"dunia ini selalu punya solusi dari sekian banyak masalah, tapi kau selalu menjadi solusi nomor satu dalam hidupku dari sekian banyak masalahku. Maka dari itu tolong tuntun aku, atau jika perlu pukul aku untuk meninggalkan dunia gelap ini dan mengikutimu"- jongin

"Teach Me Better"

WOO JIZII

Main cast

Kim Jongin

Do Kyungsoo

And other cast find in story

nb. Kutipan atau puisi di cerita ini murni milik saya

Jikalaupun saya mengambil milik orang lain saya akan sertakan credit

Thanks~

Chapter 4

~ Happy reading ~

23:55

Perpustakaan Kota Seoul Gaepo-dong, gangnam

"kau sudah sampai?" Tanya seseorang ditelfon

"hmm, sudah"

"naiklah keatap- pip… "telfon itu langsung terputus setelah perintah itu

"bajingan sialan!!" umpatku sambil meninju angin.

Siapa yang tahu jika Negara mempesona seperti korea selatan ini mempunyai sisi kelam juga? Permainan politik, obat-obatan terlarang, sampai grup mafia sekalipun, kau tidak tahu? baiklah kuberi tahu, sebagai pembunuh bayaran aku dilatih untuk tetap bergerak dalam diam. Walaupun pekerjaanku membunuh mereka toh aku juga bagian dari dunia gelap itu sendiri. Hanya ada dua kemungkinan dalam pekerjaanku…

"membunuh atau dibunuh"

Malam semakin larut dengan sunyi suasana, kunaiki tangga darurat penuh debu ini. Memang tidak tinggi hanya empat lantai, sudah biasa untukku. Aku bahkan pernah menaiki tangga dua puluh lantai, ya semua pekerjaan punya resiko masing-masing. Kubuka pintu atap itu, mataku tak henti melihat keberadaan orang yang tadi menelfonku. Kutolehkan kepalaku kekanan dan, kudapati seseorang lengkap dengan setelan jas mahalnya berdiri dipinggir atap dengan sebuah kotak panjang didepannya.

"jadi, siapa dia?" tanyaku acuh

"oh, keponakan tercintaku sudah datang, kemarilah dulu" dia pamanku Jung jihoon

"tidak perlu berbasa-basi lagi, dimana dia?" tanyaku membuka kotak panjang yang ada didepannya

"itu dia! Hwang jin seok, 300 juta won sudah ada di sakunya saat ini. Bukankah itu jumlah yang sangat banyak untuk seorang jaksa sepertinya?" ucapnya sambil melihat gedung di sebrang jalan itu.

"tentu, kali ini aku ambil 100 tidak mau tahu!" kujawab dengan membenarkan senapan laras panjangku, kuposisikan tepat mengenai pria itu, hanya sekedar info targetku tidak pernah meleset.

"deal, kau bisa langsung pergi setelah selesai, orangku sudah siap disana!!!" aku bukan orang munafik yang anti dengan uang. Manusiawi jika orang tergiur jika ada banyak uang didepan matamu. Aku juga tidak bisa menolak uang itu, aku yatim piatu, aku tidak pintar sehingga bisa mendapatkan beasiswa, aku juga bukan orang kaya. Jadi aku tidak ingin menjadi munafik dengan menolak uang itu. Setidaknya, aku harus bertahan hidup jika ingin lepas dari semua ini.

Untuk sekarang hanya jantungku yang berdebar cukup cepat, ketika tanganku sudah tepat mengarahkan senapan ke target, aku selalu teringat kyungsoo, bayangannya selalu masuk ketika aku memegang senapan. Perlahan kutarik pelatuknya dan…

DORRR

'maafkan aku, soo'

Suasana diruangan itu mendadak riuh ketika seseorang tergeletak berlumuran darah di lantai, tiba-tiba lampu gedung itu mati, itu pasti ulah anak buahnya, aku yakin. Tugasku sudah selesai, kulangkahkan kakiku lemas turun dari atap gedung perpustakaan itu. Kau Tanya apa aku tidak menyesal melakukan itu? Kau juga harus tahu aku tidak bisa keluar dari semua ini, aku terus berjalan tanpa tujuan hingga langkahku terhenti di sebuah gereja.

Dengan ragu aku masuk kedalam gereja dengan perasaan campur aduk. Ku buka perlahan pintu gereja itu. Kulihat betapa tenang dan damai tempat ini, kulangkahkan kakiku maju kearah mimbar. Kududukkan badanku di kursi paling depan gereja itu. Kutenangkan diriku sejenak dan mulai kutangkupkan kedua tanganku didepan dada. Kupanjatkan berbagai doa pada sang pencipta.

"Ya Tuhan, aku sungguh memerlukan pertolonganMu dalam masalah ini... aku menyadari bahwa aku tidak sempurna, sesungguhnya aku tidak layak meminta padaMu… Siapa yang aku permainkan? Kirimkan seseorang yang mampu menuntunku kejalanmu, yang masih memegang tanganku ketika dia tahu semua burukku, dan yang mau berbagi ketika aku sudah tidak sanggup menanggung semua sendiri, kali ini saja, kau tahu aku tidak pernah meminta kepadaMu, jadi untuk kali ini saja tolong kabulkan doaku, aku janji akan sering kesini lain waktu, aku janji…"

"Amin"

Kulihat mimbar itu begitu lama serasa hanya ingin disini terus dan terus. Untuk sejenak kurasakan berat dikepalaku, perlahan mataku mulai berat, sangat berat, aku masih mencoba membuka mataku tapi rasa kantuk ini tidak bisa ku lawan. Kutidurkan tubuhku di kursi panjang gereja, dengan perlahan mataku mulai terlelap bersama larutnya malam.

"jongin…" kurasakan seseorang menggoyangkan tubuhku

"jongin…kau bisa mendengarku?" sekali lagi dia menggoyangkan tubuhku

"jongin…kau bisa melihatku?" perlahan kubuka mataku mencoba menyadarkan diri dari tidurku mencoba melihat siapa yang membangunkanku

"kyung?" ya kyungsoo yang membangunkanku "kenapa kau bisa disini?" lanjutku

"seharusnya aku yang Tanya, kenapa kau bisa tidur disini?" ucapnya sambil membantuku bangun

"oh, kebetulan aku lewat kemarin malam jadi aku mampir sebentar untuk berdoa tapi aku malah ketiduran" jelasku sambil mengusap wajahku

"kenapa tidak menelfonku kemarin jika kau sudah keluar dari rumah sakit?" ucapnya sambil tertunduk

"maafkan aku aku ada urusan sangat mendadak kemari, jadi aku tidak sempat membuka ponselku"

"kau tahu? Kemarin malam aku dan yang lain ke rumah sakit dan kau sudah tidak ada. Apa kau tahu betapa khawatirnya diriku kemarin? Kau lupa aku ini kekasihmu sekarang!" kulihat matanya mulai berair

"ya tuhan maafkan aku sayang, aku tidak akan mengulanginya lagi, aku janji, maafkan aku" ucapku sambil menangkup kedua pipinya, saat ini hanya maaf yang bisa keluar dari bibirku

"janji?" lanjutnya

"janji! Aku tidak akan melakukannya lagi" yakinku padanya

"apa kau sudah selesai berdoa?" tanyaku padanya

"ya sudah dan saat aku mau pulang aku melihat ada gelandangan yang tertidur disini, karena aku baik hati jadi aku membangunkannya" ucapnya sambil menyilangkan tangan didada

"jadi apa tuan baik hati ini mau menampung gelandangan sepertiku untuk makan dirumahnya?" lanjutku sambil memegangi perutku

"apa kau lapar setelah pergi tanpa kabar?"

"heissss jangan diungkit lagi aku takkan mengulanginya, ayo kerumahmu aku lapar" lanjutku menggandeng tangannya

"baiklah, baiklah, ayo pergi" lanjutnya berdiri dan menggandeng tanganku

Mereka berjalan dengan bergandengan tangan saat keluar dari gereja itu, kadang mempunyai pasangan memang membuat dirimu sedikit berbeda. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata mengawasi mereka dari tadi, pendeta itu masih berdiri ditempatnya melihat sepasang sejoli itu pergi dari kawasan gereja itu.

"cinta memang tak pernah salah, mungkin hanya manusiannya saja yang tak mengerti bagaimana menyalurkan cinta. Tapi, kita tidak akan pernah tau dengan siapa, cinta kita akan berlabuh, hah anak muda sekarang selalu saja mengumbar kemesraan didepan umum"

Mereka berdua sudah sampai di flat kecil kyungsoo, flat itu memang keci tapi sangat bersih. Aku tahu kyungsoo memang menerapkan prinsip hidup hemat, karena dia tinggal sendiri. Sejak masuk kedalam tadi aku sudah mencium bau yang sangat harum dirumahnya, sepertinya aku akan betah jika setiap hari disini. Aku langsung mendekati meja dekat kasurnya. Banyak sekali buku, pantas saja otaknya secerdas itu. Tapi, aku tertari dengan satu buku yang tergeletak di atas meja,itu buku harian.

Dengan tenang aku membuka satu per satu halaman buku itu, dia sangat suka menulis sepertinya. Dari mulai keluh kesahnya, kegiatannya seharian, hingga tentang diriku. Aku mulai membaca tulisan yang terakhir ia buat karena ada fotoku disana, aku bahkan tidak tahu persis foto itu diambil kapan.

Malam yang indah…

Angin malam terarah…

Lagu pengantar tidurpun ikut memecah…

Masih tentangnya…

Datang bagai sebuah bintang…

Dia tetap paling terang…

Tapi…

Dia bagai galaxy…

Luas, tapi tak bisa ku gapai…

Kututup perlahan buku itu dan mulai berdiri mendekat padanya. Dia masih sibuk membersihkan sayuran yang akan dimasaknya. Kupeluk dirinya dari belakang, ekspresinya lucu sekali saat kaget. Kubenamkan wajahku ke bahunya, nyaman.

"ada apa?"

"aku tadi membaca buku harianmu" ucapku pelan

"bacalah, tidak apa-apa"

"kenapa kau menulis tidak bisa mendapatkanku disana?" tanyaku pelan. Dia membalikkan badan dan memelukku

"kau juga membacanya?" ucapnya sedikit menoleh padaku

"jawab saja!" rajukku

"baiklah-baiklah, kau tahukan aku sudah bilang bahwa aku mencintaimu dari dulu" aku hanya mengangguk menjawabnya "saat itu sebenarnya aku ingin menyatakannya padamu, tapi banyak sekali wanita yang mengejarmu saat itu. Masing-masing dari mereka membawakan mu berbagai macam barang, jadi aku mengurungkan niatku, aku malu jongin" ku tangkub wajahnya, , kali ini wajah kami bertatapan satu sama lain.

"kau tahu? Seharusnya aku yang bilang seperti itu! Aku beruntung karena kau mau menjalin hubungan dengan orang sepertiku, kau mau menerima orang yang penuh dosa sepertiku, kau mau menerima orang yang rendah sepertiku ini, aku yang seharusnya bersyukur, kyung" ucapku sendu padanya

"hey, hey, stttt kenapa kau bicara seperti itu? Semua orang punya dosa jongin. Semua orang punya kesalahan, akupun juga. Jadi, mari kita perbaiki bersama, aku akan tetap berada disampingmu sampai saat terakhir sekalipun"

"kau janji?"

"aku janji"

Perlahan kudekatkan wajahku kepadanya, kucium perlahan bibirnya sangat lembut. Tanganku mulai memegang tengkuknya memperdalam ciumanku tak kusangka kyungsoo mulai mengalungkan kedua tangannya di leherku dengan cepat ku masukkan lidahku kedalam mulutnya mengajaknya kedalam sebuah permainan yang menyenangkan. Aku bahkan tidak menyangka sensasinya akan seperti ini, menakjupkan. Liur kami sudah bercampur sekarang bahkan aku merasakan sebagian menetes ke dagu kyungsoo, aku mulai menyingkap sedikit baju yang kyungsoo kenakan, mengajaknya ke tahap selanjutnya. Tapi, ketukan pintu itu menggagalkan niatku, sungguh mengganggu.

"maaf sebentar" perlahan dia melepas ciumanku dan berjalan menuju pintu

"kyung..." dia menoleh sebelum sampai di pintu

"ya- " dia sedikit kaget saat tanganku mencoba membersihkan sedikit liur didagunya

"sudah bersih, keluarlah"

"jangan keluar dulu ok" jelasnya padaku

"iya" dengan perlahan dia membuka pintu dan keluar mencari tahu siapa yang datang dipagi hari seperti ini

"siapa-? Baekhyun? Luhan? Ada apa kalian kemari?" kaget kyungsoo langsung keluar dan menutup pintu

"wae? Apa kami tidak boleh kemari?" tanya baekhyun

"bukan begitu tapi kenapa tidak memberitahuku dulu kalau mau kesini"

Kami ingin meminta bantuanmu mengerjakan tugas, soo" rengek baekhyun

"maafkan aku bukan aku tidak mau tapi aku sedang tidak enak badan sekarang" bohongku, mati aku jika mereka tahu jongin disini

"kau sakit?" panik luhan

"tidak, aku tidak sakit hanya butuh istirahat lebih, apa kalian sudah tahu keberadaan jongin?" tanyaku mengalihkan perhatian

"belum, aku tidak mau tahu lagi tentang dia, menyusahkan" kesal baekhyun

"chanyeol bilang dia akan kembali kalau urusannya sudah selesai" lanjut luhan

"benarkah?" jawabku seadanya

"yasudah, soo. Kalau begitu kami pergi saja, kami akan kerumah sehun lagi pula disana juga ada chanyeol disana" sahut baekhyun

"baiklah kalau begitu aku akan menunggu kabar dari kalian kalau begitu" lanjut kyungsoo

"baiklah kalu begitu kami pergi dulu, dah soo" ucap luhan sembari berjalan meninggalkan kediaman kyungsoo dan melambaikan tangan kepadanya

"dah" balas kyungsoo cepat dan segera masuk kedalam rumah saat bayangan baekhyun dan luhan sudah tidak terlihat lagi. Dan saat dia akan membuka pintu

"siapa yang datang-"

"ya tuhan, jongin! Kau mengejutkanku!" kesal kyungsoo sambil memegang dadanya yang masih terkejut

"mian, hehe" jawab kai sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya

"ayo masuk cepat!" ucap kyungsoo mendorong kai masuk kedalam rumah dan segera menutup pintu

"siapa yang datang?" tanya jongin sekali lagi

"baekhyun dan luhan" jawab kyungsoo singkat

"APA?!" kaget jongin

"iya mereka datang untuk mengerjakan tugas katanya, tapi aku bilang aku sedang tidak enak badan jadi mereka tidak jadi mengerjakan tugas disini" keluh kyungsoo sambil mendudukkan diri didepan tempat tidurnya

"jadi mereka pergi kemana?" jonginpun juga ikut mendudukkan dirinya disamping kyungsoo

"mereka pergi kerumah sehun" liriknya pada jongin

"oh, pasti disana ada chanyeol jugakan?" ucap jongin menyandarkan kepalanya di bahu kyungsoo

"benar, disana juga ada chanyeol" memegang tangan jongin yang ada di pangkuannya saat ini

"ada apa?" tanya jongin merasa ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh kyungsoo

"jongin, untuk saat ini aku mohon jangan ada orang yang mengetahui hubungan kita terlebih dahulu, aku belum siap" ucapnya tertunduk dan semakin erat memegang tangan jongin

"hey, jangan menangis, kenapa? Aku tidak apa-apa! Apapun keputusanmu aku akan mendukungnya jadi jangan menangis, aku tidak mau melihatmu menangis" jelas jongin menghapus lembut air mata kyungsoo yang mulai jatuh

"maafkan aku jongin, bukan aku tidak mau orang lain tahu tapi aku hanya belum siap menghadapi dunia, maafkan aku" ucap kyungsoo semakin tertunduk

"sudah-sudah tidak apa-apa! Jangan menangis! Dengarkan aku!" ucap jongin sambil menegakkan kepala kyungsoo agar bertatapan dengannya "dengarkan, aku! Kim jongin! Aku berjanji akan selalu mendukung apapun untuk kebaikanmu, jadi jangan menangis, jangan merasa bersalah" dipeluknya erat badan kyungsoo menyalurkan rasa sayang keduanya

"Aku mencintaimu, jongin" kedua tangannya mengalung pada leher jongin. Diraihnya bibir jongin, dalam pagutan lembut itu menyalurkan kesedihan mereka. Nyatanya perlakuan kecil yang jongin berikan padanya memang berpengaruh besar baginya.

Di sisi lain kedua lelaki yang tadi ingin mengerjakan tugas di rumah sehun itu mengingkari niatnya dan sekarang mereka malah bersantai, luhan yang sedang berpacaran dengan sehun, chanyeol yang sibuk dengan gamenya dan baekhyun yang malah melakukan apa-apa sedang diam seperti patung sambil tiduran memandang langit-langit kamar sehun.

"HAHHHH, aku bosan! " teriak baekhyun mengagetkan semua orang

"Hei, pendek! Apa kau tak bisa diam? Lihat aku jadi kalah! " kesal chanyeol melempar ponselnya pada baekhyun

"Kau kenapa sih baek? " tanya luhan

"Aku bosan" jawabnya singkat dan memilih bangun "apa kalian tidak lapar? " lanjutnya

"Tidak" jawab luhan dan sehun bersama-sama

"Baiklah kalau begitu, aku akan ke mini market kalau begitu " ucap baekhyun merapikan bajunya dan mengambil ponselnya

"Aku ice cream " sela chanyeol

"Beli sendiri " jawab baekhyun singkat

"Ya ampun kau pelit sekali" keluh chanyeol

"Ya sudah kalau tidak mau! Aku pergi dulu " lanjut baekhyun meninggalkan kamar sehun

"Astaga anak itu, hey, baek, tunggu!ishhhh" chanyeol meninggalkan kamar sehun dengan tergesa dan menyusul baekhyun. Saat sudah sepi sehunpun tidak tinggal diam dia mulai menggoda luhan dan kembali meraup bibir luhan ganas

"Eunghh" lenguh luhan saat sehun mulai meraba dadanya

"Aku merindukanmu babe" jawab sehun dengan nafas yang berat

"Tapi bagaimana kalau mereka kembali? " tanya luhan gusar

"Tenanglah kita lakukan dengan cepat"

Mereka masih saja berpagutan panas tanda sehun memang ingin melanjutkan permainan pada tahap yang lebih 'dewasa ' perlahan dia baringkan tubuh luhan pada ranjangnya dan mulai melucuti satu per satu kain yang dipakai luhan. Luhan hanya bisa pasrah saat sehun mulai mengerjai tubuhnya dan pada siang itu kamar sehun hanya dipenuhi dengan suara desahan nikmat dari keduanya dan decitan ranjang yang menambah panas suasana

Baekhyun dan chanyeol sudah sudah selesai membeli beberapa cemilan dan minuman di mini market yang tidak jauh dari tempat tinggal sehun.

"Baek"

"Hmm? "

"Kau tahu disekitar sini ada taman, ayo kita kesana sebentar "

"Hmm, boleh. Aku juga malas disana hanya melihat sehun dan luhan pacaran"

"Oke, ayo"

Mereka menyusuri jalan itu dengan santai, sepoi angin membuat rambut mereka beterbangan. Chanyeol yang diam-diam mencuri pandang pada baekhyun mulai terpana akan kecantikan baekhyun.

"Kau cantik baek" ucap chanyeol sambil tersenyum tulus pada baekhyun

"Kau kenapa? " balas baekhyun sambil tertawa

"Bisakah kita seperti ini setiap hari? Bukankah enak kalau kita tidak bertengkar? Ayo duduk disana" ucap chanyeol menunjuk satu bangku yang berasa di taman

"Entahlah, yeol. Makanya jangan memulai" ucap baekhyun sambil duduk di bangku itu disusul chanyeol yang mendudukkan dirinya disamping baekhyun

"Kau tahu, aku hanya mencari perhatianmu saja dengan menggoda mu"

"Tapi aku tidak suka" jawab baekhyun mengerucutkan bibirnya

"Baiklah aku minta maaf " ucap chanyeol menautkan kedua tangan mereka dan berlutut di depan baekhyun

"Baek, aku suka padamu " desiran halus angin seperti berjalan melewati pipi baekhyun

"Tapi... "

"Apa kau tidak menyukaiku? "

"Bukan, jelas bukan seperti itu "

"Lalu? "

"Aku juga menyukaimu, semua yang dikatakan sehun benar " ucapnya tertunduk malu

"Baek, aku bukan seseorang yang romantis seperti kebanyakan orang, tapi dengan keadaan yang cukup mendukung ini, maukah kau menjadi pacarku? " kedua mata baekhyun membulat saat ungkapan perasaan itu dinyatakan membuatnya semakin tertunduk malu

"Mari kita akhiri semua masalah ataupun kesalah pahaman diantara kita, apapun itu. Aku tidak pandai merangkai kata, tapi sedikit kata ini setidaknya menyampaikan perasaanku, paling tidak perasaan ini sudah kujelaskan pada orang yang benar" lanjut chanyeol membelai lembut pipi baekhyun

"Chanyeol, aku"

"Tidak apa-apa, kalau kau butuh waktu untuk menjawabnya "

"Tidak, aku akan menjawabnya sekarang " dengan perasaan bercampur aduk baekhyun balas menempatkan kedua tangannya pada pipi chanyeol

"Aku mau" lanjutnya lirih

"b-bisakah kau ulang sekali lagi? " gagap chanyeol tampak tak percaya jawaban baekhyun

"Aku mau jadi pacarmu"

Chup

Untuk sepersekian detik waktu seperti terhenti, detak jantungnya mulai tak teratur. Badannya sedikit bergetar saat ini, chanyeol hanya bisa mengedipkan matanya berulang kali. Ciuman, bukan, hanya sekedar kecupan lembut baekhyun pada bibirnya tapi bagaimana bisa sebuah kecupan meninggalkan perasaan sehebat ini?

"Baek, aku mencintaimu " pelukan hangat itu mendarat ditubuh mungil baekhyun

"Aku juga mencintaimu, yeol" pelukannya tak kalah hangat dari chanyeol, cukup untuk menyalurkan perasaan mereka masing-masing

Pada dasarnya Cinta sudah memiliki alurnya masing-masing, sekuat apapun kau menyangkal dan memendamnya... Jika memang sudah takdirnya bersama, keadaan akan menyatukan mereka bagaimanapun caranya...

Keduanya masih berpagutan panas sekarang, jongin yang dengan setia menopang berat kyungsoo yang menyandar sepenuhnya padanya.

KRUYUKKK

keduanya saling menatap dalam kecanggungan, lalu tertawa.

"Hehe" cengir jongin seteleh bunyi perutnya terdengar sangat keras

"Kau lapar ya" tanya kyungsoo hanya dibalas jongin dengan anggukan dan muka yang dibuat memelas

"Baiklah aku lanjutkan dulu masaknya" lanjut kyungsoo dengan berjalan santai ke dapur

"Baiklah aku bantu" jawab jongin membuntuti kyungsoo

"Bisakah kau bersihkan sayurnya? " suruh kyungsoo pada jongin

"Okey" kyungsoo hanya tersenyum saat jongin terlihat sangat penurut

"Kyung"

"hmm? "

"Ini sudah " ucap jongin meletakkan sayuran di depan kyungsoo

"Terimakasih " balas kyungsoo tersenyum pada jongin

"Cantik" lanjut jongin sambil menopang dagu melihat kyungsoo sedang memotong sayuran

"Kyung"

"Ada apa jongin? "

"Apa kau tahu apa yang kusuka dari kita? "

"Apa? "

"Yang kusuka dari kita bukan status berpacaran kita, melainkan prosesnya. Ada banyak kenangan, senyuman, serta keluh kesah sedih yang menyertai di dalam prosesnya" Senyum kyungsoo semakin berkembang mendengar perkataan jongin

Jika batu yang keras bisa terkikis oleh air, kenapa hati tidak bisa? Semua hanya butuh waktu. Karena pada kenyataannya hati sekeras batu milik jongin juga bisa melunak oleh kelembutan dan kebersihan hati milik kyungsoo.

TBC

Akhirnya selsai juga chapter ini kawan-kawan

Cerita dikit ya, sebenernya chapter ini sudah selesai lama, dan waktu itu aku buatnya di kantor sambil kerja dari pagi sampe sore kan, hla waktu mau ku save mati lampu ㅠㅠ syedih nggak ttu mana aku lupa apa aja yang aku tulis

Jadi kalau ini bosenin maafkan ya ㅠㅠ

thanks to:

Yuvin (My teen) - The first word (OST. Why secretary kim)

Sechskies - Couple

Lagu pendamping saat gua bikin chapter ini

Review juseyo ~

Komen kalian sangat membantu sekalii

Sekali lagi thanks yang udah baca cerita ini

See you bye bye ~