikit menggantungkan perkataannya.

"Kaa-san, paman mau nanya soal kaa-san Ryuu ya?"

"Hn." Sasuke mengangguk sambil menatap Ryuu dengan kagum.

"Ryuu tidak tahu siapa kaa-san, tapi tou-san bilang tou-sanlah kaa-san Ryuu." Penjelasan Ryuu membuat Sasuke sedikit kaku.

"Maksudnya?"

"Pokoknya, bagi Ryuu tou-san itu adalah kaa-san!" Ryuu tersenyum pada Sasuke yang menatapnya dengan tatapan tak percaya.

'Matanya…'

"Apa warna mata Ryuu memang biru ya?"

"Eh?" Ryuu tampak kaget dengan pertanyaan Sasuke.

"Hikari pernah bilang sebenarnya bola matamu bukan biru!"

"Oh itu… iya memang sebenarnya mata Ryuu tidak biru." Ryuu menceritakan semuanya, tentang keinginannya akan bola mata berwarna biru. Juga kenyataan bahwa bola mata aslinya berwarna hitam.

"Jadi aslinya matamu hitam. Tapi tiba-tiba tou-san mu menyuruhmu memakai kontak lens?" Sasuke bertanya untuk menyakinkan semua ucapan bocah dihadapannya. Mendengar pertanyaan Sasuke, Ryuu hanya mengangguk pelan. 'Apa mungkin? Seharusnya tidak mungkin, tapi kenapa Naruto menyuruh bocah kecil memakai kontak lens? Bahkan kejadiannya tepat setelah bertemu denganku?' Pertanyaan demi pertanyaan terus mengusik pikiran Sasuke hingga tidak sadar ada sosok yang tengah menatapnya dengan tajam.

"Mau apa kamu disini?" Pertanyaan yang hampir menyerupai teriakan itulah yang menyadarkan lamunan Sasuke. "Aku tanya sekali lagi, untuk apa kamu disini Sasuke?" Naruto terlihat sedikit marah, mendapati anaknya tengah berada bersama Sasuke benar-benar membuatnya marah.

"Aku hanya berbincang dengan Ryuu! Iya kan Ryuu?" Sasuke menjawab pertanyaan Naruto dengan santai. Naruto segera melirik Ryuu, dan bocah itu hanya mengangguk mengiyakan ucapan Sasuke.

"Ryuu, pergilah kamu ke kamar!" Naruto memerintah dengan nada lebih lembut daripada tadi. Tanpa banyak tanya, Ryuu segera berlari menuju kamarnya. "Katakan untuk apa kamu kesini?" Naruto kembali bertanya saat dilihatnya Ryuu sudah masuk ke kamarnya.

"Hanya mampir." Sasuke masih duduk tenang di tempatnya.

"Hanya mampir katamu? Tapi untuk apa hah?" Naruto berjalan mendekati Sasuke dan duduk dihadapannya.

"Baiklah aku jujur, aku hanya penasaran dengan Ryuu!" Sasuke akhirnya menjawab jujur pertanyaan Naruto.

"Hei, untuk apa kamu penasaran dengan Ryuu hah?"

"Karena kamu sama sekali tidak menjawab pertanyaanku!"

"Apa? Maksudmu, gara-gara aku tak menjawab pertanyaanmu di kantor tadi, terus kamu datang kemari dan bertanya langsung pada Ryuu? Begitu maksudmu Sasuke?"

"Hn."

"Keluar!" Naruto bangkit dan berteriak dengan marah pada Sasuke.

"Apa maksudmu dobe?"

"Keluar kataku! Keluar dari rumahku sekarang juga! Dan jangan pernah panggil aku dobe!" Naruto benar-benar marah pada Sasuke.

"Tidak sebelum kamu menjawab pertanyaanku!"

"Aku sama sekali tidak akan menjawab apapun pertanyaanmu! Sebaiknya kamu keluar sekarang juga!"

"Tidak!"

"Sekarang juga aku bilang keluar!"

"Katakan dulu padaku siapa Ryuu Naruto? Kenapa kamu suruh anak sekecil itu memakai kontak lens?" Pertanyaan Sasuke membuat Naruto membeku seketika. Naruto sama sekali tidak menyangka Sasuke akan mengetahui masalah mata Ryuu yang sengaja digantinya dengan kontak lens. "Bola mata Ryuu yang asli itu hitam, benar kan Naruto?" Sasuke kembali bertanya sedikit keras, saat dilihatnya Naruto terdiam mendengar semua ucapannya.

"Itu bukan urusanmu!"

"Oh ya? Jelas itu urusanku karena bola mata Ryuu mirip denganku!" Sasuke kini mengeluarkan semua pemikirannya tentang Ryuu. Melihat Ryuu memang mirip dengan Naruto, tapi ada hal-hal yang membuat Sasuke merasa Ryuu mirip dengannya.

"Tidak! Ryuu bukanlah anakmu Sasuke!" Naruto berusaha menyembunyikan keterkejutannya mendengar pemikiran Sasuke tentang Ryuu. "Kamu kira Ryuu anakmu? Memangnya bisa aku punya anak padahal aku laki-laki?"

"Aku… tidak memang tidak masuk akal! Tapi aku yakin kalau Ryuu anakku!"

"Cih.. jangan mengkhayal Sasuke! Lebih baik kamu keluar dari rumahku dan bersihkan otakmu itu! Ryuu bukanlah anakmu! Kamu dengar itu, Ryuusuke bukanlah anakmu!" Naruto berteriak histeris, dan melihat kondisi Naruto yang panik seperti itu malah membuat Sasuke yakin.

"Tidak, aku yakin Ryuu adalah anakku Naruto!"

"Tidak. Ryuu bukanlah anakmu!"

"Iya!"

"Tidak!"

"Iya!"

"Tidak..!"

Praanggg…

Sebuah suara seperti pecahnya kaca mengagetkan Sasuke dan Naruto.

"Suara itu dari kamar Ryuu!" Naruto bergumam dalam hati dan langsung berlari menuju kamar Ryuu anaknya. Sasuke pun ikut berlari di belakang Naruto.

"Ryuuu….!" Naruto berteriak histeris saat dilihatnya Ryuu tergeletak di lantai dengan banyak darah yang mengucur dari kepalanya. "Ryuu.. jawab tou-san sayang!" Naruto memeluk Ryuu dan berusaha membangunkannya.

"Aku panggil ambulans!" Sasuke langsung merogoh hp di kantong celananya dan menelpon ambulans.

"Ryuu..bangun! Ryuu.. kamu dengar tou-san kan?" Naruto masih memeluk erat Ryuu, tak peduli dengan darah yang mengotori bajunya.

"Ryuuu…"

..

.

"Kondisi pasien sekarang kritis, dan kehilangan banyak darah." Naruto segera terduduk lemas saat mengetahui kondisi Ryuu yang kritis.

"Adakah keluarga yang memiliki golongan darah yang sama?"

"Darahku, ambil saja darahku untuk Ryuu dokter! Ambil sebanyak apapun, tapi selamatkan anakku dok!" Naruto terus memohon pada dokter yang menangani Ryuu.

"Golongan darah anda?"

"B, golongan darahku B dokter!"

"Maaf, tapi golongan darah anda berbeda dengan anak anda. Golongan darah anak anda AB, dan kami membutuhkan darah AB+ untuk menolong anak anda. Adakah keluarga yang memiliki golongan yang sama? Maaf tapi kami sedang kekurangan persediaan darah AB+!"

"Darahku AB dokter!" Sasuke yang sedari tadi terdiam kini berbicara. "Ambil darahku!" Sasuke kembali berbicara pada dokter tanpa memperdulikan tatapan Naruto yang seolah berkata tidak padanya.

"Baiklah kalau begitu! Suster tolong periksa darah tuan ini!" Sasuke pun di bawa oleh seorang perawat untuk diperiksa, Naruto hanya bisa menatap kepergian Sasuke dengan pilu.

'Kenapa harus seperti ini? Kenapa aku tak bisa menolong Ryuu? Kenapa harus Sasuke?'

..

.

Naruto's POV

"Kondisi pasien sekarang sudah stabil. Kami akan memindahkan pasien ke ruang khusus!" Ucapan sang dokter sangat melegakanku. Hingga aku tak berhenti bersyukur dan sedikit mengabaikan sang dokter yang akhirnya pergi meninggalkanku begitu saja.

"Syukurlah…"

"Ya, syukurlah dia selamat dobe! Dan syukur juga darahku dan dia sama." Sasuke berkata sambil berjalan mendekatiku yang kembali membeku mendengar ucapan Sasuke.

"Sasuke…aku….! Ah tidak, terima kasih sudah mau memberikan darahnya untuk Ryuu!" Aku berusaha bersikap biasa, namun sayang sepertinya usahaku gagal. Sasuke mendekatiku dengan tatapan tajam yang jarang aku lihat, kecuali kalau dia sedang marah besar.

"Katakan padaku Naruto, Ryuu itu anakku kan? Jawab pertanyaanku!" Tak pernah sekalipun aku melihat sorot mata Sasuke yang seperti sekarang ini. Ada kilatan kemarahan di matanya, tapi entah kenapa aku merasa ada luka disana. Melihatnya, sama sakitnya dengan aku mengiris tanganku sendiri. Sakit, perih, itu yang kurasakan sekarang.

"Aku.. Ryuu itu…."

'Ya Tuhan, apa yang harus aku katakan sekarang?'

"Jawab Naruto, Ryuu itu anakku kan?"

"Ryuu…."

..

.

Chap 4 end

..

.

Huaa… akhirnya bisa juga nih update chap 4 setelah sempet mentok dan males. Hehehe..

Gimana? Gajekah? Jelekkah?

Tapi pokoknya, apapun itu aku ucapin makasih banget udah mau baca fic abalku ini. :p

Dan aku juga berharap, kasih pendapat dan sarannya ya!

Ripiew dunk..

Ripiew..

Ripiew..

Hehehe.. ripiew ya minna!

Makasih..